Malam itu udara di Pesantren Ar-Rahman terasa lebih dingin dari biasanya. Angin malam menyusup melalui celah-celah jendela asrama santriwati, membawa aroma tanah basah setelah hujan sore tadi. Ustadzah Salwa baru saja selesai memeriksa asrama putri senior. Beberapa santri masih berlandaskan pelan sambil menyelesaikan hafalan malam. Tubuhnya yang montok terasa lelah, tapi pikirannya gelisah.
345Please respect copyright.PENANAMjsMpXrGqh
Gamis abu-abunya yang longgar tetap tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya yang berisi. Dada besarnya yang selalu menjadi perhatian orang lain terasa berat malam ini. Putingnya sudah memakan sedikit karena menyalakan kain saat berjalan. Sudah hampir dua tahun sejak Ustadz Khalid meninggalkan pondok. Lelaki itu dulu sering membantu di saat-saat seperti ini. Kini, Salwa hanya punya jari-jarinya sendiri setiap malam.
345Please respect copyright.PENANAxJGSkQjy59
“Astaghfirullah… aku harus ke perpustakaan mengambil buku fiqih untuk persiapan mengajar besok,” gumamnya pada diri sendiri. Ia mengenakan jilbab segi empat yang rapi, lalu berjalan menyusuri koridor yang sepi menuju gedung perpustakaan.
345Please respect copyright.PENANAp5AguP8Nhp
Langkahnya pelan. Sepatu flatnya hampir tidak bersuara di lantai keramik. Lampu koridor sudah dimatikan sebagian sesuai aturan malam pondok. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela tinggi yang memutar. Semakin dekat ke perpustakaan, dia merasa ada sesuatu yang aneh. Pintu perpustakaan tidak terkunci rapat, hanya digeser sedikit.
345Please respect copyright.PENANAtbFWCeDb4h
Salwa mendorong pintu pelan. “Assalamu…?”
345Please respect copyright.PENANA46KBjVmuFH
Belum selesai salamnya, ia mendengar suara.
345Please respect copyright.PENANANgcc8XmYjP
“Ah… Ustadz…”
345Please respect copyright.PENANA92pdJWF1Eo
Suara desahan perempuan yang tertahan, lembut, penuh nafsu. Salwa langsung membeku di ambang pintu. Dalam kegelapan ruangan yang hanya diterangi satu lampu meja kecil di pojok, ia melihat dua bayangan yang sangat jelas.
345Please respect copyright.PENANAtNwNtY2xm6
Ustadz Raihan dan Ustadzah Layla.
345Please respect copyright.PENANAIiH61HS58g
Mereka duduk di sofa panjang yang biasa digunakan untuk diskusi kelompok. Tubuh Layla yang tinggi dan berisi hampir menempel pada Raihan. Cadar hitam Layla sudah diangkat hingga batas hidung, menampilkan bibir yang penuh dan basah. Raihan mencium bibir itu dengan rakus, lidah mereka terlihat saling menjilat dalam ciuman basah yang panas.
345Please respect copyright.PENANAMg5S9NiTPg
Salwa menutup mulutnya dengan tangan, tapi tidak mundur. Matanya menampilkan.
345Please respect copyright.PENANA9FOU9JqiOa
Tangan Raihan yang besar sedang meremas dada kanan Layla dengan penuh nafsu. Gamis hitam Layla sudah agak kusut. Jari-jari Raihan menekan kuat ke dalam payudara yang montok dan kenyal. Meski tertutup gamisnya, Salwa bisa melihat betapa besar dan kenyalnya dada Layla. Raihan meremas berputar, ibu menggosok bagian puting yang sudah menonjol.
345Please respect copyright.PENANA7mgTZ3x2iB
“Ahh… Ustadz… pelan… astaghfirullah… ahh…” desah Layla di antara berciuman. Suaranya gemetar, tapi pinggulnya justru bergoyang kecil, seolah minta lebih.
345Please respect copyright.PENANAJsHRS3ctRn
Raihan tidak berhenti. Ia mencium leher Layla yang putih, menghisap pelan hingga meninggalkan jejak merah samar. Tangan kirinya memeluk pinggang lebar Layla, menarik tubuh berisi itu semakin rapat hingga dada besar mereka saling menempel. Salwa bisa mendengar suara kain gamis yang bergesekan dan napas keduanya yang memburu.
345Please respect copyright.PENANAQIZuWlhiP5
“Ustadzah… payudara Ustadzah sangat besar… sangat enak diremas…” bisik Raihan serak di telinga Layla.
345Please respect copyright.PENANASocbvAW4bc
Layla menggigit bibir bawahnya, matanya terpejam. “Jangan bicara seperti itu… ahh… maluu…tapi… jangan berhenti dulu…”
345Please respect copyright.PENANAGjnTUclDck
Salwa merasa lututnya lemas. Ia bersandar di dinding dekat pintu, napasnya ikut berburu. Di antara kedua pahanya, ia sudah merasakan kelembapan yang mulai keluar. Selangkangannya terasa panas dan berdenyut.
345Please respect copyright.PENANAqcCfvzlpBP
Celana saja tadi di gazebo Layla sering menatap Raihan dengan cara itu, batin Salwa. Dan Raihan… ya Allah, sungguh berani.
345Please respect copyright.PENANABUEvoMBjnp
Kenangan lama langsung muncul. Dulu, saat Ustadz Khalid masih di pondok, mereka pernah melakukan hal yang hampir sama di ruang gudang buku belakang perpustakaan ini. Khalid suka meremas dada Salwa dari belakang sambil menggigitnya. Dada Salwa memang lebih besar dari Layla. Ukuran 38E yang berat dan bergoyang setiap kali ia berjalan. Khalid sering bilang dada Salwa adalah kenikmatan dunia yang paling ia rindukan.
345Please respect copyright.PENANAYCH79wAQNM
Kini Khalid sudah pergi, menikah dengan perempuan dari luar kota. Salwa hanya bisa mengurung diri di kamar asrama setiap malam. Membuka gamis, meremas payudaranya sendiri sambil membayangkan tangan lelaki, lalu memasukkan jari ke dalam vaginanya yang sudah basah hingga mencapai klimaks sendirian. Malam demi malam.
345Please respect copyright.PENANAu2Qyh2k1pD
Sekarang, di depan matanya, adegan itu terjadi lagi.
345Please respect copyright.PENANAXDEiSmAdPa
Raihan menurunkan tangannya ke paha Layla. Ia mengusap paha yang tebal itu dari atas gamis, lalu mencoba menyelipkan tangan ke dalam kain. Layla menahan tangannya, tapi ciumannya semakin dalam.
345Please respect copyright.PENANAXjSQ1nMBNB
“Ustadz… belum… belum sejauh itu…” bisik Layla, meski suaranya penuh kerinduan.
345Please respect copyright.PENANAIUDQEslCi3
Raihan mengangguk hormat, tapi tetap meremas dada Layla lebih kuat. Ia bahkan menunduk dan mencium dada Layla dari atas gamis, menghisap kain di bagian puting hingga basah. Layla mengerang pelan, tangannya memegang kepala Raihan, seolah tidak ingin dibiarkan.
345Please respect copyright.PENANAdKqN9f0GEA
Salwa tidak tahan lagi. Tangannya tanpa sadar turun ke perutnya sendiri, menekan bagian bawah perut yang panas. Ia menggigit jari telunjuk kirinya agar tidak mengeluarkan suara. Celana didalamnya sudah basah. Ia bisa merasakan cairannya yang lengket mengalir pelan ke paha.
345Please respect copyright.PENANAXO67KXgi2A
Kalau saja aku berani masuk… atau menunggu giliran…pikirnya pembohong.
345Please respect copyright.PENANAWz8H3vmoEr
Ia membayangkan dirinya yang ikut bergabung. Raihan meremas dada yang jauh lebih besar, menghisap putingnya yang cokelat besar, sementara Layla mencium ciumannya. Atau mungkin Raihan bergantian menyetubuhi mereka berdua di sofa itu.
345Please respect copyright.PENANAKt1j0B86EV
Bayangan itu membuat Salwa hampir mencapai klimaks hanya dengan berdiri di situ.
345Please respect copyright.PENANAWTQQahpJDY
Di dalam, mencium Raihan dan Layla semakin lambat tapi semakin intim. Mereka saling berciuman, dan di samping mereka saling menempel. Raihan membantu merapikan cadarnya kembali dengan tangan gemetar. Raihan mencium keningnya yang masih terbuka sebentar.
345Please respect copyright.PENANAx9kcwJcSEb
“Malam ini cukup ya, Ustadz… besok kita lanjutkan diskusi lagi,” kata layla dengan suara parau.
345Please respect copyright.PENANAb7yBjTwJ11
Raihan mengangguk, wajahnya memerah meski sebagian tertutup cadar.
345Please respect copyright.PENANAYGswovqd6u
“Ustadz… ini dosa… tapi… aku juga menginginkannya.”
345Please respect copyright.PENANA6qtnJza7do
Mereka berdiri. Salwa cepat-cepat mundur ke balik rak buku terdekat, menyembunyikan diri dalam kegelapan. Ia mendengar langkah mereka mendekat ke pintu. Napas Salwa ditahan. Untunglah mereka keluar tanpa menoleh ke belakang.
345Please respect copyright.PENANAo0FvlGQhSh
Setelah pintu tertutup dan langkah kaki menjauh, Salwa langsung duduk di sofa yang masih hangat bekas tubuh mereka. Aroma parfum mawar Layla dan bau maskulin Raihan masih tertinggal.
345Please respect copyright.PENANAYIrrgYFdru
Ia tidak tahan lagi.
345Please respect copyright.PENANAd44ptt2KVR
Salwa mengangkat gamis abu-abunya hingga pinggang. Celana dalam putihnya sudah basah di bagian tengah. Dengan tangan gemetar, ia menarik celana dalam ke bawah hingga ke lutut. Pahanya yang tebal dan putih terbuka lebar.
345Please respect copyright.PENANAZleZloJVSE
“Ya Allah… maafkan hamba…” bisiknya sebelum jari tengahnya menyentuh klitorisnya yang sudah bengkak.
345Please respect copyright.PENANAmzq9cfQdLq
Ia membayangkan adegan tadi. Tangan Raihan meremas dada Layla. Lalu ia membayangkan tangan yang sama meremas payudaranya sendiri. Salwa meremas payudaranya yang besar dengan tangan kiri, menekan kuat hingga keluar dari balik gamis. Putingnya yang besar dan keras ia cubit pelan.
345Please respect copyright.PENANAln8wXwNzBM
“Ahh… Ustadz Raihan…” desahnya pelan.
345Please respect copyright.PENANAOMaXBtbfEM
Jari tengah dan telunjuknya mengusap klitorisnya dengan cepat. Cairan beningnya sudah membasahi sofa. Ia memasukkan satu jari ke dalam vaginanya yang panas dan licin, lalu dua jari. Gerakannya naik-turun dengan cepat, menirukan bayangan bagaimana Raihan nanti akan memasukinya.
345Please respect copyright.PENANADWyu6iALhr
Dada besarnya bergoyang-goyang mengikuti gerakan tangan. Ia membayangkan mulut Raihan menghisap putingnya, lidah Layla menjilati. Orgasme datang dengan cepat dan kuat.
345Please respect copyright.PENANAk9J3rvAyKM
“Nnghh… ahh… Ustadz…… aku… aku keluar…” erangnya tertahan.
345Please respect copyright.PENANA3T1Wwe49dk
Tubuhnya kejang beberapa detik. Cairan hangat menyembur kecil dari vaginanya, membasahi jari dan sofa. Salwa menggigit lengan gamisnya agar tidak berteriak. Gelombang kenikmatan itu berlangsung lama, meninggalkan tubuh lemas dan berkeringat.
345Please respect copyright.PENANAxtv4tGUvbl
Setelah sadar, ia membersihkan sofa dengan tisu yang ada di meja, merapikan gamisnya, dan duduk diam sejenak.
345Please respect copyright.PENANAPGZa4FwZvY
“Ustadz Khalid dulu… sekarang Ustadz Raihan,” gumamnya sambil tersenyum getir. “Dan Layla… ternyata kamu alim di luar saja”
345Please respect copyright.PENANA1tN8ONyo06
Salwa mengambil buku fiqih yang tadinya dicari, lalu berjalan kembali ke asrama dengan langkah goyah. Di antara pahanya masih terasa basah dan lengket. Malam ini ia pasti akan melakukannya lagi di kamar sebelum tidur.
345Please respect copyright.PENANA7l2bPE1GTL
Sementara itu, di kamar masing-masing, Raihan dan Layla tidak tahu bahwa kelakuan mereka sudah dilihat. Dan Salwa kini punya bahan fantasi baru yang lebih panas.
345Please respect copyright.PENANAnzh53Kno20
345Please respect copyright.PENANAq9nI5HENYz


