Mungkin di kamarnya sendiri saat ini, dia sedang berbaring miring di bawah selimut, menatap dinding dengan pandangan kosong. Membayangkan andai dirinyalah yang berada di balik selimut putih itu, menerima setiap curahan kasih sayang dan kehangatan dari tubuhku, pasti terasa begitu nyata sekaligus menyakitkan baginya.
157Please respect copyright.PENANAe2EEQ2u8IK
“Hadi…” Bisikan lirihnya yang memanggil namaku seolah bergema di dalam keheningan malam, saat dia menyandarkan kepala di atas bantal dengan posisi menyamping.
157Please respect copyright.PENANAn9x6LpxUS1
Rambut hitam lebatnya terurai berantakan, membingkai wajahnya yang tampak sayu menahan rindu yang salah alamat. Di dalam kegelapan itu, pikiranku membayangkan bagaimana dia meremas ujung selimut dengan erat seiring dengan tekadnya yang semakin menyimpang untuk merebut posisiku dari sisi saudara kandungnya sendiri, meyakini bahwa dialah yang bisa memuaskan seluruh hasratku sepenuhnya.
157Please respect copyright.PENANA8JxsYe82Cj
Keesokan paginya, suasana ruang tengah apartemen kembali terlihat tenang dan normal, seolah tidak terjadi badai emosional apa pun tadi malam. Sinar matahari pagi yang cerah menyinari sofa putih dan bantal-bantal hijau tua yang tertata rapi di dekat jendela besar. Namun di dalam kamar tidur, sisa-sisa trauma semalam ternyata belum sepenuhnya reda.
157Please respect copyright.PENANAcxLvDVZVHN
Sebuah teriakan melengking memecah keheningan kamar saat Dewi menjerit histeris karena ketakutan yang mendadak menyerang benaknya.
157Please respect copyright.PENANAa91Qdmqiit
Aku yang sudah berpakaian lengkap dengan kaus oblong hitam dan celana pendek merah tua langsung bergerak cepat, menangkap dan memegangi kedua lengan piyama satin merah mudanya dari arah belakang untuk menahannya agar tidak terjatuh atau melukai dirinya sendiri.
157Please respect copyright.PENANAm2Bg1rlWkk
"Mbasuh tubuhmu akan membuatmu merasa lebih baik, Sayang," ucapku dengan nada suara yang sangat lembut, mencoba menenangkan kepanikannya sembari mencondongkan wajah di dekat bahunya.
157Please respect copyright.PENANAXFtDMfGmj2
Dewi berontak keras dengan menggelengkan kepala, mencoba melepaskan diri dari kungkungan lenganku. Tubuhnya di balik piyama merah muda itu gemetar hebat, dadanya kembang kempis menahan gejolak rasa takut yang mendalam akibat kebutaan yang dialaminya.
157Please respect copyright.PENANAqBJdwDSg6I
"Sayang, kenapa kita tidak mandi saja?" tanyaku lagi, mengeratkan pelukanku di pinggangnya untuk memberikan rasa aman.
157Please respect copyright.PENANAurUDTIPlVh
Dewi menyahut keras dengan bibir terbuka, air muka ketakutan tercetak jelas di wajahnya yang tirus.
157Please respect copyright.PENANAcchFT8DfO5
Di tengah keributan itu, pintu kamar terbuka perlahan tanpa suara. Sinta masuk ke dalam ruangan dengan langkah kaki yang tenang. Dia sudah mengenakan pakaian sehari-hari berupa atasan putih polos berleher tinggi yang membingkai rambut hitamnya yang disanggul rapi ke atas, memberikan impresi yang sangat anggun namun misterius.
157Please respect copyright.PENANAqL7cU5mlk6
"Tunggu sebentar," sela Sinta dengan suara yang datar namun tegas, menatap ke arah kami berdua yang masih saling bergulat di tepi ranjang. "Biar aku bantu," sambungnya lagi sembari melangkah mendekat, mengulurkan kedua tangan untuk mengambil alih tubuh Dewi yang masih terus memberontak di dalam dekapanku.
157Please respect copyright.PENANAOEYiFOVq8i
"Aku akan membantu Dewi membasuh tubuhnya, kamu istirahat dan tenanglah di luar," ucap Sinta dengan nada lembut, menatapku sembari merangkul bahu istriku yang masih sedikit terisak.
157Please respect copyright.PENANARwxEHys5e5
Aku menarik napas panjang, mengusap tengkuk leher yang terasa tegang akibat kepanikan yang mendadak melanda pagi ini.
157Please respect copyright.PENANAORGOGVdICa
"Terima kasih atas bantuanmu," sahutku.
157Please respect copyright.PENANAP1uHk4AZNS
Menolong Dewi yang buta untuk mandi memang pekerjaan yang menguras tenaga, dan aku sangat bersyukur ada Sinta di sini yang bersedia mengambil alih tugas sulit ini. Karena setelah kecelakaan tragis itu, Dewi menjadi sangat sensitif dalam segala hal; dia bahkan tidak suka air menyentuh kulitnya tanpa kesiapan mental yang matang.
157Please respect copyright.PENANAQui8VLincC
Aku melangkah mundur, membiarkan Sinta memandu langkah Dewi keluar dari kamar. Sinta membimbing adiknya dengan sabar, mengarahkan tubuh ramping itu menyusuri belokan koridor apartemen yang terang hingga mereka tiba di depan pintu kamar mandi utama.
157Please respect copyright.PENANAHb1DUHxtfF
Dari arah belakang, aku memperhatikan siluet tubuh Sinta yang berbalik untuk menutup pintu geser kayu. Pagi ini dia mengenakan kaus putih polos berbahan katun yang agak longgar di bagian atas, dipadukan dengan celana pendek santai berwarna biru muda ketat yang membingkai lekuk pinggul dan pantatnya yang sangat sintal dan seksi. Pakaian minimalis itu memberikan impresi kasual namun sangat menggoda dari sudut pandangku yang sedang berdiri di kejauhan.
157Please respect copyright.PENANAbRIQtY6TvX
Sinta menoleh padaku dengan seulas senyuman manis di wajahnya yang cantik, sementara helai rambut hitamnya bergerak halus mengiringi gerakannya.
157Please respect copyright.PENANA3wsal3sRZD
"Hadi, kamu istirahatlah di sana. Aku akan membantu Dewi mandi, lalu memanggilmu nanti," ucapnya sebelum perlahan menggeser pintu kayu itu hingga menutup rapat.
157Please respect copyright.PENANA0zjH5aMALW
Aku membalikkan badan, berjalan gundah menuju ruang tengah lalu mengempaskan seluruh beban tubuhku ke atas sofa putih yang empuk.
157Please respect copyright.PENANACjHwSI9wbY
"Lega rasanya dia ada di sini..." gumamku lirih sembari mendongakkan kepala, menyandarkan tengkuk di tepian sofa dan menatap kosong ke langit-langit apartemen dengan perasaan campur aduk. Dewi sungguh penurut padanya, dan keberadaan Sinta di rumah ini benar-benar menjadi penyelamat di tengah situasi psikologis kami yang rapuh.
157Please respect copyright.PENANAf1Es3J4O2d
Sementara itu, di dalam kamar mandi yang dipenuhi uap air hangat, suasana berganti menjadi sangat intim. Dewi telah menanggalkan seluruh pakaiannya, berdiri polos di bawah kucuran air dengan melipat kedua tangan di depan dada untuk menutupi payudaranya yang bundar dan besar. Seluruh lekuk tubuh mulusnya yang berkulit putih kini diselimuti oleh busa sabun putih yang melimpah, mengalir perlahan melewati pinggang hingga paha mulusnya yang basah.
157Please respect copyright.PENANAeP476jpL0D
Sinta berdiri tepat di belakang punggungnya, memegang selembar handuk kecil yang lembut. Dengan gerakan yang sangat saksama, dia mulai menggosok dan membasuh punggung polos Dewi secara mendalam.
157Please respect copyright.PENANAkeJestWBCi
"Angkat tanganmu," perintah Sinta dengan suara lembut yang sangat menenangkan.
157Please respect copyright.PENANAIJifugl9Ms
Dewi menurut, perlahan mengangkat lengan kirinya ke atas kepala, membuat sebelah payudaranya yang besar dan montok terangkat tinggi, menyingkap area ketiak dan sisi samping tubuhnya yang mulus. Handuk basah berbusa di tangan Sinta bergerak maju, mengusap dan membelai kulit rusuk Dewi dengan gerakan yang sangat lembut, menikmati setiap jengkal kelembutan tubuh saudara kandungnya yang kini sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
157Please respect copyright.PENANAJcvNXzZcyP
"Nah, bersabarlah," ucap Sinta lembut. Dia melangkah setapak mendekati Dewi yang masih berdiri dengan tubuh gemetar di bawah guyuran uap hangat. Tangan kanannya terangkat, meraih gagang shower putih dari dudukannya dengan gerakan yang mantap. "Aku akan membilasnya sekarang."
157Please respect copyright.PENANAWXgL4J1NNy
Seketika itu juga, air hangat menyembur keluar dari sela-sela lubang kecil shower, menciptakan kepulan uap yang semakin tebal menutupi ubin dinding kamar mandi yang putih bersih. Kucuran air bertekanan deras langsung menghantam permukaan kulit punggung dan bahu Dewi secara bertubi-tubi. Air mengalir deras, meluruhkan sisa-sisa busa sabun putih yang melimpah dari atas payudara besar serta lekuk pinggangnya, jatuh memandikan lantai marmer yang licin.
157Please respect copyright.PENANAneO8TSns28
Mendengar suara jeritan pekikan histeris Dewi yang mendadak menggema keras, keheningan ruang tengah apartemen langsung terpotong dengan begitu brutal.
157Please respect copyright.PENANAtWNUrGk3Uo
Aku yang sedang duduk bersandar di sofa putih langsung tersentak kaget dengan jantung yang mencelus. Kepalaku menoleh dengan cepat ke arah asal suara, mataku melebar dengan raut wajah yang mendadak dipenuhi kepanikan dan kecemasan yang mendalam.
157Please respect copyright.PENANAxlnHIL3Yo8
"Dewi!" teriakku spontan. Aku langsung meloncat bangkit berdiri dari sofa hingga kakiku bergeser kasar di atas karpet.
157Please respect copyright.PENANAZkMWOncCQu
Tanpa membuang waktu, aku berlari cepat menerobos lorong apartemen. Begitu sampai di depan pintu kayu kamar mandi yang tertutup rapat, aku langsung menghantamkan telapak tangan kanan beberapa kali di atas permukaannya dengan gedoran panik yang mendesak.
157Please respect copyright.PENANAa057Ursnkk
"Apa kamu baik-baik saja di dalam?!" tanyaku dengan nada suara bergetar keras, menempelkan telinga dan telapak tangan di daun pintu kayu untuk mendengarkan situasi di dalam.
157Please respect copyright.PENANANAT1MMg62m
Pintu geser itu sedikit bergetar sebelum suara sahutan panik Sinta terdengar membalas panggilanku dari balik dinding yang tebal, "Ah... Hadi!"
157Please respect copyright.PENANAVI7ysGiTYg
"Bisakah kamu datang ke sini?!" pintanya dengan nada yang sangat mendesak, seolah terjadi sesuatu yang tidak bisa dia kendalikan sendirian di dalam sana.
157Please respect copyright.PENANAcH02ctspfa
Debaran jantungku berkejaran semakin kencang mendengar kepanikannya. Tanpa ragu lagi, aku langsung mendorong pintu geser itu hingga terbuka lebar, melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi uap air panas yang langsung menerpa wajahku. Pandanganku seketika itu juga tertuju ke sudut ruangan dekat bak mandi.
157Please respect copyright.PENANA8ZYuoTiDXe
"Apa semuanya baik-baik saja?!" tanyaku dengan suara lantang yang dipenuhi kecemasan.
157Please respect copyright.PENANAO9duKSoovW
Atmosfer kamar mandi terasa begitu pengap dan gerah oleh uap air panas. Di atas lantai marmer yang basah, Sinta tampak sedang duduk bersimpuh dengan posisi tubuh yang condong ke depan. Rambut hitamnya yang semula disanggul rapi kini tampak sedikit basah dan berantakan. Kaus putih polosnya melekat agak ketat di tubuhnya akibat hawa lembap, memperlihatkan belahan payudaranya yang besar menyembul samar di balik kerah baju saat dia memeluk tubuh Dewi dari belakang. Celana pendek biru mudanya tampak basah di bagian ujung akibat genangan air.
157Please respect copyright.PENANANC4KeT3x07
Di dalam dekapan Sinta, Dewi sedang berlutut lemas dalam kondisi telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Punggung mulusnya yang putih kemerahan melengkung pasrah ke depan, kepalanya tertunduk dalam terbenam di atas lututnya sendiri sembari kedua lengannya meraba lantai dengan rapuh.
157Please respect copyright.PENANANeUx3oC2W5
"Nghh… ah…," rintih Dewi dengan suara yang sangat lirih, tersengal-sengal menahan tangis akibat trauma psikologis yang kembali mengoyak kesadarannya di bawah kucuran air.
157Please respect copyright.PENANAZ8uTKgfJ5j
"Dewi, tenanglah..." bisik Sinta pelan, mencoba menepuk dan mengusap bahu polos adiknya dengan telapak tangan untuk menenangkan badai trauma yang sedang berkecamuk di dalam jiwa saudaranya yang buta itu.
157Please respect copyright.PENANAXoBLSjiq1h
Di dekat kaki mereka, gagang shower putih tampak tergeletak begitu saja di atas lantai marmer yang licin. Air hangat terus menyembur keluar dengan tekanan yang sangat deras secara liar dari lubang-lubangnya, menghantam ubin lantai apartemen dan menciptakan riak air yang mengalir tidak beraturan menuju saluran pembuangan di sudut ruangan.
157Please respect copyright.PENANAjskCaaxbF2
"Apa kamu merasa sakit?" tanyaku penuh kecemasan, melangkah mendekat dengan tubuh gemetar, menatap Dewi yang masih meringkuk di lantai marmer yang basah.
157Please respect copyright.PENANAS1knGjvrma
Uap air panas yang pekat mengaburkan pandangan, namun aku bisa melihat dengan jelas bagaimana bahu polos Dewi naik-turun menahan sisa tangisnya. Rasa bersalah kembali mengiris hatiku secara perlahan.
157Please respect copyright.PENANAt954UgORHl
"Dia tidak apa-apa..." sahut Sinta yang masih mendekap Dewi erat-erat dari belakang.
157Please respect copyright.PENANAHRGT0aBCRO
Tangan kanannya yang ramping mendarat di bahu kiri Dewi yang licin oleh sisa air, meremasnya lembut untuk memberikan ketenangan. Dia mendongakkan wajahnya yang mulus ke arahku, mencoba meredakan ketegangan yang tertangkap di mataku.
157Please respect copyright.PENANArgtTVfjMcs
"Itu mungkin hanya karena tekanan air dari kepala pancuran yang terlalu kuat," lanjutku berspekulasi dengan suara serak, menatap gagang shower yang sempat tergeletak liar di lantai.
157Please respect copyright.PENANASxArUKGJ0z
"Iya, itu mengejutkan dan menakuti Dewi," gumam Sinta pelan, mengiyakan perkataanku sambil menunduk menatap saudaranya.
157Please respect copyright.PENANAtWucZVJo5s
Kaus putih yang dikenakan Sinta kini benar-benar basah kuyup karena terkena cipratan air deras dari shower tadi, menjadi sangat transparan dan menempel ketat di kulitnya. Kain tipis yang basah itu menyingkapkan lekuk payudaranya yang luar biasa besar dan padat dengan sangat lugas, memperlihatkan rona merah putingnya yang menyembul jelas tanpa ada penghalang sehelai benang pun di dalamnya.
157Please respect copyright.PENANAZlahRX7jrF
"Untung aku bisa menangkapnya sebelum dia jatuh," ucap Sinta lagi, memosisikan lengannya di bawah ketiak Dewi untuk menyangga tubuh ramping itu agar tidak merosot ke lantai yang licin.
157Please respect copyright.PENANA8lEKiym97U
Gerakan itu membuat kaus putihnya yang basah semakin tertarik ketat, menonjolkan bentuk dadanya yang montok ke depan. Celana pendek biru mudanya yang menempel di paha mulusnya yang sintal juga tampak basah di beberapa bagian, mempertegas lekuk pinggulnya yang lebar saat dia duduk bersimpuh. Pandanganku sempat terpaku pada pemandangan sensual yang tak sengaja terekspos di depan mataku itu, membuat tenggorokanku mendadak terasa kering di tengah kepulan uap hangat yang gerah.
157Please respect copyright.PENANAFOBcZsNuea
Melihatnya tanpa bra, pertanyaan itu mendadak melintas di dalam pikiranku dengan sangat mengejutkan, mengusik fokus psikologis duniaku sejenak. Menyaksikan lekuk payudara telanjang saudara iparku yang begitu indah di balik kain basah memicu debaran jantung yang aneh di dadaku. Pipiku mendadak terasa panas, dan semburat merah samar langsung menjalar di wajahku. Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah dinding keramik, menyembunyikan rasa canggung dan gejolak rahasia yang tiba-tiba bangkit di tengah situasi dramatis ini.
157Please respect copyright.PENANAa221wMwfv0
Aku membalikkan tubuhku sepenuhnya, memunggungi mereka berdua agar pandanganku tidak lagi mengarah pada tubuh seksi Sinta yang begitu provokatif di bawah temaram lampu kamar mandi. Aku terdiam mematung dengan napas yang agak tertahan, mencoba meredam gejolak batin yang kian liar.
157Please respect copyright.PENANAC1e5ZxLd9J
Keheningan yang canggung sempat merayap di antara kami selama beberapa detik, hanya menyisakan suara uap air yang mendesis pelan menemani kegundahanku.
157Please respect copyright.PENANAqS2D2Y5p8e
Di balik punggungku, sebuah senyuman tipis yang sangat misterius perlahan terukir di bibir Sinta. Matanya yang sayu menatap punggung tegapku dengan pandangan penuh kemenangan yang dingin, menyadari bahwa umpan visualnya telah berhasil mengguncang duniaku.
157Please respect copyright.PENANAyRocqnQZtv
"Tidak ada yang bisa kita lakukan," ucap Sinta dengan nada suara yang sengaja dibuat mendesah pelan, seolah meratapi kondisi Dewi yang rapuh di bawah cengkeraman traumanya.
157Please respect copyright.PENANAuscBluvMTk
"Ayo coba selesaikan ini secepatnya," lanjutnya lagi, mengubah posisi duduknya hingga lutut mulusnya bergeser halus di atas lantai marmer yang basah.
157Please respect copyright.PENANAvo8fkuQYUo
Sinta mencondongkan kembali tubuh atasnya, memeluk Dewi dengan erat agar adiknya yang buta itu merasa aman dalam kegelapan dunianya. Kaus putih basah yang menempel di payudara besarnya kembali bergesekan intim dengan punggung polos Dewi yang tak beralas kain.
157Please respect copyright.PENANA7r1nWX4uBV
"Hadi, bisakah kau membantu ku," pintanya lembut, mendongakkan kepala menatap arah punggungku dengan tatapan yang sarat akan maksud terselubung.
157Please respect copyright.PENANACpnSTZa88W
Mendengar permintaan yang mengalun halus itu, aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran jantungku sebelum akhirnya membalikkan badan kembali. Aku melangkah maju perlahan, lalu mengulurkan tangan untuk meraih gagang shower putih yang tergeletak di atas lantai marmer yang basah.157Please respect copyright.PENANAFk40P14Q2M


