Ji Soo berdiri di depan sebuah pohon tua yang tumbuh tanpa dedaunan. Pohon itu tetap berdiri tegak di sana sejak dia menaburkan abu suaminya 20 tahun yang lalu. Tidak ada yang berbeda dengan pohon itu hingga sekarang. Pohon itu dijadikannya makam suaminya. Setiap hari menjelang fajar, dia selalu datang ke sana. Dia ingin memastikan suaminya tidak merasa kesepian.
"Kau masih sama seprti 20 tahun lalu, menyedihkan."
Suara seorang perempuan dari arah belakang itu membuat Ji Soo menegang di tempatnya. Dia mengenali suara itu. Terdengar suara langkah kaki mendekatinya.
"Pohon ini akan selamanya kesepian," lanjut pemilik suara yang sudah berdiri tepat di samping Ji Soo.
Perlahan Ji Soo menoleh, melihat pemilik suara tersebut. Seorang perempuan cantik sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Kamu masih tetap sama seperti 20 tahun lalu juga. Tidak berubah, tidak menua sama sekali, dan tetap cantik seperti dulu." Ucap Ji Soo memberanikan diri.
Perempuan cantik itu tersenyum lebar.
"Kau seharusnya menaburkan abu perempuan itu di tempat yang sama juga agar suamimu tidak lagi merasa kesepian," perempuan cantik itu memberitahu.
Ji Soo menahan amarahnya dalam diam.
"Terima takdirmu, Ji Soo." Ujar perempuan cantik itu dengan tenang.
Ji Soo berusaha menelan ludahnya sendiri dengan kesulitan.
"Sejal awal memang perempuan itu yang dipilihnya, bukan dirimu." Lanjut perempuan cantik itu yang tetap tersenyum. Senyum indah di wajah cantiknya tidak selaras dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
JI Soo menggenggam erat genggaman kedua tangannya berusaha keras menahan amarahnya yang siap meledak.
"Kau mengatakan hal yang sama seperti dulu. Sebenarnya, kamu siapa? Ada perlu apa kau kemari?" Ji Soo mengalihkan cepat.
"Aku sudah memberitahumu juga waktu itu," jawab perempuan cantik itu sambil mengumbar senyumnya. Kali ini senyumnya tampak mengerikan. "Aku datang untuk memberimu nasib baik," lanjutnya dengan tenang.
Ji Soo menatap perempuan cantik itu dalam diam. Perempuan cantik itu balik menatap Ji Soo sambil memamerkan senyum indahnya yang mampu menarik perhatian para kaum laki-laki meskipun hanya memandangnya sekilas.
"Bagaimana jika aku menolaknya?' Ji Soo berusaha menyembunyikan rasa takut yang mulai menjalari seluruh tubuhnya.
Perempuan cantik itu menggerakkan jemarinya perlahan. Hembusan angin tiba-tiba menerpa wajah Ji Soo dan membuatnya merinding. Terdengar langkah kaki beberapa orang yang mendekat. Ji Soo membalikkan badan untuk melihat. Matanya kontan terbuka lebar melihat empat laki-laki membawa pengawal pribadinya yang tampak tidak sadarkan diri. Ketakutan pun memburunya.
"Apa yang kamu lakukan?!" ketakutan di wajah Ji Soo tampak jelas.
Perempuan cantik itu tersenyum senang melihat ketakutan di wajah Ji Soo lalu menatap Ji Soo lekat.
"Itu tergantung pada jawabanmu," jawab perempuan cantik itu yang tampak bengis dengan senyum lebar yang dipamerkan nya.
38Please respect copyright.PENANAC41quFkIle
^ ^ ^
38Please respect copyright.PENANACd3O4EbeKC
Kepala dayang Song terburu-buru menuju kamar pribadi raja sambil diikuti beberapa dayang istana lainnya yang bertugas melayani raja. Sesampainya di sana, dilihatnya raja sedang marah dengan situasi ruangan yang berantakan.
"Yang Mula Raja memanggil saya?" Kepala Dayang Song mengeluarkan suara dengan hati-hati.
"Di mana Selir Choi?" tanya raja yang sedang menahan amarahnya. "Di mana?!" bentaknya saat tidak mendapatkan jawaban.
"Saya minta maaf, Yang Mulia." Kepala Dayang song membungkukkan tubuhnya lalu menoleh ke samping, memberikan perintah pada semua dayang agar pergi meninggalkan ruangan.
Setelah di dalam ruangan hanya ada raja, Kepala Dayang Song, dan seorang kasim, barulah Kepala Dayang Song memberanikan diri untuk bicara.
"Maaf, Yang Mulia Raja. Saat ini Yang Mulia Selir Choi sedang tidak bisa menemui Yang Mulia Raja," jelas Kepala Dayang Song memberanikan diri.
"Ada apa? Apa dia sakit?" tanya raja.
Kepala Dayang Song ragu untuk menggelengkan kepala.
"Apa dia baik-baik saja?" raja tampak khawatir.
Kepala Dayang Song tetap menundukkan kepala. Melihat Kepala Dayang Song hanya tertunduk, raja berjalan mendekati tempat Kepala Dayang Song.
"Katakan," kata raja dengan nada tenang.
Kepala Dayang Song tetap menunduk dan mulai berbicara.
"Untuk sementara waktu, Yang Mulia Selir Choi tidak bisa menemui Yang Mulai Raja. Maafkan saya tidak mampu menahan kepergiannya. Mohon bantuannya, Yang Mulia Raja." Kepala Dayang Song akhirnya berhasil memberitahu raja.
"Jadi maksudmu, dia sedang tidak ada di dalam istana? Begitu?" tanya raja memastikan.
Kepala Dayang Song semakin menundukkan kepala meng-iya-kan.
Raja membalikkan badan dan menggeram marah. Tidak lama kemudian, dia kembali menatap Kepala Dayang Song yang masih menundukkan kepala.
"Kau tahu dia sedang hamil muda, tapi kau membiarkannya pergi?" raja tidak habis pikir. "KAU GILA?!" bentak raja keras, meluapkan kemarahannya.
"Yang Mulia Raja..." kasim bersuara mengingatkan raja agar tenang.
Raja memijat kedua pelipisnya dengan frustasi.
"Yang Mulia Raja harus tenang. Jika ada yang mendengarnya..." kata kasim yang langsung dipotong oleh raja sebelum dia selesai dengan kalimatnya.
"Aku tahu!" sambar raja cepat.
Raja melangkah menjauh dari hadapan Kepala Dayang Song dan berdiri gontai membelakanginya.
"Siapa yang pergi bersamanya?" tanya raja dengan nada yang dipaksakan tenang.
"Pengawal Soo Ho bersama beberapa prajurit dan dayang, Yang Mulia Raja." Jawab Kepala Dayang Song cepat.
"Ada tabib yang pergi bersamanya, kan?" lanjut raja.
"Maaf, Yang Mulia Raja. Saya tidak bisa mengikutsertakan tabib istana, karena itu dapat membahayakan keselamatan Yang Mulia Selir Choi." Kali ini Kepala Dayang Song menjawab dengan lebih cepat.
Raja memegangi tengkuknya yang terasa berat mendengar jawaban itu.
"Apa yang dilakukan Kepala Dayang Song ada benarnya, Yang Mulia Raja. Anda lebih tahu itu." Kasim menambahi.
"Aku sudah membuat kesalahan dengan mengasingkan Permaisuri Min. Aku tidak bisa kehilangan Selir Choi juga," kata raja dengan lemah.
"Jangan terlalu khawatir, Yang Mulia Raja. Yang Mulia Selir Choi pasti akan kembali, begitu juga dengan Yang Mulia Permaisuri Min. Yang Mulia Selir Choi pasti bisa membantu." Seru Kepala Dayang Song berusaha menenangkan raja.
Raja menghembuskan napas berat.
Ketika itu, terdengar ada langkah kaki orang mendekati ruangan lalu seorang dayang memberitahukan bahwa ada Permaisuri Jang datang.
"lakukanlah apa yang harus dilakukan. Selalu beritahu aku kabarnya." Perintah raja melihat ke arah Kepala Dayang Song dan kasim secara bergantian.
Keduanya membungkukkan badan mematuhinya.
"Baik, Yang Mulia Raja." Jawab Kepala Dayang Song.
"Baik, Yang Mulia Raja." Jawab kasim.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
Permaisuri Jang memasuki ruangan dengan anggun. Dia memamerkan senyum indahnya seperti biasa. Kecantikannya yang menjadi buah bibir memang begitu nyata. Setiap perempuan yang melihatnya pasti iri dengan kecantikannya. Kemudian, dia membungkukkan badan memberi hormat pada raja.
"Saya akan siapkan tehnya, Yang Mulia Raja." Kata Kepala Dayang Song yang segera undur diri.
"Iya," balas raja yang berusaha menetralkan ekspresi wajahnya.
Kepala Dayang Song meninggalkan ruangan setelah membungkukkan badan. Saat itu, Permaisuri Jang menoleh melihat Kepala Dayang song yang masih menunduk untuk keluar ruangan dengan pandangan lekat.
Terjadi sesuatu...
Batin Permaisuri Jang menebaknya.
"Saya akan menemani Anda, Yang Mulia Raja." Ujar Permaisuri Jang.
"Silahkan," jawab raja pendek.
Permaisuri Jang mengumbar senyum indahnya sambil memperhatikan raja yang agak bersikap dingin. Ini memang bukan yang kali pertama sejak kehadiran Selir Choi. Awalnya dia berpikir dengan menyingkirkan Ratu Min yang kini turun menjadi Permaisuri Min dan diasingkan, hidupnya akan tenang menggantikan posisi tersebut. Namun, itu tidak berlangsung lama.
Kehadiran Selir Choi membuatnya terganggu dan dia harus mengambil tindakan lagi.
Ternyata Anda sudah tahu, Yang Mulia Raja. 38Please respect copyright.PENANAFJpDlPX5uc
Tetapi, Anda terlambat.38Please respect copyright.PENANAdWGBxz5GLD
Aku sudah bergerak satu langkah lebih dulu, atau mungkin dua langkah.38Please respect copyright.PENANA1x3xIt6yRD
Aku akan memastikan nya tidak pernah bisa kembali ke istana. Keduanya, Selir Choi ataupun Permaisuri Min.38Please respect copyright.PENANATwZf46MfDb
Dengan begitu, Putraku - Yi Yun, yang akan meneruskan tahtamu.
Senyum Permaisuri Jang semakin lebar saat raja melihat ke arahnya.
38Please respect copyright.PENANAeQMvzx6iy6
38Please respect copyright.PENANAatF693zfND
Bersambung...
38Please respect copyright.PENANAcGJtfAhzly
38Please respect copyright.PENANA3w2hZ5JfZU
38Please respect copyright.PENANAWPRVTxd9rN
38Please respect copyright.PENANADz6GppilIv


