Panggil saja aku Bayu. Dulu, semasa sekolah, aku memiliki kelompok belajar yang rutin berkumpul di salah satu rumah teman kami, Firman. Anggota kami ada empat: Aku, Firman, Yanto, dan Bimo. Setiap ada tugas berat atau menjelang ujian, kami selalu belajar kelompok sampai menginap. Maklum, saat itu anak kelas satu masih mendapat giliran masuk sekolah siang hari.
Firman adalah anak bungsu dari keluarga yang bisa dibilang paling sugih (kaya) di desa kami, Desa Sindanggalih. Ayahnya adalah Juragan Sosro, seorang tuan tanah dan pejabat di kecamatan, sementara ibunya adalah seorang bidan desa senior yang sangat dihormati. Kami biasa memanggilnya Bu Elly.
Kalau kami belajar sampai larut, otomatis kami bertiga menginap di paviliun rumah Firman. Bahkan, kami sering diajak ikut rombongan liburan keluarganya. Rumah Firman adalah bangunan gedong bertingkat dua yang paling megah di desa. Bila Firman sudah terlelap di kamarnya yang berada di lantai bawah, kami bertiga biasanya berbisik-bisik membicarakan kakaknya, Mela. Yang kami bahas tentu saja wajah ayunya dan lekuk tubuhnya yang sintal dengan kulit kuning langsat khas kembang desa.
Namun anehnya, mataku justru selalu tertuju pada Bu Elly, yang usianya kala itu berkisar 40 tahunan. Bila melihat Bu Elly, hasrat fantasiku selalu liar bermain, membuat darahku berdesir tak menentu. Mengingat Bu Elly adalah ibu kandung dari sahabatku sendiri, aku hanya bisa berkhayal dan memendam rasa itu dalam-dalam. Aku tak pernah berani menceritakannya pada siapa pun.
Keluarga Juragan Sosro sangat menggemari olahraga, terutama bulu tangkis. Mereka memiliki lapangan indoor sendiri di pekarangan belakang. Kebetulan, aku punya pukulan smash yang lumayan, jadi aku selalu diajak berlatih bersama. Karena dianggap paling jago, aku sering dipasangkan dengan Bu Elly bermain ganda campuran.
Bu Elly memiliki postur tubuh yang sangat proporsional dengan tinggi sekitar 167 cm. Pakaian olahraga yang dikenakannya selalu membuat jakun ini naik-turun; rok pendek model plisket dengan atasan tank top ketat yang menyetak jelas keindahan tubuh matangnya. Setiap kali kami mencetak angka, kami sering bersorak kegirangan, berpelukan, atau sekadar bersentuhan kulit. Sentuhan-sentuhan kecil itulah yang membuat jantungku berdebar gila dan memupuk hasrat liarku padanya. Kadang, setibanya di rumah sehabis olahraga, aku menuntaskan hasratku sendirian di kamar mandi dengan membayangkan lekuk tubuh Bu Elly yang berkeringat.
Hingga tibalah suatu malam Minggu. Karena sedang tidak punya gandengan, aku menghabiskan malam dengan membawa mobil pick-up kabin ganda milik bapakku, berkeliling jalanan desa yang mulai diaspal. Teman-temanku yang lain, termasuk Firman, sibuk ngapel ke rumah pacar masing-masing.
Tepat saat aku melintas di depan gerbang megah rumah Firman, entah kenapa mesin mobil yang kubawa tiba-tiba terbatuk-batuk, lalu mati total. Bensinnya habis! Sialnya, malam itu hujan turun dengan sangat lebatnya, dan pom bensin mini terdekat jaraknya sekitar tiga kilometer dari sana. Akhirnya, aku memutuskan untuk berteduh dan meminjam telepon rumah Firman guna menghubungi bapakku agar dibawakan bensin.
Sambil membelah hujan, aku berlari menuju teras rumah gedong itu. Suasananya sepi, tak ada mobil Juragan Sosro di garasi, dan tak terdengar suara dari dalam. Sepertinya rumah sedang kosong. Meski ragu, aku tetap memencet bel rumah dua kali. Tak lama, sayup-sayup terdengar suara dari dalam.
"Ya… siapa di luar?"
Begitu mendengar jawaban itu, hatiku langsung berdebar. Aku sangat kenal suara keibuan yang merdu itu.
"Bayu, Nyai… maaf malam-malam mengganggu. Bensin mobil Bayu habis di depan gerbang, niatnya mau numpang telepon buat ngabarin Bapak," balasku setengah berteriak menembus derasnya hujan.
Terdengar langkah kaki mendekat. Ketika pintu jati itu terbuka, tampaklah sesosok wanita paruh baya yang kecantikannya tak lekang oleh waktu.
"Ya ampun, Bayu… malam-malam begini hujan-hujanan. Ayo masuk dulu, langsung ke kamar Firman saja cari baju ganti. Nanti kalau sudah, nyusul ke ruang tengah ya, biar Nyai buatkan teh hangat," titah Bu Elly dengan senyum lembutnya.
Di dalam kamar Firman, sambil mengganti pakaianku yang basah kuyup, pikiranku malah melayang. Di depan pintu tadi, Bu Elly hanya mengenakan gaun tidur tipis berbahan sutra yang melekat sempurna, memperlihatkan siluet tubuhnya yang luar biasa menggoda.
Selesai berganti kaus oblong milik Firman, aku melangkah ke ruang keluarga seperti yang diminta. Kusesap perlahan teh hangat buatan tangannya, lalu memberanikan diri bertanya.
"Kok sepi, Nyai? Pada ke mana?"
"Juragan Sosro lagi nengok saudaranya yang sakit di desa sebelah. Kalau Mela tadi dijemput pacarnya mau jalan-jalan ke kota. Nah, Firman… kamu tahu sendiri kan tabiat anak itu kalau malam Minggu ke mana?" terang Bu Elly sambil duduk bersilang kaki di seberangku.
"Lho, kok Nyai nggak ikut Juragan?" tanyaku penasaran.
"Kebetulan Bi Minah—pembantu di belakang—lagi izin pulang kampung, jadi ya Nyai yang harus jaga rumah," jawabnya santai.
"Oh iya, Nyai. Bayu kan mau pinjam telepon, kok malah jadi lupa begini," kataku menepuk jidat.
"Hahaha… emangnya kamu lagi mikirin apa sih, kok sampai lupa niat awalnya?" Bu Elly tertawa renyah, tatapannya meBupit menggodaku.
"Hehehe… nggak mikir apa-apa kok, Nyai," balasku salah tingkah.
Aku segera bangkit menuju meja telepon di sudut ruangan dan memutar nomor rumahku. Kuulang beberapa kali, namun tak ada jawaban sama sekali dari seberang.
Dari arah belakang, tiba-tiba terdengar suara Bu Elly mendekat. "Nggak diangkat, Bayu?" tanyanya lembut.
"Nggak, Nyai. Mungkin Bapak sudah tidur pulas," jawabku pasrah.
"Ya sudah, kamu tunggu Firman pulang saja sekalian temani Nyai di sini," bujuknya.
"Iya, Nyai," jawabku singkat.
Bu Elly kemudian mengajakku beringsut ke sofa di depan TV. Namun, belum sempat aku mendaratkan bokongku ke sofa, ia menahan lenganku.
"Eh Bayu, tolong dong ajarin Nyai main lagu Kemesraan di organ tunggal itu. Jari-jari Nyai masih kaku kalau pindah kord," pintanya menunjuk keyboard besar di sudut ruang.
"Kapan belajarnya, Nyai?"
"Sekarang saja yuk, mumpung kamu lagi di sini…" ajaknya sembari menarik tanganku.
Kami pun berjalan menuju keyboard dan duduk berdampingan di kursi panjang yang sebenarnya tak terlalu luas untuk dua orang. Karena aku harus mengajari transisi jari-jemarinya di atas tuts, otomatis tanganku harus membimbing dan menyentuh jemari Bu Elly yang halus dengan kuku terawat itu.
Jarak kami begitu dekat. Bahu kami bersinggungan. Detak jantungku berpacu seperti kuda pacu, apalagi saat hidungku menghirup aroma melati bercampur wangi sabun mandi dari tengkuknya. Wangi itu memabukkan, membuat kejantananku perlahan tapi pasti merespons keadaan.
"Lho, Bayu… kenapa suaramu jadi bergetar begitu? Kamu kedinginan, ya?" tanya Bu Elly tiba-tiba, menatapku lekat.
"Nggak apa-apa kok, Nyai, Bayu cuma…" kalimatku menggantung.
"Jangan-jangan kamu keberatan ya ngajarin Nyai? Atau kamu sebenarnya punya janji apel malam Minggu sama pacarmu?" selidiknya penasaran.
"Bayu belum punya pacar, Nyai. Nggak selihai Firman atau yang lain," jawabku jujur.
Mendengar itu, posisi duduk Bu Elly justru semakin merapat padaku. Entah sengaja atau tidak, tiba-tiba ia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Tuts keyboard tak lagi kami hiraukan.
"Bayu..." suaranya merendah. "Faris pernah cerita nggak sama kamu, kalau ayahnya diam-diam punya istri siri di kota? Perempuan yang jauh lebih muda dan seksi dari Nyai... usianya baru 27 tahun."
Aku terkejut bukan main. Benarkah Juragan Sosro menduakan wanita sesempurna ini?
"Masa sih, Nyai? Kalau yang Bayu lihat, Nyai sama Juragan selalu kelihatan mesra terus," kataku hati-hati.
Lagi-lagi, Bu Elly merapatkan tubuhnya hingga tak ada jarak tersisa di antara kami. Tangan kanannya turun dari tuts dan diletakkan di atas pahaku. Tiba-tiba, jemarinya secara "tak sengaja" menyapu pangkal pahaku, menyentuh tepat pada pusat kelelakianku yang sejak tadi sudah mengeras kaku di balik kain celana.
"Ah…" Bu Elly memekik kecil, pura-pura terkejut.
Ia langsung menatapku yang tertunduk malu dengan wajah memerah. Dengan tatapan sendu yang sarat akan gairah terpendam, ia berbisik di dekat telingaku.
"Bayu, jawab jujur ya… kamu sudah pernah berhubungan intim dengan perempuan belum?"
Dengan kaget dan napas yang mulai tak beraturan, aku tergagap, "Be.. be… belum pernah, Nyai."
"Kamu mau nggak… kalau Nyai ajarin? Anggap saja sebagai balasan karena kamu sudah mau ngajarin Nyai main keyboard," bisiknya parau.
Aku seakan kehilangan pita suara untuk merespons tawaran gila itu. Namun, tanpa menunggu jawabanku, Bu Elly langsung memagut bibirku secara liar. Lidahnya menyusup masuk, menyesap habis setiap inci rongga mulutku dengan penuh kehausan. Tak hanya itu, kedua tangannya mulai agresif meremas tengkuk dan mengacak rambutku.
"Bayu sayang, ayo kita pindah ke kamarku saja yuk," ajaknya di sela-sela ciuman kami.
Mendengar ajakan itu, adrenalin dan kebahagiaan meledak di dadaku. Malam ini, fantasi terliar yang selama ini hanya kusimpan di kamar mandi, akhirnya menjadi kenyataan.
Sesampainya di peraduan utama yang luas itu, Bu Elly langsung mendorong tubuhku ke atas ranjang empuknya dan menindih badanku. Dengan gerakan sensual, ia melucuti gaun tidur sutranya, memperlihatkan mahakarya tubuh yang begitu sintal, dengan bukit kembar yang menggunung menantang.
Dalam keadaan masih terkesiap kagum, Bu Elly menarik kedua tanganku dan membimbingnya langsung merengkuh keindahan dadanya. Tanpa meBua-Buakan waktu, aku mulai meremasnya lembut, memanjakan pucuknya yang semakin menegang di balik telapak tanganku.
"Sssthhh… oohhh… terus, Bayu, puasin Nyai…" racaunya penuh nikmat.
Sadar aku masih berpakaian lengkap, Bu Elly dengan sigap melucuti kaus dan celanaku, membiarkan tubuh kami sama-sama terbuka. Tangannya yang piawai turun membelai pangkal pahaku dan menggenggam pusaka kelelakianku yang sudah tegak sempurna.
"Punyamu besar juga ya, Bayu… boleh nggak Nyai icipi?" godanya dengan mata sayu.
"Boleh saja kalau Nyai mau…" balasku dengan napas tersengal.
Dengan beringas namun lembut, janda—ah, istri yang diabaikan ini—mulai memanjakan kejantananku dengan bibirnya. Aku merasakan sensasi nikmat yang luar biasa, seolah ditarik ke surga. Bu Elly melayaniku dengan kemahiran seorang wanita matang, membuatku merintih tertahan.
Tak lama, ia mengubah posisinya. Pemandangan indah kelopak kewanitaannya yang rimbun dan basah kini terpampang jelas di depan wajahku.
"Ayo, manjakan punya Nyai juga, Bayu," pintanya.
Tanpa perlu disuruh dua kali, kulabuhkan kecupanku di sana, menyesap harumnya sari gairah yang bagaikan candu.
Usai permainan panas itu, Bu Elly membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia memintaku berdiri di tepi kasur. Tangannya kembali menggenggam kejantananku, menuntun ujungnya tepat ke depan gerbang surganya yang sudah sangat basah.
"Ayo Bayu, sekarang masukkan pusakamu ke dalam milik Nyai," titahnya lirih.
Ia menarik pinggulku turun. Dengan dorongan perlahan namun pasti, pusakaku membelah kehangatan itu. Bleeesss…
"Aaaahhh…." desah Bu Elly memecah kesuBuan kamar yang diiringi derai hujan.
Sambil terus memberikan hentakan-hentakan yang ritmis, tanganku tak henti memanjakan tubuh atasnya. Seolah tak cukup dengan posisi itu, Bu Elly mendadak memutar tubuhku hingga aku berbaring dan ia mengambil alih kendali di atas. Ia mulai bergerak naik-turun dan memutar pinggulnya dengan sangat liar. Aku takjub melihat keagresifan wanita paruh baya ini.
Untuk mengimbangi ritmenya, kuangkat pinggulku agar penyatuan kami semakin dalam. Mulut kami terus meracaukan kata-kata tanpa makna yang hanya dimengerti oleh gairah. Bu Elly memintaku untuk kembali membalikkan badannya, mengambil alih dominasi, dan mempercepat ritme.
Semakin lama, kurasakan pusakaku berdenyut hebat. Kelopak hangat Bu Elly juga berkedut mencengkeramku.
"Arrgghhh… aaahhh…. oohhh…."
Ledakan itu tiba. Cairan hangatku tumpah memenuhi rahim istri dari ayah sahabatku sendiri, bersamaan dengan Bu Elly yang mengerang panjang dalam orgasme hebatnya. Kami berpelukan erat, dada kami naik-turun menyedot oksigen, menikmati kepuasan luar biasa yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Di sela napasnya yang mulai teratur, Bu Elly berbisik di dadaku, "Gimana Bayu, kamu puas nggak? Kalau lain waktu kita ulang lagi, kamu keberatan?"
"Puas banget, Nyai… tentu Bayu mau. Kapan pun Nyai butuh, kasih tahu saja," jawabku tulus.
"Makasih ya, sayang," bisiknya sambil mengecup mesra pipiku.
Setelah itu, kami membersihkan diri dan merapikan pakaian. Seolah tak terjadi apa-apa, kami duduk kembali di teras, menunggu Firman pulang untuk mengantarku membeli bensin.
Hubungan terlarang yang manis ini terus berlanjut secara sembuBu-sembuBu selama empat tahun. Semua itu baru berakhir ketika aku akhirnya memutuskan untuk meminang seorang gadis.
Di akhir perpisahan kami, Bu Elly berpesan satu hal padaku dengan mata berkaca-kaca, "Bayu, jangan pernah sekalipun mengkhianati istrimu nanti. Karena Nyai tahu betul, betapa hancur dan sakitnya dikhianati oleh seorang suami."
Sampai detik ini, kami masih berhubungan baik sebagai keluarga. Aku menyambung silaturahmi, dan kami sering saling memberi semangat di saat terpuruk. Aku sangat menghormati hubungan persahabatan ini, karena pada dasarnya, aku sangat menghargai Bu Elly sebagai seorang ibu, seorang wanita tangguh, dan pahlawan yang pernah mengajariku arti gairah.
Sekap Gairah di Koperasi Desa
Sebuah perampokan di koperasi desa membawa pengalaman traumatis yang tak terduga, sekaligus membangkitkan sisi gelap yang tak pernah dibayangkan oleh istri seorang juragan. Suaminya menganggap kejadian itu sebagai musibah murni, tetapi sang istri meBumpan rapat-rapat sensasi luar biasa yang ia dapatkan di lantai koperasi itu sebagai rahasia abadinya.
Siang itu, terik matahari membakar Desa Karangjati. Juragan Darmo (35), seorang pengepul hasil bumi dan mutiara air tawar, tengah berada di KUD (Koperasi Unit Desa) kecamatan bersama istri mudanya yang jelita, Bu Novi (30). Mereka datang untuk melakukan penarikan dana tunai partai besar guna membiayai panen raya.
Suasana KUD cukup ramai. Di antara hiruk-pikuk warga desa yang mengantre, Juragan Darmo dan Bu Novi duduk di kursi tunggu kayu. Tiga petugas teller di balik jeruji besi sibuk melayani para nasabah.
Tiba-tiba, dobrakan keras di pintu utama menghentikan segala aktivitas. Lima orang pria berpenampilan beringas dengan jaket kulit hitam lusuh menerobos masuk. Salah satu dari mereka mengacungkan pistol rakitan, sementara yang lain membawa senapan angin laras panjang yang telah dimodifikasi.
"Jangan ada yang bergerak! Semuanya diam! Jangan ada yang bertingkah atau kepala kalian aku bolongi!" teriak pria yang tampaknya menjadi pemimpin komplotan.
Ini perampokan! batin Juragan Darmo panik. Suasana seketika kacau balau. Jerit ketakutan pecah. Para nasabah berhamburan mencari tempat sembuBu. Dalam kepanikan, Juragan Darmo berlari mengikuti beberapa nasabah lain menaiki tangga reyot menuju balkon lantai dua yang berfungsi sebagai gudang arsip.
Kawanan rampok menyebar dengan cepat. Dua orang melompat ke meja teller, sementara sisanya menodongkan senjata mengawasi ruangan. Salah seorang dari mereka mengejar nasabah yang naik ke lantai dua.
Di balkon atas, Juragan Darmo dan enam nasabah lain tak berkutik saat laras senjata menempel di dahi mereka. Para perampok itu mengikat tangan dan melakban mulut mereka rapat-rapat.
Dari sela-sela pagar balkon kayu, Juragan Darmo bisa melihat situasi di lantai dasar yang kini suBu senyap. Namun, jantungnya seakan melorot ke perut ia tidak melihat sosok Bu Novi di mana pun! Kang Pardi, petugas Hansip yang biasa berjaga di depan pintu KUD juga raib. Hanya seragam Hansip hijau limanya yang tergeletak sembarangan di lantai, menandakan pria itu telah dilucuti paksa.
Sambil terikat, Juragan Darmo menggeser tubuhnya dengan susah payah ke ujung balkon untuk mencari istrinya. Ia akhirnya mengembuskan napas lega bercampur khawatir. Di sebuah lorong sempit berlantai tegel kusam yang mengarah ke toilet, ia melihat Bu Novi.
Namun, pemandangan itu membuat darahnya mendidih. Bu Novi terikat menjadi satu tubuh dengan seorang pria berbadan tegap—yang tak lain adalah Kang Pardi si keamanan KUD. Sialnya, Kang Pardi hanya disisakan kaus kutang putih dan celana pendek kolor selutut oleh para perampok.
Tubuh Bu Novi dan Kang Pardi diikat saling berhadapan. Lakban cokelat besar melilit pinggang dan dada mereka menjadi satu kesatuan yang sangat rapat. Kedua tangan mereka terikat ke belakang punggung masing-masing, dan mulut mereka dibungkam dengan lakban yang sama. Mereka terbaring miring di lantai tegel yang dingin, saling menempel tanpa celah.
Dalam ketegangan dari lantai dua, Juragan Darmo hanya bisa melihat istrinya dan Hansip itu terus menggelepar-gelepar, berusaha melonggarkan ikatan lakban dengan cara bergerak dan menggeliat bersamaan. Syukurlah istriku melawan, pikir Darmo.
Proses perampokan brankas itu berlangsung lambat dan mendebarkan selama hampir satu jam. Setelah menguras habis isi KUD, kawanan bajingan itu melarikan diri menggunakan motor. Juragan Darmo bersyukur dalam hati. Tak lama, ikatan Bu Novi dan Hansip itu akhirnya terlepas. Kang Pardi segera membantu melepaskan ikatan nasabah lain, sementara Bu Novi berlari ke lantai dua membebaskan suaminya.
"Untung kita nggak diapa-apain ya, Bu..." bisik Juragan Darmo memeluk istrinya erat. Mereka pun pulang dengan selamat.
Bagi Juragan Darmo, itu adalah musibah. Namun bagi Bu Novi, perampokan KUD itu mungkin meninggalkan trauma sesaat, namun di baliknya, membuahkan sebuah pengalaman persetubuhan terekstrem yang tak pernah sekalipun mampir dalam fantasi terliarnya.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Lorong Toilet KUD?
Terikat di lorong sempit, dengan tubuh berdempetan nyaris tanpa jarak dengan laki-laki lain, awalnya membuat Bu Novi risih bukan kepalang. Apalagi dada bidang dan perut keras Kang Pardi hanya berbalut kutang tipis. Namun, rasa takut mati ditembak meredam segala rasa canggung itu.
Sekitar tiga menit mereka berbaring miring saling menempel, Bu Novi melihat mata Kang Pardi melotot berjuang. Dengan dorongan lidah dan rahang yang keras, pria itu berhasil membuat lakban di mulutnya terlepas.
"Tenang, Bu... saya Pardi, keamanan koperasi ini. Maaf seragam saya tadi dilucuti rampok. Sepertinya mereka lagi sibuk jebol brankas di depan dan nggak bakal ke sini. Ayo kita berusaha lepasin ikatan ini sama-sama ya, Bu," bisik Kang Pardi cepat.
Bu Novi hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca, berharap upaya mereka berhasil.
Kang Pardi memajukan wajahnya dan menggunakan giginya untuk menarik ujung lakban di mulut Bu Novi. Bu Novi sempat terpekik tertahan merasakan perih di bibirnya, tapi kemudian ia bisa bernapas lega.
"Lalu bagaimana caranya, Kang?" tanya Bu Novi panik. Posisi mereka sangat mustahil. Tangan terikat ke belakang punggung, sementara lakban tebal melilit ketat dada dan pinggang, membuat perut dan paha mereka saling menekan.
Kang Pardi berpikir cepat. Ia sadar lakban memiliki sifat yang bisa melar jika terus ditarik.
"Kita harus pakai kaki yang bebas, Bu. Saya akan gulingkan badan kita supaya Bu Novi ada di atas saya. Habis itu, kaki Nyai bisa menjejak lantai dan dorong badan Nyai ke atas. Lakbannya pasti lama-lama melar," instruksi Kang Pardi.
Pria berkulit sawo matang itu menggunakan sisa tenaganya membalikkan posisi mereka. Kini, Bu Novi berada tepat di atas tubuh Kang Pardi. Jika Kang Pardi yang di atas, bobot badannya yang besar pasti akan meremukkan tulang rusuk Bu Novi.
"Coba sekarang dorong, Bu!" bisik Pardi.
Bu Novi menurut. Ia mencoba menjejakkan ujung kakinya ke tegel dan mendorong pinggulnya ke atas. Namun, rok span ketat khas ibu-ibu pejabat desa yang dikenakannya membatasi ruang geraknya. Ia terpaksa membuka kedua kakinya lebih lebar agar bisa mengangkangi pinggul Kang Pardi untuk mendapat pijakan.
Bu Novi terus berupaya menggenjot tubuhnya ke atas. Akibat gesekan yang keras, rok span Bu Novi perlahan tersingkap naik ke atas paha, membiarkan kulit mulusnya bersentuhan langsung dengan kolor Kang Pardi. Ah, masa bodoh, pikir Bu Novi, yang penting ikatan ini lepas. Lagipula Kang Pardi di bawahnya, mana mungkin bisa melihat apa-apa.
"Terus goyang, Bu... ini udah mulai melar lakbannya," bisik Kang Pardi serak.
Kata goyang yang diucapkan Kang Pardi entah kenapa memicu desir aneh di tengkuk Bu Novi. Ia baru tersadar, gerakan naik-turun yang dilakukannya dengan kaki mengangkang di atas tubuh pria lain ini terasa sangat liar dan erotis. Ia juga baru ngeh bahwa sedari tadi, bukit kembarnya yang penuh terus bergesekan dengan dada bidang berotot Kang Pardi. Gesekan intens di sekujur tubuh depan mereka tanpa sadar mulai memanaskan mesin libido Bu Novi.
Tiba-tiba, Bu Novi mematung.
"Astaga... Kang Pardi. Apa ini...? Kok ada yang keras..." Bu Novi berbisik panik saat merasakan sesuatu yang kokoh dan panas menekan tepat di perut bawahnya. Kejantanan Kang Pardi rupanya telah bangkit paripurna akibat gesekan tubuh Bu Novi di atasnya.
"Oh... ehh... m-maaf, Bu. Saya sudah tahan sekuat tenaga biar pikiran nggak ke mana-mana. Tapi gesekan tubuh Nyai merusak fokus saya. Maaf, Bu... ini refleks laki-laki normal. Yang penting sekarang kita terusin lepas ikatannya sebelum rampoknya ke sini," balas Kang Pardi dengan wajah pias menahan malu.
"Ya sudah... nggak apa-apa, tapi Akang jangan macam-macam ya," desis Bu Novi.
Dalam hati, ia tak bisa menyalahkan Kang Pardi. Bu Novi sendiripun merasakan aliran listrik yang sama; ada getaran nikmat yang menjalar di selangkangannya setiap kali tubuh mereka bergesekan. Ia mencoba memfokuskan pikirannya kembali pada lakban yang mengikat mereka.
Bu Novi kembali menggenjot tubuhnya. Gesek ke bawah, dorong ke atas. Usahanya membuahkan hasil. Lakban itu mulai merenggang, jarak gerak mereka kini lebih leluasa.
"Ehm... Bu, coba gesek ke bawah lagi... terus dorong lagi ke atas... ini sedikit lagi melar..." Suara Kang Pardi makin parau, napasnya memburu. Saat tubuh Bu Novi terdorong ke atas, kejantanan Kang Pardi yang sedang menegang keras itu kehilangan sentuhan, karena kewanitaan Bu Novi bergeser melewatinya.
Bu Novi setuju. Ia mengayunkan tubuhnya meluncur ke bawah agar lakban semakin longgar. Namun, gerakan meluncur inilah yang menjadi titik balik bencana berujung nikmat.
"Enghhh..." Bu Novi tak sengaja melenguh lirih.
Saat ia meluncur turun, ia merasakan ujung pusaka Kang Pardi menyentuh kain celana dalamnya. Kolor Kang Pardi yang longgar rupanya sudah melorot tertarik gesekan lutut, membiarkan kejantanan pria itu melesat keluar menantang udara dingin. Kini, setiap kali Bu Novi bergerak turun, kepala pusaka itu bergesekan langsung menekan pusat kewanitaannya yang hanya terhalang selembar kain tipis.
Rasa kenyal dan panas itu mengintimidasi celah gairahnya. Bu Novi berusaha memecah pikirannya agar tetap fokus melarikan diri, namun makin ia bergerak, makin tinggi pula gairahnya tersulut. Perlahan tapi pasti, ia merasakan kain dalamnya mulai basah oleh sarinya sendiri.
Dari bawah, Kang Pardi juga tak tinggal diam. Ia menggeliat mencoba membebaskan ikatan tangannya yang tertindih di belakang. Gerakan liar dari bawah ini menciptakan erotisme luar biasa yang menggetarkan rahim Bu Novi.
"Enghh... ahhss..." Bu Novi mendesah tertahan dan menghentikan gerakannya mendadak.
Posisinya sangat gawat. Gerakan Kang Pardi dari bawah rupanya menggeser kain dalam Bu Novi ke samping. Tanpa penghalang apa pun lagi, Bu Novi kini bisa merasakan dengan jelas kepala pusaka Kang Pardi menempel sempurna di bibir celahnya yang sudah basah kuyup.
"Hmm... Bu, kenapa berhenti? Ini sudah hampir bisa lepas tangan saya..." Kang Pardi terus bergerak mengeliat. Namun ia pun menyadari, ujung kelelakiannya kini bersentuhan langsung dengan kelembapan surgawi milik istri juragan itu.
Bu Novi panik. Ia segera menjejakkan kaki untuk mengangkat panggulnya menjauh. Tapi gagal! Lakban yang sudah melar itu justru mengunci melilit pinggangnya di posisi turun. Ia tak bisa naik lagi, ia terjebak dalam pelukan bawah Kang Pardi. Waktu seakan berhenti. Bu Novi tahu, jika mereka terus bergerak, penyatuan itu tak akan bisa dihindari.
Namun, pertahanan logikanya runtuh. Gerakan Kang Pardi dari bawah yang berusaha melepas tangan justru membuat kepala pusakanya menggesek perlahan, membuka paksa bibir kewanitaan Bu Novi sedikit demi sedikit.
"Ough..." Kang Pardi menggeram tak kuasa menahan desakan nikmat. Setiap ia menggoyangkan punggungnya, kepalanya pusakanya mengintip masuk ke dalam kehangatan Bu Novi.
"Enghhsshh... ahh... Kang, jangan gerak duluuuuh... ini nggak boleh terjadi, Kang. Saya istri orang... dan Akang pasti sudah punya istri kan?" bisik Bu Novi parau, wajah aslinya yang ayu mirip artis sinetron itu kini memerah padam oleh nafsu.
"Iya, Bu... saya tahu. Tapi gimana lagi, posisi kita kekunci lakban di bawah sini," jawab Kang Pardi serba salah.
Bu Novi membuat keputusan gila yang didorong keputusasaan dan birahi yang sudah meledak.
"Oke, Kang... begini saja. Saya akan luncurkan badan ke bawah, dan... anu Akang pasti bakal masuk ke... anu saya. Tapi itu cuma numpang lewat sekali ya! Biar dapet ayunan, terus saya dorong kuat-kuat ke atas supaya lakbannya putus. Ingat, cuma sekali!" perintah Bu Novi dengan napas ngos-ngosan.
"Iya... iya, Bu. Terserah Nyai. Tapi tolong, habis ini saya jangan dilaporin ke polisi ya, Bu. Kalau pusaka saya masuk beneran ke dalam... saya takut dituduh merkosa," balas Kang Pardi dengan kepolosan pria desa yang ketakutan.
"Hnnggaak, Kang... ini kan gara-gara perampok sialan itu. Jadi bukan salah saya atau Akang... kita sama-sama usaha buat lolos... sekarang Akang diam, ya... saya mau ngayun... ehmm... enghhmmmpp... ahssstt Kaaangghh... ahhhkksss..."
Bu Novi menjatuhkan panggulnya ke bawah.
Gesekan tajam terjadi. Bukannya memantul naik, bibir kewanitaannya yang basah justru menelan separuh kejantanan Kang Pardi secara telak. Pusaka pemuda desa yang keras, tebal, dan jauh lebih besar dari milik suaminya itu merobek pertahanan Bu Novi dan terbenam dalam kehangatannya. Sensasi penuh dan padat itu membuat Bu Novi memejamkan mata, menggigit bibir menahan jeritan nikmat.
"Ayo, Bu... dorong lagi ke atas biar lepas!" seru Kang Pardi panik karena ia kini benar-benar menyetubuhi istri juragan.
"Iya, Kang... hmmmpphh aahhss... kanghhsss.. emmpphh.. ahssss," Bu Novi mencoba menjejakkan kaki dan mengangkat panggul. Namun nihil. Posisi lakban itu benar-benar mengunci mereka dalam penetrasi sempurna. Ia terjebak dalam kenikmatan.
"Akhhss... kangghh... gimana inihh... ahsss..." Bu Novi menyerah. Tubuhnya melemas, membiarkan separuh pusaka itu diam berdenyut di dalam rahimnya. Napasnya makin berat.
"Oke... sekarang Nyai diam di situ biar punya saya nggak makin masuk. Saya mau paksa lepas tangan saya yang di belakang... engghhh!"
Kang Pardi mengangkat pinggulnya sedikit menjauhi lantai agar tangannya bisa ditarik. Sialnya, pinggul yang terangkat itu justru membuat dorongan dari bawah semakin dalam! Penetrasi yang tadinya hanya separuh, kini masuk lebih jauh merobek dinding rahim Bu Novi.
"Akhhss kangghhss ouhh.. akhhh.. ahkkk... enghhhmm," Bu Novi akhirnya kehilangan sisa-sisa kewarasannya. Kini, alih-alih menghindar, pinggulnya justru bergerak membalas mengayun, melayani setiap ayunan panggul Kang Pardi demi mencari kepuasan yang lebih dalam.
Srekk! Tangan Kang Pardi akhirnya terbebas dari ikatan lakban di belakang punggungnya.
Namun, akal sehat pria tegap berwajah manis itu sudah menguap digantikan insting purba. Alih-alih melepaskan lakban di dada dan pinggang mereka, tangan kasarnya justru menjalar ke depan, merobek kancing blus Bu Novi dan langsung meraup payudara montok istri juragan itu dengan rakus.
"Emmphhh... kanghhsss emmphhhhsss," Bu Novi mendesah liar. Tangannya yang masih terikat di belakang tak bisa melawan. Ia membiarkan bibir kasarnya menyapu leher dan berpagut ganas dengan bibirnya.
Kang Pardi meloloskan bukit kembar itu dari kurungan bra-nya dan mengisap pucuknya kuat-kuat. Tangan kirinya turun, merobek habis sisa celana dalam Bu Novi agar tak lagi menghalangi, lalu menekan bokong sintal itu kuat-kuat ke arah panggulnya. Bleeess! Pusaka itu kini masuk sepenuhnya, kandas hingga ke pangkal.
"Oughh.. ahhgg.. Bu... tangan saya sudah lepas. Kita... bebaskan sekarang atau gimana? Ouhgg..." goda Kang Pardi terengah-engah, sengaja menghentikan genjotannya sesaat.
Pinggul Bu Novi yang tak tertahankan merespons liar, menggenjot panggul pria itu tanpa henti, membuat pertautan mereka menghasilkan buBu kecipak basah yang menggema pelan di lorong KUD.
"Akhh kanghh... sshh... terserah Akanghhh sekaranghhh... ouhss..." putus Bu Novi, sudah sepenuhnya menyerah pada badai birahi.
"Baik, Bu... akhh... kalau begituhh, kita tuntaskan dulu ini ya... ouhsss..."
Kang Pardi dengan cepat merobek lakban di pergelangan tangan Bu Novi yang berada di belakang, namun membiarkan lakban di perut dan pinggang mereka tetap menyatukan mereka seperti lem.
Begitu tangannya bebas, Bu Novi langsung merengkuh leher Kang Pardi. Sambil masih disatukan lakban di perut, Kang Pardi memutar posisi sehingga kini tubuhnya kembali mendominasi di atas, menindih Bu Novi di atas tegel dingin.
Hentakan demi hentakan liar pun dilesakkan tanpa ampun. Kang Pardi membobol habis kewanitaan istri juragan itu. Cairan madu yang melimpah membuat penyatuan mereka semakin licin dan memabukkan. Bu Novi merasakan klitorisnya dihajar oleh kenikmatan yang belum pernah ia temukan di ranjang suaminya.
"Oughh... kanghhhss... akhhsss... sayaaahhh kanggg... akhhhsss.. sampaaiiihhh kangghhsss... ouhhhggg," Bu Novi menjerit tertahan. Puncak kenikmatan itu meledak hebat. Pertahanannya hancur lebur dihantam pusaka penjaga koperasi. Otot rahimnya berkedut gila, mencengkeram kelelakian Kang Pardi kuat-kuat.
"Aghh... ahhh... yehh... Buihh... akhhsss uhhh... mmmpphhh..." Kang Pardi membenamkan seluruh pusakanya sedalam mungkin dan menumpahkan lahar hangatnya secara sporadis ke dalam rahim Bu Novi, bersamaan dengan bibir mereka yang kembali saling melumat rakus.
Setelah gelombang kenikmatan dahsyat itu reda, Kang Pardi barulah memutus sisa lakban yang menyatukan tubuh mereka. Keduanya terengah-engah, bangkit, dan segera merapikan busana yang berantakan, seolah mencoba mengembalikan realitas perampokan yang baru saja selesai di luar sana.
"Emm... Bu... maafkan saya atas kejadian tadi. Saya khilaf... engg..."
"Sudah... sudah, Kang. Lupakan saja, ya... saya juga khilaf," Bu Novi memotong cepat sambil mengancingkan blusnya yang berantakan.
Keduanya bertatapan sejenak, lalu saling mengangguk paham, membuat sumpah tak tertulis untuk mengubur rapat-rapat persetubuhan ekstrem itu hanya di antara mereka berdua, di lorong gelap KUD Karangjati.
Kang Pardi melangkah ke depan untuk menyelamatkan sisa nasabah, sementara Bu Novi berlari ke lantai dua mencari suaminya dengan wajah pucat pasi yang dibuat-buat. Di lantai atas, Juragan Darmo memeluk erat istrinya yang "trauma", tak pernah tahu sedikit pun rahasia panas yang baru saja mengoyak kesetiaan istrinya di lantai bawah sana.
ns216.73.216.208da2


