Sadar bahwa bertemu di dekat rumah terlalu berisiko, Hermawan akhirnya mengambil keputusan berani. Dengan alasan mencari pasokan barang dagangan baru untuk tokonya ke kota sebelah, ia membawa Sila pergi bersamanya. Sebuah pelarian kecil yang mereka sebut sebagai kencan.
293Please respect copyright.PENANA6fkVxhoAgS
Di dalam kamar hotel melati yang terletak di sudut kota yang sibuk ini, mereka tidak perlu lagi berbisik atau takut mendengar suara langkah kaki Sumi atau orang tua Sila.
293Please respect copyright.PENANAcpfZJGM4n6
Hermawan berdiri di dekat jendela, melepas jaket kulitnya, menyisakan kaos dalam abu-abu yang memperlihatkan lekuk tubuh matangnya yang kokoh. Di usianya yang ke-55, berada di tempat seperti ini bersama seorang gadis 19 tahun memicu perasaan campur aduk, ada rasa bersalah yang samar, namun didominasi oleh kebanggaan yang luar biasa.
293Please respect copyright.PENANA9O85sjE2sd
Sila duduk di tepi ranjang dengan seprai putih itu. Dia baru saja melepas baju pergiannya, kini hanya mengenakan tanktop rajut tipis tanpa bra. Suasana kota yang asing justru membuat Sila merasa lebih bebas. Tatapannya tertuju pada punggung tegap Hermawan yang sedang menyalakan sebatang rokok.
293Please respect copyright.PENANA2Ag99eCpSU
"Pak Herman... ke sini sebentar," panggil Sila, suaranya terdengar manja.
293Please respect copyright.PENANAnUJyqbAGLb
Hermawan berbalik, mengembuskan asap rokoknya perlahan sebelum mematikannya di asbak. Langkah kakinya yang berat mendekati ranjang. Setiap gerakannya memancarkan karisma pria tua yang tenang namun menghanyutkan. Dia duduk di samping Sila, membuat kasur busa itu sedikit amblas karena bobot tubuhnya.
293Please respect copyright.PENANAj1fpzryj5Z
Sila langsung merangkak mendekat, duduk di pangkuan Hermawan dengan posisi menghadap pria itu. Kedua tungkai kakinya yang mulus mengunci pinggang tegap Hermawan. Aroma manis vanilla-nya kini bercampur dengan aroma ruangan hotel yang asing, menciptakan suasana intim.
293Please respect copyright.PENANADDEeaj3oJE
"Akhirnya kita bisa berdua tanpa harus buru-buru," bisik Sila, menyandarkan dahinya di bahu kokoh Hermawan. Jemari lentiknya bermain di kerah kaos dalam Hermawan, merasakan detak jantung pria itu.
293Please respect copyright.PENANAfZStHcRr9W
Hermawan menangkup pinggul ramping Sila dengan kedua tangannya yang besar dan kasar. "Kamu tidak takut kalau ada yang melihat kita di jalan tadi, Neng?" tanya Hermawan dengan suara beratnya, selalu bertindak sebagai pihak yang penuh perhitungan.
293Please respect copyright.PENANAG7nJJiVlgo
Sila mendongak, menatap mata tajam Hermawan dengan binar penuh keyakinan. "Kan ada Pak Herman yang jaga aku. Aku nggak takut."
293Please respect copyright.PENANAeE6GUIN7sG
Ucapan polos yang sarat akan kepercayaan itu meruntuhkan sisa kendali diri Hermawan. Ia menarik tengkuk Sila, membungkam bibir ranum gadis itu dengan ciuman yang jauh lebih menuntut daripada biasanya. Di tempat baru ini, di bawah perlindungan dinding kamar yang asing, mereka tidak lagi memiliki batas.
293Please respect copyright.PENANAjlLuHsNDRE
Hermawan merebahkan tubuh Sila ke atas ranjang, mengunci pergerakan kekasih mudanya di bawah tubuh tegapnya yang menolak untuk tunduk pada usia.
293Please respect copyright.PENANAskg3cCz98F
Pelarian mereka baru saja dimulai.
293Please respect copyright.PENANABm67z6pwDK
Hermawan merendahkan tubuhnya, menekan Sila ke atas kasur busa. Kamar hotel yang asing ini seolah menjadi semesta milik mereka berdua, tempat di mana status bapak-bapak pemilik toko kelontong dan mahasiswi belia lebur sepenuhnya menjadi sepasang kekasih yang dimabuk asmara.
293Please respect copyright.PENANABp2grPF55H
Ciuman Hermawan merambat turun dari bibir manis Sila, menjelajahi rahangnya yang tegas, hingga memberi isapan-isapan dalam di leher jenjang Sila yang membuat gadis itu melenguh panjang.
293Please respect copyright.PENANAZivrYAKgd6
"Ah... Pak..." Sila mencengkeram erat kaos abu-abu Hermawan, menariknya ke atas agar kulit mereka bisa saling bersentuhan tanpa sekat.
293Please respect copyright.PENANA6JQJvwOe6o
Hermawan dengan senang hati menuruti keinginan Sila. Ia menyentakkan kaosnya lewat kepala, mencampakkannya ke lantai, memperlihatkan dada bidangnya yang berurat kokoh. Sila langsung memeluk punggung Hermawan, mengusap otot-otot tegap pria paruh baya itu dengan jari-jarinya yang lentik, terpesona oleh kekuatan fisik maskulin yang masih terjaga kuat di usia 55 tahun.
293Please respect copyright.PENANAv4ifouoDFl
Tangan besar Hermawan merayap ke bawah tanktop rajut Sila, mendorongnya ke atas hingga mengekspos payudara Sila yang kencang dan keras karena hawa dingin AC hotel.
293Please respect copyright.PENANASxAFF7nnq2
Hermawan menatap keindahan itu dengan pandangan gelap penuh rasa lapar, sebelum menundukkan kepalanya untuk melumat salah satu puncaknya dengan intensitas yang menuntut.
293Please respect copyright.PENANAMescorcSMq
"Eunghhh!" Sila memekik, tubuhnya melengkung ke atas, menyerahkan seluruh dirinya pada kenikmatan yang dihadiahkan oleh sentuhan matang Hermawan. Kaki mulusnya bergerak gelisah di atas seprai putih, mengesek betis Hermawan seolah memohon untuk diberikan lebih.
293Please respect copyright.PENANAAfzchFyuap
Hermawan tidak membiarkan kekasih mudanya menunggu lama. Dengan satu gerakan, ia menanggalkan sisa pakaian mereka yang menghalangi.
293Please respect copyright.PENANAD4cnArZOB1
Di hotel itu, Hermawan yang berurat, gagah, dan matang, berpadu dengan Sila yang putih, mulus, dan sintal.
293Please respect copyright.PENANA1cJ7YGwNku
Hermawan memisahkan kedua paha Sila, memosisikan dirinya di antara sela kaki gadis itu.
293Please respect copyright.PENANAv0yrIIjMVE
Sila menatap mata tajam Hermawan yang penuh dengan gairah, tangannya merambat naik mengelus rambut di pelipis Hermawan yang memutih.
293Please respect copyright.PENANATLVH0XkcC7
"Miliki aku, Pak..." bisik Sila dengan napas memburu, sepenuhnya pasrah pada pesona pria tua di atasnya.
293Please respect copyright.PENANAXExYWGrbvY
Dengan satu hentakan tegap yang dalam dan penuh tenaga, Hermawan menyatukan tubuh mereka, membawa kencan rahasia mereka di kota sebelah menuju puncak penyatuan yang paling intim dan tanpa batas.
293Please respect copyright.PENANAP5iVtUV0vV
Lanjutan di Lynk lebih vulgar Add Part 05 | @redcamellia
293Please respect copyright.PENANABn1LbJARTO
https://lynk.id/redcamellia
293Please respect copyright.PENANAeSLbEnQIjs
Baca cerita lainnya di wp @redcamie
293Please respect copyright.PENANAtHatNywiHi
293Please respect copyright.PENANA6IAwYMhrxA


