Perjalanan pulang dari kota sebelah terasa begitu cepat, menyisakan sisa kehangatan yang perlahan menguap digantikan oleh realitas.
245Please respect copyright.PENANAqgHYMqHB4I
Pukul empat sore, Hermawan sudah kembali berdiri di balik etalase kaca toko kelontongnya. Aroma vanilla dari tubuh Sila seolah masih tertinggal samar di tubuhnya, namun ketenangan itu hilang ketika terdengar suara pagar besi depan rumah digeser.
245Please respect copyright.PENANAMQ5l1Oiz5Q
Sumi pulang lebih awal. Tak lama, sosok istrinya masuk melalui pintu penghubung toko. Sumi (52 tahun) tampak layu, wajahnya kusam oleh debu pabrik, rambutnya yang diikat seadanya menyembunyikan sisa-sisa kecantikan masa mudanya, dan sepasang matanya menyiratkan kelelahan yang menahun.
245Please respect copyright.PENANAp5xUvG7zdF
Bau bumbu dapur dan peluh langsung menggantikan sisa keharuman vanilla yang sedari tadi berputar di kepala Hermawan.
245Please respect copyright.PENANAMoONvwySkU
"Toko sepi, Kang?" tanya Sumi datar, menaruh tas belanjaan berisi sayuran di atas meja tanpa menatap suaminya.
245Please respect copyright.PENANA6CiY7lH1Ua
"Ya... seperti biasa, Sum. Agak sorean baru ramai anak-anak beli jajan," jawab Hermawan.
245Please respect copyright.PENANAVkiwclceQv
Sumi hanya mengangguk pelan, mengusap lehernya yang berkeringat dengan selembar tisu. Ia menatap Hermawan sekilas. Di mata Sumi, Hermawan masih merupakan pria tegap yang ia nikahi puluhan tahun lalu-postur suaminya masih gagah meski rambut pelipisnya memutih-namun rutinitas dan kelelahan telah membuat Sumi berhenti mengagumi fisik suaminya itu.
245Please respect copyright.PENANAusqelfT96y
"Aku mau mandi dulu, gerah sekali. Nanti malam ada arisan RT di rumah Bu RT, Akang mau makan malam jam berapa?" tanya Sumi sambil berbalik menuju dapur.
245Please respect copyright.PENANATUBVzRmpVa
"Jam tujuh saja, Sum. Nanti Akang tutup toko agak awal," sahut Hermawan.
245Please respect copyright.PENANAryfZg5n6hP
Tepat saat Sumi hendak melangkah masuk ke dalam rumah, lonceng pintu depan toko berdenting halus.
245Please respect copyright.PENANAatBgQ3RNJ6
Hermawan mendongak, dan jantungnya mendadak berdegup kencang.
245Please respect copyright.PENANAixWBebU3Hx
Sila berdiri di sana.
245Please respect copyright.PENANAu4tTHxufUv
Gadis itu mengenakan kemeja kasual yang pas di tubuh indahnya dan celana jeans yang memamerkan kaki jenjangnya.
245Please respect copyright.PENANAwE4he20H5q
"Permisi, Pak Hermawan... mau beli es kopi kemasan ada?" suara Sila terdengar, mengalun sopan.
245Please respect copyright.PENANAFos5gFqMGZ
Sumi menghentikan langkahnya, berbalik dan menatap Sila dengan pandangan menilai khas bapak-bapak dan ibu-ibu paruh baya kepada anak muda.
245Please respect copyright.PENANA7UCyeMKF8Z
"Oh, anak tetangga baru ya?" tanya Sumi pada Hermawan.
245Please respect copyright.PENANA225aePhv6Q
Hermawan menelan ludah, ia berdiri di antara dua wanita yang menguasai dua sisi hidupnya. Sumi, istri sahnya yang telah menemaninya dalam kehambaran belasan tahun, dan Sila, kekasih mudanya.
245Please respect copyright.PENANA1O5dbROIXk
"I-iya, Sum. Ini Neng Sila, anak rumah sebelah," jawab Hermawan, sambil merogoh ke dalam kulkas toko untuk mengambilkan es kopi pesanan Sila.
245Please respect copyright.PENANAzfHsjcBSFL
Sila melirik Hermawan sekilas, ada binar jenaka sekaligus berani di mata jernihnya, namun ia segera mengalihkannya pada Sumi dengan senyuman yang sangat ramah. "Sore, Ibu... saya Sila. Maaf baru sempat menyapa secara resmi," ucap Sila manis.
245Please respect copyright.PENANA5iopyNm1nt
Sumi tersenyum tipis. "Sore, Neng. Cantik sekali ya... mirip artis kota," puji Sumi tulus tanpa menaruh curiga sedikit pun. "Pantas si Akang betah jaga toko kalau penunggu sebelahnya secantik ini."
245Please respect copyright.PENANAjhWaVmQdZD
Candaan Sumi yang mengalir polos itu terasa seperti hantaman bagi ulu hati Hermawan. Rasa bersalah dan ketakutan mendadak bercampur aduk, membakar dinding dadanya yang tegap, sementara ia menyerahkan botol es kopi dingin itu ke tangan lentik Sila yang sempat menyentuh jarinya dengan sengaja.
245Please respect copyright.PENANAhrLEBh2Zdr
Sila menerima botol es kopi itu, jemari lentiknya sengaja menggeser pelan permukaan ibu jari Hermawan yang kasar sebelum menarik tangannya kembali.
245Please respect copyright.PENANAy2znbt6yfn
"Terima kasih, Pak. Berapa?" tanya Sila, suaranya tetap terdengar polos dan sopan di depan Sumi.
245Please respect copyright.PENANANeMYPIo8q5
"Enam ribu, Neng," sahut Hermawan.
245Please respect copyright.PENANAuhCO9oY0DZ
Sila mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan dari saku celananya, meletakkannya di atas etalase kaca.
245Please respect copyright.PENANAlRCCSzQJ9h
Saat Hermawan sibuk mencari uang kembalian di laci, Sumi masih berdiri di ambang pintu, memperhatikan interaksi itu dengan tatapan ibu-ibu yang mengagumi anak muda.
245Please respect copyright.PENANADM9K5KCUMi
"Neng Sila sedang kuliah ya? Orang tua sering pergi dinas, sendirian di rumah sebesar itu tidak sepi?" tanya Sumi basa-basi, mencoba bersikap ramah sebagai tetangga yang lebih tua.
245Please respect copyright.PENANAHaFCFK6pYN
"Iya, Bu. Kadang sepi kalau Mama sama Papa lagi dinas luar," jawab Sila. Gadis itu menoleh ke arah Sumi, memberikan senyuman manis yang tampak begitu tulus, namun matanya sesekali melirik Hermawan dari sudut pandangnya. "Tapi untung ada Pak Hermawan di sebelah, toko ini buka sampai malam jadi rasanya tidak terlalu seseram itu kalau pulang telat."
245Please respect copyright.PENANAG2jjz9vbEE
Sumi terkekeh pelan, mengibaskan tangannya. "Halah, si Akang ini kalau sudah malam kadang suka ketiduran di toko, Neng. Nanti kalau ada apa-apa, ketuk saja pintu rumah tengah, biar saya yang bangunkan."
245Please respect copyright.PENANAQLtRSbrEbx
"Baik, Bu. Terima kasih banyak ya," ucap Sila manis.
245Please respect copyright.PENANAxVRcLEoJ5W
Hermawan menyerahkan uang kembalian empat ribu rupiah.
245Please respect copyright.PENANAyTLZ47wX4U
Sila menerimanya, lalu menatap mata tajam Hermawan dalam-dalam-tatapan yang sarat akan arti. "Mari, Ibu... Pak Hermawan... saya permisi dulu."
245Please respect copyright.PENANA3us0SDLMy8
"Iya, Neng, silakan," sahut Sumi.
245Please respect copyright.PENANAweOUMhJ6MY
Begitu Sila telah keluar, Hermawan menarik napas panjang. Jantungnya masih berdegup kencang.
245Please respect copyright.PENANAXG2eh2UuZC
Sumi membalikkan tubuhnya, bersiap masuk ke dalam rumah. "Anak zaman sekarang ya, Kang, badannya bagus, kulitnya putih bersih begitu. Wangi minyak wanginya saja sampai ketinggalan di sini," gumam Sumi pelan sebelum melangkah hilang ke balik tirai pembatas rumah tengah.
245Please respect copyright.PENANA1faIrXu6XD
Hermawan terpaku. Kalimat polos istrinya justru terasa seperti tamparan yang meninggalkan rasa perih di batinnya. Dia memandangi telapak tangannya yang kasar, lalu beralih menatap ke arah luar jendela toko, melihat siluet Sila yang berjalan menjauh dengan pinggul yang berayun indah.
245Please respect copyright.PENANA1KfYEbXy3K
245Please respect copyright.PENANAQx0tADeDKf


