Rumah keluarga Sila berdiri cukup megah dengan arsitektur modern minimalis.
356Please respect copyright.PENANAkGOBTmZ5QO
Begitu melangkah melewati pintu samping yang menghubungkan halaman mereka, Hermawan langsung disambut oleh embusan pendingin ruangan yang sejuk dan lantai yang berkilau bersih.
356Please respect copyright.PENANAlFZvTVWaZ4
Hermawan berjalan di belakang Sila, matanya kembali mengkhianati akal sehatnya. Di bawah pencahayaan rumah yang terang, kulit punggung Sila yang terekspos karena potongan kaosnya yang agak rendah terlihat begitu halus, tanpa cela. Langkah kaki gadis itu ringan, membuat gelang kaki perak kecil yang dipakainya berdenting halus.
356Please respect copyright.PENANAYBTxT6d9eH
"Lewat sini, Pak," ujar Sila sembari menunjuk ke arah dapur bersih di bagian belakang rumah.
356Please respect copyright.PENANAY7ZWEibDTL
Dapur itu sangat luas, didominasi warna putih dan abu-abu dengan peralatan memasak yang tampak mahal. Sebuah bungkus mi instan yang robek dan mangkuk kosong tergeletak di atas meja marmer-bukti bahwa Sila memang benar-benar berniat memasak sebelum gasnya habis.
356Please respect copyright.PENANABYG1lWLyz3
Hermawan menurunkan tabung gas dari dekapannya ke lantai dapur dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik. Tubuhnya yang kekar membungkuk, mulai melepaskan regulator dari tabung gas yang kosong.
356Please respect copyright.PENANAYDtfaqHztE
Sila berdiri tidak jauh di sampingnya, memperhatikan setiap gerakan tangan Hermawan. "Maaf ya, Pak Hermawan, jadi merepotkan. Aku benar-benar tidak paham cara memasang benda seperti itu. Di rumah lama, biasanya ada asisten rumah tangga yang mengurus semuanya."
356Please respect copyright.PENANADcgut0Os0q
"Tidak apa-apa, Neng Sila. Memang agak bahaya kalau belum biasa," sahut Hermawan. Suaranya terdengar berat dan dalam di ruang dapur yang sepi itu. Dia mencoba fokus pada pekerjaannya, memutar kenop regulator dan memastikan karet pengamannya terpasang dengan pas.
356Please respect copyright.PENANAzpjvF0mjh5
Namun, kehadiran Sila yang begitu dekat membuat konsentrasinya buyar.
356Please respect copyright.PENANAacDo0rNEg8
Sila melangkah mendekat, ikut membungkuk kecil untuk melihat apa yang sedang dilakukan Hermawan. Aroma manis vanilla dari tubuh Sila kembali menguar, mengepung indra penciuman Hermawan. Saat Sila bergerak, helaian rambut panjangnya yang halus sempat menyapu pundak Hermawan.
356Please respect copyright.PENANAH25RhSeHRn
Selesai.
356Please respect copyright.PENANAii46Uf0AVH
Regulator terpasang dengan sempurna. Hermawan memutar knop kompor untuk memastikan api menyala. Suara desis gas terdengar disusul dengan nyala api biru yang stabil.
356Please respect copyright.PENANApbUFlbLckz
"Sudah selesai, Neng. Dicoba saja," kata Hermawan seraya menegakkan kembali tubuh tegapnya.
356Please respect copyright.PENANAzTK6reQ7uY
Sila mendongak, menatap Hermawan yang kini berdiri sangat dekat di depannya. Gadis itu tersenyum tipis, matanya berbinar tulus. "Wah, cepat sekali. Terima kasih banyak ya, Pak."
356Please respect copyright.PENANAQBHbHAB5wX
Hermawan mengangguk. "Iya, sama-sama. Kalau begitu, Bapak pamit kembali ke toko dulu-"
356Please respect copyright.PENANAeh3ma88ePy
"Pak Hermawan," potong Sila pelan. Langkah Hermawan tertahan. Gadis itu menatap wajah Hermawan, memperhatikan guratan-guratan usia di sana yang justru membuat ketampanan matangnya terlihat begitu berwibawa. "Haus, kan? Di luar panas sekali. Tunggu sebentar, aku ambilkan minum ya."
356Please respect copyright.PENANAcldbqgsECL
Sebelum Hermawan sempat menolak, Sila sudah berbalik menuju kulkas besar bersisi dua di sudut dapur. Dia mengambil sebotol air mineral dingin dan menuangkannya ke dalam gelas kaca yang tinggi.
356Please respect copyright.PENANAWMYEzdLgKM
Ketika Sila berbalik untuk memberikan gelas itu, entah karena terburu-buru atau lantai yang sedikit licin, jemari Sila agak goyah. Beberapa tetes air dingin memercik, mengenai kaos putih tipis yang dikenakannya. Air itu langsung meresap, membuat kain kaos di bagian dadanya menjadi semi-transparan dan melekat ketat di kulit mulusnya.
356Please respect copyright.PENANAl9kufdSPJA
Sila sedikit terpekik, menunduk melihat kaosnya yang basah. Wajahnya merona merah karena malu. "Ah... maaf, jadi berantakan."
356Please respect copyright.PENANAjSNXPnnZ5R
Hermawan terpaku di tempatnya. Pandangannya terkunci pada kaos Sila yang basah, memperlihatkan siluet samar pakaian dalam berenda yang membingkai lekuk tubuh mudanya dengan begitu indah.
356Please respect copyright.PENANAVahBSgQ31H
Jakun Hermawan naik-turun, kerongkongannya mendadak terasa jauh lebih kering daripada sebelumnya. Darahnya berdesir hebat, memompa gairahnya.
356Please respect copyright.PENANAoWpHOtP8o4
Sila mendongak dan menyadari arah tatapan Hermawan. Alih-alih buru-buru menutupi dadanya, gadis 19 tahun itu justru terpaku. Detak jantungnya berdentum kencang. Ada ketegangan aneh yang menjalar di antara mereka berdua, sebuah ketertarikan tak kasat mata yang membuat ruangan terasa begitu panas.
356Please respect copyright.PENANAB0Z4gE5wlN
Sila bisa melihat napas Hermawan yang mulai memberat, dan entah mengapa, tatapan lapar dari pria tua yang gagah di depannya ini tidak membuatnya takut, melainkan memicu debaran yang asing sekaligus mendebarkan di dadanya.
356Please respect copyright.PENANAgZ5FaQPOFd
Gelas di tangan Sila bergetar halus. Hermawan melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Tangan Hermawan yang besar dan kasar perlahan naik, mengambil alih gelas dari genggaman Sila dan meletakkannya di atas meja konter tanpa sekali pun memutuskan tatapan mata mereka.
356Please respect copyright.PENANAmD81cWXWx6
"Neng Sila..."
356Please respect copyright.PENANASjm2JezczC
Sila tidak mundur. Napasnya ikut memburu, dadanya yang naik-turun bersentuhan ringan dengan dada bidang Hermawan yang tegap. Jemari lentik Sila secara refleks mencengkeram ujung kemeja Hermawan, mencari pegangan karena kakinya mendadak terasa lemas di bawah tatapan intens pria paruh baya itu.
356Please respect copyright.PENANAEeUv09TcSy
356Please respect copyright.PENANAsBPjxoOfWa


