Pagi berikutnya, Pesantren Ar-Rahman sudah ramai sejak subuh. Suara adzan masih menggema ketika Raihan berjalan menuju kelas tahfidz kelas menengah. Dia mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana hitam, dan peci. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara gugup dan bersemangat.
309Please respect copyright.PENANAtWOM4sivOj
Begitu masuk kelas, puluhan santri langsung berdiri.
309Please respect copyright.PENANAuKJbGczQVU
“Assalamualaikum, Ustadz Raihan!” seru mereka kompak.
309Please respect copyright.PENANAt20tRscYun
Raihan tersenyum lebar. Dulu mereka menemukan “Kak Raihan”. Sekarang panggilan itu sudah berubah.
309Please respect copyright.PENANAYclakzKAzp
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Duduk, anak-anak. Alhamdulillah, ana kembali ke sini untuk khidmah. Kita akan hafal bersama ya. Semangat?"
309Please respect copyright.PENANAmMPKCMYhLK
“Semangat, Ustadz!” jawab mereka antusias.
309Please respect copyright.PENANAsZqslBvZmi
Pelajaran berjalan lancar. Raihan menjelaskan teknik muraja'ah yang lebih efektif, mendengarkan hafalan satu per satu, dan memberi motivasi. Beberapa putra santri yang dulu kecil sekarang sudah remaja, mata mereka berbinar melihat “Kak Raihan” kini menjadi Ustadz.
309Please respect copyright.PENANAxnrrWgLy06
Setelah dua jam mengajar, bel istirahat berbunyi. Raihan berjalan menuju gazebo pondok yang berada di taman belakang, tempat para ustadz dan ustadzah biasa berkumpul.
309Please respect copyright.PENANA1aNeCx8wgo
Di gazebo sudah ada beberapa orang. Ustadz Adam sedang duduk sambil memegang gelas teh hangat. Ustadzah Layla duduk anggun dengan gamis hitam panjang dan cadar yang masih terpasang rapi. Di sebelah Ustadzah Salwa yang berbadan montok, gamis abu-abunya terlihat agak ketat di bagian dada yang besar dan berat. Ustadzah Hanifa juga ada, tersenyum manis dengan jilbab segi empat warna krem.
309Please respect copyright.PENANAQpFZ38E48M
“Assalamualaikum, Ustadz-ustadzah,” sapa Raihan sambil duduk di kursi rotan kosong.
309Please respect copyright.PENANAhk2B3pGYJd
“Waalaikumsalam… Wah, Ustadz baru sudah kelihatan capek,” goda Ustadzah Salwa sambil tertawa renyah. Tawannya membuat dada yang besar bergoyang pelan di balik gamis. Raihan buru-buru mengalihkan pandangan.
309Please respect copyright.PENANAyUssMuZzpE
Ustadz Adam tertawa. “Biasa, pertama kali mengajar selalu begitu. Santri kelas menengah agak bandel ya, Raihan?”
309Please respect copyright.PENANANXgLIZHfC6
“Alhamdulillah tidak terlalu, Ustadz. Mereka antusias. Cuma ada yang masih suka ngantuk pas belajar” jawab Raihan sambil tersenyum.
309Please respect copyright.PENANA7Oej7B4KT0
Ustadzah Layla yang sejak tadi diam, kini berbicara dengan suara lembut di balik cadar. Mata yang indah terlihat menatap Raihan.
309Please respect copyright.PENANAtXZ8xCyi7R
“Metode yang Ustadz pakai kemarin di rapat sudah mencoba? Kombinasi audio dan hafalan klasik?”
309Please respect copyright.PENANAanh4o1nOD1
“Iya, Ustadzah. Tadi saya coba. Ada dua santri yang langsung bisa memperbaiki bacaan mereka. Ternyata efektif.”
309Please respect copyright.PENANArXMHwbjJiv
“Bagus sekali,” puji Ustadzah Layla. Kerut mata di sudut cadarnya menunjukkan dia tersenyum.
309Please respect copyright.PENANAgZOKejbH2c
Ustadzah Hanifa ikut nimbrung, suaranya halus dan agak malu-malu. “Santri putri kelas saya juga banyak yang kangen sama Ustadz dulu. Katanya Kak Raihan yang suka cerita motivasi pas kajian malam.”
309Please respect copyright.PENANAeHWmRWZfCM
Raihan menggaruk kepala. “Dulu saya masih santri juga sih, Ustadzah. Sekarang malah jadi yang kasih motivasi.”
309Please respect copyright.PENANAbCOypmC2IX
Ustadzah Salwa menyodorkan sepiring kue basah. “Makan dulu, Ustadz. Biar tambah semangat. badannya jangan sampai kurus mengajar terus.”
309Please respect copyright.PENANAOPMqn5xYt1
Semua tertawa. Raihan melirik sekilas ke arah dada Ustadzah Salwa yang memang sangat menonjol. Dua gundukan besar itu naik-turun perlahan saat dia tertawa. Di sebelahnya, Ustadzah Layla duduk tegak, gamis hitamnya longgar tapi tetap tidak bisa menyembunyikan ukuran dada yang juga besar dan padat.
309Please respect copyright.PENANAIYAtqHmzmu
Obrolan terus santai. Mereka membahas masalah santri, rencana kegiatan tahunan, hingga menu makanan pondok yang mulai membosankan.
309Please respect copyright.PENANAvzWhWxj53s
“Kadang saya kangen masakan rumah,” keluh Ustadzah Hanifa pelan.
309Please respect copyright.PENANAFQIrO9InGZ
“Kalau begitu nanti kita masak bareng-bareng di dapur ustadzah,” usul Ustadz Adam.
309Please respect copyright.PENANA5MdtbZWDMX
Ustadzah Layla menggeleng pelan. “Lebih baik kita fokus mengajar dulu. Tapi… kalau ada yang mau diskusi pelajaran, silakan datang ke perpustakaan sore nanti.”
309Please respect copyright.PENANAd6N2BUUizV
Mata Raihan bertemu dengan mata Ustadzah Layla. Ada sesuatu yang tak terucapkan di dalamnya.
309Please respect copyright.PENANAHMIdDIAeBf
Setelah istirahat selesai, mereka kembali ke kelas masing-masing.
309Please respect copyright.PENANA9CZgfidFG4
Sore hari, setelah asar, Raihan memutuskan ke perpustakaan seperti yang disinggung Ustadzah Layla. Ruangan itu sepi, hanya ada aroma buku lama dan sedikit minyak attar.
309Please respect copyright.PENANAZNGY3iCTDe
Ustadzah Layla sudah ada di sana, duduk di meja pojok sambil membaca buku fiqih. Cadarnya masih terpasang sempurna.
309Please respect copyright.PENANAL8olADJDvu
“Assalamualaikum ustadzah,” sapa Raihan pelan.
309Please respect copyright.PENANAnaHYWRVS7j
“Waalaikumsalam.Duduk, Ustadz.Saya tunggu dari tadi.”
309Please respect copyright.PENANAm0BQcxZKy9
Mereka mulai berdiskusi soal metode pengajaran tahfidz untuk santri putri dan putra yang bisa digabungkan dalam beberapa sesi. Obrolan mengalir lancar.
309Please respect copyright.PENANAt6GlJer1YF
“Ustadzah lulusan Al-Azhar pasti punya banyak pengalaman unik,” kata Raihan.
309Please respect copyright.PENANAbAdzhv1xB1
Layla mengangguk. "Iya. Di sana kami belajar mandiri. Tapi di sini, suasananya lebih… hangat." Dia menoleh ke Raihan. “Apalagi sekarang ada ustadz muda yang energik.”
309Please respect copyright.PENANAqyamlvW2Lw
Raihan merasa pipinya hangat. “Ustadzah bisa saja.”
309Please respect copyright.PENANACHSEobgltl
Mereka tertawa kecil. Jarak duduk mereka cukup dekat. Raihan bisa mencium wangi parfum mawar dari tubuh Ustadzah Layla. Pandangannya tanpa sengaja turun ke dada ustadzah yang meski tertutup gamis lebar, tetap terlihat penuh dan berat. Setiap kali Layla bernapas, kain di bagian itu sedikit menegangkan.
309Please respect copyright.PENANAcTuheiv2MD
“Ustadz Raihan… kamu sudah punya rencana nikah setelah khidmah?” tanya Layla tiba-tiba, suaranya lebih lembut.
309Please respect copyright.PENANAZmD5aFIh0q
Raihan terkejut. “Belum terpikir, Ustadzah. Fokus khidmah dulu.”
309Please respect copyright.PENANAWGdNr1OtGl
"Bagus. Tapi jangan terlalu lama. Laki-laki saleh seperti Ustadz… banyak yang mencari," katanya sambil menunduk membalik halaman buku.
309Please respect copyright.PENANAm8tb9m9RBi
Suasana mulai terasa hangat. Raihan ingin bertanya lebih dalam, tapi tiba-tiba pintu perpustakaan terbuka.
309Please respect copyright.PENANAqytMzpGYBM
“Assalamualaikum… eh, ada yang lagi diskusi ya?” suara Ustadzah Salwa terdengar riang.
309Please respect copyright.PENANAhgxFxbmYPq
Di belakangnya muncul Ustadzah Hanifa yang tersenyum malu.
309Please respect copyright.PENANAOa5AQwFouc
Raihan tertegun. Hatinya berdegup kencang. Di depannya ada tiga ustadzah cantik dan berisi. Ustadzah Layla dengan cadarnya, Ustadzah Salwa dengan dada montoknya yang hampir tak tertutupi sempurna oleh gamis, dan Ustadzah Hanifa yang ramping tapi berlekuk indah.
309Please respect copyright.PENANAHij1z7HDUx
“Waalaikumsalam.Iya, lagi bahas metode hafalan,” jawab Raihan berusaha tenang.
309Please respect copyright.PENANAUqZhOHX73k
Ustadzah Salwa langsung duduk di sebelah Raihan tanpa sungkan. Pinggulnya yang lebar menyentuh kursi dengan lembut. "Boleh ikut? Saya juga ada ide soal santri yang sering bolos masuk kelas."
309Please respect copyright.PENANAXESqykrFbv
Ustadzah Hanifa duduk di seberang, kakinya bersilang hingga gamisnya sedikit naik, menampilkan kaus kaki putih yang rapi.
309Please respect copyright.PENANAQnLcZR76In
Obrolan terus berempati. Tapi pikiran Raihan sudah melayang pembohong.
309Please respect copyright.PENANA4FcmOazNB1
apa mungkin di pondok ini saya bisa mendekati satu-satu mereka?* batinnya. Ustadzah Layla yang misterius dengan tubuh berisi itu… Ustadzah Salwa yang dadanya selalu membuat saya susah konsentrasi… Ustadzah Hanifa yang manis dan lembut…
309Please respect copyright.PENANAZFnsYODSAH
Ustadzah Salwa tertawa lagi saat bercerita tentang santri yang salah hafal. Tubuhnya bergetar, dadanya yang besar naik-turun dengan jelas. Raihan menelan ludah.
309Please respect copyright.PENANA2l3sbAtvaN
“Ustadz Raihan kok diam saja?” tanya Ustadzah Hanifa sambil merawat dengan lembut.
309Please respect copyright.PENANAZXgxAwzB0f
“Eh, lagi mendengarkan cerita Ustadzah Salwa,” jawab Raihan cepat.
309Please respect copyright.PENANANrEZPJMwS5
Ustadzah Layla yang sejak tadi lebih pendiam, kini berbicara. “Mungkin besok kita akan melanjutkan diskusinya lagi. Sudah hampir magrib sebentar lagi.”
309Please respect copyright.PENANAccNv9UVxK0
Mereka berempat mendekat. Saat keluar perpustakaan, Ustadzah Salwa berjalan di depan Raihan. Pinggulnya yang lebarnya bergoyang pelan di balik gamis. Di belakangnya Ustadzah Layla berjalan tenang, tapi sesekali menoleh ke belakang, matanya bertemu dengan Raihan.
309Please respect copyright.PENANAw7xOPD2lM7
Di pintu gerbang asrama, mereka berpisah.
309Please respect copyright.PENANA1cv67buFOr
“Selamat malam, Ustadz Raihan,” kata Ustadzah Layla pelan. “Besok kita ketemu lagi ya.”
309Please respect copyright.PENANAXV9ILZ4g3G
“Insya Allah, Ustadzah.”
309Please respect copyright.PENANA20FllQOLqN
Malam itu, di dalam ruangan, Raihan berbaring sambil menatap langit-langit. Bayangan ustadzah ketiga itu bergantian muncul. Tubuh montok Ustadzah Salwa, tajam di balik cadar Ustadzah Layla, senyum malu Ustadzah Hanifa.
309Please respect copyright.PENANAQOqzKD8Edm
Satu tahun khidmah ini masih sangat panjang.
309Please respect copyright.PENANAS9VjGrgBVC
309Please respect copyright.PENANAKqFBuTq4w2


