Kim Young membawa setengah dari pasukan perguruan. Hyun Tak yang senantiasa menjadi pengawal pribadi Kim Young sudah siap di tempat. Ji Soo juga sudah bersiap bersama pengawalnya. Kali ini, dia membawa enam orang pengawalnya.
A Young bersama anak buahnya juga sudah bersiap. Dia membangunkan Pangeran Yi Joon dan Hyuk dalam keadaan yang masih terikat.
"Kenapa kau melakukannya? Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?" tanya Pangeran Yi Joon menatap tajam A Young saat membuka mata.
Mulut A Young tidak menjawabnya. Jemari tangannya menyentuh rambut Pangeran Yi Joon yang menutupi salah satu matanya perlahan sambil tersenyum menggoda. Wajah Pangeran Yi Joon bergerak memalingkan ke arah lain.
"Jauhkan tanganmu dariku," perintah Pangeran Yi Joon dingin.
"Kau benar-benar sangat menggoda, Pangeran Yi Joon." Kata A Young secara terang-terangan. Senyumnya mengumbar ke udara.
"Kamu memang cantik tapi kecantikanmu tidak mampu mengalihkan perhatianku," balas Pangeran Yi Joon yang tetap dingin dengan ekspresi datar.
A Young tersenyum senang mendengarnya.
Ji Soo bersama Kim Young dan Hyun Tak yang berada di dekat pintu masuk ruangan aula utama, tidak bergerak di tempatnya masing-masing dan hanya melihat apa yang dilakukan oleh A Young. Mereka sudah menyaksikan kemampuan sang cenayang sekaligus dukun tersebut yang bisa melakukan apa pun hanya dengan menggerakkan jemari tangannya. Hal itu membuat mereka memilih tidak ikut campur.
Jemari tangan A Young bergerak perlahan. Pedang milik Pangeran Yi Joon dan Hyuk bergerak mendekat dengan sendirinya.
"Pangeran Yi Joon, kau adalah naga yang hilang. Aku yang menemukanmu. Aku juga bisa menjadikan naga yang hilang itu menjadi raja. Bagaimana?" A Young menawarkan.
Ji Soo dan Kim Young saling tatap dalam diam.
"Aku tidak menginginkannya," tolak Pangeran Yi Joon dengan datar.
"Sudah ku duga. Maka dari itu, aku hanya akan menggunakanmu sebagai kunci pembuka gerbang istana. Setelah itu, dengan senang hati aku akan mengucapkan selamat tinggal." Kata A Young mengambil jeda.
Hyuk yang terikat merasa tidak nyaman dengan kata-kata A Young.
"Ada yang gugup rupanya," lanjut A Young sambil menatap Hyuk.
Pangeran Yi Joon berusaha tidak menoleh ke arah Hyuk.
"Tapi sebelum itu, aku akan menggunakanmu untuk memancing Putri YI Ara. Bersiaplah." A Young tersenyum licik.
Jemari tangan A Young terus bergerak mengarahkan pedang milik Pangeran Yi Joon dan Hyuk menggantung di udara tepat di hadapan keduanya. A Young memiringkan kepala lalu tali yang mengikat Pangeran Yi Joon dan Hyuk terlepas dengan sendirinya. Pangeran Yi Joon dan Hyuk yang sudah bebas berniat akan mengambil pedang mereka masing-masing tetapi mereka tidak bisa bergerak.
"Kalian akan mengikutiku dengan tenang," ucap A Young.
Kemudian, Pangeran Yi Joon dan Hyuk mengambil pedang mereka masing-masing secara bersamaan lalu berjalan mengikuti langkah A Young untuk keluar ruangan. Mereka berdua bagaikan robot yang hanya melakukan perintah tanpa bisa menolak. Saat mereka melewati Ji Soo, Kim Young, dan Hyun Tak, mereka saling lihat sesaat.
Ji Soo, Kim Young, dan Hyun Tak merasa agak ngeri meskipun sudah melihat apa yang bisa dilakukan oleh A Young sebelumnya. Mereka segera mengikutinya dari belakang.
Mereka semua akan melakukan perjalanan menemui Putri Yi Ara.
28Please respect copyright.PENANAB2uHnTOcQe
^ ^ ^
28Please respect copyright.PENANAVMXuCvRTYT
Raja dengan tergesa-gesa menemui Permaisuri Jang di kamarnya. Semua dayang terkejut lalu beringsut menjauh. Sementara itu, kasim raja berdiri di balik pintu. Sedangkan Kepala Dayang Song yang juga ada di sana melihat tepat di manik mata Dayang Eun Byul tanpa kata.
"Yang Mulia Raja..." sambutan Permaisuri Jang terputus karena raja sudah memotong lebih dulu.
"Kamu yang melakukannya?" tanya raja langsung.
"Melakukan apa, Yang Mulia Raja?" tanya Permaisuri Jang balik dengan nada ringan, berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Raja menatap Permaisuri Jang dengan lekat.
"Kelompok Namin, kamu yang memberi perintah?" lanjut raja.
Permaisuri Jang menunjukkan wajah terkejut.
"Apa maksud Anda, Yang Mulia Raja? Kelompok Namin? Memberi perintah? Apa terjadi sesuatu?" Permaisuri Jang tetap mempertahankan ekspresinya.
Raja tidak tahan lagi. Tangannya meraih pinggang Permaisuri Jang dengan kasar lalu mendekatkannya ke tubuhnya.
"Apa masih belum cukup dengan semua yang sudah kamu terima sekarang? Apa yang harus aku lakukan lagi demi kepuasanmu?" raja bertanya tajam.
Permaisuri Jang terpaksa mengakuinya dengan mimik wajahnya.
"Ucapan Yang Mulia Raja menyakitkan," respon Permaisuri Jang penuh perasaan. "Aku harus melakukannya demi Putra kita. Yang Mulia Raja membiarkanku berjuang sendirian. Benar begitu, bukan?" lanjutnya dengan pilu.
Raja terbungkam dan masih menatap Permaisuri Jang dengan lekat.
"Bukankah aku sudah berjuang? Tidakkah kamu bisa melihatnya?" ganti raja yang berkata penuh perasaan. Raja menyentuh pipi lembut Permaisuri Jang dengan satu tangannya yang lain.
Permaisuri Jang hanya menatap balik raja dalam diam.
"Aku yang memerintahkan ratu untuk mengadopsi Yi Yun, tapi ratu menolaknya. Karena hal itu, aku memberinya hukuman diturunkan statusnya dan diasingkan keluar istana. Aku melakukan semuanya. Apa kamu tidak bisa melihat itu? Aku sudah melakukan semuanya, demi Yi Yun, Putra kita." Jelas raja panjang lebar.
Permaisuri Jang tersentuh sejenak.
"Benar, Yang Mulia Raja sudah melakukannya, tetapi Yang Mulia Raja juga yang memberi perintah untuk memenjarakan Klan-ku atas upeti rakyat. Yang Mulia Raja melemahkan Klan-ku. Itu bisa mengancam posisiku. Yang Mulia Raja tahu itu lebih baik, bukan?" balas Permaisuri dengan pilu.
"Aku tidak bisa tutup mata tentang itu. Kamu juga tahu itu." Respon raja dengan suara rendah.
Permaisuri Jang tidak bisa berkata-kata lagi.
Raja memeluk Permaisuri Jang dengan lembut.
"Aku akan melakukan apa pun semampuku. Tetapi jika terjadi sesuatu dengannya di luar istana, aku terpaksa mengembalikan mu ke tempat semula. Jadi tolong, berpikirlah sebelum bertindak." Pesan raja lalu melepaskan pelukannya dan berjalan keluar dari dalam kamar Permaisuri Jang.
Permaisuri Jang hanya memandangi punggung raja yang menghilang di balik pintu. Pikirannya semakin penuh dan sibuk. Ketika itu, masuk Dayang Eun Byul.
"Apa yang sebenarnya terjadi?!" Permaisuri Jang tampak marah.
"Mereka gagal menghalangi perjalanannya. Mereka juga kehilangan jejaknya setelah melakukan penyerbuan, Yang Mulia." Lapor Dayang Eun Byul.
"Apa?" Permaisuri Jang tampak terkejut sekaligus marah.
Dayang Eun Byul membungkukkan badan meminta maaf.
"Bagaimana bisa?" tanya Permaisuri Jang.
Dayang Eun Byul mulai menjelaskan.
"Karena sudah tiga kali gagal, mereka terpaksa melakukan penyerangan. Itu jalur terakhir sebelum memasuki lembah dingin. Tetapi mereka tetap gagal melakukannya. Dia melaporkan nya demikian, Yang Mulia. Dia hanya mendapati semua pasukan prajurit Kelompok Namin tewas. Tidak ada satu pun yang selamat. saat dia mengikuti jejaknya menuju lembah dingin, dia kehilangan jejaknya di sana. Butuh waktu untuk bisa mencapai lembah dingin tanpa pasukan dan persiapan, Yang Mulia." 28Please respect copyright.PENANAt6637bQAxC
"Semuanya tewas?" ulang Permaisuri Jang tidak percaya.
Dayang Eun Byul menundukkan kepala membenarkan.
"Tidak masuk akal," gumam Permaisuri Jang sinis.
Dayang Eun Byul hanya diam.
"Bagaimana dengan orang asing yang bersamanya? Sudah menemukan identitasnya?" tanya Permaisuri Jang mengingat si topi jerami tersebut.28Please respect copyright.PENANAwujAfq2Apf
"Mereka tidak menemukan identitasnya, Yang Mulia. Tidak ada satu pun yang mengetahui identitasnya. Begitu juga dengannya." Jawab Dayang Eun Byul cepat.
Permaisuri Jang tersenyum menyeringai mendengar jawaban tersebut.
Dia punya ide bagus.
28Please respect copyright.PENANAQfOpSwM7c3
28Please respect copyright.PENANAsZd22h3cb8
28Please respect copyright.PENANAcAFEOkuPxi
Bersambung...
28Please respect copyright.PENANAgxOJPJ4US2
28Please respect copyright.PENANAF9dIJLUMy1
28Please respect copyright.PENANAW4odHa5cXG
28Please respect copyright.PENANAaXQUOsbNI8


