Kuda terus berlari lencang menerjang keheningan hutan.
Ara menunggangi kuda dengan pikiran yang tidak menentu. Ada yang mengganggu pikirannya. Bayangan orang yang tadi dipukuli oleh bangsawan tua terus memenuhi pikirannya. Dia sadar bahwa dirinya sudah banyak membunuh orang selama tinggal di negeri antah berantah tersebut. Akan tetapi, bayangan orang itu, ketakutan dengan luka memar di sekujur tubuhnya, itu mengganggu jalan pikirannya.
Matanya yang fokus ke depan pada tandu berkuda yang dinaiki Selir Choi menjungkirbalikkan perasaannya. Napas dan perasaannya memburu cepat. Detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Emosi menyerangnya tanpa ampun. Dia tidak bisa menahannya lagi.
Ini nggak bener.25Please respect copyright.PENANA5hCd4n0WOC
Perasaan gua nggak enak.25Please respect copyright.PENANAwCOn29RW60
Tekad kuat membuat Ara menambah pacuan pada kudanya agar lebih cepat lagi. Dia mengejar kuda yang ditunggangi Dayang Hye Won. Tidak lama, kuda yang ditunggangi Ara berada paling depan. Pengawal Soo Ho merasa ada yang aneh dengan apa yang dilakukan oleh Ara.
Tiba-tiba Ara menarik tali kekang kudanya dengan kuat. Kuda yang ditungganginya berhenti mendadak. Pengawal Soo Ho dan Dayang Hye Won juga melakukan hal yang sama. Selir Choi yang berada di dalam tandu sangat terkejut lau membuka jalan kecil yang ada di samping.
"Apa-apaan ini! Ada apa denganmu!" protes Pengawal Soo Ho yang marah.
Ara tidak menjawab. Dia turun dari kudanya lalu berjalan menghampiri tempat Pengawal Soo Ho dengan amarahnya yang memenuhi dada dan otaknya. Pedang naganya dipegangnya erat. Pengawal Soo Ho mengerutkan kening melihat Ara yang semakin dekat menuju tempatnya. Ara mencengkeram baju Pengawal Soo Ho dengan keras lalu menariknya sekuat tenaga dan membantingnya ke tanah.
Pengawal Soo Ho merintih kesakitan di tanah.
Dayang Hye Won membeku di atas kudanya.
Selir Choi membelalakkan kedua matanya, terlalu terkejut. Dia buru-buru keluar dari tandu berkudanya.
Ara menarik paksa Pengawal Soo Ho untuk berdiri. Pengawal Soo Ho berniat menangkap tangan Ara dan akan diplintirnya, tetapi Ara lebih cepat melepaskan tangannya lalu mendorong Pengawal Soo Ho. Pengawal Soo Ho berhasil menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh lagi ke tanah. Merasa kesal, Pengawal Soo Ho menarik pedangnya dari sarungnya dan menyerang Ara.
Selir Choi berdiri di dekat tandu berkudanya. Dia ingin melerai keduanya tetapi tidak mampu berbuat apa-apa. Pedang Pengawal Soo Ho yang sudah keluar dari sarungnya membuat nyalinya menjadi ciut.
Serangan pedang Pengawal Soo Ho ditangkis Ara dengan pedangnya yang masih di dalam sarungnya. Kemudian, Ara meninju perut Pengawal Soo Ho dengan keras. Saat Pengawal Soo Ho melemah, Ara memukulkan pedang naganya yang masih di dalam sarung pedangnya dengan kedua tangannya ke tangan kanan dan kiri Pengawal Soo Ho. Itu belum berakhir.
Ara kembali memukul perut Pengawal Soo Ho dengan makin keras. Tentu itu membuat Pengawal Soo Ho terhuyung. Kesempatan itu digunakan Ara menggunakan kakinya untuk menjatuhkan Pengawal Soo Ho. Tubuh Pengawal Soo Ho jatuh ke depan, tengkurap. Ara menarik kedua tangan Pengawal Soo Ho ke belakang dan ditahannya dengan lututnya keras-keras. Pengawal Soo Ho pun tidak berkutik.
"CUKUP!" bentak Selir Choi yang ketakutan.
Dikarenakan Ara tidak mengindahkan perkataannya, Selir Choi mencoba untuk melangkah maju. Namun, tiba-tiba pedang milik Pengawal Soo Ho melayang cepat menuju padanya. Refleks, dia menutup mata, menahan napas, dan berhenti melangkah.
"Yang Mulia!" Dayang Hye Won menjerit keras.
Pedang milik Pengawal Soo Ho yang dilempar Ara mengenai dinding tandu tepat di belakang Selir Choi berdiri. Selir Choi bahkan bisa melihat bilah pedang itu di pipinya. Suasana semakin menegangkan.
Dayang Hye Won masih di atas kudanya tanpa bisa bergerak.
Mata Selir Choi berkaca-kaca menahan ketakutannya sendiri.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi." Suara rendah Ara terdengar lebih mengerikan, bahkan dia tidak menggunakan bahasa sopan terhadap Selir Choi.
"Lancang...!" kalimat Pengawal Soo Ho tidak terselesaikan karena tangan Ara menekan keras kepala Pengawal Soo Ho ke tanah.
"KATAKAN!" bentak Ara keras dengan keadaanya yang marah.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Tolong tenanglah dulu. Kita bisa bicarakan baik-baik." Kata Selir Choi menahan ketakutannya.
"Aku tidak bodoh," sambar Ara kembali dengan suara rendah. "Tanda kain merah, aku melihatnya." Lanjutnya sambil menatap manik mata Selir Choi dengan posisinya yang tidak berani bergerak dari tempatnya.
Selir Choi semakin menegang di tempatnya. Dia tidak mengira Ara akan mengetahui tentang itu. Dia yakin Ara bukan orang sembarangan sejak awal bertemu. Ilmu pedang Ara yang begitu mengagumkan, dia yakin dengan Ara di sisinya, dia akan baik-baik saja apa pun rintangan nya. Dia memang menggunakan keahlian Ara untuk menjaga nyawanya hingga semuanya terselesaikan.
Namun, melihat reaksi Ara kali ini lebih membahayakan nyawanya. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, itu bukan hanya membahayakan nyawanya saja tetapi nyawa raja juga.
25Please respect copyright.PENANAwt9dHyFeSH
^ ^ ^
25Please respect copyright.PENANApwlGetzGao
Melihat Selir Choi yang hanya diam, Ara bersuara lagi.
"Pedang ini," sebut Ara sambil menancapkan pedang naga yang ada di tangannya di atas tanah. "Semua orang tunduk melihatnya. mereka mengenali pedang ini tapi tidak mengenalimu. Pedang ini yang sudah menyelamatkanmu. Sejatinya, kau tidak membutuhkan aku, dia, atau dia." Ara menunjuk Pengawal Soo Ho dan Dayang Hye Won secara bergantian dengan dagunya.
"Aku membutuhkan mu dan juga mereka," respon Selir Choi memberanikan diri untuk bersuara.
Ara tersenyum miris di balik kain penutup wajahnya.
"Ketakutanmu, itu hanya topeng, kan?" Ara menatap manik mata Selir Choi dengan tajam.
Selir Choi bungkam.
"Kamu memperdaya semua orang yang ada di sekitarmu, termasuk mereka berdua. Mereka tunduk padamu. Mereka mengkhawatirkan keadaanmu. Mereka juga mempercayaimu. Tapi apa yang kau lakukan? Kau hanya memanfaatkannya. Aku memang tidak tahu bagaimana aturan yang berlaku di negeri mu, tapi seburuk-buruknya manusia harus tetap punya hati nurani. Begitu juga denganku. Lalu, bagaimana denganmu? Apa kamu memilikinya?" Ara meluapkan semua emosinya.
Ara bisa merasakan Pengawal Soo Ho tidak lagi berjuang melepaskan diri.
Dayang Hye Won pun tampak kecewa memandangi Selir Choi dalam diam.
"Kau membutuhkan bantuan Komandan Han Gi Sung. Kenapa kamu membutuhkan bantuannya? Apa terjadi sesuatu di istana? Katakan, ada apa sebenarnya." Ara kembali mendesak Selir Choi untuk menceritakan semuanya padanya.
Ara membutuhkan penjelasan jika haus melakukan semua yang diperintahkan Selir Choi selama dia berada di sisi perempuan tersebut. Dia memang sudah banyak membunuh banyak nyawa, tetapi dia tidak ingin membunuh nyawa yang tidak bersalah. Hati nuraninya terus menghantuinya.
Selir Choi terbungkam di tempatnya. Banyak hal yang harus dipertimbangkannya.
"KATAKAAAN!!!" Ara membentak lebih keras.25Please respect copyright.PENANAPD4skbFvAj
Selir Choi hampir loncat di tempatnya karena terlalu terkejut.
Tangan Ara menyambar pedang naganya lagi. Dia mengangkatnya, menunjukkan sisi bilah pedang yang bertulisan putih di antara yang hitam pada Selir Choi dengan tetap menahan tubuh Pengawal Soo Ho yang lemas ditekan oleh lututnya.
"Tidak bisakah kamu membacanya?"
Selir Choi melihat tulisan itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jika kau berpikir dengan aku berada di sisimu bisa membunuh siapa pun yang mengganggu tujuanmu, itu salah. Jadi, cepat katakan sebelum pedang ini menembus jantungmu sebelum kau mencapai tujuanmu." Ancam Ara dengan serius.
Ara tidak mau tahu hal lain selain menyelamatkan nyawanya sendiri. Mulai detik ini, dia akan membunuh siapa pun yang mengganggunya. Tidak perduli dengan aturan yang ada. Tidak perduli jika nantinya yang dilakukannya bisa mengubah sejarah. Dia tidak perduli semua itu, karena dia hanya perduli dengan nyawanya sendiri. Dia harus pulang.
"Yang Mulia Permaisuri Min," sebut Selir Choi dengan suara pelan.
Ara menurunkan pedang naganya dan menancapkan nya kembali di tanah.
"Aku harus membawa Yang Mulia Permaisuri Min kembali ke istana sebelum hukuman mati dijatuhkan padanya. Aku membutuhkan bantuan Komandan Han Gi Sung untuk menjemputnya di tempat pengasingan nya. Apa yang terjadi tadi, itu akan menjadi bukti bahwa Klan Jang banyak yang melanggar aturan. Itu juga yang bisa membantu melemahkan Klan Jang. Dengan begitu, akan mempermudah Yang Mulia Permaisuri Min kembali ke istana. Jadi, tolong bantulah aku." Jelas Selir Choi panjang lebar.
Klan Jang, lagi.
"Siapa mereka yang kamu sebutkan dengan Klan Jang?" tanya Ara.
Dia tidak tahu siapa itu Klan Jang?
Batin Selir Choi
"Mereka adalah Klan dari Yang Mulia Permaisuri Jang. Dia orang yang mempelopori pencabutan gelar ratu pada Yang Mulia Permaisuri Min. Meskipun pendukungnya dari Klan Jang lemah, tapi atas bantuan Kelompok Namin, dia berhasil menggulingkan Yang Mulia Permaisuri Min. Kita harus cepat menemui Komandan Han Gi Sung sebelum Kelompok Namin dikerahkan," lanjut Selir Choi menjelaskan detailnya.
Politik?
"Oh, shit!" Ara mendesah pelan.
Ara membenci segala hal yang berbau politik sejak bapaknya mulai sibuk di kantor balai desa di tempat tinggal orang tuanya di kampung. Kini, dia berada di tengah-tengahnya tanpa disadarinya.
Pengawal Soo Ho yang hanya diam di tempatnya mengerutkan kening saat mendengar Ara mengumpat. Dia baru kali pertama mendengarnya. Dia berpikir ada yang salah dengan pendengarannya.
"jadi, semua ini tentang politik?" Ara menekankan kata-katanya.
"Apa?" tanya Selir Choi tidak paham.
"Pendukung yang kau sebutkan, bukankah itu politik? Kalau tidak salah, Korea zaman Joseon menyebutnya dengan fraksi noron-soron?" Ara tampak ragu karena dia juga sebenarnya tidak tahu lebih banyak lagi mengenai hal tersebut.
"K-Korea?" seru Selir Choi kebingungan.
Ah! lupa gua, sial..25Please respect copyright.PENANANTHAnCsqAV
Ara mendesah kesal sendiri. Dia baru ingat bahwa lawan bicaranya saat ini adalah orang asli Joseon. Tentu saja lawan bicaranya itu tdak tahu sebutan Korea.
"Bicaralah yang jelas," seru Pengawal Soo Ho mengingatkan dengan suara pelan dan tetap diam di tempatnya.
"Diam," balas Ara sambil menggeser ujung bilah pedang naganya tepat di dekat wajah pengawal Soo ho.
"Lupakan, aku tidak perduli dengan semua itu." Ara enggan membahas lebih lanjut tentang politik tersebut.
"Kamu yang bertanya," lanjut Pengawal Soo Ho dengan kesal.
Ara menekan kepala Pengawal Soo Ho dengan keras yang bergesekan dengan tanah.25Please respect copyright.PENANA4iWLkG7v4U
"Aaaa!!!" Pengawal Soo Ho merintih kesakitan.
"Berhentilah menyakiti Pengawal Soo Ho. Aku sudah mengatakan semuanya padamu." Sambar Selir Choi cepat.
Ara mendesah pelan. Dia pun berdiri, melepaskan lututnya yang menekan tubuh Pengawal Soo Ho. Perlahan Pengawal Soo ho membalikkan badan dan duduk di tanah. Luka gores di pipinya mengeluarkan darah. Melihat itu, Dayang Hye Won segera turun dari kudanya lalu menghampiri Pengawal Soo Ho setelah mengambil obat luka dan kain pembersih.
Dayang Hye Won membersihkan tanah yang ada di wajah Pengawal Soo Ho terlebih dahulu. Setelahnya, dia memberikan obat pada lukanya.
"Aku sudah menjelaskan semuanya. Tidak bisakah kamu beritahu siapa namamu?" tanya Selir Choi penuh harap.
Ara menghembuskan napas kasar.
Pengawal Soo Ho dan Dayang Hye Won ikut melihat Ara. Diam-diam mereka juga ingin tahu.25Please respect copyright.PENANAjx6jppQgYs
Ara mengambil sarung pedang naganya dan menyimpan kembali pedang naganya ke dalam sarungnya.
"Aku tidak punya nama atau identitas di negeri ini," jawab Ara jujur.
Mereka semua menatap Ara lekat.
25Please respect copyright.PENANAGDuRS4AVhM
25Please respect copyright.PENANAMEDAtBuODx
25Please respect copyright.PENANA08YyNOKdWK
Bersambung...
25Please respect copyright.PENANAqkYawj3o0i
25Please respect copyright.PENANAwVrCTJNaik
25Please respect copyright.PENANALGMaY4M4ab
25Please respect copyright.PENANAIjErdAGIje
25Please respect copyright.PENANAqx2QiOIoNd


