Kunjungan Kedua
759Please respect copyright.PENANAltgmqYdTuw
Dua hari setelah kunjungan pertama, aku benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan Ustadzah Nayla. Nomornya sudah tersimpan di ponsel dengan nama “Ustadzah Nayla pondok”. Setiap malam aku membuka chat kami yang masih sangat kaku dan formal, membaca ulang pesan-pesannya yang pendek. Suaranya yang lembut, senyum kecilnya, dan lekuk tubuh yang samar di balik gamis terus membayangi.
759Please respect copyright.PENANAO4uws0rhgD
Pagi itu aku duduk di teras rumah sambil menyesap kopi hitam pekat. Jam menunjukkan pukul 07.10. Aku membayangkan rutinitas di pondok: santriwati bangun pukul 03.30 untuk qiyamul lail, shalat Subuh berjamaah, tadarus Al-Qur’an, lalu sarapan sederhana. Ustadzah Nayla pasti berjalan pelan di koridor asrama blok C dengan gamis longgarnya, suaranya yang sabar membangunkan santri yang masih mengantuk.
759Please respect copyright.PENANAnUC1mVaTh8
Jari-jariku ragu di atas layar ponsel. Sudah kuhapus dua draft pesan. Akhirnya aku memberanikan diri:
759Please respect copyright.PENANADLUQ0PoZrF
“Assalamualaikum Ustadzah Nayla. Ini Reza, kakak Rina. Maaf mengganggu pagi-pagi. Bagaimana kabar adik saya hari ini? Apakah dia sudah mulai betah?”
759Please respect copyright.PENANAAUMxcKXWt4
Pesan terkirim pukul 07.15. Balasan datang hampir 40 menit kemudian.
759Please respect copyright.PENANAD099umYXeH
“Waalaikumsalam Mas Reza. Alhamdulillah Rina baik-baik saja. Pagi tadi dia ikut tadarus dengan lancar. Sudah mulai terbiasa bangun pagi. Terima kasih perhatiannya.”
759Please respect copyright.PENANAkJfCa4uBYT
Ada emoji senyum kecil di akhir kalimat. Hatiku langsung berbunga. Aku balas lagi:
759Please respect copyright.PENANAGWgh20QfI5
“Syukurlah, Ustadzah. Kalau ada kesulitan tolong kabari ya. Saya rencana mau jenguk lagi akhir pekan ini, boleh?”
759Please respect copyright.PENANAj2q6jnZVNS
Kali ini balasannya agak lama. Baru muncul sore harinya:
759Please respect copyright.PENANAb61BBIkk1z
“Boleh Mas, tapi kunjungan tetap di ruang tamu asrama saja. Jam 08.00-17.00”
759Please respect copyright.PENANAPeLyhJX8wo
Aku tersenyum lebar. Akhir pekan ini aku mempersiapkan segalanya dengan lebih matang. Bukan hanya makanan biasa. Aku membeli sekotak brownies cokelat premium dari bakery terkenal, apel, susu almond, keripik buah, madu murni, dan beberapa camilan lainnya. Aku juga sengaja memakai kemeja polo biru navy yang pas di badan, celana chino abu gelap, dan parfum favorit yang segar maskulin.
759Please respect copyright.PENANArld9BXTzUL
Sabtu pagi, pukul 07.30
759Please respect copyright.PENANAp6JA8e8JeU
Avanza hitamku sudah parkir di lapangan yang mulai ramai. Cuaca cerah, angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan bunga melati. Banyak keluarga lain yang datang menjenguk. Aku mengambil dua tas besar dan berjalan menuju pos jaga asrama putri blok C.
759Please respect copyright.PENANAZzfCp0y0Zi
Satpam tersenyum mengenalku. “Lagi jenguk Rina ya Mas? Silakan tunggu di ruang tamu. Saya kabari Ustadzah Nayla.”
759Please respect copyright.PENANAtEaNNWBVYA
Aku duduk di bangku kayu panjang di teras ruang tamu. Dari situ aku bisa mengamati aktivitas pagi asrama: santriwati berjalan beriringan menuju kelas dengan gamis seragam biru tua dan kerudung rapi, suara lantunan Al-Qur’an samar dari masjid, dan aroma masakan sederhana dari dapur asrama.
759Please respect copyright.PENANAbyge5ivisC
Tak lama kemudian, sosok yang kutunggu muncul. Ustadzah Nayla berjalan mendekat dengan langkah anggun dan tenang. Hari ini dia memakai gamis hijau sage muda yang lembut jatuh di tubuhnya, dipadukan kerudung segi empat krem muda yang rapi. Gamisnya sedikit lebih pas di bagian atas dibandingkan kunjungan sebelumnya. Saat angin bertiup pelan, kain menempel di dada yang penuh dan montok, pinggang ramping, serta pinggul yang bulat kencang. Kacamata bulat tipisnya membuat wajah ovalnya terlihat semakin manis dan cerdas. Bibir tipisnya yang merah alami tersenyum kecil.
759Please respect copyright.PENANAkC0gmXk5Ep
“Assalamualaikum Mas Reza,” sapanya lembut.
759Please respect copyright.PENANAyE5jolYDbb
“Waalaikumsalam Ustadzah Nayla,” jawabku sambil berdiri. “Maaf datang pagi-pagi sekali.”
759Please respect copyright.PENANAjn5PFxJ2wP
Dia menggeleng pelan, pipinya sedikit merona. “Tidak apa-apa. Rina sudah saya telepon. Mari masuk ke ruang tamu.”
759Please respect copyright.PENANAVPnZkuGKsJ
Kami berjalan menyusuri koridor blok C. Lantai keramik terasa sejuk. Beberapa pintu kamar terbuka menampilkan santriwati yang sedang merapikan kasur susun atau membaca kitab. Hampir semua yang lewat melirik kami — terutama ke arahku — lalu cepat menunduk saat melihat Ustadzah Nayla. Aku mencium aroma pewangi lembut dari tubuhnya. Gamis hijau mudanya bergoyang pelan mengikuti langkah, pinggulnya bergerak alami feminin. Aku berusaha menjaga pandangan, tapi sulit.
759Please respect copyright.PENANAu7CRdDTgQW
Di ruang tamu yang sama — sofa hijau tua, kaligrafi ayat Kursi, cahaya matahari pagi masuk lembut — kami duduk. Tak lama kemudian Rina datang berlari kecil.
759Please respect copyright.PENANAZKStr9tp6D
“Mas!!” serunya senang sambil memelukku sebentar.
759Please respect copyright.PENANA1oCbznVDa1
Aku tas membuka dan menyerahkan semua makanan. Rina berdecak girang melihat brownies dan apel-apel besar itu. "Makasih Mas! Banyak banget!"
759Please respect copyright.PENANAY5aijyQ0Z9
Sambil Rina makan dengan lahap, aku dan Ustadzah Nayla kolektif. Diskusi kali ini terasa lebih cair dibandingkan kunjungan pertama.
759Please respect copyright.PENANABybzpkWEcE
“Rina termasuk santri yang rajin, Mas Reza,” kata Ustadzah Nayla sambil tersenyum ke arah adikku. “Hafalannya lancar, dan dia sudah mulai akrab dengan teman sekamar. Tapi terkadang masih kangen rumah.
759Please respect copyright.PENANAVVuzpkjjPP
“Wajar, Ustadzah. Ini pertama kalinya dia jauh dari keluarga,” balasku. “Terima kasih banyak sudah memperhatikannya.”
759Please respect copyright.PENANAINgJVm8Y9i
Obrolan berlanjut lebih dalam. Ustadzah Nayla bercerita tentang rutinitasnya sebagai pengasuh: bangun jam 03.00 untuk menjaga qiyamul lail, menjaga kebersihan asrama, mengajar ngaji sore, dan kadang mengisi pengajian malam. Suaranya tetap lembut, tapi aku bisa mendengar sedikit kelelahan di baliknya.
759Please respect copyright.PENANAA5iVICiDA7
Saat dia berbicara, aku memperhatikan setiap detail: bulu mata yang panjang, pipi tembem, jari-jari lentik yang sesekali memungkinkan kerudung, dan leher putih halus yang sesekali terlihat saat kerudung agak longgar. Gamis hijau mudanya naik-turun perlahan mengikuti napas, menampilkan lekuk dada yang penuh.
759Please respect copyright.PENANAKHcrOJYWoP
Rina akhirnya pamit kembali ke kelas karena ada jadwal pelajaran. Tinggal aku dan Ustadzah Nayla berdua di ruang tamu. Suasana tiba-tiba terasa lebih intim. Hanya ada suara angin dan detak jantung kami.
759Please respect copyright.PENANAVK4rFJQukw
“Ustadzah sudah berapa lama mengajar di sini?” tanyaku pelan.
759Please respect copyright.PENANA5clJVncDV3
“Lima bulan resmi sebagai pengasuh. Tapi saya alumni pondok ini, Mas. Enam tahun jadi santri dulu,” jawabnya sambil tersenyum kecil.
759Please respect copyright.PENANAIL6GhjWR6B
“Berat ya, apalagi sebagai ustadzah muda yang belum menikah?”
759Please respect copyright.PENANAlABLtLs3FQ
Pipinya merona lagi. Dia menunduk sebentar. “Alhamdulillah biasa saja. Yang penting ikhlas. Kadang capek juga kalau ada santri yang bandel.”
759Please respect copyright.PENANABAelPdyt36
Aku memberanikan diri. “Ustadzah… bolehkah saya bertanya yang agak pribadi?”
759Please respect copyright.PENANAS4AEnDKu8W
Dia memandang melalui kacamatanya, ragu. “Apa, Mas?”
759Please respect copyright.PENANAceq4tLWSkc
“Saya lihat Ustadzah selalu sopan dan menjaga jarak di chat. Tapi hari ini rasanya lebih ramah. Apakah saya terlalu mengganggu?”
759Please respect copyright.PENANAkTuvzmWxd3
Dia tersenyum tipis, jari-jarinya memainkan ujung kerudung. "Tidak mengganggu kok. Tapi tolong jaga batasannya ya, Mas Reza. Saya ustadzah di sini. Banyak yang memperhatikan."
759Please respect copyright.PENANAKDPK1yGAVp
Aku mengangguk paham. Sebelum pulang, saya bertanya lagi, “Kalau saya chat Ustadzah tentang hal-hal ringan di luar urusan Rina… boleh tidak? Misalnya tanya kabar atau curhat ringan.”
759Please respect copyright.PENANAyBGpbDMGBV
Dia diam cukup lama. Akhirnya pelan menjawab, “Untuk sekarang… hanya yang penting dulu ya, Mas. Saya takut jadi bahan omongan santri atau ustadzah lain.”
759Please respect copyright.PENANAO1BvgZpZNF
Saat aku berdiri hendak pulang, dia menambahkan dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik:
759Please respect copyright.PENANAmPazxSnoIH
“Tapi… terima kasih sudah datang menjenguk Rina lagi. Browniesnya enak sekali.”
759Please respect copyright.PENANA6PwFt1lf8C
Senyumnya kali ini lebih lembut, lebih personal, dan ada sedikit malu di matanya.
759Please respect copyright.PENANAxu1JrjNfR7
Sepanjang perjalanan pulang, aku terus tersenyum. Malam harinya, setelah Isya, aku memberanikan diri mengirim pesan:
759Please respect copyright.PENANAP2Snmvrikh
"Assalamualaikum Ustadzah Nayla. Sudah istirahat? Terima kasih hari ini diskusinya menyenangkan."
759Please respect copyright.PENANAqy4t3fr6W6
Balasan datang pukul 21.47:
759Please respect copyright.PENANApXmWd1FC84
“Waalaikumsalam Mas Reza. Sudah mau tidur. Sama-sama.”
759Please respect copyright.PENANAMJERQ9sXCD
Lalu dia menambahkan:
759Please respect copyright.PENANAUDZsr6hQ1Q
“Semoga Rina betah ya… dan Mas Reza juga sehat selalu.”
759Please respect copyright.PENANASTyOLj2sMf
Itu menjadi awal perubahan. Chat kami perlahan semakin intens. Awalnya masih formal, tapi Ustadzah Nayla mulai membalas lebih cepat. Dia bercerita tentang hari-harinya yang melelahkan, santri yang sulit diatur, rasa capek mengawasi qiyamul lail, dan kadang curhat kecil tentang betapa sepinya malam di kamar pengasuh. Aku juga mulai berbagi tentang pekerjaanku, tentang rindu adik, dan pujian halus tentang kesabaran dan kelembutannya.
759Please respect copyright.PENANABvItLF1PKV
Aku tahu ini berbahaya.
Dia ustadzah di Pondok Pesantren Al-Fatah.
Aku kakak santrinya.
759Please respect copyright.PENANAYmBPoj2HUQ
Tapi semakin hari, semakin aku tidak bisa berhenti membayangkan senyumannya, lekuk tubuhnya di balik gamis, dan suara lembutnya yang pasti akan terdengar sangat manis jika suatu hari batas-batas itu sedikit melonggar.759Please respect copyright.PENANAQuyLhcZi6f


