Bab 3: Telanjang di Ruang Ganti yang Pengap
243Please respect copyright.PENANAOpWlwp6X6P
Laras berdiri di depan pintu ruang ganti olahraga dengan kaki yang terasa seperti jelly. Bel pulang sekolah sudah berbunyi hampir satu jam lalu, tapi koridor masih sepi karena sebagian besar siswa sudah pulang. Tubuhnya masih membawa sisa-sisa kenikmatan memalukan dari pojok kelas tadi—memek rapat pink-nya masih lembab dan berdenyut pelan, payudara G-cup-nya terasa panas dan sensitif di balik seragam yang sudah agak kusut. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantung yang berdegup kencang. *Ini gila. Aku harus kabur. Tapi foto-foto itu…* Pikiran itu membuatnya menelan ludah pahit.
243Please respect copyright.PENANAbN7W1lwjvG
Pintu ruang ganti terbuka pelan sebelum ia sempat mengetuk. Rina berdiri di sana dengan senyum predator yang sudah tak asing lagi. Tubuh atletisnya terlihat semakin dominan dalam seragam yang sedikit terbuka di bagian dada. Di belakangnya, Vera, Tara, Sasha, dan Mila sudah menunggu, ruangan yang sempit itu terasa semakin pengap dengan aroma parfum mahal bercampur keringat ringan dan sesuatu yang lebih primal—nafsu.
243Please respect copyright.PENANAgGe2jrLL0y
“Masuk, lonte blasteran,” kata Rina dengan suara rendah yang penuh kuasa. Tangannya langsung meraih lengan Laras dan menariknya masuk, lalu mengunci pintu dengan bunyi klik yang menggema seperti vonis. Ruang ganti itu kecil, hanya ada beberapa bangku kayu panjang, lemari besi, dan aroma sabun mandi yang masih menempel di udara. Cahaya lampu neon kuning pucat membuat kulit putih susu Laras terlihat semakin mencolok.
243Please respect copyright.PENANAcpuyymp8OO
“Rina… tolong, ini sudah cukup,” bisik Laras, suaranya gemetar. Air mata mulai menggenang di mata biru kecokelatannya. Tapi Rina hanya tertawa pelan sambil mendorongnya hingga punggung Laras menempel ke lemari besi dingin.
243Please respect copyright.PENANAzz3kN7y3DE
“Cukup? Belum sama sekali.” Rina mendekat hingga wajah mereka hampir bersentuhan. Napas hangat Rina menyapu bibir Laras. “Kamu sudah orgasme di kelas hanya dari jari kami. Tubuhmu ini jujur banget, Laras. Sekarang saatnya kami lihat semuanya. Lepas semua bajumu. Sekarang.”
243Please respect copyright.PENANAnud0PMmnGA
Laras ragu, tangannya gemetar di kancing seragam. Vera mendekat dari samping, jari-jarinya yang panjang langsung membantu membuka kancing satu per satu dengan gerakan lambat yang menyiksa. Setiap kancing yang terbuka membuat payudara G-cup Laras semakin terlihat jelas, bra putih tipisnya hampir tak mampu menahan beban montok itu. “Lihat ini, Rin. Buah putingnya sudah mengeras lagi. Sensitif sekali.”
243Please respect copyright.PENANAl0Rw2njIMe
Satu demi satu, seragam atas Laras dilepas. Udara dingin ruangan menyentuh kulit putih susunya, membuat bulu kuduknya berdiri. Rina meraih bra Laras dari belakang, membuka kaitannya dengan satu gerakan. Payudara G-cup yang montok dan kencang langsung melompat bebas, bergoyang berat dengan puting puting pink kecokelatan yang sudah mengeras sempurna. Suara kecil “plop” saat kedua buah dada itu terbebas terdengar jelas di ruangan pengap.
243Please respect copyright.PENANAxzWvOYhU7d
“Wow…” Tara mengeluarkan ponselnya, mulai merekam dari berbagai sudut. “Payudara blasteran kelas atas. Montok, putih, dan berat. Ini akan jadi koleksi terbaik kita.”
243Please respect copyright.PENANAeHBu0kxxLT
Laras menutup dada dengan tangan, tapi Sasha langsung menarik kedua tangannya ke belakang dan memegangnya kuat. “Jangan tutup. Biar kami nikmati.” Sasha menampar pelan sisi kanan payudara Laras. “Plak!” Suara tamparan itu tajam dan basah karena kulit yang lembut. Payudara montok itu bergoyang keras, meninggalkan bekas merah samar yang kontras dengan kulit putih susu.
243Please respect copyright.PENANAJI2Zk37Jp8
“Ahh!” Laras terkesiap. Rasa panas menyengat menyebar dari payudaranya, tapi justru membuat memeknya semakin basah. Cairan bening mulai mengalir lagi di antara pahanya.
243Please respect copyright.PENANAgLhoqnJQJS
Rina tersenyum puas. “Lanjut. Rok dan celana dalamnya juga.” Mila yang ahli edging mendekat, tangannya turun ke rok Laras, menurunkannya pelan hingga ke mata kaki. Celana dalam putih Laras sudah basah kuyup, noda transparan jelas terlihat. Bau manis nafsu Laras mulai memenuhi ruangan kecil itu, bercampur dengan aroma tubuh lima cewek yang semakin tegang.
243Please respect copyright.PENANA81HPRYSr9e
“Angkat kaki satu-satu,” perintah Vera. Laras patuh dengan tubuh gemetar. Celana dalamnya dilepas, memperlihatkan memek rapat pink alami yang sudah mengkilap oleh cairan orgasme alaminya sendiri. Bibir luar yang halus dan kristoris kecil yang membengkak terlihat jelas. Sasha berlutut sebentar, menghirup dalam-dalam. “Wanginya enak. Manis dan segar. memek blasteran ini memang premium.”
243Please respect copyright.PENANA591GUXMxNj
Rina mengambil ponsel Tara dan mulai memotret dari dekat. Flash menyala berkali-kali. Foto telanjang penuh Laras—payudara G-cup yang bergoyang, bokong besar yang menggoda, memek pink yang basah, wajah memerah dengan air mata mengalir. “Senyum dong, sayang. Atau mau kami paksa senyum ahegao dulu?”
243Please respect copyright.PENANAjnDLWYFfl3
Laras menangis pelan, tapi tubuhnya tak bisa bohong. Puting putingnya semakin keras, memeknya berdenyut nyata, cairan bening menetes pelan ke lantai ubin dingin. Rina mendekat, tangannya meremas kedua payudara Laras sekaligus. Daging montok itu meluap di antara jari-jarinya, lembut tapi kenyal. Rina menekan kuat, ibu jarinya memutar puting puting dengan kasar.
243Please respect copyright.PENANAwzi32a6kdt
“Plak! Plak! Plak!” Tiga tamparan berturut-turut mendarat di payudara kiri dan kanan Laras. Setiap tamparan membuat suara basah yang memalukan, payudara bergoyang liar, bekas merah semakin banyak dan jelas. Laras menjerit kecil, tapi suaranya berubah menjadi erangan panjang saat Rina mencubit putingnya keras.
243Please respect copyright.PENANA4YcUyDDZ2y
“Enak ya? Payudara murahanmu ini diciptakan untuk ditampar,” kata Rina sambil terus meremas dan menampar bergantian. Sensasi panas, sakit, dan kenikmatan bercampur aduk di tubuh Laras. Kakinya gemetar hebat, hampir tak bisa berdiri. Vera mendukung dari belakang, tangannya meraba bokong besar Laras, meremas daging kenyal itu sebelum menamparnya juga. “Plak! Plak!” Bokong Laras bergoyang indah, meninggalkan bekas merah di kulit putih.
243Please respect copyright.PENANARFRrjNJivi
Tara terus merekam, close-up ke wajah Laras yang sudah mulai melunak—mata setengah terpejam, bibir terbuka, lidah sedikit menjulur karena sensasi berlebih. “Lihat ini, viewers nanti pasti gila. Gadis blasteran telanjang di ruang ganti sekolah, payudaranya ditampar merah.”
243Please respect copyright.PENANAihDMU8rsxK
Sasha mengambil alat kecil dari tasnya—sebuah dildo kecil berukuran sedang, bertekstur lembut dengan getar ringan. “Waktunya main yang sesungguhnya.” Ia melumasi dildo dengan cairan orgasme dari botol kecil, lalu mendekatkannya ke memek Laras yang sudah banjir.
243Please respect copyright.PENANARJGEC1RXmV
Rina memegang dagu Laras, memaksa gadis itu menatap matanya. “Lihat aku saat benda ini masuk ke memekmu. Jangan berani tutup mata.”
243Please respect copyright.PENANAfTMlIiAALG
Vera dan Mila memegang paha Laras lebar-lebar, membuka akses penuh. Dildo kecil itu disentuhkan ke bibir luar memek Laras. Rasa dingin dan licin membuat Laras menggigil. Sasha mendorong pelan, perlahan. “Schlup…” Suara basah terdengar saat ujung dildo mulai meregang dinding memek rapat Laras.
243Please respect copyright.PENANAMKyHY4zEz2
“Ahhn… penuh… dingin…” erang Laras. Sensasi meregang itu intens—dinding memeknya yang ketat dipaksa terbuka, setiap senti masuk terasa seperti gelombang panas yang menyebar ke perutnya. Sasha memutar pelan, mendorong lebih dalam hingga setengah panjangnya tenggelam. memek Laras berdenyut kuat di sekitar benda asing itu, cairan cairan orgasme mengalir keluar dari sela-sela.
243Please respect copyright.PENANAIFWBz4X693
Rina menampar payudara Laras lagi sambil dildo itu digerakkan keluar-masuk pelan. “Plak! Plak!” Setiap tamparan membuat tubuh Laras mengejang, memeknya semakin erat menggenggam dildo. Bau nafsu semakin kuat di ruangan pengap. Rasa asin air mata Laras, rasa manis bibir yang digigit, suara erangan basah, getaran di paha, dan pandangan kabur karena kenikmatan—semua indra Laras overload.
243Please respect copyright.PENANA14NjIbitFM
“Gerakkan pinggulmu sendiri,” perintah Mila. Laras, sudah mulai broken sedikit, patuh. Pinggulnya bergoyang pelan, membantu dildo masuk lebih dalam. Sensasi penuh itu membuat perut bawahnya terasa hangat dan berat.
243Please respect copyright.PENANAzcSiDJklCM
Mereka bergantian memainkan Laras hampir satu jam penuh. Dildo digerakkan semakin cepat, kadang dihentikan saat hampir orgasme (edging Mila), kadang ditampar payudara dan bokong secara bersamaan. Laras sudah tak bisa berpikir jernih. Air matanya mengalir deras, tapi mulutnya mengeluarkan erangan manja tanpa henti.
243Please respect copyright.PENANA6oe4NTpZID
“Rina… aku… mau keluar…” mohonnya akhirnya.
243Please respect copyright.PENANAyHXhPLTNRG
Rina mencium bibir Laras dalam-dalam, lidahnya menyerbu mulut gadis itu sambil tangannya menampar payudara keras. Pada saat yang sama, Sasha mendorong dildo hingga pangkal dan menyalakan getar. Laras menjerit dalam ciuman itu. Orgasme menyembur deras—cairan cairan orgasme panas menyembur keluar dari sekitar dildo, membasahi paha, lantai, dan tangan Sasha. Kakinya gemetar hebat, perut mengejang, payudara bergoyang liar karena napas tersengal. Tubuhnya kejang beberapa detik, air mata bercampur keringat.
243Please respect copyright.PENANAsg5F28teV1
Setelah klimaks, Laras ambruk ke pelukan Rina. Rina mengelus rambutnya lembut, tapi bisikannya tetap kejam. “Ini baru awal, sayang. Foto-foto telanjangmu sudah banyak. Mulai besok, kamu resmi budak kami. memek, payudara, bokong—semuanya milik geng Rina.”
243Please respect copyright.PENANAJCEcJ1ZNWA
Laras hanya bisa mengangguk lemah, tubuhnya masih bergetar sisa orgasme. Emosinya hancur total—malu yang membakar, tapi ketagihan yang mulai tumbuh seperti api kecil di dada. Rina mencium keningnya, posesif ekstrem terpancar jelas dari matanya.
243Please respect copyright.PENANAXHHySCENmE
Ruang ganti itu masih pengap saat mereka mulai membersihkan Laras sedikit, tapi meninggalkan dildo kecil tetap di dalam memeknya sebagai pengingat untuk pulang. Malam ini, Laras tahu, ia tak akan bisa tidur tenang.
243Please respect copyright.PENANAZoM1sGXBjy


