1433Please respect copyright.PENANA2efSfaoGsbKeesokan paginya, koridor sekolah sudah ramai oleh hiruk-pikuk para siswa. Namun, bagi Boy dan Ummu Aisyah, atmosfer hari itu terasa jauh berbeda dari biasanya, meski dengan alasan yang sepenuhnya bertolak belakang.
Ummu Aisyah berjalan menyusuri selasar menuju ruang guru dengan langkah yang sengaja dibuat setegas mungkin. Mengenakan seragam batik rapi dan jilbab yang anggun, ia berusaha menampilkan citra seorang pendidik yang berwibawa seperti hari-hari lalu. Namun, di dalam kepalanya, pikiran Ummu benar-benar terbagi. Kilasan peristiwa semalam—suara berat pria asing di telepon, kata-kata yang menuntut, dan sensasi yang membuatnya lepas kendali—terus berputar tanpa bisa dicegah. Setiap kali mengingatnya, pipinya terasa hangat, dan ia berulang kali membuang muka demi menyembunyikan kegelisahannya dari guru-guru lain.
Sementara itu, Boy berdiri di dekat pintu kelas, bersandar santai sambil memegang segelas minuman dingin. Pandangannya langsung terkunci begitu sosok Ummu Aisyah muncul di ujung koridor.
Senyum tipis yang penuh rahasia terkembang di bibir pemuda itu. Mengamati wajah wali kelasnya yang tampak sedikit letih namun menyimpan rona merah samar, Boy merasakan kepuasan yang luar biasa. Ia tahu persis apa yang menyebabkan sang guru tampak tidak fokus pagi ini. Rahasia besar itu tersimpan rapi di dalam saku celananya—sebuah ponsel yang semalam menjadi jembatan dosa di antara mereka.
Ummu Aisyah pun melihat Boy yang tengah berdiri dengan seragam dikeluarkan dari celana. Dia segera lupa tentang semalam, tergantikan dengan rasa kesal melihat biang kerok kelas itu terus saja menantang peraturan sekolah. "Boy, masukkan seragamnya." Ummu Aisyah menegur Boy dengan ekspresi serius.
Memang anak itu menuruti perintahnya tapi sambil ngeloyor masuk kelas seakan tak mendengar. Ummu Aisyah geregetan sendiri.
Begitu pelajaran dimulai, sifat asli Boy kembali terlihat. Ia mulai usil, mengetuk-ngetuk pulpen ke meja dengan ritme yang mengganggu, dan sesekali melemparkan lelucon kecil yang memicu tawa pelosok kelas.
Ummu Aisyah menghentikan penjelasannya di papan tulis. Ia membalikkan badan, menatap tajam ke arah bangku belakang tempat Boy duduk dengan posisi bersandar santai. Rasa kesal mulai merayap di dada Ummu. Kebadungan anak ini seolah tidak ada habisnya dan kerap menguji kesabarannya sebagai seorang wali kelas.
"Boy, tolong perhatikan ke depan. Buka buku paketmu halaman 45," tegur Ummu Aisyah dengan nada tegas namun tetap terkendali.
Boy hanya menyengir tanpa dosa, lalu membuka bukunya dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat-buat. "Iya, Bu. Maaf," jawabnya santai.
Ummu Aisyah menghela napas panjang. Jika itu murid lain, mungkin ia sudah memberikan sanksi yang lebih keras. Namun, setiap kali rasa jengkelnya memuncak pada Boy, ada bagian dari hatinya yang melunak. Ummu tahu persis latar belakang remaja di depannya ini. Boy adalah seorang anak yatim yang kehilangan figur ayah sejak kecil.
Terlebih lagi, hubungan mereka bukan sekadar guru dan murid. Mereka adalah tetangga dekat di lingkungan rumah, dan ibu Boy adalah salah satu teman akrab Ummu di majelis taklim dan pengajian mingguan. Ummu sering mendengar keluh kesah ibunya Boy tentang betapa sulitnya mendidik anak laki-laki seorang diri tanpa adanya sosok kepala keluarga. Hal itulah yang membuat Ummu selalu berusaha memaklumi dan memperlakukan Boy dengan sisa kesabaran ekstra, menganggap kebadungannya sebagai bentuk pencarian perhatian remaja yang kurang kasih sayang seorang ayah.
Di bangkunya, Boy memperhatikan perubahan raut wajah gurunya. Ia bisa menangkap kilat kekesalan yang mendadak melunak menjadi pandangan penuh maklum dari Ummu Aisyah.
Boy tersenyum tipis di dalam hati, merasa di atas angin. Sambil berpura-pura menulis, pikirannya justru melayang kembali pada percakapan telepon semalam. Skenario di kepalanya terasa semakin liar saat menyadari bahwa wanita anggun yang kini sedang menatapnya dengan rasa iba dan keibuan di depan kelas, adalah wanita yang sama yang semalam mendesah pasrah karena bisikan suaranya.
Dari mejanya mata Boy menelanjangi Ummu Aisyah. Seragam batiknya tampak kekecilan di bagian pinggang sementara dadanya terlihat penuh. Boy tersenyum nakal, suatu hari dia akan menikmati payudara indah itu.
Pengalaman malam tadi membangkitkan gairah tersendiri. Fokusnya berubah dari memacari cewek seusianya bergeser ke sosok perempuan dewasa. Kali ini dia melihat perempuan perempuan yang seusia dengan ibunya dengan tatapan yang berbeda.
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, memicu sorak ceria dari para siswa yang berhamburan keluar kelas. Saat Boy sedang merapikan tasnya, Fikri—salah satu teman sekelasnya—menghampiri meja Boy sambil menepuk pundaknya.
"Boy, balik sekolah ke rumah gue yuk? Mabar, bantuin gua push rank," ajak Fikri.
Boy sempat berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju. "Boleh juga. Yuk, cabut."
Rumah Fikri rupanya tidak terlalu jauh dari sekolah. Begitu mereka sampai dan melangkah masuk ke dalam rumah yang bernuansa sejuk dan islami itu, Fikri langsung mengajak Boy ke ruang tamu. "Bentar ya Boy, gue ambil minum dulu ke dapur," kata Fikri meninggalkan Boy sendirian.
Saat Boy sedang mengedarkan pandangan melihat-lihat dekorasi rumah, langkah kaki yang tenang terdengar mendekat dari arah koridor dalam. Boy menoleh, dan pada detik itulah napasnya seolah tertahan.
Seorang wanita paruh baya berjalan anggun ke arah ruang tamu. Wanita itu adalah Ummi Sarah, ibu dari Fikri. Sebagai seorang ustadzah yang cukup dikenal di lingkungan sekitar, Ummi Sarah memancarkan aura yang sangat berbeda. Beliau mengenakan gamis panjang yang longgar dengan jilbab lebar berwarna teduh yang membingkai wajahnya yang bersih, tenang, dan tanpa riasan berlebih.
Ada keanggunan alami dan kedewasaan yang begitu memikat dari pembawaan Ummi Sarah. Tutur katanya saat menyapa, senyum ramahnya yang tulus, serta tatapan matanya yang teduh seketika membuat Boy terpaku. Pesona religius dan keibuan yang melekat pada diri Ummi Sarah justru memercikkan rasa kagum yang berbeda di hati Boy—sebuah kekaguman yang mulai bercampur dengan riak-riak ketertarikan yang berbahaya.
"Eh, ada temannya Fikri ya?" sapa Ummi Sarah dengan suara yang sangat lembut dan menyejukkan.
Boy berdeham pelan, mencoba menguasai dirinya yang mendadak gugup, lalu buru-buru berdiri untuk menunjukkan sopan santun. "I-iya, Tante... eh, Ummi. Saya Boy, teman sekelas Fikri."
Ummi Sarah berusia pertengahan empat puluhan dan memiliki pesona kedewasaan yang matang dan berkelas. Di balik balutan busana muslimahnya yang selalu longgar, kecantikan alaminya tetap terpancar kuat tanpa perlu riasan yang berlebihan. Kulitnya yang putih terlihat kontras dengan hijab hitamnya, membuatnya semakin terlihat suci. Tapi yang paling menyita perhatian Boy adalah posturnya yang tinggi. Di balik gamisnya yang syar'i Boy yakin ibu temannya itu memiliki kaki yang jenjang dan putih. Boy menelan ludah membayangkannya nikmatnya menjilati kaki indah itu.
Khayalan kotornya buyar saat Ummi Sarah berbicara. "Ummi ke dalam dulu ya, Boy."
"Eh, iya Ummi." balas Boy. Matanya tak bisa lepas mengikuti langkah anggun ustadzah itu.
Sambil mengunyah pisang goreng yang disuguhkan, Boy mencoba mengorek informasi. "Pisang goreng buatan ummi lu enak banget, Fik. Gua paling doyan yang lembut kayak begini nih."
"Lah sama. Makanya gua selalu digorengin pisang tiap hari," jawab Boy dengan jari sibuk menekan layar ponselnya. "Yes! Menang lagi! Dua kali menang lagi naik mytic ini."
"Tenang, gua bantu lu push kalo perlu tiap hari sampe jadi top global, hahaha.. " balas Boy. "Bokap lu kerja apa, Fik?"
"Bokap udah nggak ada dari gua SD, Boy." Fikri menjawab tanpa drama.
"Oh... sori, Fik. Gue gak tahu," sahut Boy cepat, memasang ekspresi penuh simpati yang dibuat-buat demi sopan santun.
"Santai aja, udah lama juga kok," balas Fikri.
Namun, di balik wajah simpatinya, sebuah senyum lebar langsung mengembang di dalam hati Boy. Informasi dari Fikri bagai lampu hijau yang menyala terang di kepalanya. Fakta bahwa Ummi Sarah adalah seorang janda membuat darah remaja Boy berdesir lebih cepat.
Ia kembali melirik ke arah koridor dalam, tempat Ummi Sarah tadi menghilang. Bayangan tentang ustadzah cantik berkulit putih dan bertubuh montok itu kini terasa semakin menantang bagi Boy. Status janda wanita itu seolah meruntuhkan satu tembok besar penghalang di kepala badungnya, membuka ruang bagi imajinasi liar tentang bagaimana ia bisa mendekati dan menjebak sang ustadzah dalam permainan rahasia barunya, sama seperti yang telah ia lakukan pada Ummu Aisyah.
Sore itu, sepulang dari rumah Fikri, isi kepala Boy tidak lagi sama. Langkah kakinya menyusuri trotoar terasa ringan, sementara otaknya bekerja cepat, memetakan setiap langkah seperti seorang pecatur yang sedang mengincar ratu lawan. Di balik wajah remajanya yang tampak santai, sebuah skenario matang telah tersusun rapi.
Strategi pertamanya dimulai seminggu kemudian. Boy sengaja membawa beberapa buku pelajaran tebal ke sekolah dan mendekati Fikri saat istirahat.
"Fik, ujian akhir semester depan kan materi fisikanya berat banget. Otak gue mentok nih. Boleh gak kalau seminggu ini gue numpang belajar di rumah lu? Lu kan encer kalau soal rumus," puji Boy, memasang wajah frustrasi yang dibuat-buat.
Fikri yang polos tentu saja langsung mengangguk setuju. "Ya boleh banget lah, Boy! Datang aja tiap sore."
Sore itu juga, Boy kembali menginjakkan kaki di rumah bernuansa sejuk itu. Namun kali ini, penampilannya berbeda. Kemeja seragamnya dimasukkan rapi, rambutnya disisir rapi dengan minyak rambut, dan wewangian maskulin yang lembut menguar dari tubuhnya. Ketika pintu depan terbuka dan sosok Ummi Sarah muncul menyambut mereka, Boy segera membungkuk takzim, meraih tangan wanita itu, dan mencium punggung tangannya dengan sangat sopan.
"Assalamualaikum, Ummi. Maaf Boy merepotkan lagi, mau numpang belajar bareng Fikri," ucap Boy. Suaranya diatur sedemikian rupa—lembut, santun, dan penuh rasa hormat.
Ummi Sarah tersenyum sangat manis, matanya yang teduh menatap Boy dengan binar setuju. "Waalaikumussalam, Nak Boy. Sama sekali tidak merepotkan. Malah Ummi senang kalau Fikri ada teman belajar yang rajin seperti ini. Silakan masuk."
Saat berjalan melewati Ummi Sarah, Boy sengaja memperlambat langkahnya. Aroma wangi khas tubuh wanita matang itu kembali menyergap inderanya, membuat jakunnya naik turun. Dari sudut matanya, ia melirik siluet tubuh montok sang ustadzah yang bergerak anggun di balik gamis panjangnya. Umpan pertama berhasil, batin Boy bersorak.
Dua hari berlalu dengan pola yang sama, hingga Boy merasa saatnya menurunkan bidak kedua: memancing naluri keibuan sang ustadzah.
Sore itu, saat mereka sedang belajar di ruang tamu, Ummi Sarah datang membawakan nampan berisi teh hangat dan camilan. Fikri kebetulan sedang ke kamar mandi. Boy sengaja mengubah gestur tubuhnya; ia menutup bukunya, lalu menatap cangkir teh dengan pandangan kosong yang dibuat semurung mungkin.
"Diminum dulu tehnya, Nak Boy," sapa Ummi Sarah lembut, meletakkan cangkir di dekat Boy.
Boy mendongak, memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak getir. "Ah, iya, Ummi. Terima kasih banyak. Ngomong-ngomong saya betah banget kalo main ke sini, Ummi."
Ummi Sarah menghentikan gerakannya, menatap Boy dengan dahi sedikit berkerut karena penasaran. "Alhamdulillah. Memangnya kenapa, Boy?"
Boy menghela napas pendek, lalu menunduk, memainkan jemarinya. "Gak apa-apa, Ummi. Cuma... saya kadang iri sama Fikri. Sejak ayah meninggal, rumah saya rasanya sepi sekali. Ibu sibuk kerja dan pengajian, dan saya... saya sering bingung kalau butuh sosok yang bisa diajak cerita atau membimbing saya. Kadang saya ngerasa kehilangan arah."
Kalimat yang sudah dilatih Boy di depan cermin itu bekerja bak sihir. Raut wajah Ummi Sarah seketika melunak, dipenuhi rasa iba yang mendalam. Sebagai seorang wanita pemuka agama yang berhati lembut, melihat seorang anak yatim yang tampak rapuh dan butuh bimbingan adalah panggilan jiwa.
Ummi Sarah menggeser duduknya sedikit lebih dekat di sofa seberang Boy. Jarak yang mengikis itu membuat Boy bisa melihat dengan jelas betapa putih dan halusnya kulit wajah wanita di usia empat puluhan itu dari dekat.
"Nak Boy..." suara Ummi Sarah terdengar jauh lebih empuk dan penuh perhatian. "Kamu tidak boleh merasa sendiri. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu. Kalau kamu butuh teman bicara, atau ada hal-hal tentang kehidupan dan agama yang ingin kamu tanyakan, jangan sungkan untuk bicara sama Ummi. Ummi akan sangat senang membantumu."
Boy mendongak, menatap langsung ke dalam mata teduh Ummi Sarah. Ia memastikan matanya memancarkan rasa terima kasih yang mendalam, meski di dalam hatinya, Boy sedang tersenyum penuh kemenangan. Wanita suci di depannya ini baru saja membuka pintu bentengnya sendiri tanpa sadar.
"Benar, Ummi? Saya... saya boleh konsultasi atau belajar agama langsung sama Ummi kalau ada waktu luang?" tanya Boy, memastikan perangkapnya mengunci.
"Tentu saja, Boy. Kapan pun Ummi sedang tidak mengisi pengajian, kamu boleh datang," jawab Ummi Sarah dengan senyuman paling tulus, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik kedok remaja yatim yang malang itu, Boy sedang membayangkan hal yang jauh dari kata suci untuknya.
Hubungan di antara mereka bergulir bak bola salju yang kian membesar. Topeng kepatuhan yang dikenakan Boy bekerja dengan sangat sempurna, hingga lambat laun, kehadirannya di rumah itu tidak lagi sekadar sebagai "teman sekolah Fikri," melainkan sudah dianggap seperti bagian dari keluarga sendiri oleh Ummi Sarah.
Siasat Boy untuk menjadi murid spiritual mulai dijalankan secara agresif namun halus. Setiap kali Fikri pergi ke masjid untuk mengaji atau menghadiri kegiatan remaja masjid, Boy sengaja memilih untuk tinggal di rumah dengan alasan ingin menyelesaikan bacaan buku agama yang dipinjamkannya dari perpustakaan pribadi Ummi Sarah.
Sore itu, hujan deras mengguyur kota, menyisakan suara gemercik air yang berisik di atas atap seng dan hawa dingin yang menusuk tulang. Fikri sedang menghadiri rapat panitia kurban di masjid kompleks. Di dalam ruang tengah yang remang, hanya ada Boy dan Ummi Sarah yang duduk di sofa panjang. Ada jarak diantara keduanya. Di atas meja, sebuah kitab suci dan beberapa buku tafsir terbuka lebar.
Boy sengaja menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat, berpura-pura kesulitan memahami salah satu baris kalimat di dalam buku.
"Ummi, bagian yang ini... saya masih kurang paham maksudnya. Mengapa ujian hati itu justru sering datang dari orang-orang terdekat?" tanya Boy, suaranya sengaja direndahkan, menciptakan atmosfer yang sangat intim di antara mereka.
Ummi Sarah, yang mengenakan gamis rumahan berwarna pastel dengan jilbab instan yang sedikit lebih longgar dari biasanya, menggeser duduknya mendekat. Kulit putih lengannya sempat bergesekan dengan bahu Boy saat ia condong ke depan untuk melihat halaman buku yang ditunjuk. Aroma wangi tubuh Ummi Sarah yang hangat dan memabukkan seketika menyerbu indra penciuman Boy, membuat fokus remaja itu buyar sepenuhnya.
"Begini, Nak Boy..." Ummi Sarah mulai menjelaskan dengan suara lembutnya yang khas. "Hati manusia itu lemah. Terkadang, godaan terbesar justru datang dalam bentuk yang paling halus, sesuatu yang terasa nyaman namun sebenarnya menguji iman kita."
Boy tidak mendengarkan penjelasan itu. Pandangannya justru terpaku pada bibir tipis Ummi Sarah yang bergerak, lalu turun ke arah lehernya yang tertutup hijab, dan berlama-lama pada lekuk dadanya yang montok di balik gamis longgar tersebut. Kedekatan fisik ini membuat darah remaja Boy berdesir hebat. Terlebih suasana benar-benar mendukung.
Sambil menarik napas dalam, Boy memberanikan diri melangkah lebih jauh. Ia menatap langsung ke dalam mata teduh Ummi Sarah yang jaraknya hanya puluhan sentimeter dari wajahnya.
"Lalu... bagaimana kalau godaan itu terasa sangat indah, Ummi? Sampai-sampai kita tidak ingin menghentikannya?" tanya Boy dengan nada suara yang perlahan berubah, agak berat dan dalam, mirip dengan intonasi yang ia gunakan saat menjebak Ummu Aisyah di telepon.
Ummi Sarah mendadak menghentikan kalimatnya. Untuk pertama kalinya, sang ustadzah menangkap ada sesuatu yang berbeda dari tatapan mata Boy. Itu bukan lagi tatapan seorang anak yatim yang butuh bimbingan, melainkan tatapan seorang pria dewasa yang sedang mengagumi dirinya sebagai seorang wanita.
Ada riak aneh yang tiba-tiba menyengat kesadaran Ummi Sarah. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya di bawah tatapan intens remaja belasan tahun itu. Suasana di ruangan yang dingin itu mendadak terasa berubah menjadi hangat dan sarat akan ketegangan yang tidak biasa.
"Boy... kamu..." Ummi Sarah berbisik lirih, mendadak kehilangan kata-kata, sementara akal sehat dan naluri wanitanya mulai bertarung di dalam dada.
Sebelumnya tanpa dia sadari Boy telah memasukkan sedikit obat perangsang ke dalam minumannya. Dengan lihai Boy membuat suasana menjadi trigger agar efek obat itu bekerja lebih cepat.
Ketegangan di dalam ruangan itu mendadak terasa kian pekat. Hawa dingin dari hujan di luar seolah menguap, digantikan oleh kehangatan asing yang perlahan-lahan mulai menjalar di dalam dada Ummi Sarah.
Boy memperhatikan setiap detail perubahan pada wanita di hadapannya dengan sangat jeli. Ia tahu persis bahwa zat cair yang beberapa waktu lalu ia teteskan ke dalam cangkir teh hangat Ummi Sarah saat wanita itu ke dapur, kini mulai meresap dan bekerja di dalam tubuh sang ustadzah.
"Ummi sakit?" tanya Boy dengan suara yang sengaja diredam, sangat rendah dan berat, tepat di dekat telinga Ummi Sarah.
Ummi Sarah tidak menjawab. Jemarinya meremas pelan pinggiran gamisnya. Napasnya yang semula teratur kini mulai berembus agak pendek dan tidak beraturan. Kulit putih di wajah dan lehernya perlahan memancarkan rona merah muda yang samar. Ada sensasi hangat yang tidak biasa menjalar dari perutnya, membuat fokusnya buyar dan pikirannya mendadak kosong. Sesuatu di dalam dirinya mendesak untuk dilepaskan, sebuah perasaan asing yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia rasakan sejak kepergian suaminya.
"Ummi... Ummi cuma agak pusing, Boy," bisik Ummi Sarah lirih. Ia mencoba memundurkan posisi duduknya untuk menjaga jarak, namun tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga, seolah-olah seluruh kekuatannya telah terkuras habis oleh rasa hangat yang kian menuntut di dalam dirinya.
Boy tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang tersembunyi di balik keremangan lampu. Ia mengulurkan tangannya, dengan sangat berani namun lembut, menyentuh punggung tangan Ummi Sarah yang terasa dingin dan agak gemetar di atas meja.
"Kalau Ummi pusing, tidak usah dipaksakan untuk mengajar," bisik Boy lagi, matanya mengunci pandangan sayu Ummi Sarah yang mulai kehilangan pertahanan iman dan wibawanya sebagai seorang ustadzah. "Biar saya bantu Ummi untuk rileks..."
Ketegangan di dalam ruangan itu mengental begitu cepat. Hawa dingin dari hujan di luar seolah lenyap, digantikan oleh kehangatan asing yang kian pekat dan menuntut di dalam tubuh Ummi Sarah.
Zat yang mengalir di dalam darahnya kini telah bekerja sepenuhnya, meruntuhkan logika dan kendali diri yang selama puluhan tahun ia jaga dengan ketat. Ditambah dengan manipulasi suasana dan bisikan berat Boy yang terus mengunci fokusnya, benteng pertahanan sang ustadzah akhirnya retak.
Ummi Sarah mencoba mencengkeram pinggiran sofa, namun jemarinya terasa lemas tak bertenaga. Napasnya berembus pendek-pendek, mengalun berat di antara keheningan ruangan. Kulit putih di wajah dan lehernya kini sepenuhnya merona merah, memancarkan pesona matang yang begitu memikat di bawah temaram lampu sudut. Dan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan berdenyut dalam tubuhnya.
Boy melirik jam di dinding. Waktunya tak banyak sebelum Fikri kembali dari masjid. Dia memutuskan lebih berani. Pengalamannya menjebak beberapa teman sekolahnya dengan cara yang sama selalu berhasil. Bedanya kali ini adalah seorang perempuan dewasa yang juga seorang ustadzah. Dia tak cukup yakin cara ini berhasil. Namun sudah sejauh ini pantang untuk berbalik.
Saat Boy mengulurkan tangan dan menyentuh jemarinya dengan lembut, tidak ada lagi penolakan. Ummi Sarah hanya mampu memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kepalanya terkulai lemas ke belakang sandaran sofa.
"Boy... jangan..." bisik Ummi Sarah, sangat lirih hingga nyaris menyerupai rintihan pasrah. Kata-kata itu terdengar seperti formalitas belaka, karena tubuh dan ekspresi wajahnya yang sayu justru mengkhianati ucapannya sendiri.
Wibawa seorang ustadzah yang biasanya melekat kuat kini telah luruh sepenuhnya. Digantikan oleh sosok wanita dewasa yang tak berdaya menghadapi gejolak gairah yang membakar dirinya dari dalam. Sisi keibuannya runtuh, menyisakan kepasrahan total di hadapan remaja badung yang kini tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menguasai sosok yang paling dihormati di lingkungan tersebut.
Boy bergerak semakin dekat, memanfaatkan kepasrahan total dari wanita di hadapannya. Jarak yang kini benar-benar terkikis membuat aroma parfum Ummi Sarah berbaur dengan hawa panas yang menguar dari tubuh mereka berdua.
Ummi Sarah hanya bisa menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari sisa udara di tengah dadanya yang naik-turun dengan cepat. Setiap sentuhan fisik dari Boy terasa berlipat ganda sensasinya, membuat akal sehatnya semakin tenggelam dalam kabut gairah. Ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk mendorong pemuda itu menjauh, ataupun berteriak meminta pertolongan. Semua prinsip, ajaran, dan status sosial yang selama ini ia sandang seolah meleleh begitu saja, kalah oleh tuntutan biologis yang telah lama tertidur dan kini bangkit secara paksa.
"Ummi cantik banget malam ini," bisik Boy, suaranya terdengar sangat intim di tengah suara rintik hujan yang kian deras.
Mendengar pujian itu, sepasang mata teduh Ummi Sarah perlahan terbuka sedikit, menatap Boy dengan pandangan yang sayu dan berkabut. Ada tatapan memohon di sana—memohon agar situasi ini segera berakhir, namun di sisi lain, tubuhnya justru mendambakan lebih banyak sentuhan. Air muka sang ustadzah yang biasanya dipenuhi ketenangan, kini berganti dengan ekspresi penuh kepasrahan seorang wanita dewasa yang telah sepenuhnya takluk di bawah kendali seorang remaja badung.
Boy tahu, detik ini juga, benteng pertahanan terakhir dari rumah ini telah runtuh seutuhnya ke dalam genggamannya.
Jemari Boy berpindah dari tangan ganti mengelus pipi Ummi Sarah yang terasa hangat karena efek obat. Jantung wanita itu berdebar kian cepat. Anak itu sudah bertindak terlalu jauh namun logikanya membeku. Jari Boy bahkan dengan berani menyentuh dagu dan memainkan bibir Ummi Sarah.
"Saya suka Ummi.. " bisik Boy dengan napas berat. Lalu tanpa aba-aba dia melumat bibir Ummi Sarah. Slurpppppp...
Ummi Sarah bagai tersetrum listrik ribuan volt. Campuran perasaan berkecamuk, kaget, syok, marah, terhina, tapi juga pasrah dan menikmati. Lidah basah Boy bagaikan hujan setelah bertahun-tahun ia mengalami kemarau. Di momen itu dia menyerah. Saat lidah Boy menerobos masuk mulutnya, dia dengan sadar melilitkan lidahnya pada lidah teman sekolah anaknya itu.
Slurppppp... Mmmhhhhh... Mmmppphhhh...
Boy kegirangan. Taktik liciknya berhasil. Ustadzah ini sudah jatuh pada perangkapnya. Dia makin gencar melumat,melilit, dan menyedot lidah Ummi Sarah. "Bibir Ummi manis banget... Slurppppp.... Mmmmphhhh... "
Tubuh Ummi Sarah menyender dengan pasrah di sofa, sementara Boy dengan penuh nafsu menjilati seluruh wajah Ummi Sarah yang putih dan memabukkan itu.
"Ahhhh... Boy... Ahhhh.. Jangan... Ahhhh.. " Ummi Sarah berbisik lirih. Jemarinya meremas bahu sofa. Efek obat tadi sudah bekerja maksimal.
"Jangan apa Ummi?" Jawab Boy dengan suara berat diantara deru napasnya yang memburu. Dia masih terus menjilati dagu, pipi, ujung bibir sang ustadzah.
"Uhhhhh... Jangan begini Boy, ahhhh... "
Boy tersenyum licik. "Kalo begini boleh, Ummi?" ucapnya sambil meremas buah dada Ummi Sarah yang masih tertutup gamis.
"Nggak.. Nggak boleh... Ahhhh... " Tubuh Ummi Sarah menegang. Rasa nikmat yang tak mampu ia jelaskan meledak saat tangan kasar Boy meremas payudaranya. Apa lagi saat dengan cekatan tangan anak itu menelusup ke balik gamis dan mencubit putingnya dengan gemas, Ummi Sarah sudah tak mampu lagi melawan.
"Ahhh.. Ini salah Boy... Ahhhh.. Mmmpphhh.. " Ummi Sarah merintih lirih. Matanya terpejam merasakan gesekan kulit tangan Boy di seluruh bagian payudaranya.
Mendadak matanya terbelalak saat sensasi yang lebih dahsyat dia rasakan. Tanpa dia sadari seluruh kancing depan gamisnya telah terlepas. Menampakkan dada, perut, dan bagian bawah tubuhnya terpampang lebar di depan Boy. Anak itu sekarang dengan rakus sedang melahap buah dada kanannya.
"Slurpppppp.... Mmpphhhh... Slurppppp... Tete Ummi udah keras banget. Mmpphhhhhh... " ucap Boy sambil mengenyot putingnya dan sesekali menggigitnya. Ustadzah itu juga pasrah saat Boy menarik lepas perlindungan terakhir susunya. "Bh-nya bikin ribet."
"Ahhhhhh... Boy.... Ahhhhhhh... Ahhhhh.. " Dia menggelinjang dahsyat. Sudah bertahun-tahun dia tak merasakan kenikmatan ini lagi.
Napasnya semakin memburu. Lidah anak badung itu bergerak liar menyusuri setiap inchi kulitnya. Kedua payudaranya licin berkilat dipenuhi ludah Boy.
Sambil menikmati puting Ummi Sarah yang berdiri tegak, tatapan Boy tertuju pada sepasang kaki jenjang yang terpampang di depannya. Benar dugaannya, kaki itu begitu mulus dan menggairahkan.
Dengan kenyotan kencang dia melepaskan bibirnya dari puting sang ustadzah. Plop! Ummi Sarah semakin lemas sementara Boy bergerak ke bawah sambil meloloskan celana dalam perempuan itu. Dengan penuh nafsu dia langsung membuka paha ibu temannya itu lebar-lebar lalu langsung menggesekkan wajahnya di jembut Ummi Sarah. Perempuan itu memekik kencang.
"Ahhhhh! Boy, jangann! Ahhhhhh... Kenapa begini... Ahhhhh.. "
Jeritan itu justru membuat Boy makin semangat. Dengan jari dia membuka kemaluan Ummi Sarah lalu menjilatnya dengan liar. Slurpppp... Slurpppp.. Mmmphhhh... Slurpppp...
Perut Ummi Sarah melenting tinggi merespon kenikmatan yang tiada tara. Selangkangannya naik turun mengejar kenikmatan lebih hingga menghantam wajah Boy beberapa kali. "Ga tahan ya Ummi, hehehe... '' ejek Boy gembira.
Cairan kenikmatan Ummi Sarah bercampur dengan ludah Boy di dalam kemaluannya. Menetes dan mengalir membasahi sofa tempat perzinahan pasangan beda umur itu terjadi.
Tangan Boy dengan piawai mengelus paha mulus ustadzah, lalu meremas pantatnya. Sementara lidahnya semakin dalam menari di dinding vagina Ummi Sarah.
"Uhhhhh... Ya Allah... Ahhhhh.. Enakkkk.... Ahhhhhhhh... " Desah Ummi Sarah dengan dada naik turun. Tubuhnya sudah banjir keringat. Gamis dan hijabnya sudah acak-acakan. Apa lagi saat jari kelingking Boy dengan nakal mengorek lubang pantatnya. Ummi Sarah tak mampu menahan lagi. Tangannya menekan kepala Boy di selangkangannya lalu kenikmatan itu mencapai klimaks!
"Ahhhh! Ummi nggak tahan!! Ahhhhhhhhhhhhhhhh!!"
CROTTTT! CROTTTT!! CROTTTT...
Cairan kenikmatan Ummi Sarah menyembur deras membasahi wajah Boy. Walau terkejut tapi anak itu langsung menguasai diri. Dia tersenyum puas melihat tubuh Ummi Sarah yang tengah kelojotan didera kenikmatan.
"Udah keluar aja, Ummi." ucap Boy terkekeh. "Padahal saya belum ngapa-apain loh."
Ummi Sarah tak menjawab, napasnya naik turun. Setelah sekian lama akhirnya dia dapat kembali merasakan kenikmatan ini. Tidak, ini bahkan lebih nikmat daripada almarhum suaminya dulu.
Perlahan kesadarannya kembali. Dadanya bergemuruh dihantam penyesalan dan kemarahan. Matanya terasa panas disusul airmata yang tak mampu dia bendung. "Pergi, Boy. Jangan pernah datang lagi," bisiknya lirih sambil sesenggukan.
Boy merayap naik dan menindih tubuh Ummi Sarah. Anak itu jelas jelas tak menghiraukan ucapan Ummi Sarah barusan. Wajah keduanya nyaris menempel. Ummi Sarah memalingkan wajah saat Boy hendak mengecup bibirnya.
"Saya nggak akan pergi, Ummi. Saya akan datang lagi dan lagi," ucap Boy sambil mencengkeram pipi Ummi Sarah, memaksa menghadap wajahnya. Kemudian dengan rakus Boy kembali melumat bibir ustadzah itu.
Walau coba melawan tapi Ummi Sarah jelas kalah tenaga. Ditambah rasa gatal di kemaluannya yang tadi sempat hilang mendadak muncul Kembali. Sekali lagi dia hanya bisa pasrah. Apalagi sesuatu yang besar dan keras kini tengah dengan intens menggesek kemaluannya.
"Saya ketagihan, Ummi," ucap Boy setelah melepaskan ciuman dari bibirnya. "Lagian ini salah Ummi."
Ummi Sarah terkesiap. "Apa salah Ummi?"
"Salah Ummi karena sudah menggoda saya.. " jawab Boy. Melihat Ummi yang tampak bingung, Boy mengusap bibir Ummi Sarah dengan jarinya. "Bibir seksi ini yang menggoda saya, Ummi. Sekarang saya mau minta tanggung jawab."
Ummi Sarah sama sekali tak mengerti ocehan Boy. "Tanggung jawab apa? Kamu mau minta apa lagi?"
Boy tersenyum mesum. "Saya minta memek Ummi!"
Sambil berkata begitu, Boy langsung melesakkan kontolnya ke liang kewanitaan ustadzah itu. Ummi Sarah memekik saat batang besar itu amblas ke dalam memeknya.
"Ahhhhh! Ahhhhhhh! Jangannnn... Ahhhhhh!" Perut Ummi Sarah melenting tegang. Memeknya terasa penuh. Sementara Boy merem melek merasakan pijatan dinding liang vagina Ummi Sarah seakan meremas batang kejantanannya.
"Ahh anjing, enak banget memek lu Ummi! Ahhhhhh... " Boy sudah menyingkirkan segala sopan santun palsunya. Sekarang yang ada dikepalanya hanya bagaimana merengkuh kenikmatan.
"Bajingan kamu, Boy!" jerit Ummi Sarah sambil menangis.
"Tapi enak kan dientot bajingan, Ummi? Heee... Ahhh.. Ahhh.. Ahhhh.. " Ejek Boy sambil mulai menggenjot memek ibu temannya itu. Genjotan itu makin lama makin cepat diselingi gerakan memutar. Kontol Boy benar-benar mengobok-obok kewanitaan Ummi Sarah.
"Ahhhh...ahhhhh...ngggakkkk....ahhhhhh.. " Ummi Sarah mendesah lirih. "Lepasin! Udah, Boy! Nanti Fikri pulang.. Ahhhh.. Ahhhh.. "
Boy melirik jam dinding. Omongan Ummi Sarah barusan ada benarnya juga. Bisa gawat jika Fikri sampai melihat adegan mesumnya dengan ibunya. Genjotannya berubah dari kencang menjadi brutal. Ummi Sarah megap-megap diserang sedemikian rupa.
"Sekarang giliran gua yang crot, Ummi. Ahhhhh... " Tubuh Boy bergetar hebat. Sesuatu tengah bersiap untuk meledak. "Nikmatin peju gua Ummi sayang. Ahhhhhhhhh... "
Dengan putus asa Ummi Sarah mendorong dada Boy. "Lepasin! Jangan di dalem! Ahhhhhhhh!!"
Boy tak peduli. Dia justru menancapkan kontolnya hingga mentok. Lalu getaran itu mencapai klimaksnya. "Gua keluar Umiiii!! Ahhhhh!! Ahhhhhhhhhhh!!!"
CROT! CROTTTT!! CROTTTT!!
Liang vagina ustadzah itu penuh disembur peju Boy. Setelah puas anak badung itu mencabut kontolnya dan bergeser menjauh dengan napas memburu. Ekspresi kepuasan yang luar biasa nampak jelas di wajahnya. Sementara tangis Ummi Sarah langsung pecah tak mampu ia tahan lagi.
Boy memungut celana dan kaosnya dan mulai berpakaian. Dia juga memungut celana dalam dan bh Ummi Sarah dari lantai dan melemparkan ke perut ustadzah itu. "Pakai lagi Ummi. Keburu Fikri dateng. Kan nggak enak kalo dia liat ibunya telanjang, hehe.. "
Wajah Ummi Sarah merah padam. Matanya tajam menatap Boy dengan pandangan marah dan muak. Bibirnya masih gemetar karena tangis. "Bajingan kamu! Tunggu polisi jemput kamu, bajingan!"
Boy menanggapi dengan santai. Dia berjalan ke lemari buku di seberang ruangan lalu mengambil ponsel yang sejak tadi dia letakkan di sana untuk merekam. Sejenak dia memeriksa hasilnya lalu tersenyum dan menatap Ummi Sarah. "Ummi mau lapor polisi? Butuh bukti juga sekalian, Ummi?" ucapnya sambil menekan tombol play di layar dan menunjukkannya ke Ummi Sarah.
Wajah ustadzah itu pias pucat pasi. Di sana terekam jelas kejadian laknat barusan. Dia dengan hijab masih di kepala tengah digenjot Boy. Suara desahan memenuhi ruangan karena Boy menyetel video rekaman itu dengan volume maksimal. "Hapus!" Bentaknya dengan panik.
Yang dibentak hanya tersenyum, mematikan video itu lalu memasukkan ponselnya ke kantong celana. "Gimana ya kalau Fikri sampe lihat.. " Boy jelas jelas mengancam walau dengan nada lembut.
"Jangan berani berani kamu, ya!" Suara Ummi Sarah semakin gemetar.
"Oh ditantang nih. Okey." timpal Boy sambil berjalan mendekat dan membalas dengan nada sedingin es. "Nggak cuma Fikri. Besok gua tunjukkin ke satu sekolah."
Di permainan adu gertak ini Ummi Sarah jelas kalah. "Tolong Boy."
Boy tersenyum. Dia punya rencana yang lebih brutal untuk ustadzah ini.
BERSAMBUNG
ns216.73.217.39da2


