"Bagaimana kau melewati minggu ini? Apa kau jadi lebih haus?"
73Please respect copyright.PENANAjV8OKs6r8G
Sebuah suara bariton yang santai mendadak memecah lamunanku. Seorang rekan kerja pria yang mengenakan setelan jas hitam formal lengkap dengan kemeja putih dan dasi gelap melangkah mendekati kubikelku. Dia membawa sebuah cangkir kertas putih berisi kopi hangat di tangan kanannya, menyodorkannya ke arah mejaku dengan gerakan yang ramah sembari menyapaku dengan nada menggoda, seolah ingin tahu apa yang sedang mengusik ketenanganku pagi ini.
73Please respect copyright.PENANAQRC836wDtk
Aku menggeser sedikit posisi dudukku ke depan, memosisikan tubuh menghadap layar monitor komputer yang masih menyala menampilkan deretan grafik kerja, menyembunyikan raut wajahku yang gundah dari perhatiannya.
73Please respect copyright.PENANAO4vIOAOGZw
"Apa menjadi karyawan di sini sepele itu?" tanyanya lagi sembari bersandar santai di tepi sekat kubikel, menatap punggung kemeja putihku yang tampak sedikit tegang.
73Please respect copyright.PENANAbbsTmspL1v
Aku memiringkan kepala sedikit ke belakang, mencoba mengulas senyuman tipis yang dipaksakan demi menjaga profesionalitas di depan rekan kerjaku. Semburat merah samar sempat melintas di pipiku seiring dengan ingatan sensual yang kembali mengusik kesadaran.
73Please respect copyright.PENANAiBsKw6bLXg
"Haha, tidak juga. Semuanya aman," sahutku dengan nada merendah yang santai, berusaha terdengar seolah-olah semuanya baik-baik saja.
73Please respect copyright.PENANACJ9PoAq9Kz
Rekan kerjaku memperhatikan raut mukaku yang tirus dan sayu dengan tatapan menyipit yang skeptis. Dia menurunkan cangkir kopinya perlahan, lalu menggelengkan kepala melihat upayaku menyangkal keadaan.
73Please respect copyright.PENANA2gqldct3M8
"Ekspresimu tidak mengatakan begitu!" timpalnya telak, memotong alasan yang ingin kubuat.
73Please respect copyright.PENANA271WFgzThP
Tiba-tiba, ketukan halus dari tumit sepatu hak tinggi yang bergesek dengan karpet lantai kantor terdengar menggema dari arah koridor masuk. Suara langkah kaki yang mantap dan ritmis itu mendadak menghentikan obrolan kami berdua, menarik perhatian seisi ruangan berkubikel.
73Please respect copyright.PENANA7P7VOUGSsW
"Pastikan kau istirahat yang cukup, jangan memaksakan dirimu," sebuah suara wanita yang sangat tegas, berwibawa, namun menyimpan kelembutan yang dalam bergema mendekati meja kerjaku.
73Please respect copyright.PENANA5u3e80OkuO
"Baik, Bu, aku akan memperhatikan itu!" sahut rekan kerjaku refleks, menegakkan posisi tubuhnya dari sekat kubikel dengan sikap yang sangat hormat seiring dengan kedatangan sosok wanita tersebut.
73Please respect copyright.PENANAKE4ZDNswiw
Dari arah belakang, Sinta dengan rambut hitam lebatnya yang kini ditata rapi dalam sanggul modern melangkah anggun melewati meja kami. Pagi ini dia tampil sangat memukau dan berkelas dalam balutan pakaian kerja yang sangat sensual. Dia mengenakan atasan blus katun hitam pekat berlengan panjang yang melekat pas di badan, menonjolkan bentuk payudaranya yang luar biasa besar, bulat, dan montok hingga menekan kain hitam tersebut ke depan. Potongan blus yang ketat itu dipadukan dengan rok span pensil berwarna merah tua berbahan satin tebal yang membungkus ketat lekuk pantat dan pinggulnya yang sangat lebar dan seksi. Tekstur kain satin merah tua itu berkilau mewah di bawah siraman lampu kantor, memberikan impresi wanita karier yang matang sekaligus sangat provokatif dari sudut pandangku yang sedang duduk di kursi.
73Please respect copyright.PENANA5izOjm6OYN
Langkah kakinya yang jenjang terbalut stocking hitam tipis, berakhir pada sepasang sepatu hak tinggi hitam mengkilap yang mempertegas keanggunan gerak tubuhnya yang sintal saat berjalan memunggungi kami. Dia membawa sebuah cangkir kopi kertas di tangan kirinya dengan gerakan yang sangat saksama.
73Please respect copyright.PENANA2KzccH7sXv
"Bisakah aku bicara dengan Hadi?" tanyanya lembut sembari memutarkan sedikit tubuh atasnya ke arahku, menatapku dengan sepasang mata sayu yang hitam lebat dan penuh dengan ketenangan yang misterius.
73Please respect copyright.PENANAOnylfAbwQC
Aku tersentak spontan seiring dengan debaran jantungku yang mendadak berpacu gila seketika. Wajahku langsung merona merah pekat akibat rasa terkejut yang luar biasa. Kehadiran Sinta dengan rambut hitam disanggul modern serta bentuk dada besar dan pantat sintal yang begitu menggoda di hadapanku saat ini seolah-olah kembali membangkitkan badai gairah rahasia yang sejak kemarin berusaha kuredam di dalam dada.
73Please respect copyright.PENANAEh37fXy4fd
"Kepala seksi sudah di sini, aku sudah bicara dengannya," ucap rekan kerja di sebelahnya sembari sedikit menurunkan volume suaranya, memberikan isyarat bahwa atasan kami kini sedang berdiri tepat di area kubikelku.
73Please respect copyright.PENANAReeDRNBxxu
"Bagus, terima kasih," sahutku pelan sembari mengangguk hormat, mencoba mengalihkan seluruh fokus psikologisku dari tumpukan berkas dan bingkai foto pernikahan Dewi yang masih tegak berdiri di atas meja kayu krem.
73Please respect copyright.PENANAhAwkT78s2B
Sinta yang merupakan atasanku di kantor sekaligus kakak perempuan istriku melangkah setapak lebih dekat. Gesekan halus dari rok span satin merah tuanya terdengar samar saat posisinya kini berada di sisi kursi kerjaku. Dia sedikit menundukkan wajahnya yang tirus, membiarkan beberapa helai rambut hitamnya yang disanggul rapi jatuh membingkai leher mulusnya yang terekspos.
73Please respect copyright.PENANAfMQ7SL73WP
"Hadi, aku hanya melihat laporan yang kau pegang," ucapnya dengan nada suara yang sangat tenang dan berwibawa, menatap langsung ke arah tumpukan dokumen kertas di tanganku.
73Please respect copyright.PENANAXKstfuO7Vu
"Ya, Bu Sinta!" jawabku refleks dengan tubuh yang mendadak menegang kaku di atas kursi kerja.
73Please respect copyright.PENANArTROJXkgu0
Aku mendongakkan kepala, namun posisi dudukku yang berada di bawah justru membuat pandanganku tertuju lugas pada lekuk tubuh bagian belakangnya yang begitu provokatif. Kain satin merah tua dari rok ketat yang dikenakannya meregang sempurna, membingkai bentuk pantat dan pinggulnya yang luar biasa lebar dan sintal tepat di depan mataku. Tangan kirinya bertumpu santai di atas pembatas meja, menciptakan dinamika gerak yang condong ke depan dan semakin menonjolkan keintiman visual yang membuat tenggorokanku mendadak terasa kering seketika. Semburat merah pekat langsung menjalar di kedua belah mukaku seiring dengan debaran jantung yang berpacu liar.
73Please respect copyright.PENANAXbmUkQZcNF
Tak berkutik di bawah pesona erotis kakak iparku, aku hanya bisa memaku pandangan saat tangan kanannya yang ramping bergerak maju di atas meja, meletakkan cangkir kopinya dengan ketukan halus.
73Please respect copyright.PENANAAtaX8bOV4B
"Aku ingin berbicara denganmu tentang konten laporan itu," lanjutnya lembut sembari menurunkan cangkir kopi kertas yang dibawanya, meletakkannya dengan gerakan yang sangat saksama di dekat tumpukan berkas putihku.
73Please respect copyright.PENANA0DDUxsr1pG
Setelah meletakkan cangkir tersebut, dia tidak langsung menarik tangannya. Dia justru memutarkan seluruh tubuh atasnya menghadap penuh ke arahku, bersandar dengan posisi yang sangat sensual di tepian meja kerja. Blus katun hitam ketat berpotongan leher rendah yang dikenakannya tampak tertarik kencang, menonjolkan bentuk sepasang payudaranya yang luar biasa besar dan padat hingga menyembul penuh ke depan, menciptakan belahan dada yang sangat dalam dan seksi tepat di balik sekat kain tipis tersebut.
73Please respect copyright.PENANAvArbPrJdCr
"Bisakah kau datang ke kantorku setelah bekerja..." ucapnya dengan suara yang sengaja dibuat mendesah pelan, seolah menyelipkan getaran gairah yang halus. Sepasang mata sayunya yang hitam lebat menatap lurus ke dalam mataku dengan senyuman tipis penuh arti tersembunyi, seolah mengunci seluruh duniaku di sore hari yang sunyi ini.
73Please respect copyright.PENANAWPpY0sLM1Q
"Gayamu begitu tampan..." ucapnya lagi sembari melangkah perlahan mengitari meja kerjaku, menatap lurus ke arah dasi hitam pekatku yang terpasang rapi. "Tapi belakangan, kau jadi agak berantakan," lanjutnya lembut.
73Please respect copyright.PENANAUKpPEwKJjd
Dia menghentikan langkah kakinya tepat di sisiku, lalu mengangkat tangan kanannya yang ramping. Jemarinya yang lentik bergerak maju, menyentuh kerah kemeja katun putihku yang sedikit terlipat tidak beraturan karena kepanikanku. Dengan gerakan yang sangat saksama, dia mulai merapikan lipatan kain katun tersebut, memastikan posisinya kembali pas membingkai leherku.
73Please respect copyright.PENANA4AJz5QseaE
"Bu?" gumamku kebingungan, menahan napas sejenak saat merasakan ujung jarinya yang hangat bergesekan lembut dengan kulit leherku.
73Please respect copyright.PENANA3IXByTe7pu
Semburat merah samar langsung menjalar di kedua belah mukaku seiring dengan kedekatan fisik yang mendadak ini. Sambil terus merapikan kerah bajuku, Sinta sedikit memiringkan wajahnya yang tirus, menatapku dengan sepasang mata sayu yang sarat akan makna terselubung.
73Please respect copyright.PENANA536PbljjCD
"Tiap hari kau pergi bahkan saat hari belum gelap..." bisiknya dengan nada suara yang sengaja dibuat mendesah pelan, merayap mesra di telingaku. Dia membasahi bibir bawahnya yang kemerahan menggunakan ujung lidahnya yang tipis, menciptakan impresi sensual yang mengunci fokus duniaku seketika. "Dan tidak kembali sampai tengah malam," sambungnya lagi, nadanya terdengar begitu menuntut sekaligus provokatif.
73Please respect copyright.PENANAex1eo2Q3kr
Mendengar perkataannya, mataku seketika melebar dengan raut wajah yang dipenuhi keterkejutan yang mendalam. Jantungku berdegup gila, berpacu dengan rasa panik psikologis yang luar biasa karena dia mengetahui detail rutinitas pelarianku dari rumah. Keringat dingin mulai tampak mengucur di pelipis dan leher kemeja putihku.
73Please respect copyright.PENANATPvAoBp7Mb
"Kamu seperti tidak mau pulang ke rumah," lanjutnya lirih, memajukan tubuh atasnya hingga jarak di antara kami mengikis habis.
73Please respect copyright.PENANAHmQAwuSVxg
Jemari tangannya kini beralih dari kerah baju menuju simpul dasi hitamku. Dengan gerakan yang sangat lambat, dia mulai menarik dan melonggarkan ikatan dasi tersebut, membiarkan kerah kemeja putihku terbuka sedikit lebih lebar di bawah pengaruh atmosfer ruangan yang kian menghimpit kesadaranku.
73Please respect copyright.PENANA3iFHP9VZwO
"Apa Dewi membuatmu lelah?" tanyanya lembut, menatap lurus ke dalam mataku dengan pandangan yang sangat dalam dan intim.
73Please respect copyright.PENANA9Sh7bEHa1s
Aku terdiam mematung, menatap wajah mulusnya dari jarak sedekat ini tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Beban rahasia tentang kebutaan Dewi dan gejolak erotis di rumah membuat dadaku terasa sesak berkecamuk.
73Please respect copyright.PENANALKb657kjmp
Melihat keterdiamanku, dia mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat menawan di bibirnya.
73Please respect copyright.PENANAx4RiqvrbEZ
"Tidak apa-apa," ucapnya menenangkan. "Menjadi tempat bersandar di rumah ini juga membuatku lelah," sambungnya lagi sembari menggeser posisi tubuhnya setapak maju.
73Please respect copyright.PENANAbDv9pttdPN
Dia mengulurkan kedua lengan kemeja hitam ketatnya ke depan, mendaratkan telapak tangan di atas bahu kemeja putihku, lalu meremasnya pelan untuk menyalurkan kehangatan. Gerakan itu membuat blus katun hitamnya yang berpotongan dada rendah semakin tertarik ketat, menonjolkan bentuk sepasang payudaranya yang luar biasa besar dan padat hingga menyembul penuh menekan dadaku di balik sekat kain. Rok span satin merah tuanya yang membungkus ketat lekuk pinggul dan pantat seksinya bergesek halus dengan kaki celanaku, memindahkan hawa panas yang membakar langsung ke bagian bawah perutku.
73Please respect copyright.PENANAdYnzNkLRrs
"Kau tidak perlu terlalu memaksakan diri," bisik Sinta dengan nada yang teramat lembut. "Hadi," panggilnya lagi, mendongakkan wajahnya yang cantik dengan helai rambut hitam disanggul rapi.
73Please respect copyright.PENANAmaKkFZAs0m
Napasnya yang hangat berembus pendek menerpa permukaan kulit wajahku saat dia semakin condong mendekat, seolah ingin menyatukan bibir kami di tengah keheningan area kubikel kantor. Meski fisik dan mentalmu lelah, kau tetap tidak ragu jadi orang yang bisa diandalkan, begitulah arti tatapan mata sayunya yang kini penuh gairah psikologis yang mendalam. Dia meregangkan tubuh atasnya, membiarkan gundukan payudaranya yang luar biasa montok dan besar menempel pasrah di depan dadaku. Belahan dadanya yang sangat dalam tercetak lugas di depan mataku, memicu debaran jantung yang kian tak terkendali.
73Please respect copyright.PENANAphOZwsPd4X
Sengatan gairah yang instan seketika menghantam kesadaranku, membuat kejantannanku di balik celana kerja mendadak menegang sempurna dan mengeras dengan sangat cepat. Rasa bersalah pada Dewi langsung berkecamuk hebat di dalam kepala, memaksaku untuk segera menarik kembali logikaku sebelum malapetaka ini melangkah terlalu jauh.
73Please respect copyright.PENANASNZAWIe86z
"Bu Sinta!" pekikku dengan suara bergetar keras sembari refleks mengangkat kedua tanganku ke depan.
73Please respect copyright.PENANA7VrFO5a0k2
Aku mendaratkan telapak tanganku di atas bahu blus hitam ketatnya, lalu dengan dinamika gerakan yang cukup kuat, aku mendorong tubuhnya mundur ke belakang untuk menciptakan jarak di antara kami.
73Please respect copyright.PENANA7GwkH7r9Lh
"Tidak... Bu, terima kasih atas perhatianmu," kataku terbata-bata dengan wajah yang merona merah pekat, mencoba menutupi tonjolan tegang di balik meja kerja.
73Please respect copyright.PENANA2dBsQ6kDFu
Sinta tertegun menerima dorongan mendadak dariku. Dia menurunkan kedua lengannya perlahan, menatapku dengan ekspresi dingin dan kecewa yang mendalam dari balik tatapan matanya yang tajam. Sisa kehangatan tubuhnya yang sensual masih membekas di kulit kemeja putihku.
73Please respect copyright.PENANA3SJR4ZfwGn
"...Ok," sahutnya pendek dengan nada suara yang kembali datar dan formal, menyembunyikan pergolakan psikologis di dalam dadanya.
73Please respect copyright.PENANAI07Kv3SVi7
Dia menarik kembali tangan kanannya dari atas meja kayu krem, lalu perlahan merapikan kembali posisi pakaian blus katun hitamnya yang sedikit bergeser akibat gerakanku tadi. Sepasang payudaranya yang besar naik turun dengan teratur seiring dengan langkah kakinya yang mundur setapak di atas karpet lantai.
73Please respect copyright.PENANAL4D3BVFtVr
"Semoga beruntung dengan pekerjaanmu," ucap Sinta sembari membalikkan tubuhnya yang seksi secara anggun.
73Please respect copyright.PENANA7pwGVqKBDB
Kain satin merah tua dari rok span ketatnya meliuk indah, membingkai bentuk pantat dan pinggulnya yang luar biasa lebar dan sintal saat dia mulai melangkah menjauh meninggalkan area kubikelku dengan ketukan sepatu hak tinggi yang ritmis, menyisakan kekosongan yang mencekam di dalam pikiranku yang masih dipenuhi gejolak rahasia.
73Please respect copyright.PENANAvSV811nBv8
"Baik, terima kasih, Bu," sahutku pelan sembari mengangguk kecil, menatap siluet tubuhnya yang mulai melangkah menjauh meninggalkan area kubikel kerjaku.
73Please respect copyright.PENANATxel8cBPQl
Aku tertunduk lesu di atas kursi, menatap kosong ke arah tumpukan berkas dokumen di atas meja kayu krem. Rasa lelah yang teramat pekat mendadak menghantam seluruh kesadaranku, menyisakan kekosongan psikologis yang menyiksa di dalam dada. Meskipun aku memang sangat lelah karena mengurus istriku, ada satu alasan lain yang membuat pikiranku kian berkecamuk.
73Please respect copyright.PENANA0j5gv3ixaj
Aku mengangkat tangan kanan, menyentuh dan mengusap perlahan tengkuk leherku yang terasa tegang akibat kepanikan yang mendadak melanda. Alasan yang terus mengusikku adalah karena kilasan ingatan erotis semalam tiba-inilah kembali berputar secara brutal di dalam pikiranku. Bayangan tentang bagaimana Sinta kakak perempuan istriku sekaligus kepala bagian di kantorku yang memeluk erat tubuhku dari belakang di atas ranjang kembali menyeruak, mengoyak seluruh pertahanan logikaku. Di dalam fantasi psikologis yang kelam itu, dia menempelkan tubuh atasnya yang polos tanpa busana, membiarkan sepasang payudaranya yang luar biasa besar, montok, dan padat menekan punggungku dengan sangat intim seiring dengan napasnya yang hangat berembus di ceruk leherku.73Please respect copyright.PENANApyoeFVbLUI


