Bagi Hermawan (55 tahun), kehidupan di usianya sudah seperti barang dagangan di toko kelontongnya sendiri, berdebu, monoton, dan tersusun rapi tanpa kejutan. Pernikahannya dengan Sumi sudah lama kehilangan percikan. Setiap hari berlalu dengan pola yang sama. Sumi berangkat kerja sebagai kepala administrasi di sebuah pabrik sebelum matahari terbit, pulang dalam keadaan lelah, makan malam dalam keheningan, lalu tidur memunggungi Hermawan. Apalagi dua anak lelaki mereka yang semuanya merantau. Rumah mereka yang cukup besar di kawasan itu terasa lapang, sepi, dan dingin.
402Please respect copyright.PENANAZddiFQ2zob
Toko kelontong di bagian depan rumahnya adalah satu-satunya dunia Hermawan. Di usia kepala lima, Hermawan masih memiliki postur tubuh yang tegap dan kokoh karena terbiasa mengangkat peti-peti barang dagangan, meskipun rambut di pelipisnya sudah memutih sempurna dan kerutan di sudut matanya menegaskan jejak usia. Namun justru di situlah letak karismanya-dia adalah pria tua yang matang dan gagah.
402Please respect copyright.PENANAW8VefnTxCq
Sampai tiga minggu lalu, sebuah keluarga kaya memindahkan barang-barang mereka ke rumah besar tepat di sebelah tokonya. Dan siang itu, lonceng di atas pintu tokonya berdenting.
402Please respect copyright.PENANA1TdeLG1a69
Hermawan yang sedang mencatat sisa stok rokok di balik etalase kaca mendongak. Detak jantungnya mendadak melewatkan satu ketukan.
402Please respect copyright.PENANAQhfLXNhVLe
Gadis itu masuk. Sila, namanya. Umurnya baru 19 tahun, seorang mahamiswi baru yang kecantikannya terasa terlalu mencolok untuk lingkungan ini.
402Please respect copyright.PENANArRSYHiTUqT
Siang itu, Sila hanya mengenakan celana pendek denim dan kaos putih tipis yang sedikit longgar. Kulitnya yang putih mulus tampak kontras dengan lantai toko Hermawan yang kusam. Setiap kali Sila melangkah, aroma manis vanilla yang mahal langsung menjajah udara toko yang biasanya berbau apek kardus.
402Please respect copyright.PENANAFj1tQhdHI3
Hermawan mati-matian menekan debaran di dadanya. Logika di kepalanya berteriak keras, mengingatkan siapa dirinya, seorang pria lima puluh lima tahun, bersuami, dan pemilik toko kelontong sederhana. Sila hanyalah anak tetangga baru, seorang gadis muda yang pantas menjadi anaknya.
402Please respect copyright.PENANAbmvFzBk5kr
Dia ingin bersikap biasa saja. Dia ingin menjadi Pak Herman yang ramah, yang profesional melayani pembeli. Namun, matanya mengkhianati seluruh kendali diri itu. Setiap kali Sila bergerak, ada daya tarik magnetis yang tidak masuk akal yang menyeret fokus Hermawan. Kulit gadis itu begitu bersih dan mulus, tanpa cela-sangat kontras dengan kulit tangannya sendiri yang kasar dan menggelap karena termakan usia dan kerja keras.
402Please respect copyright.PENANAi4lUICOu99
"Permisi, Pak Hermawan," suara Sila terdengar lembut. Dia datang dengan polos, tanpa niat lain selain mencari kebutuhan rumahnya.
402Please respect copyright.PENANAmE4w3Vrx4r
"Eh, iya, Neng Sila. Mau cari apa?" Hermawan buru-buru merapikan kaus berkerah kusamnya, berusaha keras menjaga suaranya agar terdengar datar dan biasa saja. Ada rasa rendah diri yang tipis, tetapi juga debaran yang sudah puluhan tahun tidak dia rasakan.
402Please respect copyright.PENANA8Yt4rBFkef
"Mama lagi pergi, terus aku mau bikin mi instan tapi gas di dapur tiba-tiba habis," kata Sila sambil berjalan mendekati etalase. Dia menumpukan kedua lengannya di atas kaca etalase, mencondongkan tubuhnya ke arah Hermawan karena agak kepanasan dari luar.
402Please respect copyright.PENANAkGXWhjx4av
Dari jarak sedekat ini, Hermawan bisa melihat dengan jelas kilatan halus keringat di ceruk leher gadis itu, memantulkan cahaya lampu toko yang temaram. Kaos tipis yang dikenakan Sila sedikit turun, memperlihatkan lekuk tulang selangka yang tegas. Hermawan menelan ludah, buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah rak bagian bawah agar tidak terlihat lancang.
402Please respect copyright.PENANAWSNRk6D8gK
Ada rasa bersalah yang menusuk hulu hatinya, tetapi ego maskulinnya yang sudah lama mati justru merasa tergelitik. Mengetahui bahwa seorang gadis sekaya, secantik, dan semuda Sila sedang menatapnya dengan sopan dan ramah-bukan dengan tatapan abaian-membuat pertahanan Hermawan runtuh perlahan.
402Please respect copyright.PENANA12h4QCTuii
"Oh, gas isi ulang yang tiga kilo atau yang besar?" tanya Hermawan, suaranya agak serak.
402Please respect copyright.PENANAxq1NuiwZuR
"Yang besar aja, Pak. Tapi aku enggak kuat ngangkatnya ke rumah," Sila menatap Hermawan, benar-benar bingung karena kelelahan menghadapi tabung gas yang berat. "Bisa minta tolong antarkan ke sebelah? Sekalian pasangin, boleh?"
402Please respect copyright.PENANA1Ol0laqMyD
Pikiran waras Hermawan menyuruhnya untuk menolak. Namun, tubuhnya bergerak di luar kendali akal sehatnya. Dia benci mengakui bahwa siang itu, dia tidak lagi melihat Sila sekadar sebagai anak tetangga yang butuh bantuan. Di matanya, Sila telah berubah menjadi sebuah godaan yang sangat indah.
402Please respect copyright.PENANApvkNr2xFPb
"Bisa, bisa. Sebentar, Bapak ambilkan dulu di belakang," kata Hermawan.
402Please respect copyright.PENANAlYStXo4jlo
Hermawan berjalan ke gudang kecil di belakang toko, mengangkat satu tabung gas dengan satu tangan kekarnya-menunjukkan sisa-isa kekuatan fisiknya yang masih terjaga. Saat dia kembali ke depan, Sila ternyata melangkah masuk ke area belakang konter karena mengira Hermawan butuh dibantu memegang pintu penghubung rumah.
402Please respect copyright.PENANActyrj1NUsP
"Wah, di dalam sini adem ya, Pak," ucap Sila spontan, menyeka keringat di dahinya.
402Please respect copyright.PENANArwMtBGsNPa
Toko sedang sangat sepi. Jam dua siang adalah waktu di mana para tetangga biasanya berlindung di dalam rumah untuk menghindari terik matahari. Suasana hening membuat deru napas mereka berdua terdengar jelas.
402Please respect copyright.PENANApJks8ZceUF
Hermawan berjalan membawa tabung gas, melewati celah sempit di antara etalase dan dinding tempat Sila berdiri. Celah itu terlalu sempit untuk mereka berdua.
402Please respect copyright.PENANAvMG5o8gpRI
Saat Hermawan melangkah lewat, dada bidangnya yang tegap hampir sepenuhnya bergesekan dengan tubuh Sila. Hermawan bisa merasakan kehangatan yang memancar dari kulit muda gadis itu. Aroma vanilla-nya begitu pekat, memabukkan.
402Please respect copyright.PENANAQaDdLaYing
Sila yang awalnya biasa saja, mendadak membeku. Jarak yang terlalu dekat membuat atmosfer di antara mereka berubah dalam sekejap. Sila mendongak, menatap wajah matang Hermawan yang terpaku di hadapannya.
402Please respect copyright.PENANAhT0UCq5HeC
Mata mereka bertemu. Jarak wajah mereka tidak sampai dua puluh sentimeter. Hermawan bisa melihat pantulan dirinya di manik mata Sila yang jernih-seorang pria tua yang tampak haus. Sila pun merasakan hal yang sama, ada getaran aneh, debaran yang tidak biasa dari pria paruh baya yang tampak begitu gagah dan protektif di depannya ini. Langkah Sila tertahan, matanya turun ke arah bibir Hermawan, ikut terhipnotis oleh situasi yang mendadak terasa begitu intim.
402Please respect copyright.PENANAfsJZTWQGPI
Jari-jari Sila yang lentik secara tidak sengaja menyentuh lengan kekar Hermawan yang sedang memeluk tabung gas, berniat awal untuk berpegangan agar tidak tersenggol, namun sentuhan itu justru bertahan di sana. Tekstur otot lengan pria tua yang kokoh itu membuat jantung Sila berdegup kencang untuk pertama kalinya.
402Please respect copyright.PENANAVi468VwwIu
"Pak Hermawan kuat banget ya, padahal tabungnya berat," bisik Sila. Suaranya tidak lagi biasa, melainkan bergetar pelan karena kegugupan yang mendadak menyerangnya.
402Please respect copyright.PENANAnqI4e80Qhr
Kerongkongan Hermawan tercekat. Seluruh urat nadinya menegang. Sila tidak menarik tangannya dari lengan Hermawan, seolah ikut hanyut dalam suasana siang itu.
402Please respect copyright.PENANA6lOh7llITq
"Neng Sila..." suara Hermawan parau, penuh dengan peringatan yang payah untuk dirinya sendiri.
402Please respect copyright.PENANAgbT96kGHSq
Sila tersadar dari lamunannya, pipinya sedikit merona merah karena canggung sekaligus berdebar. Dia melangkah mundur satu senti, mencoba mengembalikan ketenangannya walau matanya masih menatap Hermawan dalam-dalam.
402Please respect copyright.PENANAMOCCtfcJBS
"Yuk, Pak, ke rumah aku."
402Please respect copyright.PENANAGx0MuffQiT
402Please respect copyright.PENANADDHJzAICII


