Seketika itu juga, kucuran air hangat kembali menyembur keluar dengan deras saat aku mengangkat shower itu tinggi-tinggi di atas kepala Dewi. Aku mengarahkan pancuran air hangat itu dengan gerakan yang sangat hati-hati dan perlahan, membasuh helai demi helai rambut hitam Dewi yang menempel di wajahnya yang masih tertunduk pasrah di dalam dekapan saudara perempuannya. Sinta tetap diam memeluknya, membiarkan beberapa kucuran air ikut membasahi tubuh seksinya, memperpanjang momen keintiman terselubung di antara kami bertiga di dalam kamar mandi yang berkabut pagi itu.
89Please respect copyright.PENANA5zlWigRIcI
"Tahanlah sedikit lebih lama..." bisik Sinta dengan nada yang teramat lembut, menepuk perlahan bahu polos Dewi yang masih menyembunyikan wajahnya di balik ceruk lehernya.
89Please respect copyright.PENANAHFPOl2wnp5
Suara tangisan kecil yang rapuh masih terdengar samar dari bibir Dewi, berupa isakan halus yang tenggelam di antara derasnya gemericik air yang membasahi tubuh mereka berdua.
89Please respect copyright.PENANAe023kjuB0X
Aku tertegun, memaku pandanganku pada mereka dengan raut wajah yang mendadak diselimuti kecemasan mendalam. Keringat dingin mulai mengucur di pelipis dan leherku, berbaur dengan uap air hangat yang memenuhi kamar mandi. Rasa bersalah dan kebingungan psikologis berkecamuk di dalam dadaku, membuat tenggorokanku terasa kering seketika hingga aku terpaksa menelan ludah dengan susah payah demi meredakan debaran jantungku yang mendadak berpacu tidak beraturan.
89Please respect copyright.PENANALSedNWxutm
Kucuran air dari shower yang kupegang terus mengalir deras, membasahi kaus putih polos yang dikenakan Sinta hingga benar-benar basah kuyup dan melekat ketat pada kulitnya. Kain tipis yang transparan itu menyingkapkan lekuk payudaranya yang luar biasa besar dan padat dengan sangat lugas tanpa ada penghalang sehelai benang pun di dalamnya. Bentuk dadanya yang montok menyembul penuh, terekspos begitu nyata di depan mataku yang berada dalam jarak sedekat ini.
89Please respect copyright.PENANAJjtyPjS9x3
Apa yang aku lakukan...
89Please respect copyright.PENANAND4zKfdZ6j
Pikiran itu mendadak melintas di dalam benakku, memicu gejolak rahasia yang tak terbendung. Sensasi panas yang aneh menjalar dengan cepat dari dada hingga ke bawah perutku, menyulut reaksi biologis yang menghentak nuraniku. Reaksi tubuhku menegang sempurna di balik celana pendek merah tua; kejantananku mendadak mengeras dengan sangat cepat di luar kendali pikiran sehatku. Wajahku langsung merona merah pekat, menyadari gejolak tubuh yang sangat tidak pantas di tengah situasi dramatis ini.
89Please respect copyright.PENANAw5lQmSKtlw
Di balik kaus putih Sinta yang basah kuyup, belahan payudara besarnya tampak semakin menonjol ke depan seiring dengan napasnya yang teratur. Pemandangan sensual yang begitu provokatif itu seolah terus mengunci fokus duniaku, menguji batas pertahanan psikologisku yang kian menipis.
89Please respect copyright.PENANA3fXBVUqpdY
Ini akan jadi malapetaka jika terlihat oleh Sinta ataupun Dewi...
89Please respect copyright.PENANAAxxam9jy9m
Gagasan mengerikan itu membuatku refleks memutar tubuh dengan cepat, memunggungi mereka berdua sembari tangan kananku masih memegang gagang shower tinggi-tinggi. Dengan gerakan yang tergesa-gesa, aku menyembunyikan bagian depan tubuhku, memastikan tonjolan tegang di balik celana pendek merah tua tidak tertangkap oleh pandangan siapa pun. Aku mematung dengan napas yang tersengal-sengal menahan syahwat liar di dalam dada.
89Please respect copyright.PENANAg0J7yxuZbC
Tepat di balik punggung tegapku, sebuah senyuman tipis penuh arti perlahan terukir di bibir Sinta. Dia mendongakkan kepalanya yang berambut hitam disanggul rapi, menatap lurus ke arah pinggul dan celanaku dengan tatapan mata yang sayu namun menyiratkan sebuah kemenangan dingin, menyadari sepenuhnya riak gairah yang baru saja dia sulut di dalam diriku.
89Please respect copyright.PENANAd9Q3y53JLO
Di balik kain katun kaus oblong hitamku, keringat dingin mengalir melewati tengkuk seiring dengan detak jantungku yang kian memburu liar.
89Please respect copyright.PENANAxLo4PggH03
... ini seharusnya tidak boleh terjadi...
89Please respect copyright.PENANADleMoNdnBD
Sebuah pemikiran berkecamuk di dalam benakku, beresonansi dengan rasa bersalah yang teramat dalam terhadap istriku. Pandanganku lurus menatap ubin keramik dinding kamar mandi yang putih bersih, mencoba mengunci fokus psikologisku agar tidak terjerumus lebih jauh ke dalam fantasi erotis yang salah alamat ini.
89Please respect copyright.PENANAQ3Ya6ZEEf1
Aku menggerakkan tangan untuk memutar tuas besi keran di dinding dengan cepat, memutus aliran air hingga semburan dari kepala pancuran langsung berhenti seketika, menyisakan keheningan yang canggung di antara kami bertiga di dalam ruangan yang masih diselimuti uap hangat.
89Please respect copyright.PENANA38bHQ7BlMw
"Oh, sudah bersih," gumamku pelan dengan nada suara yang sedikit serak, berusaha mencairkan ketegangan yang menghimpit dada.
89Please respect copyright.PENANA5ae9bMRk7M
Aku menurunkan lengan, membiarkan gagang shower putih itu kembali bersandar di dudukannya dengan bunyi klik yang pelan. Sambil tetap menjaga posisi tubuhku agar tidak menghadap ke arah mereka, aku menghela napas pendek yang tertahan.
89Please respect copyright.PENANAi1C4hcrePH
"Dewi, apa kau merasa lebih baik setelah selesai mandi?" tanyaku lembut sembari sedikit memiringkan kepala, namun jawaban yang kuterima hanyalah suara isakan kecil yang kembali tertahan keluar dari bibir Dewi yang tirus.
89Please respect copyright.PENANAksO1Z175mA
Di atas lantai marmer yang basah, Dewi masih duduk bersimpuh dalam kondisi telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Kulit tubuhnya yang putih mulus tampak merona kemerahan akibat siraman air hangat, diselimuti oleh sisa-sisa bulir air yang berkilau lembap.
89Please respect copyright.PENANAN3Ricx8gQP
Dewi menekuk kedua lututnya erat-erat, merapatkan paha mulusnya yang padat hingga saling menempel demi menyembunyikan area intimnya dari hawa dingin yang mendadak menyerang setelah aliran shower dimatikan. Kedua tangan kecilnya mencengkeram kuat-kuat permukaan kulit pahanya sendiri, membuat buku-buku jarinya memutih seiring dengan tubuh rampingnya yang gemetar hebat menerima sisa-sisa hantaman trauma psikologis semalam.
89Please respect copyright.PENANAX60Ey1uBJl
"Aku sangat... kedinginan," pekik Dewi histeris dengan suara melengking yang bergetar menahan tangis.
89Please respect copyright.PENANAzlaoSOQNNf
Dia melengkungkan punggung mulusnya yang putih ke depan, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lengan yang terlipat di atas lutut. Rambut hitamnya yang basah kuyup terurai berantakan, membingkai bahunya yang naik turun dengan tidak teratur akibat napas yang tersengal-sengal di dalam kegelapan dunianya.
89Please respect copyright.PENANAMv3RQpVme7
Melihat kondisinya yang begitu rapuh, Sinta yang berada di belakangnya langsung bergerak cekatan. Dia melangkah setapak di atas ubin yang basah, menyelimuti tubuh polos Dewi menggunakan selembar handuk kering berwarna putih bersih yang sudah disiapkan.
89Please respect copyright.PENANAqwcx4lRCYg
"Hadi, terima kasih," ucap Sinta dengan nada lembut yang teramat tenang.
89Please respect copyright.PENANAZ6CWpZejw3
Dia merangkul bahu polos Dewi dari belakang, membiarkan tubuh mungil adiknya bersandar lemas di dalam dekapannya. Kain kaus putih polos yang dikenakan Sinta kini ikut basah di bagian depan akibat sisa air dari tubuh Dewi, melekat ketat dan menonjolkan bentuk payudaranya yang luar biasa besar dan padat hingga belahan dadanya tercetak sangat jelas di balik kain transparan tersebut.
89Please respect copyright.PENANA93cRCUDJ3V
"Apa yang kau beri padaku itu sempurna," lanjut Sinta lagi sembari mendongakkan wajahnya yang mulus menatapku, seulas senyuman tipis yang sangat misterius dan penuh arti terukir di bibirnya yang kemerahan.
89Please respect copyright.PENANAM5rD0mxFdu
Aku menelan ludah dengan susah payah, merasakan desiran panas yang aneh kembali menjalar dengan cepat dari dada hingga ke bawah perutku. Hatiku terasa teriris oleh konflik batin yang menyiksa, mengaburkan garis batas antara rasa bersalah pada istriku dan gairah pria yang tak semestinya bangkit di situasi seperti ini.
89Please respect copyright.PENANAx48xyfGtnR
Aku buru-buru membalikkan badan, melangkah tergesa-gesa keluar dari kamar mandi yang pengap oleh uap air panas. Langkah kakiku yang tanpa alas terdengar bergesek kasar di atas lantai koridor saat aku berjalan gundah menuju ruang tengah apartemen mewah kami. Suasana dapur yang berada di sudut ruangan tampak sepi dan rapi, menyisakan deretan furnitur kayu modern dan peralatan memasak yang masih bersih di atas konter.
89Please respect copyright.PENANA3AYMMQUNBb
Aku berjalan mendekati sofa putih besar yang tertata rapi di dekat jendela kaca. Dengan gerakan yang lemas, aku mengempaskan seluruh beban tubuhku di atas permukaannya yang empuk, menyandarkan punggungku di antara bantal-bantal hijau tua yang tersebar di sana.
89Please respect copyright.PENANAQ8QJsRwZuv
Tidak seharusnya aku berpikir tentang Sinta sesering ini!
89Please respect copyright.PENANAxzsjR0ggQa
Sebuah kalimat penyesalan menjerit keras di dalam diriku, memotong aliran visual erotis yang terus berputar di kepala. Aku mengangkat tangan kanan, mencengkeram dahiku dengan erat sembari memejamkan mata rapat-rapat demi mengusir bayangan bentuk payudara besar kakak iparku yang menegang keras di balik kaus putih basah yang transparan tadi. Hubungan kekeluargaan kami yang rumit membuat setiap jengkal ketertarikan ini terasa seperti dosa besar yang tak termaafkan.
89Please respect copyright.PENANAyGycgIDzAJ
Sementara itu, di dalam kamar mandi Sinta perlahan menegakkan tubuhnya setelah selesai memandikan Dewi. Dia berdiri di depan cermin wastafel, mengulurkan kedua tangan ke bawah untuk meraih ujung kaus putih polosnya yang basah kuyup.
89Please respect copyright.PENANAAX1FWLmuqp
Dengan gerakan tangan yang menarik kain itu ke atas secara perlahan dan sensual, dia menyingkap kulit perutnya yang mulus dan ramping seiring dengan kaus tipis yang merosot naik. Dua gundukan payudaranya yang luar biasa besar, montok, dan padat menyembul penuh ke udara bebas tanpa sekat sehelai benang pun di dalamnya, memperlihatkan rona merah putingnya yang mengeras berkilau lembap akibat sisa uap air hangat. Rambut hitam lebatnya yang disanggul rapi memantulkan cahaya lampu saat dia sedikit menundukkan kepala, meratapi lekuk pinggulnya yang lebar serta paha mulusnya di balik celana pendek biru muda yang ketat.
89Please respect copyright.PENANAauay3esOst
Apa aku baik-baik saja pada akhirnya?
89Please respect copyright.PENANAGcfgpYgeKF
Pertanyaan kelam itu melintas di dalam benakku, beresonansi dengan detak jantungku yang masih berdegup kencang di atas sofa putih. Aku menatap kosong ke arah langit-langit apartemen dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan dan kebingungan yang mendalam. Keringat dingin mengucur di pelipis, berbaur dengan rasa canggung yang kian menghimpit kesadaranku.
89Please respect copyright.PENANA1N6U4YdeyO
Kenapa aku jadi tegang terhadapnya?
89Please respect copyright.PENANA5XCE9vNzXP
Rasa panik yang luar biasa seketika menyerang pikiranku saat aku melirik ke arah bawah perutku sendiri. Di balik celana pendek merah tua yang kukenakan, kejantananku telah menegang sempurna, mengeras dengan sangat cepat hingga menciptakan tonjolan yang luar biasa besar dan kaku di antara kedua paha mulusku yang terbuka lebar. Kain katun merah tua itu meregang ketat menahan ukuranku yang berdenyut penuh gairah rahasia di tengah situasi dramatis rumah tangga kami.
89Please respect copyright.PENANAI6qsc5Re6D
Wajahku merona merah pekat, menyadari reaksi tubuhku yang begitu provokatif dan tidak pantas terhadap kakak perempuan istriku sendiri. Aku mencengkeram tepian sofa putih dengan kedua tanganku, membiarkan tubuh atas kaus oblong hitamku berguncang pelan seiring dengan napas yang tersengal-sengal menahan syahwat yang salah alamat ini.
89Please respect copyright.PENANAPk0OEjWRlg
Di balik dinding kamar mandi, Sinta kembali bergerak memosisikan tubuh seksinya. Dia condong ke depan untuk memeluk tubuh Dewi yang sudah terbungkus handuk putih, menyandarkan dagunya di atas bahu mungil adiknya sembari matanya yang sayu menatap tajam ke arah pintu kayu yang tertutup rapat.
89Please respect copyright.PENANAtDk3w6RO0M
Suara tangisan kecil Dewi kembali terdengar samar lewat isakan lirih saat Sinta meremas lembut bahu polosnya, mengunci kebersamaan mereka di dalam kamar mandi yang basah seiring dengan pergolakan psikologis terselubung yang perlahan mulai meretakkan kedamaian rumah tangga kami.
89Please respect copyright.PENANAbrvqycnArk
Dia tidak disangka jadi sangat membantu.
89Please respect copyright.PENANAFr9j6hhJiZ
Pikiran Sinta bergema lembut di dalam kamar mandi yang mulai mendingin seiring dengan hilangnya kepulan uap air. Dia melirik ke arah Dewi yang kini tampak sedikit lebih tenang setelah diselimuti handuk putih tebal. Senyuman tipis yang sangat menawan kembali terukir di wajahnya yang mulus, memancarkan kepuasan psikologis yang terselubung atas keberhasilannya mengacaukan pikiranku pagi ini.
89Please respect copyright.PENANATFwqWta8Ec
Adik kecilku yang baik.
89Please respect copyright.PENANARM1xsjkOij
Sinta menepuk-nepuk bahu Dewi dengan gerakan yang sangat saksama, sementara pikirannya sendiri melayang jauh, menyusun rencana kelam untuk merengkuh duniaku sepenuhnya ke dalam genggamannya.
89Please respect copyright.PENANAJmTIkGG8d7
Hari pun berganti, memaksa roda rutinitas kembali berputar membelah kesibukan kota yang padat. Di luar sana, langit pagi tampak begitu bersih. Semburat warna biru muda yang cerah terhampar luas tanpa batas, dihiasi oleh sapuan awan putih tipis yang bergerak lambat ditiup angin kencang. Sinar matahari yang terik memantul langsung pada dinding-dinding kaca sebuah gedung pencakar langit modern yang berdiri kokoh di pusat perkantoran urban. Gedung tinggi berstruktur beton dan kaca biru metalik itu menjulang tinggi membelah cakrawala, menjadi tempat di mana ratusan manusia memeras peluh demi kehidupan sehari-hari.
89Please respect copyright.PENANAxixY9iu2Wf
Di dalam salah satu ruang kerja berkubikel yang cukup luas, aku duduk terdiam di kursi kerjaku. Pagi ini aku sudah mengenakan pakaian formal kantor berupa kemeja putih polos berbahan katun rapi yang terkancing penuh, dipadukan dengan dasi panjang berwarna hitam pekat yang melingkari leherku dengan pas. Lengan kemejaku kusingsingkan sedikit hingga sebatas siku seiring dengan rasa gerah yang tiba-tiba mendera tenggorokanku.
89Please respect copyright.PENANApD7vVNMSVw
Aku mengembuskan napas panjang yang sangat berat, membiarkan tubuhku bersandar lemas pada sandaran kursi kerja yang empuk. Kedua mataku menatap sayu ke arah meja, mencoba mengusir beban pikiran psikologis yang terus berputar di kepala sejak kejadian memalukan di rumah kemarin. Reaksi tubuhku yang sempat menegang terhadap Sinta benar-benar menjadi momok yang mengoyak fokus duniaku di tempat kerja.
89Please respect copyright.PENANAm21Aol204A
Di atas meja kayu sewarna krem milikku, beberapa tumpukan berkas dokumen putih, sebuah pulpen, dan kartu identitas karyawan dalam wadah plastik bening tampak tergeletak berantakan di dekat papan ketik komputer. Namun, pandanganku justru terpaku pada sebuah bingkai foto putih kecil yang berdiri tegak di sudut meja. Di dalam foto itu, siluet diriku bersanding mesra dengan Dewi dalam balutan gaun pengantin putih yang sangat indah di hari pernikahan kami. Melihat wajah Dewi yang tersenyum manis di dalam bingkai, rasa bersalah yang teramat pekat kembali menghantam dadaku secara bertubi-tubi.89Please respect copyright.PENANAhRvecFGysU


