Bab 4: Robekan Pertama yang Manis di Posisi Doggy
1021Please respect copyright.PENANARsrx3p6QVI
Kamar utama rumah mewah itu masih gelap gulita, hanya diterangi lampu tidur kecil di sudut yang memberikan cahaya keemasan lembut. Udara di dalam ruangan terasa berat, penuh dengan aroma percintaan yang pekat campuran keringat asin dari tubuh dua pasangan baru, bau manis-cairan orgasme memek Laras yang terus mengalir, dan aroma maskulin sperma kental Budi yang sudah dua kali memenuhi rahim istrinya. Seprai sutra mahal kini benar-benar kusut dan basah di beberapa tempat, meninggalkan noda gelap yang menjadi bukti kenikmatan panjang malam itu. Jam di dinding menunjukkan pukul lima pagi, tapi tak ada tanda-tanda kelelahan yang menghentikan nafsu Budi.
1021Please respect copyright.PENANASWWF7qVxIA
Laras berbaring miring, tubuh putih susunya mengkilap oleh lapisan tipis keringat. Payudara I-cupnya yang super montok tergolek berat ke satu sisi, puting-putingnya masih merah dan bengkak akibat hisapan serta cubitan berulang. memeknya terasa panas, berdenyut-denyut pelan, dan sedikit menganga setelah dua creampie sebelumnya. sperma Budi yang tebal masih bocor perlahan dari bibir memeknya yang sudah agak longgar, menetes ke paha dalamnya yang halus. Setiap gerakan kecil membuat sensasi penuh dan lengket di dalam perutnya, seperti ada cairan hangat yang terus-menerus mengingatkannya betapa dalam kontol suaminya telah menaklukkan tubuhnya.
1021Please respect copyright.PENANAbuX3yvE9Id
Budi duduk di tepi ranjang, tangan besarnya mengelus punggung Laras dengan gerakan posesif. Jari-jarinya turun ke bokong besar bulat yang masih memerah bekas tamparan. “Kamu belum boleh tidur, Laras. memekmu ini masih memanggil kontolku,” katanya dengan suara rendah yang penuh otoritas, jari telunjuknya menyusup pelan ke celah anal Laras, hanya menggoda lingkaran rapat itu dengan gerakan melingkar. Laras menggelinjang, mendesah panjang, “Mas… aku sudah sangat lemas… tapi… ya Tuhan, tubuhku ini benar-benar ketagihan kontolmu yang besar itu.”
1021Please respect copyright.PENANANWkCgvGygM
Di kamarnya yang hanya beberapa meter jauhnya, Reza masih terjaga total. Layar monitor CCTV menampilkan kamar orang tuanya dengan detail yang kejam. Kamera sudut langit-langit menangkap seluruh ranjang, sementara kamera nakas fokus pada wajah dan tubuh bagian bawah. Reza duduk dengan punggung bungkuk, mata merah karena kurang tidur dan air mata yang tak henti. kontolnya sudah klimaks berkali-kali hingga terasa nyeri, tapi ia tetap menggenggamnya, mengocok pelan dengan gerakan lelah. “Ibu… kamu benar-benar menikmati setiap senti kontol ayah tiri… aku benci melihat ini, tapi kenapa hatiku berdegup kencang setiap kali kamu menjerit,” gumamnya dengan suara pecah. Konflik batinnya semakin dalam cemburu yang membakar, rasa rendah diri karena tubuhnya tidak sebanding dengan Budi, dan ketagihan aneh yang membuatnya terus menonton.
1021Please respect copyright.PENANAqPgSEeETUo
Budi menarik Laras dengan lembut namun tegas, memposisikannya di tengah ranjang dalam posisi doggy style klasik. Lutut Laras menekuk, bokong besar bulatnya terangkat tinggi ke atas, sementara dadanya menempel ke seprai dengan payudara montok yang tergantung berat seperti dua buah melon matang siap dipetik. Posisi ini membuat memek dan analnya terpapar sempurna di depan mata Budi. Laras merasa sangat rentan dan terbuka, wajahnya menempel ke bantal, pipinya memerah karena malu yang masih tersisa. “Mas Budi… posisi ini… aku merasa seperti anjing betina,” bisiknya dengan suara gemetar, tapi pinggulnya justru sedikit mendorong ke belakang, mencari sentuhan.
1021Please respect copyright.PENANAxnbUTAhPsW
Budi tertawa rendah, suara itu bergema seperti guntur lembut. “Memang seharusnya begitu, istriku. Mulai malam ini, kamu akan belajar menjadi peliharaanku. Bokong besar ini, memek rapat ini… semuanya milik kontolku.” Ia menuangkan lebih banyak cairan orgasme pijat khusus ke telapak tangannya, lalu mengoleskannya dengan telaten ke seluruh celah memek dan anal Laras. Cairan dingin yang licin itu membuat Laras menggigil hebat, sensasi kontras dengan panas tubuhnya sendiri. Jari Budi membelai bibir memek yang sudah basah kuyup, membuka lebar-lebar hingga Laras bisa merasakan udara AC yang sejuk menyapu dinding dalamnya yang sensitif. “Lihat ini… memekmu sudah menganga sedikit karena spermaku. Tapi masih rapat untuk ukuran kontolku.”
1021Please respect copyright.PENANAmSwPArnsC9
Reza memperbesar zoom kamera. Ia melihat setiap lipatan pink memek ibunya yang mengkilap, kristoriskecil yang bengkak menonjol minta perhatian. Napasnya semakin berat.
1021Please respect copyright.PENANAvCwc0vcFcU
Budi berlutut di belakang Laras, tangan kirinya memegang pinggang ramping wanita itu, tangan kanannya memegang batang kontolnya yang kembali sepenuhnya tegang. Panjang lebih dari 25 cm, tebal luar biasa, dengan urat-urat menonjol yang berdenyut penuh nafsu. Ia menggesekkan kepala kontol yang panas dan mengkilap itu di sepanjang celah memek Laras, bolak-balik dari kristorishingga ke arah anal, mengolesi cairan orgasme dan cairan yang ada. Setiap gesekan menghasilkan suara licin basah yang memalukan, “slosh… slosh…” Laras mendesah panjang, bokongnya bergetar, “Mas… jangan goda lagi… aku sudah gila menunggu…”
1021Please respect copyright.PENANACYiuL4uvWH
Akhirnya, Budi menekan kepala kontolnya ke mulut memek Laras yang rapat. Ia tidak langsung mendorong masuk. Sebaliknya, ia mendorong sangat perlahan, hanya satu senti demi satu senti, agar Laras merasakan setiap detail robekan nikmat itu. “Rasakan, Laras… bagaimana kontol ayah tirimu meregang memekmu yang rapat ini,” bisiknya dengan nada kotor.
1021Please respect copyright.PENANAYLYb8blvSs
Laras menjerit pelan saat kepala kontol mulai masuk. “Aaaahhh!!! Besar… sangat besar, Mas! Rasanya… seperti robek… dinding memekku diregang maksimal… panas sekali… ahh!” Sensasi itu luar biasa intens. Dinding memeknya yang lembut dan basah dipaksa membuka lebar oleh ketebalan kontol Budi. Setiap milimeter yang masuk terasa seperti gelombang panas yang membakar dari dalam, tekanan penuh yang membuat rahimnya terdorong ke atas. Perut Laras terasa semakin kembung, seperti ada benda raksasa yang mendesak organ dalamnya. Bau keringat Budi yang kuat bercampur aroma gairahnya sendiri memenuhi hidung Laras saat ia mengubur wajah di bantal.
1021Please respect copyright.PENANAXBRYo0Vc4B
Budi terus mendorong perlahan, menikmati bagaimana memek Laras memeluk kontolnya erat seperti sarung tangan panas yang basah. “Enak sekali… memekmu ini memijat kontolku dengan sempurna. Dengar suaranya… crot… crot…” Ia mendorong lebih dalam, hingga setengah panjang kontolnya tenggelam. Laras menjerit lebih keras, tangannya mencengkeram seprai hingga buku jarinya memutih, “Dalam… terlalu dalam! Rahimku… disentuh… penuh sekali… sakit tapi… enak… jangan berhenti, Mas!!!”
1021Please respect copyright.PENANA3htVGg5Huq
Reza di monitor melihat kontol ayah tirinya yang monster itu perlahan menghilang ke dalam tubuh ibunya. “Ibu… memekmu meregang begitu lebar… aku tidak percaya itu muat,” desahnya sambil mengocok kontolnya dengan putus asa.
1021Please respect copyright.PENANAnZEiPhFwGs
Budi menahan diri beberapa detik, membiarkan Laras menyesuaikan diri dengan sensasi penuh yang luar biasa. Kemudian ia mulai bergerak, menarik kontolnya keluar hingga hanya kepala yang tersisa di mulut memek, lalu mendorong masuk lagi dengan lebih dalam. Ritme awal pelan dan dalam, setiap hantaman menghasilkan suara “plok… plok… plok” basah yang keras dan ritmis. Bokong besar Laras bergoyang hebat setiap kali pinggul Budi bertemu dengannya, daging empuk itu bergelombang indah. Payudara montoknya bergoyang liar ke depan dan belakang seperti pendulum berat, puting-putingnya menggesek seprai kasar.
1021Please respect copyright.PENANAspBBu9b6DI
“Plak! Plak!” Dua tamparan keras mendarat di bokong Laras, meninggalkan bekas merah yang panas. Laras menjerit nikmat, memeknya berdenyut lebih kuat memeluk kontol Budi. “Tampar lagi, Mas! Aku suka… buat aku merasa seperti pelacurmu!” Emosinya sudah benar-benar runtuh. Malu sebagai ibu dan istri baru lenyap, digantikan ketagihan total terhadap dominasi dan ukuran kontol Budi.
1021Please respect copyright.PENANAU4AjHeWqIa
Budi mempercepat ritme. Hantaman menjadi lebih ganas, pinggulnya membentur bokong Laras dengan suara keras yang menggema di kamar. Setiap masuk penuh, ujung kontol menyentuh mulut rahim Laras dengan tekanan kuat, membuat wanita itu melihat bintang-bintang di matanya. Cairan cairan orgasme Laras menyembur kecil setiap kali kontol ditarik keluar, membasahi paha Budi dan seprai. Bau percintaan semakin pekat, suara erangan Laras yang serak dan jeritan nikmat memenuhi ruangan.
1021Please respect copyright.PENANAc0a6T8f3PU
“memekmu semakin longgar sedikit, tapi masih enak sekali memijat kontolku,” kata Budi sambil menarik rambut Laras ke belakang, membuat punggungnya melengkung indah. Posisi ini membuat hantaman semakin dalam. Laras menangis karena kenikmatan, air mata membasahi bantal, “Hancurkan memekku, Mas Budi! Isi sampai rahimku penuh spermamu lagi! Aku… aku milik kontolmu selamanya!!!”
1021Please respect copyright.PENANAvKr7utH86M
Orgasme pertama di posisi doggy ini datang seperti tsunami. Tubuh Laras kejang hebat, kakinya gemetar tak terkendali, memeknya berdenyut kuat seperti ingin mematahkan kontol Budi. cairan orgasme bening menyembur deras membasahi pangkal kontol dan bola-bola Budi. “Aaaahhhhh!!! Keluar… aku keluar sangat keras, Mas!!! Rahimku… bergetar!!!” jeritnya dengan suara pecah.
1021Please respect copyright.PENANAW1sFKTNDKN
Budi tidak berhenti. Ia terus menghantam melalui orgasme Laras, memperpanjang gelombang kenikmatan itu hingga Laras hampir pingsan. Beberapa menit kemudian, orgasme kedua datang menyusul, lebih hebat lagi. Tubuh Laras ambruk ke depan, tapi Budi menahan pinggulnya dan terus memompa dari belakang.
1021Please respect copyright.PENANAEHNgx7Gjvn
Foreplay tidak berhenti di situ. Budi sesekali menarik keluar sepenuhnya, lalu menjilat memek Laras yang menganga dengan rakus, lidahnya masuk dalam-dalam membersihkan campuran sperma dan cairan orgasme. Sensasi lidah hangat setelah kontol tebal membuat Laras menggelinjang gila. Ia juga mencoba memasukkan jari ke anal Laras, meregangkannya pelan sebagai persiapan untuk sesi anal nanti.
1021Please respect copyright.PENANAvNVia8WoGI
Sesi doggy style ini berlangsung hampir satu jam penuh dengan berbagai variasi kadang pelan dan dalam, kadang cepat dan pendek, kadang Budi mencondongkan tubuhnya menutupi punggung Laras sambil meremas payudara dari bawah. Akhirnya, Budi mencapai klimaks ketiganya malam itu. Dengan hantaman terakhir yang sangat dalam hingga pangkal, ia melepaskan semburan sperma panas tebal langsung ke rahim Laras. “Terima spermaku lagi, budak memekku!” raungnya.
1021Please respect copyright.PENANApYep8bHFQv
Laras merasakan setiap semburan kuat yang panas, perutnya kembung lebih terasa kali ini karena sudah penuh sebelumnya. Saat kontol ditarik keluar perlahan, memek Laras yang sudah agak rusak menganga sedikit, sperma kental mengalir deras keluar seperti sungai kecil, menetes ke seprai dengan suara “drip… drip…” yang erotis. Laras ambruk total ke ranjang, tubuhnya masih kejang sisa orgasme, kaki gemetar hebat, air mata bahagia mengalir.
1021Please respect copyright.PENANAPOj3jpAsjJ
Budi berbaring di sampingnya, menarik Laras ke pelukannya. “Ini baru awal pelatihanmu, sayang. Besok akan lebih intens.” Laras hanya bisa mengangguk lemah, mencium dada Budi dengan penuh ketagihan. “Aku… sudah tidak bisa kembali, Mas. memekku ini sekarang milik kontolmu.”
1021Please respect copyright.PENANA3tOVlq00vG
Reza mematikan monitor dengan tangan gemetar. Malam pertama yang tak berujung ini telah mengubah segalanya. Sinta masih tidur polos, tapi badai nafsu sudah mendekat ke seluruh keluarga.
LANJUTAN CERITA https://lynk.id/novelhambilah 1021Please respect copyright.PENANACS1v6zaDl6
LINK ALTERNATIF https://lynk.id/hambilah1021Please respect copyright.PENANAu3W3994ycr
1021Please respect copyright.PENANAhlLf5Bt5bL


