Jemari Elsa bergerak lincah di atas papan ketik komputer. Tatapannya terpaku pada layar monitor, seolah tak ada apa pun yang mampu mengalihkan fokusnya. Sesekali ponselnya berdering. Tanpa menghentikan aktivitas mengetik, ia menjepit ponsel di antara bahu dan pipinya, tetap melanjutkan pekerjaannya sambil menjawab panggilan yang masuk.
330Please respect copyright.PENANAIMbuVL8wKN
Bagi rekan-rekan sekantornya, Elsa bagaikan sebuah robot. Ia mampu mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan tanpa kehilangan fokus. Tak heran jika di perusahaan telekomunikasi tempatnya bekerja, Elsa sering dipercaya menangani berbagai tugas penting dan berulang kali mendapat pujian atas kinerjanya yang nyaris tak pernah mengecewakan.
330Please respect copyright.PENANAU5qBTqClpR
Jarum jam kini menunjukkan pukul setengah satu siang. Waktu istirahat telah tiba. Satu per satu karyawan meninggalkan meja kerja mereka, berjalan bersama menuju kantin di lantai bawah. Namun berbeda dengan yang lain, Elsa tetap bertahan di depan komputernya. Ia sempat melirik jam di sudut monitor untuk memastikan waktu istirahat telah dimulai, tetapi tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu membuatnya mengurungkan niat. Ia hanya membuka laci meja, mengambil sebatang cokelat dan sosis kemasan untuk sekadar mengganjal perut.
330Please respect copyright.PENANA9Q6uGizHEo
Beberapa rekan kerja sempat mengajaknya makan siang bersama. Elsa hanya membalas dengan senyum hangat seraya menggeleng pelan.
330Please respect copyright.PENANAX9LTlt0OlX
"Nanti saja. Berkas-berkas ini harus selesai hari ini," ujarnya ramah.
330Please respect copyright.PENANA0a3GD3xw71
Mereka pun memaklumi keputusan Elsa. Lagipula, pemandangan seperti itu sudah bukan hal baru. Hampir setiap hari, wanita itu lebih memilih mengorbankan waktu istirahat demi memastikan seluruh pekerjaannya selesai tepat waktu.
330Please respect copyright.PENANAFJAt9Lxbk8
Kesibukan itu terus berlanjut hingga sore hari. Suara ketukan keyboard yang sejak tadi memenuhi ruang kerjanya akhirnya terhenti ketika ponsel di samping laptop kembali bergetar. Tanpa sempat melihat nama yang tertera di layar, Elsa langsung mengangkat panggilan tersebut.
330Please respect copyright.PENANA5CAV1yI9JB
"Beb, pulang jam berapa?" Suara Dirga terdengar jelas dari seberang telepon.
330Please respect copyright.PENANAcZOK8XK6vy
"Kayaknya aku lembur, deh, Sayang."
330Please respect copyright.PENANA7FkvdcmMVy
"Jangan pulang terlalu malam. Aku mau ngomong sesuatu."
330Please respect copyright.PENANAOd3jFoxwFz
Elsa menghentikan jemarinya sejenak.
330Please respect copyright.PENANAM8xyXGFqiG
"Ngomong aja sekarang."
330Please respect copyright.PENANA30ZgHCUFgr
"Hmm... ini penting. Mending kita ngobrol di rumah aja."
330Please respect copyright.PENANAO5x4e4jYCY
Elsa mengembuskan napas pelan.
330Please respect copyright.PENANAl7YERIKave
"Ya udah... nanti kita ngobrol."
330Please respect copyright.PENANAXgHOmCXBO9
"Okay. Hati-hati, ya."
330Please respect copyright.PENANAhvu0tJQmcs
"Iya."
330Please respect copyright.PENANA3ao3BAODWl
Panggilan itu pun berakhir.
330Please respect copyright.PENANAexAUQfDs92
Elsa menatap layar komputernya kembali, tetapi pikirannya tak lagi sepenuhnya berada di sana. Ucapan Dirga barusan meninggalkan tanda tanya yang perlahan mengusik benaknya. Entah kabar baik atau justru sebaliknya, ia hanya berharap suaminya tidak sedang menyembunyikan sesuatu.
330Please respect copyright.PENANA1nZqhHSMgx
Sementara itu, di rumah, Dirga sibuk mencuci gelas-gelas bekas sajian setelah melayani tamu yang datang sore tadi. Meski kedua tangannya terus bekerja, pikirannya masih dipenuhi obrolannya dengan salah seorang pengurus panti asuhan. Ia terus memikirkan bagaimana cara menyampaikan usulan itu kepada Elsa. Ada harapan yang diam-diam ia simpan, semoga istrinya bersedia mempertimbangkannya.
330Please respect copyright.PENANAfAnzvD9Hsg
Setelah semua gelas dan piring kotor selesai dicuci, Dirga berpindah ke ruang tamu. Ia duduk di sofa sembari sesekali melirik jam dinding. Kakinya bergerak gelisah, menunggu kepulangan sang istri dengan hati yang tak sabar.
330Please respect copyright.PENANAJ0OOJI2cJn
Malam semakin larut. Jarum jam telah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Raut wajahnya yang semula dipenuhi antusiasme perlahan berubah menjadi cemas.
330Please respect copyright.PENANAsiHAVMMXTY
"Ke mana Elsa? Kenapa belum pulang juga?" batinnya resah.
330Please respect copyright.PENANAOrXJfdYjdF
Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah. Dirga sontak berdiri. Wajahnya kembali berbinar. Ia bergegas membuka pintu untuk menyambut Elsa.
330Please respect copyright.PENANAukYZf33nVD
Elsa turun dari mobil dengan langkah pelan. Wajahnya tampak lelah, bahkan bahunya sedikit merosot seolah seluruh tenaga telah terkuras oleh pekerjaan. Tanpa diminta, Dirga mengambil tas selempangnya, lalu berjalan di belakang sang istri sambil memijat lembut bahunya.
330Please respect copyright.PENANAmB9AQJ3j4z
"Hmm... kamu kenapa, sih? Aneh banget," protes Elsa sambil menahan tawa. Dirga hanya membalas dengan senyum lebar.
330Please respect copyright.PENANAJwrgItF4hl
Sesampainya di kamar, Elsa langsung menjatuhkan diri di tepi ranjang. Ia mengembuskan napas panjang. Dirga ikut duduk di sampingnya, masih dengan ekspresi yang sulit disembunyikan.
330Please respect copyright.PENANAamjWF50kck
"Katanya tadi mau ngomong sesuatu. Ya udah, ngomong aja."
330Please respect copyright.PENANAaMuhPhYsED
"Kamu mandi dulu aja. Biar lebih segar."
330Please respect copyright.PENANATorO0IYtiu
"Nggak usah. Bilang sekarang. Jangan bikin aku penasaran."
330Please respect copyright.PENANASCKqWkKYif
Dirga menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
330Please respect copyright.PENANAvhO4STq8mu
"Kemarin aku menelepon nomor panti asuhan yang ada di brosur itu."
330Please respect copyright.PENANAP3EWaA7tbV
Elsa menoleh. "Iya... terus?"
330Please respect copyright.PENANABiE24dv4SB
"Hari ini salah satu pengurusnya datang ke rumah. Kami memang sudah janjian buat ketemu."
330Please respect copyright.PENANANwdJffZgIW
Dahi Elsa langsung berkerut.
330Please respect copyright.PENANA1nJBIPXUFz
"Kalian nggak melakukan yang aneh-aneh, kan?"
330Please respect copyright.PENANAKkz9wvbEUQ
Dirga terkekeh kecil.
330Please respect copyright.PENANACYipkDyV3q
"Hah? Ya nggak, lah."
330Please respect copyright.PENANAR1u06MeJkA
"Lalu kalian ngobrol apa?"
330Please respect copyright.PENANAo4HJtGX1UI
Dirga terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.
330Please respect copyright.PENANALhsgfuLLJ4
"Tentang... adopsi anak."
330Please respect copyright.PENANA68pnMnLo9O
Kalimat itu membuat Elsa terdiam. Kini ia mulai memahami ke mana arah pembicaraan suaminya.
330Please respect copyright.PENANAFghsDJjLdj
"Oh... jadi kamu sudah mulai menyusun rencana tanpa persetujuanku?"
330Please respect copyright.PENANAakoT09MoiI
"Bukan begitu." Dirga tersenyum tipis. "Justru sekarang aku lagi membicarakannya sama kamu."
330Please respect copyright.PENANAj7uMnteKAX
Elsa bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan beberapa langkah, lalu menopang dagunya sambil berpikir. Rasa lelah yang sejak tadi membebaninya perlahan tergantikan oleh berbagai pertimbangan yang mulai memenuhi kepalanya.
330Please respect copyright.PENANAs0cCje08qt
"Jadi... kamu benar-benar tertarik sama program itu?"
330Please respect copyright.PENANAr8SwPzZG9v
Dirga mengangguk pelan. Senyumnya mengandung harapan yang begitu besar.
330Please respect copyright.PENANAKsxNDwJ1m3
Beberapa saat suasana menjadi hening.
330Please respect copyright.PENANAUDyZ4xXkBY
Akhirnya Elsa menarik napas panjang.
330Please respect copyright.PENANAup0VvdgUFg
"Besok aku libur."
330Please respect copyright.PENANATYZmbjAE82
Dirga langsung menatapnya penuh harap.
330Please respect copyright.PENANAtV6fmNOSOZ
"Kita datang ke panti asuhan itu."
330Please respect copyright.PENANARb8iPaQmHn
Wajah Dirga seketika berseri-seri.
330Please respect copyright.PENANAlz1miZxEWm
"Serius?"
330Please respect copyright.PENANAnY2gnIcMS7
"Tapi..." Elsa mengangkat telunjuknya.
330Please respect copyright.PENANATOOT0MmQjp
"Satu hal yang harus kamu ingat. Kita belum memutuskan untuk mengadopsi siapa pun. Kita cuma datang melihat-lihat dulu, mengenal tempatnya, dan mencari tahu seperti apa prosesnya."
330Please respect copyright.PENANAPC7I3YZnY7
Dirga mengangguk cepat dengan senyum yang semakin lebar.
330Please respect copyright.PENANA6iBxfkdMUR
"Siap, Bos."
330Please respect copyright.PENANAlS4DOROEyX
Elsa hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis melihat tingkah suaminya.
330Please respect copyright.PENANAf2syXsLlNA
Keesokan harinya, Dirga dan Elsa menyempatkan diri mengunjungi Panti Asuhan Anugerah Kasih.
330Please respect copyright.PENANAbL10DgcZve
Setelah memarkirkan mobil di halaman depan, keduanya turun dan langsung disambut riuh tawa anak-anak yang sedang bermain.
Suasana panti terasa begitu hidup dan asri. Di bawah rindangnya pohon beringin, beberapa anak tampak bergantian bermain ayunan sambil tertawa lepas. Sementara itu, anak-anak lainnya berlarian mengejar satu sama lain, memenuhi halaman dengan canda yang begitu polos dan hangat.
330Please respect copyright.PENANAu9ppuPgH54
Tak jauh dari sana, beberapa remaja putra dan putri tampak sibuk menjemur selimut serta pakaian yang baru selesai dicuci. Mereka bekerja sama dengan penuh semangat, seolah rutinitas itu telah menjadi bagian dari keseharian yang mereka jalani bersama.
330Please respect copyright.PENANAYXPuDHOA7h
Dirga dan Elsa terdiam sejenak, menikmati pemandangan yang tersaji di hadapan mereka. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan, seolah tempat sederhana itu menyimpan begitu banyak cerita tentang harapan dan perjuangan.
330Please respect copyright.PENANAGzzNnhoFRb
Lamunan mereka buyar ketika seorang wanita paruh baya datang menghampiri dengan senyum ramah. Wajah wanita itu terasa tidak asing bagi Dirga. Ia adalah pengurus panti yang pernah ditemuinya beberapa waktu lalu.
330Please respect copyright.PENANAigQic4ZMDA
"Selamat datang di Panti Asuhan Anugerah Kasih. Kami sudah menunggu kedatangan kalian berdua," ucap wanita itu hangat sembari menjabat tangan Dirga dan Elsa.
330Please respect copyright.PENANAUwqPbUSxjT
Awalnya mereka masih merasa sedikit canggung. Namun keramahan sang pengurus perlahan mencairkan suasana. Mereka pun berjalan menyusuri area panti sambil mengobrol santai. Wanita itu bercerita tentang kehidupan anak-anak yang tinggal di sana, bantuan dari para donatur, hingga berbagai program yang dijalankan yayasan demi memenuhi kebutuhan dan masa depan mereka.
330Please respect copyright.PENANAAn0ef1jxjy
Elsa mendengarkan setiap penjelasan dengan penuh perhatian. Sesekali ia mengajukan pertanyaan dan mengangguk pelan. Berbeda dengan istrinya, perhatian Dirga justru lebih banyak tersita oleh anak-anak yang beberapa kali menghampirinya. Mereka mengajak bercanda, menarik lengannya, bahkan berebut ingin digendong hingga membuat suasana dipenuhi gelak tawa.
330Please respect copyright.PENANALHqxiGB9mA
Setelah memberi kesempatan kepada mereka untuk menikmati suasana panti, sang pengurus berpamitan sejenak. Dirga dan Elsa kemudian duduk di sebuah bangku taman yang menghadap halaman. Di tempat itu, keduanya berbincang ringan mengenai rencana yang telah lama mereka pikirkan.
330Please respect copyright.PENANAduZqcVpBXs
Namun di tengah percakapan itu, perhatian Dirga tiba-tiba teralihkan.
330Please respect copyright.PENANAx7DZWf8KDz
Di sudut halaman, tepat di bawah rindangnya pohon ketapang, seorang gadis remaja tampak duduk seorang diri. Berbeda dengan anak-anak lain yang larut dalam keceriaan, gadis itu hanya memandangi halaman dengan tatapan kosong. Wajahnya murung, seolah memilih memisahkan diri dari keramaian di sekitarnya.
330Please respect copyright.PENANAgB0Uh67g2r
Dirga terus memperhatikannya selama beberapa saat. Semakin lama, wajah gadis itu terasa semakin familiar.
330Please respect copyright.PENANAC8nwwf4uJR
'Bukankah dia gadis yang pernah kulihat di situs resmi panti asuhan ini?'
330Please respect copyright.PENANAge7yxLgKQs
Ingatannya perlahan kembali. Ia masih mengingat jelas wajah ayu gadis itu, bahkan nama yang sempat membuatnya penasaran.
330Please respect copyright.PENANACRzJDdYsC8
Kiti...
330Please respect copyright.PENANACK6QxBoKUv
Entah mengapa, nama itu kembali terlintas begitu saja di benaknya.
330Please respect copyright.PENANAyelkhc4LG1
Menyadari suaminya tiba-tiba terdiam, Elsa menghentikan ucapannya. Ia mengikuti arah pandangan Dirga sebelum menarik pelan lengan bajunya.
330Please respect copyright.PENANAMl6TUw0new
"Kamu kenapa? Melamun?" tanyanya.
330Please respect copyright.PENANAfNn7jcYgDq
Dirga sedikit tersentak.
330Please respect copyright.PENANASrs4zZCjPy
"Oh... tidak. Aku cuma sedang melihat seseorang."
330Please respect copyright.PENANADo42whU7TN
Elsa menoleh ke arah yang sama. Tak butuh waktu lama hingga ia menyadari siapa yang sedang diperhatikan suaminya. Seorang gadis remaja duduk sendirian di bawah pohon, jauh dari keramaian anak-anak lainnya.
330Please respect copyright.PENANA6rsP4TZblt
"Kenapa kamu memandanginya?" tanya Elsa penasaran.
330Please respect copyright.PENANAKH3EmDpp9x
Dirga tidak langsung menjawab. Pandangannya masih tertuju pada gadis itu.
330Please respect copyright.PENANAkyvnXT5DMQ
"Aku pernah melihatnya di website panti asuhan ini," ucapnya pelan. "Namanya Kiti. Kalau tidak salah, dia sudah cukup lama tinggal di sini."
330Please respect copyright.PENANAMPKVQAusxi
Elsa kembali memperhatikan gadis tersebut. Meski berada di tengah lingkungan yang ramai, Kiti tampak tenggelam dalam dunianya sendiri. Sesekali ia menunduk, lalu memandangi halaman tanpa ekspresi.
330Please respect copyright.PENANA2V3wNKPkZi
"Dia kelihatan pendiam," ujar Elsa.
330Please respect copyright.PENANA1ndQxMCdfe
Dirga mengangguk pelan.
330Please respect copyright.PENANAdBG0B2RXYr
"Bukan cuma pendiam. Entah kenapa... dia terlihat seperti sedang memikul sesuatu yang berat."
330Please respect copyright.PENANAd0zOhfP0mi
"Kamu bahkan belum mengenalnya."
330Please respect copyright.PENANAkWWXV3ttP8
"Aku tahu."
330Please respect copyright.PENANAX1WJrLD5NZ
"Lalu?"
330Please respect copyright.PENANAFbQ1HFTqKy
Dirga menghela napas panjang sebelum menjawab.
330Please respect copyright.PENANAGqL6bch5wu
"Aku hanya merasa prihatin."
330Please respect copyright.PENANAmOyGK2Ik6s
Elsa menatap wajah suaminya beberapa saat. Ia mengenal Dirga cukup lama untuk mengetahui kapan pria itu sedang memikirkan sesuatu dengan serius.
330Please respect copyright.PENANAGApIZLYKRo
Perlahan, sebuah dugaan muncul di benaknya.
330Please respect copyright.PENANAy38efBnf1S
"Tunggu dulu..." katanya sambil menyipitkan mata. "Kamu tidak sedang berpikir untuk mengadopsinya, kan?"
330Please respect copyright.PENANAjIcgznUCRr
Dirga menoleh. Untuk sesaat ia tidak memberikan jawaban.
330Please respect copyright.PENANAqclonWFwhK
Ekspresi itu justru membuat Elsa semakin terkejut.
330Please respect copyright.PENANAzXLiIGcxUf
"Kamu serius?" tanyanya.
330Please respect copyright.PENANAE1jV7WEJh5
"Aku belum tahu."
330Please respect copyright.PENANAZWutvBPL4q
"Belum tahu atau sudah kepikiran sejak tadi?"
330Please respect copyright.PENANADdxyCDKxLd
Dirga tersenyum tipis.
330Please respect copyright.PENANAVbHDdyS50J
"Aku hanya merasa... mungkin dia membutuhkan keluarga."
330Please respect copyright.PENANAHVNl9BR8Y8
Elsa terdiam.
330Please respect copyright.PENANALoFQv2Hxh3
Awalnya ia mengira itu hanyalah perasaan sesaat yang muncul karena rasa iba. Namun setelah melihat kesungguhan di mata suaminya, ia sadar bahwa Dirga benar-benar mempertimbangkan hal tersebut.
330Please respect copyright.PENANApl7dzwenUu
Mereka pun terlibat percakapan yang cukup panjang. Membahas berbagai kemungkinan, tanggung jawab yang harus dipikul, hingga perubahan besar yang mungkin terjadi dalam kehidupan mereka jika keputusan itu benar-benar diambil.
330Please respect copyright.PENANApfeiKXqkkt
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka menemukan satu keinginan yang sama.
330Please respect copyright.PENANA6YyfNS5mzP
Beberapa menit kemudian, keduanya bangkit dari bangku taman dan berjalan menuju kantor pengelola yayasan.
Wanita paruh baya yang sebelumnya menyambut mereka mengantar masuk ke sebuah ruangan sederhana. Di dalamnya telah duduk seorang wanita lanjut usia yang tampaknya merupakan pengurus senior yayasan tersebut.
330Please respect copyright.PENANAgMBP0JRDLg
Setelah saling memperkenalkan diri, Dirga dan Elsa menyampaikan maksud kedatangan mereka.
330Please respect copyright.PENANAmVDQBoeZu1
Mendengar niat pasangan itu untuk mengadopsi salah satu penghuni panti, kedua pengurus tampak senang sekaligus terharu. Namun ekspresi mereka perlahan berubah menjadi terkejut ketika mengetahui siapa anak yang ingin diadopsi.
330Please respect copyright.PENANACYCOLHnPkq
Sebab kebanyakan calon orang tua biasanya memilih bayi atau anak-anak yang masih kecil. Sedangkan Dirga dan Elsa justru datang dengan pilihan yang berbeda.
330Please respect copyright.PENANAG2VjGFbfMO
Mereka ingin mengadopsi seorang gadis remaja yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di panti asuhan itu.
330Please respect copyright.PENANA0yhmSw7u9Q
Kiti.
330Please respect copyright.PENANA12SJbqCkG5
Sebelum keputusan adopsi benar-benar disahkan, pihak panti asuhan terlebih dahulu mempertemukan Kiti dengan pasangan yang akan menjadi orang tua angkatnya.
330Please respect copyright.PENANAOhflFI4rFx
Dengan langkah pelan, gadis remaja itu memasuki ruang kantor. Sesekali ia menundukkan kepala, menyembunyikan rasa gugup yang memenuhi hatinya. Ia sama sekali tidak mengetahui alasan dirinya dipanggil ke ruangan tersebut. Dalam benaknya, ia terus bertanya-tanya apakah telah melakukan kesalahan.
330Please respect copyright.PENANAFM6BwJsHuo
Namun rasa penasaran itu perlahan terjawab ketika pandangannya tertuju pada sepasang suami istri yang duduk di sofa seberang. Keduanya menatapnya dengan senyum hangat, bahkan melambaikan tangan seolah ingin menghilangkan kecanggungan yang menyelimuti ruangan.
330Please respect copyright.PENANAAuPWgdE6UT
Di samping mereka, kepala yayasan mulai menjelaskan maksud pertemuan itu. Dengan suara lembut, wanita tua yang selama ini telah Kiti anggap sebagai sosok ibu berusaha meyakinkannya bahwa hari itu akan menjadi awal dari kehidupan yang baru.
330Please respect copyright.PENANAvY1mACW7MA
Kiti kembali menoleh ke arah Dirga dan Elsa. Meski hatinya masih dipenuhi kebingungan, ia membalas senyum mereka dengan sopan.
330Please respect copyright.PENANAnh2keM17bm
"Kiti," ucap kepala yayasan dengan lembut,
330Please respect copyright.PENANA9peepT2mnb
"mulai hari ini, Pak Dirga dan Bu Elsa telah resmi mengadopsimu sebagai anak mereka. Ibu berharap kamu bisa menerima mereka dengan baik dan menjalani kehidupan barumu dengan bahagia."
330Please respect copyright.PENANAHMZwxYuJHi
Kiti terdiam beberapa saat. Dadanya terasa sesak oleh berbagai perasaan yang bercampur menjadi satu. Perlahan ia menganggukkan kepala, berusaha menerima kenyataan yang baru saja mengubah jalan hidupnya.
330Please respect copyright.PENANAfhnkaSbmRX
Setelah seluruh dokumen, termasuk surat persetujuan adopsi, selesai ditandatangani, tibalah saat yang paling berat bagi Kiti.
Ia memeluk satu per satu teman-temannya di panti, kemudian menghampiri para pengurus yang selama bertahun-tahun merawat dan membesarkannya. Air mata mulai membasahi pipinya ketika ia mengucapkan salam perpisahan. Bagaimanapun juga, tempat itu adalah rumah yang telah menemaninya sejak kecil.
330Please respect copyright.PENANAkpKvHjmR5n
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga berjalan menuju area parkir.
330Please respect copyright.PENANAO7vaVhiABU
Kiti menggandeng ransel lusuh miliknya yang tampak sudah penuh dengan barang-barang sederhana. Belum sempat melangkah jauh, Dirga dengan sigap meraih tas itu.
330Please respect copyright.PENANAFGHsxYySZh
"Biar Om saja yang bawa."
330Please respect copyright.PENANAX39vwGAyGZ
Kiti mendongak menatap wajah pria itu. Untuk sesaat ia terdiam, lalu mengangguk pelan sambil melepaskan genggaman pada ranselnya.
330Please respect copyright.PENANAnyCtCw286y
"Terima kasih, Om."
330Please respect copyright.PENANAEiaCMVIxy8
Dirga hanya membalas dengan senyum hangat.
Senyum sederhana itu entah mengapa mampu sedikit meredakan kegugupan Kiti saat meninggalkan kehidupan lamanya menuju sebuah keluarga yang masih terasa begitu asing.
330Please respect copyright.PENANAineFA4aAQp
Selama perjalanan pulang, Elsa beberapa kali menoleh ke kursi belakang, memastikan Kiti merasa nyaman.
330Please respect copyright.PENANAInRN6rRmeV
Gadis remaja itu tampak menikmati perjalanan. Sesekali ia memandang keluar jendela mobil, mengamati deretan pepohonan, pertokoan, serta hiruk-pikuk jalan yang perlahan berganti menjadi kawasan perumahan yang tenang. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu, seolah sedang menikmati dunia baru yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
330Please respect copyright.PENANAklb1qU8gCt
Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman rumah.
330Please respect copyright.PENANAn2IW59zeVN
Begitu turun dari mobil, Kiti langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh bangunan. Matanya tampak berbinar, kagum melihat rumah yang begitu besar dan nyaman. Sulit baginya mempercayai bahwa mulai hari itu, tempat tersebut akan menjadi rumahnya.
330Please respect copyright.PENANAVRvRXa2gTS
Elsa memperhatikan ekspresi itu sambil tersenyum hangat.
330Please respect copyright.PENANA4SBSifPU2b
"Kami harap Kiti betah tinggal di sini."
330Please respect copyright.PENANAEJI7owXzaZ
"Iya... Tante."
Jawaban itu seketika membuat suasana menjadi sedikit hening.
330Please respect copyright.PENANABw4x3k6I3t
Dirga tersenyum tipis. Ia mendekati Kiti, lalu menggenggam kedua bahu gadis itu dengan lembut.
330Please respect copyright.PENANAFv70meVaYX
"Kiti," ucapnya pelan, "bolehkah Ayah meminta satu hal?"
330Please respect copyright.PENANAE8uvTyS88s
Kiti mengangkat wajahnya.
330Please respect copyright.PENANAB1oJLfJa7p
"Apa itu, Om?"
330Please respect copyright.PENANAlth8HuarXY
Dirga tersenyum kecil.
330Please respect copyright.PENANAEwQWrZWdrF
"Mulai sekarang, jangan panggil kami Om dan Tante lagi."
330Please respect copyright.PENANAVpNPRUUKhd
Kiti tampak bingung.
330Please respect copyright.PENANAU2rDXsx1zq
"Kalau begitu... panggil apa?"
330Please respect copyright.PENANAGJd8pFc4lw
"Panggil Ayah dan Ibu."
330Please respect copyright.PENANA0lxvEnDJoi
Kiti terdiam.
330Please respect copyright.PENANA86huJrf02Z
Dua kata sederhana itu terasa begitu asing di telinganya. Selama hidupnya, ia belum pernah benar-benar memiliki kesempatan untuk mengucapkannya kepada seseorang.
330Please respect copyright.PENANA9w45uwWGgj
Melihat keraguan itu, Elsa segera tersenyum menenangkan.
330Please respect copyright.PENANARCQm3A1AOv
"Kami tahu ini tidak mudah. Kamu enggak perlu memaksakan diri. Mungkin sekarang masih terasa canggung, tapi kami berharap suatu hari nanti kamu bisa mengucapkannya dengan tulus."
330Please respect copyright.PENANAmefbRfvtPp
Kiti menundukkan kepala sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.
330Please respect copyright.PENANAvP0Cjlq3p4
"Baik."
330Please respect copyright.PENANA128OJvVflJ
Dirga dan Elsa saling berpandangan. Mereka tidak ingin terburu-buru. Yang mereka inginkan hanyalah memberi Kiti waktu untuk benar-benar merasa menjadi bagian dari keluarga kecil itu.
330Please respect copyright.PENANAE1dttxxVxC
"Kalau begitu," kata Elsa sambil menggandeng tangan Kiti, "ayo, Ibu antar lihat kamar barumu."
330Please respect copyright.PENANAoakDo3dKS3
Mereka pun menaiki tangga menuju lantai dua, sementara Dirga berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan siang.
330Please respect copyright.PENANAOTozF3rGFK
Sesampainya di depan sebuah kamar, Elsa membuka pintunya perlahan.
330Please respect copyright.PENANAVIxHc30zlk
"Nah... ini kamarmu."
330Please respect copyright.PENANA7ca1rMBG8P
Kiti melangkah masuk sambil memandangi setiap sudut ruangan. Kamarnya memang belum dipenuhi banyak perabot. Hanya ada sebuah tempat tidur, lemari pakaian, meja rias, serta rak kecil di sudut ruangan. Meski sederhana, semuanya tampak baru dan tertata rapi.
330Please respect copyright.PENANAaoKiBGydho
"Kalau nanti ada yang kurang, atau kamu ingin menghias kamar ini sesuai keinginanmu, bilang saja. Mulai sekarang, ini ruang pribadimu."
330Please respect copyright.PENANAeU21FJ3CQy
Kiti kembali mengangguk.
330Please respect copyright.PENANAA8bLV4RsxS
Tak banyak kata yang keluar dari bibirnya. Perubahan hidup yang datang begitu tiba-tiba membuatnya masih sulit mencerna kenyataan. Sesekali ia hanya tersenyum kecil, lalu kembali memandang sekeliling kamar yang kini menjadi miliknya.
330Please respect copyright.PENANAv6ERjfqxLN
Elsa mengusap lembut puncak kepala gadis itu.
330Please respect copyright.PENANANds9Yiu7zW
"Kalau begitu, istirahat dulu ya. Mandi yang segar, nanti kita makan bersama. Kalau butuh apa pun..."
330Please respect copyright.PENANAYlTpZoSDAx
Wanita itu berhenti sejenak, lalu tersenyum.
330Please respect copyright.PENANAQ9vBIUnia3
"...Ayah dan Ibu ada di bawah."
330Please respect copyright.PENANAWhPAefpzkr
Kiti mengangguk pelan.
330Please respect copyright.PENANAxatONfzGar
"Baik, Ma..."
330Please respect copyright.PENANAw7poJaMmV0
Ucapan itu terhenti begitu saja.
330Please respect copyright.PENANAKFDnQT2kRj
Kiti sendiri tampak terkejut dengan kata yang hampir lolos dari bibirnya.
330Please respect copyright.PENANALEVdhPDTMU
Namun bagi Elsa, satu suku kata itu sudah lebih dari cukup. Matanya langsung berkaca-kaca. Senyum bahagia tak mampu lagi ia sembunyikan.
330Please respect copyright.PENANAYYMr3yoR5S
"Kalau begitu... Ibu turun dulu, ya."
330Please respect copyright.PENANA4ZUxbBeXSZ
Kiti hanya mengangguk malu.
330Please respect copyright.PENANAPbljgtYInQ
Begitu pintu kamar tertutup, Elsa nyaris berlari menuruni tangga. Di dapur, Dirga masih sibuk menata hidangan di atas meja makan ketika Elsa datang dengan wajah yang tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.
330Please respect copyright.PENANAi3gB0iLm8E
"Mas..."
330Please respect copyright.PENANAECdwag4dui
Dirga menoleh.
330Please respect copyright.PENANA4126U4fuzY
"Dia... dia hampir memanggilku 'Mama'!"
330Please respect copyright.PENANAZSAqAPpokm
Tanpa pikir panjang, Elsa langsung memeluk suaminya erat.
330Please respect copyright.PENANAcGfwdNrK9y
Dirga ikut tersenyum lebar.
330Please respect copyright.PENANAnAmzPw2mZW
"Benarkah?"
330Please respect copyright.PENANA84z9YIVLZF
Elsa mengangguk berkali-kali dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
330Please respect copyright.PENANAWSlrKnOok4
"Tadi dia bilang, 'Baik, Ma...' meski langsung berhenti."
330Please respect copyright.PENANAofAsoHKVSU
Dirga tertawa kecil sambil memeluk istrinya.
330Please respect copyright.PENANAL6ZQ1lSbgB
"Berarti tinggal menunggu waktuku."
330Please respect copyright.PENANARfnYtzxkAY
"Maksudnya?"
330Please respect copyright.PENANATUXvxQyp7c
"Aku juga enggak sabar dengar dia memanggilku 'Ayah'."
330Please respect copyright.PENANA50SnpLKZFB
Keduanya tertawa pelan.
330Please respect copyright.PENANAO7vYyQO5WC
Meski baru beberapa jam bersama, kehadiran Kiti telah menghadirkan kehangatan yang selama ini terasa kurang di dalam rumah itu.
330Please respect copyright.PENANApQ3ZQP59gc
BERSAMBUNG...
SELENGKAPNYA: https://lynk.id/shark95
ns216.73.216.253da2


