Permaisuri Jang tengah menikmati waktu bersama putranya yang masih bayi, Pangeran Yi Yun. Ketika itu, Dayang Eun Byul datang menghadap membawakan berita baru. Dayang Eun Byul membungkukkan badan lalu berbicara.
"Pasukan bertopeng gagal melakukan tugasnya, Yang Mulia." Lapor Dayang Eun Byul.
Laporan itu membuat Permaisuri Jang mengangkat wajahnya dari putranya yang berada di pangkuannya, mengarah pada Dayang Eun Byuk. Ada kemarahan yang tersirat di kedua matanya.
"Bagaimana bisa?" tanya Permaisuri Jang berdesis.
"Maaf, Yang Mulia." Buru-buru Dayang Eun Byul menundukkan kepala. "Ada yang datang membantunya dan membasmi pasukan bertopeng. Hanya beberapa yang berhasil melarikan diri," jelasnya.33Please respect copyright.PENANAFJ8ucC4dEM
"Siapa yang datang membantunya?" tanya Permaisuri Jang cepat.
"Tidak diketahui identitasnya. Dia memakai topi jerami dan kain penutup wajah," jawab Dayang Eun Byul sedetail mungkin.
"Cari tahu identitasnya secepatnya," perintah Permaisuri Jang.
"Baik, Yang Mulia."
"Kirim pesan pada Kelompok Namin. Perintahkan mereka menggantikan posisi pasukan bertopeng untuk sementara," lanjut Permaisuri Jang.
"Sudah dilakukan, Yang Mulia." Jawab Dayang Eun Byul dengan bangga.
"Bagus," puji Permaisuri Jang sambil tersenyum tipis.
Dayang Eun Byul ikut tersenyum.
"Bagaimana dengan pencarian Komandan Han Gi Sung?" lanjut Permaisuri Jang bertanya.
"Belum ada kabar, Yang Mulia. Tapi sepertinya dia sudah mengetahui keberadaannya. Klan Jang yang bertugas di luar Ibu Kota sudah siap di tempat jika mendadak dibutuhkan."
Permaisuri Jang terangguk puas.
"Silahkan dilanjutkan, Yang Mulia. Saya undur diri," kata Dayang Eun Byul yang segera pergi meninggalkan Permaisuri Jang bersama putranya, Pangeran Yi Yun.33Please respect copyright.PENANAIcNbx6x33I
Sepeninggal Dayang Ein Byul, Permaisuri Jang tersenyum senang sambil menyentuh lembut pipi putranya.
Jangan khawatir, Putraku.33Please respect copyright.PENANATUBIM0HMNr
Ibumu ini akan melakukan segalanya agar kelak kamu bisa menjadi penerus tahta dan tidak akan ada yang berani mengganggumu.33Please respect copyright.PENANA2NpjzCQK3J
33Please respect copyright.PENANAwLS6bv9sPi
^ ^ ^
33Please respect copyright.PENANAAwDX3XpUld
Hyun Tak berhenti melangkah saat matanya meliat ada rombongan yang memasuki perguruan. Dia melihat sosok ibu tirinya datang bersama pengawalnya berada di paling depan memimpin jalan.
"Tuan Muda Hyun Tak, Anda di tunggu Tuan Muda Kim Young di ruangannya." Seseorang menyampaikan pesan pada Hyun Tak.
Hyun Tak menganggukkan kepala lalu berjalan menuju ruangan utama perguruan untuk menemui Kim Young dan tidak mengacuhkan kedatangan ibu tirinya bersama rombongan yang tidak dikenalnya.
"Anda memanggil saya?"
Suara Hyun Tak membuat Kim Young meletakkan buku yang sedang dibacanya.
"Iya, kemarilah." Jawab Kim Young cepat.
Hyun Tak mendekati meja Kim Young.
"Aku belum sempat bicara pada Ibu. Sepertinya Ibu keluar lebih lama dari biasanya. Nanti jika sudah pulang, aku akan mengatakannya padanya." Jelas Kim Young.
Hyun Tak hanya menganggukkan kepala.
"Pemakamannya sudah selesai?" tanya Kim Young lagi karena Hyun Tak tidak mengeluarkan suara.
"Iya, sudah selesai." Jawab Hyun Tak.
Ketika itu, pintu diketuk dan dibuka dari luar. Sosok sang ibu masuk bersama pengawalnya. Hyun Tak langsung menundukkan kepala memberi hormat.
"Oh, kamu di sini." Kata sang ibu yang hanya fokus pada Kim Young, anak kandungnya.
"Kalau begitu, saya undur diri, Tuan Muda." Kata Hyun Tak yang akan melangkah pergi.
"Tunggu," tahan sang ibu. "Kau juga harus di sini," perintahnya tegas dan dingin seperti biasanya.
Hyun Tak pun kembali ke tempatnya semula.
"Ada apa, Bu?" tanya Kim Young mengalihkan.
"Ada hal penting yang ingin aku beritahukan," jawab sang ibu dengan serius.
Kim Young jadi ikut serius, begitu juga dengan Hyun Tak.
"Ini mengenai Putri Yi Ara," sebut sang ibu.
Kim Young langsung tertarik.33Please respect copyright.PENANANnNI5C3x7e
Hyun Tak pun mengangkat wajahnya saat mendengar satu nama tersebut.33Please respect copyright.PENANAu8wD7rsLRr
"Selama ini mereka berhasil mengelabui kita. Ternayata kedua anak dari Ratu Pertama bukan perempuan," sang ibu memberitahukan hal pentingnya.
"Apa maksudnya, Bu?" sambar Kim Young memotong dengan cepat.
Hyun Tak tidak paham dengan arah pembicaraan sang ibu.
"Semua informasi yang kita dapatkan dimanipulasi," lanjut sang ibu.
"Tapi informasi itu akurat, Bu, bahkan istana yang mengeluarkan surat sahnya. Ibu juga tahu itu. Lalu informasi bahwa mereka masih hidup pun hanya perguruan kita yang tahu. Tentang Komandan Han Gi Sung juga hanya kita yang tahu." Protes Kim Young panjang lebar.
"Tentang Komandan Han Gi Sung, bukan hanya kita yang tahu." Ralat sang ibu sambil melihat ke arah Hyun Tak dan pengawalnya sendiri secara bergantian.
Hyun Tak hanya memasang wajah datar.
Seketika Kim Young menoleh, menatap Hyun Tak.
"Hyun Tak tidak mungkin melakukannya, Bu." Kim Young menolak untuk mempercayainya.
"Tenang saja, ada orang hebat yang sedang mencarinya," jawab sang ibu mengalihkan pandangan dari Hyun Tak ke Kim Young.
Diam-diam Hyun Tak menghembuskan napas lega tanpa kentara.
33Please respect copyright.PENANA4THYHsjIK3
^ ^ ^
33Please respect copyright.PENANADf2kyjyR9z
Tiba-tiba pintu terbuka. Masuklah seorang perempuan cantik bersama beberapa anak buahnya membawa seseorang yang sangat dikenal oleh Kim Young dan Hyun Tak. Dia adalah adik sepupu dari Pemimpin Jung, Yeol.33Please respect copyright.PENANASHDgBd2zTa
"Yeol?" seru Kim Young yang tidak percaya apa yang dilihatnya.
Hyun Tak tidak bersuara dan membeku di tempatnya. Dia cukup dekat dengan Yeol. Hidup bersama, tumbuh bersama, senang dan sedih bersama. Dia tidak pernah menyangka bahwa orang yang berada paling dekat dengannya telah tega mengkhianatinya.
Kim Young menarik pedangnya lalu melangkah menuju tempat Yeol. Dia mencengkeram baju Yeol dengan keras.
"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Kim Young penuh amarah.
Perempuan cantik yang berada tidak jauh, dia memperhatikan Kim Young dengan lekat. Dia tersenyum tipis tanpa kentara lalu menoleh ke arah Hyun Tak yang tidak sadar sedang diperhatikan.
"Maaf, aku harus melakukannya, Tuan Muda." Yeol bersuara.
"Maaf? Aku tidak butuh kata maafmu. Katakan, apa yang sudah kau lakukan?" ulang Kim Young yang semakin marah.
"Komandan Han Gi Sung..." sebut Yeol.
Sang ibu merasa lidahnya kelu lalu membuang wajah ke arah lain.
"Aku tidak bisa menolak permintaan tolong nya," Yeol melanjutkan kalimatnya.
"Minta tolong apa?" desak Kim Young.33Please respect copyright.PENANA7tnS4yGUtx
"Untuk memastikan bahwa sarat istana benar adanya," jawab Yeol jujur.
"Tentang kedua keturunan Ratu Pertama memanglah perempuan?" Kim Young menambahkan untuk memastikan dengan senyum kecewa.
Yeol menganggukkan kepala dengan berat.
"Pemimpin Jung, kau juga pasti yang sudah melakukannya." Tuduh Kim Young yang menyimpulkan nya sepihak dengan amarah yang tidak bisa ditahannya lagi.
"Aku..." kalimat Yeol terhenti karena pedang yang ada di tangan Kim Young sudah menghunus jantungnya. Darah pun keluar dari mulutnya.
"Selamat tinggal, Yeol. Kita jangan pernah bertemu lagi meskipun di kehidupan selanjutnya." Kata Kim Young pelan lalu menarik pedangnya.
Yeol pun terjatuh ke lantai bersimbah darah tanpa nyawa.
Hyun Tak membeku di tempatnya.
Perempuan cantik tadi tersenyum bahagia.
"Bawa keluar," perintah sang ibu, Ji Soo.
Pengawal pribadi Ji Soo dan Hyun Tak langsung bergerak melaksanakan perintah tersebut. Hyun Tak memaksakan diri membawa tubuh Yeol yang sudah tidak bernyawa dengan air ata yang tertahan. Semua anggota perguruan yang menunggu di luar ruangan menampilkan ekspresi bercampur. Hyun Tak pun meletakkan tubuh Yeol di tengah-tengah mereka. Hyun Tak bersimpuh tepat di samping tubuh Yeol tanpa kata. Sedangkan semua anggota perguruan menunggunya tanpa suara dan membiarkannya berkabung.33Please respect copyright.PENANAH2rJOfLAQJ
Benarkah kamu melakukannya pada Pemimpin Jung?33Please respect copyright.PENANAxm62F0l01Z
Benarkah begitu, Yeol?33Please respect copyright.PENANAl1juxq3nY1
Hyun Tak memandangi tubuh Yeol dengan pandangan kosong.
"Tuan Muda Hyun Tak, apa yang harus kita lakukan pada tubuhnya?"
Pertanyaan itu membuat Hyun Tak berdiri perlahan lalu menghadap semua anggota perguruan.
"Makamkan, dengan selayaknya." Jawab Hyun Tak berusaha menegarkan hatinya.
"Bagaimana dengan Tuan Muda Kim Young dan Nyonya, Tuan Muda Hyun Tak? Mereka pasti akan marah jika mengetahuinya." Balas laki-laki yang bertanya tadi.
Hyun Tak kembali menoleh, memandangi tubuh Yeol tanpa kata.
"Untuk apa kita memakamkan nya dengan layak? Dia pengkhianat! Dia sudah mengkhianati kita semua!" sambar laki-laki lain yang penuh emosi.
Hyun Tak kesal mendengarnya. Kemudian, dia memindahkan pandangannya menuju laki-laki tersebut.
"Ya, dia memang seorang pengkhianat. Pengkhianat yang menghabiskan seumur hidupnya bersama kita. Berjuang bersama kita. Berbagi keluh kesah bersama kita. Bahkan pernah mengorbankan nyawanya untuk kita." Balas Hyun Tak dengan mata yang merah. Kemarahan bercampur kehilangan menyatu menjadi satu.
Mereka semua pun bungkam.33Please respect copyright.PENANAZFC9342uTd
Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. 33Please respect copyright.PENANAZvT9atXJMW
Tidak lama kemudian, mereka bergerak memindahkan tubuh Yeol untuk dimakamkan.33Please respect copyright.PENANAbA3UIwAuXo
"Tuan Muda Hyun Tak, saya minta maaf." Seru laki-laki yang tadi berbicara penuh emosi. Dia tampak sudah tenang dan menyadari emosinya yang berlebihan.
Hyun Tak hanya menatap laki-laki itu tanpa kata.
33Please respect copyright.PENANAfNpxEzlJWM
33Please respect copyright.PENANAJAILG9CIja
33Please respect copyright.PENANAjw0Iue38em
Bersambung...
33Please respect copyright.PENANAKFedrRyRRP
33Please respect copyright.PENANA48XWkTkkKF
33Please respect copyright.PENANAc547kKLcWm
33Please respect copyright.PENANAN8gRznDqXI


