Mentari pagi menyelinap melalui celah tirai, menerangi kamar yang masih dipenuhi aroma malam yang belum sepenuhnya pergi.
Desy membuka mata perlahan. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar sambil mengingat apa yang terjadi semalam.
373Please respect copyright.PENANAr0fRHsqziU
Pipi wanita itu langsung menghangat ketika ingatan-ingatan tersebut kembali memenuhi kepalanya. Ia menoleh ke sisi ranjang dan mendapati tempat di sampingnya sudah kosong.
373Please respect copyright.PENANAzX4E5CYTP2
Desy perlahan bangkit, lalu melangkah keluar kamar. Dari arah dapur, samar-samar terdengar suara sendok beradu dengan cangkir.
Jafar rupanya sudah bangun lebih dulu. Pria itu tengah berdiri di dapur sambil menyiapkan secangkir kopi, sesekali mengaduknya dengan gerakan santai seolah malam yang mengubah segalanya itu tidak pernah terjadi.
373Please respect copyright.PENANAITJJMMULZr
"Pagi sekali kau bangun."
373Please respect copyright.PENANA8ew9DIVGk2
Suara Desy membuat Jafar sedikit terkejut. Pemuda itu menoleh, lalu tersenyum tipis sembari menyodorkan secangkir kopi yang baru saja ia racik.
373Please respect copyright.PENANAsM8URA8tXE
"Untukmu."
373Please respect copyright.PENANAJA9DgPdKhA
Desy menerima cangkir itu dan menyeruputnya perlahan. Sesaat ia menikmati aroma dan rasa pahit yang masih hangat di lidahnya.
373Please respect copyright.PENANAnIufPiRTq9
"Hmm... ternyata tidak buruk."
373Please respect copyright.PENANAUBVN12M5oO
Jafar terkekeh pelan. "Tentu saja. Aku cukup ahli urusan kopi."
373Please respect copyright.PENANAlfVcWsgseX
Senyum Desy mengembang tipis. Namun tak lama kemudian, ia teringat sesuatu.
373Please respect copyright.PENANAEIBudKlSpi
"Kamu tidak pulang ke rumah?"
373Please respect copyright.PENANA3E4wRY8M3S
Ekspresi Jafar sedikit berubah. Ia menatap cairan hitam di dalam cangkirnya sebelum menjawab.
373Please respect copyright.PENANAL0cfXjx4dR
"Aku sedang malas pulang."
373Please respect copyright.PENANAJzFLf0rPME
"Kenapa?"
373Please respect copyright.PENANAgQ0sMDmhNJ
Jafar mengembuskan napas panjang.
373Please respect copyright.PENANACsasT0N7Mc
"Di rumah tidak pernah benar-benar tenang. Mereka selalu bertengkar."
373Please respect copyright.PENANAObfBvJtVmc
"Kedua orang tuamu?"
373Please respect copyright.PENANAoaHyUUiROr
Jafar mengangguk pelan.
373Please respect copyright.PENANAcuyLj4aqN1
Melihat perubahan raut wajah pemuda itu, Desy akhirnya mengerti. Ada kegelisahan yang selama ini disimpan rapat-rapat di balik sikap santainya.
373Please respect copyright.PENANAafl5SMOMcS
Desy melangkah mendekat, lalu memeluk Jafar dengan erat. Jemarinya mengusap punggung pemuda itu pelan, berusaha menenangkan kegelisahan yang sedang ia rasakan.
373Please respect copyright.PENANAcauIspaAS5
Ada perasaan yang sulit dijelaskan saat memeluk Jafar seperti itu. Sejak kecil, pemuda itu tumbuh dalam perhatian dan kasih sayangnya. Berkali-kali ia merawat, menjaga, bahkan menganggapnya seperti anaknya sendiri.
373Please respect copyright.PENANAK0mHHQydw6
Jafar membalas pelukan itu, lalu menyandarkan dagunya di atas kepala Desy.
373Please respect copyright.PENANAbxV93ThdIy
"Suatu hari nanti, aku akan membeli rumah sendiri," ucapnya pelan. "Dan saat itu tiba, aku akan menikahimu."
373Please respect copyright.PENANArUIFInwUGR
Desy tersenyum tipis, meski ada rasa yang menghangat sekaligus menyesakkan dadanya.
373Please respect copyright.PENANAGYFp28J1xm
Ia masih sulit mempercayai kenyataan yang ada di hadapannya. Anak kecil yang dulu sering berlarian mengikutinya ke mana-mana, yang pernah ia suapi dan rawat dengan penuh kasih sayang, kini telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang ingin menjadikannya pendamping hidup.
373Please respect copyright.PENANAs3uclN267N
Pada hari itu, keduanya disibukkan oleh aktivitas di toko roti. Jafar dengan sigap membantu Desy dalam berbagai hal—mulai dari melayani pelanggan, menata meja, hingga mencoba belajar membuat roti dengan resep terbaru. Pemuda itu cepat menangkap setiap arahan, membuat Desy diam-diam kagum pada ketangkasannya.
373Please respect copyright.PENANAeGP7WUBwi8
Beberapa pelanggan bahkan sempat menyapa Jafar, menanyakan hubungannya dengan Desy. Tak sedikit pula yang berkelakar, mengira Desy telah menikah tanpa mengundang mereka dalam pesta pernikahan. Candaan itu membuat keduanya terkekeh, sebelum Desy dengan ringan menjelaskan bahwa mereka hanya sebatas teman.
373Please respect copyright.PENANADTCnXbYK6v
373Please respect copyright.PENANAyuoAS3Etxy
Awalnya Jafar sempat terlihat kurang senang dengan penjelasan itu. Namun ia memahami bahwa Desy hanya ingin meredam gunjingan para ibu-ibu kampung yang kerap berseliweran tentang mereka. Di sisi lain, para pelanggan sebenarnya sudah cukup mengenal Jafar—mereka tahu bahwa sejak kecil ia adalah anak dari sahabat Desy yang dulu sering ia rawat sejak masih kecil.
373Please respect copyright.PENANA2d53OruM25
“Apakah kamu tidak lelah melakukan ini sendirian?” tanya Jafar, memecah kesunyian toko yang kini sudah sepi dari pelanggan.
373Please respect copyright.PENANAq07ACDesfT
“Tidak, aku sudah terbiasa…” jawab Desy singkat.
373Please respect copyright.PENANAruSfCp6lgC
“Aku punya kenalan yang ahli soal roti. Kamu mau aku kenalkan?” tanya Jafar lagi.
373Please respect copyright.PENANADKnm6gbZDY
“Apakah dia wanita?” Desy menyelidik.
373Please respect copyright.PENANAQJUvV49tqx
“Pria. Seusiamu.”
373Please respect copyright.PENANAyXemClzl1V
“Apakah kamu tidak takut kalau dia merebutku?” ucap Desy tiba-tiba, membuat Jafar langsung terdiam sejenak.
373Please respect copyright.PENANAzCP8XRmGjG
“Kalau begitu jangan!” jawabnya cepat. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu.”
373Please respect copyright.PENANA7HdfhhNEL9
Desy hanya terkekeh pelan. Tanpa banyak kata, Jafar mendekat dan memeluknya dari belakang. “Kamu… milikku sepenuhnya.”
373Please respect copyright.PENANA0KscwDXr77
Jafar mulai mendekat, membuat Desy sedikit terperanjat disaat ia mulai mengecup lehernya.
373Please respect copyright.PENANAxfJqCgsB9u
“Jangan di sini… nanti ada yang lihat,” bisik Desy cepat, matanya melirik ke arah pintu toko.
373Please respect copyright.PENANAV6anbhuE6S
Gerakan itu langsung terhenti. Jafar mundur sedikit, ekspresinya berubah menjadi kecewa kecil.
Melihat itu, Desy justru tersenyum tipis—ada nada menggoda di baliknya.
373Please respect copyright.PENANAXIxiMzHCCT
“Dasar kamu…” ucapnya pelan, seolah menahan tawa.
373Please respect copyright.PENANA0DI5GZjokv
"Tapi aku bisa membuatmu enak dibagian ini" tawar Desy, sembari menggenggam area selangkangan Jafar yang sudah mengeras.
373Please respect copyright.PENANALZoZw0MhR8
Wanita itu kemudian menjongkok, membuka kancing celana dan menarik resleting celana Jafar. Mengeluarkan benda panjang tersebut yang sudah menegang. Desy melumatnya sejenak, membasahi dengan air liurnya dan mengulumnya layaknya permen loli dengan mata terpejam, menikmati. Desy sendiri tak terlihat jika saja pelanggan tiba-tiba datang, meja kasir yang menghalangi tubuhnya menjadi pengaman akan tindakan mereka.
373Please respect copyright.PENANADD7zDBTkaz
Jafar sendiri sesekali terpekik akan sensasi kenikmatan yang diberikan oleh Desy. Tangannya mencengkram erat meja kasir tersebut, sementara tangan lainnya meremas rambut Desy seolah tak ingin lepas dari oral tersebut.
373Please respect copyright.PENANATZNGqRbbVA
Mata Desy berkaca, tenggorokannya dipenuhi oleh batang pemuda itu. Sangat intens, membuat dirinya juga ikut basah di area selangkangan.
373Please respect copyright.PENANARpsSVsxksT
"Aku akan keluar tante!" pekik Jafar menengadah dengan mata terpejam.
373Please respect copyright.PENANAXrL4odxSmp
"Keluarkan saja," pinta Desy yang masih sibuk memaju mundurkan mulutnya.
373Please respect copyright.PENANA37CtMaQdZL
"Arrrggghhh!!"
373Please respect copyright.PENANAtbfyAYjvxz
'crrrrrooott....' Cairan tersebut meluncur keras memasuki rongga tenggorokan Desy. Wanita tersebut sekilas menyeka cairan putih itu yang menetes di samping bibirnya.
373Please respect copyright.PENANA4GKjgrNp8q
"maaf tante, aku tidak bisa menahannya" Jafar berjongkok sembari ikut membersihkan sekitaran mulut Desy menggunakan tisu.
373Please respect copyright.PENANAQagTz6mQTp
"Tidak, aku yang memintanya" Desy dengan senyuman nakalnya membuat Jafar legah akan hal tersebut.
373Please respect copyright.PENANARpiF50lYis
Sudah dua hari Jafar berada di rumah Desy, dan ia seperti enggan untuk kembali. Beberapa kali ayahnya menelepon, memintanya pulang, namun Jafar selalu menghindar dengan berbagai alasan.
373Please respect copyright.PENANA6GBG0E2umb
373Please respect copyright.PENANA9khkeqZbeP
Gery bahkan ikut menghubungi Desy, berharap mantan istrinya itu bisa membujuk Jafar agar kembali ke rumah. Namun, meski Desy mencoba menuruti permintaan itu, di dalam dirinya ia sendiri merasa berat untuk benar-benar melepaskan kehadiran Jafar.
373Please respect copyright.PENANARkgP8RFUpz
Mereka telah menjalani hari yang begitu intens. entah berapa kali mereka bercinta, baik didapur, ruang tamu, dikamar mandi, bahkan ditoko sekalipun disaat pelanggan sepi. Hari-hari terakhir terasa berbeda—terlalu dekat, terlalu intens, hingga batas antara yang seharusnya dan yang tidak seharusnya mulai kabur. Dan justru itu yang membuat Desy gelisah.
373Please respect copyright.PENANAaEeNbIvVaL
Di balik semua itu, ada kegelisahan yang tak bisa ia abaikan. Tentang Jafar, tentang dirinya sendiri, dan tentang arah hubungan mereka setelah ini. Apakah Jafar hanya sekadar pelarian dari kesepiannya? Ataukah ini hanya perasaan sesaat yang akan menghilang begitu kenyataan kembali mengetuk pintu?
373Please respect copyright.PENANApC8UyzUknn
Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Angin pelan menyapu teras rumah, sementara Jafar dan Desy duduk berdampingan dalam sunyi yang panjang. Desy menyandarkan kepalanya perlahan di bahu pemuda itu, seolah mencari sedikit ketenangan dari sesuatu yang sudah lama ia pendam.
373Please respect copyright.PENANArIiJCuEhCK
“Kalau saja kamu tahu masa laluku… kamu tidak akan bisa mencintaiku,” ucap Desy pelan, nyaris seperti bisikan yang takut terdengar oleh malam.
373Please respect copyright.PENANAuJ8EZDUzOi
“Aku akan menerima masa lalumu, apa pun itu,” jawab Jafar mantap.
373Please respect copyright.PENANAxjqxMakqwl
“Tidak…” Desy menggeleng kecil. “Kamu tidak akan bisa.”
373Please respect copyright.PENANArApG2DAjP3
Dahi Jafar mengernyit. “Apa yang kamu sembunyikan?”
373Please respect copyright.PENANAO8c685IoXs
Desy terdiam cukup lama. Napasnya berat, sebelum akhirnya ia bergeser dan memeluk Jafar lebih erat, seolah butuh kekuatan untuk mengatakan hal berikutnya.
373Please respect copyright.PENANAiFZovUQajW
“Aku… bukan orang yang kamu pikirkan,” suaranya bergetar. “Aku… kotor.”
373Please respect copyright.PENANACOz5cV64eg
Jafar menegang. “Jangan bicara begitu. Setiap orang punya masa lalu. Itu tidak mengubah siapa kamu sekarang.”
Namun Desy tidak menjawab. Ia justru menatap Jafar dalam-dalam, matanya berkilat antara takut dan pasrah.
373Please respect copyright.PENANAyOfAHPxdCw
“Aku harus jujur,” katanya akhirnya. “Dan mungkin setelah ini… kamu akan membenciku. Tapi tolong… jangan benci aku. Dan jangan benci orang tuamu.”
373Please respect copyright.PENANAHcU893WbUR
Jafar semakin bingung. “Apa maksudmu sebenarnya?!”
373Please respect copyright.PENANASpV8xCYHlQ
Desy menarik napas panjang, seperti seseorang yang akhirnya jatuh dari tepi jurang.
“Aku adalah mantan istri ayahmu.”
373Please respect copyright.PENANAu4zWujoEXz
Hening.
373Please respect copyright.PENANAuukpUKVwz6
Kata-kata itu jatuh begitu saja, namun menghantam seperti petir di tengah malam.
Jafar tersentak mundur. Matanya melebar, seolah mencoba memastikan ia tidak salah dengar.
373Please respect copyright.PENANAucBVEo9Vbl
“Jangan bercanda… ini tidak lucu,” suaranya serak.
373Please respect copyright.PENANAzwVtCUnbye
“Aku serius…” jawab Desy pelan.
373Please respect copyright.PENANAHzLGQWGMMP
“Tidak mungkin!” Jafar menggeleng keras, mundur beberapa langkah, tangannya memegang kepalanya sendiri. “Ini pasti salah!”
373Please respect copyright.PENANArc6fPr2Taj
“Maafkan aku…” hanya itu yang keluar dari bibir Desy, hampir tanpa suara.
Jafar berbalik, berjalan gelisah bolak-balik di teras itu, seolah dunia yang ia kenal baru saja runtuh di kepalanya.
373Please respect copyright.PENANA4SDh12zTWI
“Kenapa… kenapa Ibu dan Ayah tidak pernah mengatakan ini padaku?!” suaranya meninggi, pecah antara marah dan tidak percaya.
Desy hanya diam.
373Please respect copyright.PENANA0yu7U8eLWp
373Please respect copyright.PENANAsZ47LziH6D
Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.
373Please respect copyright.PENANA2WKzcF6jDr
BERSAMBUNG...
SELNGKAPNYA: https://lynk.id/shark95
ns216.73.216.253da2


