Selir Choi memperhatikan Pengawal Soo Ho dan Dayang Hye Won yang masih menyelesaikan mengobati luka di pipi Pengawal Soo Ho dengan sarat pandangan yang tidak bisa diartikan.
"Maafkan aku, sudah mengecewakan kalian." Seru Selir Choi yang tampak tulus.
"Jangan lakukan, Yang Mulia. Yang Mulia tidak seharusnya meminta maaf pada kami." Pengawal Soo Ho mewakili.
Pengawal Soo Ho dan Dayang Hye Won segera berdiri. Mereka berdua membungkukkan badan bersamaan untuk memberikan hormat.
Ara bosan melihat adegan itu. Dia memilih membuang pandangan ke arah lain dalam diam. 31Please respect copyright.PENANA71vagldWuF
Sedangkan Selir Choi yang menyadarinya, menatap Ara sejenak.
"Yong Dae... Bagaimana? Bisakah kita gunakan nama itu untukmu?" Selir Choi sengaja menaikkan suaranya agar agar Ara mendengarnya.
Ara menoleh.
"Yang Mulia..." sambung Pengawal Soo Ho.
"Itu cocok untuknya," balas Selir Choi cepat.
Ara hanya menganggukkan kepala.
"Aku hanya ingin memastikan, jika kamu memang seorang perempuan." Selir Choi melanjutkan.
Ara menganggukkan kepala lagi.
"Karena kamu menutup semua tubuhmu dengan pakaian laki-laki, maka kita akan memperlakukanmu seperti Pengawal Soo Ho. Apa tidak apa-apa?" kali ini Selir Choi sangat berhati-hati.
"Anda sudah melakukannya," jawab Ara yang kembali menggunakan bahasa sopan terhadap Selir Choi.
Selir Choi tersenyum. Dia baru ingat jika sebelumnya saat beristirahat di penginapan, Ara dan Pengawal Soo Ho berbagi kamar yang sama untuk istirahat secara bergantian.
"Aku tanya lagi, tapi kali ini tolong jawablah. Aku tidak mempermasalahkan tentang identitasmu, entah itu namamu ataupun status keluargamu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu tidak salah satu dari mereka atau mata-mata yang mereka kirim. Aku sadar, kamu memang berbeda. Pengetahuanmu tentang negeri ini pun cukup aneh. Jadi, tolong katakanlah." Pinta Selir Choi dengan baik-baik.
Ya, jelas aneh.31Please respect copyright.PENANAS0CLfRhVyn
Kan, gua emang bukan orang Korea. Apalagi zamannya udah beda.31Please respect copyright.PENANAoaou77MNkd
Ini beneran nggak masuk akal. Masuk ke zaman ini aja tuh udah nggak masuk akal.31Please respect copyright.PENANAa9eCjq4WnX
Ara membenarkan posisi berdirinya menghadap Selir Choi, Pengawal Soo Ho, dan Dayang Hye Won.
"Kalian akan menganggapku gila jika aku mengatakannya. Ini sesuatu yang tidak masuk akal. Meskipun begitu, apakah kalian masih ingin aku mengatakannya?" Ara memberikan peringatan terlebih dahulu.
Mereka bertiga merasa aneh dan saling tatap lalu kembali melihat Ara.
"Kamu bisa mencobanya, katakanlah." Selir Choi semakin penasaran.
"Aku, berasal dari dunia yang berbeda dengan kalian. Sebenarnya, bumi yang sama, tetapi ruang waktu yang berbeda. Pakaian yang berbeda. Tatanan rambut yang berbeda. Bangunan rumah-rumah yang berbeda. Makanan juga berbeda. Di duniaku bahkan tidak lahi menggunakan pedang dan kuda." Ara mencoba menjelaskan jawabannya sebisa mungkin.
Ketiganya terdiam sedang memproses apa yang mereka dengar.
"Meskipun nantinya negeri ini berubah menjadi Korea, maksudku Korea Selatan dan Korea Utara, aku tetap berbeda. Karena aku berasal dari negeri lain," lanjut Ara lebih detail menjelaskan.
"Kamu juga tadi mengatakan Korea sebelumnya. Apa kamu seorang cena..." kata-kata Pengawal Soo Ho terhenti seketika karena tangan Ara menghentikannya.
Telinga Ara mendengar sesuatu.
31Please respect copyright.PENANARat2SGlY7x
^ ^ ^
31Please respect copyright.PENANASkmfbu0mlY
Kepala Ara menoleh ke arah sumber suara yang berada tidak jauh di belakangnya. Itu membuat Pengawal Soo Ho waspada. Pengawal Soo Ho juga ikut menoleh ke arah sumber suara sambil menajamkan pendengarannya. Selir Choi dan Dayang Hye Won iku menegang di tempatnya.
Ara memejamkan mata mencoba mendengarkan suara yang semakin terdengar jelas seperti kaki orang berlari.
"Satu... Tiga... Delapan... Sepuluh... Dua puluh... Tiga puluh lima..." gumam Ara menghitung suara yang didengarnya semakin banyak.
Pengawal Soo Ho menegang di tempatnya.
"Kelompok Namin," sebut Pengawal Soo Ho sambil menoleh melihat Selir Choi dengan kekhawatiran yang penuh.
Napas Selir Choi tampak mulai memburu. Dayang Hye Won ketakutan sambil memegangi lengan tangan Selir Choi.
"Seratus? Dua ratus?" Kata Ara mencoba memastikan sambil melihat Pengawal Soo Ho.
"Kelompok Namin memiliki pasukan prajurit sendiri yang jumlahnya lebih banyak dari istana. Jika mereka sudah mengutus Kelompok Namin..." kalimat Pengawal Soo Ho terputus. Dia menatap Selir Choi.
Ketika mereka dilanda kekhawatiran dan ketegangan, suara kaki orang berlari semakin jelas. Para pemilik kaki tersebut pun mulai menampakkan wujudnya. Ada banyak laki-laki berpakaian hampir persis seperti pengawal yang menyerang bersamaan.
Ara menghembuskan napas dengan keras.
"Dayang Hye Won, ikutlah masuk ke dalam tandu bersama Yang Mulia. Pengawal Soo Ho, kau berjaga di sekitaran tandu. Aku yang akan menyambut kedatangan mereka." Ucap Ara dengan percaya diri.
Mereka langsung bergerak. Pengawal Soo Ho menganggukkan kepala paham dan memberikan semangat lewat pandangan. Ara mulai bergerak berjalan menuju mereka yang menyerang bersamaan.
"Kita lihat, seberapa hebat seorang Yong Dae. Show time!" seru Ara sambil menarik pedang naga dari sarungnya dan terus berjalan. Yang dia maksud dengan Yong Dae adalah pedang naga yang sekarang menjadi miliknya. Langkahnya semakin cepat menuju mereka yang menyerang juga semakin mendekat padanya.
Ara langsung mengayunkan pedangnya pada tiga lawan yang berada di depannya. Pertama mengenai da, kedua mengenai leher, dan ketiga mengenai perut. Ketiganya seketika roboh. Dilanjutkannya pada lawan yang terus berdatangan menyerangnya. Pedang naganya cepat mengenai tangan dan kaki lawan satu persatu. Mereka berjatuhan di tanah tetapi masih bernapas.
Dijatuhkannya sarung pedangnya di tanah saat para lawannya mulai banyak mengelilinginya. Tangan kanannya sibuk menghunuskan pedang naganya dan tangan kirinya sibuk mengambil asal pedang-pedang lawannya yang ada di tanah lalu ditusuknya jantung lawannya yang lain yang sudah berjatuhan di tanah. Dia memastikan semua lawannya tidak bernapas lagi.
Darah segar terus mengenai pakaiannya. Dia sendiri tidak sadar sudah membunuh banyak lawan dan terus bergerak menghabisi nyawa lawan lainnya. Rasa lelah mulai menjalari tubuhnya. Di tempatnya berada, sudah dipenuhi mayat-mayat lawannya. Saat lawannya berangsur gugur dan merenggang nyawa, dia melangkah maju sambil mengatur napasnya yang kelelahan. Keringat sudah membasahi pakaian yang dikenakannya sejak tadi. Begitu juga degan darah para musuhnya.
Adegan itu menampilkan visual Ara yang mengerikan. Dia merasakan berat pada bahu tangan kanannya yang digunakannya untuk memegang pedang. Dia berusaha tidak menghiraukannya dan terus menebas lawan yang menyerangnya. Dia belakang, tampak Pengawal Soo Ho mulai kewalahan melawan para lawannya di sekitar tandu berkuda Selir Choi. Pengawal Soo Ho berusaha keras dengan keadaannya yang masih sakit akibat pukulan keras dari Ara sebelumnya.
Tersisa tujuh lawan yang menuju tempat Ara berdiri.
Ara masih kuat berdiri tetapi tangan kanannya bergemetaran hebat. Napasnya semakin memburu. Dia benar-benar kelelahan. Pedang naganya tiba-tiba jatuh ke tanah. Tangan kanannya tidak mampu lagi memegang bilah pedang. Dia tertatih memungut pedang naganya yang jatuh ke tanah dengan tangan kirinya. Dia menggunakan tangan kirinya melawan ketujuh lawannya yang tersisa.
Dia menyerang lawannya tepat di dada, perut, tangan, dan kaki hingga tersungkur jatuh ke tanah. Tersisa empat orang lawan yang masih bernyawa tetapi tertatih di tanah. Dia segera menghunuskan pedang naganya tepat di jantung mereka satu persatu. Setelah itu, tubuhnya roboh ke tanah saat menghunuskan pedang naganya pada lawan terakhir.
Dia berusaha keras untuk bangkit.
Namun, dia hanya berhasil duduk di tanah dengan posisi pedang naganya masih menancap di dada lawannya. Kemudian, dia menoleh pada Pengawal Soo Ho yang masih berjuang melawan tiga orang lawan yang tersisa. Perlahan dia berusaha berdiri dengan sisa tenaganya. Ditariknya pedang naga yang masih menancap di dada lawan lalu berjalan menuju tempat Pengawal Soo Ho.
Dia tetap menggunakan tangan kirinya untuk memegang pedang, karena tangan kanannya masih terus bergemar hebat dan tidak bisa merasakan apa pun pada tangannya tersebut.
Pengawal Soo Ho berhasil membunuh dua dari tiga lawannya tetapi tidk ahu lawannya yang terakhir tengah mengayunkan pedang di belakangnya. Ara yang melihat itu langsung melemparkan pedang naganya mengenai jantung orang itu. Pengawal Soo Ho terkejut lalu menoleh ke belakang. Dia melihat satu lawannya roboh ke tanah tertancap pedang naga milik Ara.
31Please respect copyright.PENANA2gwdfaV1Qx
^ ^ ^
31Please respect copyright.PENANATfIbNH7tXk
Selir Choi dan Dayang Hye Won keluar dari dalam tandu berkuda saat tidak mendengar suara apa-pun lagi dengan hati-hati. Mereka terkejut melihat banyak mayat yang terkapar di tanah. Jumlahnya bahkan tidak dapat dihitung oleh mata. Mereka bungkam di tempat masing-masing. Keterkejutannya mengikis jalan pikirannya.
Dayang Hye Won segera menghampiri Pengawal Soo Ho yang berlutut di tanah ber-topangan pada pedangnya yang menancap berdiri di tanah.
"Pengawal Soo Ho!" Dayang Hye Won panik.
Selir Choi berjalan pelan menuju tempat Ara yang juga berlutut di atas tanah sambil menundukkan kepala. Ketakutan menyerbunya. Dia takut jika terjadi sesuatu dengan Ara. Langkah kakinya semakin dekat dengan tempat Ara. Dia memegang dadanya kuat-kuat, menahan ketakutannya dan terus mendekati tempat Ara. Disentuhnya bahu kiri Ara pelan.
Ara mengangkat kepalanya perlahan saat disentuh Selir Choi.
Selir Choi bernapas lega dengan mata berkaca-kaca. Tangannya ingin memegang tubuh Ara dan membantunya berdiri, tetapi Ara melarangnya.
"Tolong ambilkan pedang itu," pinta Ara pelan sambil menunjuk pedang yang ada di dekat Selir Choi.
Selir Choi mengambilkan pedang itu dan memberikannya pada Ara.
Ara memotong kain pakaiannya paling ujung di dekat kakinya lalu potongan kain itu digunakannya untuk mengikat tangan kanannya pada bahu kirinya seperti Arm Sling atau alat bantu gendong penyangga lengan patah tulang.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Selir Choi khawatir.
"Ya," jawab Ara pendek.
sementara itu, Pengawal Soo Ho di tempatnya memperhatikan Ara tanpa disadari oleh Ara. Dayang Hye Won jadi ikut menoleh melihat sosok Ara.
"Sebenarnya dia siapa? Dia bahkan mampu menghadapi mereka semua tanpa terluka pedang sedikit pun. Komandan perang sekalipun pasti akan terluka jika lawannya sebanyak mereka. Apalagi tanpa bantuan. Apakah dia yang dikirim langit untuk membantu perjalanan kita?" kata Pengawal Soo Ho yang mengagumi sosok Ara.
"Jika memang benar begitu, berarti perjalanan ini diberkati." Timpal Dayang Hye Won yang juga merasa hormat dengan sosok Ara.
Di lain sisi, Ara menarik pedang naganya yang masih menancap di tubuh lawan terakhirnya lalu menyimpannya kembali ke dalam sarungnya. Dia terduduk lemas bersandaran di pohon besar yang ada di dekat Pengawal Soo Ho sambil mendirikan pedangnya, menjadikannya topangan. Dia menghembuskan napas dengan teratur. Dia membutuhkan istirahat.
Selir Choi berdiri mematung sambil memperhatikan keadaan Ara dan Pengawal Soo Ho. Perasaannya melemah perlahan. Semua keangkuhan yang dia dirikan di dalam dirinya kembali memudar seperti dulu kala, saat kali pertama tiba di istana. Kedua abdi ahli pedangnya bahkan melindunginya dari beribu-ribu pedang yang mengancam nyawanya.
Perjalanan ini adalah perjalanan mematikan. Dilanjutkan atau tidak, akan tetap membahayakan nyawanya beserta mereka yang bersamanya.
Selir Choi pun dilanda kebimbangan.
31Please respect copyright.PENANAvte1fT81cr
31Please respect copyright.PENANALcpBXHWR6P
31Please respect copyright.PENANAVoI0yGCMAw
Bersambung...
31Please respect copyright.PENANA4LLGloHqdN
31Please respect copyright.PENANAN6DKoDy1fP
31Please respect copyright.PENANASujYTR07JU
31Please respect copyright.PENANAgwqFlwx4mK


