Rintik air hujan semakin membasahi permukaan bumi.
Ara bersama Pengawal Soo Ho sibuk menghadapi pasukan berpakaian hitam dari perguruan milik Ji Soo. Pangeran Yi Joon dan Hyuk ikut membantu. Ditengah-tengah kesibukan mereka melawan pasukan berpakaian hitam, Ji Soo berhasil pergi membawa Kim Young bersama Hyun Tak. Desa Yuhan kembali dipenuhi darah dan mayat tanpa nyawa. Kejadian tragis hari itu terulang kembali.
Tangan kanan Ara tiba-tiba menjatuhkan pedang naganya. Bahu tangan kanannya semakin tidak dapat merasakan apa pun. Saat dia ingin meraih pedang naganya dengan tangan kirinya, rasa perih pada luka di telapak tangannya tidak tertahankan. Alhasil, dia luruh berlutut dengan lemas di depan pedang naganya. Dipandanginya pedang naganya dengan napas yang kelelahan.
Sementara itu, Pengawal Soo Ho kewalahan melawan pasukan berpakaian hitam yang terus saja berdatangan dengan kondisi luka di lengan tangannya sebelumnya. Dayang Hye Won bahkan kembali menggunakan pedangnya dengan amatir. Mengerti kondisinya, Pangeran Yi Joon dan Hyuk berusaha sangat keras untuk melawan mereka semua.
Apa gua akan berakhir di sini?
Ara yakin tidak bisa memaksakan diri lebih jauh lagi. Jika dia melakukannya, bisa-bisa dia jatuh pingsan. Itu tidak boleh sampai terjadi. Ketika dilanda keputusasaan, matanya melihat ujung jalan yang mengarah ke hutan terlarang, tempat biasa dia berlatih di kaki gunung. Terlintas sebuah ide di otaknya. Dia pun mendongakkan kepala, menyapu sekelilingnya dengan pandangan.
Diambilnya pedang naganya dengan sisa tenaganya lalu disimpannya ke dalam sarungnya yang berada di punggungnya. Kemudian, dia berdiri menghampiri Selir Choi.
"Kita harus pergi ke tempat aman," ajak Ara.
Selir Choi mengikuti Ara menuju tempat Dayang Hye Won yang hampir dihunus pedang oleh lawannya. Ara menendang tubuh lawan Dayang Hye Won dengan kuat hingga tersungkur jatuh ke tanah.
"Ayo," kata Ara mengajak Dayang Hye Won agar cepat mengikuti.
Mereka menuju tempat Pengawal soo Ho yang dikeroyok tiga lawannya. Ara menyenggol Dayang Hye Won yang memegang pedang hingga mengenai satu lawan Pengawal Soo Ho. Lalu, kaki Ara menendang kepala lawannya dengan tendangan tinggi. Pengawal Soo Ho pun dapat mengalahkan sisa lawannya tanpa kesulitan.
"Kita harus pergi ke sana," tunjuk Ara dengan dagunya.
Pengawal Soo Ho menganggukkan kepala setuju.
"Ambil perlengkapan yang sangat dibutuhkan. Aku akan beritahu mereka," lanjut Ara yang mengarah pada Pangeran Yi Joon dan Hyuk.
Pengawal Soo Ho segera bergerak.12Please respect copyright.PENANA0phIhPyIdX
Ara membantu Pangeran Yi Joon dan Hyuk melumpuhkan lawannya hanya dengan kakinya. Mereka bekerja sama melumpuhkan lawannya dengan cepat. Kemudian, mereka berlari menyusul Selir Choi, Dayang Hye Won, dan Pengawal Soo Ho yang sudah pergi lebih dulu. Pangeran Yi Joon dan Hyuk mengikuti dari belakang sambil membunuh para lawannya yang mengejar.
Sesampainya di ujung desa, mereka memasuki hutan. Semakin masuk ke dalam hutan, lawan mereka semakin tidak terlihat. Tiba di jalan bercabang, Ara mengarah ke kiri yang terdapat tulisan hutan terlarang. Ara sudah hafal jalanan itu untuk tiba di kaki gunung. Cahaya matahari pun tidak dapat menembus celah pepohonan yang sangat rimbun. Mereka yang merasa tidak nyaman hanya bisa diam dan terus melangkah mengikuti Ara.
12Please respect copyright.PENANAJITJ9A7I35
^ ^ ^
12Please respect copyright.PENANAKVVuKHLYTr
Setelah merasa berjalan tanpa tujuan, Ara dan rombongannya tiba di hamparan hijau yang tampak seperti lapangan sepak bola. Hanya ada rerumputan hijau pendek di permukaan tanah dan sebuah pondokan kecil di ujung tebing. Mereka berjalan menuju pondokan tersebut.
"Bagaimana kamu bisa tahu tempat ini?" tanya Pangeran Yi Joon dengan nada menyelidik.
Mereka semua berhenti berjalan sebelum mencapai pondokan kecil lalu memusatkan perhatian pada Ara dan Pangeran Yi Joon.12Please respect copyright.PENANALnhwAdJfE3
Ara menghela napas.
"Katakan!" tiba-tiba Pangeran Yi Joon membentak keras. Dia kehilangan kesabarannya.
Selir Choi memandangi Ara, memintanya agar cepat menjawab lewat pandangan.
"Tempat ini hanya Paman Gi Sung yang tahu. Kau siapa? Bagaimana kau bisa tahu?" desak Pangeran Yi Joon dengan kemarahan yang tertahan.
Ara menatap Pangeran Yi Joon dalam diam.
Gua capek sama semua ini.12Please respect copyright.PENANA50AjCWAr8j
Haruskah gua menyerah?12Please respect copyright.PENANAXvsApolCzQ
Lagian juga, dia punya benda yang sama kayak yang gua punya. Harusnya dia tahu tentang itu, kan? 12Please respect copyright.PENANAWArnJ48Eb2
Apa dia orang yang dimaksud sama Ayah?12Please respect copyright.PENANAK77iQmok9K
Komandan Han Gi Sung, apa itu nama Ayah?12Please respect copyright.PENANA6hDCRtwIii
"Ilmu pedangmu sama seperti yang Paman Gi Sung ajarkan padaku," ucap Pangeran Yi Joon dengan penuh harap.
"Sepertinya bukan hanya Pamanmu yang tahu," Ara mengeluarkan suaranya. "Kau juga mengetahuinya, kan?" lanjutnya.
Pangeran Yi Joon seketika bungkam.
Hyuk ikut bungkam sambil membuang pandangan ke arah lain.
Selir Choi bersama Pengawal Soo Ho dan Dayang Hye Won kebingungan dengan arah pembicaraan keduanya.
"Kita akan lanjutkan pembicaraan ini setelah memberikan penghormatan. Lagipula, kita semua sama-sama harus menjelaskan sesuatu satu sama lain," ucap Ara yang kembali berjalan menuju gundukan tanah di samping pondokan kecil yang ada di sana.
Mereka semua memandangi Ara yang berjalan menjauh.
"Itu adalah makam Kakak Perempuanku, Putri Yi Ara. Dia tidak pernah mangkat di istana." Pangeran Yi Joon memberitahu, lalu berjalan mengikuti Ara.
Hyuk segera mengekori Pangeran Yi Joon.
Mata Selir Choi terbelalak lebar mendengar pemberitahuan tersebut. Ini kali pertama dia mendengar hal itu. Sepengetahuannya, kedua anak dari mendiang ratu pertama adalah perempuan dan sudah dinyatakan mangkat saat masih kecil. Menyadari Selir Choi melamun, Pengawal Soo Ho dan Dayang Hye Won yang juga sama terkejutnya dengan pemberitahuan tersebut, membujuk Selir Choi untuk berjalan.
Setelah memberikan penghormatan, mereka semua duduk di pondokan tersebut.
"Biarkan saya yang memulainya. Perkenalkan, saya, Selir Choi. Selir raja tingkat satu. Mereka adalah dayang dan pengawal kepercayaanku, Dayang Hye Won dan Pengawal Soo Ho. Sedangkan dia, Yong Dae, pedang nagaku." Kata Selir Choi memulai pembicaraan.
Pengawal Soo Ho dan Dayang Hye Won yang sedang mengobati luka di lengan tangan Pengawal Soo Ho menundukkan kepala secara bersamaan untuk memberikan hormat pada Pangeran Yi Joon.
"Yong Dae? Pedang nagaku?" ulang Pangeran Yi Joon.
Ara menatap Pangeran Yi Joon dengan tajam.
"Jangan salah paham mengartikan nya," tandas Ara sambil menunjukkan pedang naganya yang ada di sampingnya dengan dagunya.
"Aah," balas Pangeran Yi Joon yang aru ingat bahwa ada ukiran naga di salah satu sisi bilah pedang milik Ara. "Tetapi pedang itu...?" pertanyaannya terhenti karena Selir Choi memotong lebih dulu.
"Awalnya pedang itu milikku, Pangeran. Sekarang sudah menjadi miliknya dan dia adalah orangku." Jelas Selir Choi.
Bagaimana bisa pedang itu berakhir menjadi kepemilikan seorang selir raja?12Please respect copyright.PENANAlOM3zLGNVw
Bukankah pedang itu hanya ada satu di dunia ini?12Please respect copyright.PENANAOI6ET6tCGC
Pangeran Yi Joon bertanya-tanya dalam hati. Kemudian, kepalanya terangguk satu kali.
"Baik, sekarang giliranku. Aku terlahir dengan nama Yi Joon, tetapi karena aku tinggal di luar istana dan identitasku disembunyikan, maka aku dikenal sebagai Han Joon. Dan ini adalah pengawal ku, Hyuk." Jelas Pangeran Yi Joon.
Hyuk pun memberikan hormat.
12Please respect copyright.PENANAzUjNd35Cc0
^ ^ ^
12Please respect copyright.PENANAqUbBD26JsT
"Mohon jelaskan lebih rinci, Pangeran. Aku terlalu terkejut dan masih sulit untuk memprosesnya." Respon Selir Choi.
"Sebenarnya aku juga tidak tahu bnayak. Aku hanya mengenal Paman Gi Sung sebagai guru ilmu pedangku. Sejak aku kecil hingga dewasa, Paman Gi Sung sering mengunjungiku untuk mengajariku ilmu pedang. Itu dilakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Katanya, jika ada yang tahu tentang aku, maka akan dibunuh. Entah itu dari pihak istana ataupun luar istana."
Pangeran Yi Joon memulainya dengan panjang lebar.
"Itu pun sebagai perempuan bukan sebagai laki-laki. Hingga kejadian hari itu, Paman Gi Sung mengirimku ke Hanyang. Tetapi aku tidak melakukannya, karena di tengah perjalanan ada yang ingin membunuhku. Aku melarikan diri bersama Hyuk dan tidak pernah bertemu lagi dengan Paman Gi Sung." Lanjut Pangeran Yi Joon mengakhiri penjelasannya.
"Kejadian apa yang Pangeran maksud?" tanya Selir Choi.
"Malam itu, Paman Gi Sung datang untuk mengetes ilmu pedangku. Di pertengahan latihan, ada pasukan yang menyerang tempat tinggalku. Mereka memakai pakaian hijau seperti yang tadi. Saat dibunuh, mereka langsung menghilang. Paman Gi Sung panik dan mengirimku ke Hanyang bersama Hyuk." Jawab Pangeran Yi Joon dengan jujur.
Pangeran Yi Joon tahu, dia tidak boleh mempercayai siapa pun apalagi orang istana seperti Selir Choi. Namun, melihat pedang naga yang dimiliki Selir Choi yang kini menjadi milik Ara, membuatnya bisa mempercayainya. Jika Selir Choi ingin membunuhnya, itu bukan masalah juga baginya, karena sekarang dia tidak terlalu menyayangi nyawanya sendiri.
"Maksud Pangeran pasukan yang tadi dikendalikan dukun cantik itu?" tanya Pengawal Soo Ho yang selesai diobati oleh Dayang Hye Won.
Pangeran Yi Joon menganggukkan kepala.
Dayang Hye Won beralih menuju tempat Ara. Dia ingin mengobati luka di telapak tangan kiri Ara.
12Please respect copyright.PENANAT8aTrLsl70
12Please respect copyright.PENANAMOjavauGwr
12Please respect copyright.PENANAzifV08DLfO
Bersambung...
12Please respect copyright.PENANAQRzVq3msXQ
12Please respect copyright.PENANAbl26eLKB7p
12Please respect copyright.PENANACVIUdUyfTy
12Please respect copyright.PENANAibagD2tNdg


