Pengawal Soo Ho dan Ara berdiri di depan ruangan Selir Choi. Mereka bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
"Siapa itu Komandan Han Gi Sung? Lalu, kenapa Selir Choi ingin menemuinya?" Ara bertanya mengawali pembicaraan.
"Yang Mulia," koreksi Pengawal Soo Ho cepat.
Ara tidak mengindahkan koreksian tersebut.
Pengawal Soo Ho diam sejenak sebelum menjawab.
"Komandan Han Gi Sung adalah komandan perang yang sangat dihormati rakyat. Setelah mendapatkan izin untuk pensiun dari Yang Mulia Raja, dia meninggalkan istana. Sejak saat itu, dia menghilang. Tidak ada yang mengetahui tentang keberadaannya. Sekarang, Yang Mulia Selir Choi membutuhkan bantuannya." Jelas Pengawal Soo Ho.
"Tidak ada yang mengetahui keberadaannya?" ulang Ara dengan nada yang membuat Pengawal Soo Ho menghembuskan napas dengan kasar.
"Hanya Yang Mulia Selir Choi yang mengetahui keberadaannya. Awalanya semua anggota rombongan diberitahu tujuan kita untuk menemukan Komandan Han Gi Sung, tapi baru meninggalkan desa pertama setelah meninggalkan Ibu Kota, sudah ada Klan Jang yang menghambat perjalanan. Sejak itu Yang Mulia Selir Chi sendiri yang memberitahu arahnya. Kita hanya mengikuti petunjuknya." Pengawal Soo Ho menceritakannya dengan jujur.
Ada pengkhianat di antara mereka.
Ara menoleh, menatap manik mata Pengawal Soo Ho yang juga menatapnya balik dengan datar.
"Termasuk kalian berdua?" sebut Ara.
Pengawal Soo Ho menganggukkan kepala.
"Kamu juga termasuk," tambah Pengawal Soo Ho.
Ara mendengus pelan sambil kembali memandang depan.
Ketika itu, Selir Choi keluar bersama Dayang Hye Won. Keadaannya sudah cukup membaik setelah menghabiskan makanan yang direkomendasikan oleh Ara dan meminum obat yang disiapkan oleh Dayang Hye Won. Saat akan menaiki tandu berkudanya, dia mendengar ada keributan di jalanan depan penginapan. Dia membatalkan niatnya untuk menaiki tandu berkudanya lalu berjalan menuju arah keributan.
Pengawal Soo Ho dan Dayang Hye Won mengiringinya. 28Please respect copyright.PENANAgtbiHkODT1
Ara pun ikut bergerak mengikutinya.28Please respect copyright.PENANAqfqpU0VftX
28Please respect copyright.PENANAPyy4wAInVx
^ ^ ^
28Please respect copyright.PENANAdaMgXIkiT8
Terlihat ada beberapa bangsawan laki-laki yang tengah menyiksa rakyat biasa bersama para pengawalnya masing-masing. Selir Choi menyeruak ke dalam kumpulan orang-orang yang hanya bisa menonton tanpa mampu membantu. Pengawal Soo Ho membuka jalan untuk Selir Choi.
"Ada apa ini?" tanya Selir Choi dengan lantang.
Keributan itu langsung berhenti. Semua mata mengarah pada Selir Choi.
"Itu bukan urusanmu, Nyonya Bangsawan. Silahkan menyingkir dan jangan mengganggu." Jawab bangsawan yang paling tua di antara beberapa bangsawan yang ada di sana.
Pengawal Soo Ho langsung menarik pedangnya.
Lagi???28Please respect copyright.PENANAvwJ4Y4BEWH
Ah, yang bener aja...28Please respect copyright.PENANAVcCghM2tbW
Ara enggan ikut campur dengan adegan itu tetapi dia tidak punya pilihan lain. Terpaksa dia juga ikut waspada dengan pedang naga yang ada di genggaman tangan kirinya. Keadaan berubah menegangkan.
"Lancang sekali kamu!" kata bangsawan tua itu marah.
Pengawal bangsawan tua itu ikut menghunuskan pedang yang diarahkan ke Pengawal Soo Ho. Beberapa pengawal lainnya yang dibawa bangsawan tua itu ikut mengeluarkan pedang masing-masing dari sarungnya.
Sial.
Ara kesal sendiri.28Please respect copyright.PENANADZwRavBbZG
Mau tidak mau, dia terpaksa menarik pedang naganya dari sarungnya dan ikut menghunuskan nya ke pengawal bangsawan tua itu yang berdiri paling dekat dengannya. Pengawal bangsawan tua itu yang dihunus pedang oleh Ara terbelalak lebar ketakutan. Mulutnya tergagap, kesulitan berbicara sambil menatap pedang naga yang dihunus kan Ara. 28Please respect copyright.PENANAZV03Ytlj9h
Mata Ara menatap semua pengawal bangsawan tua itu dengan dingin dan mematikan. Semua yang ada di sana terpaku dengan pedang naga yang dihunus kan Ara.
"N-na-naga," sebut bangsawan tua itu yang juga tergagap.
Semua orang di sana langsung bersujud di tanah dan menundukkan kepala masing-masing. Bangsawan tua itu yang terakhir melakukannya.
Selir Choi memasang wajah tegas dan bengis. Mimik wajah itu tidak pernah dilihat Ara sebeumnya. Ara pun merasa aneh. Perlahan Ara menyimpan kembali pedang naganya ke sarungnya bersamaan dengan Selir Choi yang berjalan mendekati bangsawan tua itu.
"Apa yang kamu lakukan pada mereka?" tanya Selir Choi dengan nda rendah dan tegas.
Bangsawan tua itu sedikit mengangkat kepalanya. Diam-diam dia berusaha untuk melihat sosok Selir Choi. Pengawal Soo Ho dengan sigap mengarahkan pedangnya lebih dekat pada bangsawan tua itu hingga membuatnya kembali tertunduk dan mulai bersuara.
"Saya memberi mereka hukuman. Mereka bersalah pada kami, para bangsawan." Jawab bangsawan tua itu memberanikan diri.
"Apa kesalahannya?" lanjut Selir Choi.
"Mereka mengambil sisa makanan para bangsawan tanpa izin. Mereka harus dihukum. Mereka patut menerimanya." Jawab bangsawan tua itu dengan percaya diri.
Sisa makanan?28Please respect copyright.PENANAJLrkJGiBJI
Dihukum?28Please respect copyright.PENANAYJjogeEvca
Gila nih kakek tua!28Please respect copyright.PENANAFZ6RSuowzO
Ara kesal dalam hati.
Selir Choi mengambil saputangannya lalu digunakannya untuk menyentuh dagu bangsawan tua itu agar melihat wajahnya.
"Sebutkan nama dan statusmu," kali ini Selir Choi tampak seperti ular berbisa.
Bangsawan tua itu tergagap untuk menjawab.
"Jang... Suk. Saya bertanggung jawab mengatur upeti di desa ini."28Please respect copyright.PENANAadNUq11AxK
Selir Choi tersenyum miring.
Dia... mengerikan.
Ara semakin merasa tidak nyaman dengan situasinya.
Selir Choi melepas dagu bangsawan tua itu lalu berdiri berjalan menuju seorang bangsawan yang di belakang tempat Ara berdiri. Mata Ara memperhatikan setiap gerak-gerik Selir Choi yang berdiri di depan bangsawan tersebut. Mata Selir Choi melihat kain merah pada pergelangan tangan bangsawan itu tanpa kentara. Dia tidak tahu jika Ara menyadarinya.
Mata Ara sibuk melihat kain merah di setiap sarung pedang para pengawal yang berada di sekeliling bangsawan tersebut. Kemudian, mata Ara menyapu ke semua orang yang ada di sana. Ternyata masih ada beberapa orang yang juga menggunakan kain merah selain pada sarung pedang para pengawal bangsawan tersebut. Ara merasa, hal buruk akan terjadi.
"Berdirilah," perintah Selir Choi pada bangsawan yang ada di depannya tersebut.
Bangsawan tersebut segera berdiri di tempatnya. Dia membungkukkan badan memberikan hormat lalu melihat Selir Choi.
Mereka saling kenal.
Ara semakin waspada dan memegang erat pedang naganya. Dia menyiapkan diri.
Selir Choi membalikkan badan lalu melihat ke arah Pengawal Soo Ho.
"Bunuh dia," perintah Selir Choi.
Mendengar itu, bangsawan tua tadi terkejut sambil terbelalak lebar. Dia tidak terima. Kemudian, dia memberikan perintah pada para pengawalnya untuk melindunginya. Saat para pengawal sang bangsawan tua tadi menghunuskan pedang, semua orang yang ada di sana yang memiliki kain merah sebagai tanda, mereka ikut menghunuskan pedang.
Ah, sial.
Selir Choi tersenyum menyeringai lalu melihat ke arah Ara. Matanya memberikan perintah untuk membunuh semua yang menantang perintahnya. Ara langsung paham dan menarik kembali pedang naganya dari sarungnya. Sedangkan Pengawal Soo Ho sudah melawan para pengawal yang melindungi bangsawan tua tadi dengan sengit dibantu semua orang yang memakai tanda kain merah. Ara sendiri sibuk menangkis pedang yang mengarah pada Selir Choi. Kemudian, dia menebaskan pedang naganya pada leher lawannya yang menyerang tiba-tiba.
Tubuh Ara bergerak memutar ke samping Selir Choi yang akan diserang dari arah belakang. Tangan Ara lebih cepat menghunuskan pedang naganya tepat di jantung lawannya tersebut lalu kaki kanannya menendang lawan lainnya yang menyerangnya. Detik selanjutnya, tangannya yang memegang sarung pedang naganya memukul keras kepala lawan lainnya. Seluruh tubuhnya sibuk menangkis dan menyerang lawan tanpa jeda.
"Anda bisa pergi sekarang, Yang Mulia. Lanjutkan perjalanan Anda. Kami yang akan menyelesaikannya di sini." Kata bangsawan tersebut yang juga memiliki kain merah yang terikat pada sarung pedangnya.
Selir Choi menganggukkan kepala setuju.
"Aku percayakan hal ini padamu. Kamu isi posisinya dan kirim laporannya. Jangan lupa kirim pesanku juga ke istana." Perintah Selir Choi dengan suara pelan.
"Baik, Yang Mulia." Jawab bangsawan tersebut dengan patuh.
Bangsawan tersebut memberikan tanda pada Pengawal Soo Ho untuk segera pergi dan membawa Selir Choi melanjutkan perjalanan. Pengawal Soo Ho segera memimpin jalan menuju kuda. Dayang Hye Won menggenggam erat lengan tangan Selir Choi sambil mengikuti Pengawal Soo Ho. Ara menyusul tepat di belakang keduanya.
Tiba-tiba langkah kaki Ara terhenti. Matanya melihat orang yang tadi dihukum oleh bangsawan tua tadi sedang memojok ketakutan dengan luka memar di sekujur tubuhnya. Baju yang dipakainya kotor dan lusuh. Perasaan iba pun menyeruak keluar dari dalam tubuh Ara. Ketika itu, ada tangan yang menarik keras bahu kanan Ara.
Hampir saja Ara membanting pemilik tangan tersebut. Dia paling benci jika ada yang menyentuh bahu kanannya yan pernah patah saat kecelakaan motor beberapa tahun lalu. Pengawal Soo Ho terpaksa menariknya karena tidak mengetahui nama Ara menuju kuda. 28Please respect copyright.PENANAIXLwQ9GRdT
Kuda yang mereka tunggangi pun meluncur pergi meninggalkan desa.
28Please respect copyright.PENANAEhQfKGYDm9
28Please respect copyright.PENANAHePoOv2MKs
28Please respect copyright.PENANArqkk3glCmi
Bersambung...
28Please respect copyright.PENANA2g7YzE2ulN
28Please respect copyright.PENANAk3MjO6A2r9
28Please respect copyright.PENANAuLYSnDCkZ7
28Please respect copyright.PENANASpwCpcGRYd


