Hari-hari berlalu.
Ara bahkan tidak menyadari sudah berapa lama berkelana mendampingi Selir Choi. Pengawal Soo Ho berada paling depan menjalankan kuda yang membawa tandu berkuda Selir Choi. Dayang Hye Won berada di tengah dan Ara berada di belakang. Berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tiba-tiba terjadi Pengawal Soo Ho bisa menangani di depan, sedangkan Dayang Hye Won berada di sisi Selir Choi, dan Ara yang menangani keadaan di belakang. Mereka membentuk formasi yang cukup bagus.
Mereka sudah berhenti beberapa kali untuk beristirahat. Akan tetapi, itu tetap tidak cukup untuk mengistirahatkan tubuh dengan nyaman karena mereka berada di dalam hutan. Perjalanan yang mereka lalui adalah lintasan panjang yang dikelilingi pepohonan dan semak-semak belukar. Beruntung jejak jalan yang mereka lalui cukup lebar.
Ketika itu, tandu berkuda yang berada paling depan tiba-tiba berhenti. Ara menyapu daerah sekitar dengan pandangan. Keadaannya aman. Dayang Hye Won yang sigap sudah berada di samping tandu, tepat di jendela kecil yang ada. Pengawal Soo Ho turun lalu menghampiri Ara.
"Di depan ada sebuah desa. Aku akan mengeceknya lebih dulu. Kamu jaga di sini. Aku pakai kudamu." Kata Pengawal Soo Ho.
Ara segera turun dari kudanya.
Pengawal Soo Ho mengambil alih kuda yang ditunggangi Ara menuju desa yang berada tidak jauh di depan. Ara berjaga sambil menyapu daerah sekitar dan tetap waspada. Telinganya bisa mendengar pembicaraan Selir Choi dan Dayang Hye Won meskipun harus tetap melakukan tugasnya menjaga.
"Mohon tunggu sebentar, Yang Mulia." Ucap Dayang Hye Won.
Selir Choi membiarkan Dayang Hye Won menyelesaikan ucapannya.
"Pengawal Soo Ho sedang melihat desa di depan untuk mengecek keamanannya. Nanti Yang Mulia bisa beristirahat dengan nyaman di sana. Wajah Yang Mulia sudah pucat dan badan Yang Mulia mulai kedinginan." Jelas Dayang Hye Won memberitahu.
Mendengar itu, Ara menoleh melihat Selir Choi.
Memang benar wajah Selir Choi pucat, bahkan bibirnya mulai membiru.
Kenapa dia lemah banget?34Please respect copyright.PENANAGouFGKN3IV
Punya penyakit kah?34Please respect copyright.PENANAQ9iCwI8F8S
34Please respect copyright.PENANAi1sZvPXhCK
^ ^ ^
34Please respect copyright.PENANA4XAe0x5MAx
Telinga Ara mendengar ada daun kering yang diinjak. Kepalanya dengan cepat bergerak mencari sumber suara. Kakinya mulai melangkah menuju arah suara dengan kepala yang tetap mengedar sekeliling tandu berkuda yang dinaiki Selir Choi. Setelah beberapa langkah berjalan, terdengar suara tapak kuda datang menghampiri. Ternyata Pengawal Soo Ho yang datang.
"Aman," lapor Pengawal Soo Ho.
Ara pun membatalkan niatnya untuk melangkah lebih jauh menuju arah suara.
Pengawal Soo Ho mengembalikan kuda yang dinaikinya pada Ara lalu mengendarai kuda yang membawa tandu berkuda Selir Choi. Mereka segera melanjutkan perjalanan menuju desa tersebut. Saat akan mencapai gerbang masuk desa, Ara menyadari sesuatu. Dia pernah ke sana. Lebih tepatnya melewati desa tersebut setelah kejadian pembunuhan mengerikan hari itu.
Prajurit yang menjaga gerbang masuk memeriksa kayu identitas yang dibawa oleh Pengawal Soo Ho. Kayu identitas itu bentuknya hampir sama dengan benda yang dimiliki Ara pemberian dari si laki-laki. Hanya saja ikat gantungan pada ujung kayu identitas itu berwarna merah. Sedangkan yang disimpan oleh Ara berwarna kuning. Setelah pemeriksaan selesai, mereka memasuki desa. Mereka berhenti tepat di sebuah penginapan.
Dayang Hye Won membantu Selir Choi memasuki penginapan yang sudah dipesan Pengawal Soo Ho sebelumnya.
"Aku akan berjaga pertama. Kamu bisa istirahat dulu." Kata Pengawal Soo Ho memberitahu.
Ara menganggukkan kepala mengerti. Lalu kakinya berjalan memasuki kamar yang berada tepat di samping kamar yang ditempati Selir Choi dan Dayang Hye Won. Sejak awal, Ara melihat Dayang Hye Won memang tidak pernah meninggalkan Selir Choi. Setelah memeriksa seisi kamarnya, Ara duduk di tempat tidur yang ada.
Nggak ada kamera atau CCTV gitu, kan, di sini?34Please respect copyright.PENANAaLgh0eZJTi
Jadi parno, deh.34Please respect copyright.PENANAersfmdVSG2
Ara terbiasa waspada sejak tinggal di negeri antah berantah tersebut dan membuat dirinya sendiri tidak nyaman untuk melepas kain penutup wajah serta topi jeraminya. Perlahan dibukanya topi jeraminya dan kain penutup wajahnya. Kemudian, dilepasnya kain pengganti hijabnya. Rasanya dia bisa bernapas bebas. Tangannya membuka ikatan rambutnya. Disisir nya rambut hitam panjangnya hanya dengan jemari tangannya.
Wah, enaknya...34Please respect copyright.PENANA5ZpUaMOC9X
Nggak pusing lagi gua.34Please respect copyright.PENANAnmEZrQ4EJU
Ara mengambil kain basah yang berada di sebuah tempat seperti baskom yang ada di pojok ruangan. Dia mengelap wajahnya dengan lembut.
Ah, gua beneran pengen pulang.34Please respect copyright.PENANAMCDHJgaMdE
Gua kangen shower.34Please respect copyright.PENANAP3rwPVLAxm
Setelah selesai, Ara mengikat kembali rambut hitam panjangnya yang mudah disisir hanya menggunakan jemari tangannya. Dipakainya lagi kain pengganti hijabnya. Dia tidak mau ada yang melihat rambutnya. Terbiasa memakai hijab sejak kelas 5 SD membuatnya pantang memperlihatkan rambutnya.
Kemudian, dia menuju meja kecil yang berisi makanan.
Hal pertama yang dilakukannya adalah menuangkan air minum. Dia mencium aromanya terlebih dahulu. Tidak ada aroma apa-apa yang artinya air putih biasa, bukan minuman aneh-aneh yang disediakan. Mungkin saja arak atau sejenisnya yang Ara sendiri tidak tahu semua jenisnya. Diminumnya air putih itu lalu memakan ubi jalar dan kentang rebus.
Dia tidak menyentuh ayam rebus polos yang disediakan. Meskipun ayam itu halal dimakan tetapi cara menyembelihnya tentu tidak, maka dia memilih tidak memakannya. Setelah merasa kenyang, dia beralih menuju tempat tidur yang sudah disediakan. Dipakainya lagi kain penutup wajahnya lalu merebahkan tubuhnya yang kelelahan.
Dipejamkan nya matanya menuju alam mimpi. Siapa tahu saat dia bangun, bisa kembali berada di kursi panjang di halte seperti semula.
34Please respect copyright.PENANAtR5WFoaCj5
34Please respect copyright.PENANAH0zouFihMa
34Please respect copyright.PENANAGphFYn1Eyb
Bersambung...
34Please respect copyright.PENANAt3MBQpvaDo
34Please respect copyright.PENANAnksAWPxAnH
34Please respect copyright.PENANAsLf1LybTia
34Please respect copyright.PENANAxOh0bmXdkj


