Ara meraih pedang naga yang diberikan oleh perempuan berpakaian mewah dengan tenang lalu membalikkan badan dan langsung mengayunkan nya ke leher lawannya yang sudah ada di belakangnya. Detik berikutnya, pedang naganya melayang menuju leher lawan yang lainnya. Dia tidak membiarkan siapa pun bisa menyentuh perempuan berpakaian mewah, pemilik dari pedang nada yang sekarang ada di tangannya.
Si laki-laki mengajarinya harus mengenai sasaran dalam sekali gerakan. Tidak boleh menyiksa sebuah nyawa. Jika kamu ingin merenggutnya, maka renggut lah sekali gerakan. Nyawa itu sendiri berharga. Nyawa siapa pun itu. Entah orang baik atau jahat. Nyawa tetaplah nyawa.
Satu demi satu lawan berguguran di tanah tanpa nyawa. Mengetahui jumlahnya semakin berkurang, beberapa dari mereka ada yang melarikan diri. Ara membiarkannya, meskipun dia tahu suatu hari nanti mereka akan datang kembali dengan membawa lebih banyak pasukan untuk membalas dendam.
Setelah semua lawan terkapar di tanah tanpa nyawa dan beberapa dari mereka melarikan diri, laki-laki bangsawan dan perempuan amatir mendekati perempuan berpakaian mewah yang berada di dekat Ara.
"Yang Mulia, Anda baik-baik saja?" tanya perempuan amatir yang begitu khawatir.
Yang Mulia...?
Perempuan berpakaian mewah luruh ke tanah dengan lemas.
Perempuan amatir dan laki-laki bangsawan langsung memeganginya. Mereka berdua tampak seperti abdi yang patuh. Perempuan berpakaian mewah memberikan sarung pedang naga yang disimpannya kepada Ara dengan masih bersimpuh di tanah.
"Mulai sekarang pedang itu milikmu. Jagalah pedang itu seperti kamu menjaga nyawaku." Kata perempuan itu memerintah layaknya seorang ratu.
"Aku berada di sisi Anda bukan berarti melindungi nyawa Anda, karena jika seseorang bertanggung jawab atas sebuah nyawa, maka dia tidak memiliki nyawa. Aku tidak ingin melakukannya. Nyawaku milikku, nyawa Anda milik Anda." Ara membalas dengan berani dan dingin.
Laki-laki bangsawan langsung berdiri dan mengayunkan pedangnya tepat di leher Ara dan berhenti di sana.
"Lancang sekali kamu!" laki-laki bangsawan marah.
Ara hanya melihat ujung pedang yang berada di lehernya lalu menatap laki-laki bangsawan itu sambil tersenyum menyeringai di balik kain penutup wajahnya. Itu memang tidak bisa dilihat orang lain tetapi pendangan matanya menunjukkannya dengan jelas.
"Cukup, Pengawal Soo Ho." Perintah perempuan berpakaian mewah.
Soo Ho?36Please respect copyright.PENANAsKmDEoKby4
Nama itu nggak asing.36Please respect copyright.PENANAXcblTikkWz
Oh! Soo Ho! Hwarang Soo Ho!36Please respect copyright.PENANA5vzqazC9F6
Otak gua dangkal banget, cuman nonton drama kolosal Korea Hwarang. Kalau tahu bakal tersesat di sini begini, gua nonton drama kolosal Korea yang lainnya, deh.
Perlahan Pengawal Soo Ho menyingkirkan pedangnya dari leher Ara.
"Kata-katamu indah. Aku menyukainya. Aku maafkan kelancanganmu." Seru perempuan berpakaian mewah sambil tersenyum.
Apa-apaan???
"Yang Mulia," perempuan amatir menegur perempuan berpakaian mewah pelan.
"Tidak apa-apa, Dayang Hye Won." Balas perempuan berpakaian mewah dengan tenang.
Pengawal.36Please respect copyright.PENANANyDRvtUsM5
Dayang.
"Boleh aku tanya, Anda siapa?" tanya Ara langsung.
"Tentu, aku adalah Selir Choi Suk Bin, selir dari Raja Sukjong."
Selir?36Please respect copyright.PENANA7x1G3pKRRK
Kayaknya dia selir udah tingkat atas sampai-sampai punya pengawal dan dayang segala. Eh, tapi bukannya semua selir raja emang punya pengawal dan dayang, ya?36Please respect copyright.PENANApPgHsw0OjH
Tapi kalau dia selir, kenapa punya pedang naga?36Please respect copyright.PENANAFw3f6I9Byu
Apa dia selir kesayangan raja?36Please respect copyright.PENANAp9ie2p8QJw
Ah, tahu, deh...
"Bagaimana denganmu? Kamu siapa? Siapa namamu?" tanya Selir Choi balik.
Pertanyaan itu membuat Ara bungkam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Jika dia salah menjawab bisa melayang nyawanya sampai di sini. Tidak ada ide yang lewat dipikirannya saat ini.
"Kenapa tidak dijawab?" sambar Pengawal Soo Ho. "Apa kamu juga dari Klan Jang?!" lanjutnya sambil menegang dan siap mengayunkan pedangnya lagi.
Klan Jang?36Please respect copyright.PENANAohfhnCsgQZ
Itu siapa lagi?
Melihat ekspresi yang menegangkan membuat Ara bisa memastikan jika Klan Jang adalah musuhnya. Meskipun dia sendiri tidak tahu siapa mereka.
"Bukan," jawab Ara pendek.
"Lalu, kamu siapa? Ada alasan kenapa kamu tidak menjawabnya?" tanya Selir Choi mengubah pertanyaannya.
"Iya, saya punya alasannya sendiri dan saya tidak bisa memberitahukannya pada kalian. Tapi jangan khawatir, itu tidak ada hubungannya dengan kalian." Jelas Ara dengan percaya diri. Dia berusaha menyembunyikan keraguannya.
Mereka bertiga menatap Ara secara bersamaan.
36Please respect copyright.PENANAmEHYZlhrXD
^ ^ ^
36Please respect copyright.PENANAU0CKzui92D
Hari masih gelap.
Kim Young duduk di tempat tidurnya. Tidurnya yang tidak nyenyak membuatnya cepat bangun bahkan di hari masih gelap. Rasa lelah yang menetap di tubuhnya setelah menghabiskan waktu cukup lama mencari Pemimpin Jung tidak mampu membuatnya istirahat dengan tenang. Pikirannya sendiri lebih sibuk dibandingkan tubuhnya.
Dia terpaksa bergerak meninggalkan tempat tidurnya lalu mengambil sebuah kotak. Dibukanya kotak itu dan diperhatikannya dalam diam.
Putri Yi Ara, sepupuku yang dianggap sudah mati, kau di mana sekarang?36Please respect copyright.PENANAXdt4vhH4G5
Kau baik-baik saja, kan?36Please respect copyright.PENANAaCq4QujrLN
Sepertinya Paman Han Gi Sung berusaha melatihmu dengan keras. Kau bahkan bisa melenyapkan Pemimpin Jung.
Matanya tidak berkedip memandangi isi kotak tersebut.
Sebenarnya apa saja yang kau lakukan? Hingga memiliki benda aneh seperti ini.
Diraihnya jaket denim yang berada di tumpukan paling atas. Dia pun menggenggamnya erat, menahan kemarahannya yang memuncak.
Larilah sejauh yang kau bisa lakukan, karena hingga ke ujung dunia pun aku pasti akan menemukanmu, Putri Yi Ara.
Dilemparkannya jaket denim itu kembali ke dalam kotak dengan keras. Dia ingin meluapkan kemarahannya dengan segera. Napasnya memburu karena amarah yang tertahan. Kakinya berjalan keluar kamar. Diambilnya napas sebanyak-banyaknya lalu dihembuskan nya sekaligus. Ketika itu, matanya melihat sosok ibunya bersama pengawal pribadi ibunya keluar dari perguruan.
"Ibu, bersabarlah." Ucapnya pelan sambil menatap kepergian ibunya.
Dia sudah terbiasa melihat ibunya pergi meninggalkan perguruan saat waktu mendekati fajar. Itu menjadi rutinitas ibunya sejak kematian ayahnya. Setiap kali melihat ibunya melakukan rutinitasnya tersebut, perasaannya ikut tersakiti. Andai hari itu ayahnya tidak pergi, mungkin sekarang ayahnya masih hidup bersamanya dan ibunya di perguruan. Sejak kejadian hari itu pun dia juga mulai membenci Hyun Tak.
Kejadian hari itu merenggut segalanya.
Kejadian hari itu harus dibayar tuntas hingga ke akar-akarnya. Dia sudah berjanji dan akan menepatinya. Perjuangannya hampir mencapai akar. Dia tidak sabar menunggu hingga mencabut akar yang paling terkecil dan semuanya selesai.
36Please respect copyright.PENANA6djSR4PVMq
36Please respect copyright.PENANArvp6d3eoxw
36Please respect copyright.PENANAeTPzNahh7K
Bersambung...
36Please respect copyright.PENANAXnBAgsviKe
36Please respect copyright.PENANAnidBckVfr2
36Please respect copyright.PENANA7W1TwKSPP5
36Please respect copyright.PENANAwX3YfWjbld


