Sudah tiga hari sejak Jafar meninggalkan rumah itu. Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun bagi Desy. Rumah yang dulu dipenuhi tawa kini hanya menyisakan keheningan.
247Please respect copyright.PENANAypRY49Bxfa
Tidak ada lagi suara langkah kaki yang menyambutnya setiap pagi. Tidak ada lagi aroma kopi yang biasa dibuat Jafar sebelum memulai hari. Bahkan kursi di ruang tamu yang sering diduduki pemuda itu kini berdiri kosong, seolah ikut merasakan kehilangan yang sama.
247Please respect copyright.PENANAxJReqzCRji
Desy duduk sendirian di sofa sambil memeluk lututnya. Pandangannya tertuju pada pintu depan. Entah sudah berapa kali ia berharap pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok yang begitu ia rindukan. Namun harapan itu selalu berakhir dengan kekecewaan. Jafar benar-benar menghilang. Wanita itu mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak mengenal pemuda itu, ia merasakan kesepian yang begitu menyesakkan.
247Please respect copyright.PENANAEtlqGor7eK
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan tentang mereka. Kenangan yang dulu membuatnya tersenyum, tetapi kini justru menjadi alasan mengapa dadanya terasa semakin sesak.
247Please respect copyright.PENANA5EHBd7tWYB
Desy menundukkan kepala. Air mata yang selama ini berusaha ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.
247Please respect copyright.PENANAYTyMKObAkA
"Aku merindukanmu, Jafar..." bisiknya lirih.
247Please respect copyright.PENANAJeyLS5Jw3i
Namun rumah itu tetap diam. Tidak ada yang menjawab kerinduannya selain keheningan yang perlahan menggerogoti hatinya.
247Please respect copyright.PENANAbiLua13MzG
Panggilan telepon yang berkali-kali ia lakukan seolah tak pernah berarti bagi Jafar. Pemuda itu tidak pernah mengangkatnya, bahkan tak sekali pun membalas pesan yang ia kirim.
247Please respect copyright.PENANAR7hITNAJ64
Desy mulai kehabisan cara. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan agar bisa bertemu kembali dengan pria yang begitu ia cintai.
Kegelisahan yang terus menghantuinya perlahan mulai memengaruhi pekerjaannya di toko roti. Beberapa kali ia melakukan kesalahan kecil yang tidak biasanya terjadi. Bahkan para pelanggan yang datang pun menyadari perubahan pada dirinya.
247Please respect copyright.PENANAV8Pb0moZsC
"Bu Desy baik-baik saja? Kelihatannya sedang banyak pikiran."
247Please respect copyright.PENANA2bCq1L0Tqx
Pertanyaan semacam itu sudah terlalu sering ia dengar dalam beberapa hari terakhir.
Namun seperti biasa, Desy hanya tersenyum tipis dan mencari alasan untuk menghindarinya. Kadang ia mengaku kurang enak badan, kadang mengatakan sedang berpuasa sehingga tubuhnya terasa lemas.
247Please respect copyright.PENANA9kR8jE8PHa
Padahal kenyataannya jauh berbeda. Ia sedang patah hati. Dan yang lebih menyakitkan, ia merasa telah menyakiti hati Jafar, pria yang selama ini menjadi sumber kebahagiaannya.
247Please respect copyright.PENANAY5rWakYT1M
"Aku tidak bisa terus seperti ini..." lirihnya pada suatu sore yang sepi.
247Please respect copyright.PENANA83quKNKRCm
Pandangannya kosong menatap jalanan di depan toko.
247Please respect copyright.PENANAjrq4fTkiUs
"Aku harus menemuinya."
247Please respect copyright.PENANAdsUCObJl1G
Keputusan itu akhirnya bulat. Desy menutup tokonya lebih awal dari biasanya. Setelah memastikan semuanya beres, ia segera berangkat menuju kota tempat Jafar tinggal.
247Please respect copyright.PENANAmdebGKPqRC
Rasa rindu yang selama ini ia pendam telah tumbuh menjadi sesuatu yang sulit dikendalikan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memilih mengabaikan segala keraguan yang selama ini menahannya. Ia hanya ingin bertemu dengan Jafar.
247Please respect copyright.PENANAlZwJV6Gq8v
Apa pun yang terjadi setelah itu, Desy merasa sudah tidak sanggup lagi hidup dalam ketidakpastian yang menyiksa hatinya.
247Please respect copyright.PENANASPXEhvqEd8
Sesampainya di depan rumah itu, Desy tidak langsung turun dari mobilnya.
Ia memarkir kendaraan itu beberapa meter dari gerbang, lalu terdiam di balik kemudi. Kedua tangannya mencengkeram setir erat, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang sejak tadi berusaha ia pertahankan.
247Please respect copyright.PENANA1kuoGleTm2
Rumah ini tidak asing baginya. Bertahun-tahun yang lalu, ia cukup sering berkunjung ke tempat ini atas undangan sahabatnya, wanita yang kini menjadi istri Gery, mantan suaminya.
247Please respect copyright.PENANAP79t6CVMFA
Di rumah inilah Desy pertama kali melihat Jafar berjalan dengan kedua kakinya sendiri. Saat itu, bocah kecil tersebut tertatih-tatih melangkah sambil berpegangan pada meja ruang tamu. Desy bahkan sempat membimbingnya mengambil beberapa langkah kecil sebelum akhirnya jatuh ke dalam pelukannya. Kenangan itu membuat sudut bibirnya terangkat tipis. Namun senyum itu hanya bertahan sesaat.
247Please respect copyright.PENANA6i9rdhDA4W
Bocah yang dulu ia bantu belajar berjalan kini telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang mampu membuat hatinya hancur hanya dengan satu keputusan.
247Please respect copyright.PENANAEPdJVc8Skh
Sungguh ironis. Jalan hidup sering kali mempertemukan manusia dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan.
247Please respect copyright.PENANA4MXUKPgvtG
Desy mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya membuka pintu mobil. Ia merapikan pakaiannya sekilas, lalu melangkah menuju gerbang rumah itu. Dengan jantung yang berdebar semakin kencang, ia menekan tombol bel beberapa kali.
247Please respect copyright.PENANAphwICvF0j8
Tak lama kemudian, suara seorang pria terdengar dari interkom yang terpasang di dekat pagar.
247Please respect copyright.PENANATQzWWLlAuC
"Siapa?"
247Please respect copyright.PENANA4EealDgRmv
Desy menelan ludah. "Saya... Desy."
247Please respect copyright.PENANA9bTGXT7cD4
Hening. Tidak ada jawaban.
247Please respect copyright.PENANA0qzlVjhEaW
Beberapa detik kemudian, pintu gerbang bergeser perlahan secara otomatis. Desy sempat tertegun. Sudah terlalu lama sejak terakhir kali ia datang ke tempat ini. Banyak hal telah berubah, termasuk sistem keamanan rumah tersebut.
247Please respect copyright.PENANAsgelbPyexU
Saat ia masih memandangi gerbang yang terbuka, suara dari interkom kembali terdengar.
247Please respect copyright.PENANA0BTIxqWn9k
"Masuklah."
247Please respect copyright.PENANA9B4OmbFiiL
Desy melangkahkan kaki ke dalam pekarangan. Pandangan matanya berkeliling, mengamati setiap sudut rumah yang kini terlihat jauh lebih megah dibandingkan yang ia ingat. Sudah hampir enam tahun sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di tempat itu. Waktu benar-benar mengubah banyak hal. Rumah itu berubah. Penghuninya berubah. Dan hidup mereka pun ikut berubah.
247Please respect copyright.PENANAHjPe3pMRTZ
Tak lama kemudian, pintu utama yang terbuat dari kayu jati terbuka perlahan. Seorang pria dewasa berdiri di sana dengan postur tegap dan kedua tangan bertaut di belakang punggungnya.
247Please respect copyright.PENANAvMe7pEI4C9
Gery.
247Please respect copyright.PENANAwQQO0E9hxW
Untuk sesaat, Desy merasakan kegugupan yang sulit dijelaskan. Namun ia tetap berusaha tegar.
247Please respect copyright.PENANAnAgNYJX4jr
"Ada apa?" tanya Gery pelan, menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
247Please respect copyright.PENANAARxiiJOO5j
Desy menarik napas dalam-dalam.
247Please respect copyright.PENANAZBQ448lHVZ
"Jafar ada?"
247Please respect copyright.PENANAQXU81KIVp3
Gery hanya tersenyum tipis sebelum mempersilakan Desy masuk ke dalam rumah. Sikap pria itu membuat Desy sedikit heran. Namun ia memilih mengabaikannya dan mengikuti langkah Gery menuju ruang tamu.
247Please respect copyright.PENANAqEjDnVqcJ5
Tak lama kemudian, mereka duduk berhadapan di sofa mewah yang mengapit sebuah meja kaca besar. Suasana di antara mereka terasa canggung. Sudah terlalu banyak waktu berlalu sejak percakapan terakhir mereka sebagai dua orang yang pernah berbagi kehidupan bersama.
247Please respect copyright.PENANAjc7QF8Creq
Untuk mengalihkan kegugupannya, Desy membiarkan pandangannya berkeliling ruangan. Rumah itu terlihat jauh lebih megah dibandingkan yang ia ingat. Setiap sudutnya memancarkan kemewahan yang membuatnya tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
247Please respect copyright.PENANA4EbHRg3Xrg
"Jafar tidak ada," ujar Gery akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi menggantung di antara mereka.
247Please respect copyright.PENANAZrAzakc7fz
Desy segera menoleh.
247Please respect copyright.PENANAqEp21QM9T5
"Dia sedang keluar."
247Please respect copyright.PENANAEtehEiQKwq
"Kapan dia pulang?" tanya Desy cepat.
247Please respect copyright.PENANAo5RJscWl9g
Gery menggeleng pelan. "Entahlah."
247Please respect copyright.PENANAJNS534l4sE
Pria itu menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Anak itu memang jarang betah berada di rumah ini. Dia sudah pergi sejak dua hari yang lalu dan sampai sekarang belum kembali."
247Please respect copyright.PENANAmPl2xMi4aF
Desy menundukkan pandangan. Ia memahami maksud ucapan itu.Jafar pernah bercerita bagaimana rumah yang terlihat begitu sempurna bagi orang lain justru terasa seperti penjara baginya. Kemewahan yang berdiri di sekelilingnya tak pernah mampu menghapus luka yang ia simpan selama bertahun-tahun.
247Please respect copyright.PENANACcQ8ZhVTQm
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
247Please respect copyright.PENANAiObOelC0eY
Jika Jafar memang tidak ada di sini, maka tidak ada lagi alasan baginya untuk bertahan. "Kalau begitu, aku permisi," ucap Desy pelan sambil bangkit dari duduknya.
247Please respect copyright.PENANA5XVWO6Pn6i
Namun baru saja ia hendak melangkah, Gery ikut berdiri. Pria itu secara refleks menahan lengan Desy. "Sebentar."
Desy menghentikan langkahnya.
247Please respect copyright.PENANAukdbwAUbrd
"Duduklah dulu." Nada suara Gery terdengar lebih lembut dari sebelumnya.
247Please respect copyright.PENANArXfjpStqkp
"Perjalananmu ke sini cukup jauh. Aku tidak ingin kamu langsung kembali hanya karena Jafar kebetulan tidak ada di rumah."
247Please respect copyright.PENANAYw4h8aGYoH
Desy menatap pria itu dengan ragu. Ada sesuatu dalam sorot mata Gery yang sulit ia pahami. Seolah-olah pria itu ingin mengatakan sesuatu, tetapi belum menemukan keberanian untuk mengatakannya.
247Please respect copyright.PENANArDkNyQgWNT
"Please..." ucap Gery lirih.
247Please respect copyright.PENANAuuvKWdIUC0
Satu kata sederhana itu membuat Desy terdiam.
247Please respect copyright.PENANAHUQ1MQAK1l
Setelah beberapa detik mempertimbangkannya, ia akhirnya mengembuskan napas pelan lalu kembali duduk di tempatnya semula. Sementara itu, Gery hanya memandangnya dalam diam. Dan untuk pertama kalinya sejak Desy datang, suasana di ruangan itu terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya.
247Please respect copyright.PENANAQ0Br68wdXf
“Aku tahu ini sangat berat bagimu, tapi aku rasa… sebaiknya kamu menjauh dari Jafar.”
247Please respect copyright.PENANAnhUQTGAdsq
Desy terdiam. Kepalanya menunduk, menahan sesuatu yang mulai menekan dadanya.
247Please respect copyright.PENANA1JRvrNyCNw
“Kamu tahu sendiri, Jafar hanya mempermainkanmu.”
247Please respect copyright.PENANAx9QOVFvzQP
Kalimat itu membuat Desy langsung mengangkat wajahnya. Matanya menajam. “Maksud kamu apa?!”
247Please respect copyright.PENANADWUQH7VZR6
“Aku tahu semuanya,” jawab Gery pelan.
247Please respect copyright.PENANACPSOIeinWw
“Tahu apa?!” Desy hampir seperti menantang.
247Please respect copyright.PENANAA9UidZpKkN
“Hubunganmu dengan anakku.”
247Please respect copyright.PENANAlJeHh4vCBq
Ruangan itu langsung sunyi. Desy membeku. Untuk sesaat, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Hanya napasnya yang mulai tidak beraturan.
247Please respect copyright.PENANA44w9DlYLfq
Gery menggeleng pelan, seolah berusaha menahan sesuatu yang sudah lama ia pendam.
247Please respect copyright.PENANA1vx0tJqfcK
“Sudah sejauh mana hubungan kalian?”
247Please respect copyright.PENANAixbHLF7SSb
Desy tetap diam.
247Please respect copyright.PENANAsUYM2p8BCE
“Sudah sejauh mana?!” suara Gery meninggi, amarahnya mulai pecah.
247Please respect copyright.PENANAR1DNviDiNF
“Bukan urusanmu!!” Desy akhirnya membentak balik.
247Please respect copyright.PENANAuixIvlZHdT
“Dia itu anakku!!”
247Please respect copyright.PENANALTmdocXupr
“Tapi dia kekasihku!” balas Desy cepat. Suaranya bergetar. “Dan aku… aku yang membesarkannya!”
247Please respect copyright.PENANAhEDIfY3YBT
Ucapan itu membuat Gery terdiam sesaat. Matanya melebar, seolah baru benar-benar memahami betapa dalam kekacauan yang sedang ia hadapi. “Kamu gila…” gumamnya pelan.
247Please respect copyright.PENANAYqdI4mGWaJ
“Aku memang gila!” Desy tiba-tiba meninggikan suara, air matanya mulai jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. “Aku sudah gila sejak anak kita meninggal!”
247Please respect copyright.PENANAPbDStZIDDP
Tangis itu pecah. Bukan tangis biasa, tapi tangis yang selama ini ia tahan sendirian. Ingatan lama menyeretnya kembali ke masa yang tidak pernah benar-benar sembuh—masa ketika ia kehilangan anaknya di tengah pernikahannya dengan Gery.
247Please respect copyright.PENANA8qlIRlnoKx
Tubuh Desy bergetar. Ia terduduk lemah, menutup wajahnya, tidak lagi peduli pada apa pun.
247Please respect copyright.PENANA3Hu8OtykWR
Melihat itu, amarah Gery perlahan runtuh. Pria itu melangkah mendekat. Lalu, tanpa banyak kata, ia menarik Desy ke dalam pelukannya. Desy tidak menolak. Di antara isak tangis dan luka lama yang kembali terbuka, ia hanya bisa terdiam dalam pelukan yang pernah menjadi rumahnya.
247Please respect copyright.PENANAP67MBIQmTX
Gery memejamkan mata. Bagaimanapun juga, di balik semua kekacauan ini, Desy tetaplah mantan istrinya—cinta pertama yang pernah ia miliki, dan bagian dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar hilang.
247Please respect copyright.PENANAbD3NMs1TVu
“Sudah, jangan menangis. Kamu memang dari dulu cengeng. Selalu berpura-pura kuat agar orang menganggapmu wanita yang tangguh.”
247Please respect copyright.PENANAjA31Nl2NI0
Desy tidak menjawab. Tangisnya justru semakin pecah, dan ia mengeratkan pelukannya pada Gery.
247Please respect copyright.PENANAqAUkbT4lnq
“Aku merindukan Jafar kecil…” suaranya bergetar di antara isak. “Aku sangat merindukannya…”
247Please respect copyright.PENANADf27q0HtfY
“Aku juga…” jawab Gery pelan, sambil membalas pelukan itu.
247Please respect copyright.PENANAZMV6dSd0U2
Beberapa saat mereka hanya terdiam dalam posisi itu.
247Please respect copyright.PENANAOAgrufaaC0
“Sudahlah, berhenti menangis,” ujar Gery akhirnya sambil perlahan menyeka air mata di pipi Desy. Pandangan mereka bertemu.
Terlalu dekat. Terlalu lama tidak saling menatap seperti ini. Seolah-olah waktu menarik mereka kembali ke masa lalu—ke hari-hari ketika mereka masih berbagi kehidupan sebagai suami istri, sebelum semuanya hancur oleh kehilangan dan keputusan yang tidak bisa diulang.
247Please respect copyright.PENANABBuVM24L9h
Keheningan di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Gery perlahan menatap bibir Desy, lalu menunduk sedikit tanpa berkata apa-apa.
247Please respect copyright.PENANAExmkxboKbK
Dalam sepersekian detik yang hening itu, ia mendekat. Sebuah ciuman singkat mendarat lembut di bibir Desy.
247Please respect copyright.PENANAZqGe68xpfI
Tidak tergesa.
247Please respect copyright.PENANAbYITmVwxl4
Tidak kasar.
247Please respect copyright.PENANAtOMdkcxp0q
Hanya sebuah momen yang lahir dari tumpukan emosi lama yang belum benar-benar padam.
247Please respect copyright.PENANAr7aodnaU07
Desy memejamkan mata sejenak, tidak langsung bereaksi, seolah waktu berhenti di antara keduanya.
Namun setelah beberapa detik, kesadaran itu kembali perlahan.
Dan dunia yang sempat mengabur di antara mereka mulai terasa nyata lagi.
247Please respect copyright.PENANA6drKTVoBCL
BERSAMBUNG...
SELENGKAPNYA: https://lynk.id/shark95247Please respect copyright.PENANAd2inmG8BAc


