Luluhnya hati ustadzah
753Please respect copyright.PENANAamBzpnWKuc
Setelah kunjungan kedua, chat antara aku dan Ustadzah Nayla semakin sering. Awalnya masih berkutat seputar Rina — laporan hafalan juz, kondisi kesehatan adikku. Tapi perlahan, batas-batas yang tadinya tegas mulai mengabur.
753Please respect copyright.PENANABC2M6SvduY
Malam itu, pukul 22.47, aku berbaring di kamar dengan lampu dimatikan. Hanya cahaya layar ponsel yang menerangi wajahku. Jantungku berdegup kencang saat mengetik pesan yang lebih pribadi dari biasanya.
753Please respect copyright.PENANAreisspmLDq
“Assalamualaikum Ustadzah Nayla. Belum tidur? Hari ini pasti capek sekali mengawasi puluhan santri. Semoga Ustadzah istirahat yang cukup.”
753Please respect copyright.PENANAZiPfW2y7IK
Balasan datang setelah 12 menit. Centang biru langsung muncul.
753Please respect copyright.PENANAmtFhjaxOjW
“Waalaikumsalam Mas Reza. Belum tidur, masih koreksi hafalan santri malam ini. Iya capek, tapi alhamdulillah biasa saja. Mas sendiri belum tidur juga?”
753Please respect copyright.PENANANZ59pnQrzl
Ini pertama kalinya dia balas dengan pertanyaan tentang keadaanku. Aku tersenyum lebar di kegelapan kamar dan menjawab dengan cepat.
753Please respect copyright.PENANAqumaCKdLUM
“Dari tadi sulit tidur. Mikirin Rina… dan mikirin Ustadzah juga. Entah kenapa, obrolan kita kemarin terus terngiang.”
753Please respect copyright.PENANAHadmAKPl0j
Nayla mengetik cukup lama. Aku bisa membayangkan jari lentiknya ragu di atas layar ponsel di kamar pengasuh yang sunyi.
753Please respect copyright.PENANA3HjP1PO92D
“Mas… tolong jangan seperti itu. Saya ustadzah di sini. Chat kita sebaiknya tetap untuk urusan adiknya saja.”
753Please respect copyright.PENANAwkxLEe3oxB
Meski katanya demikian, dia tidak berhenti membalas. Malah, sejak malam itu, Ustadzah Nayla mulai lebih sering membuka percakapan duluan, meski masih dengan kalimat formal dan sopan. Dia bercerita tentang santriwati yang bandel dan suka melanggar aturan malam, tentang betapa beratnya bangun pukul 03.00 setiap hari untuk mengawasi qiyamul lail, dan kadang curhat kecil bahwa sebagai ustadzah muda dia merasa harus selalu menjadi teladan sempurna di depan semua orang.
753Please respect copyright.PENANAYDzEk7mUe6
Seminggu kemudian, keberanianku semakin tumbuh. Aku memberanikan diri mengajak bicara di telepon.
753Please respect copyright.PENANAB1gMggyEk8
“Ustadzah, boleh saya telepon sebentar malam ini? Hanya ingin mendengar penjelasan langsung soal jadwal kunjungan Rina bulan depan, biar lebih jelas.”
753Please respect copyright.PENANA4jAQeS0YV5
Dia ragu sangat lama. Tanda “sedang mengetik…” muncul hampir tiga menit sebelum balasan masuk.
753Please respect copyright.PENANANAuzL9DJnC
“Sebentar saja ya Mas. Saya takut ketahuan. Pelan-pelan bicaranya.”
753Please respect copyright.PENANADvLmv6A8pn
Aku langsung menekan tombol panggil. Nada sambung berdering dua kali sebelum diangkat.
753Please respect copyright.PENANAPkVcajQ5NW
“Halo…” suaranya terdengar pelan, hampir berbisik. Suara lembut khasnya yang biasa digunakan saat mengajar terdengar lebih dekat dan intim.
753Please respect copyright.PENANAJ610EwAGT4
“Halo Ustadzah Nayla. Maaf mengganggu malam-malam seperti ini.”
753Please respect copyright.PENANAqvgLVP9kzT
“T-tidak apa-apa, Mas,” jawabnya gugup. Aku bisa mendengar suara angin kecil dan gemeresik kain di latar belakang. “Saya sedang di kamar pengasuh. Santri sudah tidur. Bicara pelan-pelan ya…”
753Please respect copyright.PENANANx92eQ31sg
Kami berbicara hampir 18 menit. Awalnya murni soal Rina, tapi aku sengaja menggeser pembicaraan ke kehidupannya. Nayla bercerita bahwa dia alumni Pondok Al-Fatah, hafalannya bagus, dan langsung ditawari menjadi ustadzah pengasuhnya karena akhlak dan kesabarannya. Dia jarang sekali keluar pondok, hampir tidak mengetahui suasana luar, dan merasa hidupnya monoton antara asrama, musholla, kelas, dan tugas.
753Please respect copyright.PENANAz61BNj8ycw
"Kadang saya iri lihat orang-orang di luar, Mas. Bebas pergi ke mana saja, makan apa saja. Tapi saya sudah memilih jalan ini sejak kecil," katanya pelan, ada nada lelah yang tersembunyi.
753Please respect copyright.PENANAa57XJaP7yv
Malam itu menjadi titik balik. Setelah telepon pertama, chat kami meledak. Nayla mulai mengirim pesan lebih panjang, bahkan sesekali mengirim voice note pendek dengan suara pelannya. Aku semakin berani memujinya secara halus.
753Please respect copyright.PENANAeoQhO8E08I
“Ustadzah sabar sekali mengurus banyak santri. Saya salut dan kagum. Pasti banyak yang iri sama kesabaran Ustadzah.”
753Please respect copyright.PENANAHfHQffsoap
“Mas bisa aja…” balasnya disertai emoji tersipu malu.
753Please respect copyright.PENANA5TetMiW2kW
Semakin hari, aku merasakan Ustadzah Nayla mulai luluh. Dia yang dulu tegas menjaga jarak kini sering membalas dengan cepat, bahkan memulai percakapan dengan “Mas Reza sudah makan malam?” atau “Hari ini Mas sibuk apa?”
753Please respect copyright.PENANAWq7EJKdNAD
Akhirnya, setelah hampir satu bulan obrolan yang semakin intens, aku memberanikan diri mengajaknya bertemu di luar pondok.
753Please respect copyright.PENANAqlpCbtg9Z0
"Ustadzah Nayla, bolehkah kita ketemu di luar suatu hari? Hanya ngobrol sebentar di tempat umum yang aman. Saya ingin mengenal Ustadzah lebih dekat, bukan hanya sebagai pengasuh adik saya."
753Please respect copyright.PENANAV7hDpX8yHD
Pesan itu kukirim pukul 23.15. Nayla tidak langsung membalas. Baru keesokan siangnya muncul pesan panjang darinya.
753Please respect copyright.PENANAUu46ffYS7w
“Mas Reza… saya takut sekali. Saya ustadzah. Kalau ketahuan oleh santri, ustadzah lain, atau Kyai, nama baik saya bisa hancur. Saya belum pernah bertemu laki-laki di luar seperti ini. Maaf ya…”
753Please respect copyright.PENANAv8HAnweWqq
Aku tidak menyerah. Selama tiga hari berturut-turut aku bujuk dia dengan sabar. Aku berjanji memilih tempat yang jauh dari kota pondok, hanya sebentar, dan akan sangat menjaga sopan santun serta jarak.
753Please respect copyright.PENANAwXcNMGxFRe
Pada Kamis sore, Nayla akhirnya mengirim pesan yang membuat dadaku bergetar hebat:
753Please respect copyright.PENANAxaNX04DpHc
“Ya sudah… tapi hanya sebentar ya Mas. Sabtu siang setelah jam mengajar selesai. Saya bisa keluar dengan alasan ada urusan keluarga. Kita ketemu di depan Mall Seruni pukul 14.00. Tolong jaga jarak dan jangan macam-macam.”
753Please respect copyright.PENANASgc9mfheIA
Saya langsung setuju dengan hati berbunga-bunga.
753Please respect copyright.PENANAayIN0Cr7E9
Sabtu siang
753Please respect copyright.PENANAxDfPvqdI1R
Aku tiba di depan Mall Seruni pukul 13.40. Memakai kemeja putih rapi, celana chino abu-abu, dan parfum segar. Jantungku berdegup kencang saat jarum jam terus bergerak. Pukul 14.05, sebuah angkot biru berhenti di pinggir jalan. Dari dalam turun seorang perempuan berkerudung segi empat krem muda, gamis hitam panjang yang longgar, dan kacamata bulat tipis. Itu Ustadzah Nayla.
753Please respect copyright.PENANAvNncl9UjpI
Dia terlihat sangat gugup. Matanya memindai sekitar dengan cepat, mencari-cari aku. Saat melihat kami bertemu, dia tersenyum kecil tapi tegang. Aku melayang pelan dan mendekat tanpa terburu-buru.
753Please respect copyright.PENANAA0Xs1QO3dK
“Assalamualaikum Ustadzah Nayla.”
753Please respect copyright.PENANA82JCIP2Nvd
“Waalaikumsalam Mas Reza,” jawabnya hampir berbisik, suara bergetar. “Kita mencari tempat duduk yang agak sepi ya… Saya takut ada yang mengenali.”
753Please respect copyright.PENANAXWVdrPsZYR
Kami berjalan masuk ke mall dengan jarak aman. Nayla berjalan sedikit di belakangku, kepala agak tertunduk. Meski gamis hitamnya longgar, kain itu tetap tidak mampu menyembunyikan lekuk tubuhnya yang indah. Saat dia melangkah, pinggulnya bergoyang pelan secara alami, dada yang penuh dan montok naik-turun mengikuti napas gugupnya. Aroma sabun colek khas pondok samar tercium dari tubuhnya.
753Please respect copyright.PENANAgpFHzwADcm
Kami memilih sebuah kafe kecil di lantai dua yang sepi. Duduk di pojok paling belakang, jauh dari keramaian. Nayla memesan es teh manis, aku kopi hitam.
753Please respect copyright.PENANA7KkNoh3hR6
Awalnya pembicaraan masih kaku dan penuh kecanggungan. Dia sering melirik ke sekeliling, tangannya memegang gelas es teh dengan kedua tangan seolah-olah sedang mencari pegangan.
753Please respect copyright.PENANAP69PTr4dhM
“Mas…saya benar-benar takut,” katanya pelan. "Ini pertama kalinya aku keluar seperti ini. Kalau ada yang tahu, aku bisa dikeluarkan dari pondok."
753Please respect copyright.PENANAeHisOFId1g
Aku tersenyum menenangkan. “Saya janji hanya ngobrol saja, Ustadzah. Saya suka sekali berbicara dengan Ustadzah. Sejak pertama kali bertemu di meja penerimaan santri, saya sudah merasakan Ustadzah berbeda.”
753Please respect copyright.PENANAZZ6IZzZRv4
Pipinya merona merah di balik kerudung. Dia menunduk, jari-jari lentiknya memainkan sedotan es teh.
753Please respect copyright.PENANAi2qEeh7WpA
Perlahan percakapan mulai cair. Nayla bercerita tentang masa kecilnya di desa yang sederhana, mimpi menjadi ustadzah sejak kecil, kesulitan menjaga nama baik di lingkungan pondok, dan betapa beratnya menjadi panutan bagi ratusan santriwati. Saya mendengarkan dengan serius, sesekali memberi tanggapan yang menjadikannya semakin nyaman.
753Please respect copyright.PENANAfUkOobxy70
Saat percakapan mencapai puncak keakraban, aku memberanikan diri menyatakan perasaan.
753Please respect copyright.PENANAnl4M4jWbKn
"Ustadzah Nayla… sebenarnya sejak pertama kali melihat Ustadzah, saya sudah suka. Ustadzah cantik, manis, sabar, dan punya akhlak yang baik. Saya tahu ini sulit dan berisiko, tapi saya serius. Saya ingin dekat dengan Ustadzah."
753Please respect copyright.PENANAMs4vata3fx
Nayla langsung membeku. Mata di balik kacamata melebar, wajahnya memerah hingga ke telinga. Tangannya gemetar memegang gelas.
753Please respect copyright.PENANASKSTae5vrG
"Mas...jangan seperti itu. Saya ustadzah. Nanti bagaimana kalau ketahuan? Santri, ustadzah lain, Kyai... semuanya bisa marah besar. Saya belum pernah mengalami hal seperti ini."
753Please respect copyright.PENANAuAlc2ze9dy
Tapi dibalik kata-kata penolakan itu, aku melihat keraguan dan kilatan perasaan yang sama di matanya. Ada getaran yang tak bisa disembunyikan.
753Please respect copyright.PENANAqWURVimYtK
Aku menunggu dengan sabar. Akhirnya, setelah diam hampir satu menit penuh, Nayla berbicara dengan suara yang sangat pelan, hampir tak terdengar:
753Please respect copyright.PENANA7ULYfiGSC9
"…Saya juga suka sama Mas Reza. Dari pandangan pertama waktu penerimaan santri. Tapi saya takut sekali, Mas. Ini semua terlalu cepat dan sangat berbahaya."
753Please respect copyright.PENANAhj5mRxIlxU
Senyum kecil yang muncul di bibir tipisnya setelah mengatakan itu membuat hatiku meledak bahagia. Meski belum resmi menerima, aku tahu Ustadzah Nayla sudah mulai luluh.
753Please respect copyright.PENANAP1zVj1XDlx
Kami berpisah pukul 16.00. Aku mengantarnya sampai depan mall dan membantu mencari angkot yang aman. Sebelum naik, Nayla melihat sebentar dengan mata yang masih gugup tapi ada kehangatan baru.
753Please respect copyright.PENANA7yRe3tytMZ
"Mas… hati-hati di jalan. Dan terima kasih hari ini. Saya senang… meski takut.”
753Please respect copyright.PENANA2mEQy4w0K1
Angkot berangkat perlahan. Aku berdiri di trotoar sambil tersenyum lebar, dada terasa penuh.
753Please respect copyright.PENANAjQpVCrBL3q
Malam harinya, chat kami lebih intens dari sebelumnya.
753Please respect copyright.PENANAuu555LrAuE
Ustadzah Nayla: “Mas… tadi saya takut sekali sepanjang jalan. Tapi saya juga senang.”
753Please respect copyright.PENANALNcVs5OsrJ
Aku: “Saya juga sangat senang, Ustadzah. Terima kasih sudah ketemu. Besok saya berani rencana jenguk Rina lagi. Setelah itu… bolehkah kita ketemu lagi?”
753Please respect copyright.PENANAaSgq6XKqxB
Ustadzah Nayla: “InsyaAllah…tapi pelan-pelan ya Mas. Saya masih sangat takut. Jangan buru-buru.”
753Please respect copyright.PENANAKm70v75iQC
Aku tahu hubungan kami sudah tidak bisa lagi disebut sekadar kakak santri dan ustadzah pengasuh. Ada benih perasaan yang tumbuh kuat di antara kami. Meski Nayla masih diliputi ketakutan, aku bisa merasakan bahwa dia juga mulai menginginkan kedekatan ini.753Please respect copyright.PENANAjXP0t6OGxe


