Malam semakin larut, namun kantuk sama sekali tidak menghampiri Boy. Ia berbaring terlentang di atas kasurnya, menyilangkan kedua tangan di belakang kepala sambil menatap langit-langit kamar yang temaram. Kamarnya begitu sunyi, hanya menyisakan dengung kipas angin yang berputar konsisten, memberikan ruang bagi isi kepalanya untuk berkelana dengan bebas.
Sebuah senyum lebar penuh kemenangan tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Di usia remajanya yang masih belasan tahun, Boy merasa telah mencapai sesuatu yang mustahil bagi anak-anak seusianya. Pikirannya malam itu terbagi menjadi dua kompartemen, secara bergantian memutar kembali memori tentang dua wanita dewasa yang berhasil ia tundukkan.
Pertama, pikirannya melayang pada Ummu Aisyah. Wali kelasnya yang selalu tampil tegas, disiplin, dan formal di sekolah. Boy membayangkan kembali bagaimana suara berwibawa itu berubah drastis menjadi rintihan pasrah di balik sambungan telepon rahasia mereka. Di sekolah, Ummu Aisyah mungkin masih menatapnya dengan pandangan jengkel sekaligus iba karena statusnya sebagai anak yatim, tanpa pernah menyadari bahwa otoritasnya sebagai guru telah runtuh sepenuhnya dalam permainan kata-kata semalam.
Kemudian, bayangan itu berganti menjadi sosok Ummi Sarah. Ibu dari Fikri, seorang ustadzah yang begitu dihormati dan dipandang suci oleh lingkungan sekitar. Mengingat kembali kepasrahan total wanita berkulit putih dan bertubuh montok itu di sofa ruang tamunya sendiri membuat darah Boy kembali berdesir hebat. Strategi manipulatifnya, mulai dari berpura-pura menjadi anak yatim yang butuh bimbingan hingga memanfaatkan situasi remang, telah berhasil meruntuhkan benteng keimanan sang ustadzah.
Dua wanita dengan otoritas dan posisi terhormat dalam hidupnya kini telah takluk di bawah kendali rahasianya. Baginya, ini bukan sekadar pemuasan ego atau gairah remaja biasa, melainkan sebuah pembuktian kekuatan. Sambil memejamkan mata, Boy menikmati rasa puas yang luar biasa itu, menyadari bahwa mulai besok, ia akan menjalani hari-harinya di sekolah dan di lingkungan rumah dengan sebuah rahasia besar yang membuatnya merasa berada di atas angin dari siapa pun.
Boy menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan sisa-sisa adrenalin yang masih terasa di dadanya. Di balik sifat badung dan manipulatifnya, Boy adalah seorang oportunis yang cukup cerdas. Ia tahu kapan harus menekan, dan kapan harus menarik diri. Skenario di rumah Fikri tadi sore sudah berjalan terlampau jauh, dan jika ia tidak berhati-hati, benteng yang baru saja ia runtuhkan bisa berubah menjadi bumerang yang menghancurkannya.
Ia tahu persis karakter wanita seperti Ummi Sarah. Seorang ustadzah terhormat, pemuka agama di lingkungan mereka, dan seorang ibu. Begitu pengaruh obat dan kabut gairah itu benar-benar hilang dari tubuhnya, akal sehat dan rasa bersalah yang teramat besar pasti akan menghantam wanita itu seperti gada besi. Ummi Sarah bisa saja panik, histeris, atau yang paling berbahaya—merealisasikan ancamannya untuk melapor polisi.
“Gue kudu main rapi,” batin Boy sambil membalikkan posisi tubuhnya menjadi miring, menatap ponselnya yang tergeletak di samping bantal.
Memberikan ruang dan waktu adalah strategi terbaik saat ini. Jika besok atau lusa ia tiba-tiba muncul lagi di rumah Fikri dengan senyum tanpa dosa, itu justru akan memicu alarm bahaya di kepala Ummi Sarah. Wanita itu akan merasa terancam. Namun, jika ia menghilang sejenak, membiarkan situasi mendingin, Ummi Sarah akan tenggelam dalam pergolakan batinnya sendiri, mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi, dan perlahan terbiasa dengan rahasia kelam di antara mereka.
Boy memutuskan untuk tidak menghubungi Fikri dulu selama beberapa hari ke depan. Di sekolah pun, ia akan bersikap seolah-olah fokus pada urusannya sendiri. Strategi ghosting sementara ini dirancang agar Ummi Sarah punya waktu untuk menata kembali emosinya yang porak-poranda, sekaligus memberi ruang agar rasa bersalah itu berubah menjadi ketakutan yang pasif—ketakutan yang suatu saat nanti bisa kembali Boy manfaatkan.
Sambil menarik selimutnya, Boy tersenyum tipis. Biarlah sang ustadzah bergelut dengan pikirannya sendiri malam ini. Permainan panjang ini baru saja dimulai, dan Boy sama sekali tidak terburu-buru.
Keputusan untuk menarik diri sementara dari radar Ummi Sarah membuat Boy mengalihkan seluruh fokus dan energinya kembali ke sekolah. Targetnya kini beralih sepenuhnya pada Ummu Aisyah, wali kelasnya yang masih mengira bahwa rahasia malam itu terkunci rapat bersama seorang pria asing di ujung telepon.
Keesokan harinya di sekolah, Boy mulai melancarkan aksi dengan ritme yang lebih agresif, namun tetap terukur. Jika biasanya ia menunjukkan kebadungan dengan cara membuat keributan yang mengganggu kelas, kini ia mengubah taktiknya menjadi kebadungan yang sengaja memancing interaksi personal dengan Ummu.
Saat pelajaran jam pertama dimulai, Boy sengaja tidak mengumpulkan tugas esai yang sudah ditagih sejak minggu lalu. Ketika Ummu Aisyah memeriksa lembar pengumpulan di mejanya dan menyadari satu nama absen, wanita itu langsung menghela napas panjang, menatap ke arah bangku belakang.
"Boy," panggil Ummu Aisyah, nadanya terdengar lelah namun tetap berusaha sabar mengingat status Boy sebagai anak yatim tetangganya. "Mana tugas kamu? Ibu tidak melihatnya di tumpukan ini."
Boy tidak menyengir seperti biasanya. Kali ini, ia menatap Ummu dengan pandangan yang dalam, sedikit berani, mirip dengan intensitas tatapan yang ia berikan pada Ummi Sarah tempo hari.
"Maaf, Bu. Saya benar-benar tidak paham cara menyelesaikannya. Semalam di rumah... ," jawab Boy, sengaja menyelipkan nada melas tentang kesendiriannya di rumah demi memancing rasa iba Ummu.
Umpan itu, seperti biasa, berhasil melunakkan kekesalan Ummu. Wali kelasnya itu merapikan berkasnya lalu berkata, "Kalau begitu, sepulang sekolah nanti kamu ke ruangan Ibu. Ibu akan jelaskan bagian yang kamu tidak mengerti. Jangan dibiasakan menunda tugas, Boy."
"Baik, Bu. Terima kasih," sahut Boy pelan.
Di balik wajah patuhnya, Boy meraba ponsel di saku celananya. Strateginya berjalan mulus. Dengan mendapatkan waktu berdua di ruang guru yang sepi saat jam pulang sekolah, ia memiliki kesempatan emas untuk mengamati gerak-gerik Ummu Aisyah dari dekat, sekaligus mempersiapkan panggilan telepon misterius berikutnya nanti malam yang akan terasa jauh lebih intens karena ia sudah mengantongi detail ekspresi wajah gurunya hari ini.
Bel pulang sekolah berbunyi, memicu keriuhan massal saat para siswa berhamburan keluar kelas. Boy sengaja memperlambat gerakannya, merapikan buku-bukunya ke dalam tas dengan santai hingga ruang kelas benar-benar kosong. Setelah memastikan Fikri sudah pulang duluan bersama anak-anak remaja masjid, Boy melangkah menuju ruang guru.
Koridor sekolah sudah mulai sepi, hanya menyisakan beberapa anak yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di lapangan. Boy mengetuk pintu ruang guru yang sebagian besar lampunya sudah dimatikan, menyisakan area meja Ummu Aisyah di sudut ruangan yang masih terang.
"Permisi, Bu," ucap Boy sambil melangkah masuk.
Ummu Aisyah mendongak dari tumpukan kertas koreksiannya. Wanita itu tampak sedikit lelah; jilbab seragamnya sedikit longgar, dan kacamata bertengger di hidungnya. "Ah, Boy. Silakan duduk," ujarnya sambil menggeser sebuah kursi di dekat mejanya.
Boy duduk, sengaja menarik kursinya sedikit lebih dekat dari batas normal antara guru dan murid. Ia mengeluarkan buku tulis dan meletakkannya di meja, namun pandangannya sama sekali tidak tertuju pada lembar kertas itu. Mata Boy justru mengunci wajah Ummu Aisyah yang kini sedang sibuk membuka buku panduan.
"Bagian mana yang kamu bilang tidak paham semalam?" tanya Ummu Aisyah, suaranya yang tegas di kelas kini terdengar lebih lembut karena kelelahan.
"Sebenarnya... hampir semuanya, Bu," jawab Boy dengan suara yang sengaja direndahkan. "Semalam pikiran saya kacau sekali. Fokus saya buyar, terutama... setelah mendengar suara-suara di lingkungan rumah."
Mendengar kata "semalam" dan "suara-suara," gerakan tangan Ummu Aisyah mendadak terhenti. Jantungnya berdegup agak kencang. Bayangan tentang telepon misterius semalam yang membongkar privasinya langsung melintas di kepalanya. Tentu saja, ia sama sekali tidak mencurigai bahwa remaja di depannya inilah pelakunya, namun referensi itu entah mengapa membuatnya merasa tidak nyaman.
"Pikiran kacau tidak bisa jadi alasan untuk menelantarkan tugas, Boy," ucap Ummu Aisyah, mencoba mengalihkan rasa gugupnya dengan nada tegas yang biasa ia gunakan. Ia mulai menuliskan beberapa poin penjelasan di buku Boy.
Boy memperhatikan jemari gurunya yang bergerak di atas kertas. Dari jarak sedekat ini, ia bisa menghirup aroma parfum mawar yang lembut dari tubuh Ummu Aisyah. Kedekatan ini memberikan kepuasan tersendiri bagi Boy. Di depan publik, wanita ini adalah otoritas tertingginya di kelas, namun di dalam sakunya, ponsel Boy menyimpan kendali penuh atas rahasia terbesar wanita itu.
Selama sisa sore itu, Boy bersikap menjadi murid yang sangat penurut. Ia mencatat setiap penjelasan dengan tekun, sesekali mengangguk sopan, dan menampilkan impresi anak yatim yang sedang berusaha keras memperbaiki nilainya. Namun, di dalam kepalanya, Boy sedang merekam setiap detail dari wanita di hadapannya: bagaimana cara Ummu Aisyah memilin ujung jilbabnya saat berpikir, atau bagaimana helai napasnya terdengar berat ketika lelah.
Semua detail visual dan auditori itu ia simpan rapat-rapat sebagai bahan bakar utama untuk rencana berikutnya.
Begitu sesi belajar selesai dan Boy berpamitan dengan sopan, ia melangkah keluar dari ruang guru dengan senyum penuh kemenangan yang tersembunyi. Langkah kakinya menyusuri koridor sekolah yang mulai menggelap terasa begitu mantap. Di dalam saku celananya, jemari Boy mengusap permukaan ponselnya.
Ia sudah memberi waktu bagi Ummi Sarah untuk tenggelam dalam kepanikan dan rasa bersalahnya sendiri di rumah. Kini, malam yang akan datang adalah giliran untuk Ummu Aisyah. Boy sudah tidak sabar untuk kembali ke kamar, mematikan lampu, dan menekan tombol panggil tersembunyi untuk mempermainkan emosi sang wali kelas melalui balik telepon rahasia mereka.
Di rumahnya yang sepi, dinamika antara Boy dan ibunya berjalan dalam ritme yang dingin dan penuh jarak. Sejak sang ayah meninggal dunia beberapa tahun lalu, rumah dua lantai itu kehilangan kehangatannya, menyisakan dua orang penghuni yang hidup di bawah satu atap namun sibuk dengan dunia mereka masing-masing.
Ibu Boy adalah seorang wanita karier yang sibuk sekaligus aktif dalam berbagai kegiatan sosial di luar rumah. Bagi sang ibu, pelarian terbaik dari rasa kehilangan setelah ditinggal suaminya adalah dengan menimbun diri dalam rutinitas pekerjaan dan lingkaran pertemanan. Hal ini membuat Boy tumbuh dengan kebebasan yang hampir tanpa batas di rumah.
Sore itu, sepulang dari sekolah, Boy mendapati mobil ibunya sudah terparkir di garasi—sebuah pemandangan yang cukup jarang terjadi di hari kerja. Saat melangkah masuk, ia melihat ibunya sedang duduk di meja makan, sibuk memeriksa berkas pekerjaan dengan kacamata baca bertengger di hidungnya, ditemani secangkir kopi yang sudah mendingin.
"Baru pulang, Boy?" tanya ibunya tanpa menoleh, jemarinya masih sibuk membalik halaman kertas.
"Iya, Bu. Tadi ada remedial dulu sama Bu Ummu di sekolah," jawab Boy santai sambil melepas tas ranselnya dan mencopot sepatu.
Sang ibu menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Boy dengan pandangan yang campur aduk—antara rasa bersalah karena jarang mendampingi anaknya, dan rasa iba melihat Boy yang kini tumbuh besar sebagai anak yatim.
"Uang jajan di meja dapur masih ada? Kalau kurang, ambil saja di dompet Ibu. Ibu nanti malam harus keluar lagi, ada rapat sampai larut," ucap ibunya, suaranya melembut, mencoba mengompensasi kehadirannya yang minim dengan materi.
Boy menatap ibunya, lalu mengangguk dengan senyum sopan yang biasa ia gunakan untuk mengelabui orang dewasa. "Masih ada kok, Bu. Gak apa-apa, pergi aja. Boy bisa sekalian belajar di kamar."
"Ya sudah. Jangan lupa dikunci pintunya kalau Ibu belum balik," balas ibunya, kembali fokus pada berkasnya.
Di balik sikap penurutnya, Boy sebenarnya sangat menikmati situasi ini. Ketidakhadiran ibunya secara emosional dan fisik justru menjadi bahan bakar utama yang membentuk karakternya menjadi remaja yang manipulatif. Boy tahu persis bagaimana cara memanfaatkan rasa bersalah ibunya. Dengan memasang wajah tegar yang mandiri dan kesepian di depan sang ibu, ia selalu mendapatkan apa yang ia mau, termasuk kebebasan mutlak di dalam kamarnya tanpa pernah dicurigai.
Sambil membawa segelas air, Boy melangkah menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan dikunci dari dalam, senyum santun di wajahnya lenyap, digantikan oleh tatapan dingin yang tajam. Di sinilah, di ruang pribadinya yang tidak pernah dimasuki oleh sang ibu, Boy memegang kendali penuh atas rahasia-rahasia besarnya, siap melanjutkan permainan manipulasi terhadap wanita-wanita dewasa di luar sana.
Malam sudah larut saat suara deru mobil ibunya yang perlahan menjauh dari pagar rumah digantikan oleh keheningan malam. Boy baru saja hendak merebahkan tubuhnya di kasur ketika sebuah suara tiba-tiba memecah kesunyian rumah dua lantai itu.
Ting tong.
Bunyi bel rumah di lantai bawah terdengar nyaring. Boy mengernyitkan dahi, melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan waktu yang cukup larut. Dengan langkah santai, Boy menuruni anak tangga satu per satu, menyalakan lampu ruang tamu, lalu menarik daun pintu kayu tebal itu terbuka.
Detik itu juga, napas Boy tercekat. Matanya membelalak, benar-benar terkejut dengan pemandangan di hadapannya. Di balik remang cahaya teras, berdiri sosok Ummi Sarah.
Wanita itu mengenakan gamis berwarna gelap dengan jilbab instan panjang yang tampak dikenakan tergesa-gesa. Wajah sang ustadzah terlihat pucat, matanya memancarkan kecemasan yang luar biasa, dan jemarinya meremas ujung jilbabnya sendiri dengan sangat erat.
"Ummi...?" suara Boy terdengar agak terbata. Ia melirik ke arah jalanan di luar pagar yang sepi, memastikan tidak ada orang lain atau Fikri yang mengikuti wanita itu. "Ada apa, Ummi? Kok malam-malam ke sini?"
Ummi Sarah menarik napas pendek yang bergetar, mencoba menahan rasa takut dan malu yang bercampur aduk di dalam dadanya. Ia menatap Boy dengan pandangan memohon yang teramat sangat.
"Boy... Ummi mohon sama kamu," bisik Ummi Sarah, suaranya tercekat di tenggorokan. "Tolong... tolong hapus video itu, Boy. Jangan hancurkan nama baik Ummi dan keluarga Fikri. Ummi minta maaf kalau ada salah, tapi Ummi mohon... hapus rekaman itu sekarang di depan Ummi."
Air mata mulai menggenang di sudut mata sang ustadzah, meruntuhkan seluruh wibawa yang selama ini ia miliki.
Boy yang semula terkejut perlahan-lahan mulai menguasai keadaan. Mendengar rintihan ketakutan dari wanita dewasa yang begitu dihormati di lingkungan mereka, sebuah senyum tipis yang dingin mulai terbit di sudut bibirnya. Rasa puas yang luar biasa kembali membuncah di dada remaja badung itu, menyadari bahwa ia kini memegang kendali mutlak atas hidup ibu dari teman sekolahnya itu.
Melihat kepanikan yang begitu nyata di wajah Ummi Sarah, Boy bergerak dengan sangat tenang. Ia membuka daun pintu rumahnya lebih lebar, memberikan ruang yang cukup lapang untuk wanita itu masuk.
"Ummi, masuk dulu saja. Bicara di luar jam segini tidak enak kalau ada tetangga yang lewat," ucap Boy dengan suara yang sengaja dilembutkan, memasang kembali topeng anak muda yang sopan dan peduli.
Ummi Sarah menatap ke dalam rumah yang tampak remang dan sepi itu dengan keraguan yang amat besar. Langkah kakinya terasa berat, terpatri di atas ubin teras. Logikanya meneriakkan alarm bahaya untuk tidak melangkah masuk ke dalam rumah seorang remaja laki-laki di tengah malam. Namun, rasa enggan dan ketakutannya langsung kalah ketika ia mendengar suara sayup kendaraan dari kejauhan.
Khawatir ada warga atau kenalan pengajiannya yang melintas dan melihatnya berdiri di teras rumah Boy pada jam larut seperti ini, Ummi Sarah akhirnya menyerah. Dengan tubuh yang sedikit gemetar, ia melangkah cepat melewati ambang pintu.
Klik.
Boy menutup kembali pintu kayu tebal itu dan memutar kuncinya dari dalam, memutus akses dari dunia luar seutuhnya. Suara kunci yang berputar itu terdengar begitu tegas di telinga Ummi Sarah, membuat dadanya kian berdegup kencang karena menyadari bahwa kini ia telah benar-benar masuk ke dalam wilayah kekuasaan Boy.
"Silakan duduk, Ummi," kata Boy santai.
Ummi Sarah tidak langsung duduk. Ia berdiri kaku di dekat sofa ruang tamu, mendekap tas kecilnya di depan dada seolah benda itu adalah perisai terakhirnya. Sepasang matanya yang sayu dan berkaca-kaca terus mengikuti pergerakan Boy yang kini berjalan mendekatinya tanpa rasa canggung sedikit pun.
Boy berjalan mendekat dengan langkah yang sengaja diperlambat, menikmati setiap jengkal kecemasan yang terpancar dari tubuh Ummi Sarah. Alih-alih duduk di sofa yang berseberangan, Boy justru melangkah langsung ke arah sofa tempat Ummi Sarah akhirnya terduduk karena lemas.
"Ummi tenang saja, di sini aman," bisik Boy, mengambil posisi duduk yang sangat dekat di samping sang ustadzah.
Jarak yang begitu minim ini seketika mengembalikan memori sore itu di rumah Fikri. Aroma parfum Ummi Sarah yang khas kembali memenuhi indra penciuman Boy, memicu gairah yang sempat ia redam malam ini. Ummi Sarah tampak tersentak dan refleks menggeser tubuhnya menjauh hingga terdesak ke sudut sandaran sofa, namun matanya yang berkaca-kaca tetap terkunci pada sosok remaja di sampingnya.
"Mana... mana ponsel kamu, Boy? Hapus sekarang," tagih Ummi Sarah dengan suara yang kian melemah, mencoba mempertahankan sisa-sisa otoritasnya yang kian terkikis.
Boy tidak langsung menjawab. Ia justru mengeluarkan ponselnya dari saku celana, memutarnya di antara jemarinya dengan santai, lalu meletakkannya di atas meja kaca di depan mereka. "Menghapus video ini gampang, Ummi. Tapi... apa adil buat saya kalau langsung dihapus begitu saja?"
Mendengar kalimat itu, napas Ummi Sarah tertahan. "Maksud kamu apa, Boy?"
"Ummi tahu sendiri kan, saya ini cuma anak yatim. Di rumah selalu sepi, gak ada yang peduli. Tapi sejak kemarin sore... saya jadi sering kepikiran Ummi," ucap Boy dengan nada suara yang perlahan berubah, menjadi lebih rendah dan penuh intimidasi yang halus.
Tangan Boy mulai bergerak, perlahan menyentuh punggung tangan Ummi Sarah yang sedang mendekap tasnya dengan erat. Sentuhan itu membuat tubuh wanita dewasa itu menegang seutuhnya, namun rasa takut akan kehancuran nama baiknya membuat ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk menepis tangan Boy.
"Kalau Ummi mau video ini hilang, Ummi harus bisa bikin saya senang. Sama seperti sore kemarin," bisik Boy tepat di dekat telinga Ummi Sarah, memanfaatkan kepasrahan dan ketergantungan wanita itu pada rahasia yang ia pegang.
Air mata Ummi Sarah akhirnya menetes melewati pipinya yang pucat. Logika dan harga dirinya menangis, namun di bawah tekanan ancaman yang begitu nyata serta posisi tertutup di dalam rumah ini, ia menyadari bahwa dirinya telah sepenuhnya takluk. Tubuhnya perlahan kembali lemas, memberikan tanda kepasrahan total yang langsung ditangkap oleh Boy sebagai lampu hijau untuk mengulangi dominasinya.
Boy tidak menyia-nyiakan kesempatan dari kepasrahan total yang kini ditunjukkan oleh wanita dewasa di sampingnya. Keheningan rumah yang sepi membuat setiap helai napas berat dan rintihan lirih Ummi Sarah terdengar begitu jelas, memicu adrenalin remaja itu untuk melangkah jauh lebih berani.
Tangan Boy yang semula hanya menyentuh punggung tangan Ummi Sarah kini mulai bergerak perlahan naik, mengusap lengan gamisnya dengan tekanan yang menuntut. Sentuhan itu terasa begitu kontras dengan tubuh Ummi Sarah yang kaku namun perlahan mulai melemas, kehilangan sisa-sisa daya untuk menolak. Sang ustadzah hanya mampu memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air mata kecemasan berbaur dengan gejolak asing yang kembali dipaksakan hadir di dalam dirinya.
"Boy... tolong, jaga rahasia ini..." bisik Ummi Sarah dengan suara yang sangat parau, nyaris tak terdengar. Kata-katanya bukan lagi sebuah perintah dari seorang yang dituakan, melainkan sebuah permohonan pasrah dari seorang wanita yang telah kehilangan seluruh kendali atas situasinya.
"Pasti, Ummi. Asalkan Ummi nurut sama saya," sahut Boy dengan suara rendah, mengunci fokusnya sepenuhnya pada sosok di hadapannya.
Ummi Sarah membuka matanya, menatap Boy dengan tatapan yang sangat lekat di antara sisa air matanya. Mengumpulkan sisa keberanian dan ketegasan terakhir yang ia miliki, ia menahan pergerakan tangan Boy dengan memegang pergelangan tangan remaja itu.
"Dengan satu syarat, Boy," ucap Ummi Sarah, suaranya bergetar namun terdengar sangat bersungguh-sungguh. "Hapus video itu sekarang juga. Di depan mata Ummi. Kalau tidak, Ummi lebih baik keluar dari rumah ini dan menanggung semua risikonya sekalian."
Boy menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap lekat-lekat mata sang ustadzah, membaca keseriusan dan batas akhir dari kesabaran wanita di hadapannya. Sebagai seorang oportunis, Boy tahu kapan sebuah umpan telah mencapai batas maksimalnya. Jika ia menolak sekarang, Ummi Sarah bisa saja nekat berbuat hal yang merugikan skenario jangka panjangnya.
Sambil tersenyum tipis penuh kemenangan, Boy meraih ponselnya yang tergeletak di meja kaca dengan tangan kirinya. Ia membuka kunci layar, masuk ke dalam galeri penyimpanan, dan mengarahkan layar ponsel itu tepat di depan wajah Ummi Sarah.
"Oke. Sesuai perjanjian ya, Ummi," kata Boy santai.
Di hadapan pandangan tajam Ummi Sarah, ibu jari Boy menekan tombol hapus pada berkas video tersebut, lalu masuk ke folder "Recently Deleted" (Baru Saja Dihapus) dan membersihkannya secara permanen hingga ruang penyimpanan itu benar-benar kosong.
"Sudah bersih, Ummi. Tidak ada sisa," bisik Boy kembali meletakkan ponselnya, menatap Ummi Sarah yang kini mengembuskan napas lega yang amat panjang, seolah sebuah batu besar baru saja diangkat dari dadanya.
Dengan hilangnya ancaman digital tersebut, benteng pertahanan Ummi Sarah kini bukan lagi runtuh karena paksaan atau ketakutan akan pemerasan, melainkan karena ia harus memenuhi konsekuensi dari kesepakatan yang baru saja ia buat sendiri di dalam ruang tamu yang sepi itu.
Boy, yang menyadari situasi kini sepenuhnya berada di bawah kendalinya tanpa perlu lagi menggunakan ancaman digital, kembali mendekatkan posisinya. Keheningan malam di dalam rumah dua lantai itu menjadi saksi bagaimana batasan-batasan sosial dan moral antara seorang dewasa yang dihormati dan remaja manipulatif itu runtuh seutuhnya.
Ummi Sarah tidak lagi menarik diri atau mencoba menjauh ke sudut sofa. Ia hanya mampu memejamkan mata, membiarkan helai napasnya yang berat berbaur dengan keheningan ruangan saat Boy melanjutkan dominasinya, memanfaatkan pemenuhan janji dari kesepakatan yang baru saja mereka kunci bersama.
"Ingat, Ummi seorang ustadzah. Ustadzah itu nggak boleh bohong kan? Ummi udah janji bakal nurut kan? Sekarang Boy tagih janjinya," ucap Boy lirih sambil merangkul pundak Ummi Sarah.
Tubuh ustadzah itu menegang. Boy tersenyum penuh kemenangan menyadari Ummi Sarah sudah sepenuhnya pasrah. Tangannya menekan pipi halus ustadzah itu agar mendekat lalu dengan nakal dia menjilat bibir suci itu sebelum akhirnya melumatnya dengan nafsu.
"Buka mulutnya Ummi, keluarin lidahnya," perintah Boy.
Tak ada pilihan lain selain menuruti keinginan anak ini, Ummi Sarah pun membuka mulut dan mengeluarkan lidahnya yang langsung dilumat, dijilat, dan dihisap Boy. "Slurppppp... Mmmphhhh... Slurppppp... "
Bersamaan Boy pun mulai melucuti gamis sang Ustadzah. Pundaknya yang putih langsung jadi santapan Boy berikutnya. "Slurppppp.. Slurppppp... Mphhhhhh... "
Napas Ummi Sarah yang semula memburu karena panik kini berubah ritme menjadi lebih berat dan teratur, seiring dengan debaran jantungnya yang bukan lagi dipicu oleh rasa takut, melainkan oleh gejolak hasrat yang mulai membakar kesadarannya. Rasa geli menjalar dari pundaknya yang tengah jadi santapan remaja itu. Desahan kecil tak mampu lagi ia sembunyikan. Apalagi saat gundukan payudaranya diremas dengan gemas oleh remaja itu. "Ahhhhhh.... Hmmmmmm... Ahhhhhh... " Tubuhnya menggelinjang.
"Inget, Ummi harus nurut." Kembali Boy mengingatkan sambil tetap membasahi pundak putih Ummi Sarah dengan ludahnya. "Kalo Boy tanya, Ummi harus jawab yang jujur. Nggak boleh diam."
Ummi Sarah mengangguk pelan. Sementara gamisnya sudah lolos hingga ke perut. Boy mengangkat tangan kanan ustadzah lalu menjilati ketiaknya dengan rakus. "Slurppppp.. Slurppppp.. Slurpppp.. Ahhhh.. Wangi.. Slurppppp.. Enak Ummi?"
"Ahhhh.. Ahhh gelii.... Mmhhhh.. Enakkk.. " balas Ummi Sarah pelan di antara desahannya. Tubuhnya menggelinjang hebat setiap kali merasakan sensasi basah sapuan lidah remaja nakal itu.
Berbeda dengan kejadian pertama, Boy tahu dia memiliki waktu. Dia bertekad akan membuat Ummi Sarah ketagihan. Lagipula kali ini dia tak perlu terburu-buru.
Puas dengan bahu dan ketiak, Boy berdiri dan mulai melepaskan semua pakaiannya hingga telanjang bulat. Batang keperkasaannya berdiri tegak hanya dua jengkal dari wajah Ummi Sarah. "Buka matanya Ummi."
Ummi Sarah bergidik melihat kontol besar Boy mengacung tegak di depannya. Sudah bertahun-tahun dia tak melihat benda itu sejak suaminya meninggal. Perkosaan kemarin pun dia terus memejamkan mata. Jantungnya berdesir.
Boy memegang kepala belakang Ummi Sarah yang masih terbungkus hijab. Lalu kontol besarnya dia gesekkan di wajah sang ustadzah. "Uhhhh akhirnya kesampean gesekin kontol di wajah sucinya ustadzah ahhhhh.. "
Ummi Sarah hanya pasrah diperlakukan sehina itu oleh remaja yang seumuran dengan anaknya.
"Ahhh... Anjing enak! Ahhhh gua kotorin muka ibu lu, Fik. Ahhhhh... " Boy benar-benar menikmati kemenangannya.
Hati Ummi Sarah terasa sakit mendengar nama anaknya disebut ditengah perzinahan ini, sementara dia tak mampu melakukan apa pun.
Boy terus menggesekkan batang hingga bijinya. Rambut kemaluan anak itu menggelitik kulit wajah Ummi Sarah. Setelah puas ganti mulutnya yang jadi sasaran berikutnya. Kontol besar itu masuk pelan hingga nyaris menusuk tenggorokannya. Sebelum dia tersedak, Boy dengan ahli menarik kembali batangnya. Kini dia menyodok menyamping. "Ahhhh.. Ahhhh.. Mulut lu aja nikmat Sarah... Ahhhh... Ahhhhhhh... " Dengan kurang ajar Boy menyebut langsung nama ustadzah itu tanpa embel-embel Ummi.
Sesekali Boy melepaskan genjotannya untuk ganti melumat bibir Ummi Sarah dan meremas susunya. "Jilatin bijinya.. " perintah Boy sambil menekan kepala sang ustadzah.
Berharap ini segera berakhir, Ummi Sarah memutuskan untuk tak hanya menuruti keinginan remaja itu, tapi akan lebih agresif. Sebagai perempuan dewasa dia tahu nafsu anak seumuran Boy pasti cepat tuntas jika dipuaskan. Dengan jari dia menggenggam lembut biji Boy lalu menjilati pangkalnya. "Slurppppp.. Slurppppp.. Slurppppp.. "
Ganti Boy yang menggelinjang nikmat. Sensasi basah sapuan lidah Ummi Sarah membuatnya merem melek. "Ahhhh.. Nikmat banget jilatan lu, Sarah... Ahhhh anjing.. Terus! Basahin semua... Ahhhhhh... "
Dugaan Ummi Sarah tak salah. Tubuh Boy menegang. Dia tahu remaja itu sedang sekuat tenaga menahan agar tidak cepat keluar. Karenanya dia meningkatkan rangsangan dengan mengocok batang kejantanan Boy dengan tangannya sembari terus menjilati pangkal paha hingga pantatnya.
"Uhhhh! Pinter banget ini Ustadzah ahhhhh... Ahhhhj.. Ahhhhh.. Bangsat! Ahhhhhh... " Boy menggigit bibirnya menahan kenikmatan.
Boy tak tahan lagi. Dia dorong tubuh Ustadzah itu ke sofa. Dengan tangan dia buka pahanya, lalu menggesekkan kontolnya di belahan vagina sang ustadzah.
Detak jantung Ummi Sarah berderap kencang, bersiap menerima tusukan batang raksasa itu lagi. Matanya terpejam dengan jemari meremas sofa. Namun yang ditunggu tak kunjung datang. Remaja itu hanya menggesek, tak lebih. Sesekali kepala kontolnya sudah di depan lubang kemaluannya, tapi kembali dia dengan sengaja kembali menggesek klitorisnya. Selangkangan Ummi Sarah berdenyut. Dia tak percaya remaja ini sedang mempermainkan hasratnya. Pinggul Ummi Sarah bergoyang sendiri tanpa diminta berusaha mencari kenikmatan. Saat dia membuka mata, Boy tengah menatapnya sambil tersenyum nakal. "Pingin ya Ummi? Hehe.. ''
Wajah Ummi Sarah memerah karena malu. Apalagi dia tak mampu menahan desahannya tiap kali batang itu menggesek itilnya. " Mau saya masukin? Jawab!" Suara Boy tegas.
Ummi Sarah memalingkan muka sebelum menjawab. Dia sudah teramat malu. "Mmm.. Mau.. "
"Mau dimasukkin pake apa?" goda Boy sembari terus menggesek selangkangannya.
"Pake itu kamu... Mmhhhhh... " Wajahnya merah padam menahan malu.
Boy menjilati puting kanan Ummi Sarah lalu berbisik lirih dengan napas memburu. "Namanya kontol, Ummi. Ayo bilang!"
"Iya... Mmhhh.. Kon.. Kontol... "
Boy cengengesan riang. "Bisa bisanya ustadzah ngomong jorok, hahaha. Ayo bilang sekali lagi, yang kenceng," ejek Boy.
Ummi menarik napas dengan dada bergemuruh. Dia kembali berbisik pelan. "Kontol.. "
Boy sudah tak sabar. Dia mencekik leher Ummi Sarah, lalu menghardiknya tepat di depan wajahnya. "Gua bilang yang kenceng Sarah"
Tak tahan dihina dan dipermainkan, Ummi Sarah menjerit putus asa. "KONTOLLL! ahhhhhh!!"
Bersamaan Boy langsung menghunjamkan kontolnya dengan brutal. Bless!! Ummi Sarah menjerit. "Ahhhhhh!! Ahhhhhh... Uohhh... Mmmhhhh.. "
Seluruh tubuh Ummi Sarah bagai tersetrum saat kontol besar Boy menerobos lubang kemaluannya hingga mentok. Remaja itu dengan sengaja mendiamkan batangnya tanpa bergerak karena tengah menikmati remasan dinding vagina Sang ustadzah. "Anjing nikmatnya, berasa diremes remes! Shhhh.... Shhhhh... "
Yang tak dia sangka ternyata justru Ummi Sarah yang perlahan menggoyang pinggulnya berputar dan maju mundur dengan mulut yang terus mendesah kecil. "Uhhhh... Ahhhh... Mmmhhh."
"Eh.. Eh, apa ini? Kirain nggak mau, ternyata doyan ya? Hahaha... " ejek Boy. "Ayo jawab.. "
Dengan mata terpejam dan menggigit bibir menahan nikmat Ummi Sarah menjawab. "Ahhh... Shhhhh... Iya doyan. Ummi doyan... Shhhhh... "
Mata Ummi Sarah memutih saat Boy mulai menggenjot memeknya sembari memilin puting dan meremas gemas toketnya. "Iyahh... Iyahhh.. Shhhhh... Ahhhhh... "
"Enak ya dikontolin? Hehehe.. "
Kepalang tanggung, Ummi Sarah sudah tak lagi peduli. "Enakkkk... Shhhh... Kontol.. Kontol... Ahhh.. " Ada rasa malu tak terkira saat dia mengucap kata kotor itu, tapi anehnya dia ternyata menyukai sensasinya.
"Ustadzah kok ngomongnya begitu," goda Boy sambil makin meningkatkan penetrasinya. "Udah kayak pelacur aja."
"Biar! Ahhhh... Ahhhhh... Shhhh... " Tubuh Ummi Sarah menggelinjang.
"Oh ngerti. Atas ustadzah bawah pelacur ya hahaha.. " Boy makin kurang ajar. Sementara genjotannya kian cepat menubruk nubruk rahim perempuan itu, membuatnya merasa melayang. Hinaan remaja itu justru makin membuat selangkangannya terasa gatal ingin cepat dipuaskan.
"Terserah kamu ahhhh... Ahhhhh... " Kedua buah dada Ummi Sarah bergoyang seiring makin kencangnya genjotan Boy. Sejujurnya dia tak ingin ini cepat berakhir.
"Nikmatin kontol gua ustadzah pelacur... Ahhh... Ahhhh... Shhhhhh... " Boy menggeram penuh kenikmatan. "Ayo ngomong kontol!"
"Kontol.... Ahhh... Ahhh.. " Ummi Sarah menjawab cepat. Dia sudah terbuai makin jauh.
"Yang banyak!" perintah Boy lagi.
"Kontol.. Kontol.. Kontol.. Kontol.. Kontooooolllll.... Ahhhhhhhh! Keluarrrrr!!" Ummi Sarah melenguh panjang dengan perut melenting tinggi. Cairan kenikmatannya banjir membasahi sofa tempat perzinahan itu. Disusul Boy yang menyemprotkan pejunya ke wajah dan jilbab Ummi Sarah.
Selama satu jam habis tubuh montok Ummi Sarah dibolak balik remaja mesum itu.
BERSAMBUNG
Buat binor, janda, jilbab, yang mau dilecehkan WA aja ke author. 087778021423. Kita phoneseks/chatseks sampe puas. Privasi aman, dijamin ketagihan.
1363Please respect copyright.PENANAL43oWmySH6
1363Please respect copyright.PENANA4P4io78SX2


