Novi mengikuti Kakek Imron menyusuri gang sempit yang semakin sepi. Matahari sore mulai condong ke barat, cahayanya jingga menyinari jalan tanah. Gubuk kecil Kakek Imron terlihat di ujung gang, papan bekas dan atap seng yang berkarat. Novi merasa sedikit ragu, tapi ia mengingatkan diri bahwa kakek ini hanyalah seorang tukang sapu tua yang kasihan.
5311Please respect copyright.PENANAOSdhqMQwkh
“Silakan masuk, Bu Novi,” kata Kakek Imron dengan suara ramah sambil membuka pintu bambu yang reyot.
Begitu Novi melangkahkan kaki masuk ke dalam gubuk yang pengap dan gelap, semuanya berubah dalam sekejap.
5311Please respect copyright.PENANA0F9PR9npU0
Tangan kasar dan kuat Kakek Imron langsung membekap mulut Novi dari belakang dengan keras. Lengan kirinya melingkar di pinggang ramping Novi, menarik tubuhnya ke belakang hingga punggungnya menempel di dada kakek itu.
5311Please respect copyright.PENANAz5vrV7h4o7
“Mmmphh!!” Novi meronta hebat, matanya melebar ketakutan. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya tertahan di telapak tangan yang bau keringat dan debu. Kakek Imron lebih kuat dari yang terlihat. Tubuh tua itu masih penuh tenaga.
5311Please respect copyright.PENANAeLfSTYHEh0
5311Please respect copyright.PENANAdqTE7wxQmI
“Tenang, Bu Guru… tenang…” bisik Kakek Imron di telinga Novi. Tangan kanannya menekan titik di leher Novi dengan tepat. Dunia Novi berputar, penglihatannya kabur, lalu semuanya gelap. Ia pingsan dalam hitungan detik.
Kakek Imron tersenyum licik. Ia menggendong tubuh Novi yang lemas ke bale-bale tipis di sudut gubuk. Dengan cepat ia membuka gamis panjang Novi, menarik jilbabnya hingga terlepas, memperlihatkan rambut hitam panjang yang harum. Bra dan celana dalam putih bersih Novi terlihat kontras dengan kegelapan gubuk. Payudara montok Novi naik turun pelan saat bernapas.
5311Please respect copyright.PENANA71vQc7NDgv
5311Please respect copyright.PENANAK5VtMfocyH
Kakek Imron menurunkan celananya. Kontolnya yang sudah mengeras sejak tadi melompat keluar — 25 cm panjang, diameter 7 cm tebal, urat-urat menonjol, kepala kepala merah besar yang mengkilap precum. Ia mengusap kontol raksasanya sambil memandang tubuh suci Novi yang terbaring tak berdaya.
Novi mulai sadar saat merasakan sakit yang luar biasa di selangkangannya. Matanya terbuka lebar. Kontol Kakek Imron sudah setengah masuk ke dalam vagina ketatnya yang jarang disentuh suami.
5311Please respect copyright.PENANA5sYxtslN9m
“AAAAAAAAHHH!!! BAJINGAN!!! LEPASKAN AKU, KAKEK MESUM!!! HUAAAAA!!!” jerit Novi histeris. Ia meronta keras, tangannya memukul dada Kakek Imron, kakinya menendang. Air mata mengalir deras. “Kamu berani ya?! Aku akan teriak! Suamiku akan bunuh kamu, sialan!!”
5311Please respect copyright.PENANAvVSt7BgNqn
5311Please respect copyright.PENANADFdav0ijPN
Kakek Imron tidak peduli. Ia menindih tubuh Novi dengan beratnya, pinggulnya mendorong maju kuat. Kontol raksasanya masuk lebih dalam, merobek dinding vagina yang sempit itu. “Enak juga memek guru SD yang suci ini… ketat sekali… sudah lama tidak digenjot ya?”
“TIDAK!!! KELUARKAN!!! SAKIIIIT!!! ASTAGHFIRULLAH… LEPAS!!! KAU MONSTER TUA!!!” Novi terus memaki kasar, tubuhnya menggeliat hebat. Tapi setiap gerakan justru membuat kontol itu semakin dalam.
5311Please respect copyright.PENANAuDZjAUkj0y
5311Please respect copyright.PENANAsifi0dW9Pw
Kakek Imron mulai menggenjot dengan ritme kuat dan dalam. Plak! Plak! Plak! Suara benturan daging memenuhi gubuk kecil. Kontol 25 cm-nya menghunjam hingga ke rahim Novi berulang kali. Novi menangis, tubuhnya gemetar karena sakit dan malu. Tapi lambat laun, rasa sakit itu bercampur dengan sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan.
5311Please respect copyright.PENANAJlLOEXFr76
5311Please respect copyright.PENANA1LVVqmQkCW
“Ahh… ahh… tidak… jangan…” desah Novi mulai berubah. Pinggulnya tanpa sadar bergerak pelan mengikuti irama. Kakek Imron tersenyum menang, tangannya meremas payudara montok Novi dengan kasar sambil terus menggenjot.
Tiba-tiba tubuh Novi menegang hebat. “Tidak… aku… AAAAAAHHHHHH!!!” Orgasme pertama dalam hidupnya meledak dahsyat. Memeknya menyemprot cairan bening, vagina berkontraksi kuat di sekeliling kontol raksasa Kakek Imron. Tubuhnya kejang-kejang, matanya mendongak, lidahnya terjulur sedikit.
5311Please respect copyright.PENANAXrscFdi2xS
5311Please respect copyright.PENANA2hMtiUBXaB
Kakek Imron tidak berhenti. Ia membalik tubuh Novi ke posisi doggy style, menarik pinggul lebarnya dan menghunjam dari belakang dengan lebih ganas. “Sekarang rasakan enaknya, Bu Guru…”
Plak plak plak plak! Suara semakin keras. Novi sudah tidak melawan lagi. “Ahh… ahh… enak… ya Tuhan… dalam sekali…” desahnya tanpa sadar. Rasa benci masih ada, tapi kenikmatan yang baru ini terlalu kuat.
5311Please respect copyright.PENANAMYOR9IZlJL
5311Please respect copyright.PENANAIz5LoXobwl
Kakek Imron mengganti gaya lagi. Ia duduk di bale-bale, menarik Novi ke pangkuannya (cowgirl). Novi sendiri mulai naik turun pelan di atas kontol raksasa itu, payudaranya bergoyang-goyang indah. “Kau… jahat… tapi… ahhh… kontolmu… terlalu besar…”
5311Please respect copyright.PENANAQlFhDoaIlN
5311Please respect copyright.PENANA5B74aJF6bf
Perlahan, tanpa sadar, Novi menunduk. Bibirnya menyentuh bibir Kakek Imron yang keriput. Ia menciumnya dalam-dalam, lidahnya masuk ke mulut tua itu sambil terus menggoyang pinggulnya. Ciuman itu penuh nafsu, campuran benci yang mulai berubah menjadi ketergantungan aneh.
Kakek Imron tertawa pelan di sela ciuman. “Mulai suka ya, Bu Novi? Kontol kakek lebih enak dari suami PNS-mu yang sibuk itu…”
5311Please respect copyright.PENANAJvX1GMTSH9
Novi hanya mendesah panjang, tubuhnya bergerak semakin liar. “Ahh… terus… jangan berhenti… aku… aku tidak tahan…”
Malam mulai turun di luar gubuk, tapi di dalam, pertemuan pertama yang penuh kekerasan itu perlahan berubah menjadi api cinta terlarang yang baru saja menyala. Novi Indriani, guru SD yang suci dan setia, untuk pertama kalinya merasakan kenikmatan sejati di tangan (dan kontol) seorang kakek tukang sapu tua.
5311Please respect copyright.PENANAu0nXGOYfpX
Matahari sudah benar-benar tenggelam ketika Novi Indriani sadar sepenuhnya. Tubuhnya terasa lemas, selangkangannya nyeri tapi juga basah dan berdenyut karena kenikmatan yang baru saja ia rasakan. Ia berbaring di bale-bale tipis gubuk Kakek Imron, gamisnya sudah dirapikan kembali meski kusut. Jilbabnya dipasang dengan tangan gemetar. Air mata masih mengalir pelan di pipinya.
Kakek Imron duduk di sampingnya, wajah tuanya terlihat menyesal. Kontolnya sudah kembali ke celana, tapi aroma sex masih memenuhi ruangan kecil itu.
5311Please respect copyright.PENANAgTQNywIP54
5311Please respect copyright.PENANAwSr1lv3ypE
“Bu Novi… saya minta maaf,” kata Kakek Imron dengan suara serak yang pelan. “Saya… saya kesepian sekali. Sudah bertahun-tahun tidak disentuh perempuan. Melihat Ibu yang cantik, baik, dan lewat setiap hari… nafsu saya tidak tertahan. Saya benar-benar minta maaf.”
Novi menatap kakek itu lama. Rasa marah, malu, dan benci masih ada, tapi kenangan orgasme pertama yang begitu hebat juga masih membekas di tubuhnya. Ia menghela napas panjang.
5311Please respect copyright.PENANAB6gkYUuWlM
“Kamu jahat, Kek,” kata Novi dengan suara lemah. “Kamu memaksa saya… tapi… saya memaafkan kamu. Karena saya tahu hidup kamu susah. Tapi janji ya, jangan lakukan lagi. Saya punya suami dan anak-anak.”
5311Please respect copyright.PENANAZnbDtC4a1O
5311Please respect copyright.PENANA4VivdP7NP7
Kakek Imron mengangguk cepat. “Iya, Bu. Saya janji. Terima kasih sudah memaafkan orang tua seperti saya.”
Ia membantu Novi berdiri. Kaki Novi masih gemetar. Kakek Imron mengeluarkan sepeda bututnya yang roda belakangnya sudah miring dan ban kempes. “Saya antar pulang ya, Bu. Biar tidak ada yang curiga.”
5311Please respect copyright.PENANAmNA1bO1Fta
Novi ragu, tapi akhirnya naik ke boncengan sepeda. Tubuhnya yang lemas bersandar pelan di punggung Kakek Imron. Sepeda butut itu meluncur pelan menyusuri gang-gang kecil. Angin malam meniup jilbab Novi. Sepanjang perjalanan, Kakek Imron bercerita pelan tentang kesepiannya, tentang anak-anak yang meninggalkannya, dan betapa ia masih ingin merasa dibutuhkan.
5311Please respect copyright.PENANAS2tRrXw1vY
5311Please respect copyright.PENANAnp6R2ZM66r
Novi mendengarkan dalam diam. Hatinyanya campur aduk. Rasa bersalah karena sudah “memaafkan” terlalu cepat bertemu dengan rasa kasihan. Sesekali ia ingat bagaimana kontol raksasa itu membuatnya orgasme, dan pipinya memerah malu.
5311Please respect copyright.PENANAaVn25IBgc4
Sampai di depan rumah Novi, Kakek Imron berhenti. “Sudah sampai, Bu. Sekali lagi maaf.”
5311Please respect copyright.PENANAitc6tr1ddO
Novi turun pelan. “Iya, Kek. Jangan diulangi lagi. Pulanglah.”
Kakek Imron mengangguk dan melaju pergi dengan sepedanya yang butut. Novi berdiri di depan pintu beberapa saat, mengatur napas, merapikan gamis dan jilbabnya sebaik mungkin. Bau sex samar masih menempel di tubuhnya, tapi ia berusaha mengabaikannya.
5311Please respect copyright.PENANAsRowlcU4Rt
Begitu pintu terbuka, tiga anaknya langsung menyambut dengan riang.
“Ibu pulang!!!” teriak Aisyah, Rafi, dan Zidan hampir bersamaan.
Zidan kecil langsung memeluk kaki ibunya erat. “Ibu lamaaa… Zidan kangen!”
Rafi menarik tangan Novi. “Ibu, kami sudah siapkan makan malam! Rafi bantu masak telur orak-arik!”
Aisyah yang paling dewasa memeluk Novi erat di pinggang. “Ibu capek ya hari ini? Aisyah sudah siapkan air hangat untuk mandi Ibu nanti. Duduk dulu, Bu.”
5311Please respect copyright.PENANAc2rM6QCWnb
Novi terharu sekali. Air matanya mengalir lagi, tapi kali ini karena kebahagiaan. Ia memeluk ketiga anaknya sekaligus, menciumi kepala mereka bergantian. “Anak-anak Ibu yang paling baik… Ibu sangat bersyukur punya kalian.”
5311Please respect copyright.PENANA456LZYNVjV
Mereka masuk ke rumah. Meja makan sudah ditata rapi. Nasi putih hangat, telur orak-arik yang dibuat Rafi (meski agak gosong di pinggir), sayur bayam yang diolah Aisyah, dan ikan goreng sederhana. Zidan bahkan menaruh gambar gambarannya di meja sebagai “hadiah untuk Ibu”.
5311Please respect copyright.PENANAXqgs00wnrc
Novi duduk, air matanya tak berhenti. “Kenapa kalian repot-repot begini?”
Aisyah tersenyum. “Karena Ibu selalu capek mengurus kami dan Bapak. Hari ini Ibu pulang agak telat, jadi kami mau kasih kejutan.”
5311Please respect copyright.PENANA8iUKs1FD5t
Rafi menyuapkan nasi ke mulut ibunya. “Ibu makan banyak ya. Biar kuat besok ngajar anak-anak di sekolah.”
Zidan naik ke pangkuan Novi, memeluk lehernya. “Ibu jangan sedih ya. Zidan sayang Ibu.”
5311Please respect copyright.PENANAifSV3aH47t
Novi memeluk anak bungsunya erat. Kehangatan keluarga ini menyembuhkan luka hatinya yang baru saja terjadi. Ia merasa sangat bersyukur. Meski suaminya sering mengabaikannya, anak-anaknya adalah harta yang tak ternilai. Mereka peduli, mereka memperhatikan, mereka mencintainya tanpa syarat.
5311Please respect copyright.PENANAUJ6cocqwHM
Malam itu berlalu penuh kehangatan. Novi mandi air hangat yang sudah disiapkan Aisyah, lalu makan malam bersama anak-anak dengan penuh tawa. Ia ceritakan sedikit tentang hari di sekolah (tanpa menyebut kejadian dengan Kakek Imron), mendengarkan cerita mereka, membantu PR, dan membacakan cerita pengantar tidur.
5311Please respect copyright.PENANAfzDl01jDOB
Saat anak-anak sudah tidur, Novi duduk di ruang tamu sendirian. Faisal belum pulang. Ia menyentuh perut bawahnya yang masih terasa penuh. Kenangan kontol Kakek Imron dan orgasmenya tadi siang muncul lagi, membuatnya gelisah. Tapi pelukan anak-anak tadi membuatnya kuat.
5311Please respect copyright.PENANA6lbVLAGa2v
“Terima kasih ya Allah… untuk anak-anakku yang selalu ada,” bisiknya sambil menangis pelan bahagia.
Rumah kecil itu penuh cahaya lampu kuning hangat, suara napas anak-anak yang terlelap, dan kasih sayang yang tulus. Novi Indriani, meski hatinya mulai retak karena kejadian sore tadi, merasa dirinya masih dibutuhkan dan dicintai di rumah ini.
5311Please respect copyright.PENANAmQl4KUXFWu
Malam semakin larut. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.15. Anak-anak sudah tertidur pulas di kamar mereka masing-masing. Novi duduk di tepi tempat tidur, mengenakan gaun tidur tipis berwarna merah maroon yang jarang ia pakai. Gaun itu menempel di tubuhnya, memperlihatkan lekuk payudara montoknya dan paha putih yang mulus. Jilbabnya sudah dilepas, rambut hitam panjangnya tergerai indah. Setelah kejadian sore dengan Kakek Imron, Novi merasa tubuhnya masih panas. Ia ingin merasakan sentuhan suaminya malam ini, ingin melupakan segalanya dengan kehangatan Faisal.
5311Please respect copyright.PENANAg6tWyl5xsr
Pintu depan akhirnya terbuka pukul 23.45. Faisal masuk dengan wajah lelah, tas kerjanya dilempar ke sofa. Bau keringat dan asap rokok menempel di bajunya.
“Mas… kamu pulang,” kata Novi lembut. Ia berdiri, mendekati suaminya dengan langkah menggoda. Gaun tipisnya bergoyang, putingnya samar terlihat karena tidak memakai bra.
Faisal menatap istrinya dari atas ke bawah. Alisnya berkerut. “Kamu pakai apa ini, Novi?!”
5311Please respect copyright.PENANAmLlbGap03R
Novi tersenyum malu-malu, mencoba memeluk pinggang suaminya. “Aku kangen sama Mas… sudah lama kita tidak… malam ini aku mau kasih kejutan. Biar Mas rileks setelah capek kerja.”
Tangan Novi merayap ke dada Faisal, mencoba membuka kancing kemejanya. Tubuhnya menempel, aroma sabun mandinya yang harum bercampur dengan feromon perempuan yang baru saja “bangun” nafsunya sore tadi.
Namun, reaksi Faisal justru di luar dugaan.
5311Please respect copyright.PENANA34WWQEkJ6e
“PLAKKK!!!”
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Novi. Kepalanya tersentak ke samping. Rasa perih dan panas langsung menyebar di wajahnya.
5311Please respect copyright.PENANAXr8XwICclc
“Kamu ini sudah gila ya?! Berpakaian seperti pelacur di depan suami sendiri!” bentak Faisal dengan suara rendah tapi penuh amarah. “Kamu guru SD, ibu dari tiga anak! Bukan wanita murahan yang memakai baju kayak gini! Malu aku punya istri seperti ini!”
5311Please respect copyright.PENANAcfco43u9cD
Novi terdiam, tangannya memegang pipi yang memerah. Air matanya langsung meluncur deras. “Mas… aku cuma mau dekat sama kamu… aku kangen…”
Faisal tertawa sinis. “Kangen? Kamu pikir aku tidak capek? Setiap hari kerja keras untuk kalian, untuk anak-anak! Kamu cuma di rumah, mengurus anak, tapi sekarang mau godain aku pakai baju pelacur begini? Memalukan!”
Hati Novi hancur lebur. Rasa sakit di pipinya tidak sebanding dengan sakit di dadanya. Ia mundur beberapa langkah, tubuhnya gemetar.
5311Please respect copyright.PENANA0ZZhPvX6l5
“Kerja… kerja… kerja! Selalu kerja, Mas!” suara Novi mulai naik, campur tangis. “Anak-anak memang kamu pedulikan, tapi aku? Aku cuma pembantu rumah tangga buat kamu! Tidak ada pelukan, tidak ada kata sayang, tidak ada sentuhan! Aku juga butuh perhatian, Mas! Aku juga perempuan!”
5311Please respect copyright.PENANAjkd4Gruqi0
Faisal mengusap wajahnya lelah. “Kamu egois, Nov. Anak-anak butuh biaya sekolah, makan, pakaian. Kalau aku tidak kerja keras, kita bagaimana? Sekarang kamu malah menyalahkan aku karena pakai baju tidak sopan.”
5311Please respect copyright.PENANANBfgOf2zXT
“Aku menyalahkan kamu karena kamu sudah lama tidak melihat aku sebagai istri!” jerit Novi pelan agar anak-anak tidak bangun. “Setiap malam aku nunggu kamu pulang, tapi kamu cuma tidur! Aku capek, Mas… capek jadi istri yang diabaikan!”
Tamparan tadi terasa semakin panas. Novi menangis tersedu, bahunya terguncang. Ia teringat sentuhan kasar tapi penuh nafsu Kakek Imron sore tadi — bagaimana kakek tua itu membuatnya orgasme berkali-kali. Rasa bersalah dan amarah tercampur jadi satu.
5311Please respect copyright.PENANA0B96T0FSRE
Faisal hanya menggeleng. “Udah ah, tidur. Besok aku ada rapat pagi.” Ia membuka kemeja, lalu berbaring di tempat tidur membelakangi Novi.
5311Please respect copyright.PENANANWidFzZH5v
5311Please respect copyright.PENANAqg23EXyYVV
Novi berdiri lama di samping tempat tidur, air matanya jatuh ke lantai. Gaun sexy yang ia pakai terasa seperti ejekan sekarang. Ia ganti ke gamis tidur biasa, lalu berbaring di ujung kasur, menjauh dari suaminya. Hatinya benar-benar hancur.
“Kenapa Mas tidak pernah mengerti…” bisiknya di dalam hati. Malam itu Novi tidur dengan air mata yang mengering di pipi, sementara ingatan kontol Kakek Imron yang besar dan kenikmatan terlarang itu mulai muncul lagi di pikirannya, semakin kuat.
5311Please respect copyright.PENANAaDANYHm9Lm
5311Please respect copyright.PENANAs4wKtZzOCB
Keesokan paginya, suasana rumah tetap hangat di mata anak-anak. Novi bangun lebih dulu, memasak sarapan dengan senyum dipaksakan. Ia memeluk ketiga anaknya lebih erat dari biasanya, menciumi mereka dengan penuh kasih. Tapi di dalam dada, ada luka baru yang menganga lebar — luka dari tamparan suaminya dan pengabaian bertahun-tahun.
5311Please respect copyright.PENANAyQWiSr43Gs
Drama malam itu menjadi titik balik. Hati Novi yang dulu setia mulai retak. Dan di sudut kampung, Kakek Imron dengan sepeda bututnya tersenyum sendirian, seolah tahu badai baru sedang dimulai.5311Please respect copyright.PENANAAffCTHVouG


