1671Please respect copyright.PENANAhdlgkxoPFpSepulangnya dari sekolah sore itu, baru saja dia duduk di sofa, jantung Ummu Aisyah hampir saja copot saking terkejutnya. Sebuah nomor tak dikenal masuk di whatsapp-nya dan mengirimkan gambar tak senonoh. Seorang perempuan dengan gaya seronok. Yang membuatnya syok wajah perempuan itu adalah wajahnya sendiri. Jantungnya berderap tak karuan dan berulang kali beristighfar. Dia tahu AI bisa melakukan itu hanya saja dia tak menyangka jika dia menjadi korban.
Kurang ajar! Siapa kamu?! Ummu Aisyah membalas pesan ke nomor tak dikenal itu.
Balasannya datang tak lama kemudian. Ternyata Ummu Aisyah nakal banget ya..
Dengan tangan gemetar karena marah dia menelepon nomor itu. Memang berdering tapi tidak diangkat. Berkali-kali dia mencoba tetap saja orang iseng itu tak merespon. Dalam kekalutan dia menelepon Salwa, adiknya, tapi dia juga tak mengangkat.
Sementara tak jauh dari sana, Boy sedang tertawa melihat panggilan Ummu Aisyah terus menerus masuk. Lu mau nelpon seratus kali juga nggak bakal gua angkat kali, Ummu. Emang gua tolol. Ucapnya dalam hati.
Walau baru kelas tiga SMP tapi kelakuan Boy memang di luar nalar. Di sekolah dia sering kali bermasalah dengan para guru. Jika bukan karena absensinya yang berantakan atau laporan soal ulahnya yang suka merundung siswa lain. Dua hari lalu dia diskorsing tiga hari karena ketahuan tawuran. Wali kelas yang menskorsingnya tak lain Ummu Aisyah.
Ummu Aisyah bukannya kejam tapi sengaja agar Boy bisa berpikir setiap perbuatan pasti diikuti tanggung jawab yang mengikutinya. Harapannya agar Boy berubah. Apalagi anak itu tetangganya sendiri. Dia tahu kecilnya. Boy sendiri jelas gagal menangkap maksud hukuman dari gurunya itu. Alih alih introspeksi dia justru merasa sakit hati dan dendam. Itulah alasannya mengedit poto gurunya itu menjadi tak senonoh.
Besok hari terakhir masa hukumannya. Lusa dia mulai bersekolah lagi dengan normal. Jadi Boy memutuskan malam ini dia mau bergadang sampai pagi. Dia berniat push rank hingga mythic agar di kelas nanti dia bisa nyombong pada teman-temannya.
Sementara di rumahnya kedongkolan Ummu Aisyah bertambah karena suaminya belum juga pulang ke rumah. Sejak mengenal dunia pancing memancing dia memang jadi tak kenal waktu. Satu minggu ini saja dia sudah dua kali ijin memancing dan pulang selalu di atas tengah malam.
Dia melirik jam di dinding kamar yang menunjukkan jam setengah dua belas, mengambil ponsel dan menelpon suaminya. "Assalamu'alaikum.. "
"Wa alaikumsalam. Iya Ummu?" jawab suaminya.
"Mau pulang jam berapa Abi? Ini mau tengah malem lagi. Besok ngajar ngantuk loh.. " Ummu Aisyah mengingatkan.
"Anu maaf Ummu, lagi tanggung. Paling jam dua Abi pulang nggak lebih." balas suaminya lagi. Ummu Aisyah mendesah kesal. "Ya sudah. Hati hati di jalan. Assalamu'alaikum.. "
Sia-sia dia mengenakan lingerie seksi kesukaan suaminya. Pasti dia pulang langsung tidur karena kelelahan. Padahal sudah hampir dua minggu mereka belum ibadah suami istri. Ummu Aisyah membuka whatsapp dan membuka pesan dari nomor tak dikenal tadi. Dia memperhatikan editan tak senonoh itu. Wajahnya yang mengenakan jilbab hitam tanpa mengenakan sehelai benang pun. Dia tersenyum karena editannya terlalu berlebihan. Andai saja buah dadanya semontok itu tak mungkin suaminya keluyuran terus.
Spontan dia meremas payudaranya sendiri coba membandingkan. Sebenarnya buah dadanya juga menarik, hanya saja bentuknya memang sudah tak semenarik saat dia gadis dulu. Jika di poto editan itu buah dadanya bulat dan kencang, aslinya justru lebih seperti buah pepaya. Tak puas hanya meraba, dia mengeluarkan payudaranya. Ummu Aisyah mendesah kecil saat ujung jarinya membelai areolanya.
Uhhhh.. Mmmhhhh...
Sudah lama tak disentuh membuat area putingnya sensitif. Ummu Aisyah menyandarkan punggungnya di bantal, membuka pahanya, dan mulai mengusap area kewanitaannya.
Ahhhh.. Abi.. Ahhhh.. Mmmhhh..
Tiga rumah dari situ Boy membanting ponselnya ke tempat tidur dengan kesal. Beginilah kalau teman mabarnya yang biasa tak online. Single fighter pasti ketemu team error. Yang nggak bisa mainlah, yang tiba tiba AFK lah. Bukannya naik yang ada justru makin turun.
Pusing, dia memutuskan keluar cari angin sekalian beli rokok di warung madura depan. Saat melewati rumah Ummu Aisyah sifat isengnya muncul lagi. Kebetulan juga situasi lagi sepi. Mengendap-endap dia mendekati jendela samping. Feelingnya kamar wali kelasnya itu pasti di jendela ini. Dengan modal sebatang lidi pelan pelan dia menyingkapkan gorden. Dan yang dilihatnya membuatnya terbelalak. Gurunya yang galak itu sedang mengobok-obok memeknya sendiri!
Bingo! Ingin rasanya dia melompat lompat kegirangan. Dengan cepat adegan itu langsung dia abadikan dengan kamera ponselnya.
Sambil merekam Boy mengusap batangnya yang mulai resah. Sambil menonton live show itu dia dengan membayangkan tengah menjepit kontolnya diantara belahan tete montok gurunya itu. Tak lama dia klimaks. Tembok rumah wali kelasnya berceceran peju. Dia langsung pulang dengan sumringah.
Anjing! Gua punya video Ummu Aisyah! Hahaha. Dia bersorak sambil jejingkrakan di kamar. Birahinya naik lagi saat menonton hasil rekamannya. Dia kembali onani untuk yang kedua kali. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.
Dengan cepat dia mengetik. "Assalamu'alaikum Ummu cantik.. " Pesan itu langsung dia kirimkan dengan dada berdebar.
"Wa alaikumsalam. Maaf dengan siapa ini. Tolong jangan kurang ajar!" Ummu Aisyah membalas. Boy sedikit keheranan betapa cepatnya balasan datang. Apa secepat itu Ummu Aisyah klimaks?
"Saya secret admirer. Penggemar gelap Ummu cantik hehe.. " balas Boy. Jantungnya berderap cepat, dan Boy menyukai sensasi tegang ini.
"Tau nomer saya darimana?" Balasannya kembali datang.
Boy termangu sambil memikirkan jawaban yang tepat. Tapi nampaknya Ummu Aisyah tak sabar menunggu, ponsel Boy bergetar tanda panggilan masuk. Sekali, dua kali, tiga kali. Boy cuma memandangi sambil cengengesan. Tak lama pesan itu datang lagi. "Kenapa nggak diangkat??"
Jari Boy sudah gatal ingin mengirimkan video barusan, tapi dia memilih bersabar. Akan ada waktu yang tepat, pikirnya.
"Halo? Ini siapa sebenarnya?" Lagi lagi Ummu Aisyah mengirimkan whatsapp. Boy mematikan ponselnya dan tidur sambil tersenyum. Silakan mati penasaran Ummu hahahaha..
Sejak itu setiap malam Boy selalu meluangkan waktu untuk mampir ke whatsapp wali kelasnya itu untuk sekedar menggoda atau cuma say hai. Ummu Aisyah memang bukan muslimah kaleng kaleng. Tak satu pun whatsapp Boy yang dibalas. Imannya jelas lebih besar dari rasa penasarannya. Tapi Boy punya kartu As terakhir. Dan sekarang waktu yang tepat untuk memainkannya. Boy tahu suami gurunya sedang tak ada di rumah.
"Assalamu'alaikum Ummu cantik.. " Boy membuka percakapan. Pesannya langsung centang dua berwarna biru, artinya sudah dibaca. Dan seperti sebelumnya Ummu Aisyah tak menghiraukan keisengan itu. Boy tersenyum sambil mengklik video masturbasi gurunya itu, lalu mengirimkannya. Sekarang tinggal menunggu, pikirnya sambil cengengesan.
Tak sampai satu menit ponsel Boy dispam panggilan dari Ummu Aisyah. Boy tertawa geli. Lalu pesan muncul. "Ini siapa?! Tolong hapus video itu! Atau saya lapor polisi sekarang juga!"
"Dibilang saya penggemar Ummu cantik, masih nanya aja." Boy membalas. Dia sama sekali tak menghiraukan ancaman Ummu Aisyah.
"Siapa pun kamu, saya minta tolong. Hapus video itu. Saya mohon.. " ketikan Ummu Aisyah melembek. Mungkin dia sadar ancaman tak berarti apa apa buat orang yang menerornya ini. "Kamu mau apa? Uang? Saya pasti kasih. Tolong dihapus videonya sekarang juga.. "
Boy dapat merasakan kepanikan dari setiap kalimat yang Ummu Aisyah kirimkan. Dan dia sungguh puas. Hal ini sudah dia pikirkan berulang kali. Dia bisa saja mengambil keuntungan materi seperti rengekan gurunya itu, tapi dipikir pikir dia tak terlalu membutuhkan uang saat ini. Menikmati tubuh Ummu Aisyah adalah opsi utama, dan itu yang sebenarnya dia idamkan. Tapi dia tak ingin Ummu Aisyah melakukannya dengan terpaksa. Dia ingin gurunya itu melakukannya dengan suka rela. Atau kalau bisa seperti yang sering dia baca di cerita cerita wattpad, dia ingin Ummu Aisyah menjadi budak seksnya, tempat pembuangan pejunya. Karena itu Boy coba bersikap sabar, jangan terburu napsu.
"Saya nggak butuh uang.. " Boy mengirimkan balasan.
"Ya udah kamu mau apa? Yang penting kamu hapus video itu." Ummu Aisyah terdengar panik dan putus asa.
Di sini Boy sudah tak tahan ingin menulis 'memekmu', tapi dia sadar tujuannya jangka panjang. "Saya nggak minta apa apa Ummu cantik.. "
Lalu ponselnya kembali bergetar. Panggilan masuk dari Ummu Aisyah. Boy juga sudah menimbang yang akan dia lakukan di titik ini. Kemungkinannya fifty fifty antara Ummu mengenali suaranya atau tidak. Dipikir lagi, dia jarang berkomunikasi langsung dengan Ummu Aisyah apa lagi lewat telepon. Jadi Boy mengambil resiko. Dengan gugup dia angkat panggilan dari Ummu Aisyah.
"Assalamu'alaikum." Suara Ummu Aisyah terdengar campuran lega dan panik. Mungkin dia juga tak menyangka Boy akhirnya mau mengangkat teleponnya. "Siapa pun kamu, saya mohon hapus videonya."
"Wa alaikumsalam.. " hanya itu jawaban Boy sekaligus tes ombak apakah Ummu mengenali suaranya.
"Halo.. Halo.. " Ummu Aisyah menuntut jawaban.
"Seperti saya bilang Ummu sayang. Saya nggak minta apa apa, saya nggak butuh apa apa.. " jawab Boy dengan suara yang dibuat buat. Dia tetap khawatir gurunya itu mengenalinya. Tapi nampaknya tidak.
"Saya mohon pak.. Tolong. " Ummu Aisyah nyaris menangis. Boy terkikik mendengar dia dipanggil bapak oleh gurunya. Fix, Ummu Aisyah tak mengenalinya.
"Denger ya Ummu sayang." Boy mulai percaya diri. "Saya nggak akan hapus videonya. Tapi saya juga janji nggak akan nyebar video itu. Tenang aja."
Ada keheningan yang terjadi. Mungkin Ummu Aisyah sedang memproses informasi baru itu. Saat dia kembali berbicara nadanya berubah. Dia terdengar lebih tenang. "Alhamdulillah, terima kasih Pak.. "
Boy menahan tawanya. "Terima kasih kembali Ummu sayang."
Setelah itu tak ada komunikasi apa pun di malam itu. Ummu Aisyah jelas tak puas tapi setidaknya dia bisa merasa lega. Dan Boy mendadak menjadi ahli dalam memainkan kesabaran. Dia sengaja tak mengirimkan pesan seperti sebelumnya. Boy yakin kali ini Ummu Aisyah yang akan sibuk mendekatinya. Mungkin untuk merayu agar video itu dihapus atau mengumpulkan informasi untuk mencari tahu jati diri penggemar gelapnya itu. Dan tebakan Boy terbukti tepat. Ketika sedang push rank Boy melihat notifikasi whatsapp dari Ummu Aisyah.
Dengan semangat dia langsung AFK, dan lebih memilih melayani wali kelasnya itu.
Dari yang awalnya merayu untuk menghapus video hingga bergeser menjadi sekedar say hai atau bercerita ini itu. Boy juga pandai menanggapi membuat Ummu Aisyah betah. Dari yang awalnya hanya whatsapp berganti menjadi telepon. Dan hingga kini Ummu Aisyah tetap belum tahu bahwa lawan bicara misteriusnya itu adalah muridnya sendiri. Muridnya yang paling badung.
Boy memperhatikan status online di layar ponselnya. Ketika tanda "typing..." muncul, senyum di wajahnya semakin lebar. Taktik melunakkan suasana terbukti ampuh; Ummu Aisyah mulai merasa aman.
"Makasih ya udah mau ngertiin... ," balas Ummu Aisyah, lengkap dengan emoji tersenyum tipis yang menyiratkan rasa lega. Ummu Aisyah terheran sendiri membaca ketikannya, untuk apa juga segala mengucapkan terima kasih.
Dengan lihai Boy sengaja menghindari topik seks. Dia ingin membuat Ummu merasa nyaman lebih dulu. Dia menanyakan hal hal remeh seperti masak apa hari ini, atau obrolan tentang hobi atau kesukaan.
Minggu itu rutin Boy ngobrol ringan dengan gurunya itu. Dan selama itu tak sedikit pun kecurigaan muncul di hati Ummu Aisyah bahwa lawan bicaranya tak lain murid sekaligus tetangganya sendiri. Yang dia tahu orang misterius ini ternyata mampu mengisi kekosongan. Jujur dia kangen ngobrol ringan dengan suaminya membahas apa saja, yang belakangan tak pernah terjadi karena hobi baru suaminya itu.
Seperti malam malam yang lalu, begitu juga malam ini. Sambil rebahan di ranjang, Ummu Aisyah asyik ngobrol di telepon dengan orang misterius itu.
Suasana kamar begitu tenang, hanya menyisakan sorot lampu tidur yang temaram dan suara bisikan lembut Ummu Aisyah yang mengalir tanpa beban. Berbagi keluh kesah tentang rutinitas harian—mulai dari tingkah murid-murid di sekolah yang menguras energi, hingga perkara domestik seperti melonjaknya harga kebutuhan pokok—membuatnya merasa didengarkan. Hal yang sudah lama tidak ia dapatkan dari suaminya.
Di ujung telepon, Boy mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia sesekali mengiyakan, memberikan respons yang tepat, dan menimpali dengan nada suara yang sengaja dibuat agak berat namun tetap terdengar santun dan dewasa agar identitas aslinya sebagai murid tidak terbongkar.
"Iya, Ummu, saya paham banget. Menjadi guru itu kan bukan cuma transfer ilmu, tapi juga bagi fokus dan sabar yang luar biasa. Wajar banget kalau Ummu merasa lelah fisik dan pikiran," sahut Boy di seberang telepon, suaranya terdengar begitu empati. "Apalagi masih harus mikirin urusan dapur yang makin mahal. Ummu hebat bisa muat semuanya sendiri."
Mendengar apresiasi yang begitu tulus, Ummu Aisyah tersenyum kecil sambil memeluk gulingnya lebih erat. Ada kehangatan yang perlahan menjalar di dadanya. Pria misterius ini tidak mendesaknya, tidak menuntut apa-apa, dan justru menjadi tempat bersandar yang sangat nyaman di tengah malam yang sepi.
"Kamu kok bisa se-pengertian ini, ya?" tanya Ummu Aisyah spontan, suaranya terdengar lebih rileks dan manja tanpa ia sadari.
Boy terkekeh dalam hati. Guru yang super galak itu sekarang ngobrol dengan nada manja padanya. "Saya lumayan bijak ya buat ukuran orang brengsek, Ummu? Hehehe.. "
Ummu Aisyah tertawa kecil mendengar seloroh itu. Rasa canggung yang sempat tersisa di antara mereka menguap begitu saja, digantikan oleh keakraban yang kian erat.
"Bisa-bisanya ngaku brengsek," sahut Ummu Aisyah, membalikkan posisi rebahannya menjadi telentang sambil menatap langit-langit kamar yang temaram. "Orang brengsek mana ada yang mau dengerin curhatan guru capek soal harga telur naik?"
"Ya mungkin saya tipe baru, Ummu," balas Boy, menahan tawa agar suaranya tetap terdengar dewasa di telepon. "Lagian, dengerin Ummu cerita itu seru. Jadi saya tahu sisi lain dari seorang guru yang biasanya kelihatan tegar banget di depan orang banyak."
Kalimat Boy barusan langsung menyentuh titik sensitif di hati Ummu Aisyah. Sebagai seorang pendidik, ia selalu dituntut untuk tampil sempurna, tegas, dan tanpa celah di sekolah. Di rumah pun, suaminya jarang memberikan ruang untuknya mengeluh. Baru malam ini, dan dari orang asing ini, ia merasa diperbolehkan untuk menjadi rapuh.
"Iya, sih... Di luar sana aku harus selalu kelihatan kuat," bisik Ummu Aisyah, suaranya melembut, ada nada haru yang terselip di sana. "Makasih ya, udah bikin malam-malamku yang sepi jadi agak lebih ringan."
"Sama-sama, Ummu. Kan saya udah janji, selama Ummu butuh temen ngobrol, saya bakal selalu ada di sini," jawab Boy dengan nada yang sangat menenangkan.
Boy mengubah posisi duduknya di pinggiran kasur. Dia tahu, fondasi kenyamanan ini sudah terbangun dengan sangat kokoh. Ummu Aisyah sudah sepenuhnya percaya padanya dan bahkan mulai bergantung pada kehadiran suaranya setiap malam.
Perlahan dan pasti Boy mengarahkan obrolan ke arah urusan ranjang. Ummu Aisyah pun menanggapi. Entah karena kesepian karena suaminya yang mancing terus atau takut soal video. Boy tak peduli, yang jelas dia sangat menikmati.
"Saya barusan nonton video Ummu lagi dong.. " ucap Boy.
"Jangan ditonton terus, saya malu. Lagian ngapain sih ditonton.. " balas Ummu Aisyah.
"Saya nggak pernah puas coli sambil bayangin Ummu. Apalagi toket Ummu beneran sempurna hehe.. " sambung Boy dengan jantung berdebar. Dia ingin tahu respon Ummu Aisyah jika dia menggunakan bahasa yang kotor.
Walau terdengar kurang ajar tapi Ummu Aisyah tak memungkiri dia senang tubuhnya dianggap sempurna, bahkan hingga orang tak dikenal berfantasi bercinta dengannya. "Ih omongan kamu saru banget.. "
"Saya kalau jadi suaminya, Ummu bakal saya entotin setiap hari. Pagi, siang, sore, malem." omongan Boy makin tak karuan. "Tete, muka, dan memek Ummu bakal saya pejuin terus.. "
Dada Ummu Aisyah berdesir mendengar ocehan mesum Boy. Apalagi sudah lama dia tak disentuh suami. Napasnya memburu. Dia mulai terangsang.
"Ih kamu nih. Nggak boleh, saya istri orang. " balas Ummu Aisyah. Dia berharap Boy tak menyerah dengan kata katanya barusan karena selangkangannya mulai terasa gatal.
"Justru istri orang lebih menggairahkan. Saya sering bayangin ngentotin Ummu di samping suaminya yang lagi tidur." goda Boy lagi.
Uhhh... Mmmmhh.. Ummu Aisyah membelai celana dalamnya. Napasnya kian berat. Semakin kurang ajar ocehan Boy anehnya dia semakin horny. "Mmmmhh.. Terusss... "
"Terus saya jambak jilbab Ummu. Saya tamparin pipi Ummu pakai kontol saya.. " Boy tahu Ummu sudah terangsang berat.
"Uhhh.. Terusss.. " Ummu Aisyah makin lupa diri. Dua jarinya masuk dan mengobok obok memeknya sendiri sambil membayangkan fantasi Boy.
"Terus saya perkosa abis abisan memek Ummu.. Ahhhh.. Ahhh.. Mmhhhhh.. " Boy tak lagi menahan diri. Dia mengocok kontolnya sambil mendesah keras. "Ahhh.. Bakal saya buntingin Ummu! Ahhhh... "
Ummu Aisyah juga sudah lupa diri. Jarinya semakin cepat mengocok memeknya sendiri. "Ahhhh.. Ahhh.. Iya! Ahhhh... Mmmhhhh... " Wajah Ummu Aisyah terasa panas. Ini pertama kalinya dia mengalami kenikmatan via telepon.
"Suka Ummu?" tanya Boy dengan napas memburu. Dia sungguh tak menyangka bisa melangkah hingga sejauh ini.
"Ss.. Suka.. Ahhhh... Ahhhh.. " Seprai ranjang Ummu Aisyah sudah berantakan.
"Suka diapain Ummu?" Boy memancing.
"Suka diginiin sama kamu... Ahhh.. Ahhh.. " Ummu Aisyah menggelinjang. Dia membayangkan orang asing ini sedang menodainya.
Boy makin gembira. "Diginiin? Maksudnya Ummu suka dientotin?"
"Iyah.. Itu... Ahhhh.. Ahhhhhh.. Ahhhh.... " Ummu Aisyah sudah tak peduli. Jarinya sibuk menusuk liang kemaluannya sendiri.
"Dientotin pake apa Ummu?" Boy terus memancing membuat suasana semakin panas.
"Pake punya kamu sayang! Ahhh.. Ahhhhh... "
Boy kegirangan mendengar kata sayang terucap, tapi bukan itu yang dia mau. Dia ingin bibir suci Ummu Aisyah mengucapkan kata kotor. "Namanya kontol, Ummu. Ayo bilang.. "
"Eh.. Iya, itu... Ahhh.. " Jawab Ummu Aisyah disela desahannya.
"Bilang dulu yang bener. Ayo sebut kontol." Boy sedikit memaksa. "Kalo nggak udahan nih.. "
Pikiran Ummu Aisyah sudah tak mampu lagi berpikir sehat. Saat ini dia hanya menginginkan puncak dari kenikmatan yang tak pernah lagi dia rasakan selama berminggu-minggu. "Kon.. Kontol!"
"Anak pinter.. " Boy terkekeh puas. Dia makin semangat mengocok kontolnya sembari membayangkan tubuh indah Ummu Aisyah, "Ummu suka ya dikontolin?"
"Suka sayang! Ahhhh.. Ahhhh.. Ahhhh.. Terusss.. " Ummu Aisyah makin menggila. Di bawah tubuhnya sesuatu tengah berdenyut semakin cepat dan cepat. Tubuhnya melenting dengan kaki gemetar. Lalu gelombang kenikmatan itu mencapai klimaksnya. "Ahhhhhhhh! Aku keluarrrrrr!!! Ahhhhhhhh.. "
Tubuh boy menegang, dia juga mengalami hal yang sama. "Ahhhh! Gua pejuin memek lu, Ummu!! Ahhhhh!!"
CROTT! CROTTT! CROTTT!!
Keduanya jatuh tergeletak di kasurnya masing-masing dengan napas naik turun. Boy puas sudah menodai wali kelasnya walau cuma lewat telepon. Dan Ummu puas karena sudah lama dia tak mencapai kenikmatan seperti barusan.
Suasana di dalam kamar masing-masing mendadak sunyi, menyisakan deru napas yang lambat laun mulai teratur. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar, seolah menjadi saksi bisu atas ketegangan yang baru saja mereda melalui sambungan telepon barusan.
Boy menatap langit-langit kamarnya dengan senyum lebar yang penuh kemenangan. Ada rasa puas yang luar biasa, sekaligus debaran adrenalin yang memompa jantungnya. Ummu Aisyah baru saja membuka sisi terliarnya. Hanya tinggal tunggu waktu yang tepat untuk menikmati tubuhnya langsung. Boy terkekeh.
Di seberang sana, Ummu Aisyah masih memejamkan mata, membiarkan tubuhnya rileks di atas kasur yang berantakan. Sentuhan realitas perlahan kembali mengetuk kesadarannya, membawa rasa hangat yang berangsur-angsur memudar. Ia menatap layar ponselnya yang masih menampilkan durasi panggilan yang berjalan.
Akal sehat Ummu Aisyah mulai merayap naik, memicu rasa bersalah sekaligus penasaran yang besar. Siapa pun orang itu telah berhasil menjangkau sisi terdalamnya. Sebagai seorang guru yang selalu menjaga kehormatan, ia merasa kecolongan, namun kepuasan yang sudah lama tidak ia rasakan membuat jemarinya ragu untuk langsung memutuskan sambungan.l
"Jangan kapok ya, Ummu." Suara Boy kembali terdengar dari loudspeaker ponselnya. Ummu Aisyah bingung bagaimana harus bereaksi. Di satu sisi dia sangat menikmati keliaran orang itu. Di sisi lain dia takut aib ini akan terbongkar.
"Kamu gila.. " balas Ummu Aisyah.
Boy kembali terkekeh. "Tapi Ummu suka kan? Heheee... "
BERSAMBUNG
ns216.73.217.39da2


