Setelah menyiapkan hidangan di meja makan, Elsa meminta suaminya untuk memanggil Kiti agar segera turun makan malam.
Tanpa berpikir panjang, Dirga langsung menyanggupi permintaan itu dan bergegas menaiki tangga menuju lantai dua. Karena terlalu bersemangat, ia lupa mengetuk pintu kamar Kiti terlebih dahulu. Tangannya spontan menekan gagang pintu hingga daun pintu terbuka.
156Please respect copyright.PENANAHtFxmh3m3K
Didepan matanya, Dirga melihat tubuh Kiti tanpa helai benangpun. Seketika matanya berpaling, sementara Kiti tersentak akan kehadiran Dirga yang secara tiba-tiba.
156Please respect copyright.PENANAM5xXMEH5xB
Gadis tersebut lantas lekas menutupi tubuhnya yang masih basah dengan handuk putih. Suasana kian canggung sehingga membuat Dirga merasa bersalah. Namun lelaki tersebut masih menawarkan Kiti untuk turun kebawah menikmati makan malam bersama.
156Please respect copyright.PENANAsQvd5U4Wtj
Dirga mengusap tengkuknya yang terasa canggung. Ia kini berdiri di depan pintu sambil menunggu.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar perlahan terbuka. Kiti telah selesai berganti pakaian. Rambutnya yang masih sedikit basah tampak disisir rapi, sementara wajahnya masih menyisakan sedikit rasa malu.
156Please respect copyright.PENANAfTdSzD8w7m
"Maaf sudah menunggu."
156Please respect copyright.PENANAVPv98nwRwQ
Dirga tersenyum canggung.
156Please respect copyright.PENANAYHXXDGgs2J
"Harusnya Papa yang minta maaf. Lain kali Papa pasti ketuk pintu dulu."
156Please respect copyright.PENANAlXXJ4YjIJ2
Kiti hanya tersenyum kecil dan mengangguk.
156Please respect copyright.PENANALoO9d8Z5Dx
"Sudah enggak apa-apa, kok."
156Please respect copyright.PENANAFmbeSrtjiw
Dirga mengembuskan napas lega.
156Please respect copyright.PENANAOf4FmS0cmc
"Kalau begitu, ayo turun. Makanannya sudah siap. Ibu dari tadi menunggu kita."
156Please respect copyright.PENANA5aip7jm2JD
"Iya, Pa."
156Please respect copyright.PENANARmWzno8gvf
Keduanya pun berjalan berdampingan menuruni tangga menuju ruang makan, tempat Elsa telah menyiapkan makan malam hangat untuk keluarga kecil mereka.
156Please respect copyright.PENANAjiO7AZ1ZK6
Di dapur, Dirga masih tampak linglung memikirkan kejadian yang baru saja menimpanya. Ia sama sekali tidak menyangka momen memalukan itu bisa terjadi. Bahkan saat Elsa sempat bertanya mengapa ia terlihat aneh beberapa saat lalu, Dirga hanya menggeleng pelan sambil berkata bahwa tidak ada apa-apa. Ia memilih menyimpan kecanggungan itu sendiri, berharap kejadian tadi cukup berhenti sebagai kesalahpahaman yang tak perlu dibahas lagi.
156Please respect copyright.PENANA6ezSecZu7j
Tak lama kemudian, Kiti muncul dari lantai atas. Gadis itu menuruni anak tangga dengan langkah perlahan setelah selesai berganti pakaian. Rambutnya masih sedikit lembap sehabis mandi. Ia mengenakan baju tidur sederhana yang tampak sudah cukup lama dipakai. Meski warnanya mulai kusam, pakaian itu tetap terlihat bersih dan rapi.
156Please respect copyright.PENANAHc1ZtxejI7
Sesampainya di meja makan, Kiti menarik kursi dengan hati-hati lalu duduk. Wajahnya masih menyimpan rasa canggung. Sesekali pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan Dirga, lalu buru-buru dialihkan. Bayangan kejadian beberapa menit yang lalu rupanya masih membekas di benak keduanya.
156Please respect copyright.PENANAmIBdyBay4U
"Kami memasak sesuatu untukmu," ujar Elsa dengan senyum hangat sambil menyodorkan semangkuk sup ayam yang masih mengepulkan uap. "Aku tidak tahu apakah ini sesuai dengan seleramu, tapi semoga kamu menyukainya."
156Please respect copyright.PENANAHi7xmmP0sO
Kiti menatap semangkuk sup itu beberapa saat sebelum mengangkat kepalanya. Senyum kecil menghiasi wajahnya.
156Please respect copyright.PENANAd2dveytLTq
"Terima kasih... kelihatannya enak sekali," ucapnya lirih.
156Please respect copyright.PENANAtVyhUbiYjx
Elsa membalas dengan senyum lega. Respons sederhana itu sudah cukup membuat dirinya dan Dirga merasa tenang. Suasana yang sempat dipenuhi kecanggungan perlahan berubah menjadi lebih hangat.
156Please respect copyright.PENANAHkPFqjRanq
Mereka pun menikmati makan malam bersama. Di sela-sela obrolan, Dirga mulai menanyakan kehidupan Kiti selama tinggal di panti asuhan. Ia ingin tahu bagaimana kesehariannya, teman-temannya, pelajaran yang paling disukainya, hingga bagaimana gadis itu menjalani sekolah selama ini.
156Please respect copyright.PENANA7WT5ICVWy3
Awalnya Kiti menjawab dengan singkat. Namun, semakin lama suasana terasa semakin nyaman. Sedikit demi sedikit ia mulai membuka diri. Sesekali tawanya pecah ketika mendengar candaan ringan yang dilontarkan Dirga. Melihat hal itu, Elsa hanya tersenyum bahagia. Baginya, momen sederhana seperti ini sudah cukup untuk membuat rumah mereka terasa hidup.
156Please respect copyright.PENANAAHIMoA3IVL
Saat memperhatikan pakaian yang dikenakan Kiti, Elsa dan Dirga saling berpandangan.
156Please respect copyright.PENANAGYapU4o6PH
"Besok atau lusa kita pergi membeli beberapa baju baru, ya," kata Elsa lembut. "Kamu pasti butuh pakaian untuk sekolah, pakaian di rumah, dan beberapa keperluan lainnya."
156Please respect copyright.PENANA5Pb3caCXSl
Kiti sempat menggeleng pelan.
156Please respect copyright.PENANAbBqPXxM0Vb
"Tidak usah banyak-banyak, Bu. Yang ini masih bisa dipakai."
156Please respect copyright.PENANAgQ87Vb71Vy
"Tidak apa-apa," sahut Dirga sambil tersenyum. "Mulai sekarang kamu bagian dari keluarga ini. Kami ingin memastikan semua kebutuhanmu terpenuhi."
156Please respect copyright.PENANAVrdNZzMKI7
Mendengar ucapan itu, Kiti hanya mampu mengangguk pelan. Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
156Please respect copyright.PENANAmKDvuSTEIc
Obrolan mereka kemudian beralih membahas pendidikan Kiti. Dirga dan Elsa sepakat ingin menyekolahkan putri angkat mereka di salah satu sekolah swasta terbaik di kota. Mereka berharap lingkungan yang baik dapat membantu Kiti berkembang, baik dalam pendidikan maupun pembentukan karakternya.
156Please respect copyright.PENANAMFG0DAfgsd
Bagi Dirga dan Elsa, masa depan gadis itu kini telah menjadi tanggung jawab mereka sepenuhnya. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak memasuki rumah tersebut, Kiti mulai merasakan seperti apa rasanya memiliki sebuah keluarga.
156Please respect copyright.PENANAK2rSCnHbzP
Hari demi hari pun berlalu. Kiti yang pada awalnya masih terlihat canggung terhadap keluarga barunya, kini perlahan mulai terbiasa. Senyum gadis itu semakin sering menghiasi rumah, sementara obrolannya dengan Dirga dan Elsa tak lagi sekadar basa-basi. Bahkan, setelah didaftarkan oleh ayahnya di salah satu sekolah swasta, Kiti mulai menjalani kehidupan barunya dengan lebih percaya diri.
156Please respect copyright.PENANAoCUyOEQKdu
Setiap kali hari libur tiba, sebagian besar waktunya dihabiskan bersama Dirga. Ia belajar banyak hal baru, mulai dari dasar-dasar musik hingga cara menyusun sebuah aransemen yang baik. Kiti menikmati setiap pengetahuan yang diberikan ayahnya, sedangkan Dirga merasa begitu terhibur dengan kehadiran putrinya.
156Please respect copyright.PENANAgWgwgHyiYC
Bagi Dirga, Kiti bukan hanya seorang anak yang baru kembali ke dalam hidupnya, melainkan juga teman berbagi hobi dan minat dalam dunia musik. Berbeda dengan Elsa yang tetap disibukkan oleh pekerjaannya meski hari libur, kebersamaan antara Dirga dan Kiti semakin sering tercipta. Hubungan keduanya pun kian erat, seolah takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali setelah sekian lama terpisah.
156Please respect copyright.PENANAfYTuSiwGG5
Sesekali, Kiti menunjukkan perhatian kecil kepada ayahnya.
156Please respect copyright.PENANAYEjdQfn3j7
Menjelang petang, ia menyeduhkan secangkir kopi hangat, lalu membawanya dengan hati-hati menuju studio tempat Dirga bekerja.
156Please respect copyright.PENANAHxmFdLIlQO
Perhatian sederhana itu selalu berhasil membuat hati Dirga menghangat. Sebagai balasan, pria itu kerap mengecup lembut kening putrinya. Sentuhan kasih sayang tersebut membuat pipi Kiti seketika memerah, meski ia hanya membalasnya dengan senyum malu sambil menundukkan kepala.
156Please respect copyright.PENANAtru6JZG3KM
Pada malam hari, ketika jarum jam telah menunjukkan pukul setengah dua belas, Kiti masih setia berada di sisi ayahnya. Meski beberapa kali menguap, ia enggan meninggalkan studio sebelum Dirga menyelesaikan pekerjaannya.
156Please respect copyright.PENANARL8I9hbM55
Melihat putrinya mulai meringkuk di sofa karena mengantuk, Dirga menghampiri dan menyelimuti tubuh Kiti dengan selimut tipis agar tidak kedinginan.
156Please respect copyright.PENANAzwzn9v3TvF
Sentuhan lembut itu membuat Kiti perlahan membuka mata.
156Please respect copyright.PENANAFkyohl1b2M
"Maaf, Yah... aku malah ketiduran," gumamnya dengan suara serak.
156Please respect copyright.PENANAyZjCcbET9s
Dirga tersenyum tipis. "Kalau sudah mengantuk, tidur saja di kamar. Besok kamu harus sekolah."
156Please respect copyright.PENANAEl8Ff0l12g
Kiti menggeleng pelan.
156Please respect copyright.PENANAu5bXYYV0kt
"Aku masih ingin menemani Ayah."
156Please respect copyright.PENANAU3CveEPZjP
Dirga terkekeh kecil. "Menemani Ayah boleh, tapi kesehatanmu juga harus dijaga."
156Please respect copyright.PENANAVJbVpWYB22
"Aku kuat, kok."
156Please respect copyright.PENANAkzyBfopmiV
Dirga hanya menggeleng sambil kembali ke meja kerjanya. Jemarinya kembali menari di atas keyboard, sementara alunan musik memenuhi ruangan. Sesekali ia melirik ke arah Kiti untuk memastikan putrinya tetap merasa nyaman.
156Please respect copyright.PENANAJtYQMPTtog
Beberapa menit kemudian, suara Kiti kembali memecah keheningan.
156Please respect copyright.PENANAqwH8Wc3Yfq
"Ayah..."
156Please respect copyright.PENANAsnr0tEfvv4
"Ya?"
156Please respect copyright.PENANAVo2FI88qwb
"Kenapa Ayah memutuskan untuk memilihku?"
156Please respect copyright.PENANAm7qAYZne5L
Dirga menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia menatap layar monitor sebelum menoleh kepada Kiti.
156Please respect copyright.PENANAsvXXu3E5kT
"Karena kamu cantik"
156Please respect copyright.PENANA7XgCFBgmxU
Kiti terdiam. Ada rasa hangat yang memenuhi dadanya mendengar jawaban sederhana itu.
156Please respect copyright.PENANAMLU9G7Lx8z
"Lalu, kenapa kamu akhirnya memilih kami?" tanya Dirga balik.
156Please respect copyright.PENANAJcFez5tjm7
Kiti tersenyum kecil.
156Please respect copyright.PENANAtIfoB2IPAn
"Karena... kamu tampan. Dan aku ingin memiliki ayah yang tampan."
156Please respect copyright.PENANAjmr2H24MYG
Jawaban itu membuat senyum Dirga mengembang. Ia mengangguk pelan, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
156Please respect copyright.PENANAgIN4Yw7NyA
Tak lama kemudian, obrolan mereka berlanjut dengan cerita-cerita ringan. Kiti sesekali bertanya tentang musik, sementara Dirga dengan sabar menjelaskan berbagai hal yang belum dipahami putrinya. Tawa kecil beberapa kali terdengar, membuat suasana studio yang semula sunyi terasa jauh lebih hidup.
156Please respect copyright.PENANAKESLmOd7v6
Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Dirga pun menyimpan seluruh proyek musiknya dan mematikan peralatan di studio.
156Please respect copyright.PENANA9HiX1Ro4hr
"Sudah cukup untuk hari ini," ujarnya sambil meregangkan tubuh. "Ayo tidur."
156Please respect copyright.PENANAI8aa6a1uyi
Kiti mengangguk. Ia berjalan mengikuti Dirga keluar dari studio menuju lantai atas.
156Please respect copyright.PENANATUzHmwINem
Sesampainya di depan kamar masing-masing, Dirga mengusap lembut puncak kepala putrinya.
"Selamat malam. Sayang."
156Please respect copyright.PENANAMxfSEYWQQ9
Ucapan dari ayahnya itu membuat Kiti berdebar. wajahnya memerah. Ia tak tahu pasti tentang perasaan yang ia rasakan kini.
156Please respect copyright.PENANABwofeUR22n
Tangannya tiba-tiba meraih lengan ayahnya, menarik lelaki tersebut dan mengecup bibirnya dengan lembut.
156Please respect copyright.PENANAjUKsu0EU5E
Mendapatkan respon yang begitu mengejutkan, Dirga lantas menjauhkan diri. Ia menatap Kiti dengan penuh kebingunan. Gadis tersebut terlihat malu dan canggung, seperti tak menyadari perlakuan yang baru saja ia berikan kepada ayahnya.
156Please respect copyright.PENANAISEgX9GjME
"Maaf" ucap Kiti, lantas berlalu memasuki kamarnya.
156Please respect copyright.PENANA9Lamso1BDO
Malam yang diselimuti hawa dingin itu menjadi awal dari sebuah perjalanan rasa yang perlahan tumbuh, membawa keduanya memasuki petualangan cinta yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
156Please respect copyright.PENANArHTmwMdH6U
BERSAMBUNG...
SELENGKAPNYA: https://lynk.id/shark95
ns216.73.216.253da2


