Hyun Tak duduk bersimpuh di samping Kim Young yang masih berbaring lemah belum sadarkan diri. Hari berganti hari, Kim Young tetap belum sadarkan diri. Luka di perut Kim Young cukup parah dan hampir melayangkan nyawanya. Beruntung tabib di perguruan dapat menyelamatkannya.
"Maafkan aku, Kak. Aku tidak melindungimu." Kata Hyun Tak pelan.
Mata Hyun Tak merah dan berkaca-kaca.
Sejak Hyun Tak kehilangan ibunya saat masih kecil, Kim Young ada di sisinya. Kim Young berusaha membuatnya merasa nyaman tinggal bersama ibu tirinya, Ji Soo. Namun, semuanya berubah saat mereka dilatih ilmu pedang oleh Pemimpin Jung. Kala itu, Hyun Tak selalu unggul yang membuat ibu tirinya murka. Sejak itu pula Hyun Tak diperintahkan oleh ibu tirinya untuk menjadi pengawal pribadi Kim Young.
Sikap Kim Young juga ikut berubah. Dia pun menjadi sadar bahwa dirinya bukan lah siapa-siapa. Dia hanya penghalang keharmonisan antara anak dan ibu, Kim Young dan Ji Soo.
"Kenapa kau masih di sini?"
Suara Ji Soo membuyarkan lamunan Hyun Tak.
"Ikut ku," lanjut Ji Soo dengan nada memerintah.
Hyun Tak segera beranjak dari tempatnya mengikuti Ji Soo menuju taman belakang tempat biasa Ji Soo bersantai. Ji Soo duduk di kursinya menghadap depan, sedangkan Hyun Tak berdiri di samping Ji Soo dengan patuh dan hormat, layaknya seorang pengawal pada majikannya.
"Bukankah aku sudah katakan agar kau menjaga jarak dengan Putraku? Kau adalah pengawalnya, bukan adiknya. Apa kau lupa statusmu, heh?!" Kata Ji Soo dengan bengis seperti biasa.
Hyun Tak memang sudah sering mendengar kata-kata buruk dan tidak mengenakkan dari mulut ibu tirinya tersebut, tetapi tetap saja terdengar menyakitkan.
"Saya minta maaf, Nyonya." Respon Hyun Tak dengan lidah yang kelu.
"Kau tidak perlu berpura-pura bersedih dengan kondisi Putraku, aku muak melihatnya. Lebih baik lakukan saja tugasmu. Putraku sudah memberitahu bahwa kau yang menggantikan posisi Pemimpin Jung sebelum berangkat hari itu. Jadi, lakukan tugasmu. Aku tidak terima Putraku menderita seperti itu. Cari si topi jerami atau mati." Ji Soo memberikan perintah.
Semua ketulusan Hyun Tak tidak dapat dilihat oleh mata Ji Soo yang tertutupi kebencian dan kecemburuan yang sangat mendalam. Hyun Tak tidak ingin merespon ucapan kasar itu, karena pada akhirnya hanya dia yang akan tersakiti.
"Baik," jawab Hyun Tak pendek.
"Pedang miliknya ada ukiran naga. Dia sudah pasti Putri Yi Ara. Meskipun menyamar sebagai laki-laki, tapi pedangnya tetap tidak bisa mengelabui ku. Pangeran Yi Joon juga pasti sudah menyadarinya, jika dia memang keturunan ratu pertama. Lagipula, Komandan Han Gi Sung tidak mungkin tidak memberitahu akan hal itu padanya sebelumnya." Ji Soo tersenyum miring penuh kelicikan.
Hyun Tak menoleh ke arah Ji Soo.
"Itu bukan pedang milik raja. Ukiran naga pada pedang milik raja bukan di bilah pedangnya, melainkan ada pada pemegang pedang dan sarung pedangnya." Sambung Hyun Tak yang juga menyadarinya.
"Itu benar. Sedangkan pedang itu dibuat khusus atas perintah raja dan Komandan Han Gi Sung yang membuatnya. Tidak ada yang tahu tentang semua itu selain sang pemberi perintah, sang pembuat, dan sang pemilik dari pedang itu sendiri. Kita harus menyelesaikan semuanya sebelum sang pemiliknya tiba di istana. Kau pasti tahu apa yang akan terjadi jika kita terlambat, kan?" Ji Soo menoleh, melihat Hyun Tak dengan tajam.
Tentu saja Hyun Tak tahu akan hal itu. Dia langsung menganggukkan kepala dengan patuh.
"Saya akan melaksanakannya dengan sebaik mungkin," jawab Hyun Tak.
"Sudah seharusnya begitu, meskipun nyawamu yang menjadi taruhannya." Balas Ji Soo semakin bengis dan dingin.
Hyun Tak hanya menundukkan kepala memberikan hormat sebelum pergi.
6Please respect copyright.PENANAH0dLr0PqcA
^ ^ ^
6Please respect copyright.PENANATDuHDEfpl2
Ara dan rombongan masih terus berjalan, melarikan diri meninggalkan daerah Desa Yuhan. Pasukan berpakaian hitam sudah menghilang sejak mereka memasuki jalanan sempit yang diapit tebing-tebing tinggi. Udara di sana dingin dan berhasil membuat Ara terganggu karenanya. Berbeda dengan yang lainnya yang masih tetap tenang. Sepertinya mereka sudah terbiasa dengan udara di negeri tersebut yang jelas berbeda musim dengan Indonesia yang tropis.
Tiba-tiba tubuh Selir Choi meluruh lemas.
"Yang Mulia!" Dayang Hye Won panik sambil memegangi tubuh Selir Choi.
Pengawal Soo Ho sigap mendekati tempat Selir Choi.
Ara ikut bergerak menuju tempat Selir Choi.
Wajah Selir Choi pucat pasi. Dia tampak kelelahan dan tidak sanggup lagi untuk berjalan.
"Yang Mulia butuh istirahat," kata Dayang Hye Won mewakili Selir Choi yang tampak lunglai.
"Kita cari tempat aman dulu," respon Pengawal Soo Ho.
"Aku akan mencarinya, kau bantu Yang Mulia di sini." Sambung Ara.6Please respect copyright.PENANAMSRro5mFiO
Pengawal Soo Ho menganggukkan kepala setuju.
"Saya minta maaf, Yang Mulia." Pengawal Soo Ho meminta izin sebelum menyentuh Selir Choi untuk membantunya berdiri.
Selir Choi hanya mengedipkan mata dengan napas yang lemah.
"Hyuk, kamu pindah ke belakang." Perintah Pangeran Yi Joon.
"Aku? Bagaimana dengan Pangeran?" Hyuk mengkhawatirkan keadaan Pangeran Yi Joon.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Balas Pangeran Yi Joon dengan ringan.
Hyuk tampak ragu.
"Kamu jaga paling belakang. Aku akan membantunya mencari tempat untuk istirahat. Tetap jaga jarak." Lanjut Pangeran Yi Joon memberi perintah dengan serius.
"Baik, Pangeran." Akhirnya Hyuk meng-iya-kan dengan berat hati.
Sementara itu, Ara berjalan paling depan sambil melihat sekeliling jika ada jalan lain yang dapat mengantarkan mereka untuk keluar dari jalanan sempit tersebut. Pangeran Yi Joon mengekorinya tanpa kata. Sedangkan Pengawal Soo Ho terpaksa harus menggendong Selir Choi yang hampir jatuh pingsan dibantu Dayang Hye Won. Hyuk pun yang akhirnya membantu membawakan bawaan yang tadinya dibawa oleh Pengawal Soo Ho sambil menjaga paling belakang.
Pangeran Yi Joon memperhatikan pedang naga milik Ara yang ada di punggung gadis itu sambil terus berjalan. Dia yakin itu adalah pedang yang ditunjukkan oleh pamannya, Komandan Han Gi Sung, meskipun hanya dengan gambarnya saja. Pamannya pernah bercerita bahwa itu adalah pedang yang khusus dibuatnya sebelum kakaknya lahir atas perintah ayahnya.
Namun, karena kakaknya terlahir sebagai perempuan, maka pedang itu disimpan ibunya. Setelahnya, pedang itu tidak diketahui keberadaannya, bahkan hingga ibunya mangkat. Dia tidak menyangka akan melihatnya secara langsung.
Ara berhenti melangkah saat melihat ada empat jalur jalan di depannya.
Pangeran Yi Joon tersadar lalu ikut berhenti.
"Tunggu di sini. Aku akan periksa setiap jalur." Kata Ara yang segera pergi.
"Benar-benar tidak punya sopan santun," desah Pangeran Yi Joon pelan.
Ara sudah menjauh menuju jalur pertama di sisi paling kiri.
6Please respect copyright.PENANAjuZ08YOiJt
^ ^ ^
6Please respect copyright.PENANAYM3XAhwFLQ
"Kamu bukan Kakakku dan juga bukan putrinya Paman. Kamu siapa? Kenapa Paman mengajarimu ilmu pedang? Setahuku, Paman tidak pernah mau mengajari ilmu pedang pada perempuan. Terlebih lagi, setelah meninggalkan istana. Sebenarnya apa yang terjadi di Yuhan? Ada apa dengan penyerangan itu?" gumam Pangeran Yi Joon dengan lirih, bahkan hanya dirinya sendiri yang dapat mendengar suaranya.
Pangeran Yi Joon memutuskan untuk bergerak menuju jalur kedua ikut membantu mengecek jalur yang aman. Jalur yang diambilnya semakin lama semakin menyempit. Dia memutuskan kembali ke tempat semula. Terlihat Hyuk menunggunya dengan gelisah.
"Pangeran!" Hyuk antusias. "Pangeran baik-baik saja?" lanjutnya.
Pangeran Yi Joon menganggukkan kepala.
"Jalur ini semakin lama semaki menyempit," lapor Pangeran Yi Joon.
"Jalur pertama semakin melebar tetapi terlalu berkabut, Pangeran." Hyuk memberitahukan seperti yang Ara katakan sebelumnya.
"Anak itu mana?" tanya Pangeran Yi Joon saat tidak melihat sosok Ara.
"Sedang mengecek jalur selanjutnya, Pangeran." Pengawal Soo Ho yang menjawab.
"Baiklah, aku akan mengecek jalur terakhir." Ujar Pangeran Yi Joon.
"Aku akan menemani Pangeran," sambar Hyuk cepat.
"Tidak usah, kamu tetaplah di sini. Aku bisa sendiri," tolak Pangeran Yi Joon.
"Tidak, Pangeran. Aku ikut denganmu." Hyuk tetap pada pendiriannya.
Tiba-tiba...
"Kalian berisik," seru Ara yang mendadak muncul.
"Kamu selalu tidak sopan jika berbicara dengan Pangeran," kritik Hyuk.
"Lantas?" respon Ara dingin. "Lagipula aku bukan hanya berbicara padanya, tapi padamu juga. Haruskah aku melakukannya juga?" lanjutnya dengan maksud menyindir.
Hyuk ternganga lebar dan tidak mampu berkata-kata lagi.
"Kenapa kalian selalu mempermasalahkan status di negeri ini? Apa hebatnya sebuah status jika hanya digunakan untuk hal buruk? Lagipula, entah itu rakyat jelata, bangsawan, ataupun raja sekalipun masih membutuhkan tabib jika sakit, berdarah jika terluka, dan tentu membutuhkan nyawa untuk hidup. Sangat membosankan." Ara berbicara sendiri, mengeluarkan kekesalannya.
Semua yang ada di sana tertegun mendengarnya.
"Jalur ketiga cukup aman dan jalanannya melebar tapi udaranya lebih dingin dari yang di sini." Lanjut Ara melaporkan nya sambil menatap Selir Choi, Pengawal Soo Ho, dan Dayang Hye Won. "Aku akan mengecek jalur terakhir." Dia segera pergi memasuki jalur terakhir yang berada paling kanan.
Pengawal Soo Ho menoleh ke arah Pangeran Yi Joon.
"Mohon maafkan atas sikapnya, Pangeran. Saya mewakilinya." Pengawal Soo Ho menundukkan kepala.
Pangeran Yi Joon hanya menganggukkan kepala satu kali.
"Aku akan menemaninya. Hyuk, tetaplah di sini. Ini adalah perintah." Kata Pangeran Yi Joon yang langsung melesat pergi menyusul langkah kaki Ara yang semakin menjauh.
Hyuk belum sempat menjawab tetapi Pangeran Yi Joon sudah menjauh.
Pangeran Yi Joon berlari mengejar Ara.
Sedangkan Ara yang menyadari kehadiran Pangeran Yi Joon hanya acuh.
"Sejak kapan kamu tinggal di Yuhan? Kamu sama seperti rakyat di sana yang tidak memperdulikan tentang status. Hidup penuh kesederhanaan dan keharmonisan." Pangeran Yi Joon mengawali pembicaraan.
"Aku tidak kenal Yuhan dan rakyatnya," respon Ara yang tetap fokus melihat daerah sekitar.
Pangeran Yi Joon keheranan mendengar jawaban Ara.
6Please respect copyright.PENANAxtFouJ3VxG
6Please respect copyright.PENANAbVSLr5rfCR
6Please respect copyright.PENANAGzgNpYPmEX
Bersambung...
6Please respect copyright.PENANA1qGIdmHalY
6Please respect copyright.PENANAstD44vazAU
6Please respect copyright.PENANAN7fcxTkRoV
6Please respect copyright.PENANAdPJr8gBB5U


