Dayang Hye Won mengganti kain kompres di kening Selir Choi. Tidak lupa diperiksanya suhu badan Selir Choi yang mulai membaik. Lama-lama matanya terasa semakin berat. Dia kelelahan dan tidak sempat beristirahat karena harus menjaga Selir Choi. Melihat Selir Choi yang tampak tidur dengan nyenyak, dia pun menyandarkan tubuhnya di dinding. Semakin lama, matanya menutup rapat dan tertidur.
Pengawal Soo Ho yang berjaga pertama mulai merasa kelelahan. Dia harus beristirahat jika ingin tetap menjaga Selir Choi. Jangan sampai dia yang jatuh sakit dan tidak mampu melakukan tugasnya untuk menjaga Selir Choi.
Ara membuka matanya saat mendengar ada ketukan di pintu. Dia segera bangun dari tidurnya lalu merapikan pakaiannya dan memakai lagi topi jeraminya. Diraihnya pedang naganya lalu berjalan menuju pintu. Dibukanya pintu itu dan mendapati Pengawal Soo Ho sudah berdiri di sana, menunggu dengan wajah yang lelah.
Ara pun keluar kamar tanpa kata.
"Jangan pergi ke mana-mana. Tetap jaga di depan pintu Yang Mulia. Panggil aku jika ada sesuatu." Pesan Pengawal Soo Ho tegas meskipun tampak kelelahan.
Ara hanya menatap Pengawal Soo Ho dengan datar.
Pengawal Soo Ho langsung masuk ke dalam kamar yang dipakai Ara beristirahat sebelumnya. Ditutupnya pintu itu.
Sialan dia.29Please respect copyright.PENANAOOJB11wqmN
Seenak jidat aja nyuruh gua.29Please respect copyright.PENANAyRXeKC5QXq
Lo kira, gua bawahan lo?29Please respect copyright.PENANAfIvfS5pR71
Kampret!
Ara berjalan menuju depan ruangan yang dipakai Selir Choi.
Pengawal Soo Ho memeriksa ruangan dengan cepat. Saat matanya melihat meja kecil berisi makanan yang sudah disiapkan oleh penginapan, salah satu alisnya naik ke atas. Ayam rebus dan semua makanan pendamping masih utuh tidak tersentuh. Tanpa sadar, bibirnya tersenyum. Dia tidak menyangka jika Ara akan menyisakan makanan untuknya. Dimakannya semua makanan itu lalu tidur.
Sementara itu, pintu kamar yang ditempati Selir Choi tiba-tiba terbuka. Dayang Hye Won yang muncul di balik pintu.
"Ada apa?" tanya Ara datar.
"Pengawal Soo Ho?" tanya Dayang Hye Won balik.
Ara menjawab dengan dagunya mengarah ke pintu kamar di samping.
Dayang Hye Won tampak ragu.
"Aku percayakan Yang Mulia padamu. Aku mau keluar sebentar mencari obat untuk Yang Mulia. Jika Yang Mulia membutuhkan sesuatu, masuklah. Yang sopan, jaga etikamu." Kata Dayang Hye Won yang tampak lebih muda dari Ara.
Ara tidak bersuara. Dia tidak meresponnya.
Dayang Hye Won segera melangkah pergi.
Lo yang nggak punya etika!29Please respect copyright.PENANA9YrnhhrXh9
Kecil-kecil sok ngatur gua.29Please respect copyright.PENANAswK5JjB3bg
Sial.
Semakin lama Ara berdiri di sana, dia semakin bosan. Baginya berdiri di tempatnya sekarang lebih melelahkan jika dibandingkan memegang baki bendera merah putih saat upacara 17 agustus di sekolah asramanya yang memang berbasis bilingual, English dan Arabic, yang selalu mengadakan upacara seperti yang dilaksanakan di istana merdeka.
Setidaknya saat bertugas menjadi pengibar bendera, dia dikelilingi peserta upacara. Tentu tidak merasa bosan meskipun dimulai pukul 7 pagi hingga pukul 12 siang tanpa bersuara dan bergerak. Berbeda dengan yang tengah dilakukannya saat ini. Berdiri sendirian tanpa bergerak dan bersuara. Menjaga orang yang terhormat, bukan baginya, tetapi bagi mereka sebagai rakyatnya.
Di saat-saat seperti ini lah Ara sering mengingat tentang masa-masa yang sudah dilewatinya. Ingatan masa kecilnya menyeruak ke permukaan. Dia ingat bapaknya yang berusaha menangkap seekor burung hutan saat sedang bertani di hutan untuk diberikannya padanya. Perjuangan bapaknya menangkap burung itu membuatnya tertawa senang.
Hal itu lucu dan membahagiakannya. Bapaknya bahkan menjatuhkan diri sambil menelangkupkan kedua telapak tangan untuk menangkap burung tersebut tetapi gagal. Wajah polos bapaknya masih dapat diingatnya dengan baik hingga sekarang. Tanpa disadarinya buliran air mata jatuh di kedua pipinya.
Mama... Bapak... Ndok kangen kalian.
Mama dan Bapak baik-baik aja, kan? 29Please respect copyright.PENANAgWvpV49JQD
Dede sehat-sehat aja, kan?29Please respect copyright.PENANAz6wkbxDzgG
Apa pun yang terjadi, jangan lupa berbahagia. Kalian jangan khawatir, Ndok di sini baik-baik aja. Ndok masih usaha cari jalan pulang. Kayaknya butuh waktu lebih lama lagi. Tolong jangan ke mana-mana. Tetap di sana sampai Ndok pulang.
Ndok sayang kalian...
Gejolak perasaannya membuatnya bersedih.
29Please respect copyright.PENANAVM5gSbtafH
^ ^ ^
29Please respect copyright.PENANAsGWHcJnrCi
Tiba-tiba terdengar suara orang muntah dari dalam ruangan Selir Choi. Lamunan Ara buyar seketika. Dia langsung masuk ke ruangan Selir Choi. Dilihatnya Selir Choi sedang memuntahkan sesuatu di sebuah tempat yang sudah disiapkan Dayang Hye Won sebelum pergi tetapi tidak ada apa-apa di sana.
"Anda baik-baik saja?" tanya Ara sambil menghampiri Selir Choi.
Selir Choi mengelap keringat di pelipisnya dengan lemah.
"Hanya mual," jawab Selir Choi.
Mual?29Please respect copyright.PENANAASGkTJRLYy
Masuk angin?29Please respect copyright.PENANAhIBNA1RKfe
Hamil?
Ara memperhatikan Selir Choi untuk sesaat.
"Anda sedang mengandung?" tanya Ara pelan berusaha berhati-hati.
Selir Choi langsung mendongakkan kepala melihat Ara.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Selir Choi balik tampak waspada.
"Anda ingin memuntahkan sesuatu tapi tidak ada apa-apa. Anda sendiri yang bilang hanya mual. Kalau bukan sedang mengandung..." kalimat Ara terhenti saat dia sadar ditatap tajam oleh Selir Choi.
Ara mendehem pelan untuk membersihkan tenggorokannya. Dia merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.
"Kamu, sebenarnya siapa? Tabib?" tanya Selir Choi yang menatap manik mata Ara.
"Bukan," jawab Ara pendek.
Siapa juga yang mau jadi dokter?29Please respect copyright.PENANAewiA9FGdEP
Cuman Bapak yang punya impian punya anak dokter. Sedangkan gua, anaknya nggak pengen jadi dokter. Kasihan Bapak. Untung Dede punya cita-cita pengen jadi dokter. Setidaknya ada yang bisa mewujudkan impiannya Bapak.
"Kamu sangat berbeda. Dari segala sisi, kamu benar-benar berbeda. Aku jadi ingin lebih tahu siapa dirimu. Dari mana asalmu."
Ara tidak merespon. Dia melihat ke arah meja kecil yang berisi makanan. Di sana da tiga meja yang tersedia. Dua dari tiga meja yang berisi makanan itu terlihat masih utuh. Dia bisa menebaknya, sudah pasti Dayang Hye Won yang memakan salah satu isi meja makanan tersebut. Tangannya mengambil sumpit lalu dicicipinya deretan makanan berupa kue jika dilihat dari bentuknya yang lucu-lucu dan berwarna.
Sisa makanan yang dicicipinya diletakkan di piring kecil yang berbeda. Saat menemukan kue yang memiliki rasa paling manis, diambilnya di satu piring kecil kosong dan diberikannya pada Selir Choi. Sedangkan Selir Choi tersenyum tipis sambil menerima pemberian Ara. Dia segera mencicipinya perlahan.
"Enak," gumam Selir Choi.
Ara enggan merespon. Dia mulai bergerak ingin berdiri dan kembali ke tempat jaganya tetapi Selir Choi lebih dulu menghentikan gerakannya. Terpaksa dibatalkannya niatnya itu. Alhasil, dia menetap di tempatnya duduk di sisi Selir Choi.
"Ini adalah ruanganku. Kenapa tidak kamu lepas saja topi, penutup wajah, dan penutup kepalamu? Tidak kah kamu merasa itu semua membuatmu tidak nyaman?" tanya Selir Choi.
Ara menaikkan sedikit letak topinya.
"Aku merasa lebih tidak nyaman jika melepasnya," jawab Ara jujur.
"Kenapa? Apakah ada sesuatu yang mengganggu penampilanmu? Atau mungkin, kamu tidak memiliki rambut?" tanya Selir Choi penasaran.
Ara tersenyum tipis di balik kain penutup wajahnya.
"Tidak ada masalah dengan semua itu. Aku sudah mengatakannya, itu adalah hal pribadiku yang tidak bisa Anda atur." Jelas Ara ringan.
Selir Choi tersenyum mendengarnya.
"Dulu, sebelum aku masuk istana, aku juga hampir sama denganmu. Tidak sopan saat berbicara. Tidak perduli dengan siapa aku berbicara. Tidak mengenal etika. Aku tidak mau diatur-atur. Tapi setelah masuk istana, semuanya berubah. Bahkan untuk sampai ke titik sekarang, aku mengorbankan banyak hal. Salah satunya adalah kebebasanku." Cerita Selir Choi.
Ara hanya diam dan memilih menjadi pendengar.
"Awalnya aku ingin menyerah. Hidup di istana tidak seenak yang aku bayangkan. Pada saat itu, datang Yang Mulia Ratu Min. Oh, karena sekarang sedang diasingkan maka statusnya diturunkan menjadi Permaisuri Min. Kamu pasti tahu itu. Semua rakyat Joseon tahu itu." Selir Choi mengambil jeda.
Sayangnya gua bukan rakyat Joseon, jadi gua nggak tahu tentang itu.
"Yang Mulia Permaisuri Min membantuku melewati masa-masa itu. Yang Mulia Raja pun mulai menyukaiku juga. Pedang yang sekarang menjadi milikmu adalah hadiah pemberian dari Yang Mulia Permaisuri Min. Katanya, aku harus menyembunyikannya baik-baik hingga suatu hari nanti aku membutuhkannya, aku baru boleh menggunakannya. Hari itu pun datang. Pedang itu juga yang menuntunku untuk sampai di sini," lanjutnya penuh perasaan.
Kepala Ara menoleh, melihat pedang naga yang diletakkannya di sampingnya duduk.
Pedang naga itu terlihat polos mulai dari pegangan tangan dan sarungnya yang terbuat dari kayu. Warnanya coklat tua. Tekstur kayunya lembut. Tidak ada yang istimewa jika dilihat dari luar. Itu hanya tampak seperti pedang kayu mainan. Namun, saat bilah pedangnya keluar dari sarungnya, ada ukiran gambar naga di salah satu sisinya. Sedangkan di sisi lainnya terdapat ukiran tulisan yang berbunyi, putih di antara yang hitam. Tulisan itu cukup mengganggu pikirannya. Itu sama seperti pesan terakhir si laki-laki padanya.
"Perjalanan ini berakhir setelah kita bertemu dengan Komandan Han Gi Sung. Semoga aku belum terlambat." Selir Choi masih melanjutkan nya.
Komandan Han Gi Sung?29Please respect copyright.PENANAomXsDsbwVU
Itu siapa lagi?29Please respect copyright.PENANAyEiQBk3ujw
Ara tetap tidak merespon apa pun. Dia hanya menetap di tempatnya dan menjadi pendengar yang baik. Tidak menyela ataupun memotong kalimat sang pembicara. Dia membiarkan sang pembicara menyelesaikan kalimatnya hingga selesai.
29Please respect copyright.PENANA98eAvfmYgx
29Please respect copyright.PENANAKFpLJFTWod
29Please respect copyright.PENANAJb8yjI4FU5
Bersambung...
29Please respect copyright.PENANAibe0VuzpKp
29Please respect copyright.PENANAcWLTqQBNJq
29Please respect copyright.PENANA8lY4t7BMzA
29Please respect copyright.PENANAUPsHPAQRan


