Kejadian ini terjadi pada saat liburan akhir tahun kemarin. Aku, istriku, serta anak kami mudik ke kampung halamanku di sebuah desa asri di daerah Banyumas untuk merayakan malam pergantian tahun bersama keluarga besar.
Perkenalkan, namaku Haris, usiaku 32 tahun. Aku bekerja di sebuah perusahaan distributor hasil bumi di ibu kota. Istriku, Laras, berusia 30 tahun, adalah seorang customer service di salah satu bank swasta ternama. Tiga tahun lalu, aku menikahinya setelah jatuh cinta pada pandangan pertama saat mengurus rekening di bank tempatnya bekerja. Dari pernikahan ini, kami dikaruniai seorang putri cantik bernama Ayu yang kini berusia dua tahun.
Biasanya, kami selalu mudik menggunakan mobil pribadi. Namun, nasib berkata lain; mobil kami mengalami kerusakan mesin yang cukup parah. Mengingat saat itu masih dalam suasana libur panjang, banyak montir bengkel langgananku yang sudah lebih dulu pulang kampung. Alhasil, mobil kami diprediksi baru selesai diperbaiki dua minggu kemudian.
Dengan berat hati, aku dan Laras memutuskan untuk mudik menggunakan angkutan umum alias bus travel. Ini adalah pengalaman pertama kami. Kami sama sekali buta soal cara memesan tiket yang nyaman, apalagi di tengah lonjakan penumpang akhir tahun.
Di tengah kebingungan itu, aku berinisiatif meminta bantuan pada teman kantorku, Anton. Anton adalah sahabat karibku sejak masa interview kerja dulu. Kami kebetulan berasal dari kabupaten yang sama di Banyumas, hanya berbeda kecamatan. Ia memiliki postur tubuh yang jangkung, tegap, dan atletis—tipe pria yang diam-diam sering menjadi idola para karyawati di kantor.
Singkat cerita, Anton bersedia mencarikan tiket travel untuk kami. Keesokan harinya, saat jam istirahat, ia menemuiku.
"Ris, tiketnya udah aku urus nih, tapi sebelumnya aku minta maaf ya," kata Anton membuka percakapan.
"Wah, minta maaf kenapa, Ton? Kamu kan udah repot-repot bantu aku nyari tiket, aku malah makasih banget sama kamu," balasku heran.
Lalu Anton menjelaskan, "Aku udah nyoba nyari bus yang kelas eksekutif, tapi yang tersisa cuma travel minibus, Ris."
"Wah, nggak apa-apa, Ton. Yang penting kendaraannya layak jalan dan nyampe tujuan aja," jawabku.
"Masalahnya ini travel minibus tipe Elf gitu lho, Ris. Kamu tahu kan?"
"Oh... yang bentuknya kayak mobil van panjang itu, ya?"
"Nah, iya. Bentar lagi kan momen libur panjang, tiket bus gede udah ludes dipesen orang dari jauh-jauh hari."
Dengan sedikit menghela napas, aku memaklumi. "Ya udahlah, Ton, yang penting kita sampai Banyumas dengan selamat."
"Iya, tenang aja. Oh iya, aku juga kebetulan dapet tiket di travel dan jadwal yang sama kayak kamu. Kayaknya tahun ini aku mudik bareng keluarga kecilmu nih," kekeh Anton.
"Wah, kebetulan banget! Bagus deh, seenggaknya ada kamu yang lebih paham seluk-beluk naik travel," kataku lega. Jujur, aku sangat terbantu dengan kehadirannya.
Kekacauan di Pangkalan Travel
Hari keberangkatan pun tiba. Kami memilih berangkat H-2 agar bisa menikmati suasana malam pergantian tahun di desa. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang saat kami tiba di pangkalan travel yang ternyata sudah dipadati calon penumpang.
Matahari bersinar sangat terik. Aku hanya mengenakan kaus oblong dan celana jin pendek selutut, sementara Laras mengenakan kaus ketat berwarna putih yang dibalut sweater rajut hitam, dipadukan dengan rok span sebatas lutut.
Sebenarnya, aku sempat protes soal pakaiannya. Kaus putih yang ia kenakan memiliki potongan leher yang cukup rendah. Jika ia sedikit saja membungkuk, belahan dadanya pasti akan terekspos. Walaupun sudah berumur 30 tahun dan memiliki anak, postur tubuh Laras masih sangat terjaga. Pinggangnya ramping, bokongnya padat, dan ia dianugerahi bukit kembar yang penuh berukuran 36B yang tampak membusung kencang walau tanpa penyangga kawat. Kulit kuning langsatnya yang mulus sering kali membuat pria-pria di jalanan mencuri pandang.
Aku sempat menegurnya karena Anton akan ikut bersama kami, tetapi Laras beralasan cuaca hari ini sangat gerah. Akhirnya, aku mengalah.
Tak lama, Anton datang menyusul dengan tas ransel besar menggantung di punggungnya.
Anton: "Hai, Ris!" 164Please respect copyright.PENANALA1OeVXdNl
Haris: "Hai, Ton! Sini kumpul." 164Please respect copyright.PENANA5f4k3gPhlS
Anton: (Menyalami Laras) "Halo Mbak Laras, aduh makin cantik aja nih ibu satu ini." 164Please respect copyright.PENANAqe0ggxsT3J
Laras: "Ah, bisa aja kamu, Ton. Kamu juga kelihatannya makin kekar aja badannya."
Mendengar pujian berbalas itu, ada desir cemburu di dadaku. Dulu, sebelum aku menikahi Laras, aku sempat memergoki mereka makan berdua di restoran sebuah hotel. Meski mereka beralasan pertemuan itu tidak sengaja, Anton pernah secara gentleman mengakui padaku bahwa Laras adalah tipe wanita idamannya. Namun, aku berusaha menepis pikiran negatif. Toh, aku bangga memiliki istri yang daya tariknya diakui oleh sahabatku sendiri.
Namun, setibanya di loket administrasi, masalah besar terjadi. Nama kami tidak terdaftar di manifes keberangkatan!
Anton: "Saya mau ketemu sama MANAJER KALIAN!" 164Please respect copyright.PENANA0kcwEKKoHW
Travel: "Iya, Pak. Saya sendiri manajer di sini." 164Please respect copyright.PENANAeDrzoTfdjb
Haris: "Pak, ini gimana ceritanya kok nama kami sekeluarga nggak ada di daftar penumpang bus?" 164Please respect copyright.PENANAxQP1F7Ar2K
Travel: "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak. Ini murni kesalahan miss-communication dari sistem kami karena lonjakan penumpang." 164Please respect copyright.PENANAkn610DoZmf
Anton: "Terus solusinya apa? Kita udah bayar lho! Lihat tuh, bus yang lain udah pada berangkat semua!" 164Please respect copyright.PENANAZlWnOILlEg
Travel: "Sekali lagi maaf, Pak. Sebagai kompensasi, uang tiket Bapak akan kami refund seratus persen." 164Please respect copyright.PENANAkHH1YOjxVc
Haris: "Ini bukan masalah uang dikembaliin, Pak! Kami ini mau mudik! Kalau begini ceritanya, rencana liburan kami hancur berantakan!" ketusku.164Please respect copyright.PENANA0sOq3rMYc4
Travel: "Begini saja, Pak. Dua puluh menit lagi ada armada Elf terakhir yang jalan ke Banyumas. Tapi... armada itu sebenarnya dipakai untuk bawa paketan barang logistik. Kalau Bapak dan Ibu bersedia, kalian bisa ikut armada itu." 164Please respect copyright.PENANAsLlBeZudeY
Anton: "Gimana, Ris? Lo mau naik bus yang isinya tumpukan paketan?" 164Please respect copyright.PENANAfwxJrcWiCS
Haris: "Aduh... gimana nih, Sayang?" 164Please respect copyright.PENANAs3htGBXr5C
Laras: "Ya udah, mau gimana lagi. Daripada kita batal pulang kampung. Lagian udah nggak ada tiket lain kan?" 164Please respect copyright.PENANAObdx1QQp8v
Haris: "Huft... Ya sudahlah, Pak. Kami ikut yang itu."
Dua puluh menit kemudian, mobil Elf yang dijanjikan tiba. Betapa terkejutnya kami saat pintu digeser. Bagian belakang mobil itu dipenuhi tumpukan kardus barang. Ruang yang tersisa hanyalah dua bangku depan (termasuk sopir) dan deretan bangku tengah. Itu pun di kolong kursinya masih dijejali barang-barang paketan.
Haris: "Bapak nggak salah? Kami disuruh dempet-dempetan sama barang-barang sebanyak ini?!" 164Please respect copyright.PENANAsjdR3V7CJn
Travel: "Mohon maaf, Pak. Hanya armada ini yang tersisa. Kalau Bapak merasa kurang nyaman, terpaksa Bapak baru bisa berangkat lusa."164Please respect copyright.PENANA6qgf1DRnGh
Laras: "Udah, Mas... sabar. Kita nikmatin aja perjalanannya." 164Please respect copyright.PENANACP3IY0PKiF
Anton: "Iya, Ris. Daripada gagal mudik, mending kita sikat aja." 164Please respect copyright.PENANA01CjylTySS
Haris: "Ya udah, tapi aku duduk di depan ya di sebelah sopir! Aku ogah sempit-sempitan di belakang."
Akhirnya kami masuk. Aku duduk manis di depan bersama Pak Sopir. Laras dan Anton duduk di bangku tengah bagian kanan, karena bangku sebelah kirinya dipenuhi tumpukan kardus logistik setinggi bahu. Otomatis, Laras dan Anton duduk saling berhimpitan tajam.
Anton yang berbadan besar memakan banyak ruang, membuat Laras terlihat sangat tersiksa di sudut, ditambah ia harus memangku Ayu. Merasa kasihan melihat istriku kepanasan dan terjepit, aku langsung mengambil alih anak kami.
Haris: "Udah Sayang, sini Ayu sama aku aja di depan." 164Please respect copyright.PENANA7KXqzZF1WL
Laras: "Nggak apa-apa nih? Mas Haris nggak sempit di situ?"164Please respect copyright.PENANACaqqSiZRuP
Haris: "Nggak kok, di sini lumayan lega." 164Please respect copyright.PENANAiqHukvROVZ
Anton: "Sini, Ris, biar aku aja yang mangku Ayu." 164Please respect copyright.PENANAFhUsygqq37
Haris: "Udah nggak usah, kasihan kamunya makin sempit nanti. Biar sama aku aja."
Tawaran Memangku
Mobil Elf pun melaju membelah jalur Pantura. Sepanjang jalan, Anton yang pandai mencairkan suasana terus melempar candaan hingga Pak Sopir pun ikut tertawa. Di sela-sela candaannya, sayup-sayup kudengar Anton melontarkan tawaran yang membuat telingaku panas.
Anton: "Mbak Laras, kalau kesempitan, sini duduk di pangkauan saya aja biar kakinya lebih leluasa."
Aku hampir menoleh untuk menegur, tapi jawaban Laras justru di luar dugaan.
Laras: "Ah, nggak usah, Mas Anton. Aku ini lumayan berat lho, nanti kamu pegal lagi mangku sampai Banyumas." 164Please respect copyright.PENANA4NounerYh2
Anton: "Yeee, belum dicoba udah pesimis. Mau taruhan? Kalau saya nggak kuat mangku lebih dari satu jam, saya traktir makan Mbak Laras sampai puas. Tapi kalau saya kuat bertahan... Mbak Laras harus duduk terus di pangkuan saya sampai Banyumas. Berani?" 164Please respect copyright.PENANAtMQs1X5mAL
Laras: "Wah, nantangin nih? Siap-siap kalah aja ya!" 164Please respect copyright.PENANASm45ZLfbq3
Anton: "Oke! Tapi aku izin dulu sama Haris, takut dikira kurang ajar sama istri temen." 164Please respect copyright.PENANArsISmuWErD
Laras: (Mencondongkan badan ke depan) "Mas, aku boleh nggak duduk di pangkuannya Anton? Pantat sama pahaku udah kebas banget nih kejepit barang, mana perjalanan masih panjang."
Aku terdiam sejenak. Aku menatap istriku yang memang tampak kesakitan karena rok span-nya tak memberinya ruang gerak di tengah impitan kardus dan paha besar Anton.
Haris: "Hmm... ya udah deh. Tapi awas lho, Ton, lo macem-macem di belakang!" 164Please respect copyright.PENANAiz6esLKORx
Anton: "Aman, Bos!"
Laras: "Oke, aku pindah ya..."
Laras pun bangkit sedikit dan memosisikan kedua bongkahan bokongnya tepat di atas paha Anton. Kedua tangannya bertumpu di lututnya sendiri untuk menjaga keseimbangan. Dari kaca spion tengah, aku terus mengawasi. Tangan Anton tampak sopan bersandar di sandaran bangku. Masih aman, pikirku lega.
Tiga puluh menit berlalu. Kulihat posisi mereka berubah. Laras melepaskan sweater hitamnya karena gerah, lalu membungkuk sedikit ke depan, berpegangan pada sandaran kursiku. Sementara tangan Anton kini turun ke sisi pinggang Laras, namun belum benar-benar menyentuhnya.
Dalam posisi membungkuk, kaus putih ketat Laras otomatis tertarik naik, mengekspos sebagian punggungnya. Garis tali bra yang tercetak jelas di balik kain tipis itu membuat napasku sendiri agak sesak. Aku bisa melihat raut wajah Anton dari spion; ia tampak salah tingkah dan menelan ludah berulang kali. Lelaki normal mana yang tidak meremang melihat pemandangan intim seperti itu tepat di atas pahanya?
Satu jam lebih terlewati. Laras kembali duduk tegak, tangan bertumpu di lututnya lagi.
Anton: "Nah, udah lewat satu jam nih, Mbak. Saya belum ngeluh atau minta udahan, kan?" 164Please respect copyright.PENANA13p5NShoq2
Laras: "Iya, iya, kamu yang menang. Ya udah, aku stay duduk di sini ya, soalnya emang lebih enak dan empuk daripada duduk di ujung kejepit kardus."
Aku terperanjat. Istriku yang biasanya sangat menjaga jarak dengan pria lain, ternyata lebih suka duduk di atas paha temanku.
Laras: "Mas Anton, aku nyenderan di dada kamu boleh nggak? Pegal juga kalau duduk tegak terus begini." 164Please respect copyright.PENANAi4iqgvvZ9w
Anton: "Wah, silakan, Mbak. Saya mah welcome aja, yang penting Mbak Laras puas." 164Please respect copyright.PENANAsVlKz4tcqL
Laras: "Puas gimana kalau belum nyoba?" 164Please respect copyright.PENANAdOq8bM644J
Anton: "Nyoba apa nih maksudnya, Mbak?" pancing Anton dengan senyum tertahan. 164Please respect copyright.PENANAmIvXw7HbV3
Laras: "Ya... nyoba nyender maksudnya. Hihihi."
Hatiku terbakar cemburu mendengar godaan ambigu mereka. Namun, ada sensasi aneh yang menelusup. Alih-alih melabrak, aku justru diam-diam menikmati debar jantungku membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tiba-tiba Pak Sopir menyela pikiranku. 164Please respect copyright.PENANAe7oy3A5OH7
Sopir: "Bapak, mohon izin. Boleh saya dengarkan musik pakai headset? Biasa, Pak, buat ngilangin kantuk dan jaga fokus karena ini udah mulai malam." 164Please respect copyright.PENANA3q1v0jcgfr
Haris: "Oh, silakan Pak. Asal nggak mengganggu konsentrasi nyetir." 164Please respect copyright.PENANAeNey25Upyh
Sopir: "Aman, Pak. Silakan kalau Bapak mau nyalakan radio mobil juga. Perkiraan sih sekitar 3-4 jam lagi nyampe, kalau nggak macet."
Pak Sopir pun memasang headset-nya. Aku menyalakan radio mobil dengan volume sedang. Begitu aku memutar pandangan ke belakang, aku terbelalak. Tangan Anton kini melingkar sempurna memeluk pinggang istriku! Laras pun tampak menaikkan posisinya lebih nyaman di pangkuan pria itu, bergoyang seirama dengan guncangan jalanan Pantura yang tidak rata. Mata Laras terpejam syahdu.
Haris: "Ngantuk, Sayang?" 164Please respect copyright.PENANAR4fFQJKHsK
Laras: "Iya nih, Mas. Posisinya nyamaaan banget, jadi gampang ngantuk." 164Please respect copyright.PENANAz8HJXHi1w6
Anton: "Tidur aja, Mbak. Badannya Mbak Laras juga empuk banget, saya jadi ikutan ngantuk." 164Please respect copyright.PENANAeEJIuYTRxI
Laras: "Apanya yang empuk?" 164Please respect copyright.PENANAc1lBqV2FgJ
Anton: "Ininya lho, Mbak..." jawab Anton sambil berani meremas pelan sisi bokong Laras. 164Please respect copyright.PENANAKnNzbORMhb
Laras: "Awas ya, nanti ada yang keras." 164Please respect copyright.PENANAwvuHefWnbF
Anton: "Apanya yang keras, Mbak?" 164Please respect copyright.PENANAMlVyKfKSxN
Laras: "Dengkulnya... hihihi."
Gila! Anton sudah berani menyentuh bokong istriku, dan Laras meresponsnya dengan godaan nakal. Aku memalingkan wajah ke depan. Marah? Tentu. Tapi hasrat lelakiku justru mendidih, membayangkan keliaran istriku yang baru kali ini kulihat dengan mata kepalaku sendiri.
Misteri di Balik Kaca Berembun
Malam semakin larut. Hujan turun cukup deras, membuat suhu kabin Elf yang ber-AC menjadi sangat dingin. Ayu sudah tertidur lelap di pangkuanku. Aku mencoba melirik kaca spion, tetapi embun di kaca dan minimnya cahaya membuatku kesulitan memantau kursi tengah.
Beruntung, lampu merah di sebuah persimpangan memberi sedikit pencahayaan dari deretan lampu jalanan. Aku melirik spion lagi.
Kepala Laras tampak menyandar damai di bahu Anton, matanya terpejam. Tapi tunggu... di mana kedua tangan Anton? Mataku memicing. Sial, tangan Anton menghilang tertelan bayangan di balik rok span Laras! Apakah ia sedang menelusupkan jemarinya ke wilayah terlarang istriku?
Tepat saat aku sedang menahan napas menajamkan penglihatan, mobil mendadak berbelok masuk ke sebuah SPBU.
Sopir: "Bapak, saya izin ke toilet sebentar ya, sekalian isi solar yang udah mau habis." 164Please respect copyright.PENANAIBS1N8XkNq
Haris: "Silakan, Pak."
Laras mendadak membuka mata. 164Please respect copyright.PENANA6JLq5U58mc
Laras: "Hoaaahmm... udah di mana ini, Mas?"
Kulihat tangan Anton sudah kembali bersidekap di dadanya sendiri. Pria itu pura-pura tertidur. Aku memutuskan untuk memancing reaksi istriku.
Haris: "Aku mau numpang ke toilet, kamu mau ikut turun nggak?" 164Please respect copyright.PENANAXYanQH0dF2
Laras: "Nggak usah deh, Mas. Nanggung, ribet nanti kalau geser-geser, kasihan Anton takut kebangun." 164Please respect copyright.PENANA2ig6QMdECm
Haris: "Ya udah, tolong pegangin Ayu sebentar ya."
Aku keluar dari mobil, tapi dengan sengaja tak menutup pintu depan rapat-rapat. Kutinggalkan mereka selama lima menit di kamar mandi. Sepanjang di toilet, jantungku bergemuruh. Mereka di dalam mobil hanya berdua di kegelapan!
Bergegas aku kembali. Aku berjalan mengendap-endap mendekati celah pintu depan. Telingaku menangkap suara kecupan basah dan lenguhan lirih yang sangat kukenali. Darahku berdesir. Apakah mereka sedang berciuman?!
Aku bergeser mencoba mencari celah pandang dari kaca samping, tetapi tumpukan kardus menghalangiku seutuhnya. "Sialan!" rutukku dalam hati.
"Ayo, Pak! Kita lanjut jalan," suara Pak Sopir mengejutkanku dari belakang. Aku segera melompat masuk ke kursi depan.
Kini aku memangku kembali Ayu yang masih terlelap. Pak Sopir memakai headset-nya lagi, dan Elf kembali melaju. Aku pura-pura merapikan dudukku sambil menoleh ke belakang.
Laras sedang membungkukkan badan, merapikan duduknya. Namun ada yang aneh. Karena kausnya ketat, biasanya payudaranya tampak sangat membusung kencang. Tapi kali ini, bentuknya tampak membaur, membebaskan diri, bergoyang seirama dengan gerakannya. Laras tak lagi memakai bra! Keringat halus juga membias di dahinya, padahal AC mobil menyala maksimal. Sial, aku melewatkan adegan puncak!
Anton: "Mbak Laras pegal nggak, mau kembali duduk di kursi aja?"164Please respect copyright.PENANAavCZBrRdy9
Laras: "Nggak kok, Mas. Nyaman di sini, cuma emang rada pegal dikit gara-gara tadi posisinya 'kegeser' mulu."
Obrolan mereka membuat nyaliku menciut namun nafsuku memuncak. Jika ia tak memakai bra, ke mana perginya pakaian dalam itu? Mataku menyisir bagian belakang dengan saksama. Di kolong tumpukan kardus samping kursi mereka, ujung kain renda hitam mengintip keluar. Itu bra milik Laras yang tampaknya disembunyikan buru-buru saat aku kembali dari toilet!
Siluet Pengkhianatan
Kelelahan membuatku sempat terlelap. Entah berapa jam aku tertidur. Suara desahan berirama tiba-tiba menyusup ke telingaku, mengalahkan suara radio yang sengaja kusetel pelan.
Jalanan mulai tersendat karena kemacetan libur raya. Kaca spion kembali menjadi jendelaku. Sebuah mobil dari arah berlawanan tak sengaja menyorotkan lampu high-beam, memberikan efek siluet yang sempurna ke kabin belakang.
Astaga... Kulihat dengan jelas kedua tangan Anton menyusup masuk ke balik kaus putih istriku. Laki-laki itu sedang meremas rakus kedua bukit kembar Laras yang tanpa penghalang, menarik kausnya hingga memperlihatkan perut putih mulus istriku. Anton membenamkan wajahnya, menciumi ceruk leher Laras sementara Laras menggigit bibir bawahnya, menahan erangan yang siap meledak.
Aku menunggu momen lampu terang berikutnya. Dan saat itu terjadi, mataku nyaris melompat dari kelopaknya.
Laras sedikit mengangkat panggulnya. Di bawah sana, aku melihat siluet pusaka Anton yang mencuat kokoh. Laki-laki itu sedang menggesekkan kejantanannya langsung ke belahan surgawi Laras! Laras memakai G-String, dan aku bisa melihat tali tipis itu tertarik ke sana kemari seiring gesekan brutal yang dilakukan Anton.
Hatiku remuk redam, namun egoku sebagai lelaki justru terbakar birahi yang tak masuk akal. Istriku yang lembut dan setia... ternyata begitu liar menikmati sentuhan laki-laki lain di belakang suaminya sendiri. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tertidur dalam kehancuran dan gairah yang menyiksa.
Laras: "Mas... Mas Haris, bangun. Kita udah sampai nih. Wak Karso udah nungguin di luar."
Aku tergeragap. Mobil sudah terparkir. Aku memindahkan koper dan tas ke mobil Wak Karso. Kami mengantar Anton terlebih dahulu ke rumahnya yang berada di desa sebelah. Selama di mobil Wak Karso, Laras tertidur menyandar di bahuku.
Kesempatan ini kugunakan untuk memastikan semuanya. Kuperhatikan dada Laras dari celah kausnya; putingnya tercetak jelas dan kulit dadanya memerah penuh bekas kecupan. Tangan kananku pelan-pelan menyusup ke sela pahanya dan meraba celana dalamnya. Basah kuyup dan sangat lengket. Bau amis yang khas menyengat indra penciumanku. Ini bukan sekadar cairannya... ini sari benih laki-laki!
Pengakuan Liar di Malam Natal
Setibanya di rumah orang tuaku, Anton telah berpamitan, menyisakan senyum penuh arti padaku.
Orang tuaku menyuruh kami segera istirahat. Di kamar kami, Laras masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Pikiranku berkecamuk. Tak lama, Laras keluar hanya dengan lilitan handuk sebatas dada. Tak tahan lagi, aku langsung menerkamnya dari belakang.
"Ihh, Mas Haris kenapa sih, lagi horny ya?" goda Laras tersipu.
Tanpa sepatah kata pun, aku langsung melucuti handuknya, meraup payudaranya dengan kasar, dan memasukkan jariku ke pusat gairahnya yang masih terasa hangat.
"Ahhhhh... ssshhhh... pelan-pelan, Mas..." rintihnya.
Aku tak peduli. Segera kubuka celanaku, kuangkat tubuhnya ke atas kasur, dan langsung menancapkan pusakaku sekuat tenaga.
"Ahhh... pelan, Mas!"
Kemarahanku menjelma menjadi nafsu binatang. Aku menghunjam rahimnya dengan beringas, membalas perbuatan yang baru saja ia nikmati dari sahabatku. Laras meresponsnya dengan tak kalah liar. "Teruuus, Mas... ohhhh... mamah juga mau keluaaarr... ayo dikit lagi!"
"Ahhhhh!" Kami berteriak tertahan melepaskan segala ketegangan. Cairanku meledak memenuhi rahimnya. Dengan dada yang naik-turun memburu oksigen, kami berbaring berpelukan.
Laras: "Mas... aku mau jujur satu hal, tapi kamu janji jangan marah ya?" 164Please respect copyright.PENANAqN5lANgoz3
Haris: "Jujur soal apa?" 164Please respect copyright.PENANABcegW22q8v
Laras: "Janji dulu..." 164Please respect copyright.PENANAuTrbNC6c4z
Haris: "Iya, janji. Ada apa sih?" 164Please respect copyright.PENANArbUFTVztbg
Laras: "Sebenernya... tadi waktu di travel, aku sama Anton hampir lakuin..." 164Please respect copyright.PENANAzcvc553ZZk
Haris: "Lakuin apa?!" 164Please respect copyright.PENANAjTv0u4NXBX
Laras: "Eee... lakuin... seks, Mas."
Ruangan menjadi hening. Aku menatapnya tajam.
Laras: "Mas marah ya? Maafin aku, Mas. Itu bener-bener di luar kendali. Kondisinya dingin, aku ngantuk, dan Anton manfaatin kesempatan itu." 164Please respect copyright.PENANACUnldozKKI
Haris: "Terus, kamu diapain aja sama dia?" 164Please respect copyright.PENANAQ5Rmfd7PM2
Laras: "Mas beneran mau tau? Janji nggak cemburu buta?" 164Please respect copyright.PENANAmZ5XYWCOy1
Haris: "Iya janji, cepet ceritain!" 164Please respect copyright.PENANA3048AqUnaL
Laras: "Jadi gini... pas awal aku pindah pangkuan, aku niatnya murni cuma ngehindar dari kardus yang sempit itu. Nah, pas kamu sama Pak Sopir kelihatan tidur pulas, aku ngerasa tangan Anton mulai raba-raba pinggang sampai naik ke dadaku. Awalnya aku kira dia nggak sengaja karena jalannya goyang, tapi lama-lama dia malah keenakan ngeremas. Sumpah Mas, remasannya itu pelan tapi bikin aku langsung basah..." 164Please respect copyright.PENANAK2lzQCGLzb
Haris: "Terus?" 164Please respect copyright.PENANAaifxOw4bL8
Laras: "Habis itu dia makin berani raba pantat dan paha. Aku mau nolak, tapi badanku malah lemes keenakan. Akhirnya dia berhasil masukin jarinya ke dalam... iniku. Aku takut ketahuan kamu dan sopir, ditambah ada anak kita di depan, jadi aku tahan desahanku mati-matian."164Please respect copyright.PENANAeUWf8qOQUV
Haris: "Kamu biarin aja gitu?!" 164Please respect copyright.PENANAkjA6VxfVST
Laras: "Ya gimana, Mas, aku udah kepalang tanggung terangsang parah. Aku hampir aja mau memuncak, eh tiba-tiba sopir belok ke pom bensin! Sumpah, itu rasanya jengkel banget. Kayak udah di ujung jurang tapi ditarik mundur." 164Please respect copyright.PENANARpBahunywq
Haris: "Terus, pas aku sama sopir keluar ke toilet, kalian ngapain?" 164Please respect copyright.PENANAf33X6BGQg2
Laras: "Ya... Anton lanjutin lagi. Dia ngocok aku cepet banget sampai aku akhirnya meledak, Mas. Orgasmenya hebat banget sampai banjir ke paha. Kalau kamu raba jok travel tadi, pasti masih basah." 164Please respect copyright.PENANAGCrEGCqyu8
Haris: "Terus?" 164Please respect copyright.PENANAEQqWvBYYlB
Laras: "Habis aku lemes, Anton minta service balik. Dia ngajak masukin, tapi aku nolak. Terus dia minta pakai mulut, aku juga jijik, aku bilang itu hak prerogatif suami. Akhirnya, aku kasih service pakai dadaku aja biar dia diam." 164Please respect copyright.PENANAqA5vbRb7O4
Haris: "Beneran?!" 164Please respect copyright.PENANAgtLJQLLfbO
Laras: "Iya, aku lepas bra-ku, terus dia ngeluarin senjatanya. Gila Mas, punyanya gede banget kayak jantung pisang! Pas aku lagi jepit punyanya di payudaraku, ternyata dia susah keluarnya. Dia malah maksa minta digesek ke bawah. Karena takut kamu keburu balik dari toilet, aku iyain aja." 164Please respect copyright.PENANA2SzmFCeOm7
Haris: "Kamu digesekin tanpa celana?!" 164Please respect copyright.PENANAfEqNd5KUvw
Laras: "Nggak, aku masih pakai CD-ku yang G-string nilon itu. Karena licin, jadi enak buat ngegesek. Tapi gara-gara gesekan panas itu, aku malah keenakan dan orgasme lagi untuk yang kedua kalinya. Lemas banget badanku..." 164Please respect copyright.PENANAN65wPXz0L1
Haris: "Nah, terus... yang bikin dia sampai berani gesek tanpa kain pas perjalanan itu gimana?"
Laras menarik napas panjang, menatap mataku dengan ragu.
Laras: "Ini aku berani sumpah, kejadian selanjutnya murni kecelakaan, Mas. Waktu aku lagi ngegesekin punyanya Anton ke bibir vaginaku di dalam kegelapan... tiba-tiba kamu sama sopir buka pintu mobil dengan kencang sehabis dari toilet!" 164Please respect copyright.PENANARujQBA5YG2
Haris: "Terus?" 164Please respect copyright.PENANA2GQOQTZhMc
Laras: "Aku kaget luar biasa. Badanku loncat reflek, pinggulku turun... dan jlebb! Pusakanya Anton nggak sengaja nembus dan masuk sepenuhnya ke rahimku, Mas!" 164Please respect copyright.PENANAQ5glY5ROZM
Haris: "Jadi pas aku lihat kalian benerin posisi duduk, itu posisinya udah masuk?! Kok kamu diem aja?!" 164Please respect copyright.PENANABBGztLyYsE
Laras: "Aku panik, Mas! Sakit dan mulas karena masuknya tiba-tiba. Kalau aku cabut saat itu juga, badanku pasti goyang hebat dan kamu pasti curiga ngelihat aku ngangkang. Apalagi ada Pak Sopir. Demi nutupin aib, aku terpaksa jepit barangnya di dalam vaginaku sambil pura-pura benerin sweater." 164Please respect copyright.PENANAqf8lXaj1QR
Haris: "Gila! Terus kamu diam aja di sisa perjalanan dengan barang cowok lain nancep di dalam situ?!" 164Please respect copyright.PENANAg8F1GXEFxr
Laras: "Awalnya aku mau pelan-pelan angkat panggul. Eh, waktu kamu ketiduran lagi, mobil kita ngelewatin jalan berlubang berturut-turut. Guncangan travel itu bikin punyanya Anton nyodok-nyodok rahimku sampai aku nggak tahan... aku orgasme yang ketiga kalinya, Mas. Sambil nancep!"
Aku ternganga. Ternyata desahan yang kudengar dari balik suara radio itu adalah suara orgasmenya.
Laras: "Masih marah, Mas? Maafin aku ya..." rengeknya memeluk dadaku. "Tapi tenang, Mas, dia nggak keluar di dalam kok. Pas aku orgasme ketiga, aku mohon-mohon suruh dia cabut. Akhirnya dia mau cabut dengan syarat aku harus bantuin dia sampai tuntas pakai tanganku. Aku lilitin barangnya pakai tali G-string-ku ditarik-ulur biar kesat. Lima belas menit dia baru meledak... banyak banget sampai nembak ke perut dan paha. Gara-gara ngerasain lahar panasnya nyemprot gitu, aku malah jadi ikutan orgasme yang keempat kalinya..."
Aku hanya bisa terdiam membisu, mencerna seluruh rentetan kejadian gila itu. Malam Natal ini menjadi saksi bisu, bagaimana istriku yang kukira lugu, menyimpan keliaran luar biasa yang secara aneh... justru membuatku semakin mendambakannya.
ns216.73.216.208da2


