Malam itu, di kamar paviliun yang menempel dengan bangunan utama, aku hanya bisa berbaring menatap langit-langit. Di luar, gerimis yang turun sejak sore belum juga reda, menambah gigil udara malam di desa dataran tinggi yang memang sudah berhawa sejuk ini. Malam Minggu tanpa gandengan, ditambah hujan rintik-rintik, membuatku Satria merasa sangat suntuk.
Kucoba memejamkan mata, membiarkan imajinasiku liar mencari hiburan. Dan entah kenapa, yang muncul di pelupuk mataku adalah seraut wajah cantik nan teduh yang selalu terbalut kerudung rapi. Mbak Sekar, ibu kosku.
Dalam khayalanku yang nakal, kubayangkan wanita matang itu tersenyum manis ke arahku, lalu perlahan menarik lepas kerudungnya, membiarkan rambut hitam legamnya jatuh tergerai. Ia membuka satu per satu kancing bajunya yang tertutup, memperlihatkan kulit kuning langsat yang mulus dan sepasang bukit kembar montok yang disangga kain merah muda. Keindahan itu semakin menantang saat penyangganya dilepaskan. Dua gunung kembar yang padat berisi, dengan puncak kemerahan yang menggantung indah.
Lalu, tangannya melorotkan kain panjang yang menutupi bagian bawahnya. Tinggallah secarik kain tipis penutup rona kewanitaannya. Bagaikan seorang penari profesional, secarik kain terakhir itu pun ia tanggalkan. Menampakkan sebuah lembah rahasia yang membusung, dihiasi kerimbunan halus yang kontras dengan kulit putihnya. Di hadapanku kini berdiri sesosok bidadari tanpa busana dengan lekuk tubuh yang sanggup meruntuhkan iman lelaki mana pun.
Gairahku langsung tersulut. Aku bangkit berdiri sambil membenarkan letak kain sarungku. Kejantananku mulai menegang di balik celana dalam. Untuk mengalihkan pikiran kotor ini, aku memutuskan keluar dari paviliun menuju dapur rumah utama untuk menyeduh kopi, lalu berniat menumpang nonton TV.
Baru sekitar tiga bulan aku menyewa paviliun di rumah keluarga Juragan Wira ini. Juragan Wira adalah pria paruh baya yang cukup terpandang di desa, bersuamikan Mbak Sekar, dan mereka memiliki seorang anak berusia tujuh tahun.
Ternyata ruang tengah rumah utama itu sepi. TV-nya mati. Mungkin Mbak Sekar sudah tertidur keloni anaknya, pikirku, mengingat Juragan Wira sedang pergi ke Jakarta untuk menemani ibunya yang sakit. Akhirnya aku duduk sendirian dan menyalakan TV. Sayangnya, hampir semua saluran buram dan bersemut. Hanya satu stasiun TV yang gambarnya lumayan, itu pun masih berbintik. Mungkin antenanya kena angin hujan, batinku.
Dengan setengah terpaksa, kunikmati saja sinetron layar kaca itu, meski biasanya aku sama sekali tak tertarik dengan tontonan semacam ini.
Tiba-tiba, suara derit engsel pintu kamar utama memecah keheningan.
Dari balik pintu, keluarlah wanita yang sedari tadi merajai fantasiku. Aku terkesiap melihat kehadirannya yang tiba-tiba.
"Eh, Mbak Sekar belum tidur? Keganggu suara TV ya, Mbak?" tanyaku tergagap.
"Ah, ndak apa-apa, Satria. Aku juga belum bisa tidur kok," jawabnya dengan logat Jawa yang lembut nan kental.
Yang membuatku benar-benar kaget dan nyaris menelan lidahku sendiri bukanlah kehadirannya, melainkan penampilannya yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari biasanya. Sehari-hari, Mbak Sekar selalu tampil sangat tertutup dan berkerudung rapat; hanya wajah ayunya yang terlihat. Penampilan anggun dan salehah itulah yang dulu membuatku segan namun sekaligus tertarik saat pertama kali menyewa tempat ini.
Wajahnya memang luar biasa cantik. Alisnya tebal alami, matanya bening, hidungnya bangir, dan bibirnya selalu merah merekah tanpa perlu banyak riasan. Posturnya yang tinggi semampai selalu tersembunyi di balik gamis longgar.
Namun malam ini, Mbak Sekar tampil tanpa kerudungnya!
Rambut yang tak pernah diumbar itu kini dibiarkan tergerai ikal sebahu. Pakaiannya pun membuat napasku tertahan; ia hanya mengenakan daster tidur selutut berbahan sutra tipis yang agak menerawang, dilapisi kimono tidur yang sengaja tidak dikancingkan. Di mataku, ia benar-benar terlihat seperti bidadari kesepian yang turun dari khayangan. Sangat mempesona.
"Gambar TV-nya jelek ya?" tanyanya lembut, membuyarkan lamunanku.
"Eh, iya, Mbak. Antenanya kali," jawabku sambil buru-buru menunduk, takut ketahuan menatapnya terlalu lama.
Jantungku berdebar tak karuan saat wanita itu melangkah mendekat dan duduk tepat di sebelahku untuk mengambil remote control. Aroma melati bercampur vanila menguar dari tubuhnya, membuat hidungku kembang-kempis. Ujung lutut dan sebagian paha putihnya menyembul nakal dari belahan dasternya. Aku menelan ludah susah payah.
"Semuanya jelek gambarnya," keluh Mbak Sekar sambil memencet remote. "Nonton VCD aja, mau?"
"Terserah Mbak aja," jawabku, masih gugup menghadapi situasi ganjil ini.
"Tapi adanya film dewasa... ndak apa-apa?" godanya sambil melempar senyum tipis yang sarat makna.
Aku paham betul maksudnya, tapi aku tak yakin wanita sesejuk dia memiliki koleksi semacam itu. "Ya, terserah Mbak Sekar aja," balasku parau.
Mbak Sekar bangkit dan masuk sebentar ke kamar pribadinya. Di ruang tengah, aku mencoba menenangkan diri. Kurapatkan kain sarungku untuk menutupi kejantananku yang sudah tak bisa diajak kompromi. Kuteguk kopi hitamku.
Tak lama, ia keluar membawa sebuah kantong plastik hitam.
"Mau nonton yang mana?" tanyanya sambil menyodorkan beberapa keping VCD bajakan, lalu kembali duduk merapat di sampingku.
Aku melirik sampul kepingan itu. Benar dugaanku, itu film-film panas. "Eh, ah... yang mana aja deh, Mbak," kataku mengembalikan kepingan itu, masih berusaha mengendalikan debar dada.
"Yang ini aja, ada alur ceritanya," putus Mbak Sekar sambil memasukkan salah satu keping ke dalam player di bawah TV.
Aku mencoba memancing, "Emang Mbak Sekar suka ya nonton yang beginian?"
"Ya kadang-kadang, Sat... kalau lagi suntuk aja," jawabnya diiringi tawa kecil yang renyah.
"Juragan Wira juga suka nonton?"
"Nggaklah! Bisa habis aku dimarahi kalau dia tahu," sahut Mbak Sekar sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
Selama ini, Mbak Sekar rupanya menonton film-film itu secara sembunyi-sembunyi dari suaminya yang terkenal sangat keras dan konservatif.
"Mas Wira itu orangnya kolot banget, Sat," lanjutnya tiba-tiba, suaranya merendah. "Dalam urusan ranjang juga kaku, ndak ada variasinya sama sekali. Bosan aku."
Aku tertegun. Pengakuan blak-blakan tentang urusan ranjang dari seorang ibu kos yang biasanya pendiam ini sungguh di luar dugaan. Otak lelakiku langsung menangkap sinyal merah; wanita ini sedang kesepian, bosan dengan rutinitas suaminya, dan ia jelas sedang mengincarku. Dalam hati, aku bersorak girang, meski ada sedikit rasa takut karena ini adalah istri orang orang yang dihormati di desa pula.
Film di TV mulai memutar adegan sepasang manusia yang sedang bercumbu mesra. Namun, fokusku sudah tak ada lagi di layar. Mataku tak lepas melirik ke arah wanita di sebelahku. Mbak Sekar duduk dengan satu kaki ditekuk naik ke atas sofa, membiarkan daster tipisnya tersingkap lebar, mengekspos paha mulusnya nyaris hingga ke pangkal.
Aku tak mau ragu lagi.
"Mbak Sekar... kesepian ya?" tanyaku memberanikan diri menatap matanya dalam-dalam.
Mbak Sekar membalas tatapanku. Matanya yang bening tampak berkabut oleh gairah. Ia mengangguk perlahan. "Kamu mau bantu aku, Sat?" tanyanya parau, tangannya bergerak menyentuh punggung tanganku.
"Terus... gimana sama Juragan?" tanyaku memastikan.
"Jangan sampai dia tahu." Mbak Sekar berbisik. "Semua bisa diatur," lanjutnya seraya menggeser duduknya, merapatkan tubuhnya sepenuhnya kepadaku.
Akal sehatku putus. Tanpa berpikir dua kali, aku merengkuh bahunya.
Badai Gairah yang Terpendam
Wajah kami saling berhadapan. Jarak yang tersisa hanya beberapa sentimeter. Kutatap bibirnya yang merah basah, seolah mengundang untuk dilahap. Tanpa aba-aba, aku mendaratkan pagutan di bibirnya yang merekah pasrah.
Seketika aku sadar, wanita ini benar-benar sangat haus akan sentuhan lelaki. Ciumanku dibalasnya dengan beringas dan penuh nafsu. Mbak Sekar justru mengambil alih kendali; tangannya meremas tengkukku, menekan kepalaku agar pagutan kami semakin dalam dan menuntut.
Aku mengimbangi keliarannya. Tanganku mulai merayap, meraba tubuh hangatnya. Kuusap paha putihnya yang sejak tadi menyiksa mataku, membelainya pelan dari lutut hingga terus menyusup naik ke balik dasternya. Tubuh Mbak Sekar bergetar hebat saat ujung jemariku menyentuh area sensitif di balik celana dalamnya.
Rupanya ia sudah tak tahan lagi. Dengan gerakan sigap tanpa sisa rasa malu, ia sendirilah yang menarik turun celana dalamnya, membuangnya ke sembarang arah. Kini, lembah rahasianya terbuka polos, menanti untuk ditelusuri.
Jariku kembali meraba pusat kehangatannya. Kuraba kerimbunan halus yang tertata di sana. Mbak Sekar mengerang pelan saat jariku mulai menyentuh kelopak surganya yang sudah sangat basah.
Ini adalah sentuhan pemanasan pertama yang pernah ia rasakan dalam hidupnya. Juragan Wira tak pernah sudi melakukan foreplay semacam ini. Bagi suaminya, menyentuh apalagi mengecup area itu adalah hal yang tabu dan kotor. Bersenggama bagi suaminya hanyalah rutinitas biologis sepihak—begitu tegang, langsung dimasukkan tanpa memedulikan apakah sang istri sudah siap atau belum, yang sering kali hanya menyisakan rasa perih bagi Mbak Sekar.
Selama delapan tahun pernikahan, Mbak Sekar tak lebih dari sekadar pelayan ranjang. Sebagai wanita normal yang ternyata memiliki libido tinggi, ia hanya bisa menekan hasrat liarnya dengan menonton VCD bajakan dan berfantasi. Ia pernah sempat terjerumus dalam kemesraan sesama jenis dengan sahabat perempuannya, Asri, hanya karena takut berselingkuh dengan laki-laki. Namun, hubungan itu tak pernah benar-benar memuaskan fitrahnya.
Kini, saat jemari seorang pemuda memanjakannya dengan penuh puja, gairahnya meledak tak tertahankan.
"Ahhh... terus, Sat... terus..." desahnya membara.
Mulut kami terlepas sejenak. Aku menyusuri leher jenjangnya dengan kecupan-kecupan basah, lalu perlahan merosot turun. Kulepaskan rengkuhanku, aku turun dari sofa, dan bersimpuh di atas karpet tepat di antara kedua pahanya yang mengangkang lebar.
Mbak Sekar menunduk menatapku dengan napas memburu. Ia melebarkan kakinya, memamerkan keindahan terdalamnya tepat di depan wajahku.
Aku menelan ludah. Tanpa buang waktu, kujulurkan lidahku dan mulai menyapu kelembapan di sana.
"Ahhh...!" Mbak Sekar memekik tertahan. Pinggulnya tersentak saat ujung lidahku menemukan titik sensitifnya.
Desahannya semakin tak terkendali saat aku memberikan jilatan-jilatan maut. Ia blingsatan, menghentakkan pinggulnya ke wajahku, menuntut lebih. Sambil terus memanjakannya di bawah, tanganku naik merobek kancing dasternya, menyingkap kain itu dan membebaskan kedua bukit kembarnya dari kungkungan. Wanita yang sehari-hari dikenal paling alim di desa ini, kini duduk tanpa sehelai benang pun, menggeliat liar menikmati sentuhan dari penyewa paviliunnya.
Gairah Mbak Sekar memuncak sangat cepat. Bertahun-tahun gairah itu dibendung, kini bendungan itu jebol. Ia menarik kepalaku dengan kasar agar lebih merapat ke pusatnya.
"Ahhhduh... AaaaHhhh...! Ahhh!!" jeritnya tertahan, tubuhnya mengejang kaku. Itulah orgasme pertamanya yang ia dapatkan dari cumbuan seorang lelaki.
Ia bersandar lemas di sofa, napasnya terengah-engah. Aku bangkit berdiri, menggunakan kaus oblongku untuk menyeka wajah, lalu melucuti seluruh pakaianku.
Kini, aku berdiri polos di hadapannya dengan kejantanan yang sudah menegang sempurna. Mbak Sekar membuka matanya. Tatapannya langsung terkunci pada pusakaku. Matanya membulat takjub ini pertama kalinya ia melihat milik pria lain secara utuh, dan ukurannya jauh melampaui milik suaminya.
"Kenapa senyum-senyum?" tanyanya dengan sisa napas.
"Aku cuma kagum... memandangi tubuh indah sempurna yang selama ini selalu ditutup rapat," balasku jujur. Lekuk tubuhnya memang mahakarya yang luar biasa indah.
Mbak Sekar menarik tanganku. Ia kembali duduk di sofa dan tanpa ragu menggenggam pusakaku. Ia menatap benda itu dengan binar kelaparan. Perlahan, ia menjulurkan lidahnya, mengecap ujungnya, mencoba mempraktikkan apa yang selama ini hanya bisa ia lihat di layar TV.
Lalu, ia membuka mulutnya dan melahapku dalam-dalam.
Aku memejamkan mata, mendesis nikmat. Kuluman bibirnya mungkin canggung, tapi antusiasme dan keliarannya menutupi segalanya. Ia bahkan memberikan sedikit tekanan nakal dengan giginya, membuatku nyaris lepas kendali.
"Ah, Mbak... aku udah mau keluar nih," desisku memberi peringatan, mencoba menarik pinggulku mundur.
Namun, Mbak Sekar yang sepertinya sangat penasaran dengan sensasi klimaks lelaki justru menahan pinggulku dan mempercepat hisapannya. Tak ayal, pertahananku runtuh. Aku mengerang panjang, menumpahkan seluruh lahar panasku langsung ke dalam mulut ibu kosku ini.
Alih-alih menghindar, ia menelan semuanya dengan rakus hingga tetes terakhir, persis seperti bintang porno yang sedang kelaparan.
"Gimana rasanya, Mbak?" tanyaku takjub.
"Enak... gurih," jawabnya tanpa rasa jijik sedikit pun, mengusap sudut bibirnya.
Setelah beristirahat sejenak, Mbak Sekar memintaku masuk ke kamar tamu yang lebih luas dan memiliki kasur pegas yang empuk. Di sanalah pertarungan sesungguhnya dimulai.
Ia mendorong tubuhku ke ranjang, lalu menyusul menindihku. Kami saling membalas serangan. Kuhisap putingnya yang menegang keras, membuat ia kembali merintih liar. Lalu, aku memosisikan tubuhku.
"Ooohhh! Sat... masukin sekarang..." tuntutnya tak sabar.
Aku mengatur posisi. Perlahan namun pasti, kuhunjamkan pusakaku ke dalam rahimnya. Terasa sangat sempit dan hangat.
"Akh! Enak, Sat..." desahnya parau, tangannya mencengkeram sprei kuat-kuat.
Aku mulai mengayunkan pinggul, mengatur ritme dari pelan menjadi beringas. Mbak Sekar mengimbangi setiap hentakanku dengan liar. Semakin dalam aku menusuk, semakin keras jeritan nikmatnya tertahan di bantal.
"Ayo Sat... genjot terusss!"
Hentakan demi hentakan membuat kewarasannya menguap. Tak lama, ia kembali merasakan sensasi listrik merambat di sekujur tubuhnya.
"Ahk...! Aduh akhh!" teriaknya saat dinding rahimnya berkedut gila mencengkeram kejantananku.
Menyadari ia berada di puncak, aku mempercepat seranganku. Kuangkat kedua kakinya dan kusandarkan di pundakku, membuat posisinya semakin terbuka dan membiarkanku menembus hingga ke batas terdalam.
"Ahhh..." erangku berat. Untuk kedua kalinya malam itu, aku menumpahkan benihku di dalam kehangatan tubuhnya, bersamaan dengan Mbak Sekar yang kembali mengejang dalam orgasme lanjutannya.
Kami ambruk bersama, saling berdekapan dalam peluh yang membanjiri kasur. Napas kami memburu, menyatu memecah kesunyian malam yang dingin.
"Makasih ya, Sat... makasih banyak," bisiknya berulang kali di telingaku, seolah ia baru saja diselamatkan dari belenggu siksaan panjang.
Namun, kejutan belum berakhir. Belum genap lima belas menit kami berpelukan, kurasakan tangan lembutnya kembali merayap ke bawah, meremas dan mencoba membangkitkan senjataku lagi. Wanita ini rupanya memiliki stamina monster yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya!
Catatan Malam: Malam itu menjadi malam yang tak akan pernah kulupakan. Kami melewati pergantian waktu dengan lautan keringat, desahan, dan posisi yang terus berganti hingga langit ufuk timur memudar terang.
Aku baru terbangun ketika sinar matahari pukul sepuluh pagi menyengat wajahku. Tubuhku memang lelah, tapi anehnya sangat segar. Aku ingat, di sela-sela pergumulan gila kami yang tak kurang dari lima ronde semalaman Mbak Sekar selalu menyempatkan diri ke dapur untuk membuatkanku ramuan jamu tradisional penambah stamina. Ramuan itulah yang membuatku sanggup mengimbangi rasa haus ibu kosku yang tak ada habisnya.
Sambil berbaring menatap langit-langit, aku tersenyum sendiri. Sosok lembut dan salehah di mata warga desa itu... ternyata menyimpan badai gairah paling ganas yang pernah kucicipi di atas ranjang.
ns216.73.216.208da2


