Bab 2: Godaan di Pojok Kelas yang Membara
241Please respect copyright.PENANANd2WQaaeF4
Laras duduk di bangku paling belakang kelas dengan tubuh masih gemetar sisa-sisa sentuhan pagi tadi. Jam pelajaran Matematika berlangsung lambat, suara guru yang monoton seolah lenyap ditelan oleh degup jantungnya sendiri. Kulit putih susunya masih terasa panas di tempat-tempat yang disentuh Rina dan gengnya. Payudara G-cup-nya yang montok terasa berat di balik seragam, puting putingnya masih mengeras dan menggesek bra tipis setiap kali ia bernapas. Di antara pahanya, memek rapat pink-nya masih lembab, meninggalkan noda kecil di celana dalam yang membuatnya gelisah setiap kali menggeser duduk.
241Please respect copyright.PENANA5lRWz7DgTP
Ia mencoba fokus ke papan tulis, tapi pikirannya terus melayang ke koridor dan sudut belakang gedung olahraga. Sentuhan Rina yang posesif, remasan Vera di paha dalamnya, tamparan ringan Sasha yang meninggalkan bekas merah samar di sisi payudara. Semua itu membuat Laras merasa kotor, tapi juga anehnya… hidup. Tubuhnya yang sangat sensitif ini seperti baru terbangun setelah bertahun-tahun tertidur.
241Please respect copyright.PENANAwhWjEMtShr
Tiba-tiba, ponselnya bergetar pelan di laci meja. Pesan dari nomor tak dikenal.
241Please respect copyright.PENANABIHVYHjP5r
Rina: Pojok kanan belakang kelasmu. Sekarang. Jangan buat kami tunggu, lonte blasteran.
241Please respect copyright.PENANAysSTsYDBIP
Laras menelan ludah. Ia melirik ke arah pojok yang dimaksud. Ruang kosong di belakang lemari arsip. Geng Rina sudah ada di sana—Rina duduk santai dengan kaki menyilang, Vera berdiri menyandar, Tara memainkan ponsel, Sasha mengunyah permen dengan senyum sadis, dan Mila mengamati dengan mata penuh perhitungan.
241Please respect copyright.PENANArPCnnuT2Xm
Dengan kaki lemas, Laras bergerak pelan ke sana, berpura-pura mengambil sesuatu dari tas. Begitu ia tiba, Rina langsung menarik lengannya hingga Laras terduduk di pangkuannya. Tubuh atletis Rina terasa hangat dan tegas di bawahnya.
241Please respect copyright.PENANAZCBuSxXFWM
“Bagus, kamu patuh,” bisik Rina di telinga Laras. Napas hangatnya menyapu cuping telinga, membuat bulu kuduk Laras berdiri. Tangan Rina langsung melingkar di pinggang ramping Laras, jari-jarinya menekan perut rata sebelum turun ke paha. “memekmu masih basah setelah tadi pagi? Ceritain ke aku.”
241Please respect copyright.PENANACgHFwgx2nK
Laras menggeleng pelan, pipinya merah padam. “Rina… ini kelas… ada guru…”
241Please respect copyright.PENANAec98dW9G7D
“Guru nggak akan ke sini. Kami sudah atur.” Rina tertawa pelan, suaranya rendah dan penuh kuasa. Tangannya naik ke bawah rok Laras, meraba celana dalam yang lembab. “Lihat? Sudah banjir lagi. Tubuh murahanmu ini memang diciptakan untuk kami mainkan.”
241Please respect copyright.PENANAnUIbLYJEVi
Vera mendekat dari samping, tangannya yang ahli stretching langsung meremas payudara kiri Laras dari luar seragam. “Buah puting montok ini berat sekali. Aku mau lihat langsung.” Dengan cepat, Vera membuka dua kancing atas seragam Laras. Bra putih tipis terlihat, payudara G-cup yang penuh hampir meluap. Vera meremas lebih kuat, ibu jarinya mengelus puting puting yang mengeras melalui kain bra.
241Please respect copyright.PENANAefQoylCpAV
“Ahh…” erangan kecil lolos dari bibir Laras. Ia buru-buru menutup mulut, tapi Rina menarik tangannya turun.
241Please respect copyright.PENANAbrBPIVPb6D
“Jangan ditutup. Biar kami dengar suaramu yang manja,” perintah Rina. Jari Rina kini menyusup ke dalam celana dalam Laras, menyentuh bibir luar memek yang sudah licin oleh cairan orgasme alami. Gerakan jarinya lambat, mengelus naik-turun tanpa masuk terlalu dalam, hanya menggoda kristoris kecil yang membengkak.
241Please respect copyright.PENANAMDJ8SMoZTk
Sensasi itu luar biasa. Laras merasakan panas menyebar dari memeknya ke seluruh tubuh. Cairan bening semakin banyak keluar, membasahi jari Rina dengan suara basah kecil “schlup… schlup” yang memalukan di telinganya sendiri. Bau manis tubuhnya bercampur aroma nafsu mulai tercium samar di pojok kelas itu.
241Please respect copyright.PENANAulEp24t3wC
Tara mendekat sambil merekam diam-diam dengan ponsel. “Lihat wajahnya, Rin. Sudah mulai ahegao kecil. Matanya berkaca-kaca tapi pinggulnya gerak sendiri.”
241Please respect copyright.PENANACOODW95a6V
Memang benar. Tanpa sadar, pinggul Laras bergoyang pelan mengikuti irama jari Rina. Emosinya hancur—malu yang dalam karena diperlakukan seperti ini di tengah kelas, tapi ketakutan bercampur kenikmatan yang semakin kuat. *Aku benci ini… tapi kenapa rasanya enak sekali?* batinnya.
241Please respect copyright.PENANALQFG8dd3Qe
Sasha berdiri di depan, tangannya menampar pelan payudara Laras yang terbuka. “Plak! Plak!” Dua tamparan ringan tapi tegas. Payudara montok itu bergoyang indah, meninggalkan bekas merah yang semakin jelas di kulit putih susu. Setiap tamparan membuat Laras mengejang, memeknya berdenyut lebih kuat di sekitar jari Rina.
241Please respect copyright.PENANAWj4dULFgpz
“Enak ya, ditampar sambil digodain memeknya?” tanya Sasha dengan suara sadis. Ia mencubit puting puting kanan Laras cukup keras, memutar pelan. Rasa sakit bercampur kenikmatan membuat air mata Laras jatuh.
241Please respect copyright.PENANA8ve7nzufdE
Mila, spesialis edging, tersenyum dari belakang. “Jangan kasih orgasme dulu. Edging dulu biar dia ketagihan.” Mila meraih tangan Laras dan meletakkannya di pangkuan Rina, memaksa Laras merasakan kehangatan tubuh ketua gengnya.
241Please respect copyright.PENANAwK1zu9t5cV
Rina mempercepat gerakan jarinya di memek Laras. Dua jari sekarang mengelus kristoris kecil dengan ritme yang menyiksa, kadang menekan, kadang hanya mengelilingi. “Kamu suka ya, Laras? Disentuh di kelas seperti pelacur murahan. Bayangin kalau seluruh kelas tahu memek blasteranmu ini sudah basah untuk kami.”
241Please respect copyright.PENANAGymzLGoTY8
Laras menggigit bibir hingga hampir berdarah. Kakinya gemetar di pangkuan Rina. Sensasi penuh di memeknya semakin kuat, cairan cairan orgasme mengalir deras membasahi paha dalamnya. Bau tubuh lima cewek itu—parfum mahal, keringat ringan, dan aroma nafsu—membuat kepalanya pusing. Rasa asin air matanya sendiri bercampur dengan rasa manis bibir yang digigit.
241Please respect copyright.PENANAlXkLyubHej
“Rina… tolong… aku mau…” bisik Laras tanpa sadar.
241Please respect copyright.PENANAr1ofJakKZn
“Mau apa?” Rina berhenti tepat saat Laras hampir mencapai puncak. Teknik edging Mila bekerja sempurna. Laras menggeleng frustrasi, pinggulnya mencoba mencari jari Rina lagi.
241Please respect copyright.PENANATfpXY1hY3A
“Jawab dengan benar,” perintah Vera sambil meremas kedua payudara Laras sekaligus, menekan hingga daging montoknya meluap di antara jari.
241Please respect copyright.PENANAYS7ZKmlUPQ
“Aku… aku mau disentuh lagi…” suara Laras kecil, penuh malu.
241Please respect copyright.PENANAZnNWPO8KYK
Rina tertawa puas. “Bagus. Mulai sekarang, setiap istirahat kamu harus lapor ke kami. memekmu ini milik geng Rina.” Ia memasukkan satu jari lebih dalam, merasakan dinding memek rapat Laras yang berdenyut panas. Sensasi meregang sedikit membuat Laras mendesah panjang. Jari Rina bergerak keluar-masuk pelan, membawa cairan bening yang semakin banyak.
241Please respect copyright.PENANANf8dygveMl
Adegan itu berlangsung hampir empat puluh menit. Mereka bergantian. Vera mengganti Rina, jari-jarinya lebih panjang dan ahli, meregang memek Laras sedikit lebih lebar sambil tangan satunya memainkan kristoris Sasha menampar bokong Laras dari belakang dengan suara “plak! plak!” yang tertahan, meninggalkan panas menyengat di kulit kenyal. Tara terus merekam close-up wajah Laras yang memerah, air mata mengalir, bibir setengah terbuka.
241Please respect copyright.PENANAuIWk4pxG1O
Mila yang paling kejam—ia hanya mengamati dan sesekali mencubit puting atau menarik rambut Laras saat hampir orgasme, selalu menghentikan di ambang batas. “Belum boleh keluar. Tahan dulu, budak kecil.”
241Please respect copyright.PENANAUO9syOcyjm
Laras sudah tak kuat. Tubuhnya gemetar hebat, keringat tipis membasahi kulit putih susunya. Bau tubuhnya sendiri yang semakin manis karena nafsu tercium jelas. memeknya berdenyut nyeri karena ditahan, cairan mengalir terus tanpa henti hingga roknya mulai basah.
241Please respect copyright.PENANAhOuzFR7rok
“Plis… Rina… aku mau keluar…” mohon Laras akhirnya, suaranya pecah.
241Please respect copyright.PENANA5kQ9yOOQ2R
Rina tersenyum dan memberikan izin. Vera memasukkan dua jari sekaligus, menggerakkan cepat sambil ibu jari menekan kristoris Rina menampar payudara kiri Laras keras sekali—“PLAK!”—tepat saat klimaks datang.
241Please respect copyright.PENANA8fi3CN5K1v
Laras mengejang hebat. Orgasme pertama di pojok kelas itu menyembur deras. Cairan cairan orgasme panas menyembur keluar dari memeknya, membasahi tangan Vera dan lantai di bawah meja. Kakinya gemetar tak terkendali, perutnya mengejang, air mata mengalir deras. Suara erangannya tertahan di tenggorokan, tapi tetap terdengar basah dan manja: “Ahh… ahhn… Rinaaa…”
241Please respect copyright.PENANAOBHc8mCmno
Sensasi itu luar biasa—panas, lega, tapi juga malu yang membakar. Laras merasa seperti boneka seks di tengah kelas, dikelilingi cewek-cewek yang kini memiliki kuasa penuh atas tubuhnya.
241Please respect copyright.PENANADQKedwQFRa
Rina memeluk Laras erat dari belakang, mencium lehernya dalam-dalam. Lidahnya menjilat kulit yang asin karena keringat. “Ini baru Bab 2 cerita kita, sayang. Kamu sudah orgasme di kelas hanya dari jari. Bayangin nanti di ruang ganti sore ini.”
241Please respect copyright.PENANAmqnVt6ufUu
Mereka membersihkan Laras sedikit, tapi sengaja meninggalkan noda basah di roknya sebagai pengingat. Sebelum kembali ke tempat duduk, Rina berbisik ancaman sekaligus janji:
241Please respect copyright.PENANAq4TzJ35uud
“Foto-foto tadi sudah aman di cloud kami. Kalau kamu berani kabur sore ini, seluruh sekolah akan tahu betapa murahannya memek blasteranmu. Tapi kalau patuh… kami akan kasih kenikmatan yang lebih besar. Paham, lonte kesayangan?”
241Please respect copyright.PENANAE2jIdI0Wjp
Laras hanya bisa mengangguk lemah. Emosinya sudah mulai retak. Rasa rendah diri karena bullying lama kini bercampur dengan ketagihan sensasi baru yang mengerikan sekaligus memabukkan. Tubuhnya yang sensitif ini ternyata sangat mudah dibentuk.
241Please respect copyright.PENANAxfD63RWcwW
Sepanjang sisa pelajaran, Laras duduk dengan memek masih berdenyut pelan, cairan sisa orgasme membuatnya gelisah. Setiap kali ia melirik ke pojok, geng Rina tersenyum penuh kemenangan. Rina khususnya menatap dengan posesif ekstrem—mata itu bilang Laras sudah menjadi miliknya sepenuhnya.
241Please respect copyright.PENANAUNZbBNTTbi
Saat bel istirahat sore berbunyi, Laras tahu apa yang menunggunya di ruang ganti. Kakinya melangkah otomatis menuju sana, meski pikirannya masih berusaha melawan. Tapi tubuhnya sudah menyerah lebih dulu.
241Please respect copyright.PENANAszWfbzpEpE
Di ruang ganti yang sepi nanti, sesuatu yang lebih besar akan dimulai.
241Please respect copyright.PENANAflRg8kIsiN


