"Sepertinya kau mengenal mereka," kata Ara pada Pangeran Yi Joon.
Selir Choi mendehem sambil memandangi Ara. Tentu Ara paham maksudnya.
"Pangeran," ralat Ara cepat dengan enggan.
Pangeran Yi Joon memandangi Ara sejenak.
Apa lo, liat-liat!
Ara juga menatap bali Pangeran Yi Joon tanpa takut. Pangeran Yi Joon bisa melihatnya dengan jeas di mata Ara.
"Aku tidak mengenal mereka," jawab Pangeran Yi Joon tampak kesal lalu kembali menghadap Selir Choi. "Aku dan Hyuk diculik dukun cantik itu lalu dibuat pingsan. Saat bangun, aku dan Hyuk berada di sebuah ruangan gelap. Perempuan paruh baya itu juga ada di sana. mereka memaksaku untuk mengatakan identitasku yang sebenarnya dengan menyiksa Hyuk." Jelas Pangeran Yi Joon.
"Aww!!!" Ara menjerit kesakitan sambil menarik tangannya yang sedang diobati oleh Dayang Hye Won.
Itu tadi apa?"12Please respect copyright.PENANAmHoYyHpfKS
Kenapa gua bisa lihat si Pangeran ini dan pengawalnya?12Please respect copyright.PENANAGvBDJDlKzJ
"Maafkan aku," ujar Dayang Hye Won cepat.
Ara tertegun sesaat. Ada ingatan yang muncul di dalam otaknya. Dia melihat sosok Pangeran Yi Joon dan Hyuk yang diikat. A Young juga ada di sana. Perempuan cantik itu melakukan sesuatu pada Hyuk hingga membuat Pangeran Yi Joon terpaksa mengatakan identitas aslinya. Ara bisa mengingatnya dengan jelas padahal dia sendiri tidak pernah melihat kejadian itu sebelumnya.
"Aku akan melakukannya lebih hati-hati lagi," lanjut Dayang Hye Won.
Ara menganggukkan kepala sambil menormalkan keterkejutannya sendiri.
"Lanjutkan, Pangeran." Kata Selir Choi.
"Dukun cantik itu membuatku dan Hyuk pingsan lagi. Saat bangun lagi, di sana ada dua laki-laki yang tadi menyerang kalian. Tadi pun dukun cantik itu mengendalikan aku dan Hyuk untuk menyerang kalian." Pangeran Yi Joon mengakhiri penjelasannya.
"Dia menculik mu karena membutuhkan mu dan juga menjadikan mu umpan agar Putri Yi Ara menemuinya. Kau melupakan hal pentingnya, Pangeran." Sambung Ara.
Seketika Pangeran Yi Joon dan Hyuk melihat ke arah Ara.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Pangeran Yi Joon cepat.
Oh, shit!12Please respect copyright.PENANAI7vt1M1XJx
Gua bisa lihat lagi.12Please respect copyright.PENANA6Bo0MTL3wW
Ara memandangi telapak tangan kirinya yang baru selesai diobati oleh Dayang Hye Won dan diperban dengan kain yang baru.
"Ada apa? Apa ada yang salah dengan caraku melakukannya?" tanya Dayang Hye Won takut salah dalam mengobati luka di telapak tangan kiri Ara.
"Kutukannya," sebut Hyuk.
Semua mata mengarah pada Ara.
Ara mendesah pelan.
"Kamu juga bisa menerawang takdir seseorang?" tanya Pangeran Yi Joon antisipasi.
"Takdir? Kau pikir aku Tuhan?" sambar Ara asal dengan kesal.
"Lancang sekali kamu!" bentak Hyuk cepat.
Pangeran Yi Joon mengangkat tangannya untuk menghentikan Hyuk.
"Tuhan?" ulang Pangeran Yi Joon.
Ah, sial.12Please respect copyright.PENANABlDmjRSd9p
Mereka nyebut-Nya apa?12Please respect copyright.PENANAJ2OSZ07oBc
Oh, iya!12Please respect copyright.PENANAYnADVGKq5H
"Dewa," ralat Ara pendek.
"Sepertinya Pangeran dan Pengawal Hyuk harus membiasakan diri dengan sikap Yong Dae. Harap dimaklumi." Potong Selir Choi.
"Sepertinya Anda yang harus menggantinya dengan seseorang yang memiliki etika," balas Pangeran Yi Joon tidak terima.
Pengawal Soo Ho menggenggam erat pedangnya menahan diri.
Ara meraih pedang naganya yang masih tersimpan di dalam sarungnya lalu memukul keras kepala Pangeran Yi Joon.
"Dasar bajingan kurang ajar. Sebelum kau membicarakan tentang etika, coba lihat dirimu dulu. Memangnya kau sendiri punya etika?" Ara tampak emosi.
Mendengar itu, Hyuk langsung berdiri menghampiri tempat Ara.
Dayang Hye Won segera menjauhkan diri menuju tempat di mana Selir Choi berada. Pengawal Soo Ho juga siaga dengan pedangnya.
12Please respect copyright.PENANAaCQzLs1anx
^ ^ ^
12Please respect copyright.PENANADAYNjzimYP
Ara pun berdiri sambil menyimpan kembali pedang naganya di punggungnya. Saat Hyuk mengeluarkan pedangnya, Ara menendang tulang kering kaki Hyuk hingga membuat Hyuk membungkukkan badan kesakitan. Setelahnya, Ara menuju tempat Pangeran Yi Joon yang sudah menarik pedangnya. Ara menendang pedang itu lalu tangan kirinya mencengkeram leher Pangeran Yi Joon.
Semua mata terbelalak lebar.
Ara yang marah semakin kuat mencengkeram leher Pangeran Yi Joon hingga membuat tubuh Pangeran Yi Joon terangkat. Pangeran Yi Joon sulit bernapas. Dia meronta agar terlepas dari cengkeraman tangan Ara tetapi gagal. Wajah dan matanya memerah. Dia melihat bola mata Ara yang berubah warna menjadi coklat. Padahal sebelumnya bola mata Ara berwarna hitam. Tampak jelas kemarahan di bola mata coklat tersebut.
"HENTIKAAAN!!!" Selir Choi berteriak keras.
Hal itu tidak diindahkan oleh ketiganya.
Hyuk mengangkat pedangnya dan siap menyerang.
Ara melempar Pangeran Yi Joon lalu membalikkan badan, menendang dada Hyuk sebelum Hyuk sempat mengayunkan pedangnya. Selir Choi bersama Pengawal Soo Ho dan Dayang Hye Won pun melihat bola mata Ara yang berwarna coklat. Untuk beberapa saat, Ara membeku di tempatnya. Dia merasa ada yang aneh dengan dirinya sendiri. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat sedang marah.
Semua yang ada di sana hanya bisa diam di tempat masing-masing.
Ketika tersadar, Ara mengangkat telapak tangan kirinya yang terbungkus kain perban. Dibukanya kain perban itu dengan asal. Seketika tubuhnya lemas. Luka yang ada di telapak tangan kirinya menghilang dan meninggalkan bekas luka berupa garis di antara garis tangan pertama dan kedua. Kini, dia memiliki garis tangan empat, bukan tiga lagi. Di sekitar bekas luka garis itu terdapat aliran darah merah seperti akar yang menjalar. Itu terlihat mengerikan.
Ini apa?
Ara tidak bisa berpikir.
"Yong Dae?" panggil Selir Choi berhati-hati.
Pengawal Soo Ho memegang erat pedangnya dengan waspada.
Ara mengangkat kepalanya.
Semua yang ada di sana bisa melihat bola mata Ara sudah kembali berwarna hitam, normal.
"Mulai sekarang, jangan pernah membuatku marah. Aku tidak mampu mengendalikan diriku sendiri saar sedang marah." Ara memberitahu dengan nada rendah.
Ara menutup kembali bekas lukanya yang tidak nyaman dipandang itu dengan kain yang sebelumnya. Pikirannya sibuk melayang entah ke mana. Fakta kutukan itu memang benar menyertainya, membuatnya ketakutan. Kutukan itu menambahi beban hidupnya. Baginya, hal itu benar-benar tidak masuk akal. Dia bisa gila jika harus berlama-lama tinggal di negeri antah berantah tersebut.
Setelah tenang, mereka semua kembali ke pondokan kecil sebelumnya.
"Apa tujuan Yang Mulia datang ke sini?" tanya Hyuk.
"Aku ingin menemui Komandan Han Gi Sung. Aku membutuhkan bantuannya." Jawab Selir Choi jujur.
"Desa ini memang benar tempat tinggal Komandan Han Gi Sung. Sewaktu saya dan Pangeran Yi Joon tiba di sini bersama si dukun cantik itu dan yang lainnya, desa ini sudah kosong. Seingat saya, dulu desa ini dipenuhi rakyat yang ramah dan hidup harmonis. Melihat keadaannya yang kosong, sepertinya sudah terjadi sesuatu." Hyuk menjelaskan.
"Bagaimana denganmu? Kau tidak ingin mengatakan sesuatu tentang ilmu pedangmu?" Pangeran Yi Joon memandangi Ara dengan hati-hati.
Ara mengangkat wajah dan berhenti memandangi telapak tangan kirinya.
"Aku tidak tahu siapa itu Komandan Han Gi Sung yang kalian kenal. Guru yang sudah mengajariku ilmu pedang, aku mengenalnya sebagai... Ayahku."
Ara mengambil jeda sesaat.
Semua mata tertuju pada Ara dan terbelalak lebar.
12Please respect copyright.PENANAH5aDXfyeAc
^ ^ ^
12Please respect copyright.PENANAW1fVGVEPlc
Tanpa sadar, Ara menggenggam tangannya dengan erat. Ada ketakutan untuk mengatakan kebenarannya. Dia ingat pesan si laki-laki untuk tidak percaya pada siapa pun. Namun, semua tu sangat membebaninya. Sepanjang hidupnya, dia hanya menahan segala rasa seorang diri. Membiarkan dirinya sendiri yang kesakitan demi kebahagiaan orang lain.
Hal itu yang membuatnya hidup dalam tekanan. Kebiasaan itu juga yang membuatnya terpaksa menyerah pada hidup dan napasnya. Saat dia melakukannya, dia terdampar di negeri asing yang tidak dikenalnya bagaikan mimpi. Akan tetapi, dia telah bertekad, di negeri antah berantah ini, dia tidak ingin hidup dalam kesengsaraan perasaan lagi.
Apa pun resikonya, dia akan menghadapinya dengan pedang naganya dan kutukannya. Lagipula, itu sudah menjadi satu dengan dirinya. Pembunuh yang terkutuk. Mungkin itu sebutan yang cocok untuknya. Seorang pembunuh yang dihukum dengan kutukan.
"Aku tinggal di desa ini bersama Ayah dan Ibu. Mereka mengajariku semua ilmu yang dibutuhkan, bukan hanya ilmu pedang. Mereka lebih tahu apa yang aku butuhkan sebagai bekal. Dan tempat ini adalah tempatku berlatih." Ara pun menjelaskannya dengan jujur lalu menoleh ke arah makam Putri Yi Ara.
"Kamu, Putri dari Komandan Han Gi Sung?" Hyuk tampak lebih terkejut jika dibandingkan dengan yang lainnya. "Ini tidak mungkin. Komandan Han Gi Sung bahkan belum menikah. Bagaimana bisa..." lanjutnya yang tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
Diam-diam Ara memperhatikan Hyuk tanpa kentara.
Ara bisa melihat sosok Hyuk yang menerima buntalan besar berisi seorang bayi laki-laki dari si laki-laki dan si perempuan di hari yang masih gelap. Mereka sama-sama mengenakan jubah bertudung di kesunyian sebelum fajar menyingsing. Ara bahkan melihat jelas punggung Hyuk yang menjauh di antara pepohonan membawa buntalan besar tersebut.
Hyuk menatap Ara saat menyadari sesuatu.
"Jadi, perempuan itu...?" Hyuk tergagap kebingungan.
"Siapa?" Sambar Pangeran Yi Joon.
Hyuk beralih pada Pangeran Yi Joon.
"Malam itu Komandan Han Gi Sung menemuiku bersama seorang perempuan. Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Aku hanya melihatnya sekilas lalu buru-buru pergi membawa Pangeran yang masih bayi." Jelas Hyuk.
Perempuan yang lo lihat itu emang Ibu.12Please respect copyright.PENANA416RqF1Den
Komandan Han Gi Sung memang benar Ayah.12Please respect copyright.PENANAG3X5HJNuFr
Gua bisa lihat mereka di ingatannya Hyuk.12Please respect copyright.PENANANKsngYrmBU
Ara hanya diam di tempatnya. Dia membiarkan mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing akan menebak seperti apa. Hal yang paling penting adalah tetap menutup identitas dirinya yang sebenarnya bahwa dia berasal dari masa depan.
"Lalu, di mana Komandan Han Gi Sung sekarang?" sambung Selir Choi.
Lidah Ara mendadak kelu saat akan menjawab.
"Pagi itu, desa diserang pasukan berpakaian hitam. Mereka membunuh semuanya, termasuk Ayah dan Ibuku." Jawab Ara dengan suara serak dan mata yang berkaca-kaca.
Seketika Selir Choi lemas di tempatnya. Beruntung Dayang Hye Won sigap di sisinya.12Please respect copyright.PENANAnmA83z1k5v
Pangeran Yi Joon melihat Ara dengan mulut tertutup rapat.
Ara membuang pandangan ke arah ladang ilalang yang berada di bawah sana, tempat kali pertama dia membuka mata di negeri antah berantah tersebut. Ingatannya bertemu si laki-laki dan si perempuan muncul ke permukaan. Tanpa disadarinya, buliran air mata menyentuh kain penutup wajahnya.
Pangeran Yi Joon bisa melihat buliran air mata itu dalam diam.
Ara tidak bisa membendung lebih lama lagi. Dia beranjak dari tempatnya pergi menuruni anak tangga yang terbuat dari tanah terjal ke bawah menuju ladang ilalang setelah mengatakan akan segera kembali pada Pengawal Soo Ho. Dia terburu-buru menuruni anak tangga itu. Sesampainya di bawah, dia beringsut di balik bukit yang baru saja dilewatinya.
Kedua lututnya lemas jatuh menyentuh ilalang kering di atas tanah. Air matanya terus berjatuhan bersamaan dengan perasaan yang menderanya. Dia melepas kain penutup wajahnya dengan asal lalu menangis keras. Rasa sakit, rindu, dan kehilangan bercampur menjadi satu sangat menyayat hatinya.
Dia sangat merindukan kedua orang tuanya dan adik perempuannya. Waktu dan jarak selalu memisahkan nya dengan mereka. Sejak kecil dia sudah merasakannya, jauh dari orang tua dan hidup sendiri dengan mandiri. Sejak kecil pula dia tahu bagaiaman rasanya. Akan tetapi, semakin lama dia semakin tersiksa. Air mata dan rasa sakitnya bahkan tidak mampu mengurasi rasa rindu yang dirasakannya saat ini.
Kehilangan si laki-laki dan si perempuan pun lebih menyakitinya. Ini memang bukan kali pertama dia merasakan kehilangan yang mendalam ditinggalkan orang yang sangat disayanginya. Saat dia masih duduk di kelas 4 SD, dia kehilangan adik pertamanya. Orang yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya itu meninggal saat masih berumur 2 bulan. Tentu dia jelas tahu bagaimana rasanya. Hanya saja, itu tetap menyakitkan.
Punggungnya bergetar hebat dengan isak tangisnya yang memilukan.
Dia tidak pernah menangis keras dan begitu memilukan seperti saat ini. Apa pun masalahnya, dia hanya akan menangis tanpa suara sambil kedua telinganya disumpal headphone. Kelelahan menangis lalu tertidur. Namun, kali ini berbeda. Rasa sakitnya sudah habis menggerogoti setiap rasa yang ada di dalam dirinya tanpa sisa.
"Mama, Bapak, Ndok pengen pulang. Maafin semua kesalahan Ndok yang udah bikin Mama dan Bapak kecewa. Ndok janji akan bertanggung jawab. Ndok akan selesaikan kuliah dan pulang. Tolong tunggu sebentar lagi. Ndok pasti pulang." Katanya lirih untuk dirinya sendiri.
Entah sudah berapa ama dia terisak tangis di tempatnya.
Tiba-tiba terdengar suara tapak kaki orang mendekat ke tempatnya membuatnya sadar lalu buru-buru memakai kembali kain penutup wajahnya. Saat dia menoleh, dia mendapati Pangeran Yi Joon memimpin jalan membawa Hyuk, Pengawal Soo Ho, Selir Choi, dan Dayang Hye Won dengan ketegangan di wajahnya.
"Mereka datang," bisik Pangeran Yi Joon memberitahu.
"Siapa?" tanya Ara dengan suara yang sangat serak.
Pangeran Yi Joon melihat mata Ara yang merah, sembab, dan bengkak. Dia tahu bahwa Ara habis menangis. Dia tidak menyinggung tentang itu dan berusaha tetap fokus pada situasi yang sedang genting.
"Pasukan berpakaian hitam," jawab Pangeran Yi Joon.
"kita harus segera meninggalkan tempat ini," sambar Pengawal Soo Ho yang juga berbisik.
Ah, semua ini nggak ada akhirnya.
Ara hanya mendesah dalam hati.
Dia harus kembali sadar dan fokus pada situasi yang ada di depan matanya. Tidak ada waktu banyak baginya untuk merenungi segalanya yang memenuhi jalan pikirannya dengan situasi saat ini, mengorbankan hidup dan mati.
12Please respect copyright.PENANAvhtDV5dYiy
12Please respect copyright.PENANAqz5tyo84Xz
12Please respect copyright.PENANAA1fu8VfAjl
Bersambung...
12Please respect copyright.PENANAlnSAMOQgKQ
12Please respect copyright.PENANAtl5p5IIUkL
12Please respect copyright.PENANA66HISCUVjG
12Please respect copyright.PENANA7VvDCcOxSe


