Namanya Tante Yuni. Usianya menginjak 35 tahun, seorang pengusaha penggilingan padi dan perkebunan yang cukup sukses di daerah kami. Wajahnya yang ayu khas wanita pesisir utara berpadu sempurna dengan postur tubuhnya yang mungil namun aduhai. Ia memiliki potongan rambut lurus sebahu, kulit putih terawat, dan bukit kembar berukuran 36B yang cukup padat untuk wanita seusianya. Siapa pun pasti akan mudah tergoda oleh pesona Tante Yuni. Ia sudah berkeluarga dan dikaruniai tiga orang anak.
Awal kedekatan kami aku biasa dipanggil Bayu, seorang teknisi dan pembuat program IT freelance bermula ketika aku menyelesaikan pemasangan sistem pembukuan komputer untuk gudang beras miliknya. Hari itu, aku mengantarkan CD software tersebut langsung ke rumah gedongnya yang hanya berjarak sepuluh menit berkendara dari tempatku.
Tante Yuni rupanya sedang tidak di rumah. Aku menunggunya cukup lama di ruang tamu, sambil sesekali bermain dengan putri bungsunya, Caca, dan mengobrol santai dengan Mbak Ning, asisten rumah tangganya.
Setelah hampir satu jam menunggu, mobil SUV Tante Yuni memasuki halaman. Ia tampak sedikit heran melihatku yang sudah begitu membaur dengan orang-orang di rumahnya.
"Kamu bawa programnya kan, Bayu? Ada buku panduan pemakaiannya, kan?" tanyanya sambil meletakkan tas kerjanya.
"Ada dong, Tante. Tapi biar lebih cepat paham, mending aku langsung kasih training ke kepala gudang Tante aja besok pagi," jawabku.
Sejak hari itu, aku semakin akrab dengan keluarga Tante Yuni. Terlebih lagi, ia kemudian memintaku untuk memberikan les privat komputer kepada Raka dan Jati, kedua anak laki-lakinya yang duduk di bangku SMP dan SD. Karena rumahnya cukup dekat dan bayarannya lumayan tinggi, aku menyanggupinya tanpa pikir panjang.
Kedekatan kami perlahan bergeser dari urusan profesional ke hal yang lebih kasual. Aku dan Tante Yuni sering bertukar pesan singkat (SMS), terutama sekadar mengirimkan tebakan garing atau cerita lucu.
Hingga suatu hari, sebuah kecerobohan kecil mengubah segalanya.
Dimulai dari ketidaksengajaan, siang itu aku berniat mengirim SMS kepada Rina, teman wanita rahasia yang biasa menemani malam-malam sepiku. Isi pesanku cukup vulgar: "Hai Say... Lagi ngapain? I miss you. Pengen deh kelonan sama kamu lagi. Lagi kangen berat nih..."
Sialnya, karena saat itu layar ponselku baru saja menampilkan history percakapan dengan Tante Yuni soal jadwal les, refleks jempolku justru menekan tombol kirim ke nomor Tante Yuni!
Aku baru menyadari kebodohan fatal itu saat laporan pengiriman muncul di layar: Delivered to Tante Yuni.
"Astaga!" Aku menepuk jidatku keras-keras. Otakku langsung berputar cepat mencari ribuan alasan jika Tante Yuni sampai melabrakku.
Tak lama kemudian, ponselku bergetar. Balasan dari Tante Yuni masuk. "Wah... Ini SMS ke siapa ya kok tiba-tiba romantis begini..."
Aku bernapas sedikit lega. Untunglah kami berdua sudah lumayan akrab, jadi setidaknya balasan itu tidak bernada marah.
"Aduh, maaf banget, Tante. Salah kirim. Maklum, lagi horny berat nih :p Maaf ya, Tante..." balasku. Aku sengaja berterus terang dan membiarkan kata horny itu tertulis, sekadar ingin menguji reaksi wanita matang ini.
Ponselku kembali bergetar. "Wah... Kamu ternyata di luar udah berani begituan ya! SMS nakal itu buat pacarmu ya?"
"Bukan, Tante. Itu TTH-ku. Teman Tapi Hot... Hahaha. Nggak ada ikatan apa-apa kok, Tante."
Setelah pesan itu terkirim, tak ada balasan selama beberapa menit. Keringat dingin mulai merembes di tengkukku. Apakah aku sudah keterlaluan?
Tiba-tiba, ponselku berdering panjang. Panggilan masuk dari Tante Yuni!
"Halo, lagi di mana, Bayu?" tanya Tante Yuni. Nadanya terdengar jauh lebih akrab dan intim dari biasanya.
"Di kamar sendirian, Tante. Maaf ya tadi SMS-ku bener-bener salah kirim. Jadi ketahuan deh borokku kalau lagi pengen..." jawabku setengah tertawa, mencoba mencairkan suasana.
Kudengar Tante Yuni tertawa lepas di seberang sana. Baru kali ini aku mendengarnya tertawa sebebas itu. "Aku tadi kaget setengah mati lho baca SMS kamu. Kupikir si Bayu ini anaknya alim, polos, dan nggak ngerti hal-hal begituan. Ternyata... liar juga!"
"Hm... padahal aku beneran alim lho, Tante..." pancingku.
"Yeee... alim tapi ngajak kelonan! Emangnya siapa sih cewek itu?"
"Ya temen lama aja, Tante. Partner pertamaku." Aku memutuskan bicara blak-blakan. Toh sudah kepalang tanggung, aku yakin wanita sekelas Tante Yuni punya pikiran yang cukup terbuka.
"Wah... kok dia mau ya disuruh begitu tanpa ikatan status sama kamu?" tanyanya, nada suaranya berubah penasaran.
"Kami murni bersahabat baik, Tante. Urusan ranjang cuma pelengkap aja," jawabku apa adanya. Lagipula, di zaman sekarang, friends with benefits bukan lagi hal yang aneh di kalangan anak muda.
"Lalu, apa partnermu cuma dia dan dia cuma punya kamu?" selidik Tante Yuni semakin dalam.
"Kalau soal dia, aku nggak tahu. Tapi kami punya aturan sendiri. Kami sangat selektif dan sama-sama harus bertanggung jawab untuk main aman. Takut penyakit, Tante."
"Oh... safe sex, ya?"
"Betul! Oh ya, dari tadi aku kerasa kayak lagi di-BAP polisi nih. Kalau Tante sendiri gimana sama Om Ferdi? Kapan terakhir hubungan suami istri?" tanyaku balik, mengambil langkah yang jauh lebih berani.
Kudengar Tante Yuni menarik napas panjang dan mengembuskannya berat. Wah, sepertinya ada masalah besar nih, pikirku.
"Udah kira-kira dua bulan yang lalu, Bayu," jawabnya lirih.
Waktu yang sangat lama untuk pasangan suami istri yang sehat. Pasti ada yang tidak wajar.
"Om Ferdi lagi sakit, Tante?"
"Oh nggak... Entah kenapa, akhir-akhir ini dia sepertinya udah nggak bergairah lagi sama aku. Padahal dulu dia sangat dominan di ranjang. Minimal seminggu dua kali."
"Lho, Tante Yuni kan berhak nuntut dong. Itu kan nafkah batin. Udah coba dipancing duluan?"
"Aku sih pernah kasih kode kalau aku lagi pengen. Tapi dia selalu beralasan lagi capek atau nggak mood. Aku paling pantang memaksa siapa pun untuk urusan ranjang."
Celah terbuka lebar. "Oh... kalau Bayu sih nggak perlu nunggu dipaksa, Tante. Kalau Tante Yuni yang minta, aku pasti langsung jalan..." godaku asal. Momennya terasa sangat pas.
"Bayu, kamu itu masih muda, ganteng. Masa mau sih sama perempuan seumuranku? Suamiku aja udah nggak tertarik lagi sama aku..." keluhnya pelan.
"Tante Yuni serius ngomong gitu? Aku nggak nyangka wanita secantik dan semandiri Tante bisa ngerasa rendah diri begini. Tante itu baru 35 tahun, masih sangat segar, seksi, dan wangi. Kok bisa-bisanya ngerasa nggak laku?"
Aku benar-benar tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Bagaimana bisa sebuah SMS salah sasaran, dalam waktu beberapa menit berubah menjadi sesi konseling seks yang begitu transparan?
"Kamu lagi nganggur kan, Bayu? Bisa ke rumahku sekarang? Suamiku nggak ada di rumah kok, dia lagi cek lahan di desa sebelah."
Telepon ditutup sepihak.
Darahku berdesir kencang. Benarkah ini? Rasanya seperti mimpi di siang bolong. Tante Yuni, wanita matang yang selama ini selalu kuhormati sebagai klien dan orang tua muridku, baru saja mengundangku ke rumahnya saat suaminya tak ada!
Bergegas aku mengambil kunci motor dan meluncur ke rumahnya. Sepanjang jalan, kepalaku dipenuhi pertanyaan. Apakah aku benar-benar akan menidurinya hari ini? Rasanya terlalu berisiko. Ada Mbak Ning dan Caca di rumahnya. Belum lagi kalau Raka dan Jati tiba-tiba pulang sekolah.
Setibanya di sana, suasana rumah gedong itu tampak lengang.
"Ibu nunggu di ruang komputer di belakang, Mas," sapa Mbak Ning yang sedang asyik menonton TV di ruang tengah.
"Oh iya, makasih, Mbak. Ada error sedikit di programnya katanya," balasku memberi alibi yang sangat masuk akal.
Aku berjalan menyusuri lorong menuju ruang komputer keluarga yang juga difungsikan sebagai perpustakaan mini dan ruang piano. Begitu aku melangkah masuk, aku melihat Tante Yuni sedang berdiri bersandar pada meja kerja.
"Tutup aja pintunya, Bayu," instruksinya lirih.
Jantungku berdebar tak karuan. Setelah pintu rapat kututup, belum sempat aku mengucapkan sepatah kata, Tante Yuni sudah melangkah menghampiriku. Tanpa aba-aba, ia memeluk leherku erat. Posturnya yang mungil membuat kepalanya bersandar nyaman tepat di dadaku. Aroma parfum mahal bercampur wangi rambutnya seketika meruntuhkan kewarasanku.
Ini adalah pengalaman pertamaku dihadapkan langsung dengan wanita dewasa yang lebih tua dariku. Aku membeku. Otakku mencoba memilah tindakan apa yang paling tepat. Haruskah aku langsung menerkamnya? Atau kubiarkan saja?
"Tante Yuni... ada masalah?" bisikku sangat pelan.
Pelukannya justru semakin erat. Ia tak menjawab. Aku pun memilih diam. Aku menahan diri untuk tidak langsung liar. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya ia butuhkan saat ini.
"Aku cuma ingin memelukmu, Bayu. Udah lama banget aku nggak ngerasa sehangat dan senyaman ini di dalam pelukan seorang laki-laki. Kamu nggak keberatan kan?" akhirnya ia bersuara.
"Tentu aja aku nggak keberatan, Tante. Peluk aja sepuas Tante. Apapun yang Tante butuhkan sekarang, kalau aku mampu, bakal aku lakuin."
Kurasakan jemari lentiknya mencubit pinggangku ringan. "Sok romantis kamu. Aku bukan anak ABG yang gampang melayang dengar rayuan gombalmu itu. Nggak usah berlebihan, aku udah seneng banget kamu mau kupeluk begini..."
Hari itu aku belajar satu hal penting: wanita dewasa tidak butuh janji manis yang berlebihan, mereka butuh kehadiran dan pengakuan yang tulus.
"Tante Yuni, aku ngerasa beruntung banget bisa dipeluk wanita sehebat Tante. Siapa sangka SMS konyol tadi bisa berhadiah pelukan begini?" balasku jujur.
"Yah... aku simpati sama kamu, Bayu. Kamu supel sama anak-anakku, kamu sopan, kerjamu juga bagus. Kulihat, kamu memang pantas dapat pelukanku," bisik Tante Yuni mendongakkan wajahnya.
Jarak wajah kami kini hanya terpisah beberapa inci. Matanya menatap mataku dalam-dalam. Bibirnya yang dipoles lipstik tipis setengah terbuka. Hatiku berteriak liar untuk segera meraup bibir itu.
Aku tahu perbuatan ini salah. Ia adalah istri orang yang cukup punya nama di desa. Tapi di sisi lain, aku adalah lelaki normal yang kebetulan sedang berada di puncak hasrat, dan di hadapanku ada seorang wanita matang yang kehausan karena dua bulan diabaikan suaminya.
Aku mulai menakar situasi. Ruangan ini tertutup rapat walau tak kukunci. Mbak Ning tak akan berani sembarangan masuk tanpa mengetuk pintu.
Perlahan, aku memberanikan diri. Kuangkat tanganku, membelai garis rahang Tante Yuni dengan ujung jariku. Ia tampak sedikit gelisah, namun napasnya yang memberat menunjukkan bahwa ia menikmati sentuhan kulitku.
Kutundukkan wajahku perlahan. Sekejap, bibir kami bertaut. Sangat lembut dan hangat. Baru beberapa detik berlalu, ciuman itu terlepas. Tante Yuni kembali membenamkan wajahnya ke dadaku.
"Aku salah, Bayu. Aku rasa... aku mulai menyukaimu," bisiknya nyaris tak terdengar.
Pengakuan itu menjadi pelatuk. Darah mudaku mendidih. Aku menarik dagunya kembali menatapku. Kali ini, tak ada penolakan. Tante Yuni mengalungkan tangannya di leherku dan membalas ciumanku dengan hisapan yang menuntut. Kami berciuman dengan liar, bertukar lidah dan napas bak dua orang yang baru menemukan air di padang pasir.
Akal sehat kubuang jauh-jauh. Aku langsung mengangkat tubuh mungilnya dan mendudukkannya di atas meja komputer kayu yang kokoh. Posisinya yang lebih tinggi membuatku lebih leluasa mengeksplorasi tubuhnya.
Bibir kami tak sedetik pun terpisah. Tanganku mulai bergerak bergerilya, meremas payudaranya dari luar kemeja sutra yang ia kenakan. Tante Yuni menggeliat pelan, mendesah di sela ciuman kami.
Namun, saat tanganku mencoba menyusup masuk ke balik kemejanya untuk membuka kaitan pakaian dalamnya, ia menahan pergelangan tanganku. Rupanya ia masih bimbang, hanya ingin sebatas berciuman.
Tapi aku sudah kepalang tanggung. Hasrat lelakiku tak bisa dihentikan semudah itu. Dengan gerakan lembut namun memaksa, aku menyingkirkan tangannya, menyelinap ke punggungnya, dan klik! Kaitan bra-nya terlepas.
Kini payudaranya yang ranum dan kencang berada penuh dalam genggamanku. Ia merintih tertahan saat kuremas pelan gundukan itu.
"Gila kamu, Bayu. Aku nggak butuh ini... Cukup peluk aku!" tegur Tante Yuni dengan sisa kesadarannya.
Aku tahu itu hanya penolakan semu. Logikanya mungkin menolak, tapi respons tubuhnya berkata lain. Aku tak menghiraukan tegurannya. Kubuka satu per satu kancing kemejanya hingga tubuh bagian atasnya terekspos sempurna. Tante Yuni hanya bisa mendesah pasrah saat aku mulai memanjakan mahkotanya. Kuhisap dan kujilat pucuknya yang sudah mengeras, membuatnya melenguh panjang sambil mencengkeram erat rambutku.
"Ahhhh... Bayu..."
Kini, tak ada lagi yang menutupi birahinya. Tanganku turun menyusuri perutnya, lalu menyelinap ke balik rok kerjanya. Kuusap paha bagian dalamnya yang terasa panas. Saat jemariku menyentuh celana dalamnya, kain tipis itu sudah basah kuyup.
Tante Yuni merapatkan kedua kakinya kuat-kuat. Ia menggelengkan kepala. Aku mundur sejenak, tak ingin memaksanya. Aku punya taktik lain untuk menghancurkan sisa-sisa pertahanannya.
Kuubah arah seranganku. Aku mengecup lehernya, turun ke tengkuk, lalu berbisik meniup telinganya.
"Ergh..." lenguhnya.
Aku tersenyum menang. Telinga dan leher adalah kelemahannya. Kuperdalam cumbuanku di area itu sambil jemariku menggambar pola-pola abstrak di punggung mulusnya. Tubuh Tante Yuni bergetar hebat.
"Ka... mu... nakal... Pinter banget bikin aku... begini..." bisiknya terputus-putus menahan nikmat.
"Tante Yuni cantik banget. Aku pengen kasih kamu kenikmatan yang selama ini hilang," balasku parau.
"Aku juga mau, Bayu... tapi aku takut ketahuan..."
"Aman, Tante," bisikku menenangkan.
Untuk memastikan keamanan, aku mengambil kursi terdekat dan mengganjal gagang pintu rapat-rapat. Jauh lebih efektif daripada mengunci pintu yang justru bisa memancing kecurigaan jika ada yang memaksa masuk.
Begitu aku kembali kepadanya, tatapannya sudah benar-benar sayu. Saat tanganku kembali menyusup ke balik roknya, kedua kakinya tak lagi mengunci. Ia membiarkan celah itu terbuka lebar. Jemariku dengan mudah menyentuh pusat gairahnya.
"Aahhh..." Tante Yuni meremas pundakku saat jemariku mulai menari, memainkan titik paling sensitif miliknya.
Gairahnya meledak seketika. Tante Yuni tak lagi pasif. Tangannya yang gemetar turun melepas sabuk dan kancing celanaku. Begitu ia berhasil membebaskan kejantananku yang sudah menegang sakit, ia menggenggam dan mengelusnya perlahan.
Sensasi sentuhan tangan wanita matang ini membuat napasku memburu. Tanpa basa-basi lagi, kutarik turun celana dalam dan roknya hingga sebatas lutut. Kami bertatapan. Di mata Tante Yuni, hanya ada kabut hasrat dan kepasrahan total.
Perlahan, aku mengarahkan pusakaku. Karena Tante Yuni sudah sangat siap dan basah, penyatuan itu terjadi dengan sangat mulus. Aku bisa merasakan kehangatan rahimnya yang mencengkeram erat kejantananku. Rasa nikmatnya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Tanpa pengaman sama sekali, sentuhan skin-to-skin itu membuatku nyaris lepas kendali di menit-menit awal.
Aku menarik napas panjang, mencoba mempertahankan ritme. Kutarik, kudorong masuk kembali, kuputar perlahan. Kami menyatu dalam irama gairah yang membakar ruang komputer itu.
Desahan dan rintihan tertahan Tante Yuni beradu dengan bunyi ritmis pertautan kami. Aku mengerahkan segenap tenagaku untuk memberinya pelayaran yang tak akan ia lupakan. Keringat membanjiri tubuh kami berdua.
Karena aku tak menggunakan pengaman, sensitivitas senjataku berada di titik maksimal. Untuk menahan agar aku tak tumpah lebih dulu, aku mengatur napas dalam-dalam. Aku sengaja menurunkan tempo di saat-saat kritis, memastikan Tante Yuni mendapatkan haknya terlebih dahulu.
"Bayu... kamu hebat banget..." rancau Tante Yuni di sela napasnya yang ngos-ngosan. Wajah ayunya memerah padam, rambutnya berantakan menempel di dahi, membuatnya terlihat luar biasa seksi.
Guncangan tubuhnya semakin liar. Ia mencengkeram kemejaku di bagian punggung hingga nyaris robek. Giginya bergemeretak menahan jeritan yang sudah menumpuk di tenggorokan.
Melihat ia sudah berada di ujung tebing orgasme, aku segera mengambil kemeja kerjanya yang tergeletak di meja dan menyumpalkannya ke mulutnya. "Gigit ini, Tante, biar suaranya nggak keluar," bisikku.
Tante Yuni menurut. Ia menggigit kain kemeja itu kuat-kuat. Aku pun mengamuk, mempercepat tempo seranganku dengan tenaga penuh.
"Arghhh... Ya... Terus... Dikit lagiii..." erangnya tak jelas melalui gigitan kain.
Beberapa detik kemudian, tubuh mungilnya mengejang keras. Ia menghentak-hentak di atas meja, kedua tangannya memeluk leherku dengan kekuatan penuh. Rintihan panjang meluncur dari mulutnya. Rahimnya berkedut hebat, mencengkeram pusakaku seolah ingin meremukkannya.
"Aargghh... Sstt..."
Aku merasakan cairan hangat menyembur melumasi pusakaku. Itulah momennya. Bersamaan dengan orgasme hebat yang dialami Tante Yuni, pertahananku pun jebol. Dengan gerakan cepat, aku menarik paksa kejantananku keluar.
Crot!
Lahar panasku menyembur deras, mengotori perut putih dan dada Tante Yuni. Aku terengah-engah menatap hasil karyaku. Perjuanganku menahan tempo membuahkan hasil memuaskan. Mengantarkan wanita sekelas Tante Yuni menggapai puncaknya memberikan sensasi kebanggaan luar biasa bagiku sebagai lelaki.
Tante Yuni segera menarik napas panjang, matanya terpejam meresapi sisa-sisa badai kenikmatan. Tak lama, ia buru-buru mengambil sekotak tisu di sudut meja, membersihkan kekacauan di tubuhnya, dan merapikan kembali pakaiannya dalam waktu kurang dari semenit. Aku pun segera memasang sabukku.
Ruangan itu mendadak hening, hanya terdengar deru AC yang mendinginkan suhu tubuh kami yang perlahan turun. Kami saling berpandangan. Ada rona kepuasan mutlak di wajah ayunya. Ia tersenyum sangat manis ke arahku.
"Maaf ya, Tante... aku udah kelewat batas," kataku memecah keheningan.
"Iya! Kamu tadi nggak sopan banget maksa buka-buka baju!" omelnya dengan nada manja sambil tertawa kecil.
Kami tertawa bersama. Aku merengkuh tubuh mungilnya, mengecup keningnya, dan menyeka sisa keringat di dahinya.
"Habisnya Tante Yuni juga, udah tahu aku lagi horny berat malah nantangin nyuruh datang ke sini," balasku membela diri.
"Terus terang aku juga lagi pengen banget, Bayu. Begitu tahu kamu ternyata lumayan 'liar', aku jadi penasaran. Tapi tadi aku sempet takut kebablasan. Untung kamu nekat maksa... aku jadi terpuaskan banget. Makasih ya, Bayu..."
Mendengar wanita matang nan sukses ini berbicara manja padaku membuat egoku melambung tinggi. "Aku juga seneng banget bisa bantu Tante Yuni," balasku merapatkan pelukan.
Ia berjinjit dan kembali melumat bibirku dengan lembut. Ciuman after-play ini terasa jauh lebih emosional dan hangat. Kami berpelukan cukup lama. Di sela-sela pelukan itu, kudengar ia berbisik.
"Aku sayang kamu, Bayu. Terima kasih buat semuanya hari ini. Baru kali ini aku ngerasa bener-bener dihargai dan sangat dibutuhkan sebagai wanita..."
Kata-kata itu terpatri kuat di kepalaku.
Tak lama, kami merapikan ruangan dan menyingkirkan kursi pengganjal. Aku pamit pulang. Saat aku berjalan menyusuri ruang tengah menuju pintu depan, aku melirik iseng ke arah kamar asisten rumah tangganya karena pintu sedikit terbuka.
"Hayo... ngintip ya, Mas Bayu! Dasar cowok!" tegur Mbak Ning dari dalam kamarnya sambil tertawa.
Aku terkejut dan nyengir kuda. "Maaf-maaf, Mbak Ning! Tak kirain tadi ke mana kok sepi... Aku pamit pulang dulu ya!"
"Iya, Mas. Hati-hati, buka gerbangnya sendiri ya!" balasnya dari dalam.
Aku melenggang keluar rumah itu dengan perasaan paling menang di dunia. Hari itu, aku tak sekadar membereskan program komputer, tapi aku juga sukses me-restart kembali gairah seorang wanita matang yang kesepian.
ns216.73.216.208da2


