4691Please respect copyright.PENANAaHLunV2MvBPart 3
Pagi berikutnya, rumah kecil itu terasa berbeda bagi Novi Indriani. Ia bangun sebelum azan Subuh, sholat dengan air mata yang masih mengering di pipinya. Pipi kirinya masih sedikit merah bekas tamparan Faisal semalam. Setiap kali mengingatnya, dada Novi terasa sesak.
4691Please respect copyright.PENANAEJF1kE1LQp
4691Please respect copyright.PENANA87A161ML8R
Ia fokus sepenuhnya pada ketiga anaknya. Aisyah, Rafi, dan Zidan dibangunkan dengan pelukan hangat dan ciuman di kening. Novi menyiapkan sarapan dengan telaten: bubur ayam spesial untuk Zidan, roti bakar untuk Rafi, dan telur mata sapi untuk Aisyah. Ia mendengarkan cerita mereka dengan penuh perhatian, tertawa kecil saat Rafi bercerita lelucon konyol, dan membantu Aisyah mengikat jilbab sekolahnya dengan rapi.
4691Please respect copyright.PENANA08RJqK9p4V
4691Please respect copyright.PENANAkLEXPdbVQX
“Ibu hari ini cantik sekali,” kata Aisyah sambil memeluk ibunya dari belakang.
Novi tersenyum, meski senyum itu pahit. “Karena Ibu punya kalian bertiga.”
Faisal keluar dari kamar dengan kemeja dinas yang sudah disetrika Novi semalam. Ia mencoba mencairkan suasana. “Pagi, Nov. Masakannya enak seperti biasa. Kamu baik-baik saja kan semalam? Maaf ya tadi malam aku agak emosi.”
4691Please respect copyright.PENANAe9oRr2e5pl
4691Please respect copyright.PENANAoH2UQToWEl
Novi diam saja. Ia tidak menjawab, tidak menatap suaminya. Hanya melanjutkan menyuapi Zidan dengan sabar. Faisal mencoba lagi, bercanda ringan seperti dulu. “Kalau malam ini pulang cepat, kita nonton TV bareng anak-anak ya? Atau… kita berdua saja?”
4691Please respect copyright.PENANALkOTgIggCS
Novi tetap acuh tak acuh. Wajahnya dingin, gerakannya mekanis. Ia merapikan tas anak-anak, mengantar mereka sampai depan pintu tanpa sepatah kata pun ke suaminya. Saat Faisal mencoba memegang lengannya lembut, Novi menarik tangannya pelan tapi tegas.
“Aku berangkat dulu,” kata Novi dingin, lalu berjalan keluar rumah tanpa pamitan atau menoleh ke belakang.
Faisal berdiri di teras, bingung dan mulai kesal. Tapi ia hanya menghela napas dan berangkat kerja.
4691Please respect copyright.PENANAvoCgX8YqOn
Di perjalanan menuju sekolah, Novi mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya mengetik pesan ke Bu Siti, rekan gurunya:
“Bu Siti, maaf hari ini saya izin tidak masuk. Badan kurang enak, agak demam. Tolong gantikan kelas 3B ya. Terima kasih.”
Bu Siti membalas cepat: “Iya Bu Novi, istirahat yang cukup ya. Semoga cepat sembuh. Kelas aman kok.”
4691Please respect copyright.PENANAi795tKmlci
Novi mematikan ponsel. Ia tidak menuju sekolah. Langkahnya membawa ia ke gang kecil yang kemarin. Kakinya seolah punya nyawa sendiri. Hatinya campur aduk: marah pada Faisal, bersalah pada dirinya sendiri, tapi juga ada kehangatan aneh yang menariknya ke gubuk reyot itu.
Kakek Imron sedang menyapu halaman kecil di depan gubuknya ketika melihat Novi datang. Wajah tuanya langsung cerah, tapi ia melihat air mata yang menggenang di mata Novi.
“Bu Novi…?” tanyanya pelan.
4691Please respect copyright.PENANAkT6k0uD05W
Novi tidak bicara. Ia langsung memeluk Kakek Imron erat. Tubuhnya yang lembut menempel di dada kakek yang kurus tapi kokoh. Air matanya pecah, tangisnya tersedu di bahu baju lusuh Kakek Imron.
“Kek… suamiku… dia tampar aku semalam… dia bilang aku seperti pelacur… padahal aku hanya ingin diperhatikan…” isak Novi. Tubuhnya gemetar. Pelukan itu semakin erat.
Kakek Imron membalas pelukan itu dengan lembut, tangan kasarnya mengusap punggung Novi naik turun. “Sst… tenang, Bu. Ceritakan semuanya ke saya.”
4691Please respect copyright.PENANAfxCBNldZxc
Mereka masuk ke gubuk. Novi duduk di bale-bale, kepalanya bersandar di dada Kakek Imron. Ia ceritakan semuanya dengan detail: kesibukan Faisal yang hanya memikirkan kerjaan dan anak-anak, pengabaian bertahun-tahun, tamparan semalam, dan betapa hatinya hancur. Sesekali tangisnya pecah lagi, sesekali ia tersenyum kecil saat mengingat pelukan anak-anaknya pagi tadi.
4691Please respect copyright.PENANATWwrVjnWgr
Kakek Imron mendengarkan dengan sabar, sesekali mengusap air mata Novi dengan ibu jarinya yang kasar. “Saya mengerti, Bu. Saya juga kesepian. Tapi melihat Ibu seperti ini… saya bahagia Ibu datang ke sini.”
4691Please respect copyright.PENANA1GpIe4SHLL
Di tengah tangis sedih, ada momen bahagia yang aneh. Pelukan Kakek Imron terasa hangat, berbeda dari pelukan Faisal yang dingin. Tangan kakek itu mengusap rambut Novi, turun ke punggung, lalu pinggang. Novi tidak menolak. Malah, ia semakin merapat.
4691Please respect copyright.PENANA5JtFpYEaYa
“Kenapa rasanya lebih nyaman di sini, Kek?” bisik Novi di sela isakannya. “Padahal kemarin kamu memaksa saya…”
Kakek Imron tersenyum tipis. “Karena saya benar-benar butuh Ibu. Dan Ibu juga butuh saya sekarang.”
4691Please respect copyright.PENANALKzfaYVcxG
Konflik batin Novi semakin kuat. Ia benci pada dirinya sendiri karena datang ke sini, tapi bahagia karena ada yang mendengarkan. Sedih karena rumah tangganya retak, tapi ada kelegaan di pelukan kakek tua ini. Tubuhnya yang masih sensitif dari kemarin mulai bereaksi lagi saat tangan Kakek Imron mengusap pinggulnya pelan.
Mereka berpelukan lama, sangat lama. Novi menangis hingga lelah, lalu tertidur sebentar di pangkuan Kakek Imron. Kakek itu hanya diam, menikmati aroma tubuh perempuan cantik yang kini mulai bergantung padanya.
4691Please respect copyright.PENANApIOfbD6qKq
4691Please respect copyright.PENANAqcUCkvgVzU
Saat Novi terbangun, wajahnya masih dekat dengan wajah Kakek Imron. Ada senyum kecil di bibirnya, campuran sedih dan bahagia. “Terima kasih, Kek… hari ini saya merasa tidak sendiri.”
Kakek Imron mencium kening Novi lembut. “Kapan pun Ibu butuh, datang saja ke sini.”
4691Please respect copyright.PENANAf6F800PntW
4691Please respect copyright.PENANAIDfddKJBn9
Chapter ini penuh dengan gejolak emosi Novi: kebencian pada suami, kasih sayang pada anak-anak, rasa bersalah, dan ketertarikan yang tumbuh pada Kakek Imron. Konflik batinnya digambarkan mendalam, di antara tangis dan pelukan hangat yang terlarang.
4691Please respect copyright.PENANAAZUhM3UpPv
4691Please respect copyright.PENANAlXKahos6Ul
Setelah mendengarkan semua curhatan Novi dengan sabar, Kakek Imron mengusap punggungnya lembut. “Masuk ke dalam dulu, Bu. Di sini terlalu terbuka. Biar Ibu cerita lebih tenang."
4691Please respect copyright.PENANA1rzQuuu7eo
Novi mengangguk pelan. Matanya masih sembab, tapi ada api aneh yang mulai menyala di dadanya. Ia mengikuti Kakek Imron masuk lebih dalam ke gubuk kecil yang pengap itu. Begitu pintu bambu tertutup, suasana langsung berubah.
4691Please respect copyright.PENANA1rYcyl7WxK
Tanpa kata-kata, Novi menarik kerah baju lusuh Kakek Imron dan mencium bibirnya dengan ganas. Ciuman itu penuh emosi campur aduk — marah pada suaminya, kesedihan yang mendalam, dan nafsu yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Lidahnya masuk ke mulut tua Kakek Imron, mencari, menjilat, mengisap dengan rakus.
4691Please respect copyright.PENANAEWo8MMN6Wa
Kakek Imron terkejut sesaat, tapi langsung membalas ciuman itu dengan liar. Tangan kasarnya meremas pinggul Novi dari luar gamis.
4691Please respect copyright.PENANAqN2RFktUiQ
Novi tidak berhenti di situ. Tanganannya turun cepat, membuka ikat pinggang Kakek Imron dengan gemetar karena nafsu. Celana lusuh itu diturunkan, dan kontol raksasa berukuran 25 cm langsung melompat keluar, sudah setengah mengeras dan berdenyut.
4691Please respect copyright.PENANApECheeO6kA
Tanpa ragu, Novi berlutut di lantai gubuk yang kotor. Ia memegang kontol tebal itu dengan dua tangan, memandanginya dengan mata berkaca-kaca. “Ini yang bikin aku lupa segalanya kemarin…” bisiknya, lalu langsung memasukkan kepala kontol itu ke mulutnya.
“Ughhh…” Kakek Imron mendesah kasar, tangannya memegang kepala Novi yang berjilbab.
4691Please respect copyright.PENANAxxFqY5lbYc
Novi melakukan blowjob dengan penuh semangat. Mulutnya yang hangat dan basah mengisap kuat, lidahnya menjilat urat-urat tebal itu dari bawah ke atas. Ia menelan sebanyak mungkin hingga kontol itu menyentuh tenggorokannya, tersedak, tapi tidak berhenti. Air liurnya menetes deras membasahi kontol dan bola-bola tua Kakek Imron.
“Ahh… enak sekali, Bu Guru… isap lebih dalam… ya, seperti itu!” erang Kakek Imron.
4691Please respect copyright.PENANAE3wG0KPxuv
Novi semakin liar. Kepalanya maju mundur cepat, tangannya memompa batang yang tidak muat masuk ke mulutnya. Suara gluck… gluck… gluck… memenuhi gubuk. Matanya menatap ke atas, penuh air mata campur nafsu.
Tak lama kemudian, tubuh Kakek Imron menegang. “Aku keluar… aaarrghh!!”
Cairan peju kental dan banyak menyembur deras ke dalam mulut Novi. Bagian yang tidak tertelan memuncrat ke wajahnya — pipi, hidung, dahi, bahkan jilbabnya terkena. Peju putih kental itu menetes dari dagunya, membuat wajah cantik Novi yang biasanya suci terlihat mesum.
4691Please respect copyright.PENANAkqBV31dkL3
Novi menelan sebagian, batuk pelan, tapi matanya semakin berkilat. Ia berdiri, melepas jilbabnya, lalu membuka gamis dinas guru SD-nya satu per satu. Gamis jatuh ke lantai, diikuti bra dan celana dalam. Kini Novi berdiri telanjang bulat di depan Kakek Imron. Payudaranya montok dengan puting cokelat muda yang mengeras, perut rata yang sudah melahirkan tiga anak, dan memeknya yang sudah basah mengkilap.
4691Please respect copyright.PENANAGtXLoHodON
Kakek Imron berapi-api. Matanya liar. “Sialan… tubuh guru suci ini ternyata kepengen kontol tua ya?!”
4691Please respect copyright.PENANA9uR9KMwANB
Ia menyerbu Novi seperti binatang. Novi didorong ke bale-bale, kakinya dibuka lebar. Kontol raksasa Kakek Imron langsung dihujamkan keras ke dalam memek Novi yang sudah licin.
4691Please respect copyright.PENANAGuIeK39yil
“AAAAHHH!!! Dalem banget, Kek!!! Kontol tua lo besar bangettt!!” jerit Novi kasar.
“Memek lo ketat banget, Bu Guru pelacur! Suami lo nggak bisa memuaskan lo ya?!” balas Kakek Imron sambil menggenjot ganas. Setiap hantaman dalam hingga ke rahim.
4691Please respect copyright.PENANAsG65bkfg0z
Plak! Plak! Plak! Plak!
Suara benturan daging keras memenuhi gubuk. Novi mendesah liar, kakinya melingkar di pinggang Kakek Imron. “Iya… suami gue brengsek!! Dia lebih pilih kerja daripada ngentot gue!! Terus… terus genjot memek gue yang suci ini, Kek!!”
Kakek Imron semakin kasar. Ia meremas payudara Novi kuat sambil menghunjam. “Lo istri orang, tapi sekarang jadi pelacur kakek! Bilang… lo siapa?!”
4691Please respect copyright.PENANAPzfsXGMsDZ
“Aku… ahh… pelacur kakek Imron!!! Entot aku lebih keras!! Isi rahim gue dengan peju lo yang kental!!” balas Novi dengan suara mesum, matanya mendongak karena kenikmatan.
4691Please respect copyright.PENANA1iSY1Zmxfi
Mereka berganti posisi berkali-kali. Doggy style dengan Novi menjerit-jerit, cowgirl di mana Novi menggoyang pinggulnya liar sambil memaki, hingga standing fuck di mana Kakek Imron mengangkat satu kaki Novi dan menghunjam dari samping.
Orgasme Novi datang berkali-kali.
4691Please respect copyright.PENANAvRloylkbnn
Tubuhnya kejang, memeknya menyemprot cairan, tapi Kakek Imron terus menggenjot tanpa ampun.
“Aku cinta lo, Kek… meski ini salah… entot aku terus!!” erang Novi di tengah kenikmatan.
4691Please respect copyright.PENANAUdIVt3sXId
Chapter ini semakin membara dengan konflik batin Novi yang hancur karena suami, tapi menemukan pelepasan dan kebahagiaan terlarang di pelukan (dan kontol) Kakek Imron.
4691Please respect copyright.PENANAEooQX7UWMR
4691Please respect copyright.PENANANcFZq3hjxN
4691Please respect copyright.PENANASgiVoSXagQ
Kakek Imron tidak memberi Novi waktu untuk bernapas. Kontol raksasanya yang masih keras setelah facial cum tadi langsung menghunjam lagi ke dalam memek Novi yang sudah banjir cairan.
“Memek lo banjir banget, Bu Guru! Basahnya kayak pelacur murahan!” hardik Kakek Imron sambil menindih tubuh telanjang Novi di bale-bale reyot. Ia menggenjot dengan ritme brutal, kontol 25 cm-nya keluar masuk penuh hingga bola-bolanya menampar clit Novi setiap hantaman.
4691Please respect copyright.PENANA42LQ5XUn0l
“AAHHH!!! Keras banget, Kek!!! Kontol lo ngebor rahim gue!!! Lebih dalem!!! Hancurkan memek suci gue!!!” jerit Novi tanpa malu lagi. Kakinya terbuka lebar, tangannya mencakar punggung Kakek Imron yang keriput.
4691Please respect copyright.PENANA9PgAH0jCsI
Plak! Plak! Plak! Plak! Plak!
Suara benturan daging semakin keras dan cepat. Cairan memek Novi muncrat setiap kali kontol tebal itu ditarik keluar. Payudaranya bergoyang-goyang liar, putingnya digigit dan dihisap Kakek Imron hingga memerah.
4691Please respect copyright.PENANAq4QLgXIPrZ
Kakek Imron membalik tubuh Novi ke posisi doggy. Pinggul lebar Novi diangkat tinggi, wajahnya ditekan ke bale-bale. Ia menghunjam dari belakang seperti anjing kawin.
4691Please respect copyright.PENANAJEmA9poG7E
“Lo suka digenjot kakek tua ya? Bilang!!” bentaknya sambil menampar pantat Novi keras hingga memerah.
4691Please respect copyright.PENANANAq5AxZfvJ
“Iya!!! Aku suka!!! Kontol kakek lebih enak dari suami gue yang brengsek itu!!! Entot aku lebih keras, Kek!!! Isi perut gue!!!” Novi balas memaki sambil menggoyang pantatnya ke belakang, menyambut setiap hantaman.
4691Please respect copyright.PENANAx5VmwsJsZK
Kakek Imron menarik rambut Novi hingga kepalanya mendongak, lalu menggenjot semakin ganas. Memek Novi berkontraksi hebat, orgasme keduanya datang. Tubuhnya kejang-kejang, cairan squirt menyembur deras membasahi paha Kakek Imron.
4691Please respect copyright.PENANAv8YsVaxWHK
“Aaaahhhhh!!! Keluar lagi, Kek!!! Gue cum!!! Memek gue meledak!!!”
Tapi Kakek Imron belum puas. Ia duduk di bale-bale, menarik Novi ke pangkuannya (posisi cowgirl). Novi sendiri naik turun liar di atas kontol raksasa itu.
4691Please respect copyright.PENANA2L0YI4C392
Payudaranya bergoyang tepat di depan wajah Kakek Imron yang langsung menghisap dan meremasnya kasar.
“Naik turun lebih cepat, pelacur! Goyang memek lo yang ketat itu!!” perintah Kakek Imron.
4691Please respect copyright.PENANAZsP0vVNCdK
Novi patuh seperti budak sex. Pinggulnya naik turun cepat, memeknya melahap seluruh kontol hingga pangkal. “Enak… kontol lo gede banget… gue ketagihan… ahh… ahhh… fuck me harder, Kek!!!”
4691Please respect copyright.PENANAedKv5i4GvV
Mereka berganti lagi ke posisi spooning. Kakek Imron memeluk Novi dari belakang, satu tangan meremas payudara, tangan lain menggosok clitnya sambil kontolnya menghunjam pelan tapi dalam. Novi menoleh, mencium Kakek Imron dengan lidah saling bertautan mesra.
4691Please respect copyright.PENANAe9WEr0P3cA
“Gue benci suami gue… tapi gue suka kontol lo… terus entot gue sampai gue nggak bisa jalan…” desah Novi di sela ciuman.
Kakek Imron tersenyum licik. “Besok-besok lo datang lagi ya? Gue mau isi rahim lo setiap hari.”
Orgasme ketiga Novi datang lebih hebat. Ia menjerit panjang, tubuhnya mengejang hebat, memeknya menyedot kontol Kakek Imron kuat-kuat. Akhirnya Kakek Imron juga mencapai puncak.
4691Please respect copyright.PENANAWRcGra5FcQ
“Aarrghhh!!! Terima ini, Bu Guru!!!”
Peju kental panas menyembur deras ke dalam rahim Novi. Jet demi jet memenuhi perutnya hingga kelebihan dan menetes keluar dari memek yang masih terhubung dengan kontol tebal itu.
4691Please respect copyright.PENANAFNCYr97rrm
Mereka berdua tergeletak lemas, berkeringat, dan saling pelukan. Novi mencium dada Kakek Imron pelan, air matanya jatuh lagi — campuran bahagia, bersalah, dan ketagihan.
Enjoy the read guys 👍4691Please respect copyright.PENANA0vqDw8xd9Z


