Satu bulan telah berlalu semenjak siang yang panas di atas meja marmer itu.
344Please respect copyright.PENANAk0EgUxjMST
Hubungan yang awalnya dimulai dari ketertarikan tak terduga kini telah bergeser menjadi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang mereka sebut secara rahasia sebagai hubungan asmara.
344Please respect copyright.PENANACpRb5GAd28
Mereka berdua berpacaran dalam sembunyi, tanpa diketahui istri Hermawan dan orang tua Sila yang sama sekali tidak menaruh curiga.
344Please respect copyright.PENANARUVTttOBHa
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Lingkungan perumahan sudah sepenuhnya sepi.
344Please respect copyright.PENANAnaHZWt8YcR
Hermawan berdiri di kegelapan halaman samping rumahnya, berlindung di balik bayangan pohon mangga yang rimbun. Di usianya yang ke-55, dia merasa seperti remaja yang sedang kasmaran, jantungnya berdebar kencang setiap kali menunggu kekasih mudanya. Dia mengenakan kaos oblong hitam santai, memperlihatkan lengan kekarnya yang malam itu terasa dingin karena angin.
344Please respect copyright.PENANAggqkutHY1F
Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang sangat pelan dari arah sebelah. Siluet Sila muncul dari balik pintu samping rumah besarnya. Gadis 19 tahun itu hanya mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna hitam yang kontras dengan kulit putih mulusnya yang seolah bersinar di bawah temaram cahaya bulan. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, menyebarkan aroma vanilla familier yang langsung dikenali oleh indra penciuman Hermawan.
344Please respect copyright.PENANAcsA3Veifun
Sila mendekati pagar pembatas setinggi dada yang memisahkan kedua rumah mereka. Area samping ini, tidak terlihat dari jendela kamar utama tempat istri Hermawan sudah tertidur pulas, dan jauh dari jangkauan kamar orang tua Sila di lantai dua.
344Please respect copyright.PENANAWndihP2NRD
"Pak Herman..." bisik Sila lembut, senyum manis langsung terbit di bibir tipisnya saat melihat sosok gagah Hermawan berdiri di kegelapan.
344Please respect copyright.PENANAmjBZJB3M0A
Hermawan melangkah mendekat hingga tubuhnya menempel pada pagar. Dia mengulurkan tangannya yang besar dan kasar, menangkup pipi Sila yang halus dengan penuh kasih sayang.
344Please respect copyright.PENANAc2UOEcePSq
"Sudah tidur orang tuamu, Neng?" suara berat Hermawan berbisik parau, sarat akan kerinduan yang tertahan sejak siang tadi saat Sila hanya mampir sebentar ke toko untuk membeli camilan.
344Please respect copyright.PENANANjeR9371Cg
"Sudah, dari jam sepuluh tadi Mama sama Papa sudah masuk kamar," jawab Sila. Dia mencondongkan wajahnya, menikmati kehangatan telapak tangan Hermawan yang sangat dia rindukan.
344Please respect copyright.PENANAcGOoM4NqiA
Sila bertumpu pada pagar, mencondongkan tubuhnya ke arah Hermawan. Gaun satinnya yang longgar sedikit turun, mengegaskan bentuk dadanya yang kencang di hadapan pria tua itu.
344Please respect copyright.PENANAfiaOE8mKXA
Hermawan menelan ludah, rasa gairah miliknya sebagai seorang pria dewasa langsung tersulut melihat betapa indahnya gadis yang kini berstatus sebagai pacar rahasianya ini.
344Please respect copyright.PENANAjCl6T0UJDP
"Kangen..." bisik Sila manja, matanya menatap dalam-dalam ke manik mata Hermawan.
344Please respect copyright.PENANAkPGm8XzBd1
Hermawan tidak menjawab dengan kata-kata. Dia memajukan wajahnya melewati batas pagar, langsung meraup bibir manis Sila ke dalam sebuah ciuman malam yang dalam dan basah.
344Please respect copyright.PENANAHd3G5fN3oC
Sila menyambutnya dengan antusias, mengalungkan lengan lentiknya ke leher kokoh Hermawan, mengabaikan dinginnya besi pagar yang menekan dada mereka.
344Please respect copyright.PENANAd9W5YESuns
Ciuman di tengah keheningan malam ini terasa berbeda-bukan lagi sekadar pelampiasan nafsu impulsif seperti di dapur sebulan lalu, melainkan ciuman intim dua orang yang kini saling memiliki dalam ruang terlarang.
344Please respect copyright.PENANAt5oiWT31It
Tangan Hermawan merayap turun ke punggung terbuka Sila, mengusap kulit halusnya di balik gaun tidur tipis itu, menarik tubuh ramping Sila agar semakin menempel erat pada pagar pembatas dunia mereka.
344Please respect copyright.PENANAeRjEKPRD77
Ciuman malam itu kian dalam, dipenuhi rasa rindu yang tertahan di balik keterbatasan ruang gerak mereka. Sila melenguh pelan di sela-sela pagutan bibir mereka, membiarkan lidah Hermawan yang hangat menguasai rongga mulutnya yang selalu berhasil membuatnya bertekuk lutut.
344Please respect copyright.PENANAYxObGlbkEA
Malam yang semakin larut membuat keberanian mereka tumbuh. Hermawan melepaskan tautan bibir mereka sejenak, napasnya yang berat berembus hangat di permukaan kulit wajah Sila yang merona. Mata tuanya yang tajam menatap ke sekeliling, memastikan tidak ada pergerakan dari arah rumah masing-masing sebelum tangannya yang besar berpindah.
344Please respect copyright.PENANASxurPl0suP
Hermawan menyusupkan kedua tangannya ke bawah ketiak Sila. Dengan satu sentakan pelan dari kekuatan otot lengannya yang kokoh, ia mengangkat tubuh ramping Sila melewati pagar pembatas setinggi dada itu. Sila memekik tertahan, buru-buru melingkarkan kedua kakinya ke pinggang tegap Hermawan agar tidak terjatuh.
344Please respect copyright.PENANA22qZaF8bFB
Kini, Sila sepenuhnya berada di area halaman rumah Hermawan, bersembunyi di balik rimbunnya pohon mangga yang gelap.
344Please respect copyright.PENANAw4m8epUxSY
Hermawan membawa Sila bersandar pada batang pohon yang besar, menyembunyikan tubuh mereka dari sudut pandang mana pun.
344Please respect copyright.PENANAfx8eI20Wdv
Gaun satin tipis Sila tersingkap ke atas akibat posisi kakinya yang mengunci pinggang Hermawan, mengekspos paha mulusnya yang langsung bersentuhan dengan kulit tangan Hermawan yang kasar.
344Please respect copyright.PENANAjhVyN2vihp
"Neng Sila... kamu nekat sekali," bisik Hermawan, namun tangannya justru semakin erat mencengkeram pinggul Sila, menekan pusat keintiman gadis itu pada miliknya yang sudah menegang sempurna di balik celana.
344Please respect copyright.PENANAROaPUXIVXO
Sila hanya membalasnya dengan senyuman tipis yang sarat akan gairah. "Kan Pak Herman yang angkat aku ke sini," bisiknya manja, sengaja menggesekkan hidungnya ke rahang tegas Hermawan yang mulai ditumbuhi janggut tipis.
344Please respect copyright.PENANADEkgtyX9Qx
Tanpa membuang waktu lagi, Hermawan menyingkap tali gaun malam Sila, menurunkan kain satin hitam itu hingga batas dada Sila terkespos sepenuhnya di bawah temaram sinar bulan yang menerobos celah daun.
344Please respect copyright.PENANAQZSA8SqWHV
Keindahan tubuh muda Sila kembali menyihir akal sehat pria 55 tahun itu. Hermawan menunduk, melumat habis puncak dada Sila dengan kasar dan penuh lapar, mengabaikan sisa-sisa rasa bersalah yang kini telah lebur oleh rasa kepemilikan sebagai seorang kekasih.
344Please respect copyright.PENANAgZ75YsO3vH
"Ahhh... Pak... hhh..." Sila mendongak, kepalanya bertumpu pada batang pohon mangga yang kasar. Kontras antara kulit punggungnya yang bergesekan dengan kulit pohon dan sentuhan panas mulut Hermawan di dadanya membuat seluruh tubuh Sila gemetar hebat.
344Please respect copyright.PENANAb9yOGKh6Ip
Di bawah bayang-bayang kegelapan malam, hubungan terlarang dua tetangga yang terpaut usia jauh ini kembali berlanjut ke ranah yang lebih intens.
344Please respect copyright.PENANAmlExalOr0n
344Please respect copyright.PENANAzAImS9OjyY


