Angin berhembus kuat. Hembusan angin itu mengibarkan kain pada topi jerami yang dipakai oleh Ara. Angin itu terasa dingin. Kemudian, rintik air hujan turun tetes demi tetes. Tubuh A Young yang berkeriput tampak semakin keriput hingga hanya menyisakan tulang dan kulit di tubuhnya. Bayangan-bayangan hitam banyak keluar dari tubuh A Young lalu menghilang.
What the hell...?
Ara ternganga lebar di balik kain penutup wajahnya.
Selir Choi berjalan mendekati Ara dan diikuti Dayang Hye Won serta Pengawal Soo Ho.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Selir Choi khawatir.
Ara melihat telapak tangan kirinya yang berlumuran darah. Dia tidak mengacuhkan nya lalu kembali melihat Selir Choi sambil menganggukkan kepala satu kali.
"Potong ini," perintah Selir Choi pada Dayang Hye Won.
Dayang Hye Won cepat tanggap lalu memotong kain pakaian Selir Choi tanpa melarangnya. Selir Choi membungkus telapak tangan kiri Ara yang terluka, yang sebelumnya memerintahkan Dayang Hye Won untuk melakukan hal yang sama pada Pengawal Soo Ho.
"Benarkah kamu kakak perempuanku?" tanya Pangeran Yi Joon terang-terangan dan itu mengundang perhatian.
Ara menoleh.
Wah, ganteng banget.15Please respect copyright.PENANAP3q36pIxXW
Kenapa gua baru sadar sekarang?15Please respect copyright.PENANAF1WdDrHn6n
Dia lebih kece daripada Park Hyung Sik yang jadi raja di drama Hwarang. 15Please respect copyright.PENANAowtdL6RIhO
Sumpah, ganteng banget!!!
Mara Ara menelusuri wajah Pangeran Yi Joon. Bola matanya coklat terang agak keabu-abuan. Bulu matanya lentik. Alis matanya tebal. Hidungnya mancung dengan tulangnya yang kokoh. Tulang rahangnya tegas. Bibirnya merah dan ada belahan di bibir bawahnya. Kulitnya putih dan bersih. Bertubuh tinggi dan tampak berbadan atletis. Ara bahkan bisa melihat bidang bahunya lebar hanya dengan sekilas.
"Bagaimana denganmu? Benarkah kamu..." Selir Choi angkat bicara karena Ara hanya diam di tempatnya.
Pangeran Yi Joon mengeluarkan kayu identitasnya.
Ara membeku sesaat melihat kayu identitas itu. Tampak sama persis dengan benda yang ada padanya, pemberian dari si laki-laki. Bedanya sisi yang bertulisan nama, terukir nama Yi Joon di sana.
Selir Choi tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Perkenalkan, saya Hyuk, Prajurit Hyuk. Saya mengenal Komandan Han Gi Sung karena pernah menjadi bawahannya sewaktu masih di barak militer. Saya tahu, Anda pasti sulit mempercayainya. Satu hal yang pasti, mohon jangan memanggilnya pangeran di depan umum. Itu adalah larangan keras dari Komandan Han Gi Sung. Mohon bantuan dan pengertiannya." Kata Hyuk menjelaskan panjang lebar.
Selir Choi memandangi Pangeran Yi Joon.
"Anda bisa mengenalnya sebagai Tuan Muda Han Joon," lanjut Hyuk.
Selir Choi pun akhirnya menganggukkan kepala mengerti.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku," ulang Pangeran Yi Joon yang hanya berfokus pada Ara.
Ara menatap bola mata Pangeran Yi Joon dengan lekat.
"Aku bukan kakak perempuanmu," jawab Ara datar.
"Benarkah begitu?" lanjut Pangeran Yi Joon.
Ara melangkah maju tetapi tiba-tiba berhenti. Kepalanya menoleh ke belakang. Dia mendengar suara lagi.
Pangeran Yi Joon mengikuti arah mata Ara memandang. Dilihatnya Ji Soo dan Hyun Tak sedang memegangi Kim Young. Darah yang keluar dari luka di perut Kim Young sudah menodai pakaiannya. Pangeran Yi Joon yang kehilangan kesabaran karena diacuhkan oleh Ara, memegang bahu kanan Ara. Dalam hitungan detik, tangan Pangeran Yi Joon dipelintir oleh Ara lalu membanting tubuh Pangeran Yi Joon ke tanah dengan keras.
"Tuan Muda!" Hyuk terkejut apa yang Ara lakukan pada Pangeran Yi Joon.
"Jangan pernah menyentuhku, jika kau masih menyayangi nyawamu." Ancam Ara memberikan kode keras.
Pengawal Soo Ho dan Dayang Hye Won hanya mendengus melihat adegan itu. Kebiasaan Ara yang sekarang bukan lagi hal asing bagi keduanya.
Selir Choi segera meminta maaf untuk mewakili Ara.
Sedangkan Ara melihat ke arah Pengawal Soo Ho.
"Masih mampu melakukannya lagi?" tanya Ara yang mengarah pada lengan Pengawal Soo Ho yang terluka.
"Ada apa?" tanya Pengawal Soo Ho balik.
"Mereka datang, lagi." Ara memberitahu sambil menoleh pada Ji Soo yang memegangi Kim Young bersama Hyun Tak.
"Tidak bisakah kita pergi saja?" tanya Dayang Hye Won ikut bersuara.
"Waktunya tidak cukup. Mereka sudah di sini." Jawab Ara.
Suara orang berlari mulai terdengar jelas.
Dari tempatnya, Ji soo tersenyum menyeringai.
15Please respect copyright.PENANArTI62oMt0a
^ ^ ^
15Please respect copyright.PENANAxbQ2AQXfUx
Kepala Dayang Song terburu-buru menemui raja.
Raja yang baru selesai menyelesaikan jadwal hariannya tampak sangat lelah. Dia meneguk teh yang sudah disediakan dengan enggan. Ketika itu, dayang memberitahukan bahwa Kepala Dayang Song ingin menghadap. Dia pun memberikan izinnya.
"Ada apa?" tanya raja saat Kepala Dayang Song menghadap.
"Ada berita buruk, Yang Mulia Raja." Kata Kepala Dayang Song langsung.
"Lagi?" raja mendesah lelah.
Kepala Dayang Song membungkukkan badan sebagai permintaan maaf.
Raja memijat pelipisnya pelan. Pikirannya yang penuh membuatnya merasa lelah. Ini semakin rumit. Dia baru saja dikeroyok pertanyaan mengenai menghilangnya salah satu selirnya dari istana oleh para petinggi dan sekarang ada masalah baru lagi.
"Katakan," lanjut raja dengan sisa semangatnya.
"Kami kehilangan Yang Mulia Selir Choi," jawab Kepala Dayang Song.
"Apa???" raja terkejut mendengarnya.
Kepala Dayang Song membungkukkan badan lagi.
Raja menoleh ke arah kasim.
"Saya minta maaf, Yang Mulia Raja." Kata kasim ikut membungkukkan badan.
"Apa yang terjadi? Bukankah kau sudah mengirim bantuan?' omel raja.
"Benar, Yang Mulia Raja, saya sudah melakukannya. Namun, mereka belum menemukan keberadaan Yang Mulia Selir Choi. Mereka hanya menemukan banyak mayat dari pasukan Kelompok Namin."
"Apa maksudnya itu?" raja semakin marah.
Kasim hanya menundukkan kepala tidak mampu berkata-kata lagi.
"Jadi, itu bukan sekedar kabar burung? Rupanya dia memang sudah mengirim mereka. Lalu, seberapa banyak mayat dari pasukan Kelompok Namin yang ditemukan?" lanjut raja dengan suara rendah setelah menyadari sesuatu.
"Saya minta maaf, Yang Mulia Raja." Kasim kembali membungkukkan badan.
Raja mendesah dengan lemah. Dia mendongakkan kepalanya dengan frustasi. Dihembus nya napas berat perlahan, mencoba menenangkan diri sendiri. Mendengar jawaban kasim, dia langsung tahu jumlah yang tidak disebutkan tersebut. Dia paling tahu tentang itu, karena pasukan prajurit istana bahkan tidak ada setengahnya dari pasukan Kelompok Namin.
Kemarahan yang berlebihan membuat raja melemparkan gelas teh yang ada di tangannya.
"Kenapa kau baru mengatakannya?" tanya raja dengan lemah.
"Saya minta maaf, Yang Mulia Raja. Saya tidak ingin mengganggu jadwal kegiatan Anda." Jelas kasim.
Terjadi keheningan beberapa saat.
Raja terdiam.
Kasim ikut diam.
Kepala Dayang Song juga melakukan hal yang sama.
"Pastikan kalian menemukannya, hidup atau mati. Tentang hal ini, jangan sampai ada yang mengetahuinya. Kalian orang pertama yang aku bunuh jika ada yang sampai tahu. Ini adalah perintah." Kata raja dengan tegas.
"Saya akan mematuhinya, Yang Mulia Raja." Jawab kasim.
"Saya akan mematuhinya, Yang Mulia Raja." Jawab Kepala Dayang Song.
Setelah itu, Kepala Dayang Song segera undur diri.
Yang Mulia Raja, Anda sudah mengetahuinya tapi tetap tidak bertindak. 15Please respect copyright.PENANA3IuBlGzMTY
Anda benar-benar sudah dikalahkan oleh perasaan Anda sendiri.15Please respect copyright.PENANAmODtvKdZH7
Pada akhirnya, dia berhasil melemahkan hati Anda.15Please respect copyright.PENANAE2sEFs7rqv
Semakin hati Anda lemah, Anda semakin diperdaya nya.15Please respect copyright.PENANA5Sc8qJ1DY0
Mau sampai kapan Anda seperti ini, Yang Mulai Raja?"15Please respect copyright.PENANAGyS8Nr42U9
Batin Kepala Dayang Song.
15Please respect copyright.PENANAkecaTMUPqB
15Please respect copyright.PENANA6RkkSrv2Gr
15Please respect copyright.PENANAIqlyQYghDf
Bersambung...
15Please respect copyright.PENANAl40Eyrgyag
15Please respect copyright.PENANAuvytOlvBLw
15Please respect copyright.PENANAi04tKcVKiL
15Please respect copyright.PENANAU9dQShTTij


