Bab 4: Dildo yang Semakin Dalam di Ruang Ganti
259Please respect copyright.PENANAHl28pfnfK6
Laras masih ambruk dalam pelukan Rina di ruang ganti yang pengap itu, napasnya tersengal-sengal, tubuh putih susunya basah oleh keringat tipis yang membuat kulitnya mengkilap di bawah lampu neon kuning. Dildo kecil yang tadi dimasukkan Sasha masih tertanam dalam-dalam di memek rapat pink-nya, berdenyut pelan mengikuti irama jantungnya yang belum tenang. Cairan cairan orgasme orgasme tadi masih menetes pelan dari sela-sela, membasahi paha dalamnya yang gemetar. Payudara G-cup-nya yang montok terasa panas dan berdenyut, penuh bekas tamparan merah yang kontras jelas dengan kulitnya yang putih susu. Setiap hembusan napas membuat puting putingnya menggesek lengan Rina, menimbulkan sensasi listrik kecil yang terus membangkitkan nafsunya.
259Please respect copyright.PENANAmvMva7B4H4
Rina mengelus rambut cokelat panjang Laras dengan lembut palsu, tapi matanya penuh dominasi posesif. “Kamu orgasme sangat cantik tadi, sayang. memekmu menyembur deras sekali, sampai lantai basah. Tapi ini belum selesai. Dildo kecil itu akan tetap di dalam sampai kami puas.”
259Please respect copyright.PENANASMji6Q7WdH
Laras menggeleng lemah, air mata masih mengalir di pipinya. “Rina… aku capek… sakit… tolong keluarkan…” Suaranya pecah, campuran malu dan sisa kenikmatan yang membuatnya benci pada dirinya sendiri. Tapi tubuhnya berkhianat; dinding memeknya justru menggenggam dildo itu lebih erat, seolah tak mau dilepas.
259Please respect copyright.PENANA5V09Gi3OYu
Vera tertawa pelan sambil mendekat. Tangan ahli stretching-nya menyentuh perut bawah Laras, menekan pelan di atas lokasi dildo. “Rasakan? Perutmu sudah agak kembung karena penuh. memek blasteranmu ini rapat sekali, tapi akan kami latih agar bisa menampung lebih besar.” Jari Vera menekan lebih dalam, membuat dildo bergeser di dalam memek Laras. Sensasi gesekan itu membuat Laras mengejang, erangan kecil lolos dari bibirnya yang basah.
259Please respect copyright.PENANAi5Mzx9Vryr
“Schlup… schlup…” Suara basah samar terdengar saat Vera memainkan dildo dengan gerakan memutar pelan. Cairan bening baru langsung mengalir lagi, bau manis nafsu Laras semakin kuat memenuhi ruangan kecil itu. Tara terus merekam dari berbagai sudut, ponselnya menangkap close-up wajah Laras yang memerah, mata setengah terpejam, dan payudara yang naik-turun cepat.
259Please respect copyright.PENANAIm1a1vhw7G
Sasha mengambil botol cairan orgasme pelumas dari tasnya, menuangkannya banyak-banyak ke payudara Laras. Cairan dingin itu membuat puting puting Laras mengeras nyeri. Sasha meremas kedua buah dada montok itu dengan kasar, menyebarkan cairan orgasme hingga kulit Laras mengkilap seperti patung hidup. “Plak! Plak! Plak!” Tamparan bertubi-tubi mendarat lagi, lebih keras dari sebelumnya. Setiap tamparan membuat payudara bergoyang liar, suara basah “plak!” bergema, dan bekas merah semakin lebar. Rasa panas menyengat bercampur dengan dingin cairan orgasme, membuat Laras menjerit campur erangan.
259Please respect copyright.PENANASqfue1OM1L
“Ahhn! Sakit… tapi… enak…” bisik Laras tanpa sadar. Inner monolognya kacau. *Aku harus berhenti… ini memalukan… tapi kenapa memekku semakin basah? Tubuhku ini sudah rusak.*
259Please respect copyright.PENANATX3kzymNJL
Mila, yang selama ini mengamati dengan senyum dingin, mendekat dan berlutut di depan Laras. “Waktunya edging lagi. Jangan biarkan dia orgasme mudah.” Mila menarik dildo keluar perlahan, sangat perlahan, hingga ujungnya hampir keluar, lalu mendorongnya kembali masuk dengan satu gerakan mantap. “Schluuup!” Suara masuknya dildo yang licin dan penuh cairan membuat Laras mengejang hebat. Sensasi penuh itu terasa hingga ke perut, dinding memeknya meregang dan berdenyut di sekitar benda itu.
259Please respect copyright.PENANALbi6HNEBnU
Rina memegang dagu Laras, memaksa mata mereka bertemu. “Lihat aku. Rasakan setiap senti kontol buatan ini yang mengisi memek murahanmu. Kamu milik kami sekarang. Katakan itu.”
259Please respect copyright.PENANA1KS1wTvOjj
Laras menggigit bibir, tapi saat Mila mempercepat gerakan dildo, ia tak tahan. “Aku… milik kalian… memekku milik geng Rina…” Suaranya manja, penuh air mata.
259Please respect copyright.PENANAGg4iVhy69a
Mereka melanjutkan sesi itu dengan lebih intens. Vera mengganti Mila, jari-jarinya yang panjang ikut bermain di sekitar kristoris kecil Laras sambil dildo digerakkan keluar-masuk. Setiap kali Laras hampir mencapai puncak, Mila memberi isyarat dan semuanya berhenti. Edging berulang membuat Laras frustrasi berat. Tubuhnya gemetar tak terkendali, keringat mengalir di lekuk payudara dan perut rata, bau tubuhnya yang semakin manis dan basah memenuhi udara.
259Please respect copyright.PENANAgYSgrC0SPG
Sasha menampar bokong besar Laras dari belakang sambil Vera bermain dengan dildo. “Plak! Plak! Plak!” Bokong kenyal itu bergoyang indah, bekas merah semakin banyak. Setiap tamparan membuat memek Laras menggenggam dildo lebih erat, seolah menikmati rasa sakit itu.
259Please respect copyright.PENANApxtac4kTFQ
Rina mencium leher Laras dalam-dalam, lidahnya menjilat kulit asin keringat, sesekali menggigit pelan hingga meninggalkan bekas kecil. “Kamu basah sekali. Cairanmu manis, Laras. Aku mau lihat kamu squirting lagi sambil dildo ini di dalam.”
259Please respect copyright.PENANAziOQ6dAPJ1
Adegan berlangsung hampir satu setengah jam. Mereka memposisikan Laras dengan berbagai cara di ruang ganti sempit itu. Kadang berdiri ditahan Vera dari belakang, payudaranya diremas dan ditampar Rina sambil dildo digoyang Sasha. Kadang Laras dibaringkan di bangku kayu dingin, kaki dibuka lebar oleh Tara dan Mila, sementara Vera memompa dildo dengan ritme stabil.
259Please respect copyright.PENANAkfRyq7YMID
Sensasi demi sensasi menumpuk. Dingin bangku di bokongnya, panas tamparan di payudara, licin cairan orgasme pelumas yang bercampur cairan tubuhnya sendiri, suara basah “schlup schlup schlup” yang tak henti, bau nafsu yang pekat, rasa asin air mata dan bibir yang digigit, serta getaran hebat di seluruh tubuh. Laras sudah tak bisa membedakan mana malu dan mana kenikmatan. Pikirannya mulai kabur, hanya tersisa desir tubuh yang membara.
259Please respect copyright.PENANATB37eUqMNQ
“Plis… Rina… aku mohon… biarkan aku keluar…” Laras memohon dengan suara serak setelah edging kesepuluh. Tubuhnya sudah di ambang kehancuran, memeknya berdenyut nyeri karena ditahan terlalu lama, perut bawahnya terasa penuh dan panas.
259Please respect copyright.PENANAQaURwXpKgk
Rina tersenyum puas. Ia mengangguk ke Sasha. “Kasih dia yang berat. Buat dia squirting sambil kami tampar.”
259Please respect copyright.PENANAk1aCeQzenQ
Sasha memompa dildo dengan cepat dan dalam, tangan satunya menekan kristoris kecil Laras dengan kuat. Vera dan Rina bergantian menampar payudara G-cup yang sudah merah total—“PLAK! PLAK! PLAK!”—suara tamparan keras bergema di ruangan. Tara merekam close-up memek yang meregang di sekitar dildo.
259Please respect copyright.PENANAnT3YhxXyxL
Laras menjerit panjang. Klimaks akhirnya datang seperti gelombang tsunami. Tubuhnya mengejang hebat, kakinya lurus kaku lalu gemetar tak terkendali, perutnya naik-turun cepat. Cairan cairan orgasme panas menyembur deras keluar dari sekitar dildo, menyemprot tangan Sasha dan lantai dengan suara “pssshhht”. Orgasme itu berlangsung lama, gelombang demi gelombang, membuat Laras menangis keras sambil erangan manja keluar tanpa kendali: “Ahhn… Rinaaa… aku… hancur… enak sekali…”
259Please respect copyright.PENANA00BasEuBeW
Sisa orgasme membuatnya ambruk total. Dildo akhirnya dikeluarkan pelan, meninggalkan memek Laras yang agak terbuka dan berdenyut, mengeluarkan sisa cairan bening. Rina memeluk Laras erat, mencium bibirnya dalam-dalam dengan lidah yang menari, seolah menyegel kepemilikan.
259Please respect copyright.PENANAkVq5vXdOiO
“Kamu semakin cantik saat broken,” bisik Rina di telinga Laras. “Besok di gudang, kita lanjut dengan double. Dildo di memek dan analmu sekaligus. Jangan berani telat.”
259Please respect copyright.PENANAVLWLEJrGmN
Laras hanya bisa mengangguk lemah, tubuhnya lemas total tapi pikirannya sudah mulai terbiasa dengan sensasi baru ini. Emosinya semakin retak—rasa rendah diri karena bullying kini bercampur ketagihan yang mengerikan. Ia merasa seperti boneka seks hidup, tapi bagian terdalam dirinya mulai menantikan apa yang akan dilakukan geng Rina selanjutnya.
259Please respect copyright.PENANAe3tvaGj0iR
Mereka membersihkan Laras sedikit, tapi sengaja meninggalkan bekas tamparan dan aroma nafsu di tubuhnya. Saat Laras berjalan pulang malam itu, setiap langkah membuat memeknya yang masih sensitif bergesekan, mengingatkannya pada segala yang terjadi. Di kamar kosnya, ia tak bisa tidur. Tangannya tanpa sadar menyentuh payudara dan memeknya lagi, membayangkan tangan Rina dan dildo yang lebih besar.
259Please respect copyright.PENANAn3OtboYl3n
Sementara itu, di rumah mewahnya, Rina melihat foto dan video hasil rekaman dengan senyum puas. “Dia akan jadi lonte blasteran terbaik. Kita percepat pelatihannya.”
LANJUTAN CERITA https://lynk.id/novelhambilah 259Please respect copyright.PENANAO1Y6tTdRMK
LINK ALTERNATIF https://lynk.id/hambilah259Please respect copyright.PENANAxX4n5C6qbu
259Please respect copyright.PENANACAtDFUc4Xy


