Kedekatan yang Berbahaya
731Please respect copyright.PENANAJjCB0C4qkD
Malam itu, pukul 21.45, aku duduk di tepi kasur tipis di kamar pengasuh blok C dengan ponsel masih hangat di pangkuan. Kamar kecil ini terasa lebih sempit dari biasanya. Hanya ada lampu belajar kecil yang menyala redup, menghasilkan dinding putih sederhana dan rak kecil berisi kitab-kitab kuning. Jantungku masih berdegup kencang sejak sore tadi, seolah belum mau tenang meski sudah berjam-jam berlalu.
731Please respect copyright.PENANAb0wl5iypjR
Chat terakhir dari Reza masih terbuka di layar:
731Please respect copyright.PENANAe2UZYCDA3m
"Terima kasih hari ini Ustadzah Nayla. Saya benar-benar senang bisa ngobrol lama dengan kamu. Senyum Ustadzah di mall tadi terus terbayang. Hati-hati di jalan pulang ya, semoga sampai pondok dengan selamat."
731Please respect copyright.PENANAXIUdUENuSe
Aku membaca ulang pesan itu berkali-kali. Pipiku terasa panas, seperti ada api kecil yang menyala di dada. “Ya Allah… apa yang sedang aku lakukan?” bisikku pelan sambil memejamkan mata, tangan kananku memegang kerudung yang sudah kulepas.
731Please respect copyright.PENANACaS0HVbwp7
Hari ini adalah hari pertama dalam 24 tahun kehidupan keluar dari pondok hanya untuk bertemu dengan seorang laki-laki yang bukan mahram. Bukan ayah, bukan saudara kandung, melainkan Reza — kakak dari Rina, salah satu santriwati yang aku asuh. Aku masih ingat jelas bagaimana dia melihat di kafe tadi. Mata hitamnya yang tajam tapi hangat, suaranya yang berat lembut saat mengatakan “Saya suka sama Ustadzah Nayla”, dan senyuman kecil yang membuat lesung pipinya muncul. Rasanya ada sesuatu yang bergetar hebat di dada ini. Takut, nyaman, tapi juga… senang. Senang yang terlarang.
731Please respect copyright.PENANAz0Cftbn5n8
Aku menghela nafas panjang, mencoba mengusir bayangan gamis hitamku yang tertiup angin saat berjalan di mall, dan bagaimana aku sempat melihat Reza melirik sekilas sebelum cepat menunduk sopan. Aku tahu dia memperhatikan tubuhku, meski aku berusaha menyembunyikannya di balik gamis longgar.
731Please respect copyright.PENANAuLz4meOFN9
Keesokan paginya, rutinitas pondok berjalan seperti biasa, tapi aku merasa berbeda. Pukul 03.50 aku sudah mengelilingi asrama blok C dengan gamis abu-abu tua dan kerudung krem. Suara adzan Subuh masih menggema saat aku mengetuk pintu-pintu kamar.
731Please respect copyright.PENANAeW5D1lRXHQ
Sampai di kamar nomor 12, Rina sudah bangun dan duduk di kasur susun bawah sambil mengikat kerudung tidurnya yang agak miring.
731Please respect copyright.PENANA8s2GJ44KAZ
“ustadzah Nayla pagi…” sapanya dengan suara ketakutan tapi cerah.
731Please respect copyright.PENANAOxtNweaqZv
Aku tersenyum dan duduk di sampingnya, mengusap lembut kepalanya. "Pagi, Rina. Hari ini kita tambah hafalan juz 29 ya? Kakakmu pasti bangga kalau kamu rajin."
731Please respect copyright.PENANA7g1W5t2rSU
Nama “kakakmu” langsung membuat wajah Rina bersinar. "Iya! Mas Reza kemarin bilang mau jenguk lagi minggu depan. Ustadzah Nayla senang nggak kalau Mas Reza datang?"
731Please respect copyright.PENANAPJ4ugwOTWv
Pertanyaan polos itu membuat jantungku tersentak keras. Aku berusaha menjaga suara tetap tenang. “ustadzah Nayla kan pengasuhnya, jadi senang dong kalau kakakmu datang menjenguk.”
731Please respect copyright.PENANAJUBJKOWyYx
Sejak pertemuan di mall kemarin, aku memang sengaja semakin dekat dengan Rina. Setiap pagi setelah shalat Subuh, aku mampir ke ruang pengasuh untuk belajar pribadi. Aku menyajikan susu kotak, roti tawar dengan selai, dan bahkan bolu pisang yang kubeli dari kantin. Kadang-kadang aku membiarkan tidur siang sebentar di kasurku kalau dia kangen rumah.
731Please respect copyright.PENANABaOMozMPkI
Kedekatan ini tidak luput dari perhatian orang lain.
731Please respect copyright.PENANAqd8T7gKmE8
Siang harinya, setelah shalat Dzuhur, aku mendengar bisik-bisik yang semakin jelas dari sekelompok santriwati senior yang duduk di bawah pohon jambu dekat halaman asrama.
731Please respect copyright.PENANAkqVFfBGQY1
“Lihat tuh, Rina lagi-lagi dipanggil ustadzah Nayla. Kemarin dapet jatah belajar privat, hari ini lagi. Padahal santri baru lain jarang banget.”
731Please respect copyright.PENANAYLFPmoMhMQ
"Iya, aneh. Ustadzah Nayla dulu tegas dan adil. Kok sekarang Rina kayak anak emas? Pasti ada apa-apanya."
731Please respect copyright.PENANARj6ffFd2vu
“Gosipnya kakak Rina yang ganteng itu… Tinggi, kulit sawo matang bersih, senyumnya bikin meleleh katanya. Beberapa yang lihat waktu anterin Rina masuk pondok masih ingat.”
731Please respect copyright.PENANAzNUS0SFhtc
Aku yang kebetulan lewat di belakang mereka berhenti sejenak. Dada terasa sesak. Mereka benar. Aku semakin dekat dengan Rina karena Reza. Aku ingin tahu cerita tentang dia, apa yang dia suka, bagaimana dia berbicara tentang aku. Tapi mendengar gosip itu menyebutkan terang-terangan membuat lututku lemas.
731Please respect copyright.PENANAq9YjNyoTjv
Sore harinya, Ustadzah Lina mendatangiku di ruang pengasuh saat aku sedang menyusun jadwal hafalan.
731Please respect copyright.PENANAHo2c6IDq29
“Nayla, kamu harus hati-hati sekarang,” katanya sambil menutup pintu rapat. Suaranya rendah tapi tegas. "Gosip sudah sampai ke ustadzah senior. Mereka bilang kamu terlalu istimewakan Rina. Ada yang curiga kamu punya motif lain. Kalau Kyai tahu, bisa-bisa kamu dipindah blok atau lebih parah."
731Please respect copyright.PENANATKaDhhcTh7
Aku menunduk, mencengkeram ujung gamis hijau sage yang kukunakan hari itu. “Saya cuma kasihan, ustadzah… Rina masih baru, sering kangen rumah.”
731Please respect copyright.PENANAbp4sgpiYV2
Ustadzah Lina tersenyum miring. "Kasihan atau karena kakaknya? Kemarin kamu izin keluar urusan keluarga. Tapi pulangnya mukamu merah-merah dan senyum-senyum sendiri. Siapa yang ketemu, Nayla?"
731Please respect copyright.PENANAwL6RGHFG4Q
Aku diam, tidak berani menjawab. Wajahku memanas.
731Please respect copyright.PENANAcJMzIMyhwZ
“Ingat, Nayla,” lanjutnya pelan. "Kamu cantik, masih muda, badan juga bagus. Wajar ada yang naksir. Tapi ini pondok. Satu kesalahan bisa menghancurkan masa depanmu sebagai ustadzah. Jangan sampai gara-gara cowok, karirmu rusak."
731Please respect copyright.PENANAEhSAhJqAPf
Kata-kata itu menusuk. Malam harinya, setelah semua santri tidur, aku duduk sendirian di kamar. Angin malam bertiup pelan melalui jendela kecil. Ponsel bergetar. Obrolan dari Reza.
731Please respect copyright.PENANAtCNEyNTYgT
“Ustadzah Nayla, Rina bilang hari ini ustadzah Nayla ajarin privat lagi. Terima kasih banyak ya. Saya senang Ustadzah perhatian sama adik saya. Ustadzah sehat?”
731Please respect copyright.PENANAWXuMscnmgH
Aku membalas dengan jari gemetar:
731Please respect copyright.PENANAQEvYfpJAdJ
"Iya Mas. Rina pintar dan rajin. Mas Reza sudah sehat? Sudah makan malam?"
731Please respect copyright.PENANAhP8Iq8tL8m
Obrolan kami mengalir lagi, semakin lama semakin pribadi. Reza mulai berani memuji.
731Please respect copyright.PENANAKVxqHdAJn7
“Ustadzah Nayla baik sekali. Saya suka suara Ustadzah yang lembut. Dan saya suka senyum Ustadzah waktu di mall kemarin… manis banget.”
731Please respect copyright.PENANASTCP9peQlf
Pipiku terasa panas. Aku tahu ini salah, tapi aku terus membalas sampai hampir pukul 23.00. Pesan terakhirnya:
731Please respect copyright.PENANALyeRZNj4Xd
“Besok aku rencana jenguk Rina. Bolehkah kita ketemu sebentar lagi setelahnya, Ustadzah?”
731Please respect copyright.PENANAIY6zhcsPED
Aku menatap layar lama sekali sebelum mengetik:
731Please respect copyright.PENANATP1x5UxAJQ
“InsyaAllah Mas…tapi hati-hati ya.Banyak yang memperhatikan di sini.”
731Please respect copyright.PENANAdcXNkj85PZ
Setelah mengirim, aku memeluk lutut dan menunduk. Air mata kecil menggenang. Saya tahu ini berbahaya. Aku semakin dekat dengan Rina bukan murni karena tugas, tapi karena ingin mendengar cerita tentang Reza. Aku memberikan perhatian ekstra, makanan tambahan, waktu khusus — semua itu membuat santri lain iri dan bergosip. Ustadzah senior mulai curiga. Tapi setiap kali mengingat wajah Reza, suaranya, dan seterusnya… aku tidak bisa berhenti.
731Please respect copyright.PENANA4VAmVFhinx
Dua hari kemudian, kedekatanku dengan Rina semakin terlihat. Saat jam istirahat siang, aku membawa Rina ke ruang pengasuh lagi. Kami duduk berdua sambil makan bolu pisang.
731Please respect copyright.PENANAi25r8vVuPl
“ustadzah Nayla… Mas Reza suka cerita tentang ustadzah loh,” kata Rina polos.
731Please respect copyright.PENANAq7czNlHF0z
Aku tersentak. “Cerita apa, Rin?”
731Please respect copyright.PENANAhNeg0kNCbb
“Katanya ustadzah Nayla cantik, baik, sabar banget ngurus santri. Mas Reza bilang dia salut dan… suka sama ustadzah Nayla.”
731Please respect copyright.PENANAHp4iDW3b4U
Wajahku memerah hebat. Aku cepat mengalihkan topik, tapi dalam hati ada kebahagiaan kecil yang manis dan terlarang.
731Please respect copyright.PENANAcw1jxarCH2
Namun, kebahagiaan itu cepat memudar saat sore harinya beberapa santriwati senior mendatangi Rina di halaman. Aku mengamati dari kejauhan.
731Please respect copyright.PENANADWAMvAz6cj
"Rina, kamu kok deket banget sama Bu Nayla? Bisa jatah apa? Kasih apa ke Bu Nayla biar dimanja gitu?"
731Please respect copyright.PENANAMK3FVvCW63
Rina terlihat bingung. Aku langsung mendekat dan membubarkan mereka dengan tegas. Tapi berisik dan bisik-bisik tetap menyebar seperti api di rumputan kering.
731Please respect copyright.PENANAoT6FbtbRXd
Malam harinya, aku berbaring sambil memegang ponsel. Chat Reza masuk lagi, penuh perhatian dan pujian halus. Aku sendiri tersenyum di kegelapan.
731Please respect copyright.PENANAZdWl8LKvvj
Aku, Ustadzah Nayla, yang dulu selalu menjaga jarak dan menjunjung tinggi aturan pondok, kini sudah melangkah terlalu dalam. Kedekatanku dengan Rina hanyalah pintu masuk. Dan perasaanku terhadap Reza semakin kuat setiap hari.
731Please respect copyright.PENANAiiu9oHuR2C
Ini berbahaya.
Ini salah.
731Please respect copyright.PENANAf1uqTKJVGI
Aku memejamkan mata, membayangkan senyum Reza di mall kemarin731Please respect copyright.PENANApAaiaxqa06


