Ara berjalan keluar ruangan setelah mengganti pakaiannya dengan yang baru. Di luar Pengawal Soo Ho sudah lebih dulu selesai mengganti pakaiannya dan sedang menunggu tepat di depan ruangan yang digunakan oleh Selir Choi mengganti pakaiannya dibantu Dayang Hye Won. Pengawal Soo Ho menoleh saat mendengar suara langkah kaki Ara menuju tempatnya.
"Tidak bisakah kamu lepas itu kain penutup wajah dan topi jeramimu? Yang Mulia Selir Choi bahkan tidak memakainya. Itu mencolok dan mengundang perhatian, juga bisa membuat perjalanan kita terhambat." Kata Pengawal Soo Ho mengawali.
"Menurutmu lebih mencolok yang mana?" tanya Ara balik sambil melihat ke arah pintu ruangan yang digunakan oleh Selir Choi mengganti pakaian, terbuka.
Selir Choi memakai pakaian mewahnya yang lainnya lagi dengan warna merah yang mendominasinya, sama seperti sebelumnya, hanya saja agak berbeda pola. Pengawal Soo Ho tidak bisa menjawab balik dan memutuskan untuk diam. Terlihat Selir Choi dan Dayang Hye Won mendekati tempat Pengawal Soo Ho dan Ara berada. 35Please respect copyright.PENANAtvwa7yUR3W
"Aku tidak diperbolehkan menanggalkan pakaianku, di mana pun aku berada. Bagaimana denganmu?" Selir Choi mengeluarkan suara sambil melihat ke arah Ara. "Aku mendengar pembicaraan kalian," tambahnya lalu menoleh ke arah Pengawal Soo Ho.
"Saya minta maaf, Yang Mulia." Pengawal Soo Ho pun membungkukkan badannya.
"Ini adalah salah satu dari hal pribadiku. Anda sudah menerima persyaratannya. Anda pasti tahu apa yang akan terjadi jika Anda melanggarnya, bukan?" respon Ara menantang sambil menggerakkan pedang naga yang dibawanya di tangan kirinya.
Pengawal Soo Ho menarik pedangnya dari sarungnya dengan cepat dan diarahkan di leher Ara. Sedangkan Ara menatap manik mata Pengawal Soo Ho tanpa takut dan dengan tatapan yang tajam.
"Yang Mulia, dia sangat lancang. Dia tahu identitas Anda tetapi dia tetap bersikap demikian. Tolong beri perintah Anda, Yang Mulia." Kata Pengawal Soo Ho tampak sangat marah.
Ara mendengus dan memicingkan mata mendengarnya.
Wah, pengawalnya sensitif banget.35Please respect copyright.PENANAoHt4Erq2Sy
Dia lebih patuh dari yang gua lihat di tv-tv. 35Please respect copyright.PENANAyhV9QgKVMP
Pengawal Ratu Ji Soo di drama Hwarang aja kalah kalau dibandingkan sama yang ini.35Please respect copyright.PENANAQ4muUpErQx
"Kau, tidak akan pernah bisa menyentuhku. Tanganku lebih cepat dari pada pedangmu. Lakukan saja jika kau mampu." Potong Ara dingin sambil menatap Pengawal Soo Ho tajam. Tajamnya melebihi bilah pedang yang kini berada di lehernya.
"Kamu terlalu percaya diri," balas Pengawal Soo Ho tidak gentar.
Suasana di antara keduanya pun semakin menegang.
Diam-diam Ara tersenyum menyeringai di bali kain penutup wajahnya. Pengawal Soo Ho benar-benar berbeda dengan para pengawal istana yang dilihatnya di televisi. Itu tentu saja sempat membuat nyalinya menciut, tetapi berhasil disembunyikannya dan menampakkan tatapan tajam yang tidak terkalahkan.
"Tentu saja, karena aku tidak bisa mati di negeri ini." Jawab Ara.
Gua lahir bukan di sini.35Please respect copyright.PENANAxldfwurKjl
Meninggal pun pasti bukan di sini.35Please respect copyright.PENANAeKwwxZJ4IN
Pengawal Soo Ho, Selir Choi, dan Dayang Hye Won bersamaan menatap Ara dengan pandangan aneh mendengar jawaban Ara.
"Kamu, siapa sebenarnya dirimu?" Selir Choi langsung waspada.
Kewaspadaan itu bisa dirasakan Ara dengan jelas. Dia harus segera mengambil tindakan sebelum membahayakan nyawanya sendiri.
"Terima kasih, sudah memberiku pakaian baru. Aku kembalikan pedang ini pada Anda. Begitu juga dengan perjanjiannya. Kita akan berpisah di sini. Aku punya tujuan lain. Selamat tinggal." Ara segera mengakhiri pertemuan mereka sambil menyerahkan pedang naga yang ada di tangannya pada Selir Choi. Waktunya tidak banyak. Dia harus segera pergi ke Hanyang.
Selir Choi merasa berat menerima perpisahan itu.
Mata Selir Choi menatap mata Ara. Dilihatnya manik mata Ara yang tampak hitam pekat dengan bola mata kecil. Mata itu tampak begitu berani dan murni. Tidak ada keraguan, hanya ada keyakinan. Mata Ara juga memiliki lipatan kelopak mata yang begitu jelas. Berbeda dengan kebanyakan rakyat di negerinya. Lipatan kelopak mata itu jelas indah. Meskipun bulu matanya tidak lentik dan alis matanya agak tipis, tetapi keindahan itu masih bisa dilihatnya dengan jelas.
"Kamu memiliki mata yang indah dan aku yakin itu bisa dipercaya," ujar Selir Choi, mengagumi bentuk mata Ara yang hanya bisa dilihatnya.
"Yang Mulia..." seru Pengawal Soo Ho merasa khawatir.
Selir Choi mengalihkan pandangannya menuju Pengawal Soo Ho.
"Dengan kemampuannya, dia bisa membunuhku sejak awal jika dia memang berniat begitu." Potong Selir Choi lalu memegang tangan Pengawal Soo Ho untuk menyingkirkan pedangnya yang berada di leher Ara.
Pengawal Soo Ho pun menyingkirkan pedangnya dari leher Ara secara perlahan.
"Aku sudah bilang, pedang itu milikmu sekarang. Beritahu aku, ke mana tujuanmu?" tanya Selir Choi pada Ara.
Perlahan Ara menurunkan pedang naganya.
"Hanyang," jawab Ara pendek.
"Ada apa perlu apa ke Hanyang?" Selir Chi bertanya kembali.
Ara bungkam sesaat.
Gua nggak boleh kasih petunjuk.35Please respect copyright.PENANAM2f0xoJrdj
Gua nggak boleh percaya siapa pun, kecuali orang yang tahu tentang benda itu.35Please respect copyright.PENANADhnxMLHyEj
"Mencari orang," akhirnya Ara menjawab dengan jujur.
Sial.35Please respect copyright.PENANAtI23AEtEDU
Kenapa gua nggak bohong aja, sih!35Please respect copyright.PENANAxGV07XLVWu
Ara mengumpat dirinya sendiri.
"Aku bisa membantumu. Siapa yang kamu cari? Ayah? Ibu? Atau kerabat lain?" Selir Choi tampak antusias.
"Salah satunya," Ara mulai bingung.
"Baiklah, sebutkan nama orang yang kamu cari. Asalnya dari mana. Atau apa statusnya di Hanyang." Lanjut Selir Choi.
Sial. Sial. Sial.35Please respect copyright.PENANAzjL9e48WJZ
Gua harus jawab apa?35Please respect copyright.PENANA8tizVxfGSr
Ara kembali bungkam. Dia semakin kebingungan.
"Yang Mulia, sejak awal dia tidak bisa memberitahukan namanya, asalnya dari mana, bahkan dia menutupi wajahnya. Saya ragu untuk mempercayainya." Potong Pengawal Soo Ho yang tetap waspada.
Selir Choi mengangkat salah satu tangannya untuk memerintahkan Pengawal Soo Ho diam. Sedangkan matanya masih menatap Ara yang juga menatapnya balik dengan berani meskipun tidak tahu harus menjawab apa.
"Tidak apa-apa kamu tidak menjawabnya jika kamu memang tidak bisa melakukannya. Tapi, kamu pasti ingat, kan? Apa yang aku janjikan padamu saat aku memberimu pedang itu?" mata Selir Choi mengarah pada pedang naga yang ada di tangan Ara.
Ara menganggukkan kepala.
"Anda akan mengabulkan semua permintaanku, dengan aku berada di sisi Anda." Sebut Ara dengan ingatan tajamnya.35Please respect copyright.PENANA8I3dgnKHIq
"Kalau begitu, tetaplah berada di sisiku. Aku akan mencari siapa pun yang kamu cari saat kita tiba di Hanyang. Tetapi sebelumnya ada tempat yang harus aku singgahi." Kata Selir Choi mencoba memperdaya Ara agar tetap berada di sisinya.
Wah, boleh juga ini Selir.35Please respect copyright.PENANAVyo8KXMEXx
Berhasil goblikin gua.35Please respect copyright.PENANAjvX133oQJh
Tentu Ara menyadarinya.
"Jika mataku bisa membuat Anda percaya, apa yang bisa membuat aku percaya dari Anda?" Ara tidak gentar.
"Pedang yang ada di tanganmu," jawab Selir Choi percaya diri.
Briliant...
Ara tersenyum tipis di balik kain penutup wajahnya.
"Baiklah," Ara pun menyetujuinya.
35Please respect copyright.PENANA2DCIL0l4ck
35Please respect copyright.PENANAKW5XJKmtIS
35Please respect copyright.PENANAnoWiuCAjHv
Bersambung...
35Please respect copyright.PENANAlQyjL8SQTx
35Please respect copyright.PENANAJYvMyzd3zu
35Please respect copyright.PENANAgv8E0DjFze
35Please respect copyright.PENANAFFonu3kTB8


