Bab 3: Api yang Tak Kunjung Padam
279Please respect copyright.PENANAT31j74Y7os
Denial pertama masih meninggalkan getaran hebat di seluruh tubuh Clarissa. memek nya berdenyut-denyut seperti ada ribuan jarum kecil yang menusuk-nusuk dari dalam, cairan beningnya terus mengalir pelan membasahi meja bondage yang dingin. Plug di anal nya terasa semakin penuh setiap kali ototnya berkedut, memberikan sensasi meregang yang menyiksa sekaligus nikmat. Air mata sudah mengalir di pipinya yang memerah, tapi ia tidak menangis karena sakit ia menangis karena frustrasi yang begitu dalam dan indah.
279Please respect copyright.PENANAMYkwTJ6O22
Kevin berdiri di antara kaki Clarissa yang terbuka lebar, memandang tubuh telanjang sempurna itu dengan tatapan lapar. Senyumnya penuh kegelian. "Lihat Marco, CEO kaya raya ini sudah menangis hanya karena vibrator dimatikan. Pathetic sekali."
279Please respect copyright.PENANAIxIsz7YiaT
Marco tertawa kasar sambil meremas puitng kanan Clarissa dengan kuat, memilin ujungnya hingga wanita itu mengeluarkan erangan panjang, "Aaaahh...!"
279Please respect copyright.PENANA9RlV7lVsiZ
"Tolong... Tuan... aku sudah tidak tahan..." bisik Clarissa dengan suara serak. Suaranya yang biasanya tegas dan berwibawa di ruang rapat kini terdengar seperti permohonan budak yang putus asa.
279Please respect copyright.PENANA0JG8OdpYVF
Kevin menepuk pelan memek Clarissa yang basah. *Plak plak!* Suara tamparan kecil itu menggema di basement yang kedap suara. Setiap tamparan membuat ceri nya semakin bengkak dan sensitif.
279Please respect copyright.PENANA2VWY9sSlKt
"Kamu bayar kami puluhan juta untuk ini, Bu. Jadi jangan macam-macam. Malam ini kami akan ajari kamu arti denial yang sebenarnya," kata Kevin sambil mengambil dua nipple clamp dari meja alat. Clamp tersebut berbentuk gigitan kecil dengan rantai penghubung.
279Please respect copyright.PENANA1FxKh3mhaU
Tanpa ampun, Kevin memasang clamp di kedua puitng Clarissa. *Klik! Klik!* Rasa sakit tajam langsung menjalar, membuat punggung Clarissa melengkung hebat. Rasa panas dan perih bercampur dengan denyutan nikmat yang turun hingga ke perut bawahnya.
279Please respect copyright.PENANAa6VEGCaT3g
"Aduh... sakit... Tuan..." erangnya, tapi pinggulnya justru terangkat lebih tinggi, memohon sentuhan lebih.
279Please respect copyright.PENANAv34qYf9w0O
Marco tidak mau kalah. Ia mengambil sebuah dildo besar berukuran sedang, melumurinya dengan cairan orgasme hangat yang beraroma manis, lalu perlahan mendorongnya ke dalam memek Clarissa yang sudah sangat licin.
279Please respect copyright.PENANAB1b30KNhQp
"Uuughhh!" Clarissa mengerang keras. Sensasi penuh dan meregang membuat dinding memek nya meremas dildo itu dengan rakus. Marco mendorongnya masuk perlahan, inch demi inch, hingga hampir separuh, lalu berhenti dan memutar-mutarnya pelan.
279Please respect copyright.PENANAdHNsaD0dK0
Kevin menyalakan vibrator lagi, kali ini dengan intensitas lebih tinggi, menempelkannya tepat di ceri yang sudah membengkak parah. Getaran kuat itu membuat seluruh tubuh Clarissa bergetar hebat. Kakinya yang terikat gemetar tak terkendali, jari-jari kakinya menekuk kuat.
279Please respect copyright.PENANAlohe33XLmP
Mereka mulai bermain secara bergantian. Kevin menggerakkan dildo dengan ritme lambat tapi dalam, sementara Marco menarik-narik rantai nipple clamp, membuat puitng Clarissa tertarik ke depan dengan rasa sakit yang nikmat. Bau keringat bercampur aroma cairan orgasme dan cairan tubuh Clarissa memenuhi ruangan.
279Please respect copyright.PENANAecgEZ9TzJ0
"Lihat ini, Marco. memek pelacur kita ini sudah banjir banget. Bau mesum sekali," ejek Kevin sambil mempercepat gerakan dildo.
279Please respect copyright.PENANAVdutBHgN6j
Clarissa merasakan gelombang orgasme mulai naik lagi. Perutnya menegang, napasnya tersengal-sengal, matanya berkaca-kaca. "Tuan... boleh... tolong izinkan aku keluar... aku mohon..."
279Please respect copyright.PENANAF2Pmg2c5yy
Tepat saat ia hampir mencapai puncak, Kevin menarik dildo keluar sepenuhnya dan mematikan vibrator. Denial kedua ini jauh lebih brutal. Clarissa menjerit frustrasi, tubuhnya menggelinjang liar dalam ikatan, memek nya berdenyut-denyut kosong, mengeluarkan cairan bening yang mengalir deras ke anal yang sudah penuh dengan plug.
279Please respect copyright.PENANAZT8mqgg974
"Belum boleh," kata Marco dingin sambil menampar pipi Clarissa pelan. *Plak!* "Kamu harus belajar bahwa orgasme bukan hakmu lagi. Itu hak kami."
279Please respect copyright.PENANAdxtJQ3EUBl
Mereka membalik tubuh Clarissa menjadi posisi menungging. Tali di tangannya diikat lebih tinggi sehingga bokong kencangnya terangkat tinggi. Kevin menarik plug dari anal nya perlahan, membuat Clarissa merintih panjang karena sensasi kosong yang tiba-tiba.
279Please respect copyright.PENANAXKPhPMVjGy
Tapi tidak lama kosong. Marco langsung memasukkan kontolnya yang panjang dan tebal ke dalam anal Clarissa tanpa ampun.
279Please respect copyright.PENANABEKRBeJgK7
"Aaaahhhh! Besar sekali...!" jerit Clarissa. Rasa penuh dan perih yang luar biasa membuat air matanya mengalir lebih deras. Marco mendorong hingga pangkal, lalu berhenti sejenak, membiarkan anal Clarissa meregang menyesuaikan ukuran kontolnya.
279Please respect copyright.PENANAqMI3QenaXQ
Kevin berdiri di depan wajah Clarissa, memasukkan kontol nya yang sudah sangat keras ke dalam mulut wanita itu. "Hisap sambil dianal ya, Bu CEO. Ini baru permulaan."
279Please respect copyright.PENANAh2iLkPWjOx
Dua pemuda itu mulai bergerak selaras. Marco menggoyang pinggulnya dengan ritme kuat, menyetubuhi anal Clarissa dengan dalam dan kasar. Setiap hantaman menghasilkan suara *plak plak plak* yang basah dan mesum. Sementara Kevin memegang rambut panjang Clarissa dan menggerakkan kepalanya maju mundur, memaksa kontol nya masuk hingga tenggorokan.
279Please respect copyright.PENANAtzwu0X8Pai
Sensasi yang dirasakan Clarissa luar biasa. Rasa penuh di belakang, rasa penuh di mulut, rasa sakit di puitng nya yang masih dicengkeram clamp, dan denyutan ceri nya yang tak kunjung mendapat sentuhan. Tubuhnya berkeringat deras, kulit putih mulusnya mengkilap di bawah lampu redup.
279Please respect copyright.PENANAoeGUUiEiTp
Kevin berbicara kasar sambil mendesah, "Kamu ini CEO besar perusahaan fashion kan? Yang suka ngatur orang? Sekarang lihat dirimu diikat seperti anjing, anal nya diisi kontol anak muda, mulutnya penuh. Lucu sekali."
279Please respect copyright.PENANAhnmtHxlrwa
Marco menambahkan sambil mempercepat hantaman, "Besok kami bawa Dylan dan Rian. Empat kontol sekaligus buat memek dan anal mu. Kamu mau kan, pelacur?"
279Please respect copyright.PENANAC608PqVTb0
Clarissa hanya bisa mengeluarkan suara erangan tertahan karena mulutnya penuh. Tubuhnya sudah mendekati klimaks untuk ketiga kalinya. Getaran di perutnya semakin kuat, kakinya gemetar hebat, air matanya membasahi meja.
279Please respect copyright.PENANAEeA2Ho9vbb
Lagi-lagi, tepat di ambang batas, kedua pemuda itu berhenti bersamaan. Mereka menarik kontol mereka keluar, meninggalkan Clarissa dalam keadaan menggantung frustrasi total. memek dan anal nya berdenyut kosong, seluruh tubuhnya basah keringat dan cairan.
279Please respect copyright.PENANAbdLzfucamB
Clarissa menangis tersedu, suaranya pecah, "Tolong... aku tidak kuat... aku butuh keluar... aku mohon Tuan..."
279Please respect copyright.PENANAYgxtMyTjX4
Kevin mengusap air mata Clarissa dengan ibu jarinya, lalu menjilatnya. "Bagus. Air mata kamu enak. Kami akan terus begini sampai kamu benar-benar rusak. Ini baru Bab permulaan, Clarissa."
279Please respect copyright.PENANA9tIGRl1Zyy
Marco memasang kembali chastity belt tipis yang mereka bawa, mengunci memek dan ceri Clarissa di dalamnya, hanya menyisakan lubang kecil untuk cairan. "Malam ini kamu tidur dengan ini. Besok kami lanjut."
279Please respect copyright.PENANAgNgmx4Qk1n
Mereka melepaskan ikatan Clarissa yang sudah lemas total. Tubuh wanita itu ambruk ke lantai, masih gemetar hebat karena tiga kali denial yang brutal. Tapi di balik kesakitan dan frustrasi itu, ada kepuasan aneh yang semakin dalam rasa penyerahan yang mulai merasuk ke dalam jiwanya.
279Please respect copyright.PENANAvroEI4Hpzm
Kevin membungkuk dan berbisik di telinga Clarissa yang setengah sadar, "Kamu milik kami sekarang. CEO di siang hari, budak kontol di malam hari."
279Please respect copyright.PENANA5ahopy8MXK
Clarissa hanya bisa mengangguk lemah, hatinya sudah mulai retak, siap dihancurkan lebih dalam lagi di sesi-sesi berikutnya.
279Please respect copyright.PENANAr7ydl5XgTy
279Please respect copyright.PENANAmDCJSjXuTY
279Please respect copyright.PENANAz5Qhr5B4eu


