4906Please respect copyright.PENANARFjROARExNDi ujung kompleks perumahan yang sama, tak jauh dari sekolah SD Novi, berdiri sebuah gubuk kecil dari papan bekas dan atap seng bocor. Di situlah Kakek Imron tinggal sendirian. Pria berusia 60 tahun itu bangun sebelum fajar, tepat pukul 03.50. Tulang-tulangnya terasa ngilu setiap kali bergerak. Lutut kirinya yang pernah patah karena jatuh dari becak tempo dulu masih sering kambuh saat cuaca dingin.
4906Please respect copyright.PENANAq7pGLI7JI1
4906Please respect copyright.PENANAQXLERM8JXW
Kakek Imron duduk di tepi bale-bale bambu reyot, menyalakan rokok kretek murahannya. Asap mengepul di udara pagi yang dingin. Ia mengucek mata yang sudah rabun, lalu mengambil sapu lidi besar yang gagangnya sudah licin karena bertahun-tahun dipakai. Sebelum berangkat, ia sholat Subuh di musholla kecil dekat gubuknya. Doanya panjang, penuh harap yang tak pernah terkabul.
“Ya Allah… berikan hamba kekuatan sedikit lagi. Anak-anak hamba di kampung sudah lupa, istri sudah lama pergi. Tinggal hamba sendiri membersihkan jalan orang lain,” gumamnya dengan suara serak.
4906Please respect copyright.PENANAgQQwUbL9ZM
4906Please respect copyright.PENANABiBiXnj9Eh
Kakek Imron berjalan tertatih menuju pangkalan sapu jalanan. Upahnya hanya Rp 35.000 per hari, kadang ditahan mandor kalau cuaca hujan. Ia mulai menyapu dari pukul 05.00, menyusuri trotoar dan pinggir jalan raya yang ramai. Debu dan sampah plastik beterbangan setiap kali sapuannya menyentuh aspal. Keringat bercampur debu membasahi baju oblong lusuhnya yang sudah pudar warnanya.
4906Please respect copyright.PENANAWL76cTfIpZ
4906Please respect copyright.PENANAmdILNS8pXU
Orang-orang lewat di depannya. Ada yang memberi hormat, ada yang tak peduli. Kakek Imron sering berhenti membantu ibu-ibu menyeberangkan anak kecil, atau mengangkat barang pedagang kaki lima yang jatuh. “Makasih, Kek,” kata mereka. Ia hanya tersenyum, giginya yang tinggal beberapa sudah kuning kecokelatan. Di balik senyuman itu, ada kepahitan yang dalam.
4906Please respect copyright.PENANAOsCj39sqpn
4906Please respect copyright.PENANAn0LZLTwY0N
Siang hari, saat matahari menyengat, ia berteduh di bawah pohon trembesi dekat sekolah SD Negeri 03. Ia makan nasi bungkus yang dibeli dari warung kecil dengan lauk tempe dan sambal. Tangan kasarnya yang penuh kapalan gemetar sedikit saat memegang sendok. Dulu ia punya istri dan tiga anak. Istri meninggal karena kanker serviks yang tak terobati karena biaya. Dua anak laki-lakinya pergi merantau ke Kalimantan dan tak pernah kirim kabar lagi. Anak perempuannya menikah dengan pria yang melarangnya bertemu ayahnya karena “hanya tukang sapu”.
4906Please respect copyright.PENANAzkDyGPmEt3
4906Please respect copyright.PENANA4UnSvsBGYg
“Pahlawan kecil kampung,” begitu panggilan orang-orang untuknya. Kakek Imron pernah menolong korban kecelakaan di jalan, menahan pencuri motor, bahkan mengumpulkan sumbangan untuk anak yatim di musholla. Tapi di balik itu, ia juga manipulatif. Ia pandai membaca orang. Kalau ada tetangga yang punya rezeki lebih, ia akan datang dengan cerita sedih yang dibuat-buat agar diberi uang lebih atau sisa makanan. “Hamba cuma minta sedikit, Nak. Untuk obat lutut,” katanya dengan mata berkaca-kaca. Banyak yang kasihan dan memberi.
4906Please respect copyright.PENANAQuzDIidXn1
4906Please respect copyright.PENANAt9MPchGI0k
Sore hari, saat anak-anak pulang sekolah, Kakek Imron menyapu lagi di sekitar kompleks. Ia melihat keluarga-keluarga bahagia lewat. Ada yang naik mobil, ada yang berjalan sambil tertawa. Dadanya terasa sesak. Dulu ia juga punya mimpi: ingin punya rumah permanen, melihat anak-anak sukses. Semua pupus. Kini ia hanya seorang kakek tua yang tubuhnya masih kuat meski usia sudah senja. Rahasianya yang tak diketahui orang: kontolnya yang luar biasa besar dan tebal (25 cm panjang, diameter 7 cm) masih berdiri gagah saat ia masturbasi sendirian di gubuk, mengingat masa mudanya yang penuh nafsu. Tapi tak ada perempuan yang sudi lagi dengan tubuh tua dan miskinnya.
4906Please respect copyright.PENANACwtHi9opTh
4906Please respect copyright.PENANAubWtEwGvrR
Malam semakin gelap. Kakek Imron pulang ke gubuknya pukul 19.30, tubuh lelah sekali. Ia mandi air dingin dari ember, lalu makan mie instan rebus dengan telur. Duduk di bale-bale, ia menatap langit yang gelap. Air mata mengalir pelan di pipinya yang keriput.
“Kenapa hamba masih dibiarkan hidup sendirian seperti ini, Tuhan? Hamba sudah membersihkan jalan orang, tapi jalan hidup hamba penuh sampah dan duri,” katanya sambil menangis tanpa suara.
4906Please respect copyright.PENANAPmCRjDIx97
4906Please respect copyright.PENANAzD4DSPPht5
Ia merebahkan tubuhnya yang sakit-sakitan di bale-bale tipis. Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Kakek Imron tertidur dengan mimpi buruk tentang masa lalu dan harapan yang tak kunjung datang. Besok ia akan bangun lagi, menyapu jalan, tersenyum kepada dunia, dan menyimpan kepahitan yang dalam di dada tuanya. Seorang pahlawan kecil yang terlupakan, manipulatif demi bertahan hidup, dan kesepian yang tak terobati.
4906Please respect copyright.PENANAgYrZtyN73l
Pagi itu terasa lebih berat dari biasanya bagi Novi Indriani. Jam weker berbunyi pukul 04.15, tapi ia sudah terjaga sejak setengah jam sebelumnya. Di sebelahnya, Faisal masih mendengkur pelan, tubuhnya terbaring miring menghadap dinding. Malam tadi suaminya pulang hampir pukul 22.00, langsung mandi, makan sebentar, lalu sibuk dengan laptop hingga larut. Tak ada pelukan, tak ada obrolan panjang, bahkan tak ada ciuman selamat malam yang dulu sering ia berikan.
4906Please respect copyright.PENANAgWclX4PKnN
Novi bangun perlahan, menarik jilbab tidurnya yang rapi. Ia berdiri di depan cermin kecil di kamar, memandang wajahnya sendiri. Usia 33 tahun, kulitnya masih putih bersih dan halus, bibirnya alami merah muda, dan tubuhnya tetap proporsional meski sudah melahirkan tiga anak. Payudaranya yang montok dan pinggulnya yang lebar masih terjaga berkat disiplin olahraga ringan di rumah. Tapi matanya hari ini terlihat lelah.
4906Please respect copyright.PENANAFkPe19tmZO
4906Please respect copyright.PENANA4JjObrtUQb
“Mas Faisal… kapan kamu punya waktu untuk aku?” gumamnya pelan di dalam hati. Faisal memang peduli pada anak-anak. Ia selalu ingat ulang tahun mereka, membelikan sepatu baru, dan menanyakan nilai rapor. Tapi untuk Novi? Hanya rutinitas singkat. “Sudah siap makanannya, Sayang?” atau “Hati-hati di sekolah.” Tak lebih dari itu. Kerja sebagai PNS di kantor kecamatan seolah menjadi segalanya. Rapat, proyek, laporan — semuanya lebih penting daripada istrinya yang setia menunggu di rumah.
Novi menghela napas panjang. Ia berwudhu, sholat Subuh dengan khusyuk, memohon kesabaran dan kebahagiaan. Setelah itu, ia ke dapur menyiapkan sarapan dan bekal. Nasi goreng spesial untuk Faisal dan anak-anak, plus bekal tambahan untuk suaminya.
4906Please respect copyright.PENANAWPdIx4e6xA
Tanganannya lincah, tapi hatinya mulai merasa jenuh. Sudah hampir setahun ini rasanya seperti ini. Malam-malamnya sering diisi dengan kesepian, meski ada anak-anak yang selalu manja padanya.
Aisyah bangun lebih dulu. “Bu, Bapak lagi tidur ya? Kemarin janji mau ajak main bola…”
“Iya, Nak. Bapak capek. Nanti Ibu yang temani ya,” jawab Novi sambil tersenyum, meski senyum itu tak sampai ke matanya.
Rafi dan Zidan ikut bangun. Suasana pagi tetap ramai dengan tawa anak-anak, tapi Novi merasa ada kekosongan. Faisal akhirnya bangun pukul 05.50, mandi cepat, lalu duduk makan sambil membuka ponsel. “Hari ini ada kunjungan dinas ke desa tetangga. Pulangnya mungkin malam lagi,” katanya tanpa melihat istrinya lama-lama.
4906Please respect copyright.PENANAIfpFnl0Zil
4906Please respect copyright.PENANAM4QhQIwKzR
Novi hanya mengangguk. “Iya, Mas. Hati-hati.”
4906Please respect copyright.PENANAA9EEF8Lha0
4906Please respect copyright.PENANA5JP1nj4K4H
Saat Faisal berangkat, ia hanya mencium kening anak-anak. Untuk Novi, hanya anggukan kepala dan “Jaga anak-anak ya.” Pintu rumah tertutup. Novi berdiri di teras beberapa saat, merasakan angin pagi yang sejuk tapi hatinya terasa dingin. “Aku ini istri atau pembantu rumah tangga?” pikirnya getir.
4906Please respect copyright.PENANA3wy0A5n5iv
Karena terlambat menyiapkan segalanya, Novi buru-buru mengganti pakaian. Gamis panjang warna abu muda yang sopan, jilbab segi empat rapi yang menutupi dada montoknya, dan tas selempang berisi buku pelajaran. Ia berjalan cepat menuju sekolah, rok gamisnya sedikit berkibar. Pikirannya masih tertinggal di rumah — pada suaminya yang semakin jauh.
4906Please respect copyright.PENANAeDv864YnRf
Di tikungan jalan dekat gerbang sekolah, ia hampir bertabrakan dengan seorang kakek tua yang sedang berjalan sambil membawa sapu lidi dan sebuah bungkusan bekal nasi kecil di tangan kirinya. Novi tersentak, langkahnya goyah. Bungkusan bekal Kakek Imron terjatuh ke tanah, nasi dan lauk tempenya berhamburan sedikit.
4906Please respect copyright.PENANAaVnXvbm0mL
“Astaghfirullah! Maaf, Kek! Maaf sekali!” seru Novi panik. Wajahnya memerah karena malu dan terburu-buru. Ia buru-buru jongkok, membantu memunguti nasi yang tumpah dengan tangan gemetar. “Saya terlambat ke sekolah, jadi buru-buru. Maafkan saya ya, Kek…”
Kakek Imron menatap perempuan cantik di depannya. Jilbab rapi, wajah teduh, dan aroma sabun mandi yang harum. Senyumnya yang biasa manipulatif muncul pelan, tapi kali ini ada kejutan tulus di matanya.
4906Please respect copyright.PENANAfFFIp73fYB
“Tidak apa-apa, Bu. Hati-hati saja jalannya. Ini Bu Guru SD ya? Saya sering lihat lewat sini,” jawab Kakek Imron dengan suara serak tapi ramah. Ia membantu membersihkan, tangan kasarnya menyentuh punggung tangan Novi sekilas. Sentuhan itu terasa kasar tapi hangat.
4906Please respect copyright.PENANApoteTMOJs1
Novi berdiri, merapikan jilbabnya. “Iya, Kek. Saya Novi, guru kelas 3. Sekali lagi maaf. Kalau bekalnya rusak, biar saya ganti nanti…”
Kakek Imron menggeleng. “Sudah bersih kok, Bu. Namanya juga kecelakaan kecil. Ibu buruan ke sekolah, anak-anak sudah nunggu.”
4906Please respect copyright.PENANA09U6qbgZph
4906Please respect copyright.PENANAHaQUfgIgUi
Novi tersenyum lega, meski masih merasa bersalah. “Terima kasih, Kek. Saya pamit dulu.” Ia berjalan cepat menuju gerbang sekolah, jantungnya masih berdegup kencang karena kejadian tadi.
Sepanjang pagi di sekolah, pikiran Novi sedikit terganggu. Upacara bendera berjalan seperti biasa, suaranya tetap lantang. Di kelas 3B, ia mengajar dengan semangat meski hati sedang gelisah. Pelajaran hari ini tentang “Menyayangi Lingkungan”. Ia ceritakan dengan detail, menggunakan cerita interaktif, memberikan pujian pada murid yang aktif.
“Bagus sekali, Putri! Kamu sudah mengerti konsep daur ulang,” katanya sambil mengusap kepala muridnya. Anak-anak tertawa riang saat ia membuat lelucon ringan. Jam istirahat, di ruang guru, ia bercerita sedikit tentang kecelakaan kecil tadi pagi.
4906Please respect copyright.PENANAsOReVppomh
Rekan-rekannya tertawa.
“Bu Novi baik hati sekali, sampai bantu pungut bekal kakek sapu,” kata Bu Siti.
Novi tersipu. “Ya wajar lah, Bu. Kasihan juga.”
Siang hari pelajaran berlanjut dengan Matematika. Novi menjelaskan penjumlahan dan pengurangan dengan sabar, berkeliling kelas, membimbing satu per satu. Tubuhnya yang lelah mulai terasa, keringat tipis membasahi punggung di balik gamis. Tapi ia tetap profesional. Saat jam pulang tiba, anak-anak memeluknya erat. “Besok lagi ya Bu Guru!”
Novi tersenyum lelah tapi bahagia. Ia membereskan meja, mengambil tas, lalu berjalan pulang. Pikirannya kembali ke Faisal — apakah hari ini ia pulang lebih awal?
Di tikungan yang sama pagi tadi, Kakek Imron sedang duduk istirahat di bawah pohon, sapunya bersandar di dinding. Ia melihat Novi lewat. Wajahnya yang lelah tapi tetap cantik membuatnya tersenyum dalam hati.
4906Please respect copyright.PENANAuNHIBtnMcJ
4906Please respect copyright.PENANAoWrTYeDQuu
“Bu Novi!” panggilnya ramah. “Pulang sekolah ya? Capek pasti.”
Novi berhenti, tersenyum. “Iya, Kek. Alhamdulillah hari ini tidak terlalu berat.”
Kakek Imron berdiri pelan, lututnya berderit. “Rumah saya dekat sini, Bu. Hanya gubuk kecil. Kalau Bu Novi tidak keberatan, mampir sebentar. Minum air dingin, istirahat sejenak. Saya ingin berterima kasih karena tadi pagi sudah membantu bekal saya. Lagian, saya punya cerita tentang anak-anak sekolah yang sering lewat sini.”
4906Please respect copyright.PENANAQpRG1FezDx
4906Please respect copyright.PENANAK1w3X5RUcs
Novi ragu sejenak. Ia memandang jam di tangan. Anak-anak belum pulang, Faisal pasti belum di rumah. Dan kakek ini tampaknya baik, meski miskin. Hatinya yang sedang jenuh merasa kasihan sekaligus ingin istirahat sebentar dari rutinitas.
“Kalau tidak merepotkan, saya mampir sebentar saja ya, Kek,” jawab Novi akhirnya.
Kakek Imron tersenyum lebar, matanya berbinar. “Tidak repot sama sekali, Bu. Mari, ikut saya.”
4906Please respect copyright.PENANAiVbGwVUwj4
Mereka berjalan bersama menyusuri gang kecil menuju gubuk Kakek Imron. Angin sore meniup jilbab Novi pelan. Entah mengapa, hatinya yang jenuh merasa ada hembusan angin baru yang aneh, sesuatu yang belum ia sadari sepenuhnya.
4906Please respect copyright.PENANAyvRV1QoWRp
Mohon di like y guys dan comment kalo ada perbaikan segera kasih tahu y


