Ummu Aisyah sudah tak peduli dengan kebiasaan mancing suaminya yang makin tak ingat waktu. Suaminya bukan tipe yang suka berdebat panjang lebar. Setiap Ummu Aisyah mengingatkan dia hanya menjawab iya iya saja, tak sampai tahap bertengkar. Namun besoknya dia kembali berangkat mancing seolah tak ada obrolan apa pun sebelumnya. Ummu Aisyah sesungguhnya tak melarang, hanya saja mengingatkan supaya ingat waktu.
Dia pernah mengeluhkan ini pada laki-laki misteriusnya. Lelaki itu menenangkannya dan memberikan saran yang membuatnya agak sedikit lega. Ummu Aisyah tersenyum mengingat jawaban orang misterius itu ketika dia memujinya. "Untuk ukuran orang brengsek, saya lumayan bijak loh Ummu. Hahaha.. "
Absennya satu malam saja sudah cukup membuat rutinitas Ummu Aisyah terasa limbung. Ponselnya yang biasa bergetar di jam-jam rawan—saat suaminya sudah mendengkur halus atau sedang bersiap-siap dengan alat pancingnya—semalam hanya membisu. Keheningan itu justru terasa lebih bising daripada dering telepon mana pun.
Minggu pagi, suasana rumah berjalan seperti biasa. Suaminya sedang sibuk mengikat mata kail di teras, sesekali menyeruput kopi hitam yang sudah mendingin. Ummu Aisyah memperhatikan punggung lelaki itu dari balik gorden dapur. Ada rasa bersalah yang tiba-laki menyergap, bersilangan dengan rasa rindu yang salah alamat kepada suara berat di seberang telepon.
Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengusir bayangan kalimat-kalimat manis dan tawa renyah si "lelaki brengsek" yang pelan-pelan mulai menyita ruang di kepalanya. Ummu Aisyah tahu ini berbahaya. Di balik sikap cuek suaminya, ada pernikahan yang harus ia jaga. Namun, perhatian yang absen dari sang suami justru mengalir deras dari orang asing yang entah mengapa terasa begitu memahami seluk-beluk hatinya.
Dan selama itu juga ponselnya mematung tanpa notifikasi apa pun. Ummu Aisyah bertanya-tanya, apakah terornya sudah berakhir? Apakah orang brengsek itu sudah bosan dengan wanita tua ini?
Dia menatap wajahnya di cermin. Usianya sudah lewat empat puluh tahun. Garis-garis halus mulai terlihat di ujung matanya. Apakah ini alasan suaminya tak lagi menyentuhnya? Dia membatin.
Lalu perihal orang misterius itu. Ummu Aisyah tak punya nyali untuk bertanya, namun orang itu tak mungkin orang jauh. Bisa jadi dia mungkin saja mengenalnya juga. Ummi punya beberapa kecurigaan pada bapak-bapak tetangganya, tapi seiring waktu kecurigaan tanpa dasar itu pupus. Atau mungkin rekan gurunya di sekolah? Dia langsung mencoret kemungkinan itu. Mustahil dia tak mengenali cara bicara dan suara rekan kerjanya sendiri. Lalu dia berhenti menebak. Mungkin saja dia hanya takut pada kebenaran.
Malam ini, keheningan rumah terasa jauh lebih pekat. Suaminya sudah berangkat sejak ashar tadi, membawa serta tas besar berisi perlengkapan pancing dan jaket tebalnya. Seperti biasa, sebelum pergi ia hanya mengangguk dan mengiyakan rentetan pesan Ummu Aisyah untuk menjaga kesehatan, lalu melenggang pergi tanpa beban.
Ummu Aisyah duduk di tepi ranjang yang terasa terlalu luas. Jam dinding berdetak konstan, memecah sepi yang mulai terasa mencekik. Biasanya, di jam-jam seperti ini, ponselnya sudah menyala menampilkan nama atau nomor yang sengaja tidak ia simpan dalam kontak.
Rasa kehilangan yang menggantung sejak semalam kini menjelma menjadi kegelisahan yang nyata. Ummu Aisyah memandangi layar ponselnya yang gelap, merindukan suara berat yang selalu punya cara untuk mengalihkan penatnya. Ia teringat lagi ucapan lelaki itu, "Untuk ukuran orang brengsek, saya lumayan bijak loh Ummu. Hahaha.."
Seketika, senyum kecut terukir di bibirnya. Benar, lelaki itu brengsek karena perlahan-lahan berhasil menyusup ke dalam celah kosong di hatinya. Dan ia merasa jauh lebih brengsek karena membiarkan ruang itu terbuka lebar.
Tepat ketika ia memutuskan untuk mematikan lampu kamar dan mencoba memejamkan mata, ponsel di atas nakas bergetar panjang. Sebuah panggilan masuk. Layarnya menyala, menerangi kamar yang remang.
Jantung Ummu Aisyah mendadak berdegup kencang. Ia menatap layar itu beberapa detik, beralih antara rasa bersalah sebagai seorang istri dan dorongan egois yang teramat sangat untuk mendengar suara yang tak kasat mata itu. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia menggeser tombol hijau ke atas, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo..." bisik Ummu Aisyah, hampir tak terdengar.
Di seberang sana, sempat ada jeda beberapa detik. Hanya terdengar suara helaan napas yang berat. "Bukan halo Bu Guru, tapi assalamualaikum." Suara berat itu akhirnya terdengar. Nada bicaranya santai, namun entah mengapa terdengar sedikit lebih lelah dari biasanya.
Mendengar suara itu, ada sebongkah beban yang runtuh dari dada Ummu Aisyah. Rasa rindu yang sedari tadi dipendamnya menguap begitu saja, digantikan oleh kehangatan yang akrab. Namun, ia mencoba menjaga suaranya agar tetap terdengar datar.
"Belum tidur?" tanya Ummu Aisyah pelan, sambil membetulkan posisi duduknya dan bersandar pada kepala ranjang. "Semalam... ke mana? Tumben nggak nelpon?"
Terdengar tawa renyah yang tertahan di seberang sana. Tawa khas yang selalu berhasil membuat Ummu Aisyah merasa menjadi wanita yang paling diperhatikan.
"Eh, ada yang kangen ya? Hahaha. Berarti nilai saya sebagai orang brengsek naik satu tingkat, dong?" kelakarnya, kembali menggunakan humor sarkas yang menjadi ciri khasnya.
Ummu Aisyah tidak bisa menahan senyum tipis di bibirnya. "Kamu lagi apa?"
"Lagi bayangin Ummu.. " balas orang itu cepat.
"Lagi bayangin apa?" tanya Ummu walau dia sudah tahu jawabannya. Inilah yang membuatnya selalu kangen pada orang misterius itu. Kenakalannya yang tak mengenal batas selalu mampu memuaskan dahaganya sebagai wanita. Fantasinya sungguh di luar kendali. Dan anehnya, dia suka.
"Lagi bayangin Ummu sholat." Orang itu menjawab.
Heh? Ummu Aisyah tak menyangka dengan jawaban itu biasanya orang itu akan membalas dengan jawaban mesum yang selalu membuat selangkangannya terasa gatal. "Bayangin aku lagi sholat?" tanya Ummu Aisyah mengulangi, memastikan dia tak salah dengar.
Orang itu terkekeh. "Iya. Bayangin Ummu lagi sholat. Sedang duduk tahiyat akhir. Tapi saya berdiri di depan Ummu sambil gesekin kontol di muka Ummu... Heeee.. "
Deg!
Gairah Ummu Aisyah langsung bangkit mendengar betapa gilanya fantasi orang itu. Selangkangannya berdenyut pelan dan putingnya berdiri tegak. Dia membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman sebelum kembali merespon dengan suara gemetar. "Terus.. "
'terus saya tamparin pipi Ummu pake kontol saya... Mmhhh.. "
Bayangan yang sama bermain di kepala Ummu Aisyah. Jemari tangan kanannya dia selipkan ke balik celana dalamnya coba merengkuh kenikmatan. "Mmhhh.... Terus... "
"Udah puas, saya jambak jilbab Ummu lalu saya entot mulut suci Ummu pake kontol.. ahhhh..nikmat.." napas orang itu mulai terdengar berat.
Di ranjangnya Ummu Aisyah sudah telanjang bulat. Pakaiannya berserakan sembarangan, sementara dirinya menggeliat resah. "Ahhh. Shhhhh....ahhhhh...kontolll...ahhhhh kontol enak .. shhhhhh.. "
"Terus saya kencingin muka Ummu. Wajahnya, mulutnya, badannya. Ahhhh.. mukenah Ummu lepek air kencing saya....shhhh.."
Ummu Aisyah seharusnya marah dengan makin gilanya ocehan orang itu, tapi nyatanya tidak. Dia justru semakin ketagihan dilecehkan seperti itu. "Teruss... Ahhhh...terus .. " Ummu Aisyah makin giat mengorek liang kenikmatannya. Dua jarinya mengaduk vagina dan tangan kiri meremas buah dadanya sendiri.
"Terus gua perkosa memek suci lu Ummu... Rasain nikmatnya kontol gua! Ahhhhh.. "
Ummu Aisyah kelojotan di ranjangnya sendiri. "Perkosa aku! Pejuin aku! Buntingin aku!! Ahhhhhh! Aku keluarrr!! Shhhhhh...." Crot! Crot!!
Lagi dan lagi Ummu Aisyah takluk pada permainan gila orang misterius itu. Dia tergeletak dengan dada naik turun seiring kenikmatan yang perlahan memudar. Ummu Aisyah sudah ketagihan.
"Ummu belum tidur kan?" Suara laki-laki itu kembali terdengar. Ini salah satu yang membuatnya betah, laki-laki itu tak lantas menghilang setelah mendapatkan kepuasan. Jauh berbeda dengan suaminya yang langsung tidur tanpa basa basi. Padahal baginya obrolan after sex penting. Bukankah itu golden time komunikasi dalam berumah tangga?
"Belum.":jawab Ummu Aisyah. Dia kembali menempelkan ponselnya di telinga.
"Gimana pekerjaan? Aman?" tanya orang itu.
"Alhamdulillah lancar walau agak pusing dengan kurikulum baru. Biasalah." balas Ummu Aisyah. Hatinya berbunga ditanya keadaannya. Memang inilah yang dia butuhkan. Mengurangi isi kepala agar tidak overthinking.
"Alhamdulillah." Orang itu menanggapi datar.
"Jadi, selain jadi orang brengsek kegiatanmu apa lagi?" tanya Ummu Aisyah.
Boy tersenyum mendengar pertanyaan itu. Wali kelasnya memang pandai, melemparkan pertanyaan dengan cara yang sangat biasa padahal itu adalah jebakan jika dia reflek menjawab. "Saya full time jadi orang brengsek hahaha."
Ummu Aisyah tertawa. "Sebrengsek apa sih emangnya?"
"Beneran mau tau?" goda Boy.
"Beneran." balas Ummu Aisyah tak sabar.
"Besok jadwal suami Ummu mancing di laut kan? Pulangnya Minggu sore?"
"Iya?" Ummu Aisyah menerka-nerka kemana arah omongan orang ini.
"Jam 11 malem saya mau nemuin Ummu."
Duar! Jantung Ummu terasa mau copot. Dia sama sekali tak menyangka pertanyaan iseng tadi akan berimplikasi begini.
"Kamu bisa aja becandanya. Aku sampe kaget, hahaha." Ummu Aisyah coba menenangkan hatinya sendiri. Berharap orang itu juga ikut tertawa dan bilang omongan tadi cuma prank. Tapi dia tak tertawa. Jawaban berikutnya justru membuat Ummu Aisyah makin kalut.
"Udah dulu ya, Ummu. Besok kalo saya misscall artinya saya sudah di pintu belakang rumah Ummu. Sampe ketemu besok."
Deg! Jantung Ummu Aisyah berhenti sesaat.
Sambungan telepon diputus sepihak.
Suara tut-tut-tut yang monoton di ujung ponsel terasa seperti hitungan mundur bom waktu di telinga Ummu Aisyah. Tangannya gemetar hebat, hampir membuat benda pipih itu lolos dari genggamannya.
Kenapa aku harus meladeni obrolan iseng itu tadi? penyesalan datang merayap, mencekik lehernya.
Malam itu, Ummu Aisyah sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali melirik ke arah suaminya yang tertidur pulas, bayangan jam 11 malam esok hari terus menghantuinya. Pintu belakang rumah mereka yang hanya bermodalkan selot kayu tua mendadak terasa begitu rapuh. Di belakang sana hanya tanah kosong yang ditumbuhi semak dan pohon rambutan. Dia membayangkan orang itu berdiri diam di bawah kegelapan tengah menantinya. Ummu Aisyah bergidik.
Siapa orang ini sebenarnya? Benarkah dia akan seberani itu?
Malam itu, Ummu Aisyah sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Ketakutan dan rasa penasaran bergolak, saling mengalahkan di dalam kepalanya. Setiap kali melirik suaminya yang tertidur pulas, bayangan jam 11 malam esok hari justru terasa makin magnetis sekaligus mencekam. Walau dia mengakui ada sedikit bagian hatinya yang juga senang dengan kenekatan orang misterius itu.
Sabtu pagi pun tiba. Riuh suara mesin mobil suaminya yang bergerak menjauh meninggalkan halaman menjadi tanda dimulainya hitungan mundur. Sepanjang hari, Ummu Aisyah terjebak dalam siksaan psikologis. Setiap kali ia meyakinkan diri untuk mengunci semua pintu rapat-rapat dan mengabaikan orang itu, sisi lain dari dirinya justru berbisik sebaliknya—menuntut jawaban atas misteri yang sengaja diumpankan kepadanya.
Jam dinding di kamar menunjukkan pukul 22.45 WIB. Suasana rumah sepi senyap. Ummu Aisyah tidak mengunci diri di kamar. Ia justru duduk di kursi makan yang menghadap langsung ke lorong dapur, memeluk tubuhnya sendiri yang dingin karena tegang, sementara matanya tak lepas dari layar ponsel yang sengaja disetel dalam mode getar. Jantungnya berpacu, adrenalinnya naik bukan lagi sekadar karena takut, tapi karena penantian yang memuncak.
22.55...
22.58...
Tepat saat angka di layar berubah menjadi 23.00, layar ponselnya menyala terang. Satu ketukan getar—sebuah misscall—lalu mati.
Detik berikutnya, dari arah dapur yang temaram, terdengar suara ketukan pelan sebanyak tiga kali di daun pintu belakang.
Tok... tok... tok...
Napas Ummu Aisyah tertahan. Ketakutannya mendadak lumpuh oleh rasa ingin tahu yang teramat sangat. Dengan langkah super pelan yang nyaris tak terdengar, ia bangkit berdiri dan berjalan mendekati pintu dapur, bersiap melihat siapa sosok di balik kegelapan itu.
Tangan Boy yang menempel di permukaan kayu pintu belakang terasa dingin dan basah oleh keringat. Jantungnya berdentum begitu keras di rongga dadanya, seolah-olah suaranya bisa menembus dinding rumah dan membangunkan seisi kampung.
Ini adalah aksi paling gila dan nekat yang pernah ia lakukan seumur hidup. Menggoda lewat telepon, mengirim pesan-pesan samar penuh teka-teki, dan mendengarkan suara gugup Ummu Aisyah dari balik pengeras suara ponsel memang sempat membuatnya ketagihan. Tapi lama-kelamaan, permainan jarak jauh itu terasa hambar. Rasa bosan memacunya untuk bertindak lebih jauh. Malam ini, ia ingin melihat langsung ekspresi wajah gurunya itu dari jarak dekat. Ia ingin menguji sampai di mana batas keteguhan wanita yang selama ini ia segani di sekolah.
Di dalam rumah, langkah kaki Ummu Aisyah terdengar mendekat. Sangat pelan, ragu-ragu, namun pasti.
Boy menahan napasnya rapat-rapat. Ia merapatkan tubuhnya ke dinding di samping pintu, berjaga-jaga jika saja gurunya itu membawa sesuatu untuk memukulnya atau mendadak berteriak. Namun, Boy bertaruh pada rasa penasaran Ummu Aisyah yang berhasil ia pancing selama beberapa hari terakhir melalui telepon.
Klek.
Suara selot kayu yang digeser dari dalam terdengar begitu nyaring di keheningan malam. Jantung Boy serasa melompat ke tenggorokan.
Pintu belakang itu perlahan terbuka, menyisakan celah selebar belasan sentimeter. Cahaya lampu dapur yang temaram menyeruak keluar, menyinari sebagian wajah Boy yang berdiri membeku di kegelapan teras belakang.
Mata Ummu Aisyah membelalak sempurna saat tatapan mereka bertemu di balik celah pintu. Napas wanita itu tertahan di tenggorokan, tangannya yang memegang gagang pintu gemetar hebat ketika menyadari siapa sosok yang berdiri di hadapannya.
"Boy...?" bisik Ummu Aisyah dengan suara tercekik, antara syok, tidak percaya, dan takut yang bercampur aduk menjadi satu. "Ka-kamu... ngapain di sini?"
Boy tidak langsung menjawab. Ia justru menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyum tipis yang sengaja ia buat untuk menutupi gemuruh di dadanya yang juga berdegup kencang.
Sementara itu, di ambang pintu, dunia Ummu Aisyah seolah runtuh dan berputar balik. Kepalanya mendadak pening mendapati kenyataan brutal yang tersaji di depan matanya. Seluruh tubuhnya lemas, nyaris tak bertulang.
Boy? Muridnya sendiri?
Pikiran Ummu Aisyah melesat mundur, mengingat kembali rangkaian telepon misterius yang meneror sekaligus memikatnya setiap malam selama beberapa minggu terakhir. Suara berat, penuh teka-teki, dan gombalan berani yang sempat membuatnya tersipu sekaligus ketakutan di balik selimut—bagaimana mungkin semua itu berasal dari remaja tanggung yang sering ia temui di sekolah? Remaja yang selama ini statusnya berada jauh di bawah otoritasnya sebagai seorang pendidik? Rasa tidak percaya yang teramat sangat menghantam dadanya, lebih besar daripada rasa takutnya saat ini.
"Malam, Ummu," bisik Boy, sengaja merendahkan suaranya agar terdengar persis seperti suara misterius di telepon yang biasa didengar Ummu Aisyah tiap malam.
Mendengar suara itu secara langsung dalam jarak sedekat ini, lambat laun keraguan Ummu Aisyah terkikis, digantikan oleh rasa syok yang makin pekat. Wajahnya memucat. Ia merasa bodoh, terhina, namun di saat yang sama, ada ketegangan aneh yang membuatnya tak mampu mengalihkan pandangan dari mata muridnya itu.
"Ka-kamu..." suara Ummu Aisyah terputus, tenggorokannya mendadak sekering gurun. "Jadi selama ini... kamu yang telepon saya tiap malam, Boy?"
Boy tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap gurunya lekat-lekat, lalu dengan perlahan, ia mengulurkan tangan dinginnya untuk menyentuh pinggiran daun pintu, mencoba mendorongnya sedikit lebih lebar.
Boy tidak menunggu jawaban, apalagi meminta izin. Melihat Ummu Aisyah yang membeku dalam badai keterkejutan, Boy memanfaatkan celah itu. Dengan satu gerakan cepat namun halus, ia mendorong daun pintu lebih lebar, menyelinap masuk ke dalam kehangatan dapur, dan langsung menutup kembali pintu kayu itu di belakang badannya.
Klek.
Suara selot kunci yang dikembalikan ke tempatnya oleh tangan Boy terdengar begitu final di keheningan dapur.
Ummu Aisyah tersentak mundur dua langkah, spontan mendekapkan tangan ke dadanya yang bergemuruh hebat. Ruang dapur yang sempit itu mendadak terasa begitu sesak setelah tubuh tegap Boy kini berada di dalam rumahnya. Aroma malam dan parfum maskulin remaja itu seolah menguasai udara.
"Boy! Kamu... berani-beraninya kamu masuk?!" desis Ummu Aisyah dengan suara tertahan. Separuh dari dirinya ingin berteriak histeris, namun separuh lainnya—yang masih syok dan tak percaya bahwa peneror teleponnya adalah murid sendiri—justru menahan suaranya agar tidak pecah menjadi kegaduhan yang bisa didengar tetangga.
Boy bersandar pada pintu yang tertutup, melipat tangan di dada dengan senyum tipis yang tampak begitu puas. Tatapannya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut seorang murid kepada gurunya; ada kilat menantang yang belum pernah Ummu Aisyah lihat di ruang kelas.
"Kenapa enggak, Ummu?" sahut Boy santai, suaranya sangat lirih namun terdengar begitu dekat. "Lagipula, telepon kita tiap malam juga selalu dilakukan di dalam kamar yang tertutup, kan? Bedanya, sekarang saya ada di sini."
Ummu Aisyah meraba dinding di belakangnya, mencari pegangan untuk menopang kakinya yang mendadak terasa lemas. Kata-kata Boy barusan seperti tamparan keras yang menyadarkannya dari keterpanaan. Batasan antara guru dan murid yang selama ini ia jaga di sekolah runtuh begitu saja dalam satu malam, di dalam rumahnya sendiri.
"Kamu... kamu lancang sekali, Boy," bisik Ummu Aisyah, mencoba menata kembali wibawanya yang tersisa, meski suaranya masih bergetar hebat. "Keluar sekarang juga. Ini rumah saya. Kalau kamu tidak keluar, saya akan telepon kepala sekolah besok pagi!"
Boy justru terkekeh pelan. Ia melangkah maju satu tapak, membuat jarak di antara mereka kembali terkikis. Di bawah temaram lampu dapur, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana dada gurunya itu naik-turun karena napas yang memburu. Ketegangan yang tercipta di antara mereka berdua malam itu terasa begitu pekat.
"Telepon kepala sekolah?" Boy mengulang kalimat itu dengan nada meremehkan, namun tatapannya tetap mengunci mata Ummu Aisyah. "Lalu Ummu mau bilang apa sama beliau? Bilang kalau Ummu selalu meladeni telepon saya setiap malam? Bilang kalau Ummu penasaran dan sengaja membukakan pintu belakang ini untuk saya?"
"Boy!"
"Ummu tahu sendiri kan, saya anak nakal di sekolah. Saya nggak punya beban apa-apa kalaupun dikeluarkan," potong Boy cepat, suaranya kini terdengar sangat tenang namun penuh intimidasi psikologis. "Tapi Ummu? Nama baik Ummu, suami Ummu... apa nggak sayang?"
Pertanyaan Boy barusan telak menghentikan aliran kata-kata di tenggorokan Ummu Aisyah. Sisi penasaran yang menuntunnya membuka pintu tadi kini berubah menjadi jebakan Batman yang mengerikan. Wanita itu menyadari satu hal: di dalam ruang dapur yang tertutup ini, remaja di hadapannya bukan lagi sekadar murid nakal yang bisa ia hukum berdiri di depan kelas.
BERSAMBUNG
Phoneseks buat binor, janda, anak sekolah. Privat aman. Dijamin ketagihan. 087778021423397Please respect copyright.PENANAoN8pKZHeAr


