Bab 3: Jeritan Malam yang Tak Berujung
991Please respect copyright.PENANAFoXiRWytkq
Cahaya redup lampu tidur kamar utama menerangi ranjang king size yang kini berantakan. Seprai sutra mahal basah oleh keringat dan cairan cairan orgasme yang melimpah dari tubuh Laras. Wanita 32 tahun itu terbaring telentang, dada naik-turun dengan cepat, payudara I-cupnya yang montok masih bergoyang pelan sisa getaran orgasme. memeknya terbuka sedikit, bibir merah mengkilap oleh campuran sperma Budi yang baru saja disemprotkan dalam-dalam dan cairan orgasmenya sendiri yang terus mengalir. Perutnya terasa penuh dan hangat, sedikit kembung karena volume sperma tebal yang memenuhi rahimnya. Setiap denyut jantung membuat memeknya bergetar pelan, mengeluarkan tetesan demi tetesan cairan yang menetes ke seprai.
991Please respect copyright.PENANAnlidfNqGme
Budi berbaring di sampingnya, tubuh tegapnya yang berkeringat mengkilap di bawah cahaya lembut. kontol super besarnya yang 25 cm lebih, tebal seperti pergelangan tangan dewasa, masih setengah tegang dan berkilau. Ia mengelus paha dalam Laras dengan tangan kasar, jari-jarinya sesekali menyentuh bibir memek yang sensitif, membuat Laras menggelinjang kecil. “Kamu luar biasa, Laras. memekmu ini seperti dirancang khusus untuk kontolku. Rapat, panas, dan selalu basah,” bisik Budi dengan suara serak penuh kepuasan, tapi matanya masih lapar.
991Please respect copyright.PENANA7J4DjLCuS6
Laras menoleh, matanya masih berkaca-kaca. Emosinya campur aduk malu karena ia baru saja menjerit-jerit seperti pelacur di malam pertama pernikahan, tapi juga ada gelombang kenikmatan yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya. “Mas Budi… aku takut… tubuhku terasa aneh. Masih berdenyut terus… seperti ingin lebih,” gumamnya dengan suara lemah, tangannya secara naluriah meraih kontol Budi yang masih basah, menggenggamnya pelan. Rasa panas dan berdenyut di telapak tangannya membuat Laras menelan ludah. Bau maskulin yang kuat dari kontol itu, campuran sperma kental dan cairan orgasme memeknya sendiri, membuat kepalanya pusing nikmat.
991Please respect copyright.PENANArE7pdIHqmn
Di kamarnya yang gelap di lantai yang sama, Reza duduk membeku di kursi gaming-nya. Monitor CCTV menampilkan kamar orang tua tirinya dengan resolusi tajam. Kamera yang ia pasang di sudut langit-langit dan di nakas ranjang menangkap setiap sudut. kontolnya sudah klimaks tiga kali malam ini, tapi tetap keras karena pemandangan di depannya. Air mata mengalir di pipi Reza, tapi tangannya masih memegang kontolnya, mengocok pelan dengan gerakan otomatis. “Ibu… kamu benar-benar menyerah pada kontol ayah tiri… aku benci ini… tapi kenapa aku tidak bisa berhenti menonton,” bisiknya dengan suara pecah. Cuckold fetish yang baru tumbuh ini seperti virus yang menyebar cepat di pikirannya. Ia merasa hancur, kecil, dan tak berdaya, tapi justru rasa itu yang membuat darahnya panas.
991Please respect copyright.PENANARjm9tY8iQ5
Budi bangkit duduk, menarik Laras ke pangkuannya hingga wanita itu duduk menghadapnya, kaki lebar di kedua sisi pinggangnya. Payudara montok Laras menekan dada bidang Budi, puting-putingnya yang keras bergesekan dengan kulit pria itu. “Kita belum selesai, sayang. Malam ini aku akan membuatmu mengerti siapa pemilik tubuh ini,” kata Budi sambil mencium bibir Laras dalam-dalam. Lidahnya menyerbu, menjilat, menghisap dengan rakus. Tangan kirinya meremas bokong besar Laras, jari tengahnya menyusup ke celah anal yang masih rapat, hanya menggoda lingkarannya tanpa masuk. Laras mendesah dalam ciuman, “Mmmhh… Mas…”
991Please respect copyright.PENANApN02Qp0WOH
Foreplay kali ini lebih lambat dan menyiksa. Budi menurunkan kepalanya, mulutnya menyambar salah satu puting Laras yang besar dan merah. Ia menghisap kuat, lidahnya berputar di sekitar puting sambil gigi menggigit pelan. “Slurp… slurp…” Suara basah itu memenuhi kamar. Laras melengkungkan punggung, tangannya memegang kepala Budi, “Ahh! putingku… sensitif sekali… jangan gigit terlalu keras, Mas… ahh!” Sensasi panas dari mulut Budi kontras dengan udara AC yang dingin, membuat putingnya semakin mengeras dan nyeri nikmat. Budi bergantian ke puting satunya, tangannya meremas payudara yang satu lagi hingga bentuknya berubah di antara jari-jarinya.
991Please respect copyright.PENANA2toBGW8Jeq
Laras merasa tubuhnya seperti terbakar. memeknya yang masih penuh sperma Budi mulai mengeluarkan cairan orgasme baru, membasahi paha Budi yang ia duduki. Ia secara naluriah menggesek-gesek memeknya di batang kontol Budi yang semakin keras. Gesekan itu menghasilkan suara basah licin yang memalukan. “Mas… kontolmu… panas sekali… aku mau lagi,” mohon Laras dengan suara gemetar, emosinya mulai runtuh. Ia yang dulu adalah ibu baik-baik, kini merasa seperti budak nafsu di tangan suami barunya.
991Please respect copyright.PENANA5ZDOjGrRvR
Budi tersenyum sadis. Ia membaringkan Laras kembali, lalu membalik tubuhnya hingga posisi 69. Wajahnya tepat di depan memek Laras yang basah kuyup, sementara kontolnya menggantung di atas wajah Laras. “Jilat kontol suamimu, Laras. Rasakan sperma yang baru saja memenuhi memekmu,” perintahnya. Laras ragu sebentar, tapi nafsu menang. Lidahnya menjulur, menjilat dari pangkal kontol yang berbulu kasar hingga ujung yang mengkilap. Rasa asin sperma bercampur manis cairan orgasme memeknya sendiri memenuhi mulutnya. Ia menghisap kepala kontol dengan malu-malu, “Glup… glup…” suara isapan kecil.
991Please respect copyright.PENANAPXX5TXyZaQ
Budi mengerang puas dan langsung menyerang memek Laras. Lidahnya menjilat kristorisyang bengkak dengan cepat, dua jari masuk ke memek sambil mulutnya menghisap bibir luar. “Crot… crot…” suara cairan yang tersedot membuat Laras menggelinjang hebat. Pinggulnya naik turun secara otomatis, menggesek wajah Budi. Bau gairah semakin kuat, memenuhi hidung keduanya. Reza di monitor melihat semuanya mulut ibunya yang cantik meregang karena ketebalan kontol ayah tiri, air liur menetes di dagunya.
991Please respect copyright.PENANACKZYT54PoY
Orgasme keempat Laras datang saat Budi memasukkan tiga jari sekaligus dan melengkungkannya di titik sensitif. Tubuhnya kejang hebat, kaki mulusnya menjepit kepala Budi, cairan orgasme menyembur membasahi wajah pria itu. “Aaaahhh!!! Mas!!! Aku… squirt… lagi!!!” jerit Laras, suaranya serak. Air matanya mengalir deras, campuran kenikmatan dan rasa malu yang semakin pudar.
991Please respect copyright.PENANATJEnefmg2i
Budi tidak memberi waktu istirahat. Ia membalik Laras ke posisi doggy style di tepi ranjang. Bokong besar bulatnya terangkat sempurna, memek dan anal terpapar jelas. Budi mengambil botol cairan orgasme pijat dari laci nakas, menuangkan banyak ke celah memek dan anal Laras. Cairan dingin itu membuat Laras menggigil, “Dingin… Mas… apa itu?” Budi tertawa, “cairan orgasme khusus agar memek dan analmu lebih licin untuk kontolku.”
991Please respect copyright.PENANA1pjVXglrK0
Ia menggesek kontolnya yang sudah kembali keras penuh di celah yang licin, lalu mendorong masuk ke memek dengan satu hantaman kuat. “Aaaahh!!!” Laras menjerit, merasakan robekan nikmat lagi. Dinding memeknya yang sudah agak longgar karena ronde sebelumnya tetap meregang maksimal mengikuti ketebalan kontol. Sensasi penuh, panas, dan tekanan di rahim membuat perutnya kembung lagi. Budi mulai menghantam dengan ritme ganas, tangannya menampar bokong kiri dan kanan bergantian, “Plak! Plak! Plak!” suara nyaring menggema.
991Please respect copyright.PENANAcpT2KOUNE1
“memekmu semakin enak, Laras. Lihat bagaimana ia memakan kontolku sampai pangkal,” kata Budi sambil menarik rambut Laras pelan, membuat punggungnya melengkung. Setiap hantaman menghasilkan suara “plok-plok-plok” basah yang keras. Payudara Laras bergoyang liar ke depan belakang seperti pendulum besar. Laras mencengkeram seprai, “Lebih keras, Mas! Hancurkan memekku! Aku milik kontol Mas Budi!!!”
991Please respect copyright.PENANATNEWnZt3v1
Reza di kamarnya sudah tidak tahan. Ia mengocok kontolnya sambil menangis, “Ibu… jerit lebih keras… ayah tiri menghancurkanmu…” Klimaks keempatnya datang, sperma menyembur lemah karena sudah banyak keluar.
991Please respect copyright.PENANANksK3Pb6kM
Budi terus mengganti posisi tanpa henti. Standing fuck di depan cermin besar kamar, Laras melihat sendiri wajah mesumnya yang memerah, payudaranya diremas kasar dari belakang sementara kontol Budi menghantam dari belakang. Lalu missionary dengan kaki di bahu, posisi yang membuat hantaman paling dalam. Laras merasakan ujung kontol Budi benar-benar menyentuh mulut rahim setiap kali, sensasi nyeri nikmat yang membuat matanya putih. “Rahimku… disentuh… penuh sekali… aku mau mati enak, Mas!!!”
991Please respect copyright.PENANAzjz5bROjma
Sekitar pukul empat pagi, Budi mencapai puncak kedua. Ia menahan Laras dalam posisi deepest, menyemprotkan sperma panas lagi ke rahim. Volume kali ini seolah tak habis-habis, membuat perut Laras terlihat sedikit lebih kembung. Saat kontol ditarik keluar, sperma bercampur cairan orgasme menyembur keluar dari memek yang sudah agak menganga, menetes deras ke seprai. Laras orgasme terakhirnya datang bersamaan, tubuhnya kejang hebat selama hampir satu menit penuh, kaki gemetar tak terkendali, air mata mengalir deras.
991Please respect copyright.PENANAchh0sANsVc
Mereka berdua ambruk berpelukan. Laras menciumi dada Budi dengan penuh kasih sayang yang sudah bercampur ketagihan. “Mas… aku cinta kontolmu… jangan pernah bosan padaku,” bisiknya lemah. Budi mengelus rambutnya, tapi dalam hati ia tersenyum gelap. “Kamu akan jadi budak terbaik, Laras. Dan suatu saat, Sinta juga akan ikut merasakan ini.”
991Please respect copyright.PENANAADN5MMFWEA
Reza mematikan monitor, tubuhnya lemas total. Ia berbaring di ranjang dengan pikiran kacau. Malam ini telah mengubah segalanya. Sinta di kamar sebelah masih tidur nyenyak, tapi angin nafsu sudah mulai berhembus ke seluruh rumah mewah itu.
991Please respect copyright.PENANAwmBtY6kcvg
Malam pertama berlalu dengan jeritan kenikmatan yang tak berujung. Laras tidur dengan memek yang masih berdenyut penuh sperma, sementara Budi merencanakan pelatihan yang lebih intens di hari-hari mendatang. Api telah menyala, dan tak ada yang bisa memadamkannya lagi.
991Please respect copyright.PENANAEQTkbtEZ1M


