Bab 2: Api Nafsu yang Tak Terbendung
1053Please respect copyright.PENANAplF8q9HvCh
Malam semakin larut di rumah mewah itu. Cahaya lampu kristal di ruang tamu menyinari tubuh Laras yang masih bergetar hebat setelah orgasme pertamanya. Sofa panjang berbahan kulit mahal itu kini basah oleh cairan cairan orgasme yang keluar dari memeknya. Laras masih berlutut, bokong besar bulatnya terangkat tinggi, gaun satin putihnya sudah teronggok di pinggang seperti kain tak berguna. Napasnya tersengal-sengal, payudara I-cup yang montok naik turun dengan cepat, puting-putingnya masih mengeras dan basah oleh air liur Budi.
1053Please respect copyright.PENANAQ4bTdxK0uv
Budi berdiri di belakangnya dengan kontol super besarnya yang masih tegak menantang, berkilau oleh campuran cairan cairan orgasme Laras dan praspermanya sendiri. Pria 45 tahun itu tersenyum puas, tangan besarnya menampar bokong Laras dengan suara nyaring, “Plak!” yang menggema di ruangan luas. “Belum selesai, istriku. Malam ini baru permulaan. memekmu yang rapat ini masih lapar kontolku, kan?” suaranya dalam dan penuh dominasi, membuat Laras menggigil.
1053Please respect copyright.PENANABvb14wDOy1
Laras menoleh ke belakang, matanya berkaca-kaca karena campuran malu dan kenikmatan ekstrem. “Mas Budi… aku… aku sudah lemas… tapi… ya, aku masih menginginkannya,” bisiknya dengan suara serak. Tubuhnya yang sangat responsif memang sudah mulai ketagihan. Dinding memeknya yang tadi meregang hebat karena ukuran kontol Budi masih berdenyut-denyut, mengeluarkan cairan orgasme bening yang menetes pelan ke paha putih susunya. Bau khas percintaan memenuhi udara campuran keringat, parfum, dan aroma gairah wanita yang manis asam.
1053Please respect copyright.PENANAp5CDV5tfH0
Di lantai atas, di kamarnya yang gelap, Reza duduk tegang di depan monitor CCTV. Layar besar itu menampilkan setiap detail dengan jelas berkat kamera HD yang ia pasang diam-diam. kontolnya yang sudah klimaks sekali masih setengah tegang di tangannya. Ia mengocoknya pelan lagi, napasnya berat. “Ibu… kenapa kamu mendesah seperti itu untuk ayah tiri?” gumamnya dengan suara penuh konflik. Hatinya sakit melihat ibunya yang dulu selalu lembut dan penuh kasih kini berlutut seperti hewan betina yang haus. Tapi justru rasa sakit itu yang membuatnya semakin terangsang. Cuckold fetish yang baru bangkit ini seperti racun manis yang tak bisa ditolak.
1053Please respect copyright.PENANAi1U1pkPaQ4
Budi menarik Laras berdiri, memeluknya dari belakang. Tangan kirinya meremas payudara kanan yang berat itu dengan kuat, jari-jarinya mencubit puting hingga Laras mendesah panjang, “Ahhh… sakit… tapi enak, Mas…” Tangan kanannya turun ke memek Laras, dua jari langsung masuk dengan mudah karena sudah sangat basah. Gerakan keluar masuk jari itu menghasilkan suara “crot-crot” basah yang memalukan. Laras menggeliat, kepalanya bersandar ke dada tegap Budi, bokongnya menggesek kontol besar yang menempel di celahnya.
1053Please respect copyright.PENANAlmAuXTQKc3
“Kamu suka ya, Laras? Payudara besar ini, memek yang selalu basah ini… semuanya milikku sekarang,” bisik Budi di telinga Laras sambil menggigit cuping telinganya pelan. Lidahnya menjilat leher putih susu itu, meninggalkan jejak basah yang dingin saat udara AC menyentuhnya. Laras mengangguk lemah, “Iya, Mas… aku milikmu… pakai aku sesuka hati malam ini.”
1053Please respect copyright.PENANA1W6JctinTC
Budi membalik tubuh Laras menghadapnya, lalu mengangkatnya dengan mudah seperti boneka. Tubuh tegapnya yang kuat membuat Laras merasa kecil dan aman sekaligus tak berdaya. Ia membawa Laras ke meja makan yang masih berantakan sisa hidangan malam. Dengan satu sapuan tangan, piring-piring bergeser, dan Laras dibaringkan di atas meja kayu mahal itu. Payudaranya yang montok tergolek ke samping karena gravitasi, bergoyang lembut. Budi membuka lebar kedua kaki Laras, memperlihatkan memek yang sudah agak membuka, bibirnya merah mengkilap oleh cairan orgasme.
1053Please respect copyright.PENANAvLRVe4QGvd
Reza di kamarnya memperbesar zoom kamera. Ia melihat setiap detail lipatan memek ibunya. “Ibu… memekmu… terlihat begitu lapar,” desahnya sambil mengocok lebih cepat.
1053Please respect copyright.PENANAcOiZkVo2fi
Budi berlutut di depan meja, wajahnya tepat di depan memek Laras. Napas hangatnya menyapu kristoriskecil yang sudah bengkak. “Bau memekmu enak sekali,” katanya sebelum lidahnya menjilat dari bawah ke atas dengan lambat. Rasa asin manis cairan orgasme Laras memenuhi mulutnya. Ia menghisap kristorisdengan rakus, “Slurp… slurp…” Laras menjerit, tangannya mencengkeram rambut Budi, pinggulnya terangkat. “Mas! Di situ… ahh! Jangan hisap terlalu kuat… aku… aku mau keluar lagi!”
1053Please respect copyright.PENANAAI6b98aLmH
Budi tidak berhenti. Lidahnya menari di sekitar kristoris kadang masuk ke dalam memek, menjilat dinding dalam yang sensitif. Dua jari lagi ikut bermain, melengkung mencari titik G Laras. Ketika menemukannya, gerakan cepat membuat Laras orgasme kedua datang lebih hebat. Tubuhnya kejang hebat, kaki mulusnya gemetar tak terkendali di udara, cairan orgasme menyembur kecil membasahi wajah Budi. “Aaaahhh!!! Mas Budi!!! Aku keluar!!!” jerit Laras, air mata mengalir deras karena kenikmatan yang menyakitkan.
1053Please respect copyright.PENANAohU7C7y2Xa
Budi berdiri, kontolnya yang berdenyut-denyut sudah tidak sabar. Ia menggesekkan kepala kontol yang besar dan panas itu di celah memek Laras yang masih berdenyut. “Lihat bagaimana kontolku masuk lagi ke memek istriku yang rapat,” katanya dengan nada kotor. Perlahan, kepala kontol mendorong masuk. Laras merasakan sensasi robek yang nikmat lagi dinding memeknya diregang maksimal, tekanan penuh di mulut rahimnya membuat perutnya terasa kembung. “Besaaar… kontol Mas… mengisi aku sepenuhnya… rasanya panas… berdenyut di dalam… ahh!”
1053Please respect copyright.PENANAlw4Jh15erj
Setiap senti masuk terasa seperti api yang membakar kenikmatan. Budi mendorong pelan tapi pasti hingga pangkalnya menyentuh bibir memek Laras. Bokong besar Laras menekan meja dingin, kontras dengan panas tubuh mereka. Budi mulai menghantam dengan ritme sedang, suara “plok-plok-plok” basah dan keras memenuhi ruang tamu. Payudara Laras bergoyang liar seperti dua melon besar, puting-putingnya berputar-putar mengikuti hantaman.
1053Please respect copyright.PENANAIwKwKM8doJ
“Enak, Laras? kontol ayah tirimu ini lebih besar dari almarhum suamimu, kan?” tanya Budi sambil menampar payudara kiri Laras, “Plak!” suara merah meninggalkan jejak. Laras mengangguk cepat, “Iya… lebih besar… lebih tebal… hantam lebih keras, Mas! Isi memekku sampai rahim!”
1053Please respect copyright.PENANAvPAb1YP65s
Reza di kamarnya sudah klimaks kedua kali, sperma putihnya menyembur ke tisu. Tapi ia tidak berhenti menonton. Emosinya semakin hancur ia merasa kecil, tak berguna, tapi ketagihan melihat ibunya yang dulu suci kini menjadi begitu mesum.
1053Please respect copyright.PENANAWmW8k3gBie
Budi mengangkat Laras lagi, kali ini dalam posisi standing fuck. Ia memeluk pinggang Laras, kontolnya masih tertanam dalam. Dengan kekuatan luar biasa, ia mengangkat dan menurunkan tubuh Laras di kontolnya. Kaki Laras melingkar di pinggang Budi, bokongnya naik turun. Setiap turun, kontol masuk paling dalam, menyentuh rahim. Laras menjerit-jerit tanpa kendali, “Dalam sekali! Rahimku… tertekan… enak… sakit… campur jadi satu!”
1053Please respect copyright.PENANABOiMcDJjxq
Keringat mereka bercampur, bau maskulin Budi semakin kuat. Laras mencium dada Budi, menjilatnya seperti binatang. Orgasme ketiganya datang saat Budi menghantam dengan cepat. memeknya berdenyut kuat, memeluk kontol Budi seperti ingin memerahnya. “Lagi… aku keluar lagi, Mas!!!”
1053Please respect copyright.PENANAnVibnj6fQt
Budi membawa Laras ke kamar utama mereka di lantai atas. Pintu ditutup, tapi kamera Reza masih menangkap semuanya. Di atas ranjang king size yang mewah, Budi meletakkan Laras dalam posisi missionary. Kaki Laras diangkat ke bahu Budi, posisi yang membuat memeknya terbuka lebar. kontol Budi masuk lagi dengan satu hantaman kuat. “Aahhh!” Laras menjerit, merasakan sudut baru yang lebih dalam.
1053Please respect copyright.PENANAWXUYtOHxKO
Hantaman Budi semakin ganas. Ranjang berderit keras mengikuti ritme. Laras mencakar punggung Budi, kuku-kukunya meninggalkan jejak merah. “Punyalah aku, Mas! Jadikan aku budak memekmu!” desahnya, pikirannya mulai kabur oleh kenikmatan. Budi tertawa rendah, “Bagus. Kamu memang akan jadi budak kontolku, Laras. memek ini akan aku rusak perlahan sampai hanya muat kontolku saja.”
1053Please respect copyright.PENANAtLeXkXZmHP
Mereka berganti posisi lagi dan lagi sideways, Laras di atas cowgirl pelan sambil payudaranya diremas kasar, lalu doggy style lagi di ranjang. Setiap sesi foreplay panjang: Budi menjilat memek, memasukkan jari sampai tiga, bahkan mencoba lidah ke anal Laras yang masih rapat. Sensasi dingin lidah di anal membuat Laras menggelinjang aneh tapi nikmat.
1053Please respect copyright.PENANAupL9zjB8cl
Pukul dua dini hari, Budi akhirnya mencapai puncak. Dengan hantaman terakhir yang sangat dalam, ia melepaskan sperma panasnya ke dalam memek Laras. “Terima spermaku, istriku!” raungnya. Laras merasakan semburan demi semburan sperma tebal yang panas memenuhi rahimnya. Perutnya terasa kembung sedikit, cairan berlebih keluar saat kontol ditarik. “Penuh sekali… sperma Mas banyak… hangat di dalam memekku…” desah Laras lemah, tubuhnya gemetar hebat, air mata bahagia bercampur lelah.
1053Please respect copyright.PENANA5bJsQNVEes
Mereka berpelukan di ranjang, tubuh basah keringat. Laras mencium dada Budi, “Mas… aku belum pernah sepuas ini.” Budi mengelus rambutnya, tapi matanya penuh rencana gelap. “Ini baru malam pertama, sayang. Masih banyak yang akan aku ajarkan padamu… dan mungkin pada Sinta juga suatu hari.”
1053Please respect copyright.PENANAueJXGTq1ak
Laras tersentak kecil mendengar nama putrinya, tapi kenikmatan yang baru ia rasakan membuatnya tak kuasa protes. Di kamarnya, Reza mematikan monitor dengan tangan gemetar. Hatinya hancur, tapi kontolnya sudah siap untuk ronde ketiga. Sinta di kamar sebelah masih tidur pulas, mimpi polosnya belum terganggu.
1053Please respect copyright.PENANAR8vwQ8XA4a
Malam itu menandai awal kehancuran keluarga. Api nafsu Budi baru menyala, dan Laras sudah mulai terbakar di dalamnya.
1053Please respect copyright.PENANAPZB2uLNXGS


