Aku seorang pria lajang berusia 28 tahun, namaku Danu. Sehari-hari, aku bekerja sebagai pengawas lahan di sebuah perusahaan agrowisata dan perkebunan teh di desa kami. Orang-orang mengenalku sebagai sosok yang supel dan mudah bergaul. Di lingkungan kerja, aku lumayan sering mendapat curi-curi pandang dari para pekerja wanita maupun anak-anak gadis desa. Maklum, badanku cukup atletis karena sering terjun ke lapangan tinggi 171 cm dengan berat 69 kg. Sebagai pria lajang, mencari teman sekadar untuk makan malam atau kencan akhir pekan bukanlah hal yang sulit bagiku.
Namun, dari sekian banyak wanita, ada satu orang yang benar-benar mengunci perhatianku di tempat kerja. Namanya Ranti.
Ranti adalah staf pemasaran hasil bumi di perusahaan kami. Sifatnya luwes, tutur katanya manis, dan sangat nyambung bila diajak bertukar pikiran. Dulu, kami pernah ditempatkan di divisi yang sama. Awal tahun lalu, Ranti melepas masa lajangnya, dipersunting oleh Mas Rekso, teman masa kuliahnya dulu. Walaupun sudah bersuami, Ranti tidak berubah; ia tetap mempesona dan anggun.
Meski postur tubuhnya bukanlah tipe peragawati yang tinggi langsing, Ranti memiliki daya pikat magis yang sulit dijelaskan. Kulitnya kuning langsat bersih khas udara pegunungan, bukit kembarnya berukuran pas (sekitar 35B), betisnya padat menggoda saat ia mengenakan rok selutut, dan senyumnya selalu berhasil meruntuhkan kewibawaan pria manapun. Tak heran ia selalu menjadi pusat perhatian.
Kedekatanku dengan Ranti berawal sejak kami bekerja di ruangan yang sama tiga tahun lalu. Namun, sejak ia dipindah tugaskan ke kantor cabang pemasaran (berbeda bangunan, meski masih satu area perkebunan) dan menikah, kami jadi jarang bertatap muka. Paling-paling kami hanya bertukar kabar melalui telepon atau pesan singkat. Obrolan kami sering mengalir dari urusan pekerjaan kantor, hingga kadang menjurus ke hal-hal yang sangat pribadi.
Ranti sering mengeluh soal beban pikirannya. Ada satu kecemasan yang akhir-akhir ini terus menghantuinya hingga terbawa ke ranjang keluarganya. Rasa cemas Ranti memang beralasan; sampai awal tahun ini, belum ada tanda-tanda rahimnya berisi.
Setiap kali ada kerabat keluarga atau tetangga desa yang nyinyir menanyakan soal momongan, gundah di hatinya semakin menjadi. Segala ikhtiar, mulai dari ramuan herbal desa hingga konsultasi ke dokter spesialis di kota kabupaten sudah dilakukannya bersama sang suami, tetapi hasilnya tetap nihil. Rasa bersalah mulai menggerogoti batin Ranti.
Sebagai teman dekat, aku sering memberinya dukungan moral agar ia lebih ikhlas menerima keadaan. Bila Ranti sedang dirundung murung, aku selalu punya cara untuk mengalihkan pikirannya. Aku selalu bisa membuatnya tertawa lepas. Pernah suatu hari, Ranti tertawa sampai berlutut di lantai teras kantor sambil memegangi perutnya yang kram dan mengusap air mata gara-gara candaanku!
Panggilan Telepon di Tengah Malam
Suatu malam sekitar minggu kedua di bulan Februari yang sering didera hujan telepon genggamku berdering. Nama Ranti tertera di layar. Saat itu aku baru saja merebahkan diri sehabis seharian berkeliling kebun.
"Halo, Ranti... Tumben malam-malam begini telepon. Lagi di mana?" sapaku hangat.
"Di rumah, Nu. Lagi bengong, lapar, dan capek banget rasanya. Seharian tadi aku ada rapat di dinas pertanian kabupaten dari siang," jawab Ranti, suaranya terdengar manja. "Kamu sendiri masih di kantor?"
"Nggaklah, ini baru saja rebahan di kasur. Lho, di rumah bengong ngapain? Emangnya di dapur nggak ada beras sampai kelaparan begitu?" candaku.
Di seberang sana, tawa renyah Ranti pecah. "Hehehe... Kamu ini bener-bener ya! Aku capek kerja, Nu! Terus belum sempat makan dari pulang kantor tadi!"
"Ooo, gitu. Aku kira kamu capek karena jalan kaki dari kabupaten sampai ke rumah!" godaku lagi.
"Eee, enak aja! Nanti kalau betisku gede sebelah gimana?"
"Lha kan tadi aku bilangnya jalan kaki, bukan ngangkat kaki sebelah terus loncat-loncat. Kenapa betisnya bisa gede sebelah coba?"
Ranti tak bisa membalas, ia hanya tertawa lepas mendengar logikaku yang asal-asalan.
"Sudah, kamu istirahat dulu, Ran. Jangan lupa makan, terus mandi pakai air hangat biar wangi. Seharian kerja kan capek, nanti kalau kamu tiba-tiba 'dikerjain' sama suamimu gimana? Padahal kamunya lagi capek-capeknya," ucapku seenaknya sambil meneguk air putih.
"Kalau urusan yang itu sih beda, Nu... aku enjoy aja. Lagian, biarpun aku belum mandi, suamiku juga tetap nempel terus kok. Tapi kebetulan sekarang Mas Rekso lagi nggak ada. Dia lagi tugas ke luar pulau, ke Kalimantan," jelas Ranti.
"Ke Kalimantan? Wah, enak bener. Hari gini kelayapan ke sana sendirian, kok kamu nggak diajak? Ngapain ke sana, mau beli orang utan?" tanyaku asal.
"Ih, kamu ini dodol amat sih! Ya urusan proyek kantornya lah!" sergah Ranti gemas. Aku hanya bisa cekikikan.
"Terus, balik lagi ke pertanyaanku tadi. Tumben malam-malam telepon, baru kali ini kan?" selidikku.
"Iya, aku cuma mau ngobrol aja sama kamu. Habisnya di rumah sepi... nggak ada yang bisa diajak ngomong," keluhnya.
Ranti kemudian menceritakan detail hasil pertemuannya di dinas tadi siang. Seperti biasa, ia meminta sudut pandangku. Tak terasa, kami asyik mengobrol hingga satu setengah jam. Saat kami berniat menyudahi obrolan untuk dilanjutkan besok siang, tiba-tiba nada bicara Ranti berubah ragu.
"Eh, Nu... aku mau tanya sedikit dong, boleh nggak? Tapi kalau kamu nggak mau jawab, nggak apa-apa..."
"Apa tuh?" tanyaku penasaran.
"Maaf ya, Nu. Kalau aku boleh tahu... hmmm... kamu udah pernah ML belum?"
Aku sedikit tersentak. Walaupun obrolan kami sering menyentuh hal pribadi, Ranti tak pernah menembus batas sedalam ini.
"Ngg, pernah... Emangnya kenapa, Ran?"
"Nggak, cuma nanya aja. Kamu pertama kali kapan? Pasti sama pacarmu ya?" selidiknya.
"Aku pertama kali waktu lulus SMA, sama teman sepermainan, bukan pacar. Kalau kamu sendiri kapan?" aku membalikkan keadaan.
Tanpa basa-basi Ranti menjawab, "Aku sih waktu zaman kuliah dulu. Itu juga pas selesai ngerjain tugas akhir, sama Mas Rekso. Rasanya gimana, Nu, waktu pertama kali dulu?"
"Lhaah, kamu sendiri waktu pertama kali rasanya gimana?"
"Awalnya sih kaget, sakit dikit. Tapi... enak juga. Hehehe. Habis waktu itu Mas Rekso buru-buru amat. Maklum, kami mainnya takut ketahuan orang..." bisiknya lirih.
"Emang kamu main di mana? Di pos ronda?"
"Hahaha, sembarangan! Aku lakuin di ruang tamu rumah kosku sendiri! Waktu itu lagi nggak ada orang, ibu kos juga lagi pergi ke pasar..."
"Wah, ternyata waktu aku main ke rumahmu kemarin, aku nggak nyangka lagi duduk di sofa yang pernah dipakai buat medan tempur kalian," timpalku disambut tawa lepasnya.
Pembicaraan makin memanas. Kami saling bertukar pengalaman masa lalu, sampai merembet membahas posisi yang paling disukai dan yang paling dibenci di atas ranjang. Kami bahkan sampai pada pengakuan jujur bahwa kami masih sering melakukan masturbasi apabila hasrat sedang memuncak namun tak bisa tersalurkan.
"Wah, Nu... kalau kamu habis main sendiri begitu, jangan dibuang sembarangan dong benihnya. Kasihan kan anak-anakmu pada teriak-teriak kedinginan. Mending kamu bungkus terus kirim ke aku aja, kali-kali bermanfaat buat rahimku," celetuk Ranti setengah bercanda.
"Emang kamu mau benihku? Bawanya gimana coba? Dibungkus daun pisang kayak bawa lemper? Mending langsung aku tuang langsung ke pabriknya. Praktis, hangat, dan nyaman. Hehehe," balasku berani.
"Huuu, ngarep! Kamu yang nyaman, akunya yang nggak aman! Nggak, aku cuma butuh benihmu aja!" sergah Ranti. "Udah ah, aku mau mandi dulu terus tidur. Besok kita masih harus kerja," tutupnya mengakhiri telepon.
Tuntutan Gila Sang Kembang Desa
Keesokan harinya adalah hari Jumat. Walaupun mataku masih sedikit mengantuk, aku bekerja dengan penuh semangat karena membayangkan libur akhir pekan. Siang harinya, sesuai janji, aku dan Ranti keluar mencari makan siang. Ranti menyetir mobilnya, dan kami menuju sebuah rumah makan lesehan Sunda yang cukup terkenal di pinggiran kota.
Sepanjang jalan dan saat makan, obrolan kami murni soal pekerjaan dan kelakar biasa. Tak ada satupun yang mengungkit obrolan panas semalam.
Namun, saat perjalanan pulang kembali ke kantor, suasana di dalam kabin mobil berubah hening. Aku hanya bersandar santai sambil mendengarkan alunan musik slow R&B dari tape mobil, sementara Ranti fokus menyetir. Namun, dari sudut mataku, aku sadar Ranti berkali-kali mencuri pandang ke arahku.
"Kenapa sih, kok dari tadi ngelirik aku terus?" tembakku tiba-tiba.
"Ge-er banget sih! Aku cuma liatin spion, bukan liatin kamu. Jalanan lagi padat, aku bingung mau ambil jalur mana," elaknya.
"Weleh, muka menghadap depan, kok biji matanya miring ke arahku? Emangnya tampangku kayak kenek angkot, ya?" kelakarku yang membuatnya tertawa kecil.
Hening sejenak. Ranti menarik napas panjang sebelum berucap.
"Nu... soal semalam... kamu beneran mau kirimin ke aku?"
"Kirimin apanya sih?"
"Itu tuh... obrolan kita semalam..." Ranti menggigit bibir bawahnya.
Aku langsung menoleh penuh, memandangnya tak percaya. "Soal masturbasi? Ooo, yang itu. Emangnya kenapa, Ran? Kamu beneran pengen benihku?"
"Sebenernya bukan itu maksud utamanya, Nu. Aku cuma kepengen banget punya anak. Aku udah putus asa, aku bingung harus gimana lagi..." matanya mulai berkaca-kaca menatap lurus ke jalan.
"Mungkin memang belum rezekimu sama suamimu, Ran. Kamu jangan gampang nyerah gitu dong. Suatu saat nanti kalau Gusti Allah sudah kasih waktu yang pas, pasti dapat kok. Sabar aja ya," kataku mencoba menenangkan.
"Jadi maksudnya, kamu nggak mau ngasih kesempatan ke aku, Nu? Maaf ya... bukannya aku udah kehilangan akal sehat. Aku cuma mau tes aja, apakah rahimku memang bermasalah atau dari pihak suamiku. Aku tahu kamu orangnya bisa dipercaya. Apapun yang terjadi nanti, aku yakin pandanganmu ke aku nggak bakal berubah. Kita bakal tetap jadi teman. Makanya, aku cuma percaya sama kamu."
Tuntutannya membuat otakku berputar keras. "Wah, Ran... kalau nanti hamil beneran gimana? Seram aja kalau sampai ketahuan suamimu. Aku kan jadi nggak enak sama keluargamu."
"Biarin aja! Hitung-hitung sebagai pembuktian kalau aku ini wanita normal yang bisa hamil!" tegasnya gigih.
Gila juga jalan pikiran Ranti, batinku. Kami memang dekat, tapi hanya sebatas sahabat. Jika kami melewati batas itu, aku takut salah satu dari kami akan baper. Jujur saja, aku sama sekali tak menafikan insting lelakiku; sejak lama aku memendam hasrat ingin menelusuri lekuk tubuhnya yang mempesona itu. Tapi aku tak mau merusak pertemanan kami hanya demi nafsu sesaat.
Namun, setelah kupikir-pikir... tawaran ini sepertinya terlalu berharga untuk dilewatkan. Toh, pada akhirnya impian lamaku bisa terwujud tanpa ikatan.
"Gimana, Nu? Bisa nggak?" tanya Ranti membuyarkan lamunanku.
"Bisa... Ya pasti aku bisa aja dong! Wong enak kok main perang-perangan," jawabku sambil menyeringai nakal.
"Heh, enak aja! Kata siapa kita bakal ML? Aku kan cuma minta benihmu aja! Bukan berarti kita berhubungan seks! Aku minta kita bersikap obyektif ya, ingat aku ini istri orang. Jadi kita nggak nge-seks!" protesnya sengit.
"Terus gimana caranya dong? Emang kamu mau minum benihku? Yang ada nanti kamu cuma kenyang, bukannya bunting!" balasku bingung.
"Hush, jorok ah omonganmu! Gimana kalau... kamu keluarinnya di luar, nanti aku tampung, terus aku sendiri yang masukin ke dalam. Pokoknya gitu!"
"Waah, ribet amat proyeknya! Tapi ya sudahlah, oke, kita coba aja besok," aku menyanggupi. Dalam kepalaku, aku sudah menyusun strategi. Paling tidak, aku akan memanfaatkan momen itu untuk melihat langsung tubuh kembang desa yang selama ini menjadi misteri bagiku.
Kami pun sepakat untuk bertemu esok hari, hari Sabtu, di sebuah bungalo peristirahatan yang cukup tersembunyi di lereng telaga—lokasi yang aman dan searah jarum jam dari tempat tinggal kami.
Eksekusi di Lereng Telaga
Hari Sabtu pun tiba. Pagi-pagi sekali aku sudah merapikan diri dan meluncur menuju lokasi. Begitu sampai di penginapan bersuasana alam itu, aku langsung check-in dan memberikan nomor kamarku pada Ranti via pesan singkat.
Tiga jam berlalu. Aku mondar-mandir menunggunya sambil menonton acara musik di televisi tabung kamar. Tepat pukul dua belas siang, terdengar ketukan halus nan ragu dari balik pintu kayu jati kamarku.
Dengan jantung berdegup kencang, aku memutar gagang pintu. Ranti!
Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia langsung menyusup masuk melewatinya, meninggalkanku yang masih melongo memegang kenop pintu. Hari itu, Ranti berpakaian sangat menantang; ia mengenakan blus tanpa lengan berwarna hitam dengan kerah yang cukup rendah, dilapisi blazer cokelat tua, dan dipadukan dengan rok kulot cokelat selutut.
Begitu masuk, ia langsung meloloskan blazer-nya, membiarkan blus hitam ketat itu mencetak jelas lekuk tubuh dan memamerkan kulit lengan hingga lehernya yang putih mulus. Ia duduk kaku di tepi ranjang, matanya tertuju lurus pada layar televisi yang menyala.
"Kenapa sih kamu, bengong gitu ngeliatin aku?" tegurnya menyadari tatapanku.
"Nggak, cuma heran aja. Dateng-dateng nyelonong masuk, buka jaket, terus duduk nonton TV tanpa nyapa tuan rumah," sindirku.
"Siapa juga yang mau nonton? Sori ya aku nggak nyapa dulu. Terus terang... aku bingung. Jantungku dari tadi deg-degan parah nih," jujurnya sambil meremas kedua tangannya sendiri.
Aku sangat memaklumi kecanggungannya. Untuk mencairkan suasana, aku menyeduh dua teh hangat dari fasilitas kamar. Kuberikan satu cangkir padanya, lalu aku duduk bersantai di atas karpet berbulu di bawah, menyandarkan punggungku ke sisi ranjang, tepat di sebelah kaki Ranti.
Ranti menyesap tehnya perlahan. Posisiku di bawah ini memberiku akses leluasa untuk mencuri pandang ke arah sepasang betisnya yang selama ini sangat kukagumi. Kulitnya putih bersih, padat, dan mempesona. Aku sengaja memutar topik pembicaraan ke hal-hal ringan, sekadar obrolan kantor dan lelucon biasa. Strategiku berhasil. Ranti mulai terlihat rileks, ia menimpali candaanku dan mulai tertawa lepas.
Selesai dengan tehnya, Ranti menaruh cangkirnya di atas meja nakas. Ajaibnya, ia tak kembali duduk di atas ranjang, melainkan ikut merosot turun dan duduk di karpet tepat di sebelah kananku, bersandar pada sisi kasur yang sama.
Sambil terus mengajaknya mengobrol, tangan kiriku mulai memberanikan diri merangkul pundaknya, sementara tangan kananku meraih telapak tangan kirinya yang dingin. Sembari berbicara, ujung jari-jariku mulai memberikan sapuan-sapuan halus di lengannya. Dari bahu, turun perlahan ke telapak tangan, silih berganti.
Sentuhan membuai itu jelas memengaruhi pertahanannya. Walaupun ia terus merespons obrolanku, aku bisa melihat bulu-bulu halus di tengkuknya meremang. Aku mencondongkan wajahku dan mendaratkan kecupan ringan nan hangat di pundaknya. Ranti terdiam, napasnya mulai tertahan.
Tangan kananku yang tadinya memegang tangannya, kini merayap pelan mengusap perut ratanya dari luar blus hitamnya. Setelah beberapa saat memanjakan area itu, tanganku menyusup masuk ke balik blusnya. Kulit perutnya yang hangat menyambut sentuhanku. Terus merayap ke atas, hingga akhirnya aku menyentuh tepian renda bra yang menopang payudaranya yang penuh. Kenyalan itu seketika membuat akal sehatku menguap. Aku meremasnya dengan sangat lembut, ujung jariku mencari-cari kuncupnya yang mulai menegang merespons sentuhan, sembari bibirku terus menghujani pundak dan lehernya dengan kecupan-kecupan basah.
Ranti, yang sejak tadi memejamkan mata menikmati sensasi itu, tiba-tiba memutus ritme. Ia menepis tanganku dan menariknya keluar dari balik bajunya.
"Udah, Nu... cukup..." desisnya.
Namun penolakan itu palsu. Bukannya menjauh, Ranti justru memutar wajahnya dan langsung mendaratkan pagutan liar di bibirku. Aku menyambut lumatannya dengan penuh gairah. Pertahanan logikanya telah runtuh sepenuhnya.
Melihat celah ini, tanganku beralih ke bagian bawah. Karena posisi duduk kami yang agak miring, aku dengan mudah membelai betisnya, merambat naik menyusup ke balik rok kulotnya. Di dalam sana, tanganku menelusuri kehalusan paha bagian dalamnya yang terasa panas, hingga menyentuh tepi celana dalamnya. Rangsanganku dari bawah membuat ciuman Ranti semakin liar tak terkendali.
Tangan Ranti tak mau kalah. Ia meraba gundukan di balik celana pendekku yang sedari tadi sudah menegang menyakitkan. Aku membimbing tangannya masuk ke dalam celanaku, membiarkannya menggenggam pusakaku yang berkedut keras. Pijatan tangannya yang kikuk namun sensual itu benar-benar memompa nafsuku hingga ke ubun-ubun.
Aku melepaskan pagutan di bibirnya. Perlahan aku menundukkan kepala, memisahkan kedua pahanya, dan memberikan kecupan-kecupan ringan dari lututnya, merambat terus ke pangkal pahanya. Aku menyingkap roknya ke atas perut, memperlihatkan celana dalam cokelat mudanya yang sudah sangat basah.
Begitu tanganku meraih karet celana dalamnya berniat meloloskannya, Ranti tiba-tiba tersentak, berdiri, dan duduk kembali di tepi ranjang. Ia menarik turun roknya.
"Kita jangan sampai ML ya, Nu," protes Ranti dengan sisa napas tersengal.
"Lho, terus gimana caranya aku tuang benihnya ke kamu?" balasku frustrasi, nafsuku sudah di ujung tanduk.
"Gini aja... aku yang mainin punyamu sampai kamu keluar, habis itu aku tadah, terus aku masukin sendiri ke punyaku. Pokoknya gitu! Kalau ditumpahin langsung dari dalam mah... yang keenakan cuma kamu aja dong!" dalihnya menggemaskan.
"Ya sama aja bohong kalau gitu! Janji deh, nggak bakal lama. Orang aku udah sange berat begini, paling semenit juga tumpah!" sergahku merayu.
"Pokoknya nggak mau! Makanya, biar adil, kamu bikin aku klimaks duluan pakai cara lain, baru habis itu kamu..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, aku sudah membungkam bibirnya lagi. Kali ini dengan lumatan yang lebih mendalam, sementara tanganku kembali meraba selangkangannya yang basah kuyup dari luar rok. Rangsangan dahsyat itu membuat tubuh Ranti melemas. Ia perlahan merebahkan tubuhnya ke atas kasur dengan posisi kaki yang menggantung ke bawah di tepi ranjang.
Kesempatan emas ini tak kusia-siakan. Aku melancarkan serangan gerilya. Kuhisap lehernya, kuremas bukit kembarnya, dan kusibakkan kembali roknya hingga sebatas perut. Tanpa aba-aba, kutarik turun celana dalamnya perlahan. Ia tak melawan. Pemandangan surga dunia kini terpampang di depan mataku; celah kewanitaannya yang terawat bersih, dengan rimbun bulu halus yang tertata rapi, membuat tenggorokanku kering kerontang.
Aku berlutut di lantai, memosisikan diriku tepat di depan selangkangannya. Kuangkat kedua kaki mulus Ranti dan kusandarkan di kedua pundakku. Tanpa membuang waktu, aku langsung melahap pusat kehangatannya.
Ranti terkesiap hebat. Ia mengerang tertahan seraya memutar-mutar pinggulnya ke kiri dan kanan, tangannya meremas seprai kuat-kuat. Cita rasa manis dari sarinya membuatku semakin buas. Sambil terus memberikan jilatan-jilatan maut, tanganku merayap membelai perutnya, menyibakkan blus hitamnya ke atas, dan membebaskan kedua payudaranya dari kungkungan bra. Kuremas dan kupilin mahakarya kenyal itu. Kolaborasi rangsangan oral di bawah dan remasan di dada membuat Ranti terbang ke langit ketujuh.
Beberapa menit berselang, Ranti mendadak mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi. Kedua pahanya menjepit kepalaku kuat-kuat.
"Nnnuuu... aku mau keluaaarrr... Aduuhh!!" jeritnya tertahan, tubuhnya menegang dan mengejang selama beberapa detik.
Aku terus melahapnya, menelan setiap tetes madu yang meluap dari dalam rahimnya saat ia mencapai puncak kenikmatan. Setelah tubuhnya terhempas lemas di kasur, aku merangkak naik, menindih tubuh bagian atasnya, dan melumat habis bibirnya.
Ranti yang masih terengah-engah kelelahan pasca orgasme pertamanya, kini hanya bisa pasrah. Karena pusakaku sudah terasa sakit meminta pelepasan, aku langsung melucuti celanaku sepenuhnya.
Dalam keadaan Ranti yang masih setengah sadar akan kenikmatan, aku memosisikan kejantananku tepat di depan gerbang rahimnya, lalu mendorongnya masuk.
Bleeesss...
Terasa sempit, hangat, dan luar biasa nikmat.
"Aduuh! Ahh..." desah Ranti membuka matanya sejenak lalu memejamkannya lagi, merasakan sesuatu yang besar dan asing mengisi penuh ruang pribadinya.
Sedikit demi sedikit aku menariknya keluar, lalu melesakkannya lagi lebih dalam, hingga akhirnya pusakaku mentok kandas di batas rahimnya. Kami berdua menyatu sempurna. Syarat gilanya untuk tidak berhubungan intim menguap entah ke mana. Desahan napas Ranti di telingaku menjadi bahan bakar yang membakar nafsuku. Sambil memeluk tubuhnya erat-erat, aku mulai memberikan genjotan-genjotan cepat bak mesin diesel.
Tak butuh waktu lama, batas ketahananku jebol.
"Aaahhh... Ran, aku keluar!" erangku.
Kutekan tubuhku sekuat tenaga, membenamkan pusakaku dalam-dalam, dan menyemburkan bergelombang-gelombang lahar panasku langsung ke dasar rahim istri orang ini.
Sensasi aliran setrum kenikmatan menjalar ke seluruh saraf tubuhku. Kami berdua tak bergerak selama beberapa menit, membiarkan tubuh kami saling menempel erat, seakan enggan melepaskan tautan nikmat yang baru saja kami ciptakan. Aku masih mendekapnya dengan dada yang naik-turun memburu oksigen.
Setelah napas kami berangsur normal, aku perlahan mencabut pusakaku dan berguling telentang di sebelahnya. Kuraih tangan kirinya dan kugenggam erat, menatap langit-langit kamar dengan perasaan puas yang tak tertandingi.
"Sumpah, enak banget punyamu, Ran... Untung aja kamu bukan istriku, kalau iya, bisa lemas lututku tiap hari," gumamku sambil tersenyum nakal.
172Please respect copyright.PENANAFyQvGftqLc


